Desire and Eyes | Panggung I

Ini. Terlalu. Ramai

Suara nyanyian yang beriringan dengan suara musik di panggung benar-benar membuat telingaku sakit. Walau aku sudah berupaya menghindari kebisingan itu dengan memasang earphone-ku, tetap saja, suaranya terlalu keras.

Aku tidak menyangka nomor lima seterkenal ini.

"Hei, kau tidak apa-apa? Kau benar-benar tidak suka musik lokal ya," dia tertawa.

"Bukan begitu, bodoh. Suaranya terlalu keras!"

"Mau bagaimana lagi, yang bisa kita lakukan adalah menunggu dia menyadari kalau dia sudah mati."

Tidak menyadari kalau dia sudah mati. Heh, semuanya juga seperti itu. Walau sudah mati, orang-orang menganggap mereka yang bertemu "eyes" masih hidup. 

Lagipula berapa banyak lagu yang akan dia nyanyikan? Telingaku sudah sakit mendengar kebisingan ini!

Beberapa saat kemudian, konsernya selesai. Aku menarik nafas lega. Segera kuajak ketiga orang bodoh itu ke arah panggung, dengan satu tujuan : menyakinkan dia kalau dia sudah mati.

"Ketua..."

Klaire menarik jaketku. Apa lagi maunya sekarang? Meminta kue krim itu lagi?

"Boleh Klaire meminta tandatangannya...?"

"Ehaha, Klaire! Kau bisa kena....eit!" kutinju dia di wajah. Mereka benar-benar idiot, dan sangat benar-benar idiot kalau Ato berani bicara pada semut atau hewan apalah saat bertemu dengan nomor lima nanti. Semoga saja Yano tidak mengacaukanku dengan tertawaannya yang keras.

Di sana, dia duduk seraya membereskan barangnya. Masih sambil bernyanyi. Mungkin lain kali kuberikan dia nama yang cukup bagus karena dia juga terlihat seperti orang bodoh yang beruntung bisa tampil di panggung dan terkenal. 

"Tuan semut... kenapa kau bergerombol di situ? Berapa banyak makanan yang kau baw---"

"JANGAN BICARA DENGAN HEWAN!!"

Kuseret dia menjauh dari semut-semut kesayangannya itu. Klaire menarik-narik tirai panggung, dan Yano mulai merusak barang-barang di sana. Dasar bodoh. Benar-benar bodoh. Sangat. Benar. Benar. Bodoh.

"BISAKAH KALIAN DIAM SEDIKIT SAJA?!"

"Siapa disana?!"

Nomor lima berdiri, menatap kami yang sedang bermain dengan barang-barang di sana. Gawat. Semuanya kacau.

"Ah, eh, Akari... kelihatannya kita ketahuan sebelum---"

"Diamlah, bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa."

"Siapa kalian?! Apa kalian fans?!"

Kusingkirkan sedikit poniku dari wajahku, menatapnya dengan dingin, seperti yang seharusnya kulakukan.

"Fans...? Heh, bukan, bodoh."

"Akari, kau terl... agh!"

"Bilang saja! Akhir-akhir ini memang banyak yang seperti itu! Jangan bohong!"

"Untuk apa kau punya fans, kalau kau sudah mati?"

Dia terkejut. "Ma... mati....?! Apa maksudmu?!"

Rupanya dia benar-benar tidak sadar.

"Kau sudah mati. Tapi orang-orang masih bisa melihatmu dan menganggapmu hidup karena kau diberikan kesempatan lagi untuk terus hidup. Kau memiliki keinginan yang kuat saat kau masih hidup, yang membuatmu memiliki kesempatan yang luar biasa ini. Kalau kau ingin mempertahankan kesempatanmu ini, kau harus mencari "holder" lainnya yang memiliki mata yang sama, kalau tidak, jiwamu akan melebur dan benar-benar mati." Yano menjelaskan. Rupanya dia juga bisa berguna walaupun sangat bodoh. 

