Tantangan: Kesialan Harian Baihu

Tantangan Slice of Life Fantasy

 

Dari seluruh hidup yang mungkin kujalani, dari setiap “Tuan” yang harus kuabdikan diri, ini adalah yang terburuk.

Bocah itu bernama Zhang Yu, seorang pembasmi siluman yang ditemui Xi Xiafang, putri dari majikan lamaku di perjalanan menuju selatan. Ayah Xiafang, Xi Zhongguan, adalah seorang pendekar yang selalu menjunjung tinggi kehormatan, terutama kehormatanku, Yang Mulia Baihu ini. Mana pernah Zhongguan memperlakukanku seperti kucing rumah rendahan. Ketika ia meninggal, sialnya kekuatan Zhongguan jatuh pada si bocah busuk yang berani-beraninya memanggilku Xiaohu—secara harfiah berarti harimau kecil.

Siapa yang dia sebut “kecil”, hah?!

Ketika Yu melepas kembali segelku dan membangunkanku dari tidur panjang, aku sempat berharap. Tetapi tidak. Langit menghempaskan harapan itu begitu saja. Aku ditakdirkan untuk mengabdi pada seorang penindas kucing!

 

***

 

“Xiaohu, kau di mana? Kita akan berangkat!”

Persetan! Biar saja kupermainkan bocah itu dulu. Toh, dia takkan bisa pergi tanpa aku. Tak seorang pun bisa pergi tanpa aku.

“Xiafang, kau melihat Xiaohu?”

“Tidak.”

“Ke mana kucing sialan itu?”

Yang sialan itu kau, Bocah!

“Yu, kalian tak seharusnya sering terpisah begini.”

Kata-kata Xiafang membuatku melongok ke bawah, melihat bagaimana bocah busuk itu akan mendebat. Tetapi bukannya menyangkal atau apa, dia hanya menghela napas panjang.

“Aku tahu.”

Hah? Dia menyerah segampang itu? Sial, aku tidak jadi mendapatkan tontonan menarik.

Bocah belasan tahun itu langsung duduk di pembatas koridor, lalu mendongak ke atas. Mungkin niatnya ingin melihat langit atau apa, tapi itu membuatku harus bergegas melompat ke belakang agar tak ketahuan. Tetapi gerakan tiba-tibaku membuat genteng sialan ini bergeser dengan bunyi keras. Seketika, udara berpilin di belakangku, membuat bulu-bulu putihku berdiri waspada. Kutancapkan kuku di atas genteng dan mengeram pada sosok yang muncul dari udara kosong: seekor salamander hijau dengan senyum licik yang selalu membuatku ingin merobek mulut itu.

“Ketemu~” katanya senang. Seolah baru saja mendeklarasikan seruan kemenangan.

Aku tak berhenti siaga. “Qinlong, apa yang sedang kaulakukan di sini?”

“Mencarimu tentu saja.”

“Bukan itu maksudku. Kau seharusnya ada di Gunung Tai. Bukankah Tian Sheng ada di sana menyelidiki sesuatu?”

“Tetapi bukan hal baru untuk saya terpisah dari Tuan Muda Tian. Bagimu terpisah dari Tuan Muda Zhang, itu barulah hal baru untuk saya.”

“Aku sering terpisah darinya.”

“Tapi tidak tanpa sepengetahuannya, bukan? Mengapa kau bersembunyi darinya?”

“Karena aku bosan.”

Kami berdua terdiam. Tak lama, Qinlong tersenyum. Dalam satu gerakan cepat, ia menyambarku dengan ekornya dan membuatku terlempar dari atap. Refleks, kukeluarkan kuku sambil berputar di udara agar bisa mendarat di empat kaki. Awalnya aku berniat mendarat di lantai, tetapi mataku kemudian menangkap mata Yu. Sasaranku berubah.

Suara teriakan kesakitan menggema tepat bersamaan dengan menancapnya kuku-kuku kakiku di wajah bocah busuk itu. Belum sempat aku tertawa senang, keseimbangan bocah itu goyah hingga membuatnya terjatuh ke belakang ke arah kolam ikan, membawaku serta.

BYUUUR!

