Project Apocalypse

‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam lima ratus empat puluh detik.’

Kulihat Maria terduduk lemas di lantai. Begitu lemah dan tak berdaya. Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya kaku.
“A-Aku… Selyse, apa yang aku…”

Kalau saja malam-malamku tidak pernah dihantui oleh mimpi tentang segala kemungkinan terburuk, mungkin aku juga akan terguncang seperti dirinya. Semua berubah ketika dia masuk dalam hidupku. Sejak dia ada, mimpi buruk itu lenyap.
Kehadirannya membuatku mengerti, aku manusia biasa. Sama seperti ratusan ribu orang yang menggantungkan harapan mereka padaku. Aku mungkin akan gagal dan harapan mereka akan dunia yang lebih baik akan hancur, namun setiap manusia memiliki kekuatan untuk bangkit. Entah itu sehari, sepuluh hari, setahun, bahkan berabad-abad sekalipun, mereka akan bangkit dengan kekuatan mereka sendiri.

“Hentikan, Selyse! Kalau kau bekerja seperti itu terus-terusan, kau bisa mati! Apa gunanya kalau penelitianmu selesai, tapi kau tidak ada untuk menjalankannya?”

Aku ingat. Waktu itu akulah yang lemah. Akulah yang tak berdaya. Tapi Maria ada di situ dan menopangku.

“Kau bukan dewa, Selyse. Siapapun bisa gagal. Kalaupun bukan kau yang memimpin proyek ini, kemungkinan gagal itu juga tetap ada! Kalau kau terus ketakutan seperti ini, bagaimana proyek ini bisa berlanjut? Bagaimana kau bisa menyelamatkan bumi?”


“Lagipula… Kalau pada akhirnya proyek ini gagal, orang-orang yang sekarang sudah berlindung di biosfer buatan pasti bisa melakukan sesuatu! Ratusan ribu yang lalu kiamat juga sudah pernah terjadi kan? Bukankah orang-orang masih bisa bangkit hingga sampai seperti sekarang?”

Sekarang aku benar-benar gagal. Bukan karena satu di antara sekian banyak kemungkinan yang pernah mengurungku dalam kengerian selama berbulan-bulan. Tapi tak apa. Manusia akan bangkit lagi. Aku yakin itu.

“Project Apocalypse adalah proyek penyelamatan bumi yang dipelopori oleh Profesor Selyse Johannson dari Save-the-Earth Research Center di Boston, Amerika Serikat. Proyek ini akan dimulai untuk pertama kali di Republik Zelena, sebuah negara yang terletak sebuah pulau di lautan Pasifik…”

“…Kami akan memindahkan seluruh penduduk Zelena ke Bioshell, sebuah biosfer buatan yang tertutup dan terlindung yang dibangun di pulau di seberang selat Zelena. Di sana penduduk bisa hidup normal dan mandiri tanpa terpengaruh oleh apapun yang terjadi di luar biosfer buatan tersebut. Sementara itu, mesin Apocalypse yang saat ini sedang dikembangan Profesor Selyse dan timnya akan ‘menghancurkan’ Zelena untuk memusnahkan segala macam polutan dan elemen-elemen yang berpotensi merusak lingkungan sebelum memasuki mode revitalisasi untuk mengembalikan potensi lahan Zelena seperti sebelumnya.”

“Bioshell sendiri bisa menopang kehidupan penduduk Zelena selama sekitar tiga puluh tahun, persis dengan waktu yang dibutuhkan hingga Zelena bisa ditinggali kembali.”

“Memang itu waktu yang sangat lama, namun kehidupan di dalam biosfer buatan ini tidak akan berbeda dengan kehidupan di luar sehingga tidak akan ada banyak perubahan yang terasa.”



Kupeluk tubuh Maria erat-erat sambil mencoba menenangkannya. Dia menangis keras-keras dalam dekapanku. Berkali-kali kubilang padanya, tidak apa-apa. Ini semua bukan salahnya. Kuulang kata-kata yang dia katakan padaku, tentang manusia dan kegagalan, juga tentang kekuatan manusia untuk bangkit dari segala keterpurukan.

“Salahku… Ini semua salahku…”

“Maria… Kenapa… Kenapa kau belum berangkat ke Bioshell?”

