Percakapan

Kalaulah boleh memilih inkarnasi, aku ingin menjadi Diogenes.” Itulah kalimat pertama yang akhirnya menjadi topik percakapan kami.

Apa itu Diogenes?” tanyaku tak mengerti. Nama itu asing bagiku. Apakah yang barusan disebut Btari adalah tokoh sohor? Apakah inventor penting? Dari caranya mengucap, tampaknya si Dio itu berasal dari negeri selain Amerika dan Eropa.

Bukan ‘apa’ Lani, tapi ‘siapa’! Diogenes itu manusia. Dia itu… sebetulnya bukan siapa-siapa, justru dari ‘bukan siapa-siapa’ itu dia jadi ‘siapa-siapa’.”

Mengernyitlah aku. Kok berbelit-belit? Repetisi kadang membingungkan, ya.

Kualih pandangan secara bergantian: secangkir cappuccino yang nyaris habis, dia, cangkir, lalu dia. Ulang. Begitulah selama beberapa detik. Kurasa Btari tak terlalu peduli terhadap responsku ini.

Dai-yo-jenis, lafalan yang diucapkannya. Sejenak aku tak pusing tentang penulisan Dai-yo-jenis itu. Aku memikirkan manusia di hadapanku ini. Siapa dia? Mengapa dia tidak seperti perempuan yang kukenal dulu: berpikiran sederhana, kesenangannya adalah senang-senang, spontan, gemar berguyon, dan jarang seserius ini. Dia pasti bukan Tari lagi, Btari Suryani yang bersampingan berbagi meja kayu denganku waktu SMA.

Hampir setahun tak sua, kami janjian di sela liburan semester. Itu tidak akan kusia-siakan. Terlepas dari pro-kontra media sosial, Facebook menyambung silaturahmi kami, tepatnya di grup alumni SMA. “Enggak kangen, nih, sama teman sebangkumu dulu?” Tulisku di wall-nya.

Ia membalas sebulan kemudian. “Maaf ya, Lan, aku jarang buka Fb. Kangen, dong! Reuni yuk?”

Pertemuan baru diwujudkan 2 bulan kemudian. Wah, diukur dari penampilan, Tari kurang-lebih sama dibanding 7 tahun lalu: masih sintal, rambutnya ikal sedikit melewati pundak. Kulitnya agak sawo matang sekarang—dulu kuning langsat. Meski begitu, ada sedikit perbedaan: lingkar hitam di tulang matanya yang berselaput pelangi cokelat. Mungkin karena sering begadang—ia mengaku masih insomnia.

Kami ngobrol sambil ngopi di kedai. Duduk berseberangan di pojok ruangan, kami memesan secangkir latte (dia), cappuccino dingin (aku), dan dua piring cake masing-masing.

Beginilah bagian dari perjumpaan yang tengah langsung selama sejam. Aku, kok, sedikit menyesal telah menyinggung soal reinkarnasi. Aku saja baru tahu istilah itu saat SD dari film-film Cina di teve. Istilah itu terasa keren diucapkan sehingga aku menyukai kata itu tanpa tahu benar-benar apa maknanya. Lalu, iseng saja, kuceletukkan hari ini ke orang yang justru tahu.

“Diogenes itu siapa?” tanyaku ulang.

Tari terlihat termenung. Kuduga dia sedang mencari start. Tak lama dimulailah rentetan riwayat singkat tentang Diogenes dari mulutnya yang kecil:

Dia filsuf Yunani. Aku belajar… Di sinilah titik awal pembelajaranku tentang kebahagiaan. Aku selalu berpikiran, sebagai anak yang dibesarkan dengan segala fasilitas yang ‘mudah dapat-mudah buang’, kebahagiaan berasal dari sesuatu yang besar. Kita bahas itu nanti—

Tidak. Aku tidak mau membahas itu nanti atau sekarang. Namun, setelah mengamati binaran matanya kubiarkan dia melanjutkan,

Diogenes adalah figur Kaum Sinis.”

Kedengarannya satire. ‘Kaum Sinis’…”

Tunggu sampai kamu dengar siapa mereka. Jadi, kaum sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat dalam kelebihan duniawi, seperti kemewahan, kekuasaan politik, atau kesehatan baik1. Nah, Diogenes ini tergolong ekstrem: dia hidup di dalam tong (gentong), cuma bekal selimut dan roti di dalamnya. Kamu tahu apa yang membuatnya bahagia? Matahari.

Ada cerita, Alexander the Great menghampirinya suatu saat. Dia tanya, ‘Adakah yang bisa kubantu?’ Diogenes jawab, ‘Bergeserlah. Kau menghalangi sinar matahariku.’ Matahari, cuma sinar matahari! Dipikir-pikir, beruntung juga si Diogenes ini. Ia hidup di zaman teknologi belum secanggih kini, dan nggak perlu segala yang bersifat materiil untuk merasa bahagia. Coba, apa enaknya hangat matahari?”