 

***

 

Xiafang terus saja mati-matian menahan tawa sambil mengeringkan buluku dengan kain yang berbau sama busuknya dengan bocah itu. Aku sempat protes, tapi Xiafang beralasan kalau ini kain paling bersih yang bisa ditemukannya. Paling tidak, lebih baik dari kain yang dipakai Yu untuk mengeringkan diri.

“Kurasa, kita bisa menunda keberangkatan,” kata Xiafang tiba-tiba.

Aku mendongak, demi mendapati gadis yang seumuran dengan Yu itu tersenyum tulus. “Benarkah?”

Xiafang mengangguk. “Hmm-mm. Aku berniat mengajak Liyin ke pasar untuk mempersiapkan lebih banyak bekal. Kenapa kau tidak pergi dengan Yu berburu siluman?”

“Kau ingin kami berburu bersama?” sahut Yu tanpa peduli bahwa aku pun sebenarnya juga ingin protes. Dasar bocah sialan.

“Tentu saja. Kalian berdua memang seharusnya belajar bekerja sama kan?” Xiafang lalu menoleh pada Qinlong yang dari tadi sibuk bermain-main di tumpukan kain. “Kau mau membantuku mengawasi mereka, Qinlong?”

Qinlong menghentikan kegiatannya dan tampak bingung ketika menoleh pada Xiafang. Tapi tak lama. Karena ia kemudian mengangguk paham. “Saya mengerti, Nona. Serahkan saja pada saya.”

Xiafang tersenyum lagi. Lalu mengangkatku dari pangkuannya dan beranjak menuju Yu. Setelah menyingkirkan kain dari kepala bocah itu dan membantu mengikat rambut Yu, Xiafang berkata, “Berjanjilah padaku, jangan membuat masalah.”

“Apa maksudmu ‘membuat masalah’?”

“Jangan mengacau, jangan menghancurkan barang, jangan memancing emosi orang, jangan … kau yakin ingin aku menjabarkan apa maksudku dengan ‘membuat masalah’?”

“Kau bukan ibuku. Juga bukan kakakku. Urus urusanmu sendiri.”

Xiafang seketika berkacak pinggang dengan wajah serius. “Zhang Yu, ayahku adalah kakak seperguruan ayahmu. Sama artinya aku ini kakakmu. Saling mencampuri urusan, itu kan arti keluarga?”

Tak menjawab, bocah itu hanya membuang muka dengan ekspresi wajah yang membuatku ingin tertawa senang.

Setelah yakin tak ada lagi yang protes, Xiafang meninggalkan kami bertiga. Begitu gadis itu sudah tak terlihat lagi, aku menatap tajam Yu. Bocah itu dengan kurang ajar membalas tatapanku sama tajamnya. Tak ada yang bicara. Hanya keheningan yang disertai dengan campuran rasa jijik dan tak percaya.

Tiba-tiba Qinlong menyela, “Jadi, kita mau ke mana sekarang?”

Refleks aku menoleh padanya. “Ngomong-ngomong, Qinlong, sebenarnya mau apa kau ke sini? Mencariku untuk apa?”

Bergantian, Qinlong memandangku dan Yu. Lalu membalikkan badan dan menundukkan kepala. “Saya tersingkir.”

Aku bertukar pandang dengan Yu, tak mengerti maksud salamander hijau itu. Kami pun kembali berpaling pada Qinlong, “Haa?”

Aku tidak percaya ini. Tapi, Qinlong tiba-tiba berbalik kembali dan menatap kami dengan mata berkaca-kaca. “Tuan Muda Tian tak membutuhkan saya lagi. Tuan Muda tak menyayangi saya lagi. Ia menyuruh saya pergi karena mengganggu. Apa yang harus saya lakukan sekaraaang?!”

Sekali lagi, aku dan Yu bertukar pandang. Langit, apa kau ingin aku menjadi pengasuh, sekarang? Kurang sial apa lagi, aku ini?

 

***

 

Matahari sudah tinggi ketika si bocah busuk itu memaksa kami mengikutinya menuju kota. Bukan ke arah pusat keramaiannya, karena aku takkan protes jika begitu adanya. Tapi ia malah membawa kami ke daerah kumuh. Mengejar siluman kecil yang sering mengacau rumah makan. Bukan hanya bayarannya kecil, melainkan juga aku-lah yang dimanfaatkan untuk jadi pelacak. Ya Langit, sampai kapan bocah itu membuatku melakukan hal-hal rendah macam ini, mentang-mentang yang tengah kami kejar adalah Siluman Tikus?!

