Matahari Sylvania - 0

Dari buku-buku yang kubaca biasanya mereka selalu memulai cerita dengan doa kepada Dewi. Tetapi di sini aku memulainya dengan satu kalimat yang menurutku lebih penting.

Ayah, aku mencintaimu.

Ini adalah ceritanya. Memang ada bagianku, tetapi kurasa aku bukan siapa-siapa.

---

Saat senja Shayla menemuiku, di balkon kami di tepi Danau Perak yang terbentang luas di timur Istana Syl. Cantik menawan dengan gaun putih dan rambut panjang tertiup angin, ia berdiri di tepi pagar batu selama beberapa waktu, hanya menatapku. Tak ada senyuman ceria seperti yang biasa menghiasi wajahnya, yang kini tampak pucat bagai purnama kehilangan cahaya. Dari gerak bibirnya ia terlihat gelisah dan ingin mengucap sesuatu, namun setiap kata seolah tertahan. Melihatnya, aku sadar hal buruk apa yang baru saja ia ketahui. Aku menghampirinya, dan memeluknya, berharap bisa membuatnya tenang.  

Namun ia berkata, “Kita pergi sekarang.”

Istriku, putri ketiga Ratu, adalah sosok yang dicintai rakyat dan karenanya yang paling diinginkan untuk menjadi pengganti ibunya jika saatnya tiba nanti. Kedua kakak perempuannya tak pernah setuju, tentu saja. Di Sylvania, sampai saat-saat terakhir sebelum Dewi memberikan berkahnya kepada ratu yang baru, keduanya tetap memiliki peluang. Maka di sisa waktu itu mereka pun menghasut ke sana-sini, membuat rencana mematikan, yang untungnya pada akhirnya sampai ke telinga Shayla. Di saat genting seperti ini aku bersyukur kami tidak terlambat.

“Kita pergi,” ulangnya seraya meraih tubuh mungil Teara, putri kami, dari dalam buaian, “dan kita tidak akan kembali.”

Aku menggengam kedua bahunya, menatap matanya lekat-lekat, berusaha meyakinkan bahwa itu memang keinginannya.

“Bagaimana dengan Ibumu?” tanyaku hati-hati.

“Ibu tak tahu apa-apa, dan mungkin tak akan melakukan apa-apa kalaupun tahu.” Ia terdiam, lalu menggeleng. “Ini saatnya aku memutuskan yang terbaik, untuk kita, untuk Ibu, untuk Sylvania. Aku tak ingin terjadi pertumpahan darah seperti di masa lampau, yang baru usai setelah tiga ratus purnama. Aku tak ingin putriku mengalami itu. Dukunglah aku seperti biasa, Tyron.”

Aku mengangguk, dan tersenyum. Kali ini ia membalas.

Kami menuruni tangga batu di samping istana, kemudian terus menyusuri jalanan sepi dari taman belakang menuju ke dermaga. Tak jauh di depan kami tampaklah Danau Perak yang terletak di kaki pegunungan yang kini semakin gelap. Sepanjang jalan kami bertemu pengawal. Tubuh mereka menegak, memberi hormat seperti biasa. Mereka terlihat sedikit heran tetapi kuyakin saat ini belum peduli pada kemunculan kami yang tiba-tiba, bahkan mestinya mereka sudah biasa melihat aku dan Shayla berjalan-jalan sepanjang malam di tepi danau.

Kami sampai di dermaga yang sepi dan aku menarik perahuku. Malam sedikit berkabut, jadi kuyakin tak seorang pun melihat kala aku meletakkan Shayla dan Teara di atas perahu. Namun ketika aku sudah siap dengan kedua dayungku, bersiap untuk berangkat, seseorang muncul dan berdiri di atas dermaga.

Nyrdio, adik laki-laki Shayla. Tubuhnya kurus dan ringkih, tidak gagah seperti mendiang ayahnya. Ia selalu lebih cocok menjadi klerik daripada prajurit. Tetapi ia baik, dan dekat dengan kami. Dan tampaknya ia juga sudah tahu. Matanya menatap nanar, dan suaranya tercekat, “Kalian pergi?”

“Ya,” istriku yang duduk di belakangku menjawab.

“Kenapa? Kepergian kalian akan membuat Sylvania hancur!”

“Pelankan suaramu, Nyrdio,” tegurku.

Nyrdio menggeleng tak percaya. “Tyron, musuh-musuh kita akan tertawa jika melihatmu tak lagi bersama Sylvania. Juga ketika melihat Shayla tak ada lagi di Istana Syl!”

“Perang sudah selesai,” jawabku tajam. “Musuh-musuh kita tak lagi berbahaya.” Aku menghela panjang. “Bahaya sesungguhnya ada di istana, dan kami tak ingin terlibat di sana.”

“Jika kalian sudah tahu, kenapa tak menghadapinya saja? Hanya kalian yang bisa menyelesaikan semua ini!”

“Aku tidak bisa!” seru Shayla. “Aku—kau akan mengerti nanti. Maaf, tapi kumohon, jaga Ibu. Selamat tinggal.”

Aku memberi Nyrdio anggukan terakhir dan mulai mengayuh dayung menembus danau, melenyapkan keberadaan kami dalam kegelapan malam. Angin bertiup pelan menyapu wajah. Di belakang Shayla memeluk Teara dan merapat ke punggungku.

Namun di atas dermaga Nyrdio kembali berteriak, sesuatu yang mungkin akan membuat kami menyesali semuanya.

“Kalian akan menghancurkan Sylvania!”

---

Bagiku kembali ke pegunungan tak ada bedanya seperti pulang ke tanah kelahiranku di Ellyria. Aku suka hawanya yang dingin, kesunyiannya, dan kabut tipisnya yang hampir selalu turun saat petang menjelang. Shayla pun ternyata menikmati. Ia selalu tersenyum saat makan, saat bernyanyi sambil menyusui Teara, atau ketika menyambutku setiap kali aku kembali dari berburu, juga saat memelukku kala malam tiba. Maka aku tak pernah ragu, inilah kehidupan terindah yang bisa kami dapatkan, walau jauh berbeda dibanding yang pernah kami dapatkan di istana.

Tetapi setelah lewat tiga purnama, sesuatu terjadi.

Malam itu aku terbangun, mungkin karena mimpi, mungkin juga karena hal lain, aku tak ingat lagi. Suara aneh dan mencurigakan terdengar dari atap, juga dari balik dinding. Aku membangunkan Shayla. Di depannya aku berusaha tenang, namun sebenarnya jantungku berdegup tak karuan. Pikiranku melayang. Naluriku mengatakan dengan jelas: seseorang ingin kami mati.