Tari berhenti sejenak untuk menyesap sisa kopi di cangkir. “Aku nggak tahu apa dia pernah cicip kopi yang begini nikmat. Bisa nggak ya kopi membahagiakan dia,” katanya tanpa menunggu tanggapanku.

Aku mesem-mesem saja, semacam mati kutu.

Jeda. Keheningan ini langsung kuserobot. “Tari, kamu percaya pada keabadian apa nggak?” dalam hati kutepuk jidatku. Aduh! Kenapa itu yang kutanyakan? Mulut dan hati sungguh tak sinkron. Rasanya seperti dikhianati mulut sendiri.

Tari tampak terperangah. Selanjutnya dia sumringah. “Enggak.” Jawabannya mantap, tapi pandangannya ditundukkan ke area kosong meja hitam ini.

“Aku juga. Tentu kita semua akan mati, kan.”

Ya. Mati, hilang, pudar, layu, gugur, wafat. Yang abstrak sekalipun, kayak kebahagiaan.”

“Kebahagiaan versimu atau versi Diogenes?” tanyaku separuh bercanda.

***

Kami memesan lagi minuman yang sama: latte (dia) dan cappuccino (aku). Kami juga memesan donat berlapis krim keju (aku) dan cake rasa kopi (Tari).

Rupanya kamu fanatik kopi, Tar?”

Tari tertawa. “Dibilang fanatik kesannya ekstrem, ya. Tapi aku emang langsung suka setelah pertama kali coba. Bukan suka rasanya Lan, melainkan esensinya.”

Waduh. Kurasa Tari yang dulu sudah…cuci otak?

Apa omongan-omonganmu tadi mencerminkan esensi kopi?”

Ah,” jawabnya sepotong. Ia terlihat berpikir sejenak. “Efek. Yang jelas, pengertianku tentang kesementaraan muncul sambil minum kopi.”

Aku manggut-manggut. Kopi memang membuka pikiran. Ya ya ya, aku pernah membaca penelitian tentang khasiat kopi di majalah.

“Oya? Bagaimana?”

Mulailah ia ber-flash back. Bentuk bibirnya yang kecil dan bersudut lengkung seperti senyum bergerak-gerak cepat. “Waktu masih kecil, aku merasa kebahagiaan itu mestinya bertahan lama, kalau perlu selama-lamanya. Punya orang tua lengkap, menurutku itu kebahagiaan. Terus, seperti yang kamu tahu, Mami-Papi bercerai.”

Jeda. Kuamati matanya yang sedikit berkaca-kaca, memerah seperti sisa luka yang membuatnya berdarah. Aku sentuh tangannya sebagai tanda simpati.

“Aku terus-terusan mikir, kenapa begini? Apa yang salah dengan kebahagiaan kami? Kesel. Selama beberapa tahun aku marah sama situasi. Sampai Yu Parmi—Yayu Parmi, pembantuku dulu—bikinin aku kopi. ‘Biar Mbak agak segar,’ katanya. Tadinya aku menilai, ‘Ngaco nih si Yayu. Bisa-bisa gue malah susah tidur, tambah kepikiran.’ Soalnya, saat-saat seperti itu aku butuh tidur biar waktu cepat berubah, sampai aku bisa lupain. Akhirnya, ya… enggak rugi juga. Lagi pula, Yayu udah bikinin.

Ternyata Lan, kopi buatan Yu Parmi sedap betul! Lama-lama kesedihanku berhenti. Malah, aku dapat sesuatu dari situ; sore itu, waktu senja berwarna oranye yang tidak lazim. Eh, berlebihan, ya? Tapi bener, Lan. Aku ingat saking anehnya warna senja itu.”

Aku senyam-senyum memperhatikan ekspresi wajahnya, matanya yang mendelik di bagian tertentu. Aku senang mendengar intonasi suaranya yang berayun dan ritmis…. Masih Btari yang dulu.

“Rasanya seperti diingatkan pas senja berubah jadi malam. Setiap hari juga begitu ya, tapi belum pernah seserius itu aku memperhatikan. Waktu aja bergulir terus—statis, tapi ritmis. Dalam sehari terjadi beberapa perubahan. Lepas magrib, lampu-lampu nyala. Tiap saat kita menyaksikan berbagai perubahan, sesederhana itu. Kamu ngerti maksudku?”

Aku terperanjat. Tidak menyangka bakal ditanya seperti itu. Kukeluarkan saja simpulan yang sempat terlintas. “Maksudmu, kebahagiaan itu sementara?”