Aku mendongak ke atas, ke arah Qinlong yang tengah terbang untuk mengawasi dari atas. Sungguh, aku takkan keberatan punya sayap.

“Xiaohu, jangan meleng! Apa kau sudah menemukan sesuatu?”

Sudah cukup!

Aku berbalik menghadap Yu, demi mendapatinya memandangku dengan tatapan merendahkan. “Kenapa tak kaulakukan sendiri, Bocah?”

“Bukankah hidungmu lebih tajam dariku, Xiaohu?”

“Kalau kekuatan penuhku sudah kembali dan aku bisa kembali ke wujud asliku, kau takkan berani menyebutku ‘kecil’.”

“Tapi saat ini kau hanya kucing kecil. Terima saja itu. Lagi pula, kau takkan pernah kembali ke wujud aslimu tanpa aku.”

“Kau juga takkan bisa memaksimalkan kekuatanmu tanpa aku.”

“Aku baik-baik saja dengan kekuatanku yang sekarang.”

Kami berpandangan lama. Lalu entah siapa yang memulai, aku sudah melompat ke arahnya dan ia pun sudah mencabut pedangnya.

Aku membuka mulut dan mengeluarkan gelombang eongan dengan cepat. Sialnya, Yu dengan sigap menghindar dan seranganku hanya menghantam tumpukan kayu di sudut gang. Begitu mendarat di tanah, aku membeku melihat bekas tumpukan kayu itu. Begitu pula Yu.

Di sana, seekor tikus merah terdiam saking kagetnya. Untuk sesaat, kupikir waktu sudah berhenti dan membekukan kami. Namun, sesaat kemudian, tikus merah itu mencicit keras dan melesat dengan kecepatan tinggi. Belum sempat aku dan Yu bereaksi, sesosok hijau sudah melesat di antara kami sama cepatnya. “Apa yang kalian tunggu?! Kejar!”

Seruan Qinlong seolah membangunkan kami. Tak membuang waktu lagi, aku dan Yu bergegas menyusul.  

 

***

 

Brengsek! Ini baru yang namanya pengejaran sia-sia.

Langit sudah memerah karena tenggelamnya matahari. Dan kami bertiga berbaring di atas padang rumput karena kecapaian. Tujuan utama kami adalah membasmi siluman yang jauh lebih besar dan berbahaya, kenapa sekarang kami malah kelelahan karena siluman rendah?

“Aku tidak pernah bisa tahan menghadapi siluman kecil macam itu,” keluh Yu sambil bangkit untuk duduk. “Padahal siluman-siluman berbahaya bisa kuatasi. Apa yang salah denganku?”

Tiba-tiba Qinlong mendengus geli. “Sekarang saya tidak ragu lagi kalau Tuan Muda Zhang benar-benar berjodoh dengan Baihu.”

“Apa maksudmu?” sahut kami berdua bersamaan, merasa tersinggung.

“Karena Baihu juga selalu ahli dalam mengatasi hal-hal besar, tapi tak bisa diharapkan untuk membereskan hal-hal kecil.”

“Maksudmu aku juga seperti itu?”

“Saya tidak bermaksud lancang, Tuan Muda. Tapi memang seperti itu kenyataannya.”

Entah kenapa, itu membuatku tertawa. Ketika Yu mulai memajukan mulut dan menatapku kejam, aku semakin tertawa. Pada akhirnya, bocah busuk itu hanya bisa mengumpat kesal.

 

***

 

Kembali ke kediaman Han, kepulangan kami disambut oleh seorang bocah yang bahkan lebih muda dari Yu, yang tentu saja langsung membuat Qinlong kembali berkaca-kaca.

“Qinlong, selamat datang kembali,” kata bocah itu senang.

Refleks, Qinlong langsung melesat ke pelukan bocah itu. “Tuan mudaaa! Jangan menyuruh saya pergi lagi.”

