Orange Monster - Hype

Kita sebut saja dia Orange Monster.

Kenapa Orange Monster? Karena cinta pertamaku adalah model iklan arloji Orange Monster keluaran Seiko yang kulihat di TV kabel hotel waktu liburan. Tampangnya oke, umurnya kelihatannya tidak jauh lebih tua dariku waktu itu, tapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Waktu itu aku masih kelas 1 SMA.

Di iklan itu, dia bernyanyi. Aku tidak bisa melupakan suaranya. Aku hanya melihat iklan itu sekali, tapi suaranya terus bernyanyi di kepalaku lagi, lagi, dan lagi.

Tak pernah sekalipun aku mengira aku akan ketemu cowok Orange Monster itu di dunia nyata. Pertama, dia artis. Berapa sih kemungkinan orang kampung sepertiku bisa ketemu artis? Seorang gadis biasa bertemu dengan artis idolanya dan menjalin hubungan romantis hanya terjadi di sinetron. Kedua, aku yakin sekali dia bukan orang Indonesia. Kukira pasti dia artis Malaysia atau Singapura, soalnya aku melihat iklannya di stasiun TV entah apa bagian Asia Tenggara. Waktu itu di kampung halamanku internet belum populer, jadi aku tidak terpikir untuk browsing tentangnya. Aku juga tidak pernah melihat wajahnya di majalah-majalah.

Sekarang, aku baru mulai kuliah. Ada seorang cowok yang mukanya persis si model Orange Monster. Suaranya pun sama. Dan kemungkinan dia dan si model adalah orang yang sama mencapai 90 persen karena dia memakai arloji yang diiklankan itu, Orange Monster keluaran Seiko.

Aku melihatnya di bazaar Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus. Dia daftar di unit buat peminat musik. Aku spontan ikutan daftar, padahal aku tidak bisa main alat musik apapun. Lagu pun aku hanya tahu lagu-lagu mainstream di radio.

Aku sempat menyesali kebodohanku, tapi semua penyesalan hilang ketika aku berkenalan dengan cowok itu.

Heh, kau kira aku akan menyebutkan namanya di sini. Tentu saja tidak. Apa yang terjadi kalau orang yang kukenal membacanya dan tahu kalau cerpen ini sebenarnya adalah curhat colongan?

Pokoknya kami berteman. Tidak bisa dibilang teman akrab, tapi aku cukup pede untuk bilang dia temanku. Indikatornya gampang, kalau melihatku, dia menyapaku duluan. Kadang aku merekomendasikan lagu yang kupikir dia akan suka, dia juga kadang melakukan hal yang sama. Bukan berarti selera kami sama. Sebagian lagu favoritku bukan tipenya, tapi aku mengikuti semua lagu yang dia suka. Tentu saja dia mengira itu hanya kebetulan.

Tidak ada yang mengenali Orange Monster sebagai cowok yang menyanyi di iklan arloji Orange Monser (kedengarannya aneh, tapi peduli amat). Aku juga tidak menanyakan soal iklan itu padanya. Aku memilih percaya saja bahwa dia memang cowok di iklan itu, cinta pertamaku. Kalau kutanyakan padanya dan dia bilang bukan, mungkin aku akan agak patah hati. Atau tidak. Itu tidak penting. Ada hal lain yang lebih mengganjal tentangnya, sesuatu yang lebih penting daripada memastikan apakah dia benar-benar model arloji Orange Monster atau bukan.

Di unit kami, setelah menjadi anggota, biasanya kami akan dibagi ke kelompok-kelompok berdasarkan bagian musik yang diminati atau ingin dipelajari. Lalu orang-orang dari masing-masing bagian akan mulai membentuk band-band yang akan tampil di macam-macam acara atau sekedar merekam permainan mereka untuk diunggah di youtube atau soundcloud. Lalu ada juga orang-orang yang bergabung bukan untuk main musik. Mereka hanya menyukai musik (atau seperti kasusku, menyukai orang yang menyukai musik) dan tidak bergabung dalam kelompok apapun. Orang-orang seperti ini hanya menikmati musik, bersenang-senang, dan menjadi panitia kalau ada acara sementara band-band yang ada fokus berlatih untuk tampil.