Tari menggeleng. “Bukan cuma kebahagiaan, melainkan segala-gala yang diciptakan Tuhan. Semuanya imbang. Pada suatu titik, kita bakal mengalami imbas keseimbangan itu. Dari situ, aku mulai melihat kebahagiaan sebagai sesuatu yang fana, seperti kesedihanku yang hilang entah bagaimana.”

Aku diam sejenak untuk menyerap hipotesis Tari. “Apa Kaum Sinis termasuk yang berfilosofi bahwa segala sesuatu itu sementara?”

“Ya. Dari sekian rumusan filsafat yang kubaca, Diogenes ini yang menarik perhatianku. Filosofinya bisa kulihat sehari-hari. Eh bukan berarti aku menguasai filsafat, loh”

Jeda terjadi lagi sementara kami menyeruput minuman masing-masing. Taklama setelah sensasi cappuccino membuatku segar, aku mulai bicara lagi.

“Kamu berubah, Tar. Aku nyaris ngira salah orang,” kataku jujur. Inilah yang dari tadi ingin kukatakan.

Tari tersenyum menganggapi. “Itu wajar, Lani.”

“Terus, seberapa Diogenes kamu? Kamu masih memanfaatkan kemewahan: pakai handphone, punya akun Facebook, minum kopi di kedai…tahu kan berapa harga secangkir ini? Dan kulihat kamu ke sini bawa motor.”

Tari menoleh ke luar jendela besar di sampingnya. Sejenak ia memandangi entah apa di luar. “Seperti yang kubilang, pada suatu titik kita akan mengalami imbas keseimbangan. Segala-galanya bersifat sementara, tidak terkecuali…” sampai sini ia tertawa geli. Aku bisa mengartikan ekspresi itu.

“Ya, tidak terkecuali kamu. ”

“Bagaimanapun, aku nggak begitu aja berubah pikiran. Segala-galanya memang serba sementara, tapi banyak ‘petikan’ dari kesementaraan itu.”

“Setuju.”

Senja kala merekah membasahi kami dalam cahaya keoranyean. Cangkir-cangkir telah kosong, menyisakan lapar yang tak cukup diganjal donat dua potong. Seperti yang Tari bilang, segalanya bersifat sementara. Pertemuan kami di kedai ini pun juga ada baiknya diakhiri, sebelum dompet mulai rata.

1 Dunia Sophie, Jostein Gaarder, 1996: 151. Bandung: Mizan Media Utama.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Percakapan (5 years 27 weeks ago)
80

salam kenal b.heavirain.
saya udah menamatkan dunia sophie tapi filsafat bukan makanan kesukaan saya ternyata, jadi cerita tentang filsuf dl gentong itu justru lebih nempel sewaktu ditayangkan dl bentuk sketsa di acara tv horrible histories. sekadar sharing, waha.
saya mendapati gambaran yang disajikan dl cerpen ini selain dituliskan dg rapi juga konteksnya realistis banget. anak2 muda ngomongin hal2 yang filosofis, antikemapanan, dan semacam itu justru dl kemapanan mereka (atau yang diwariskan oleh orangtua mereka) dg duduk2 di kafe atau semacam itu dan mengudap makanan-minuman yang harganya puluhan ribu. bentuk yang jadinya sering sekali dipakai, saya kira, mungkin karena udah membudaya begitu (atau malah fenomena). jadi yang dikedepankan dl cerita bukan lagi adegan--apa yang tokoh itu lakukan, melainkan apa yang ia cakapkan entah dg batinnya sendiri atau dg orang lain dl ruang publik khas urban seperti itu. ironis sebetulnya. sekaligus miris. karena kita cenderung sibuk dg pikiran2 ketimbang mengalami sendiri, melakukan langsung. no action think only, mungkin istilahnya begitu. padahal pikiran tak akan berarti tanpa tindakan, bukan begitu? cmiiw.
disinggung pula soal orangtua Btari yang bercerai. ini mungkin bisa dihubung2kan dg apa yang dibicarakannya. tapi saya ga hendak membahas sejauh itu hehe.
ramaikan Kemudian lagi yuuk...

Writer b.heavirain
b.heavirain at Percakapan (5 years 26 weeks ago)

salam kenal, d.a.y.e.u.h.. terima kasih sudah mampir dan baca cerpen ini.
awalnya, pembahasan utama dlm cerpen ini adalah kesementaraan, tentang kebahagiaan yg bersifat sementara dan luas cakupannya. seinget saya sih, idenya dari buku Dunia Sophie makanya bawa2 referensi ke situ.
saya setuju kalo "pikiran tak akan berarti tanpa tindakan", dan di cerpen ini saya coba ceritakan perubahan pola pikir si Btari dlm hal filosofis. itu aja sebenernya garis besar Percakapan ini. tapi, kamu menganalisis cerpen saya seperti pembaca aktif yg nangkep fenomena lain, yg tadinya nggak terpikirkan oleh saya... hahaha.