Dongeng Teater Serigala : Serigala Licik dan Bocah Penggembala Jujur.

Selamat datang di teater Serigala. Namaku adalah Wolfman si penutur dan aku adalah seorang serigala. Kisah-kisah ini adalah kisah yang penuh hikmah, bagi serigala muda tentu saja. Entah apakah kisah ini berguna bagi para manusia.

Tapi kalian bisa belajar sesuatu, hehehe... mungkin..

Pada suatu hari, hiduplah seorang penggembala yang sangat jujur. Dia menggembalakan kambingnya di tepi hutan. Bocah itu bekerja dengan rajin memperhatikan kambing kambingnya. Sayangnya di sekitar hutan itu hiduplah serigala yang licik. Setiap hari dia melihat bocah itu dan domba gembalanya yang kelihatan lezat.

Sayangnya sang Serigala licik takut kepada penduduk desa. Jika dia menyerang, maka sang bocah bisa meminta bantuan dan penduduk desa akan datang. Mereka akan membawa senjata dan memburu sang serigala. Tapi kemudian dia punya ide yang sangat hebat.

Tiap hari dia berencana datang menemui bocah penggembala jujur tersebut. Kemudian ketika bocah itu ketakutan dan berteriak “Serigala! Serigala!” Sang serigala kemudian kabur sangat berhati-hati tidak meninggalkan jejak.

Pertama kali sang serigala datang kemudian membuat sang bocah ketakutan. Bocah itu kemudian berteriak “Serigala! Serigala!”. Beberapa saat kemudian sang serigala lari. Para penduduk desa datang. Mereka membawa senjata untuk membunuh sang serigala. Mereka tidak menemukan apapun karena sang serigala sudah pergi sambil menghapus jejak. Sangat hati-hati.

Setelah satu, dua, tiga. Hal itu terus terulang. Akhirnya penduduk desa menyebut bocah itu, sang pembohong. Mereka mulai meragukan kewarasan anak itu, bahkan anak itu meragukan kewarasannya sendiri. Akhirnya kali ke empat tidak ada seorangpun yang datang. Bocah itu berteriak “Serigala! Serigala!” Tapi kali ini tidak ada penduduk desa yang datang.

“Serigala! Serigala!” Tetap tidak ada penduduk desa yang datang.

Akhirnya bocah penggembala itu diam. Serigala memakan bocah itu bersama gembala-gembalanya dengan mudah. Esok harinya para penduduk desa menyesal menemukan sisa-sisa dari bocah pembohong itu dan menyesal. Andai saja mereka mempercayai bocah itu. Ah, tapi aku dengar kaum manusia memberikan cerita yang berbeda. Mereka mengatakan pada anak-anaknya bahwa penggembala itu pembohong. Hehehehe... Padahal serigala yang membuatnya bohong.

Bagi kaum serigala, dongeng ini ditujukan agar para serigala muda paham bagaimana cara memangsa domba dan manusia, yaitu dengan cerdik dan hati-hati. Entahlah apa hikmahnya bagi manusia, mungkin pesan moralnya jangan jadi terlalu jujur kalau tidak mau dimangsa serigala, tapi sebenarnya pembohongpun juga bisa dimakan serigala. Hmm jangan jadi orang bodoh mungkin.

Sebenarnya aku juga tidak peduli pesan moral bagi manusia. Ini memang kisah untuk serigala.

Yah. Sebenarnya tragedi ini bisa dihindarkan manusia itu kalau dia tahu cara bela diri. Menumbuhkan taring atau cakar. Atau mungkin pesan moralnya lebih sederhana, hati-hati dengan Serigala.

Saya Wolfman sang penutur mengucapkan selamat malam dan selalu hati-hati ketika berada di hutan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

serigalanya membalikkan fakta

80

"seorang" serigala, pantas aja serigala satu ini bisa bertutur dalam bahasa manusia.
berasa pernah baca cerita ini di mana gitu. tapi dengan sudut pandang serigala, ada sesuatu yang baru.