“Kalian sembunyilah.” Aku membuka pintu bawah tanah di samping tempat tidur. Shayla tampak bingung dan ketakutan. Ia memeluk Teara erat-erat. Aku mendorongnya masuk dan memberi ia sebatang lilin. “Tunggu aku di ujung lorong. Aku—“

Jendela di seberang ruangan tiba-tiba hancur.

Cepat-cepat aku menutup pintu bawah tanah. Sesosok bertubuh gelap meluncur dari jendela masuk ke dalam kamar, berguling lalu mengacungkan pedang ke arahku. Suara keras lainnya menyusul begitu atap kayu terkoyak, dan saat pintu kamar terdobrak hancur. Satu orang melompat turun, satu lagi muncul dari balik pintu. Ketiga orang itu seluruhnya memakai jubah dan berpenutup wajah warna gelap, bersenjatakan pedang sepasang.

Aku berbisik memanggil Adhirek, pedangku yang tersimpan di alam mimpi. Dalam benak aku meraih pedang yang tergeletak di altar batu suci serta terbelit akar-akar hitam. Altar dan akar-akar itu bersinar cemerlang, menyibak kegelapan, dan dia pun terlepas. Tangan kananku terentang, membiarkan rasa hangat menyebar dari bahu hingga ke ujung jari. Pedang itu kini mewujud nyata. Bilahnya lebar, panjang melengkung berkilat warna merah, siap membawa maut. Seorang musuh mendesah kaget. Tanpa membuang waktu aku mengayunkan pedangku, mengambil inisiatif.

Mereka mencari mati; entah mereka tidak mengenalku, atau memang sama sekali tidak mengenal takut.

Aku mengelak dari satu tebasan ke arah leher seraya menangkis serangan lainnya. Adhirek meminta darah; ketika aku menemukan kesempatan membunuh, dia seolah gembira dan semakin terang. Kilauannya membutakan mata saat pedangku meluncur ke perut seorang musuh. Lenguhan orang itu terdengar saat ia menemui ajal.

Tanpa membuang waktu aku menyerang orang di sampingnya. Ia menangkis. Satu orang lainnya, mengira mendapat kesempatan, mengayunkan pedang ke leherku. Tetapi aku lebih cepat. Kutendang lutut orang kedua sampai dia berteriak kesakitan, lalu aku berputar. Adhirek bersinar lagi dan meluncur menembus perut orang ketiga. Sesaat berikutnya aku melompat ke samping, siap menebas leher orang kedua. Ia ketakutan dan mundur terpincang-pincang, lalu tiba-tiba berbalik, melompat kabur melalui jendela.

Sesaat aku lega. Mereka tak senekat yang kuduga.

Namun teriakan lain terdengar. Aku tertegun. Musuh ada lebih dari tiga, dan mungkin mereka tahu ke mana Shayla pergi!

Aku melompat keluar dan berlari kencang menerobos baris-baris pepohonan. Kilau Adhirek membantuku menerangi jalan. Aku berkelit melewati belukar. Di depan, satu orang yang tadi kabur akhirnya tampak. Ia berusaha mempercepat lari, namun aku lebih cepat. Aku menjejak tanah dan melenting, lalu mengayunkan pedangku membelah punggungnya tanpa ampun. Aku tak ingin mengambil resiko, lebih cepat mereka mati lebih baik.

Bersamaan dengan itu suara gelegar terdengar.

Disusul jeritan Shayla.

Aku merinding dan melompati batu besar di depanku. Begitu keluar dari balik belukar aku melihatnya, sosok berjubah kelabu dengan tongkat berkilau di tangan—seorang magi, tak salah lagi—menghancurkan batu penutup lorong rahasia tak jauh dari tepi sungai dan kini melepaskan mantra. Pusaran angin biru kehijauan meluncur ke lubang tempat Shayla dan Teara berada.

“Tidak!” Kalap, aku melesat dan tanpa ampun menghunjamkan pedangku menembus tubuh sang magi.

Dia tak bereaksi, mungkin sudah siap mati, dan karenanya … mungkin aku sudah terlambat. Dalam sekarat dia menyeringai. Tangannya menunjuk. “Terkutuklah istrimu, Tyron.”

“Siapa yang menyuruh kalian?” tanyaku sambil menekan ujung pedang ke perutnya yang terkoyak.

Ia tak menggubris. “Kalian … mati ….”

Disiksa bagaimanapun ia takkan mengaku. Aku menginjak kepala orang itu, menghancurkannya seketika, lalu cepat-cepat lari ke arah lorong. Sisa-sisa bola angin telah berubah menjadi serbuk-serbuk biru yang menempel di dinding lubang dan menerangi seisi lorong. Di dalam sana Shayla meringkuk ketakutan sambil memeluk tubuh mungil Teara erat-erat di dadanya.

“Shayla! Kau … kau tidak apa-apa?” Aku meraihnya, panik. Dari luar istriku tak terlihat mengalami luka, ia tampak baik-baik saja, tetapi magi itu jelas melepaskan mantra yang entah berisi apa, dan karenanya aku belum bisa lega.

“Matahari Sylvania melindungi kita,” Shayla menunjuk kalung di lehernya. Di ujung kalung ada lingkaran besi selebar dua jari dengan sudut bersegi delapan di sekelilingnya. Pemberian neneknya, ratu Sylvania sebelum ibunya. “Sihir tidak mempan padaku.”

“Aku tahu,” kataku lirih. “Tapi bagaimana dengan Teara?”

Shayla terdiam. Wajahnya kembali pucat.

Malam itu kami pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu untuk mencari tempat lain yang mungkin lebih aman. Kami belum bisa menebak siapa yang ingin membunuh kami, apakah salah satu dari kedua kakak Shayla—Kyrina dan Raysha—atau justru orang lain yang belum kami tahu. Juga, bagaimana mereka sampai bisa tahu letak rumah kami di sini. Siapapun mereka, kami tak mungkin tinggal lagi di pegunungan. Kami terus bergerak sepanjang malam, juga keesokan harinya. Aku tidak tidur sekejap pun untuk berjaga-jaga, namun untunglah tak terjadi apa-apa.