Dia sering tampil sebagai vokalis sepanjang semester pertama. Tapi begitu masuk semester kedua, dia bergabung dalam ‘kelompok’-ku, kelompok orang-orang yang sebenarnya terlalu malas untuk melakukan apapun.

“Lo kok gak pernah nyanyi lagi?” tanyaku pada si Orange Monster suatu hari.

Aku sama sekali tidak menduga jawaban yang keluar dari mulutnya dengan suara yang paling kusukai sedunia.

“Lo sendiri ga coba belajar alat musik? Perasan dulu gue pernah liat lo nyobain keyboard.

“I-itu kan cuma asal pencet doang…” aku tidak tahu bagaimana harus merespon. Memang kadang aku iseng-iseng memainkan keyboard di sekre, tapi aku hanya menekan tuts sembarangan, bukan benar-benar main musik. Aku pernah diajari dasar piano, dulu sekali, oleh sepupuku di Jakarta. Tapi ya, hanya sebatas dasar.

“Bacot lo. Masih mending daripada gue, ga bisa main instrumen sama sekali,” katanya lagi.

“Tapi lo kan bisa nyanyi… bagus lagi. Gue asal pencet juga tetep gak bisa buat main musik kan,” balasku.

“Ya, semua orang juga bisa nyanyi kali.”

Aku terdiam. Aku tidak bisa menyangkal pernyataannya yang satu itu. Dengan teknik yang benar, semua orang bisa bernyanyi dengan bagus—tidak semua sih, tapi dengan musik yang benar-benar keren, selama teknik vokalnya tidak parah, suara yang agak cempreng pun bisa dimaklumi. Ditambah lagi memang ada banyak sekali vokalis lain di unit kami. Dari yang benar-benar cempreng sampai yang merdu membahana seperti penyanyi-penyanyi negro.

Suara si Orange Monster tetap nomor satu buatku, tentu saja. Tidak ada yang setuju denganku.

Melihatku terdiam, dia bertanya lagi. Setiap kali dia mengajakku bicara duluan, rasanya aku ingin melompat kegirangan. Untungnya aku bisa menahan diri.

“Lo gak pernah kepikiran pengen bisa bener-bener mainin satu lagu?”

“Pengen sih pengen… Tapi kalo skill ga ada ya mau gimana,” jawabku, “Palingan yang gue agak bisa main keyboard doang. Kalo main sendiri, terlalu susah. Kalo main di band, ya kali ada yang tahan sama keyboardist abal-abal kayak gue, haha…”

“Ya belajarlah, Lis. Kalo lo latihan terus kan gak mungkin jadi abal-abal selamanya. Kalo gak dilatih itu…”

“Lo juga, kalo gak nyanyi-nyanyi lagi itu suara karatan baru tahu rasa,” jawabku asal.

Si Orange Monster tertawa. SIalan. Bahkan suara tawanya pun merdu.

***

Dia bernyanyi lagi.

Tiga minggu setelah obrolan random itu, Orange Monster-ku kembali menjadi vokalis untuk sebuah acara internal.

Air mataku keluar.

Tentu saja, tidak ada yang tahu. TIdak ada yang memperhatikan. Ini pasti karena sudah sangat lama sejak terakhir aku mendengarnya benar-benar bernyanyi. Ketika dia tiba-tiba naik ke panggung, aku menjerit tanpa suara. Ketika suaranya mulai terdengar bersama musik akustik yang lembut, aku mulai sesak napas.

Indah. Benar-benar indah.

Dan mungkin ini ada hubungannya dengan percakapan waktu itu, tapi aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ralat, mungkin aku pernah merasakannya, tapi aku memutuskan untuk menghiraukannya. Lalu percakapan itu terjadi dan aku tidak bisa menghiraukannya lagi.