"Jangan... jangan bodoh! Bilang sa--"

"Heh. Konsermu itu sangat mengganggu telingaku. Terlalu berisik!"

"Jadi kalian semua haters?! Mengakulah!"

Ato tertawa. Si bodoh ini mau apa? Kalau dia mengacau, kulempar dia nanti.

"Bukanlah. Aku saja tidak tahu kalau kau itu terkenal!"

Dia melempar tasnya ke arahku. Bodoh, dia mau mengajakku bertengkar. Dia belum tahu kalau dia bukan apa-apa selain pemilik "attract" dan terkenal. Tanpa fans dan yang lainnya, dia tidak bisa apa-apa selain memerintah.

"Satpam!"

Ergh, gawat. Dia memanggil satpam. Ya sudahlah, dia benar-benar mau jiwanya melebur. Mungkin dia akan menyesalinya nanti, dan berpikir kenapa ia tidak mengikuti kata-kata kami pada saat itu.

"Klaire!"

"B... ba... baik, Ke... ketua!"

Satpam-satpam itu berusaha menangkap kami. Klaire membekukan mereka sebelum mereka berhasil melakukan perintah si nomor lima.

Aku menatap nomor lima dingin, tersenyum kecil. Yano tertawa terbahak-bahak melihat satpam-satpam itu beku dengan pose berlari dan wajah mereka yang lucu. Ato kembali pada semut-semut kesayangannya, dan Klaire, sibuk mencari kertas dan pena untuk tanda tangan si nomor lima yang tidak bisa apa-apa itu.

"Kau. Benar. Benar. Sudah. Mati. Kalau kau tidak percaya, ya sudah. Mungkin sejam atau dua jam lagi jiwamu akan habis."

Dia terduduk di lantai. Tidak percaya akan apa yang dilihatnya tadi---kekuatan "quiet" milik Klaire.

"Se... sebenarnya.... siapa kalian...?!"

"Ahahaaha! Kau tidak tahu?" Yano tertawa keras.

"Yah... karena kau tidak tahu. Aku Akari, yang pertama. Masalah bagaimana aku mati... itu nanti saja. Dan yang tertawa terus itu Yano, yang kedua. Jangan pernah percaya padanya. Yang sedang bicara pada semut-semut di dinding itu Ato, ketiga. Lalu yang mencari-cari kertas itu Klaire, keempat. Dia mau minta tanda tanganmu tadi.

Dan kau, Momo. Nomor lima. Kalau kau masih tidak percaya... apa kau lupa dengan pertemuan itu?"

"Pertemuan apa maksudmu...?!"

"Pertemuan setelah kematian dengan orang bernama "eyes"".

Matanya membulat. Kelihatannya dia sadar kalau dia sudah mati. Kalau dia masih belum sadar... kuseret dia dan kulempar ke sungai dekat sini, supaya dia sadar kalau dia benar-benar sudah mati.

"Ja... jadi.... yang dia katakan.... itu benar...?!"

"Tentu saja! Hei, hei, tuan semut! Jangan pergi!" Ato mencoba membuat semut-semut itu tetap berada di dekatnya. Bodoh, bawa saja di dalam stoples atau apalah dan bicaralah pada mereka setiap saat.

"Bagaimana, huh?"

Dia diam. Mencoba untuk berpikir. Sepertinya dia masih tidak percaya.

"Ya sudah kalau kau tidak percaya. Ayo, pergi." kutarik ketiga orang bodoh itu keluar.

 

"Tunggu...!"

Dia menahanku.

"Aku... aku... ikut dengan kalian...!"

Read previous post:  
15
points
(546 words) posted by farewells49 5 years 30 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | cerita bersambung | fantasi | kematian
Read next post:  
Writer citapraaa
citapraaa at Desire and Eyes | Panggung I (5 years 30 weeks ago)
80

baru baca awal2nya, nanti diteruskan :P

kalo nama org digedein g sih? nomor lima itu sebutan atau bkn?

nanti deh komentarnya

lanjutkan