Barulah di malam selanjutnya kami tahu ada sesuatu yang tidak beres. Tubuh Teara memanas, lalu tiba-tiba menggigil kedinginan. Suhu tubuhnya kemudian naik, lalu turun lagi, berkali-kali. Shayla melepas kalungnya dan memakaikannya di leher Teara, dan terus memohon perlindungan Dewi, mengira bisa menyembuhkannya. Tetapi itu sama sekali tak membantu.

“Kita harus segera membawanya ke tabib,” kataku. “Aku kenal seseorang. Gubuknya sehari perjalanan dari sini.”

“Kita pergi sekarang,” jawab Shayla. “Kita tak perlu tidur lagi.”

Aku tetap belum yakin ini adalah demam biasa. Bagiku ini pasti ada hubungannya dengan mantra si magi. Tetapi aku tak ingin mengucapkannya di depan istriku. Aku tak ingin membuatnya lebih khawatir, walaupun mungkin saja ia punya pemikiran yang sama denganku. Pada akhirnya aku hanya bisa berharap ini hanya demam biasa, sesuatu di mana kami masih bisa memiliki harapan. Karena di luar itu, mantra akan sangat sulit dilawan, dan kami tak tahu seseorang yang mungkin bisa menolong kami.

Kami berjalan menuruni pegunungan, pergi secepat yang kami bisa. Namun saat fajar keajaiban terjadi. Panas Teara menghilang. Senyuman mungilnya merekah. “Ia sembuh!” Shayla berseru.

Aku masih ragu. Seringkali demam bisa kelihatan menghilang di pagi hari, untuk kemudian muncul lagi di saat malam. Tetapi jika begitu, apakah ini berarti hanya demam biasa?

Saat petang kami sampai di sebuah gubuk di tepi hutan yang sepi. Gubuk kayu itu tersembunyi di balik pohon-pohon rindang dan tebing-tebing batu. Dulu sekali aku pernah ke tempat ini, dan aku percaya orang yang kucari masih tinggal di sini.

Di depan pintunya aku memanggil, “Farouz! Ini aku, Tyron!”

Sang tabib yang kukenal adalah seorang penyendiri. Jika hendak menyembuhkan orang biasanya ia lebih suka turun ke kota dan menerima orang-orang di sana. Bisa dibilang di rumah ini ia justru tidak ingin ditemui. Tetapi ia mengenalku dengan baik, jadi aku percaya namakulah yang akhirnya membuat ia mau membuka pintu dan mengijinkan kami masuk. Farouz seorang lelaki tua sederhana dengan janggut putih yang memanjang sampai ke bawah dadanya. Kala ia membuka pintu aku memeluknya tanpa ragu.

“Ah, sudah berapa puluh purnama aku tak menerima kunjungan darimu, Tyron? Sudah terlalu lama, bukan?” Senyuman laki-laki itu ceria, dan suaranya lembut. “Ini istri dan anakmu?” Ketika melihat Shayla ia mengangguk hormat. Keduanya belum pernah bertemu, tetapi ia tahu aku telah menikahi seorang putri Ratu.

“Sesuatu terjadi pada putriku,” kataku tanpa basa-basi.

Farouz memandangi Teara yang masih dipeluk oleh Shayla, lalu mengangguk sedih.

Ia tahu hanya dengan melihat, dan itu membuatku takut.

“Apa yang terjadi?” tanya Shayla gugup.

“Kutukan kuno, yang sudah lama tak kulihat,” jawab Farouz hati-hati, “dan kebetulan aku tahu …”

“Apapun itu, kau bisa menyembuhkan putriku!” kataku cepat. “Kau bukan tabib biasa, aku tahu. Aku percaya!”

Farouz menggeleng, tak yakin. Setelah beberapa saat ia berkata, “Aku bisa. Tapi bayarannya mahal.”

“Akan kuberi semua harta yang kau mau!” seru Shayla.

“Tuan Putri, bukan itu maksudku.” Farouz menggeleng-geleng. “Tak mengertikah kalian? Dewa menyandera jiwa putrimu. Setelah enam puluh purnama Ia akan membawanya pergi.”

Ia tercenung, kemudian mengangkat wajahnya seolah teringat sesuatu. “Kecuali ia mendapatkan pengganti.”

“Maksudmu, semacam pengorbanan?” kataku lirih.

“Dari kedua orangtuanya. Satu untuk menanggung kutukan itu, dan satu lagi, harus menyerahkan nyawa.”

Aku dan Shayla saling menatap, tak percaya. Selama dua hari kami terbenam dalam rasa takut membayangkan apa yang bakal terjadi. Kini apa yang diungkapkan Farouz lebih buruk daripada yang kami duga. Kebersamaan kami bertiga selama ini adalah hal paling berharga yang kami punya. Ketika meninggalkan Sylvania, kami melakukan semuanya demi itu. Kini kutukan mengakhiri segalanya, dengan cara yang paling buruk.

Antara aku dan Shayla, salah satu harus pergi.

Dan tentu saja itu harus aku, bukan?

“Akulah yang akan mati,” kataku cepat pada Farouz.

Shayla menggenggam lembut jemariku.

“Tyron, kau tahu akulah yang harus pergi.” Tanpa kuduga kata-katanya terdengar tenang dan lembut. “Jika aku mati, tak ada lagi yang akan mengancam Teara, karena ia bukan lagi calon ratu berikutnya. Kalian berdua akan aman selamanya.”

Aku menggeleng dan air mataku mengalir. “Tidak …”

“Demi Teara,” jawab Shayla tegas.

Itu adalah keputusan paling sulit yang pernah kami buat, atau mungkin yang paling sulit aku terima, betapapun benarnya itu.

Pada akhirnya aku mengangguk, dan kami berdua menangis.

---

Shayla wafat pada usia dua ratus purnama. Aku menguburkan jasadnya tak jauh dari rumah Farouz, tak lama setelah kami melakukan pengorbanan—yang takkan kuceritakan karena terlalu menyakitkan untuk diingat. Aku kemudian membawa Teara ke barat. Di balik pegunungan aku membangun rumah. Dendam baruku masih terpelihara, namun purnama demi purnama berlalu ternyata pada akhirnya aku hampir tak pernah lagi meninggalkan rumah, kecuali beberapa kali saat aku pergi ke desa untuk menjual dan membeli sesuatu, dan mendapatkan informasi.

Aku mendengar soal Kyrina, putri sulung Ratu, yang kuyakin betul dulu ialah yang mengirimkan orang untuk membunuh kami. Dia baru saja tewas diracun. Raysha, putri kedua Ratu, menjadi tersangka. Diliputi dendam, suami Kyrina, dibantu oleh Nyrdio si putra bungsu, lalu menyerang kastil Raysha di selatan.

