Gravitasi, Lubang, dan Bisikan-Bisikan

Gravitasi. Gaya tarik-menarik. Umumnya dikenal sebagai kemampuan sebuah planet untuk menarik benda-benda ke arahnya. Gaya gravitasi jugalah yang menjaga manusia, hewan, dan seisi bumi tetap berada di permukaan meski bumi terus berotasi ke segala arah dengan kecepatan tinggi. Orang awam seringkali melupakan makna sesungguhnya dari gravitasi, gaya tarik. Gravitasi tidak hanya dipancarkan oleh bumi dan planet-planet. Gravitasi bisa berasal dari lubang mistis yang mengeluarkan bisikan-bisikan mengerikan yang muncul di mana saja, kapan saja ketika kita tidak waspada.

Aku pertama kali mengalami kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Saat itu sedang kelasku sedang studi wisata di gedung sains Arkham University. Profesor Winthrop—yang menjadi mentorku sekarang—baru saja menunjukkan diorama simulasi gaya gravitasi dan memberikan penjelasan tentang salah satu keajaiban alam itu. Aku dan teman-temanku terkesima. Aku masih ingat dioramanya, gerakan bumi yang berputar di sepanjang orbit dari kawat tipis yang mengitari matahari, benda-benda logam kecil yang menempel begitu dilewati oleh tiruan bumi… Sekarang aku memiliki akses terhadap diorama gravitasi yang jauh lebih canggih, wujudnya berupa citra hologram yang dapat dimodifikasi secara digital, tapi diorama mekanik yang dulu kulihat itu cukup untuk membuat anak usia sembilan tahun menganga takjub.

Aku begitu terpesona dengan diorama itu, sampai-sampai aku tidak sadar rombonganku sudah pergi ke ruangan lain. Aku sendirian. Mendadak ruangan itu terasa dingin. Aku berjalan ke arah pintu untuk keluar dan mencari rombonganku, tapi belum sempat aku mencapai gagang pintu, lubang itu terbuka.

Gravitasi. Itulah yang pertama kali muncul di pikiranku. Aku tidak tahu apa dan bagaimana lubang itu muncul, tapi lubang itu menarikku masuk ke dalamnya. Gravitasi yang sangat kuat juga bisa menciptakan lubang, seperti black hole di luar angkasa. Aku dijerat oleh gravitasi dan ditarik ke dalam lubang itu.

Kata Profesor Winthrop, gravitasi tidak bisa dilawan…

…Kecuali ada gaya eksternal dengan besar yang sama atau lebih kuat yang menarik dengan arah yang berlawanan.

Itulah yang menyelamatkanku saat itu.

Penolongku bernama Joe Diamond, seorang detektif swasta. Konon ia dibayar untuk menyelidiki lubang-lubang mistis yang belakangan ini secara ajaib bermunculan di seluruh kota.

“Di seluruh kota?” tanyaku waktu itu.

“…Jadi kau juga tidak tahu?” aku masih ingat, si Detektif tampak tersentak, lalu ia mengangguk-angguk sendiri, “Mungkin tidak semua orang menyadari kejadian ini…”

“Kejadian apa?”

“Kau ingin tahu?”

“Ya! Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Aku memiliki hipotesis… Begitu kau mengetahui tentang ‘dunia itu’, kau tidak bisa lari lagi. Mungkin kejadian yang sama akan menimpamu lagi, bahkan mungkin lebih buruk dari itu.”

“Aku tidak peduli, aku ingin tahu!”

“Baiklah, tapi apapun yang terjadi padaku setelah ini, itu bukan salahku.”

Sejak saat itu, banyak keanehan yang terjadi, semua berkaitan dengan gravitasi. Lubang-lubang penarik itu muncul lagi. Terkadang dari lubang itu, keluar makhluk-makhluk yang bisa melawan gravitasi. Orang-orang menghilang ke dalam lubang-lubang, ditarik oleh gaya gravitasi. Hingga suatu hari, entah apa yang terjadi, keanehan itu berhenti.

Sayangnya belum genap seminggu yang lalu, keanehan itu terjadi lagi.

Professor Winthrop—kini mentorku di fakultas sains Arkham University—ditelan oleh lubang itu di depan mataku. Aku masih ingat kata-kata beliau saat itu…

“Kita tidak akan bisa menghancurkan sesuatu yang tidak kita kenali. Masuk ke dalamnya adalah satu-satunya cara untuk memahami lubang misterius ini.”

“Tapi bagaimana Profesor bisa keluar dari sana?!”

“Itu urusan nanti. Lagipula kau seorang ilmuwan kan? Ciptakan sesuatu yang bisa melawan gravitasi lubang misterius ini!”

