Kudeta

Belum pernah sekalipun terjadi sebelumnya, dalam abad-abad yang panjang, di wilayah Orgendoon, seorang raja yang dipilih oleh rakyatnya sendiri.
 
Tapi itulah yang terjadi dua tahun yang lalu, di Kerajaan Armia, di utara: Ketika hampir seluruh rakyat yang mungkin sudah muak dengan tirani sang Raja, seolah-olah dikomando oleh sebuah kekuasaan besar yang berada di luar nalar manusia, bersama-sama keluar dari rumah-rumah mereka, pria dan wanita, tua dan muda, membawa senjata seadanya; berbondong-bondong menyerbu istana dan benteng-benteng para bangsawan.
 
Kejadiannya begitu cepat.
 
Para Ksatria yang sama sekali tak menduga hal itu akan terjadi sama sekali tak mampu berbuat banyak. Para prajurit pun sebagian besar enggan bergerak. Bagaimana tidak, di antara massa yang menyerang, ada ayah dan ibu mereka, ada saudara dan kekasih mereka, ada kawan dan tetangga mereka. Maka tak sampai tiga hari berselang, tak seorang pun dari keluarga istana atau pun para bangsawan yang secara terbuka berani mempertahankan status mereka.
 
Hujan pun akhirnya turun.
 
Ketika api yang menyela mulai padam, orang-orang yang tadinya murka sama berdiri dalam keheningan lalu dengan mashygul memandang ke arah puing-puing istana, ke arah tahta yang kosong dan mahkota yang berlumuran darah.
 
Memang benar para bangsawanlah yang tinggal di sana; Memang benar bahwa sang rajalah yang duduk di tahta agung itu dan mengenakan mahkota nan mewah tersebut, tapi toh belum hilang dari ingatan mereka: bahwa nenek moyang merekalah yang membangun istana tersebut, bahwa leluhur merekalah yang mengukir tahta itu, bahwa Armia sang pembebaslah yang menempa sendiri mahkota kebesaran kerajaan mereka. 
 
Maka sadarlah mereka, bahwa sebuah negeri selalu membutuhkan penguasa.
 
"Tapi siapa?"
 
"Para bangsawan?"
 
"Para ksatria?"
 
"Golongan rakyat jelata?"
 
"Tidak! Tidak! Tidak!"
 
"Itu semua bukanlah hal yang penting. Yang kami butuhkan adalah orang seperti Armia."
 
"Yang memiliki kehormatan dan kecerdasan bagaikan para bangsawan, meski mungkin ia bukan seorang bangsawan"
 
"Yang memiliki kekuatan dan ketegasan bagaikan para ksatria, meski mungkin ia bukan seorang ksatria"
 
"Yang memiliki kesederhanaan dan kerendahan hati rakyat jelata, tak peduli meski ia terlahir di keluarga bangsawan ataupun ksatria."
 
"Tapi siapa? Adakah orang seperti itu?"
 
Hening lagi.
 
"Bagaimana... bagaimana... kalau Tuan Mizar sang Tabib?"
 
Entah siapa yang mengatakan itu. Tapi seketika itu pula senyuman muncul di wajah mereka yang mendengarnya.
 
Tuan Mizar sang tabib istana.
 
"Tentu saja! Tentu saja!"
 
Mizar yang baik, yang selalu meluangkan waktunya untuk menolong siapapun yang membutuhkan.
 
Mizar yang berani, yang tanpa ragu melayangkan tinjunya pada ksatria kerajaan yang berusaha mencegah seorang wanita tua untuk datang berobat padanya,
 
Mizar yang cerdas, yang keahliannya membuatnya disegani bahkan oleh bangsawan kerajaan sekalipun.
 
Dan bahkan saat ini pun, saat yang lain sama sibuk dengan diri mereka sendiri, sang tabib, tanpa lelah, dengan sedikit menggerutu, berlari dari satu tempat ke tempat yang lain berusaha menenangkan massa yang masih kalut sambil mengamankan siapapun yang terluka dan membutuhkan pengobatan. 
 
Ia baru berdiri kebingungan, saat gerombolan massa tersenyum mengepungnya, lalu, mengabaikan protesnya, mengangkat dan membawanya ke depan tahta kerajaan, sambil menyanyikan syair kebebasan dan keadilan yang dahulu digubah Armia pada hari ia mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang Raja.
 
Tak seorang pun yang menyaksikan yang akan lupa bagaimana Miraz menangis gemetar saat mahkota itu diletakkan di atas kepalanya.
 
Maka setelah hari itu, dimulailah kembali masa-masa keemasan kerajaan Armia yang sebelumnya hampir terlupakan, dan seluruh rakyat pun hidup dalam damai dan bahagia untuk selama-lamanya.
 
