TANTANGAN : Dandelion Kecil

-Dandelion Kecil-

Romance : gloomy

 

Kehidupan itu... anugerah kecil yang indah bagi kami. Anugerah yang rapuh dan mudah direnggut. Indah, karena kami dapat berbagi cerita tentang hari-hari ceria yang hangat. Rapuh, karena setiap saat banyak dari kami yang menghilang hanya dalam beberapa hari. Kadang, bahkan kerapuhan itu membuat kami hanya hidup dalam beberapa jam.

Embusan angin mampu menerbangkan kami. Kadang, tangan-tangan besar memetik seenaknya, dan memisahkan kami satu sama lain.

Itulah kehidupan. Yang singkat, yang rapuh, yang begitu saja dilupakan. Begitulah anugerah yang kami terima. Kami adalah... bunga-bunga dandelion kecil. Yang rapuh. Yang kerap terabaikan, dan yang kadang direnggut begitu saja.

Aku adalah bunga kecil yang terlahir seorang diri, tanpa saudara sama sekali. Bunga-bunga lain sudah menghilang ketika aku mekar, meninggalkanku sendirian di tempat yang sangat dingin ini.

Sebenarnya, aku punya banyak kehidupan. Berpindah dari satu tangkai ke tangkai lain. Setiap kali angin meniup, kelopakku akan beterbangan jauh sekali, mengelilingi bukit-bukit hijau, dan terdampar di berbagai tempat. Itulah ketika kehidupanku yang rapuh terenggut. Benar... hanya kehidupan, namun tidak untuk memori. Salah satu kelopakku, memiliki kenangan kuat tentang kehidupanku. Saat dia tumbuh menjadi bunga yang cantik, aku hidup dalam dirinya. Begitulah seterusnya.

Di salah satu kehidupanku, aku ingat pernah mekar di tempat yang sangat indah. Dikelilingi bukit-bukit hijau yang sangat luas, membentang sejauh aku bisa merasakannya. Iya, merasakan. Aku hanya bisa melihat menggunakan apa yang angin bisikkan kepadaku.

Di sana, aku lagi-lagi sendirian, tanpa bunga lain yang mendampingiku. Sebenarnya, tak penting juga apakah aku memiliki pendamping atau tidak. Hanya saja, kurasa memiliki seorang teman bisa membuat hari-hari sunyiku lebih menyenangkan. Saling berbisik satu sama lain melalui desauan angin yang teramat pelan.

Hingga suatu ketika, aku merasa angin membelaiku dengan sangat lembut, dan dia membawa sesuatu. Yeah... sesuatu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau yang dibawanya adalah sebuah kelopak dandelion kecil. Bunga rapuh yang baru saja merelakan kehidupannya. Entah dia membawa kenangan sebelumnya atau tidak. Aku tak peduli. Tidak mau peduli.

Bunga itu... dia mulai mekar saat pagi datang. Aku sangat senang ketika kelopaknya melambai-lambai tertiup desauan angin pelan.

“Selamat datang, bunga kecil!” sapaku waktu itu. Kemudian, dia seperti menoleh kepadaku.

“Kamu siapa?” tanya bunga kecil itu. Sepertinya, dia tidak mewarisi ingatan di kehidupan sebelumnya. Tampak sekali dia heran padaku. Tapi, aku juga tidak tahu pasti. Toh aku juga tidak pernah bertemu dengan bunga lain saat aku mekar.

“Aku sama sepertimu. Sebuah bunga dandelion kecil. Selamat datang di dunia ini. Kamu dianugerahi sebuah kehidupan yang rapuh. Karena itu, kamu harus menjaganya baik-baik!” aku ingat pernah mendengar ucapan itu, tapi entah kapan. Sepertinya sudah sangat jauh di masa lalu. Entah mengapa juga aku bisa langsung mengingatnya begitu melihat bunga yang hanya selisih satu hari dari kedatanganku itu.