Saat itu aku memutuskan untuk menciptakan sepatu pengendali gravitasi. Mengapa sepatu? Karena alas kaki adalah benda pertama yang mengalami kontak dengan permukaan bumi. Ketika lubang mistis terbuka, sepatu jugalah yang pertama kali mengalami kontak dengan gaya gravitasi yang menarik pemakainya ke dalam. Dengan sepatu yang bisa mengendalikan gravitasi, aku bisa masuk ke dalam lubang sejauh yang aku mau tanpa tersedot ke dalamnya dan bisa kembali keluar kapan saja. Cara kerjanya sederhana, sepatu ini hanya perlu mengeluarkan gaya dengan arah yang berlawanan dengan gaya gravitasi yang ada.

Dengan sepatu ini, aku akan mencari lubang mistis itu dan menyelamatkan Profesor Winthrop.

Tapi tentu saja aku tidak mungkin masuk tanpa bekal apapun. Aku mengamati lubang itu dari luar, juga mengamati makhluk yang keluar dari dalamnya sambil lari dan bersembunyi. Sayang penelitian ini nyaris tidak menjawab apapun. Tapi keberuntungan berpihak padaku. Aku kembali bertemu dengan Detektif Joe Diamond.

Aku bertemu dengannya di stasiun kereta. Memang sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku terakhir melihatnya, namun ia tampak menua lebih dari tiga puluh tahun. Ia terlihat begitu tua dan letih.

Aku bertanya padanya tentang lubang-lubang yang kini kembali bermunculan. Ia menjawab bahwa ia sudah mendapat petunjuk baru, tapi ia tidak yakin ia bisa membaginya denganku.

“Mengapa?” tanyaku bingung.

Entahlah. Temuanku seolah menjadi pertanda kemalangan bagi orang lain yang melihatnya,” jawab si Detektif, “Bahkan aku ingin berhenti berurusan dengan ini semua, tapi ini sumber penghasilanku satu-satunya…”

“Aku tetap ingin melihatnya,” ujarku tidak percaya. Hal buruk macam apa lagi yang bisa terjadi padaku? Terjebak dalam lubang-lubang mistis? Bukan masalah. Toh aku punya sepatu pengendali gravitasi!

Detektif Diamond tidak bisa menjelaskan padaku saat itu juga, ia meminta bertemu di Rumah Penyihir di pinggir hutan. Tentunya tidak ada penyihir sungguhan di sana, hanya gubuk kosong di tepi hutan yang sekilas terlihat angker. Sepuluh tahun lalu, sebuah lubang juga pernah muncul di sini. Namun, konon sekelompok orang berhasil menutup lubang itu dengan melakukan suatu ritual.

Dan di sinilah aku, di Rumah Penyihir yang gelap, reyot, dan berdebu bersama Detektif Joe Diamond. Di lantai tempat kami berdiri, tergambar sebuah simbol. Bentuknya seperti garis-garis yang saling terjalin dan memancarkan cahaya biru hangat. Bentuknya mengingatkanku dengan gambar orbit elektron yang mengelilingi proton.

“Lambag apa ini?” tanyaku.

“Rekan-rekan investigatorku menyebutnya Elder’s Sign. Simbol ini memiliki kekuatan sihir yang melindungi tempat ini dari lubang dan monster-monster pengikut para dewa pemusnah,” jawab si Detektif.

“Dewa Penghancur?”

“Dahulu kala, sebelum bumi dan manusia tercipta, semesta ini dikuasai oleh dewa-dewa pemusnah. Yang mereka lakukan hanya satu, menciptakan kekacauan. Lalu bumi dan manusia-manusia pertama tercipta. Merekalah yang menemukan cara untuk menidurkan para dewa di alam-alam yang berbeda. Namun, sewaktu-waktu, dewa-dewa ini akan terusik, seperti saat ini. Lubang-lubang yang menghubungkan dunia ini dengan alam dewa pemusnah akan terbuka dan pengikut para dewa akan masuk ke dunia kita… Hingga akhirnya sang Dewa sendiri yang datang dan menelan segalanya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Dewa pemusnah? Ini konyol. Tapi aku tidak bisa menolak penjelasan itu mentah-mentah… Lubang itu nyata. Monster-monster yang keluar dari dalamnya juga nyata!

“…Apa kau pernah melihat dewa pemusnah itu?” akhirnya aku menanyakan satu hal itu.

Entah mengapa, Detektif Diamond menundukkan kepala.

“Aku pernah berhadapan dengan salah satunya sepuluh tahun yang lalu. Karena itulah bumi ini belum hancur sekarang.”

Terlalu banyak misteri. Terlalu banyak pertanyaan. Aku menarik napas panjang.

Fokus. Ingat. Aku mencari informasi untuk mengeluarkan Profesor Winthrop.

“Lupakan tentang… tentang dewa. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi pada orang-orang yang jatuh ke dalam lubang? Apa mereka bisa keluar lagi?”

“Mereka… Mereka tersedot ke dalam dunia dewa pemusnah. Untuk kembali, mereka harus menemukan jalan mereka sendiri… Itupun kalau mereka belum menjadi gila di dalam sana.

“Dan jika lubang tempat mereka masuk sampai tertutup, mereka akan lenyap selamanya, terombang-ambing di antara ruang dan waktu.”

