Sepatu

Di kejauhan saya lihat seorang perempuan mungil yang tampak seperti Btari. O, ternyata memang dia! Ada yang berbeda kelihatannya, tapi… apa, ya? Kerudungnya sudah saya lihat sejak setahun lalu; bajunya sudah pernah dipakai 3 kali termasuk ini, dan jinsnya… agak butut, hehehe—jelas bukan barang baru. Saya lihat makin ke bawah, ke kaki yang menjejak tanah: sepatu perempuan.

“Baru, ya?” tebak saya begitu dia dekat.

Belum juga duduk—dia langsung meneguk minuman kopi-jahe saya tanpa permisi. Ah, biarlah, saya enggak keberatan. Haus kali dia.

“Segeeerrr…” komentarnya sambil duduk di hadapan saya, di saung.

Mengingat tak ada tanggapan, saya tanya lagi, “Sepatu baru, ya?”

Yang ditanya mesem-mesem. “Ah, biasa…”

“Tumben. Biasanya lu enggak suka sepatu perempuan?”

Dia tertawa. “Namanya juga manusia! Ya pasti berubah. Enggak ada itu tumben-tumbenan.”

Betul juga. Saya bersiap menyeruput kopi-jahe, tapi isinya nyaris tinggal ampas—sisa ‘rampasan’ si Btari tadi. Alamak!

“Heh, mau kopi-jahe? Gue bikinin,” kata saya. Sebetulnya saya ingin menambahkan, ‘Tumben lu mau-mauan minum kopi-jahe? Biasa juga teh aja’, tapi tidak jadi. Ingatan tentang ‘Enggak ada itu tumben-tumbenan’ menyusup.

“Enggak, enggak! Sudah cukup.”

“Ya udah. Gue masuk dulu, ya, bikin LAGI.” Sengaja saya keraskan di kata lagi sebagai sindiran.

***

 

Sepuluh menit kemudian, saya kembali duduk di hadapan Btari di saung. Dia tersenyum malu melihat kepulan kopi-jahe di cangkir baru.

“Maaf, ya. Aku juga enggak ngerti kenapa pengin minum kopi kamu tadi,” katanya.

Saya anggut. Lantas, seperti teringat sesuatu, dia menatap saya. “Oya, lagi pengin aja. Pengin lebih… simple, tapi berkelas.”

Saya lirik sepatunya. Simple iya. Berkelas? “Apa menurut lu sepatu lu itu ‘berkelas’, Tar?”

“It seems so, to me. Warnanya hitam; bahannya beledu. Dan yang penting: pas di kaki. Agak sempit, sih, di sisi jempol, tapi aku jaraaaang bener punya sepatu kayak gini yang pas di kaki; selalu bikin lecet…”

“Tapi, tetap sempit di sisi jempol?”

“Tetap. Setidaknya enggak begitu menyiksa.”

“Baguslah. Tapi, balik lagi ke pertanyaan awal: emang sepatu lu tergolong ‘berkelas’?”

Btari mendecak entah kesal entah iseng. “Kategori ‘berkelas’ itu, kan, cuma matang di tampilan; warna hitam, katanya, kelihatan elegan, berkelas. Kelas apa: kelas kodok, kelas bangsawan, kelas wanita? Kelas apa? Kan, enggak jelas? Masalah ‘berkelas’ atau tidak itu tergantung—semua hal yang ada di dunia kayaknya serba tergantung, deh. Ingat quote ini enggak…”

Dia diam sebentar untuk mengingat. Saya jadi penasaran.

“Ah, aku lupa sumbernya dari film apa, tapi intinya, ‘Bukankah lucu betapa sesuatu bisa terlihat berbeda tergantung pada perspektif seseorang?’. “

Saya tersenyum setuju. Ya, saya juga pernah mendengar kutipan itu, tapi lupa judul filmnya.

“Pokoknya, sepatu ini terlihat berkelas dari perspektifku.”

Saya menyeruput kopi-jahe sebentar. Lantas terlintas pertanyaan ini. “Apa enggak maksa, ya—lu tetap pakai sepatu itu, tapi kaki tetap agak tersiksa? Converse lu ke mana?”

“Ada. Bosan, aku. Sebetulnya sama aja, kok. Sepatu-sepatu yang lain juga bikin lecet; entah di kelingking, entah di jempol, atau tumit. Sama aja! Risiko. Kayaknya memang enaknya bikin sepatu pesanan, yang kakinya mesti diukur dulu baru dibuatin.”

“Oh.”

Seruput… seruput….

“Maksa, sih, enggak,” sambungnya, “yang salah bukan sepatunya—emang cetakannya dibuat seperti itu, yang beli juga aneka bentuk kaki.”

“Jadi, yang salah kaki lu?”

“Sepertinya!” Btari tertawa bahak. Saya jadi ikut-ikut.

“Bagus, kok. Cocok juga lu pakai sepatu cewek.”

Saya kena dampratan. Berikut makian ‘sompret’ keluar dari kosakatanya.

***

 

Ketumbenan Btari hari ini genap setelah dia pamit bakda salat Magrib. Biasanya, dia segan salat di rumah orang. Salat di rumah lebih khusyuk, katanya. Namun, hari ini dia salat di musala rumah saya.

Sepeninggalnya, saya selonjoran di teras. Lampu neon agak redup di atas kepala; nyamuk mulai mampir. Cecak mulai decak-decak entah menempel di mana (di tembok teras enggak ada). Tanpa kopi-jahe, saya disisakan kalimat yang sempat diucapnya. Bisa dibilang, kutipan favorit saya kali ini.

“Ternyata jadi sederhana itu membahagiakan. Merasa cukup dengan yang ada, termasuk sederhana, malah bikin aku—mungkin kalau kamu mau coba juga—lebih bersyukur, enggak kepengin yang terlalu muluk.”

Setelah saya pikir-pikir lagi, apa kaitannya ‘sepatu perempuan’ yang tidak bertali; kaki langsung masuk dengan kesederhanaan? Bagi saya, itu namanya praktis….

Read previous post:  
37
points
(494 words) posted by b.heavirain 7 years 23 weeks ago
61.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | kopi-jahe | monolog dialogis | Seri Btari | tas
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rirant
rirant at Sepatu (5 years 25 weeks ago)
70

Pesan moral yang saya tangkap dari cerita ini adalah, selalu bersyukur dan tak berlebih-lebihan.

Writer testoramo
testoramo at Sepatu (5 years 25 weeks ago)
50

wiii, bagus ceritanya :v