Bunga itu nampaknya tersenyum senang mendengar ucapanku. Dan, ada sesuatu di ranting-ranting kelopakku yang merasa nyaman melihat senyuman itu.

“Apa kamu... sendirian?”

Lagi-lagi aku merasa hangat ketika mendengar suaranya. Jadi... inilah rasanya memiliki pendamping. Betapa tidak beruntungnya aku telah mekar sendirian di sebagian besar kehidupanku. “Tidak, bunga kecil. Sekarang ada kamu di sebelahku,”

Dan lagi. Bunga kecil itu tersenyum padaku, tepat ketika angin menerpa kami, dan membuat kami melambai-lambai dengan pelan. Waktu itu, aku benar-benar paham apa arti kehangatan yang sebenarnya. Setelah sekian lama hanya berdiam dan melambai-lambai diterpa angin sepoi, kini aku memiliki kawan untuk menghabiskan waktu. Mengakhiri jam demi jam yang sangat menenangkan.

“Emm... apa kita berteman?” tanya bunga kecil itu dengan polosnya.

Entah karena tertiup angin atau aku melakukannya sendiri, aku mengangguk. “Iya. Terima kasih telah hadir di kehidupan ini!”

Bunga itu... kali ini dia terdiam cukup lama, sampai beberapa kali tiupan angin yang damai. Karena itu, aku heran padanya. Apa mungkin angin membisikkan kalimat yang salah, yang tidak seperti pikiranku?

“Kehidupan itu... apa?” tanya bunga itu tiba-tiba, tersadar dari lamunan panjangnya.

Aku lumayan terkejut mendengar suara itu. Angin berbisik sangat pelan, menyampaikan pikiran dari bunga yang ada di sebelahku. Jadi benar, kalau dia memang tidak mewarisi ingatan tentang kehidupan yang lalu.

“Kehidupan itu... hanyalah kenangan yang akan berlalu begitu saja,” kataku, mencoba menjelaskan dengan sangat lembut. Angin juga memerankan perannya dengan baik, dan berhasil mengantar pikiranku kepadanya. “Hanya beberapa saat, kita akan kehilangan kenangan ini. Tetapi, setelah kehidupanmu direnggut, salah satu kelopakmu akan mekar, dan memiliki kenangan yang sama. Kau akan lahir kembali di tempat yang sangat berbeda,”

“Apa aku akan melihatmu lagi nantinya?” tanyanya tiba-tiba. “Apa ketika aku pergi nanti, dan mekar di tempat lain, aku akan melihatmu lagi seperti tadi? Apa kamu akan menyambutku seperti tadi?”

Iya. Saat ini aku benar-benar berharap bisa mengatakan iya. Aku sangat ingin menyapanya ketika dia mekar di kehidupan lainnya. Padahal, baru beberapa saat lalu aku mengenalnya. Tetapi, mungkin karena dia sahabat pertamaku, aku sangat menyayanginya dari detik pertama dia datang. “Dengar, bunga kecil,” kataku pelan, dan dia menurut. Diam, dan mencoba mendengarkanku. “Kehidupan adalah kenangan, seperti yang kukatakan tadi. Tak peduli kita akan bertemu lagi atau tidak di kemudian hari, yang terpenting adalah saat kita mengingat kenangan hari ini.”

“Itu kedengarannya seperti...” kata bunga itu. Entah angin yang pelan atau memang bunga itu yang bersuara pelan, tapi suaranya kurasakan sangat murung. “Kita tidak akan bertemu lagi,”

Setelah dia, kini giliranku yang terdiam. Ketika mendengar suaranya, aku juga merasa kehilangan. Padahal, kami baru saja bertemu, dan masih banyak yang bisa dibicarakan selain kemungkinan kami terpisahkan di kehidupan nanti.

