Malam Tahun Baru di Shinjuku

Aku menengadahkan kepalaku saat merasakan sebuah bola putih kecil yang dingin menyentuh kepalaku. Bola-bola kecil yang lain lantas mulai turun satu demi satu, membuat langit yang sudah semakin gelap kini bertaburan titik-titik putih. Ternyata benar; petang ini, salju kembali turun di kawasan Shinjuku. Sial, kenapa aku lupa membawa baju mantelku? Aku meninggalkan rumah dengan terburu-buru tadi, dan bodohnya, aku tidak kepikiran untuk membawa satu meski tahu sekarang sedang musim dingin. Untunglah aku mengenakan celana jins ketika keluar—dan bukannya rok mini seperti biasanya—jadi setidaknya, kakiku tidak akan kedinginan.

Sembari merapatkan kerah kemeja flanelku, aku berjalan menyusuri daerah pertokoan di sebelah timur Stasiun Shinjuku. Seperti biasanya, lokasi ini penuh sesak. Trotoar tampak dibanjiri oleh orang-orang, dan beberapa department store seperti Lumine dan Isetan terlihat sangat ramai. Bahkan meskipun omisoka menjadi saat ketika orang Jepang berkumpul di rumah bersama keluraga, tempat ini sepertinya tidak pernah kehabisan pengunjung.

Lalu, kenapa aku berjalan di antara orang-orang ini alih-alih berdiam di rumah bersama keluargaku untuk, katakanlah, menonton Kouhaku Uta Gassen di NHK?

Pertanyaan bagus.

Semuanya dimulai ketika Otousan mendapati kalau aku telah membeli sebuah kamera SLR baru seharga dua ratus ribu yen lebih. Otousan menganggap tindakanku itu sebagai “suatu pengeluaran besar yang tidak perlu”, tapi aku bersikeras bahwa aku memerlukan kamera itu supaya bisa mendapat gambar bagus kalau aku mendapat tugas memotret dari klub fotografi. Adu mulut antara aku dan Otousan pun tak terhindarkan. Lama-kelamaan, aku jadi kesal sendiri, dan saking kesalnya, aku langsung memutuskan untuk pergi begitu saja dari hadapan Otousan. Tak kupedulkan wajah Otousan yang semakin merah karena marah, atau teriakannya yang menyuruhku kembali ke dalam. Itulah kenapa aku tidak membawa mantel; aku terlalu emosi, terlalu kesal, dan telalu terburu-buru sehingga tidak berpikir untuk terlebih dahulu mengambil baju hangat yang berada di kamarku itu. Untung saja aku membawa dompet di sakuku, jadi setidaknya, aku bisa melewatkan malam tahun baru ini dengan mengelilingi area pertokoan Stasiun Shinjuku. Aku lantas mulai meraba bagian kanan belakang saku celanaku untuk menghitung jumlah uang yang dapat kugunakan untuk berbelanja....

Tunggu sebentar.

Kenapa saku belakangku rata?

 Dengan was-was, aku pun lantas mulai meraba saku kiriku. Namun, tak peduli berapa kali pun aku melakukannya, hasilnya sama saja: kosong. Ini...tidak mungkin. Dompetku... hilang! Dompet itu pastilah terjatuh saat aku tengah berjalan-jalan tadi! Aku pun kemudian menengok kembali ke arah trotoar yang baru saja kujelajahi, tapi kerumunan orang yang ada di sana membuat perutku terasa mual. Bagaimana mungkin aku menemukan dompetku di tengah-tengah mereka? Ba...bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

“Permisi, ini punyamu?”

Aku sudah hampir menangis ketika seorang cewek yang kira-kira sepantaran denganku menyodorkan sebuah dompet berwarna putih kepadaku. Dompet itu...dompetku! “Be...benar,” sahutku seraya meraih dompet tersebut dari tangannya. “Terima kasih! Kukira aku tidak akan dapat menemukannya lagi.”

“Jangan sungkan,” ia membalas. “Adikku mencopetnya darimu, tapi aku sudah berkali-kali bilang kalau kami tidak pernah mencari uang dari mencopet, jadi...”

“Adikmu pencopet?” tanyaku serta-merta. Cepat-cepat kuperiksan isi dompetku, dan aku pun mulai menghitung jumlah uang yang ada di situ. Namun, jumlahnya ternyata tetap sama: dua puluh ribu yen. Bahkan dua keping uang seratus yenku tetap utuh.

“Sudah kubilang, aku bukan pencopet,” ujar cewek itu sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Kontras sekali dengan penampilannya yang, menurutku, dekil. Rambutnya yang dikuncir dua tampak kecoklatan, mungkin akibat terlalu lama terbakar sinar matahari. Kulit wajahnya kusam, dan bahkan ada bekas luka di pelipisnya. Meski begitu, tak ada yang lebih parah dibandingkan bajunya. Kaus berwarna abu-abu yang sudah pudar, celana jins yang robek di bagian lututunya...aku jadi berpikir, siapa sebenarnya cewek ini? “Namaku Shizuhara Chihiro, tapi panggil aku Chii-chan saja,” ucapnya tiba-tiba, seakan ia bisa membaca pikiranku.