Aku ingin berada di atas panggung yang sama dengannya, mengiringi suara malaikat sialan yang membuat hatiku jungkir balik.

Bodoh memang. Main biasa saja jariku sudah kaku-kaku. Bagaimana kalau jariku lupa bergerak karena perhatianku tersedot olehnya?

Lalu aku mengomeli diriku. Aku bahkan belum bisa main dengan becus, bisa-bisanya berkhayal sepanggung dengan si Orange Monster.

Tapi aku benar-benar ingin sepanggung dengannya.

Aku membayangkan diriku berdiri di atas panggung, mataku menatap punggungnya yang sesekali berayun. Lagu yang kami mainkan adalah lagu yang ia nyanyikan di iklan Orange Monster yang kulihat empat tahun lalu, lagu yang mungkin sebelumnya hanya kami berdua yang tahu.

Lalu setiap nada yang kumainkan membentuk harmoni dengan suaranya yang seperti malaikat, dan dari nada-nada itu dia akan tahu betapa dia membuatku tergila-gila—aku tidak berani mengatakan itu padanya langsung. Kuakui, aku pengecut—dan setelah permainan usai, dia akan tersenyum padaku. Lalu dia akan mengatakan kata-kata yang paling ingin kudengar dengan suara paling indah sedunia.

“Gue juga suka sama lo.”

Kuakui, belakangan ini aku terlalu banyak nonton komedi romantis.

Tapi cinta bisa membuat siapapun bertindak bodoh dan nekad. Buktinya setelah dia turun dari panggung, aku menghampirinya—tidak, aku tidak melompat dan memeluknya—dan bertanya.

“Kalo gue udah bisa main keyboard, lo mau nyanyi gak?”

Orange Monster-ku tersenyum dan menjawab dengan nyanyian.

“I’ve got the time and nothing to lose.”

***

Kata orang, semua hal bisa selesai dengan tekad dan kerja keras. Aku belum bisa menyangkal pernyataan itu, tapi yang pasti tekad dan kerja keras tidak membuat semua hal menjadi lebih mudah. Buktinya setelah satu bulan, jangankan menemukan anggota band lain untuk memainkan lagu iklan Orange Monster, aku sendiri belum bisa memainkan bagian keyboard-nya dengan benar. Waktuku untuk mengulik lagunya sangat terbatas, terhalan oleh kuliah dan tugas-tugas. DItambah lagi aku hanya bisa melakukannya di kampus yang ramai dan penuh orang, membuatku sulit konsentrasi.

Aku menghela napas. Si Orange Monster bahkan mungkin sudah tidak ingat dengan ajakan bodohku. Tapi aku tidak bisa menyerah. Bahkan pengecut sepertiku tidak rela melewatkan kesempatan satu-satunya seumur hidupku untuk (mungkin) menyampaikan perasaanku.

“Lo kok gak bilang-bilang pernah jadi artis sih?” kata seseorang, suatu hari.

“Hah, apaan?” yang menjawab adalah si Orange Monster.

“Lo pernah nongol di iklan kan? Iklan arloji, kalo gak salah.”

“Cuma sekali itu doang, udah lama. Basi!”

Aku terdiam di depan keyboard. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis.

Mungkin aku terlalu senang. Terkaanku yang selama ini tak berani kukatakan pada siapapun ternyata benar. Tapi lebih dari itu, kurasa aku hanya kesal. Aku bukan lagi satu-satunya orang yang pernah melihat iklan Orange Monster itu. Kadang aku membayangkan diriku menyatakan perasaanku padanya setelah kami tampil sepanggung, lalu aku akan memberitahunya bahwa aku sudah ‘melihat’ dirinya sejak ia tampil di iklan Orange Monter tiga tahun yang lalu.

Selama ini aku bisa menipu diriku sendiri, berpura-pura penampilannya di iklan itu hanya milikku, tapi sekarang semua orang sudah tahu.

“Mau gak bawain lagu yang di iklan itu di Final Arloji? Masih tiga bulan lagi. Lagunya enak juga, dan kayaknya gampang.”