“Bunga kecil!” panggilku lembut, dan dia mendengarkan seperti sebelumnya. “Jangan memikirkan apa-apa lagi mengenai kemungkinan itu. Sekarang, lebih baik kita bercengkerama mengenai hal-hal bahagia yang bisa kita lakukan. Itu lebih menyenangkan daripada kita hanya bersedih,”

Aku bersyukur ketika bunga itu terlihat mengangguk. Sebenarnya, aku sendiri khawatir dengan kemungkinan yang kami bahas tadi. Aku tidak mau lagi merasakan mekar di antara kesendirian, tanpa ada siapa pun yang menyambutku. Aku tidak mau lagi merasakan betapa dinginnya angin berembus saat aku berdiam tanpa bunga lain di sebelahku, setelah aku menemukan sahabat.

Semenjak itu, aku sangat bahagia. Setiap embusan angin pelan yang menyentuh kami, semuanya membawakan kehangatan yang sangat nyaman. Kami, merasa memiliki satu sama lain, terikat erat di antara kerapuhan hidup yang membayang-bayangi kebahagiaan ini.

Hari ini, semuanya berlalu dengan sangat cepat. Aku benar-benar merasa semuanya berkelebat begitu saja ketika bunga itu berbicara dengan lembut, dan membuatku merasa hangat. Padahal, aku sangat ingin semuanya berlangsung dengan selambat mungkin, agar kenangan dengannya bisa kunikmati tiap detiknya, tiap menitnya, dan tiap kali angin berembus.

Kami berdua melanjutkan kehangatan ini. Meski malam sangat gelap dan dingin, aku tak rela melepas kenangan ini hanya untuk tertidur. Yang kutakutkan, kalau-kalau aku bangun esok pagi, tubuhku sudah sangat rapuh, dan kehidupanku akan segera berakhir, berganti ke kehidupan selanjutnya.

Hingga malam berakhir, tak ada sama sekali di antara aku atau bunga kecil ini yang tertidur. Atau... sekarang dia bukan lagi bunga kecil. Waktu yang sangat singkat ini telah mengubahnya menjadi bunga yang sama sepertiku.

“Apa kau atau aku?” tanya bunga di sebelahku tiba-tiba, ketika matahari hampir terlihat di puncak-puncak pegunungan. Suaranya sudah berubah, tidak polos atau lugu seperti beberapa waktu lalu.

“Maksudmu?” tanyaku lembut. Sebenarnya, aku sudah tahu ke mana percakapan ini akan sampai, dan itulah yang paling aku takutkan. Setelah sekian waktu menghabiskan masa-masa hangat, kini pembicaraan menyebalkan itu akan terulang lagi.

“Apakah kau yang akan pergi, atau aku yang akan pergi? Maksudku... yang lebih dulu,”

Benar saja. Dia benar-benar mengulang masalah itu lagi. Suaranya yang pelan membuat kehangatan yang kami bangun sejak lama mulai terkikis. “Tentu saja... aku. Mungkin!”

Seperti dugaanku, bunga itu diam selama beberapa saat, dan keheningan yang terjadi selama itu benar-benar membuat seluruh bunga yang kumiliki menjadi resah.

“Apa sedingin itu? Apa benar sendiri itu sangat dingin?”

Dasar. Kenapa dia harus menanyakannya. Aku tidak mau... mengatakan apa yang selama ini kurasakan. Aku tidak mau... dia merasakan apa yang kurasakan selama ini. “Tidak sedingin itu,”

Jelas-jelas dia tahu aku berbohong. Angin benar-benar buruk kalau menyampaikan kebohongan yang kupikirkan itu. Karenanya... bunga di sebelahku itu terlihat lebih murung.

“Kau baru saja mengatakan kalau bahkan lebih dingin lagi,” kali ini suaranya terdengar sangat keras. Lagi-lagi aku mengutuki angin yang dengan lancar membisikkan pikiran bunga itu.