“Aku Ichine Miyuki, eh...salam kenal Chii...chan,” balasku. Aneh rasanya memanggil nama depan pada orang yang baru kukenal. “Kau bisa panggil aku...”

“Miyu-chan!” potong Chihiro dengan segera. Aku sedikit tersentak juga saat ia dengan seenaknya menentukan nama panggilanku. Namun, aku lebih memilih untuk diam saja. Bukankah orang ini sudah berbaik hati mengembalikan dompetku beserta uangnya? Sadar kalau cewek bernama Chihiro ini sudah berjasa kepadaku, aku lantas buru-buru membuka dompetku dan mulai menyortir uangku.

“Oh ya, sebagai ucapan terima kasih....”

“Ja...jangan,” Chihiro buru-buru menyela. “Aku tidak melakukan itu untuk dibayar.”

“Ayolah,” sergahku. “Tanpamu, aku mungkin akan mengalami kesulitan,” lanjutku seraya menyodorkan selembar seribu yen kepadanya.

Chihiro terdiam. Ia tampak ragu untuk mengambil uang tersebut. Meskipun begitu, setelah terdiam agak lama, ia akhirnya menyahut uang itu juga. “Doumo,” ucapnya seraya melambaikan lembaran bergambarkan Noguchi itu. “Kini sebagai penggantinya, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu...”

Etto...maksudmu?”

“Sebuah lagu,” Chihiro mengulangi. Ia kemudian berbalik dan lalu menunduk untuk membuka sebuah kotak gitar—yang baru kusadari kalau ternyata kotak itu tergeletak di sana selama ini—dan lalu mulai mengeluarkan isinya. “Ya, aku adalah seorang street performer,” ia menambahkan seraya menggenjreng gitarnya sekali. Chihiro pun lantas mengambil posisi di sebuah tempat kosong dekat pembatas trotoar. Kemudian, tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang atau salju yang makin melebat, ia mulai menyanyikan sebuah lagu—Colors dari Utada Hikaru. Aku tidak tahu apa ini kebetulan atau bagaimana, tapi kalau mau jujur, lagu itu sebenarnya juga merupakan...lagu favoritku.

 

***

 

Chihiro mengajakku jalan-jalan mengelilingi Stasiun Shinjuku setelah ia selesai memainkan lagunya. Dibantu adiknya yang bernama Kenichi, cewek kurus itu sesekali menggelar sebuah konser kecil manakala ia melihat sebuah sudut yang lumayan ramai. Aku sendiri pada awalnya hanya berdiri dan mengawasi keduanya tampil dari jauh, tapi ketika Chihiro kembali menyanyikan Colors, aku tak dapat menahan diri untuk tidak turut bernyanyi dengannya. Duet antara aku dan Chihiro ternyata mengundang perhatian banyak orang untuk menonton “konser” kami. Tak berapa lama setelah aku mulai bernyanyi, orang-orang yang tadinya hanya berjalan melewati kami langsung menyempatkan diri untuk menghentikan langkah mereka. Di akhir pertunjukkan, kami memperoleh aplaus, dan, ya, kami jadi memperoleh cukup banyak uang malam ini.

“Terima kasih, ya, Miyu-chan,” kata Chihiro kepadaku setelah kerumunan penonton kami sudah mulai bubar. “Tahut tidak? Kamu itu seperti maneki-neko bagiku,” tambahnya seraya membungkuk untuk memasukkan gitarnya ke dalam tas.

Aku hanya meringis mendengar pujian Chihiro tersebut.

Sesaat setelah Chihiro selesai membereskan gitar, aku melihat Kenichi berjalan menghampiri kakaknya itu. Tanpa ragu-ragu, ia lantas mengajak baik aku maupun Chihiro mencari makan malam. Aku pun kemudian mengajurkan untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang sempat kulalui tadi, tapi Chihiro ternyata lebih memilih untuk makan soba saja alih-alih hamburger. “Apa jadinya malam tahun baru tanpa makan toshikoshi soba?” begitu kilahnya. Aku setuju, dan tak lama kemudian, kami bertiga sudah berada di sebuah restoran kecil—lebih tepat disebut kedai, sebetulnya—yang terletak tak jauh dari Studio Alta.

“Jadi, Miyu-chan,” ucap Chihiro seraya menggulung soba-nya. “Kamu tinggal di mana?”