“Tiga bulan, ya? Gampang sih.”

Rasanya seperti disambar petir. Kupikir aku akan bisa jadi orang pertama yang memainkan lagu iklan itu dengan Orange Monster-ku. Kali ini aku benar-benar tidak tahan. Aku keluar dan menuju toilet terdekat. Kalau ketahuan menangis dan ditanyai kenapa, aku tidak tahu harus menjawab apa.

Kekanak-kanakan memang. Aku tahu itu. Tapi tetap saja…

“AAAGH!”

Aku tidak mengerti lagi dengan diriku sendiri. Menangis karena hal semacam ini benar-benar bodoh. Toh dia tidak pernah menjanjikan apapun. Dia bahkan tidak tahu aku tahu tentang iklan itu. Yang lebih sakit lagi, bisa-bisanya aku dibuat menangis oleh fantasiku sendiri.

H y p e  :  A  D e c e p t I o n  o r  H o a x

Ahaha.

Haha.

Ha.

***

Aku berani bilang kalau aku sudah pulih. Aku sudah bisa menerima bahwa hari bukan aku yang akan berada di atas panggung, mengiringi suara Orange Monster-ku yang menyanyikan lagu yang pertama kali membawanya ke hidupku. Aku juga sudah bisa menerima bahwa hubungan kami hampir pasti tidak akan pernah berubah, teman seunit yang tidak terlalu akrab dan kadang menyukai tipe musik yang sama.

Aku tahu aku harus mencoba mengendalikan obsesiku pada si Orange Monster. Aku mencoba untuk tidak terlalu sering ikut kegiatan unit lagi. Sesekali aku mendengar kabar tentangnya dari teman seunit yang satu jurusan denganku. Sepertinya dia lebih sering tampil sekarang, kadang di acara himpunan jurusan, kadang di kafe-kafe dekat kampus. Banyak yang bilang akhir-akhir ini penampilannya tidak sebagus biasanya, tapi ketika aku datang ke beberapa pertunjukannya, aku tidak bisa menyadari perbedaannya. Aku tetap luluh dan terbengong-bengong di depan panggung seperti orang gila. Sekali lagi, kalau tentang dia, pendapatku tidak bisa diandalkan. Ditambah lagi, terakhir kali aku mendengarnya bernyanyi itu sudah sebulan yang lalu. Apapun bisa terjadi dalam sebulan.

Tapi aku mencoba untuk tidak terlalu terobsesi padanya. Sungguh. Aku bahkan sudah berhenti mencoba memainkan lagu iklan Orange Monster. sudah tiga bulan aku sama sekali tidak menyentuh keyboard.

Hari ini adalah hari itu, acara tahunan unit kami sekaligus yang terbesar setiap tahunnya. Untuk pertama kali setelah iklan arloji Orange Monster yang kulihat saat kelas 1 SMA, dia akan menampilkan lagu itu di depan umum.

Aku tidak akan datang. Suara Orange Monter-ku itu seperti narkotik buatku. Sudah susah payah aku sembuh dari sakaw, bagaimana kalau aku jadi kecanduan lagi?

H Y P E  is what I feel when I think of you

Meski kubilang aku sudah ‘sembuh’, suaranya masih muncul di kepalaku sesekali. Akhir-akhir ini makin sering, mungkin karena hari ini adalah penampilan terbesarnya.

Heartbeat runs faster

Breathing becomes shorter

And joy from who-knows-where overflows the chest

Kalau dipikir-pikir, mungkin cinta itu sebenarnya sekedar menipu diri sendiri. Ada sesuatu yang menarik, lalu kita melebih-lebihkan hal itu seolah itu adalah sesuatu yang sangat hebat. Kita jadi terobsesi ketika sesuatu itu dekat, menjadi bahan pembicaraan, atau hanya muncul sepintas dari pikiran kita. Kita menipu diri sendiri dan membuat pikiran itu tidak pernah pergi. Hype. Alasan bawah sadar kita melakukan hal itu hanyalah efek reaksi kimia dalam otak yang menimbulkan perasaan yang menyenangkan.