“Maaf, maaf. Saat itu kan memang makhluk mistis tidak bisa masuk ke sana. Bukankah sudah kusuruh untuk pergi bersama Zhuque dan menyerahkan semuanya padaku dan Kakak Xiang?”

“Jadi, Tuan Muda tidak membenci saya?”

“Tentu saja tidak. Aku terlalu menyayangimu untuk bisa membencimu. Jangan bilang kalau kau salah paham dan mengira aku benar-benar menyuruhmu pergi.”

Qinlong tak menjawab, tapi tangisannya sudah menjelaskan segalanya.

“Sebentar,” sahut Yu. “Sheng’er, kau tadi menyebut nama Kakak Xiang? Apa dia ikut?”

“Tentu saja. Dia ada di halaman belakang bersama Kak Xiafang dan Kak Liyin menyiapkan rusa bakar untuk makan malam serumah.”

Mataku seketika membulat. “Rusa bakar?”

“Iya, rusa bakar, hasil buruanku dan Kakak Xiang di Hutan Utara.”

Baru hendak memburu ke halaman belakang, aku menangkap tanda-tanda bahwa Yu sepertinya ingin kabur. Aku pun berbalik cepat dan menajamkan buluku. Belum sempat bocah busuk itu lari, kulesatkan beberapa helai bulu ke arah titik-titik akupuntur penting tubuhnya. Yu membeku seketika, lalu terjatuh dengan wajah langsung membentur lantai. Aku tak merasa kasihan sama sekali.

“Sheng, bantu aku membawanya masuk.”

Sheng sempat melirik ngeri bulu setajam jarum milikku pada beberapa titik tubuh Yu sebelum akhirnya menuruti apa yang kukatakan. “Baihu, kau benar-benar kejam. Kau tahu betul kan kenapa Kakak Yu ingin lari?”

“Tentu saja.”

Aku dan Sheng bertukar pandang. Lalu kami tertawa. Sementara Qinlong menatap Yu prihatin.

 

***

 

Yah, aku takkan bilang ada masalah antara Yu dan Zhu Xiang. Tetapi bocah itu selalu tak bisa berkutik di hadapan gadis muda yang lebih tua darinya itu. Penyebabnya sepele: sikap dan perawakan Zhu Xiang sangat mirip dengan Gao Yimei, mendiang ibu Yu. Situasi ketika keduanya berada di tempat yang sama adalah salah satu yang terbaik. Seperti kali ini.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Aku bahkan tidak menatapmu,” kata Yu lirih.

“Apa? Aku tidak dengar apa yang kaukatakan. Kau ini laki-laki atau perempuan? Bicara lirih sekali.”

Perlahan, Yu mendongak, demi mendapati Zhu Xiang menatapnya tajam. Bocah itu pun membuang muka lagi. Ia bahkan masih tak mengangkat kepala ketika menerima uluran sepiring potongan daging rusa bakar dari Zhu Xiang. Baru setelah Zhu Xiang menjauh, Yu berani menatap punggung gadis itu, seolah merasa terganggu.

“Pengecut,” kataku begitu duduk di sebelah Yu.

“Cerewet.”

Perlahan, aku melirik daging rusa bakar yang belum disentuh Yu. “Kalau itu tak kaumakan, berikan padaku.”

Yu menatap bergantian aku dan daging rusa itu, lalu mengambil daging itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Dari ekspresi wajahnya, jelas-jelas dia ingin pamer. Dasar bocah busuk!

Aku langsung menyingkir darinya dan mencari Qinlong. Tetapi salamander itu sedang berasyik-masyuk bersama Sheng di pojokan menikmati sepotong besar daging rusa bakar. Sepiring berdua, bikin iri saja.

Aku mengabaikan para pelayan yang juga mendapatkan jatah daging dan sedang berkumpul sambil bercanda dengan Han Jinlong, tuan besar mereka sekaligus ayah angkat Xiafang. Para gadis—Xiafang, Liyin, dan Zhu Xiang—tengah ngobrol entah apa. Aku tak terlalu ambil pusing. Jujur saja, pada saat seperti ini, aku merindukan Lu Yuanli. Lelaki itu sangat mirip dengan Zhongguan, sangat sopan dan baik memperlakukan para makhluk mistis sepertiku. Sialnya, aku tak seberuntung itu mendapatkannya sebagai “Tuan”. Justru si reptil aneh Xuanwu itu yang beruntung berjodoh dengannya. Aku sungguh penasaran sedang apa mereka sekarang. Seharusnya mereka sudah sampai di perbatasan Liao. Meskipun Yuanli tidak bisa silat, aku tidak khawatir. Xuanwu lebih dari mampu untuk menjaga lelaki itu.

