moonsetter

Pada suatu hari, pada suatu era. Seorang anak laki-laki memandang kematian seorang gadis remaja dari bulan. Kematian gadis remaja itu ditangisi oleh kerabatnya, mereka bilang akhirnya gadis itu lepas dari penderitaannya. Pemuda yang berada di bulan itu sedikit sedih. Hanya sedikit sedih selama kira-kira beberapa milidetik hidupnya, itu karena sang pemuda hidup dalam keabadian. Sudah ribuan tahun dia tinggal di bulan dan sedikitpun dia tidak merasakan tua. Pada suatu hari entah kapan, sepertinya dia menganggap bahwa dirinya tidak akan mati.

Kenyataan itu begitu memukulnya. Memukulnya keras karena dia mengira-ira bahwa jangan-jangan dia memang tidak akan mati. Karena dia tidak pernah hidup. Sekarang dia harus terus hidup dalam keabadian, hidup dalam kematiannya. Mengamati semua manusia di bumi yang terus menjalani hidupnya hari demi hari kemudian mati. Seperti seorang hantu bulan.

Entah bagaimana dia menanggapi semua kehidupan dan kematian di bumi. Seakan dia melihat kehidupan di bumi bagaikan manusia melihat serangga musim semi. Atau nyamuk. Nyamuk akan mati karena mereka memang begitu. Hanya saja berbeda dari manusia yang egois, dia punya perenungan mendalam. Dia makhluk yang abadi tidak berhak menilai kehidupan dan kematian manusia hanya dari sisinya saja. Mungkin baginya perang dan perjuangan itu tidak penting, tapi bagi manusia itu adalah seluruh hidupnya. Sama seperti nyamuk atau larva cacing. Sama-sama penting untuk dijaga, sama-sama tidak penting untuk dibiarkan hancur.

Menurut pria di bulan, manusia yang sungguh jarang berfikir. Mereka menganggap kehidupan makhluk lain berharga dan menjaganya, atau tidak berharga dan membunuhnya. Pria di bulan beranggapan bahwa manusia terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Jika memang seharusnya ada kesimpulan.

Pemikiran itu selalu membuat kepala pemuda di bulan pening. Pemuda itu kemudian melanjutkan upacara kematian dari gadis itu. Dia kasihan sekaligus iri. Dia mungkin tidak akan pernah mendapatkan pemakaman, walaupun demikian pemikirannya tentang kematian sedikit menakutinya. Lagipula kalau dia benar-benar mati, tidak akan ada yang memakamkannya. Dia bukan manusia dia sebaiknya tidak memikirkan masalah manusia seperti ini terlalu jauh.

Tapi dia terus mengamati manusia sebagai hobinya, terutama makam dan keturunan gadis itu. Era berubah, zaman berubah, manusia punah. Dari perang, bencana, penyakit. Dia melihat dalam beberapa saat peradaban manusia berubah menjadi debu. Awalnya gadis itu tidak lagi dikunjungi, kemudian dengan sangat perlahan makamnya hancur. Kemudian bahkan tulang belulangnya tidak bersisa. Manusia punah hanya dalam hitungan jemarinya.

Kehidupan gadis perempuan itu, yang sangat singkat ternyata sangat berarti. Karena dia melihat bahwa toh manusia-manusia yang berumur panjang, menurutnya sama saja. Dia tidak mengerti ketika melihat dari jutaan tahun. Mereka sama seperti pasir yang larut ke samudra.

Kemudian dia memikirkan kehidupannya, makna dari keberadaannya.

Sendiri di bulan.

Selama milyaran dan milyaran tahun.

Kehancuran umat manusia membuatnya berfikir dan berfikir mengenai dirinya. Makhluk yang tidak melakukan apa-apa sendiri di bulan selamanya. Dia memikirkan kematian gadis remaja itu. Dia bisa membuat gadis remaja itu hidup kembali dan kemudian tinggal dengannya di bulan dalam milyaran tahun. Tapi untuk apa?

Apa kegunaan keabadian? Bagi manusia, kehidupan manusia yang singkat saja, penuh dengan cinta, harapan dan makna. Tapi terlalu singkat. Terlalu cepat baginya. Terlalu banal.

Kemudian dia memutuskan sesuatu. Dia akan menciptakan manusia baru, dia juga akan memperbarui kehidupan di bumi. Namun karena dia bukan Tuhan, dia harus menggunakan kekuatan untuk melakukannya. Dia menggunakan seluruh kehidupannya untuk membuat ulang bumi sebagaimana dia ingat. Tidak persis sama karena dia punya satu harapan bahwa umat manusia akan melanjutkan peradabannya sedikit lebih lama.

Pemuda di bulan itu sedikit mengantuk. Kemudian dia tertidur. Dia tertidur lelap dalam keabadian dan kemudian bermimpi. Dia bertemu si gadis yang mati muda, kemudian dia berterimakasih padanya. Setelah berterimakasih pemuda dari bulan kemudian tidur semakin lelap dan masuk ke dalam dunia tanpa mimpi.

Sang pemuda kemudian bangun lagi. Hanya saja kali ini semua memorinya terhapus. Dia mengamati bumi sekali lagi, berangan-angan tentang manusia dan kehidupannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kemalbarca
kemalbarca at moonsetter (5 years 17 weeks ago)
70

aku merasa endingnya memiliki makna yang dalam, tapi aku gak ngerti
apa dia membuat ulang bumi? tapi aku gak ngerti buat apa
maaf :|

Writer neko-man
neko-man at moonsetter (5 years 16 weeks ago)

Sama, aku juga nggak begitu ngerti.