Raysha, suami dan putrinya tewas dalam pertempuran itu, demikian pula suami Kyrina, sehingga akhirnya menyisakan Nyrdio yang lalu kembali ke Istana Syl dengan kondisi setengah gila. Sang Ratu yang kecewa dengan seluruh pertikaian kemudian membuang Nyrdio ke Pulau Quirr, dan mengirimkan prajurit ke berbagai penjuru untuk mencari Shayla. Namun tentu saja dia tak tahu apa yang telah terjadi pada kami di sini.

Aku memperhatikan Teara yang termenung di balik jendela. Tatapannya jauh ke ujung lembah; matahari sebentar lagi terbenam. Usianya kini enam puluh purnama. Ia sudah menjadi gadis kecil yang cantik, dan sehat, namun sayangnya mungkin hanya secara fisik. Aku takut kutukan magi mungkin masih berdiam secuil dalam dirinya, melalui kebiasaan aneh yang ia miliki. Ia selalu bangun sesaat sebelum matahari terbit. Begitu terbangun ia menghampiri jendela, membukanya, kemudian mundur tiga langkah, duduk di tepi tempat tidur dan menerawang di sana. Sinar mentari hangat menyeruak menyinari wajahnya. Saat itulah, aku biasanya masuk.

Aku duduk di sampingnya. “Selamat pagi, Teara.”

Ia tak pernah menoleh, apalagi membalas. Tak sekali pun. Pun di saat-saat berikutnya, pagi hingga petang, ketika aku mengajaknya bercanda dan berbincang tentang segala hal, ia tetap membisu. Ia tak pernah memandangku, dan selalu lebih senang bermain dengan kalungnya sepanjang hari dalam dunianya sendiri.

Aku tak merasa sedih ataupun kecewa. Aku percaya Teara bisa mendengarku, merasakanku, mengenaliku. Aku lebih merasa takut, pada apa yang akan terjadi dengannya setelah waktuku habis. Enam purnama lagi. Siapa yang akan menemaninya setelah itu?

Aku berdiri, membelai lembut kepalanya. Waktuku untuknya hari ini juga telah habis. Sebentar lagi matahari terbenam, dan malam ini saatnya purnama. Aku bergegas meninggalkannya. Aku pergi sejauh mungkin dari rumah ke balik hutan, kemudian mengikat kedua tanganku ke pasak besi yang telah kupasang sebelumnya di balik tebing, dan menunggu.

Saat senja semakin pekat sekujur tubuhku menghangat. Sejak pengorbanan itu beratus-ratus malam selalu kulewatkan seperti ini, dan kini terasa semakin panas dan menyakitkan. Begitu purnama muncul dari balik awan ototku mengejang, darah menggelegak dan tulang-tulangku memberontak ingin berkuasa. Rambut hitam tebal tumbuh dari balik lubang-lubang halus di kulitku dan akhirnya lebat menutupi permukaannya. Cakar dan taring tajam mencuat. Ketika itu, semua yang kulihat tak lagi sama, apa yang kurasa tak lagi sama. Saat menjadi makhluk terkutuk aku mungkin bisa membunuh siapapun di dekatku, termasuk putriku sendiri.

Aku melolong panjang merobek kesunyian malam, melepaskan seluruh rasa sakit dan pedihku. Bersamanya ada doa, yang mungkin masih mau didengar oleh Dewi.

---

Tiga purnama setelah itu, tanpa terduga utusan Ratu datang.

Pada awalnya aku takut. Mungkinkah persembunyian kami diketahui? Tetapi aku mungkin terlalu khawatir. Utusan itu hanya seorang penjelajah biasa yang berhasil menemukan kami berkat bantuan angin dan bisikan merpati.

Ia berkata senang akhirnya bisa menemukan kami, walaupun sedih mendengar apa yang terjadi pada Shayla. Ia membawa pesan dari Ratu. Beliau ingin kami pulang ke Istana.

Aku menolak, karena kuyakin bukan itu yang dulu diinginkan oleh istriku, walaupun si utusan bersikeras mengatakan Istana kini sudah menjadi tempat yang aman. Namun saat ia pulang, aku merenung. Benarkah penolakanku? Bukankah bisa jadi kedatangan utusan itu adalah jawaban Dewi atas doaku?

Aku belum bisa memutuskan. Tetapi waktuku tinggal tiga purnama, jadi aku berharap Shayla bisa memutuskan bersamaku, di mana pun dia berada. Aku membawa Teara pergi ke gubuk Farouz, lalu berdoa di depan makam istriku.

Tetapi, seperti yang kuduga, tidak ada jawaban.

Aku tetap menunggu selama berhari-hari, sampai pada akhirnya Farouz muncul dan berkata, “Pulanglah ke Syl, Tyron.”

Aku menatap lama sahabat tuaku, dan membalas, “Memangnya istriku bisa bicara padamu?”

“Tidak, tetapi menurutku itu yang terbaik. Istrimu pasti setuju. Istana sudah berubah, dan kudengar di sana ada guru terbaik. Juga, Teara bisa bermain dengan anak-anak lain yang seumurnya di sana. Ia akan sembuh lebih cepat.”

Aku termangu. Semua saran itu benar, karena aku sendiri sudah pernah memikirkannya. “Kurasa begitu,” jawabku. “Akan ada yang menjaganya juga nanti, setelah aku mati.”

“Ah, soal itu, aku sedang mencari obatnya,” Farouz menukas, tak suka menerimanya begitu saja. “Semoga aku berhasil sebelum tiga purnama, tetapi aku tak ingin menjanjikan apa-apa.”

“Tak apa, Farouz. Bagiku yang penting hanyalah putriku.”

Aku merangkul Teara dan menatap makam istriku.

Kuputuskan, kami akan kembali ke Syl.

Aku dan Teara meninggalkan lembah sunyi yang telah kami huni lebih dari lima puluh purnama. Kami menyeberangi sungai dan melewati pegunungan berhutan lebat ke arah timur. Dua purnama setelah kami diminta datang, kami sampai di Istana Syl.