Aku baru saja hendak memisahkan kedua sumpitku ketika Chihiro bertanya seperti itu. “Eh...aku tinggal di Okubo,” jawabku

“Ho...Okubo, ya!” sahut Chihiro kemudian. “Yang ada Universitas Waseda itu?”

Aku mengangguk. Mulutku terlalu penuh dengan soba untuk menanggapinya.

“Lantas, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak berkumpul dengan keluargamu di rumah?” tanya Chihiro lagi.

Mendengar kata “keluarga”, aku sontak mendesah. Bayangan atas wajah berang Otousan dan teriakannya yang memekakkan telinga pun sontak kembali berkelibat di dalam benakku. “Aku...aku bertengkar dengan orangtuaku,” ungkapku kepada Chihiro.

Chihiro tampak tersentak mendengar jawabanku. “Kenapa?” tanyanya.

 “Jadi begini,” sahutku berapi-api. “Aku baru saja membeli sebuah kamera untuk klub fotografi, tapi Otousan tampaknya tidak setuju aku menggunakan uangku untuk hal seperti itu. Kami berdebat mengenai hal ini tadi siang. Karena aku marah, aku lalu pergi begitu saja dari hadapan Otousan,” jelasku dengan intonasi meninggi. Meski begitu, jujur saja, aku jadi merasa sedikit lega setelah mengungkapkan hal itu. Mungkin benar kata orang-orang; sekadar menceritakan masalah itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu merasa lebih baik!

“Begitu, ya...,”  ujar Chihiro, perlahan.

Aku mengangguk. Kemudian, aku kembali mengutarakan berbagai keluhanku terhadap Otousan—yang lebih sering ditanggapi dengan anggukan kecil oleh Chihiro. Setelah merasa cukup puas dan tenang, aku lantas mencoba untuk bertanya kepada cewek itu. Merupakan satu hal yang tidak sopan kalau aku terus yang bercerita, kan? “Kalau Chihiro-san sendiri bagaimana? Kenapa tidak di rumah?” tanyaku sambil mengaduk-aduk soba-ku. Namun, Chihiro tidak segera menyahut. Aku bahkan sempat beralih dari kuah soba-ku, sebelum akhirnya kudapati ia menjawab pertanyaanku sekitar tiga menit kemudian.

 “Kalau mau jujur,” jawab Chihiro perlahan, “sebenarnya kami tidak punya rumah.”

Aku melirik Chihiro sesaat setelah ia berkata demikian. Oh, dia pastilah salah satu dari tunawisma yang tinggal di taman-taman di sekitar Shinjuku—tampak dari bajunya yang lusuh dan kulitnya yang tak terawat. “Ayah-ibumu bagaimana? Mereka tidak mencarimu?” tanyaku lagi seraya bersiap memasukkan lembaran soba ke dalam mulut.

Chihiro menjawab dengan gelengan perlahan. Kemudian, dengan suara nyaris tak terdengar, ia melanjutkan, “Kami juga tidak punya orangtua. Orangtua kami meninggal saat aku masih SMP.”

Tunggu sebentar.

Apa?

Aku hampir saja tersedak saat Chihiro mengutarakan kalimat itu. Sungguh, aku tidak menyangka kalau cewek seriang Chihiro ternyata adalah seorang yatim-piatu! Kupikir, ia hanya seorang cewek yang bosan dengan keadaan rumahnya, jadi ia memutuskan untuk membawa adiknya keluar jalan-jalan pada saat omisoka. Namun, aku ternyata salah; Chihiro ternyata benar-benar memainkan gitar untuk menyambung hidupnya. Bukan cuma itu, ia bahkan juga harus menanggung hidup adiknya! “Ma, maaf, aku tidak...,” ucapku terbata. Namun, Chihiro kembali menggeleng.

“Tidak apa-apa,” balas Chihiro. Dapat kulihat sebuah senyum terulas dari bibirnya—entah sebuah senyum menenangkan atau senyum sedih. Tak lama kemudian, Chihiro sudah menceritakan masa lalunya tanpa kuminta. Baik ia maupun Kenichi ternyata sempat tinggal di sebuah apartemen kecil yang terletak di kawasan Takadanobaba bersama kedua orangtua mereka. Namun, sebuah kecelakaan yang menimpa ayah-ibunya saat keduanya sedang tugas dinas di Nagoya tiga tahun silam telah mengubah semua itu. Chihiro pun memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih untuk mencari uang dengan cara memainkan gitar—satu-satunya bakat khusus yang ia miliki sejak kecil. “Kami lama-kelamaan diusir karena tidak bisa membayar sewa, dan hingga sekarang, beginilah hidup kami,” ucapnya seraya kembali tersenyum. Dapat kulihat tangan kanannya mengelus kepala Kenichi sekali.