“Aku akan... menunggumu lagi,” kataku saat bunga di sebelahku terdiam untuk ke sekian kalinya. “Di kehidupanku yang lalu, aku dengan mudah melepas kehidupan rapuh ini, tanpa pernah menginginkan kehidupan yang sangat hangat seperti sekarang. Tetapi sekarang... aku memiliki alasan untuk berharap bahwa kita akan bertemu lagi di kehidupan yang lain. Aku akan menyambutmu mekar di dekatku, seperti waktu itu,”

“Bagaimana kalau itu semua hanya... sia-sia? Apa ada kemungkinan untuk kita bertemu lagi?”

“Mengapa tidak?” tanyaku sebelum dia mengeluh lebih jauh. “Kita dipertemukan di kehidupan dengan begitu saja, dan di kehidupan lainnya juga... akan begitu. Dipertemukan begitu saja,”

Setelah itu, kami mencoba mengabaikan masalah itu lagi. Matahari sudah menyentuhkan sinarnya yang hangat, membuatku merasa nyaman. Paling tidak, kalau hari ini kehidupanku harus benar-benar terenggut, aku sudah sangat siap.

Tubuhku sudah sangat lemah ketika matahari semakin meninggi, dan beberapa kelopakku mulai bergetar karena tertiup angin yang lumayan kencang.

“Tunggu! Bagaimana aku tahu itu kau saat kita bertemu nanti?” tanya bunga di sebelahku itu. Dari suaranya yang tinggi dan keras, sangat jelas kalau dia khawatir tentang kehidupan yang selanjutnya. Sepertinya dia... ketakutan.

Jujur aku bingung harus menjawab seperti apa. Dia benar. Aku sama sekali tidak tahu, sebagaimana dia tidak tahu kalau bunga yang menyambutnya kelak adalah aku atau bukan.

Aku belum sempat menjawab apa-apa saat tanah terasa berguncang. Sekilas, angin mengabarkan tentang hadirnya anak-anak manusia yang mendekat.

“Jangan terlalu jauh!”

“Kakak, bunga dandelion itu bagus!”

Tanpa sempat berkata apa-apa, sebuah tangan anak perempuan telah memetik bunga di sebelahku. Bunga yang masih memiliki waktu untuk hidup. “Tidak, jangan dia!”

“Jangan meniupnya. Dia belum boleh ditiup!” teriak anak yang satunya lagi, dan aku seratus persen mendukungnya.

Tetapi, nyatanya teriakan itu tidak diperhatikan. Anak perempuan itu sudah bersiap meniup bunganya. Di sisi lain, bunga-bunga di tubuhku mulai terlepas, tertiup angin yang sangat kencang.

“Kelak, kita akan bertemu lagi!”

Hanya itu. Aku hanya bisa membisikkan teriakan itu ketika kelopak bunga di tubuhku berhamburan menjauh, dan tepat juga ketika anak perempuan di sana meniup bunga dandelion itu. Kemudian, mungkin kelopak kami terbang bersamaan, tertiup angin yang sangat kencang, terempas ke berbagai arah, dan saling terpisah. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa waktu itu. Hanya ada kilasan-kilasan memori tentang kebersamaanku dengan bunga itu. Bunga yang melebur bersamaku.

*-*-*-*

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Alfare
Alfare at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 24 weeks ago)
80

Hoo, ini bagus.
.
...Aku agak enggak tahu apa soal tanaman bisa disebut romansa sih, tapi aku mesti akui kalau aku bisa menikmati bacanya. Tata tulisnya rapi lagi!
.
Kau beneran udah ngalamin banyak kemajuan drastis! >_<

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 24 weeks ago)
70

Hmm... terlalu banyak repetisi sampai saya bosen .___.
Jujur, saya banyak meng-skip, soalna... yah, repetisi yang kebanyakan.
Deskripsi cukup bagus, sebenerna. Tapi lagi-lagi banyak repetisi sampai-sampai saya pengen bilang, "Yeah, kau sudah bilang soal itu barusan, Bung."
Repetisi bukanna buruk, tapi kadang kalo kebanyakan dan kurang apik mengelolana, jadi bikin eneg hahahaha....
.
Tapi saya mengapresiasi kecepatan menulismu!! Sementara saya masih berkutat dengan ide, kau sudah nge-posting aja. Luar biasaaaaa~~~!!!
.
Last but not least, semoga menang!!