Dari luar hampir tak ada yang tampak berubah di sana. Dinding-dinding batunya cemerlang dan menjulang tinggi, kokoh seperti biasa. Di ujung-ujung menara bendera ungu bergambar matahari keemasan tetap berkibar dengan malas tatkala tertiup angin danau. Menaiki anak tangga yang melingkar-lingkar aku melihat berkeliling sambil menggendong putriku. Aku tersenyum pada setiap orang. Sebagian membalas, sebagian tidak. Aku mengerti, tak semuanya masih sama seperti dulu. Tanpa ada lagi Shayla di sini, bagaimana mungkin aku berharap semuanya masih tetap sama?

Yang menemui kami adalah Mourat, adik Ratu, dan ternyata ia justru membawa kabar buruk yang sama sekali tak kuduga.

Ratu sakit keras, dan sudah tertidur terlalu lama.

Bergegas kami pergi ke kamar Ratu. Jauh berbeda dibanding sosoknya yang dulu selalu tampak cemerlang dan dominan di setiap kesempatan, ia kini hanya terbaring lemah di tempat tidurnya. Aura ratu di wajahnya—cahaya yang seringkali tampak di dahinya sebagai perwujudan berkah Dewi—telah meredup.

Heran, aku bertanya, “Jika Ratu sudah tak sadar sejak lama, siapa yang meminta kami datang sebelum ini?”

“Beliau sendiri,” jawab Mourat, “sebelum sakit.”

“Siapa saja yang tahu tentang ini?”

“Hanya beberapa orang, yang semuanya bisa kita percaya. Orang-orang di luar Sylvania tak ada yang tahu.”

“Jadi … sebenarnya kaulah yang memerintah di Sylvania?”

Mourat menatapku. Sejak dulu aku memang tidak terlalu suka padanya, tetapi ia tahu aku juga tak pernah menganggapnya sebagai musuh, bahkan sebenarnya aku selalu mengakuinya sebagai pelayan negeri yang baik. “Hanya sementara, Tyron, sampai Ratu sembuh … atau wafat, dan Dewi memilih ratu yang baru.”

“Siapa yang akan menjadi penggantinya?”

“Kini, hanya ada dua calon. Kyrala, putri Kyrina, dan Teara.”

Aku tertegun. Seperti halnya Shayla dan kakak-kakaknya dulu, mereka semua bersaudara, tetapi pada akhirnya bermusuhan.

Segalanya seperti berulang. Apakah nanti akan seperti itu juga?

“Jangan khawatir,” kata Mourat, seolah tahu kekhawatiran yang timbul di benakku. “Mari kita berharap saja Ratu cepat sembuh.”

Ia membawa kami ke taman kecil di tengah istana. Seorang tua  sedang mengajar beberapa anak kecil yang duduk di bangku-bangku mungil di samping kolam. Kala melihatku dia tersenyum. Aku belum mengenalnya, dia sepertinya orang baru di istana, tetapi dia memiliki tatapan bijak yang membuatku tenang. Dia mendekatiku, kemudian membungkuk memberi hormat.

“Tuanku, aku Guru Pi.”

Aku balas mengangguk, menatapnya beberapa saat, kemudian bertanya, “Apa yang akan kauajarkan pada putriku, Guru?”

Dia tersenyum lagi. “Semua hal baik, wahai pahlawan Sylvania, yang telah kuajarkan pula pada seluruh anak lainnya di negeri ini.” Seperti halnya Mourat, sepertinya ia tahu kekhawatiranku. “Aku juga telah mendengar soal putrimu. Ia akan sembuh di sini, percayalah. Aku akan membantunya sebisaku.”

Aku menoleh, memandangi Kyrala yang tersenyum ceria saat mengajak Teara duduk di sampingnya. Teara masih tetap membisu, namun raut wajahnya berubah lebih cerah.

Mungkin kekhawatiranku memang berlebihan.

Ya, semoga tak ada dendam lama yang terungkap, dan tak ada pula perselisihan baru yang terjadi.

Aku meninggalkan Teara di istana, sementara aku memilih tinggal di sebuah rumah di wilayah sepi di luar kota Syl, tempat aku bisa menyembunyikan diriku setiap malam. Tetapi di hari-hari berikutnya aku selalu menyempatkan diri datang ke istana dan melihat putriku belajar serta berteman dengan anak-anak lain. Aku lega karena Teara ternyata bisa berinteraksi. Ia memang belum mau menatap wajah orang lain, tetapi ia tak lagi menyendiri.

Kurasa kelegaan itulah yang kemudian membuatku menerima tawaran Mourat untuk menjadi pelatih para prajurit. Aku melatih mereka memainkan pedang dan tombak. Kuanggap ini sebagai bakti terakhirku untuk Sylvania. Lalu suatu sore, kala aku sedang berjalan pulang dari istana, seorang perempuan tua menghampiri.

Ia bertanya, “Tuan, kenapa kau kembali ke Syl?”

Aku menatapnya curiga, mengingat-ingat di mana aku pernah melihat perempuan tua ini. Tetapi ia mungkin hanya orang biasa yang kebetulan mengenaliku dan berani menanyakan sesuatu yang aneh padaku. Aku balik bertanya, “Maksudmu, Nenek?”

“Beberapa orang bisa mencium bau darah dan kematian. Mereka melihat kehancuran Sylvania. Jadi apakah kau datang karena ingin menyelamatkan kami? Atau justru, menghancurkan kami?”

Ia lalu pergi, meninggalkanku berdiri mematung.

Menghancurkan mereka? Kenapa mereka berpikir seperti itu?

Yang kutahu, akulah yang akan mati sebentar lagi. Akan adakah kematian yang lain? Kuharap ia hanya asal bicara.

Esoknya, di pagi yang mestinya akan menjadi pagi terakhir dalam hidupku, aku pergi ke kuil untuk yang terakhir kali.

Di hadapan patung Dewi aku menunduk dan berdoa.

“Dewi, seumur hidup aku taat kepadamu. Tapi tengah malam nanti Dewalah yang akan mengambil jiwaku dan membawaku ke neraka. Terus terang aku tidak mengerti, dan mungkin tidak akan pernah mengerti kenapa Kau membiarkan ini terjadi padaku. Tetapi aku menerimanya, mungkin memang seperti inilah jalan hidup dan matiku, dan aku tak akan meminta banyak. Aku hanya memintamu untuk melindungi putriku. Jika saatnya tiba juga nanti, bawalah dia ke surga dan pertemukan dengan ibunya. Sampaikan permintaan maafku pada Shayla, karena aku tak bisa bersamanya, seperti janji yang kuucapkan dulu di tepi Danau Perak.”

Tak perlu tangis atau sesal. Aku sudah menyiapkan saat-saat seperti ini sejak enam puluh purnama yang lalu.