Aku terdiam. Kehangatan dari simbol di lantai Rumah Penyihir terasa memanas, menjalari tubuhku.

Profesor Winthrop jatuh ke dalam lubang di Gedung Sains Arkham University. Selang beberapa hari, lubang itu menghilang tanpa bekas. Jika Detektif Diamond bisa dipercaya, maka Profesor Winthrop sudah lenyap untuk selamanya.

“T-tidak mungkin…”

Aku harus mencari Profesor Winthrop!

“Shub Niggurath…”

Entah mengapa rasa panas di sekitarku makin menyengat. Aku melihat ke bawah kakiku. Elder’s Sign, garis-garis biru serupa diagram atom yang seharusnya tergambar di sana berubah menjadi merah. Aku merasa lantai di bawahku bergetar. Garis-garis merah di lantai bergerak dan putus, membentuk sebuah simbol yang baru.

Panas. Aku merasa harus lari, tapi aku terpaku pada simbol yang baru terbentuk di bawah kakiku. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun.

“Menyingkir! Dia datang… Dia datang…”

Merah dan panas. Merah dan menyala. Aku melihat tanduk dan moncong, juga sepasang mata yang menusuk-nusuk benakku.

Lalu aku merasakannya. Gravitasi. Gaya tarik.

Di bawah kaki, moncong menganga membuat sebuah lubang baru, menarikku ke dalamnya.

“Aku tidak bisa menolongmu lagi! Cepat menyingkir dari situ!”

“Tenang saja, Detektif!”

Aku tertawa. Lubang itu tidak bisa menarikku lagi! Aku bisa melawan gaya gravitasi lubang itu. Aku punya sepatu pengendali gravitasi!

Gaya gravitasi lubang itu menarikku pelan. Aku meraih tombol kontrol di pergelangan kiriku. Begitu kutekan tombol itu, aku akan mengambang tepat di atas lubang itu.

Pip.

Zsssrst!

“A-apa yang terjadi?! AAAAAAAARGH!”

Sakit! Apa ada malfungsi dengan sepatu ciptaanku? Kenapa gaya gravitasi lubang makin menguat?! Aku mencoba sekuat tenaga, menggapai-gapai, melawan. Tapi aku sudah tenggelam hingga leher. Tangan kiriku mencengkeram sisa lantai yang masih utuh, jari kananku menekan-nekan tombol kontrol, berharap terjadi sesuatu. Suara-suara kembali berbisik di telingaku. Detektif Diamond juga meneriakkan sesuatu, tapi tenggelam oleh bisikan-bisikan dari dalam lubang.

“Hentikan! HENTIKAAAAAAN!”

‘Ever Their praises, and abundance to the Black Goat of the Woods. Iä! Shub-Niggurath!’

‘Iä! Shub-Niggurath! The Black Goat of the Woods with a Thousand Young!’*

Gravitasi. Gaya tarik-menarik. Umumnya dikenal sebagai kemampuan sebuah planet untuk menarik benda-benda ke arahnya. Gaya gravitasi jugalah yang menjaga manusia, hewan, dan seisi bumi tetap berada di permukaan meski bumi terus berotasi ke segala arah dengan kecepatan tinggi. Orang awam seringkali melupakan makna sesungguhnya dari gravitasi, gaya tarik. Gravitasi tidak hanya dipancarkan oleh bumi dan planet-planet. Gravitasi bisa berasal dari lubang mistis yang mengeluarkan bisikan-bisikan mengerikan yang muncul di mana saja, kapan saja ketika kita tidak waspada.

Terkadang, gravitasi yang berasal dari lubang mistis dengan bisikan-bisikan mengerikan memiliki sifat yang berbeda dengan gravitasi biasa.

Aku harus menelitinya.

TAMAT

*Dikutip dari The Whisperer in Darkness oleh H.P. Lovecraft (1930)

Note: Kisah ini merupakan adaptasi dari Cthulhu Mythos oleh H.P. Lovecraft dan permainan papan Arkham Horror dari Call of Cthulhu series.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Secara teknis penulisan menurutku enggak ada masalah.

Meski tema yang diangkatnya mengerikan, dampaknya masih belum bener-bener kerasa kena karena belum terlalu menggambarkan keseluruhan konflik yang bisa diakibatkan oleh lubang-lubang itu. Seperti soal ketakutan terhadap segala kemungkinan yang mungkin terjadi, perasaan keisolir karena adanya orang-orang yang bahkan bisa hidup tanpa menyadari adanya lubang-lubang itu, dsb. Seenggaknya, menurutku gitu sih. Kalau segini masih baru kerasa kayak sesuatu yang random aja. >.<

ada bos aaaaaaaaaaaaaaal *bahagia*
hooh, memang banyak yang kurang. Masalah saya belakangan ini pas nulis adalah rasanya susah banget bikin sesuatu yang 'utuh'. Saya tahu apa yang kurang, tapi bukannya dipikirin malah kabur orz. Masih harus lebih banyak grinding...
.
makasih udah mampir >W<