Semua hal yang menyenangkan harus dibayar dengan sesuatu, seperti yang kualami misalnya.

Dear God, I can hear his voice everywhere

Pukul 20.15, si cowok Orange Monster masih menyanyi dengan suara imajiner di kepalaku. Aku masih di kampus mengerjakan tugas studio. Kalau aku ingin mendengar suaranya langsung, aku tinggal jalan kaki saja. Tempat acaranya persis di seberang kampus. Kata temanku, gilirannya masih sejam lagi. Masih ada banyak waktu.

Tapi aku tidak akan datang. Aku harus meralat pernyataanku, bahwa aku sudah ‘sembuh’ dari kecanduanku padanya. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau aku melihatnya dan mendengar nyanyiannya lagi setelah sekian lama. Apalagi hari ini lagunya adalah lagu iklan Orange Monster sialan itu, yang selama empat tahun hanya bisa kudengar dengan mengandalkan ingatan dan perasaan. Mungkin aku akan pingsan di tempat. Atau aku akan melaukan sesuatu yang bodoh.

What if I chase you away with all this emotion?

Ya, aku belum ‘sembuh’. Tapi setidaknya aku sudah dalam proses penyembuhan. Satu pertunjukan ini bisa menghancurkan usahaku selama tiga bulan. Aku tidak mau memulai dari nol lagi.

Pukul 21.20, aku berlari sekencang-kencangnya dari studio ke gerbang kampus sambil mengutuk jarak gerbang dengan gedung studio.

Adrenaline rushes

I begin to feel restless

It kind of hurt wishing you were here

Aku benar-benar merasa seperti pecundang. Pada akhirnya aku menyerah kalah. Aku tidak tahan lagi. Selama tiga bulan in, memikirkannya saja membuat dadaku terasa sesak. Ralat, empat tahun, bukan tiga bulan. Dan berapa kali sehari dia muncul di pikiranku? Suaranya, wajahnya, bahkan melihat arloji dijual di kaki lima pun membuatku teringat padanya.

Aku menyerah.

Dan aku berdoa, semoga aku belum terlambat untuk mendengar nyanyiannya malam ini. Aku juga berdoa semoga aku tidak kehilangan kesempatan mendengar nyanyiannya lagi setelah ini.

I should tell you about this complication

But fear wins over my determination

Kali ini aku akan jujur padanya. Aku akan bilang terang-terangan aku menyukainya. Bukan hanya penampilannya di atas panggung, bukan hanya obrolan-obrolan menyenangkan ketika kami bertemu, bukan hanya nyanyiannya di iklan arloji Orange Monster keluaran Seiko. Tapi dirinya. Seutuhnya.

Napasku nyaris putus ketika sampai di gedung pertunjukan. Suaranya terdengar sampai ke deretan belakang. Begitu mendengar lagu yang begitu kurindukan, air mataku keluar.

Suaranya terdengar goyah, tidak seperti biasanya. Aku merasakan keraguan dan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Tapi aku tidak peduli. Suara itu tetap suara paling indah yang pernah kudengar.

Aku berusaha melewati kerumunan hingga bisa berdiri di depan panggung, tempat suaranya bisa terdengar paling jelas. Tatapanku hanya tertuju ke arahnya, seluruh keberadaanku malam itu ada hanya untuk Orange Monster-ku.

Aku hampir yakin dia melihatku juga. Aku sudah tidak tahu wajahku sehancur apa. Aku tidak peduli.

Suaranya terdengar makin lama makin bulat. Refrain terakhir, nada-nada yang ia nyanyikan makin tinggi dan mantap. Aku tenggelam dalam perasaan yang tak bisa lagi kujelaskan dengan kata-kata.

I can’t get rid of this hype whenever he is near.