Setelah itu aku bergegas kembali ke Istana Syl untuk menemui Guru Pi. Ia baru saja hendak mulai mengajar, tetapi aku cepat-cepat meminta ijin padanya. “Hari ini, kumohon biarkan Teara pergi bersamaku, sampai matahari terbenam.”

Ia menatapku, tampak sedikit curiga. “Apa ada alasan khusus?”

“Ada, tapi aku takkan mengatakannya kepadamu.”

Ia termangu, kemudian tersenyum. “Bawalah dia.”

Aku memanggil putriku. Begitu ia muncul aku meraih tubuhnya tanpa ragu. Sambil tertawa-tawa aku berlari dan menggendongnya keluar istana. “Teara, aku pernah berjanji padamu, bukan? Aku akan mengajakmu berperahu mengelilingi danau!”

Teara masih membisu, tetapi aku tahu ia gembira.

Sepanjang pagi itu ia tersenyum kala angin menyapu wajah dan rambutnya, kala air danau memercik kulitnya, dan kala lumba-lumba Sylvan datang menghampiri perahu kami lalu menyapa dengan siulan pendek-pendek khas mereka. Teara mengulurkan tangan dan menyentuh moncong lumba-lumba itu.

Aku memperhatikannya, tersenyum. “Kau seperti ibumu.”

Aku termenung beberapa saat, menggali kenangan yang tersisa kala Shayla masih berada di sampingku.

“Kalau saja aku masih punya waktu, kau akan kuajak berenang bersama mereka. Tapi … ya, biar kusampaikan saja pada Guru Pi. Ia akan mengatur agar kau bisa berenang di sini.”

Saat tengah hari kami menepi di seberang danau yang sepi, yang salah satu datarannya penuh dengan hamparan rumput lembut dan bunga-bunga merah merekah di sekelilingnya. Aku berbaring di atas rerumputan dan memeluknya.

“Aku dan ibumu selalu kemari. Di sebelah sana aku pertama kali melihatnya. Dan di sini, tempat aku mengucap janji padanya.”

Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan kembali datang.

Untuk entah berapa lama. Mungkin aku bahkan sempat terlelap.

Lalu ketika mataku terbuka, langit tampak lebih gelap daripada biasanya, daripada yang seharusnya. Padahal aku yakin saat matahari terbenam masih lama. Aku terduduk. Teara berdiri di depanku, menatap ke seberang danau.

Jauh di sana, asap hitam membumbung tinggi di atas Istana Syl.

Aku tertegun. Khawatir, penasaran, marah.

Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Serangan musuh? Siapa yang berani menyerang Sylvania? Aku harus kembali, tentu saja, tetapi aku juga tidak mungkin meninggalkan Teara di sini.

Aku tak punya pilihan dan membawanya menyeberangi danau. Kukayuh dayungku sekuat mungkin. Perahu meluncur membelah danau sementara jantungku berdebar semakin kencang. Semakin dekat asap hitam memenuhi langit kini jelas terlihat. Orang-orang berlarian di jalanan kota dan berteriak-teriak panik.

Di dermaga seorang tua menyambutku.

“Farouz?” seruku tak percaya. “Kau di sini?”

“Aku sudah menunggumu,” katanya cepat.

“Apa yang terjadi?” kataku seraya mengikatkan perahu ke tiang dermaga. Aku menggendong Teara dan melompat keluar.

“Makhluk-makhluk neraka turun dari langit. Mereka membakar kota dan kini masuk ke Istana Syl.”

“Apa?” Aku menggeleng, belum bisa percaya.

“Kau ingin melihatnya sendiri? Jangan, lebih baik jangan.”

“Apa yang mereka cari?”

“Kehancuran Sylvania. Mungkin hanya itu.”

Kata-kata itu lagi … yang sebelumnya kupikir hanya omong kosong belaka. Apa itu benar-benar terjadi? Hari ini? Di sini?

“Aku akan ke sana,” kataku cepat. “Tolong jaga Teara.”

“Hanya ada kematian di sana. Kau tak bisa melawan mereka.”

“Lalu?” Aku tersenyum getir. “Toh aku akan mati malam ini.”

“Tidak. Dewi memberkatiku, aku menemukan obat untukmu!” Farouz mengeluarkan satu botol kecil dari kantung jubah putihnya. “Maaf, aku baru bisa datang di hari terakhir. Tetapi aku sama sekali belum terlambat. Minumlah obat ini sebelum matahari terbenam, dan Dewa akan melepas kutukanmu.”

“Benarkah?” Aku menatapnya ragu, lalu mengangguk. “Ini bisa? Kalau benar bisa, biar kuminum sekarang! Kutukanku hilang, dan aku bisa mengalahkan makhluk-makhluk itu!”

“Tidak, sayangnya, begitu kau meminum obat itu, kau akan kehilangan kekuatanmu. Mungkin selama beberapa hari. Kau tetap akan mati jika melawan mereka hari ini.”

Aku menggeleng marah. “Mengapa Dewi melakukan ini? Apa dia sengaja ingin menghancurkan kita semua?”

“Aku tak tahu! Ambil saja obatnya, dan pergilah bersama Teara. Hidup bahagia di suatu tempat. Bukankah itu maumu?”

“Ya, itu mauku! Tetapi mana mungkin aku membiarkan Sylvania hancur di depan mataku? Tunggu aku di sini. Akan kubunuh mereka semua sebelum matahari terbenam!”

Maka menjelang saat-saat tergelap dalam hidupku aku berlari memasuki istana, dan melihat. Makhluk-makhluk mengerikan ada di sepanjang jalan menuju puncak Istana Syl. Gelap, berlendir, dengan kepala dan tubuh seperti kadal, tetapi dengan sayap dan ekor layaknya naga. Sebagian sudah mati, dibunuh oleh ratusan prajurit yang juga mati berdarah-darah. Beberapa yang masih hidup lalu bertarung denganku, menghabiskan sisa waktuku yang tinggal sedikit, sebelum akhirnya kubunuh satu demi satu.

Matahari semakin jatuh ke ufuk barat, dan aku mulai gelisah. Aku tahu masih ada tuan dari seluruh makhluk ini, yang harus kubunuh sebelum aku kembali ke dermaga. Aku mendongak, melihat deretan tangga terakhir yang harus kulewati sebelum sampai di ruang tahta di puncak menara istana. Api berkobar di kiri dan kananku, asap tebal memenuhi ruangan.