“Kau sendiri kenapa masih ada di sini, Selyse?! Dan kenapa hanya kau yang tinggal di sini? Kau bilang kau harus tinggal bersama ilmuwan lain untuk mengoperasikan mesin Apocalypse dan menyusul dengan helicopter. Tapi ilmuwan yang lain ada di sana, di kapal yang berangkat menuju Bioshell!”

“Mereka bilang seharusnya mesin Apocalypse berjalan secara otomatis! Mereka bilang atmosfer setelah mode penghancur dimulai akan jadi sangat beracun dan hampir tidak mungkin untuk keluar dari tempat riset ini hidup-hidup! Kenapa kau masih tinggal di sini, Selyse?!”


Para ilmuwan itu… Rekan kerjaku… Aku berbohong pada mereka. Kubilang fitur otomatis pada mesin Apocalypse sudah terpasang sempurna, padahal semuanya harus dijalankan manual. Tapi kami tidak bisa menunda proyek ini lebih lama lagi. Memang harus ada  yang berkorban…

…Dan selama ini, aku sudah cukup merasakan kebahagiaan. Aku sudah mencapai hampir segala hal yang kuinginkan dalam hidupku; gelar profesor, karir cemerlang, bahkan tak lama lagi aku akan berhasil menyelamatkan bumi yang sudah rusak parah akibat pencemaran…

Tapi itu semua tidak sebanding dengan kebahagiaan yang mengisi hari-hariku bersama Maria.

Itulah yang kukatakan padanya waktu itu. Hal itu jugalah yang kukatakan padanya sekarang berulang-ulang.

“Mode penghancur sudah dimulai…”

Hatiku hancur saat tahu Maria masih ada di sini. Hatiku hancur saat tahu Maria tinggal karena aku. Dan sekarang kami terjebak di sini. Persediaan yang kumiliki hanya cukup untukku sampai pengoperasian Apocalypse selesai dalam beberapa hari, lalu aku sudah menyiapkan anestesi dan racun untuk kematian yang tenang…

Tapi Maria juga ada di sini. Itu berarti Maria juga akan mati. Di sini. Bersamaku.

“Hentikan! Hentikan mesin itu, Selyse! Hentikan sekarang!”

“Percuma, Maria! Operasinya sudah dimulai! Penghancurannya sudah mencapai hampir separuh pulau dan kalau kuhentikan, semua yang kita perjuangkan akan percuma! Bagaimana dengan orang-orang yang ada di Bioshell? Ketika mereka kembali nanti—”

“AKU TIDAK PEDULI! Persetan dengan orang-orang itu! Kalau kau harus mati untuk menyelamatkan mereka, lebih baik mereka saja yang mati!”

“Maria!”

“Kalau kau tidak mau menghentikan mesin itu, biar aku yang melakukannya!”


‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam tiga ratus enam puluh detik.’

Di tengah kepanikannya, Maria tidak sengaja menekan sistem terminasi otomatis yang akan menghancurkan mesin Apocalypse beserta gedung ini. Mode penghancur sekarang mungkin sudah menjangkau lebih dari tiga perempat pulau sementara tempat ini akan musnah dalam delapan menit. Padahal butuh waktu berhari-hari untuk menginput semua kode revitalisasi secara bertahap. Kalaupun aku sempat menginput beberapa kode dasar, orang-orang yang tinggal di Bioshell tidak akan mendapatkan Zelena yang hijau seperti yang seharusnya mereka dapatkan ketika keluar nanti. Mereka akan kehilangan segalanya. 

Tapi mereka akan bertahan. Mereka akan bangkit. Mungkin akan banyak yang tidak bisa bertahan hidup pada awalnya. Tapi suatu saat nanti, kehidupan akan kembali ke negeri ini.

“…Dan pada akhirnya, semuanya akan baik-baik saja, Maria…”

Tak lama lagi, Project Apocalypse juga akan dijalankan di Inggris, Jepang, dan beberapa negara kepulauan lain. Lalu benua-benua besar akan menyusul. Kuharap mereka tidak mengalami kegagalan yang sama. Jika mereka gagal, bumi benar-benar akan hancur…

Tapi orang-orang yang tinggal di dalam Bioshell akan keluar suatu saat nanti dan melakukan sesuatu… Selama tidak ada komplikasi di dalam biosfer, tentunya. Tapi apapun yang terjadi, pada akhirnya orang-orang pasti bisa bangkit lagi.

“Kau yang mengajarkanku itu padaku, kan, Maria?”

‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam tiga ratus detik.’

Sudah tidak ada waktu lagi.

Aku melepaskan Maria dan kembali ke panel kontrol.

‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam dua ratus empat puluh detik.’

Cepat-cepat kuambil masker gas dan jas pelindung yang disiapkan untuk keadaan darurat. Kupakaikan jas itu pada Maria yang masih terlalu syok untuk bereaksi.

“Kau harus keluar dari sini, Maria. Kemungkinan kau bisa bertahan di luar hanya dengan masker gas hampir nol, tapi kalau kau tinggal, benar-benar tidak ada harapan. Kau harus keluar sekarang dan lari ke pelabuhan. Gunakan perahu atau apapun yang masih tersisa untuk menyeberang ke Bioshell.”

“T-tapi…”

“Aku mencintaimu, Maria.”

Kukecup bibirnya untuk terakhir kali dan kudorong tubuhnya keluar dari ruangan. Kututup pintunya dan kuaktifkan kunci digitalnya sebelum Maria sempat memberontak.

‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam seratus delapan puluh detik.’

Aku bersandar lemas di pintu. Aku bahkan tidak tahu apakah Maria benar-benar melakukan apa yang kusuruh. Mungkin dia masih di sini, atau mungkin dia sudah pergi. Akal sehatku berteriak-teriak, tidak mungkin Maria bisa bertahan di luar sana. Dan kalaupun dia bisa sampai ke pelabuhan, tidak akan ada kapal yang bisa membawanya ke seberang…

Sekarang Maria sudah tidak ada. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kulihat anestesi dan racun yang kusiapkan tergeletak di meja. Aku tidak perlu menunggu Sistem Penghancur Otomatis untuk mengakhiri segalanya.

Mataku terasa basah.

Seharusnya aku tidak menyuruh Maria pergi. Apapun yang terjadi kami sama-sama akan mati. Kematian tidak akan terlalu mengerikan jika dia ada di sisiku.

“Kau bukan dewa, Selyse.”

Aku menangis sejadi-jadinya. Kupikir aku sudah mengerti maksud Maria, tapi baru sekarang aku benar-benar merasakannya. Kupikir aku bisa berkorban untuk menyelamatkan dunia. Tapi kenyataannya aku tidak bisa apa-apa.

Aku tidak bisa apa-apa tanpa Maria.

Maria…

Aku tidak ingin mati.

Aku ingin hidup.

Aku ingin hidup bersama Maria…

Dan kalaupun aku harus mati, aku ingin mati di sisi Maria.

Tapi siapa tahu… Siapa tahu ada keajaiban?

Jika manusia bisa bangkit di kondisi terburuk sekalipun, bukankah Maria juga bisa melakukannya?

Bagaimana denganku? Apa aku masih bisa bangkit setelah aku meledak bersama tempat ini?

‘Sistem Penghancur Otomatis akan dimulai dalam enam puluh detik.’

Apa yang bisa kulakukan dalam enam puluh detik?

Aku kembali duduk dan menghabiskan enam puluh detik terakhir di depan panel kontrol sambil membayangkan senyuman Maria.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bluntz
bluntz at Project Apocalypse (5 years 20 weeks ago)
80

Wow tragis, bagus-bagus

Writer Alfare
Alfare at Project Apocalypse (5 years 36 weeks ago)
70

Kayaknya ada detil-detil yang bisa diisi, tapi IMO ini sudah cukup menyampaikan apa yang perlu disampaikan.
.
...Ada beberapa hal yang masih terasa agah aneh dan kurang wajar sih. Tapi ya sudahlah.

Writer ansitorini
ansitorini at Project Apocalypse (5 years 36 weeks ago)
70

keren! nice sekali :D
hanya menganggap ini kurang efektif : 'hingga sampai seperti sekarang'
lalu.. tunggu, Selys itu laki2? kupikir perempuan xD

Writer Riesling
Riesling at Project Apocalypse (5 years 36 weeks ago)

Selyse perempuan kok.
makasih udah mampir~

Writer nusantara
nusantara at Project Apocalypse (5 years 36 weeks ago)
70

sip

Writer herjuno
herjuno at Project Apocalypse (5 years 36 weeks ago)
70

Wai, Ries, ini kerasa cepet banget alurnya. Jadi terasa buru-buru gitu, dan feel-nya jadi kurang.
.
Background oke, btw. :3