90

wah sepertinya tantanganmu berhasil. yg aku dpt yah tulisan dan kalimat2nya sudah rapi.
ide dan pesan ceritanya jg dapat.
ada beberapa kalimat yg mungkin salah penempatan tanda titit (nga tau atau gw yg salah ya) mis: Hanya itu.
-bunga dadaleon kecil. yang rapuh. yang ...

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)
70

Pas baca tulisan Kazzak, sy selalu cari kata2: hangat, anak-anak, kecil... Ternyata beneran ada wkwkwk #okegakpenting
.
Alur : 2/3
Ini manis sebenernya, krn yg diambil temanya suram, bukan pahit, perih, atau gelap (?) sy kira oke2 aja pedihnya cinta kurang kerasa #ceile
Narasinya apik sebenernya, cuman kurang deskripsi.. Sy ndak melihat warna, sy ndak melihat dandelion punya apapun selain kelopak... Sy ndak tau dunia ini seperti apa di mata dandelion, indah kah buruk kah.. Kalo indah spt apa, langit biru mgkin? Atau padang rumput tmpt dia sendirian berwarna kelabu gegara kesuramannya? ini mirip cerita anak2 dgn ilustrasi bergambar..
.
Karakterisasi : 2/3
Dandelion! Sy suka bunga, sy ngerasa dandelion ini kyk ibu2 hehe.. Tp ketika dia kehilangan temannya, itu kyk kehilangan adeknya.
.
Gaya bahasa : 2/2
Buat yg ud nerbitin novel seharusnya ini ndk masalah ^^)d
.
Typo n error : 1/1
Nggk ada sejauh ini
.
Lain-lain : 0/1
Subjektif siy.. Tpi sy benci penggunaan kata 'kecil' di sini. Sok imut wkwkw apalagi pas si dandy bilang
"Aku dandelion kecil~"
Dlm hati sy nyorakin --- cie yang kecil~ cie yang imut~ cie yang mau dianggap rapuh dan lemah~ cie yang gak berdaya~
Wkwkwk #dilempar Kazzak
.
Total poin : 7 ~
Selamat ud mnyeleseikan tantangan \ ^^ / good luck yah (y)

Kazzak at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)

wehehehe, makasih, Ann >.<

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)
90

It makes me smile. :')
Setiap kejadian dibawakan dengan sangat baik dan aku menikmati setiap kata-kata yang kubaca.

Saya ga ngerti sih maksudnya romance yang gloomy itu seperti apa, tapi buatku ini indah sekali. :)

Kazzak at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)

makasih udah mampir yaa :) seneng kamu suka XD

Writer dansou
dansou at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)
100

WUOOOOOOOOH.... INI BAGUS SANGAT.
.
Wuooooh... saya menikmati setiap narasinya. Terus saya suka tokoh dandelionnya. Uuhh... dan ini romantis.
.
Yeay, selamat ya kazzak.... <3

Kazzak at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)

hehe, makasih, Bang :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)
80

poinnya gak keluar --

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)

Ini baguuuus >.< Walaupun dibawa muter dulu di awal (nyampe rasanya pengen saya skip) tapi lama kelamaan ngalir juga. Good Job!

:))

Kazzak at TANTANGAN : Dandelion Kecil (5 years 25 weeks ago)

wehehehe, aku juuga sempet khawatir soal bagian awalnya itu sih, makasih udah mampir yaaa :D