Lalu bisikan terdengar, memanggilku dari belakang.

Guru Pi. Wajahnya tampak khawatir saat ia mendekat.

“Tuan,” katanya memohon, “jangan naik. Kau tak bisa melawan makhluk itu. Semua orang di istana sudah ia bunuh.”

“Termasuk anak-anak?” tanyaku kaget.

“Mereka ada di ruang bawah tanah, masih aman.”

Aku mengangguk lega. “Kalian keluarlah lewat lorong rahasia. Temui Farouz di dermaga. Teara ada bersamanya.”

“Tuan, aku kemari untuk mengajakmu ikut bersama kami. Kau bisa membunuh makhluk itu di lain kesempatan.”

“Tidak, aku kemari untuk membunuhnya sebelum matahari terbenam. Aku tak punya kesempatan lain! Harus hari ini, atau mereka akan membunuh dan menghancurkan semuanya.” Dadaku naik turun berusaha menahan emosi. “Pergilah.”

Ia tampak sedih, tetapi akhirnya menurut dan menghilang pergi.

Aku mendongak, kemudian melangkah naik.

Keraguan menyergap. Benarkah yang kulakukan ini? Bagaimana jika aku gagal? Aku takkan punya kesempatan bertemu lagi dengan Teara! Kenapa aku tidak pergi saja dan meminum obatku?

Tapi … tidak, aku bisa. Aku bisa membunuh makhluk ini!

Harus hari ini, atau semuanya hancur.

Aku berlari naik, melompati tubuh-tubuh tanpa nyawa puluhan prajurit hingga akhirnya tiba di ruang tahta. Di sana terdapat kursi untuk Ratu. Tetapi bukan Ratu yang duduk di sana, melainkan seorang laki-laki, yang entah sedang menangis atau justru tertawa. Ia bertelanjang dada dan memakai celana terkoyak. Tubuhnya berlumuran darah. Mayat Mourat terbaring di depannya.

Pikiranku buntu begitu aku mengenali laki-laki itu.

“Nyrdio?” tanyaku bingung tak karuan. “Itu kau?”

Ia berhenti tertawa dan mengangkat wajah. “Ah, Tyron, lihat! Mourat membunuh ibuku! Membunuh semua orang!”

“Mourat?” Aku menggeleng ragu sambil pelan-pelan mendekat. “Kau yakin? Lalu kau yang membunuhnya?”

“Ya!”

“Mengapa kau ada di sini? Dan tertawa?”

“Karena aku senang!”

“Siapa yang kaubunuh, Nyrdio?” tanyaku, mulai waspada.

Aku menatap lurus ke arah matanya, dan tiba-tiba menemukan sesuatu yang berbeda. Bola matanya benar-benar gelap, dan dari dalamnya seolah terpancar amarah dan kebencian yang meluap-luap. Ia bukan lagi Nyrdio yang selama ini kukenal.

“Tidak,” kataku lirih. “Kaulah yang membunuh mereka semua.”

“Ya!” jeritnya, dan kemudian semakin keras, “Ya! Ya! YA!”

“Kenapa? Kenapa melakukan ini?”

“Kenapa? Kau yang membuatku begini, bodoh! Kau dan Shayla! Dan ibuku, dan semua yang lain! Kalianlah yang menghancurkan Sylvania! Ya, ya … kalian semua pantas mati!”

“Nyrdio, kau … kau benar-benar sudah gila …”

“Gila karena berkata berbeda dibanding kalian?”

“Apa maksudmu? Kau sudah termakan hasutan Dewa?” tanyaku pahit. Aku teringat betapa Nyrdio dulu adalah seorang yang sangat patuh pada Dewi, dan bahkan membenci Dewa jauh melebihi diriku. Ia juga tak pernah menyakiti siapapun, atau mungkin hanya karena ia tak berani melakukannya. Aku tak mengerti bagaimana ia sampai menjadi seperti ini, namun tampaknya kegilaan yang dialaminya telah mengubahnya menjadi sesuatu yang mengerikan.

“Tidak.” Ia meringis sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arahku. “Dewa menolongku. Dia yang memberiku kekuatan!”

Berarti benar, Nyrdio telah secara sukarela menerima kehadiran Dewa dalam dirinya, dan menjadi abdi neraka.

“Dewi akan mengutukmu!” seruku marah.

“Dewi?” Ia terbahak. “Dengan ratu-ratu pilihannya, yang telah menghancurkan Sylvania? Oh, ya. Ya! Biarlah hancur semuanya!” Ia bernyanyi-nyanyi aneh, lalu tiba-tiba tatapannya berubah bengis. “Ya! Purnama kali ini, saatnya laki-laki yang menjadi Raja!”

Raungannya menggelegar, mengguncang ke angkasa. Tubuhnya bergetar, lalu membesar jadi dua kali lipat. Duri-duri mencuat dari balik kulitnya, juga cakar-cakar kokoh di jemarinya, dan akhirnya sisik-sisik hitam. Wajahnya gelap dan tampan seperti sediakala, tetapi jelas dia bukan lagi Nyrdio yang kukenal.

Aku berlari sambil mengayunkan Adhirek. Tetapi dengan mudah ia menangkis dengan lengannya yang sekeras baja. Dengan satu tangan yang lain ia balik menampar hingga tubuhku terlempar. Itu tidak seperti pukulan manusia yang biasa aku terima, tetapi seperti hantaman martil raksasa yang rasanya seperti menghancurkan setiap batang dan sendi-sendi tulangku.

Aku berguling-guling di lantai menahan sakit, tetapi aku tak mau menyerah. Aku melompat ke sana kemari, menusuk, menebas, mencoba mencari titik lemahnya. Pedangku menghantam tubuhnya berkali-kali, tetapi seperti tidak mempan sedikit pun. Sebagai balasan ia terus mengibaskan lengannya, menghajarku lagi berkali-kali. Melihatku kewalahan, makhluk itu tertawa.

“Lihat!” serunya dengan suara kasar. “Tidak ada manusia yang bisa membunuhku! Bahkan Tyron yang perkasa!”

Aku terbatuk memuntahkan darah, memperhatikan pedangku yang terlempar tergeletak jauh dariku. Sepertinya dia benar, aku tak bisa membunuhnya bahkan dengan kecepatan dan kekuatan yang kumiliki. Bahkan dengan Adhirek sekalipun.

Berarti … aku akan mati di sini?

Tidak. Aku tidak ingin mati sebelum …

Terhuyung-huyung aku berlari menjauh, menuju balkon tempat aku bisa melihat dermaga. Tempat aku bisa melihat Teara.