Lalu penampilannya pun usai. Aku tidak bisa tidak merasa kecewa. Aku tertawa kecil. Memangnya apa yang kuharapkan? Dia terus menyanyi di situ sampai aku mati? Seluruh personil band sudah meninggalkan panggung, termasuk cowok Orange Monster-ku. Aku masih berdiri diam di depan panggung, menikmati sisa-sisa euforia di sekujur tubuhku.

Sesaat kemudian, aku memutuskan sudah saatnya aku kembali. Baru saja aku keluar dari kerumunan pengunjung dan menuju pintu keluar, aku mendengar suaranya lagi. Kali ini, suara itu memanggilku. Dua bulan… Sudah dua bulan aku tidak mendengar suaranya sebelum hari ini. Sepertinya halusinasiku makin menjadi-jadi.

Dear God, I can hear his voice everywhere

But never once it says the words I long to hear

Aku mendengarnya memanggilku lagi. Meski masih tidak percaya itu sungguhan, aku tetap menoleh ke belakang.

Dia benar-benar sedang menghampiriku, Orange Monster-ku.

“H-hei, great performance,” kataku sambil menahan napas. SIal. Sedetik sebelumnya aku masih bisa membayangkan nyanyiannya tadi. Sekarang bunyi detak jantungku sendiri menenggelamkan semua suara yang kubuat-buat di kepalaku.

“Eh, thanks. Udah lama gak liat lo,” jawabnya.

Aku tidak mengerti, dia baru saja selesai tampil. Kenapa dia malah mendatangiku seperti ini? Ah, mungkin dia mencari orang lain, atau ingin keluar gedung mencari udara segar. Kebetulan saja di melihatku.

Lalu ingat janjiku ketika berlari dari studio ke tempat ini.

Aku akan bilang padanya aku menyukainya. Mungkin dia akan membenciku setelah ini. Atau setidaknya, dia akan menghindarku. Tidak masalah. Selama dia masih tampil dan bernyanyi di tempat umum, aku masih bisa melihatnya.

Tanpa kuduga, ini lebih mudah dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku sudah membayangkan skenario ini ribuan kali. Aku sepanggung dengannya membawakan lagu iklan Orange Monster, lalu setelahnya aku menyatakan perasaanku, lalu semuanya berakhir bahagia. Di dunia nyata, harus ada banyak penyesuaian. Aku tidak sepanggung dengannya dan ini tidak akan berakhir bahagia. Tidak masalah…

Tidak masalah. Aku tidak apa-apa. Sungguh. Ini sisa air mata tadi yang keluar gara-gara mendengar nyanyiannya setelah sekian lama.

Aku menyeka mataku dan memasang senyuman selebar mungkin. Aku juga mengeraskan suaraku agar tidak tenggelam karena ingar-bingar musik dan penonton. Sudah terlalu banyak adegan pernyataan cinta yang gagal karena kebisingan di waktu yang tidak tepat.

“Gue suka sama lo.”

Orange Monster-ku terkejut. Persis seperti yang kubayangkan. Setelah dari sini, semuanya berjalan di luar skenario. Aku hanya menyiapkan naskah happy ending, tapi toh kenyataan tidak seindah itu.

“G-gue…” dia terbata-bata.

Betapapun aku mengingatkan diriku untuk menerima apapun reaksinya, aku tetap panik juga.

“Gue cuma pengen ngasih tahu lo aja kok, gue pulang dulu ya. Daah!”

Aku cepat-cepat berbalik pergi sebelum aku mulai membebaninya dengan memberitahu sudah berapa lama aku menyukainya dan seberapa parah obsesiku padanya.

Tanpa kuduga-duga, sebuah tangan menahanku. Tangan itu memakai arloji Orange Monster.

Aku berbalik dan mencoba terlihat tenang dan tidak berada dalam keadaan emosi yang terguncang.

“Kenapa?” tanyaku. SIalan. Suaraku sudah tidak bisa dibedakan dengan isak tangis. Kapan aku bisa berhenti jadi pecundang cengeng seperti ini?

“Gue juga suka sama lo.”

Apa?