...
 
...
 
...
 
...
 
...
 
...
 
...
 
Atau begitulah yang mereka harapkan pada mulanya, melupakan kenyataan bahwa Armia bukanlah satu-satunya kerajaan yang ada di wilayah Orgendoon.
 
Karena kejadian semacam itu sama sekali tak bisa dibiarkan.
 
"Seorang Raja yang dipilih rakyatnya sendiri."
 
"Sungguh-sungguh memalukan."
 
"Tapi tentu kita tak bisa gegabah dalam bertindak. Konfrontasi terbuka sama sekali bukanlah pilihan yang bijak."
 
"Tentu saja Yang Mulia. Karena itu lah kita semua berkumpul di sini; Untuk kepentingan yang lebih tinggi, sejenak melupakan segala perbedaan dan permusuhan yang ada di antara kita, baik nyata maupun khayal."
 
"Tak perlu basa-basi. Yang kita butuhkan adalah rencana."
 
"Tapi kita memang punya rencana. Rencana yang cukup mahal jika boleh ditambahkan."
 
"Dan tentu saja itu bukan masalah. Tak ada yang terlalu mahal selama hal itu untuk menjaga 'kedamaian' dunia ini."
 
Maka mengalirlah kepingan-kepingan emas ke dalam kerajaan Armia: ke dalam pundi-pundi para ksatria, ke dalam gudang-gudang para saudagar, ke dalam saku-saku para bandit, agar mereka memainkan disharmoni kekacauan, perpecahan, dan prasangka di sana.
 
Atas nama kebenaran para bandit berteriak di jalanan.
 
Atas nama kebenaran para saudagar menahan barang dagangan mereka.
 
Atas nama kebenaran pula, pada suatu pagi, para Ksatria merebut mahkota yang sebenarnya sudah lama tak pernah Mizar pakai, sambil membunuh siapapun yang mencoba menantang mereka.
 
Maka kisah pun berlanjutlah.
 
*** IIII ***
 
Post Script:
Sudah lama sekali ~_~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Kudeta (5 years 37 weeks ago)
80

saya nggak tau musti koment apa.
yang pasti ini semacam ide yang dikemas dari keadaan aktual.
simbol yang cukup kuat menurut saya :D
tapi yang paling nggak saya suka adalah dirimu mengambil posisi sebagai narator di abad yang berbeda, atau setelahnya dari kejadian ini. kesannya begitu, Om. jadi, saya ngerasa kurang greget gitu.
tapi ya, ini konsep apa siy namanya? ummm... soalnya dirimu nggak menggubris siapa yang sedang berdialog, tapi itu udah cukup lancar dengan seluruh isi cerita. apa ya istilahnya...?

#berpikirkeras
btw, selamat datang kembali :D
kip nulis
ahak hak hak

Writer 145
145 at Kudeta (5 years 37 weeks ago)

Makasih banyak Om Momod >_<
Niat awalnya kembali sih sejujurnya pas ada teman yang ngomongin soal program tantangan. Tapi ternyata pas mampir udah tutup :D

Tapi yah, saia sendiri juga berharap bisa mulai 'agak rutin' nulis lagi di K-com

ahak hak hak juga

Writer Shinichi
Shinichi at Kudeta (5 years 37 weeks ago)

ahahahaha.
telat dong ya :D
ywd, ntar program selanjutnya.
btw, kalo mau nerbitin novel, saya bisa jadi layouternya lho. ahak hak hak. #malahpromosi =))

Writer Anggun_Ji
Anggun_Ji at Kudeta (5 years 37 weeks ago)

Kereeenn..
lanjut :)

Writer sabrinazulmi4
sabrinazulmi4 at Kudeta (5 years 37 weeks ago)
60

keren sekali...! aku suka

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kudeta (5 years 37 weeks ago)
80

ada masa ketika demokrasi dianggap memalukan. tapi kalo ngebahas kelemahan demokrasi bisa panjang lagi, waha.
di cerita ini sendiri pun rasanya jadi kebolak-balik. serba salah.

Writer marowati
marowati at Kudeta (5 years 37 weeks ago)
70

Cerita yang menarik. :

Writer Ann
Ann at Kudeta (5 years 37 weeks ago)
80

Aku suka temanya :)
Menarik! Cara pembawaanya oke!

Writer 145
145 at Kudeta (5 years 37 weeks ago)

Masih pakai point ternyata >_<

Writer Shinichi
Shinichi at Kudeta (5 years 37 weeks ago)

ahak hak hak. #ngakaksendiri