Aku pun melihatnya. Dia ada di sana.

Putriku, berdiri dalam gelap di samping Farouz.

Sesaat kemudian aku tersadar, matahari baru saja terbenam.

Ketika aku menoleh dan mataku melihat purnama, semuanya berubah. Kekuatan neraka kembali mengalir di tubuhku. Cakar, taring, dan bulu-bulu hitam yang mengerikan. Kali ini prosesnya menyakitiku lebih daripada biasanya. Aku melolong pedih.

Lalu tiba-tiba, dalam setengah kesadaranku, sebelum semua kemanusiaanku benar-benar hilang, aku mengerti.

Mungkinkah semua ini telah disiapkan untukku?

Inilah aku, yang telah dikutuk oleh Dewa. Benar, mungkin di luar dugaannya sendiri ia dulu berhasil menjadikanku abdinya, makhluk calon penghuni neraka. Sesuatu yang bahkan saat perang dulu tak pernah mampu ia lakukan padaku. Selama ini aku menganggap hal ini sebagai hukuman. Tetapi bagaimana jika ternyata ada sesuatu yang lebih berharga di balik semua ini? Karena pada akhirnya tetap bukan Dewa, melainkan Dewilah yang mengenalku dengan lebih baik. Sejak dulu Dewi selalu bisa menebak pilihan-pilihan hidupku. Setiap pilihan yang kubuat, tak pernah aku mengkhianatinya. Ia tahu kejadian buruk macam ini akan terjadi, dan karenanya dengan suatu cara Ia membawaku ke sini, untuk melawan Dewa, melawan makhluk yang dipilih langsung oleh Dewa, tepat saat ini.

Dengan suatu cara pula, yang juga membuat kesadaranku kali ini tidak hilang sepenuhnya seperti biasa, sehingga kini aku masih bisa bersyukur dan berpikir layaknya manusia.

Di sisi lain, aku bukan lagi manusia.

Aku berbalik, menyeringai menatap musuh yang kini tertegun di depanku. “Manusia tak bisa membunuhmu, tetapi aku bisa.”

Aku melolong, melompat dengan kecepatan yang hanya bisa dimiliki makhluk neraka. Nyrdio meraung, membalas seranganku dengan tamparan dahsyat. Cakarku mencabik kepalanya, tetapi tamparannya membuatku terlempar ke dinding ruangan.

Dinding, pilar dan langit-langit berguguran. Menahan sakit, aku melenting dari satu dinding ke dinding yang lain, mengitari Nyrdio yang kebingungan lalu menerjang dari belakang. Kedua cakarku menghunjam tubuhnya, taringku menancap di lehernya. Ia kembali meraung sambil memberontak berusaha melepaskan diri. Aku memeluknya semakin erat. Ia takkan bisa lepas dariku!

Nyrdio terus meronta, kedua tangannya menyikut ke belakang, kakinya menendang ke mana-mana. Tubuh kami berputar-putar, dan akhirnya menghantam pagar balkon.

Batu-batu pagar hancur dan kami melayang di udara.

Lama. Lalu kami jatuh terhempas keras di tanah.

---

Sunyi. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Sakit tak lagi terasa. Langit gelap tampak di hadapanku. Aku masih di Sylvania, atau mungkin sudah sampai di neraka?

Tidak masalah aku ada di mana, selama aku berhasil membunuh dia. Begitu aku melirik dan melihat si makhluk neraka yang tewas di sampingku aku tersenyum lega. Bagus.

Dan tampaknya aku juga belum mati.

Berarti aku masih bisa menemui putriku.

Tapi, tidak … tidak mungkin di saat seperti ini!

Langkah kaki di atas lantai halaman terdengar lambat-lambat di telingaku. Aku melirik lemah. Farouz menghampiriku. Ia berdiri memandangku dengan tatapan sedih.

“Oh, Farouz,” aku memohon. “Jangan biarkan putriku mendekat … dan melihatku begini.”

Ia menggeleng. “Yang Mulia … sudah ada di sini.”

Putriku muncul di sampingnya. Aura ratu menerangi wajahnya. Kalung pemberian Shayla bersinar di lehernya.

Yang Mulia? Apakah berarti Dewi telah memilihnya sebagai ratu sekaligus memberinya berkah?

Melihatnya saat ini justru membuat darahku seolah beku. Saat aku mati, aku ingin ia melihatku dengan sosokku yang biasa, bukan dengan tubuh makhluk terkutuk seperti ini!

Di luar dugaanku ia berlutut seolah tak peduli.

Ia memperhatikanku selama beberapa saat, kemudian membelai wajahku, dan berkata—satu kata yang amat kurindukan darinya.

“Ayah ...”

Aku menangis.

Ikatan neraka satu demi satu tercabut dari tubuhku. Rambut-rambut hitam, cakar, taring, semuanya lebur dan hilang tersapu angin. Aku tak bisa lagi melihat dan merasakannya lebih dari ini, tetapi aku tahu tubuhku kembali seperti sediakala.

Dalam benderang cahaya, di samping Teara, aku melihat Shayla.

Ia berlutut di sampingku. “Dewi sudah menunggu kita,” ujarnya seraya menggenggam erat jemariku.

Aku mengangguk. Waktuku sudah tiba.

Tetapi sebelum kami pergi aku menoleh, melepaskan senyuman terakhir untuk putriku.

“Terima kasih, … Teara. Selamat tinggal.”

Malam itu Matahari Sylvania bersinar terang dan membawaku ke surga.

---

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Matahari Sylvania - 0 (5 years 36 weeks ago)
80

keren :D
cuma waktu Tyrion berkeras pengin memerangi makhluk-makhluk neraka itu saya kurang dapet tujuannya apa. demi tanah air istrinya kah? atau demi membela kerajaan?
rasa-rasanya juga deskripsinya masih kurang. pertengkaran si pencerita dgn Nyrdio kalau diperpanjang sedikit lagi pasti bisa memperlambat pace sebentar sebelum cuss ke perkelahian yg cepat. tapi over all, saya sangat menikmati kk :D
CMIIW. keep on writing. salam satu persatuan.

Writer Madanevs
Madanevs at Matahari Sylvania - 0 (5 years 36 weeks ago)
100

waaaaahhhhh, sebagai penikmat fantasi, aku bener-bener menikmati :))
jujur,keren banget :p
jadi pengen baca bukunya kak villam T.T