“Gue… gak tahu kenapa… Tapi setiap kali gue di atas panggung, gue selalu bisa liat lo di depan. TIap kali gue ngerasa gak pede, gue selalu liat elo. Habis itu gue pasti bisa nyanyi lebih bagus…”

Aku tidak bisa menjawab. Ini tidak ada di skenarioku. Aku sudah sering membayangkan Orange Monster-ku membalas perasaanku. Dia bilang padaku dia menyukaiku, lalu kami jadian, selesai sampai di situ. Aku tidak pernah bisa membayangkan dia mengatakan ini semua…

“Waktu lo bilang mau belajar keyboard dan main bareng gue, gue jadi semangat. Apalagi ngeliat lo latihan tiap kali di sekre. Terus tiba-tiba lo jarang kelihatan. Tahu-tahu waktu gue manggung dan ngeliat ke bawah, lo nggak ada. Gue bingung…”

Cukup. Aku tidak sanggup lagi. Suara itu, suara favoritku sedunia, baru saja mengatakan hal-hal yang bahkan tidak berani kubayangkan. Dan dia mengatakannya padaku, dengan tangannya memegang pergelangan tanganku.

Sentuhannya. Kata-katanya. Rasanya hangat.

“Gue kehilangan. Tapi gue masih berharap lo bakal dateng. Kalo gue terus nyanyi, minimal sampe hari ini…”

Napasku tertahan. Jantungku mungkin sebentar lagi akan meledak.

“Kalo lo gak dateng hari ini, gue udah gak mau nyanyi lagi. Tapi lo dateng…”

“Lo… beneran suka sama gue?” aku masih syok. Aku punya hak untuk terdengar bodoh.

Dia menjawab ‘iya’, dengan suara paling indah sedunia.

***

Sulit dipercaya memang. Seorang gadis yang biasa-biasa saja akhirnya pacaran dengan model iklan arloji di stasiun TV internasional yang hanya dia lihat sekali di TV kabel hotel waktu kelas 1 SMA. Mungkin bahkan sinetron tidak se-random itu. Biasanya minimal artisnya adalah artis terkenal yang digandrungi semua orang.

Aku tidak tahu yang mana yang lebih realistis, ceritaku atau cerita sinetron.

Buatku cinta masih tidak jauh beda dengan tipuan yang dilakukan pada diri sendiri, melebih-lebihkan sesuatu yang menarik untuk menimbulkan euforia untuk memenuhi hasrat tubuh manusia yang ketagihan endorfin. Tapi kurasa itu bukan hal buruk. Apalagi kalau objeknya merasakan hal yang sama. Penderitaannya sebanding dengan kebahagiaan yang didapat.

“Orange Monster, go!” aku mendengar stage manager memanggil.

Aku dan personil band lain keluar dari backstage dan menuju posisi masing-masing. Dia keluar belakangan dan mampir ke tempatku di belakang keyboard.

Dia mengusap kepalaku, cowok Orange Monster-ku, dan memberiku senyuman yang selalu sukses membuatku sport jantung. Lalu dia menuju posisinya sendiri di belakang mic stand dan menyapa penonton.

Aku mulai memainkan nada pertama. Musik mulai membahana, disusul oleh suara favoritku sedunia.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azura_caelestis
azura_caelestis at Orange Monster - Hype (5 years 2 weeks ago)
90

Duh, saya terobsesi dengan gaya penulisannya. Keren banget. Kayak tipe chicklit yang di-Indonesia-kan. Ada hype-nya, ada sedihnya, ada juga konyolnya. Di narasinya yang menggunakan gaya bahasa yang sederhana, Riesling ini berhasil mengguncang emosi saya.

Sudah lama rasanya saya gak terpaku membaca sesuatu di internet. Dan saya seneng bisa menemukan fiksi macam ini.