Mendengar cerita Chihiro—sungguh—aku merasa seakan-akan kerongkonganku tercekat. Dalam sekejap, perasaan iba dan bersalah langsung menjalari  sekujur tubuhku. Aku merasa iba terhadap sosok Chihiro yang harus kehilangan kedua orangtuanya di usia yang masih sangat belia, dan sekaligus merasa bersalah terhadap Otousan. Benar, setelah mendengar kisah Chihiro tadi, aku jadi merasa bersalah telah berlaku kurang ajar siang tadi. Apa...apa telah yang kulakukan?

“Miyu-chan, kamu tidak apa-apa?” tanya Chihiro. “Kamu menangis, ya?”

Apa? Aku....menangis?

Aku dengan segera lantas menyentuh pipiku, dan—benar saja—mendapati setitik air mengalir di sana. Cepat-cepat kuseka air mataku dengan punggung tanganku. Setelah itu, aku pun lantas berkata kepada Chihiro dengan setengah terbata, “Chihiro-san, terima kasih. Kamu telah memberiku pelajaran berharga malam ini.”

Chihiro, yang tampaknya mengerti dengan apa yang kumakusd, kembali melemparkan senyum. Dibelainya bahuku sekali, dan kemudian, cewek itu pun berujar, “Dou itashimashitte. Semoga kamu bisa lebih bersyukur karena memiliki orangtua.”

Aku mengangguk. Kami pun akhirnya kembali melanjutkan menyantap toshikoshi soba kami sembari bertukar cerita. Ketika jam di tanganku sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan kami di kedai itu—aku membayari mereka, tentu saja. Chihiro pun menawarkan diri untuk mencarikanku taksi sebagai gantinya.

“Chihiro,” panggilku ketika sudah berada di dalam taksi. “besok pagi mau ke kuil bersama untuk hatsu mode?”

Chihiro berpikir sejenak. Tak lama kemudian, ia sudah menerima tawaranku itu. “Bagaimana kalau Jokako-ji?” balasnya.

“Baik,” balasku. “Ja. mata.”

“Ja.”

Setelah itu, taksi lantas bergerak menuju rumahku yang berada di Okubo. Telingaku sayup-sayup mendengar bunyi lonceng Joya no Kane saat taksi yang kutumpangi melewati beberapa kuil. Dalam hati, aku menyunggingkan senyum. Aku pasti akan meminta maaf dan berbaikan kepada Otousan begitu tiba di rumah. Aku yakin kalau Otousan mungkin akan memarahiku atau bahkan murka kepadaku, tapi aku sudah bersiap akan hal itu. Itu karena aku paham betapa berharganya memilki orangtua. Ya, kini aku paham jika seharusnya aku bersyukur karena masih ada yang mengurusiku, sementara di luar sana, masih banyak anak yang tidak seberuntung diriku.

Terima kasih, Chihiro-san, karena telah membuat hatiku selega ini! Kudoakan semoga tahun ini kamu bertemu dengan orang baik yang menyayangi dirimu dan Kenichi!

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dwigartikap
dwigartikap at Malam Tahun Baru di Shinjuku (4 years 49 weeks ago)
100

Suka deh sama ceritanya ^^

Writer citapraaa
citapraaa at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 2 weeks ago)

aa keren. berharap dimasukin artinya *males nyari.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 3 weeks ago)
90

keren! bisa ngidupin latar luar negeri.
jadi tahu juga di negara semaju jepang ternyata masih ada anak telantar.
judul lagu kayaknya pakai tanda kutip deh, judul album baru dimiringkan. *cek EyD lagi ding :-P hhu

Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)
80

Nice story, tp setuju jg sama yg d bawah banyak prnjelasan yg saya tdk mengerti, alangkah baiknya dikasih penjelasan jg.
Salam kenal

Writer Chichan97
Chichan97 at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)
80

Wah....fict nya menarik...
Ne kpan2 buat yang romance...hehe...

Writer Ulaai
Ulaai at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)
60

Bagussss
Tapi mungkin untuk beberapa istilah perlu diberi penjelasan, misalnya seperti apa itu Kouhaku Uta Gassen atau maneki-neko. Walaupun aku paham mengenai apa itu mereka, tapi tidak semua orang paham kan, jadi mungkin bisa diselipkan penjelasan, beberapa kata saja.

Lalu, otousan disini kan menggantikan kata "ayah", yang mana kalau tidak digunakan sebagai sapaan langsung seharusnya ditulis kecil, bukan dengan kapital.

All in all, udah cukup bagus kok, dan nggak terlalu berat. :) salam kenal.

Writer herjuno
herjuno at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)

Iya, haha.
.
Ini soalnya post-nya buru-buru, jadi lupa dimasukkin. Thanks udah berkunjung. :3

Writer kijoko
kijoko at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)

wow keren :D

Writer herjuno
herjuno at Malam Tahun Baru di Shinjuku (5 years 17 weeks ago)

makasih untuk komentarnya. :3