Kalau dari sisi ide, lagi-lagi terasa klise, tapi bukan klise-nya yang pengin saya rendahkan, tapi gimana cara mengemasnya yang menarik. Dari sebuah gaya bahasa yang santai tapi formal, narasinya terasa mengalir banget. Terus saya juga suka dengan dialognya, walau awalnya saya berpikir sepertinya ini akan menjurus kepada tulisan yang semi terjemahan, tapi nyatanya, dialog yang dipakainya sangat gaul. Hibrida yang oke deh.

Tetap menulis :)

Writer odasekar95
odasekar95 at Orange Monster - Hype (5 years 32 weeks ago)
80

mau nangis terharu...

"eorang gadis yang biasa-biasa saja akhirnya pacaran dengan model iklan arloji di stasiun TV internasional yang hanya dia lihat sekali di TV kabel hotel waktu kelas 1 SMA. Mungkin bahkan sinetron tidak se-random itu. Biasanya minimal artisnya adalah artis terkenal yang digandrungi semua orang.

Aku tidak tahu yang mana yang lebih realistis, ceritaku atau cerita sinetron."

suka bagian itu banget.... hidup sekali karakter ceweknya.. padat tapi asyik dibaca.... keren!

Writer citapraaa
citapraaa at Orange Monster - Hype (5 years 36 weeks ago)
90

bagus... ~~

Writer smith61
smith61 at Orange Monster - Hype (5 years 36 weeks ago)
80

Betul sekali jika orang membaca ini kemudian menyebutnya segar.

Cerita ini mengalir begitu alami. Dari latar masalah, konflik, upaya, dan revelation-revelationnya berurutan. Tertebak, namun tetap baru. Urutan kombinasi pengulangan dan kebaruan yang pas.

Namun di sini harus diperhatikan.

Menulis sebuah cerita adalah sebuah kegiatan problem making & problem solving.

Semakin sederhana problemnya, maka untuk menghibur pembaca, eksekusi problem solvingnya mungkin harus semakin elegan dan indah. Sementara untuk problem yang rumit, bisa selesai saja mungkin sudah cukup.

Dalam cerita ini, awalnya ditawarkan dua problem, satu, problem si aku untuk mengutarakan perasaannya, dan dua, problem penerimaan.

Namun ternyata problem yang harus diselesaikan hanyalah problem pertama, sehingga problem kedua jadi hilang. Sementara problem solvingnya hanyalah tinggal mengeksekusi permainan emosi.

Permainan emosi itu gimana ya, universal, tapi juga unik. Setiap orang bisa digerakkan dengan emosi. Tapi porsi emosi, arah emosi, bumbu emosi, racikannya bisa membuat beberapa muak, bisa membuat beberapa puas.

Selain tulisan-tulisan bahasa inggris semacam lirik yang mengganggu racikan emosinya itu, saya sudah cukup puas.

Terima kasih.

Writer Anggun_Ji
Anggun_Ji at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)

Bagus ceritanya.. :)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)
80

Aaaaaaaah~~~
Udah lama gak baca cerpen kayak gini~ <3
Bikin fresh!!! <333
*edit*
Kelupaan nilai :v

Writer 145
145 at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)
80

Sampai setelah pertengahan menjelang akhir saya sempat berharap bloody ending lho :D

Kalo full romance, sama seperti komentar di atas, saia juga gak seberapa doyan sebenarnya~

Writer Riesling
Riesling at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)

ke-kenapa berdarah...
makasih sudah mampir xD

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)
70

ga doyan tema ini sebenulnya, formula yang udah sering banget dipakai komedi romantis laris: cewek biasa2 aja sama bukan-cowok-biasa. tapi selalu aja dibikin lagi dan lagi karena konsumennya pun ada terus. dan sialnya saya juga udah terlanjur baca, sampai akhir, tanpa hambatan dr segi penulisan, dan sempat dibikin penasaran. berasa wishful thinking ih T_T
oot: mongomong soal orange monster jadi inget monster jeruk yang di cerpennya duniamimpigie baru2 ini...

Writer Riesling
Riesling at Orange Monster - Hype (5 years 37 weeks ago)

You have been trapped :p. Makasih udah mampir~
Temanya memang janjian kok.