“DAR!!!”

Seruan itu seketika membuatku terlonjak kaget. Aku langsung berbalik demi menemukan sesosok burung vermilion kecil berwarna merah sedang terbang mengitari kepalaku, lalu melesat menuju api unggun dan menenggelamkan diri ke dalamnya. Begitu burung kecil itu muncul kembali, api unggunnya membesar. Ia pun terbang kembali ke arahku.

“Ya Baihu yang biasanya selalu tak bisa diam, apa yang kaumurungkan di malam yang indah ini? Padahal tadi sudah menghabiskan begitu banyak daging. Kau seharusnya ikut berbahagia bersama semua orang ini.”

Aku mulai duduk dan menjilati bulu-buluku. “Zhuque, itu bukan urusanmu.”

Seolah tak memedulikan kata-kataku barusan, Zhuque mendarat di depanku dan menempelkan dirinya padaku.

“Hoi, kau tidak lihat aku sedang apa?”

“Tapi aku kedinginan.”

“Omong kosong. Kau membawa elemen api. Kau seharusnya selalu merasa hangat.”

“Tapi kau kedinginan.”

“Apa hubungannya?”

“Aku bisa menghangatkanmu.”

Aku tidak tahan lagi. Tanpa peringatan, aku langsung mencaplok Zhuque hingga ia berada di dalam mulutku.

“Kyaaaa! Baihu, jangan bercanda, kau tidak akan memakanku, kan?”

Aku mengeretakkan gigi-gigiku.

“Baihu, jangan bercanda lagi, turunkan aku.”

Aku menguatkan gigitanku. Membuatnya semakin menjerit-jerit.

Tapi entah kenapa, mendengar caranya menjerit, aku merasa Zhuque sedang menikmati ini dan menganggapnya hanya main-main. Apa dia pikir aku takkan memakannya? Menurut rantai makanan, kucing posisinya ada di atas burung. Jadi, sudah takdir jika ia akan berakhir di dalam perutku.

“Kyaaa! Kyaaaaa!”

“Gau suedyang mengimaki ingi khang?”

“Aku sedang menikmati ini? Kyaaa, kau bercanda, Baihu.”

Dia benar-benar sedang menikmati ini.

Aku refleks memuntahkannya ke arah api unggun. Begitu keluar dari api unggun, Zhuque melesat ke arahku dan mulai merajuk. “Baihu jahat! Jangan memuntahkanku lagi seperti itu!”

Setelah mengatakan itu, burung vermilion merah itu melesat pergi menuju Zhu Xiang, nona kesayangannya.

Ya Langit, segel aku kembali. Aku serius. Atau paling tidak, bawakan aku teman bicara yang lebih rasional seperti Xuanwu atau Yuanli. Aku bosan. Benar-benar bosan.

“Aku juga bosan.”

Suara yang tak terdengar antusias itu membuatku terkejut. Aku segera menoleh, demi menemukan bocah busuk itu sedang bersila di sebelahku.

“Apa maksudmu ‘juga’?”

“Barusan kaubilang ‘bosan’, kan?”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Eh?”

Kami berpandangan bingung. Apa maksudnya? Jangan bilang bahwa bocah itu bisa membaca pikiranku.

“Jangan bercanda, Xiaohu. Mana mungkin aku bisa membaca pikiranmu.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Eh?”

Serius. Ini mulai mengerikan. Dan aneh. Sebelumnya, Zhongguan, atau “Tuan”-ku sebelumnya, tidak pernah bisa membaca pikiranku sekali pun. Atau sebenarnya mereka bisa, tapi menyembunyikannya dariku? Jadi, mereka berkonspirasi untuk membuatku merasa “tinggi” agar bisa memancing rasa patuhku? Jadi, mereka—

Hentikan! Hentikan pikiran ini! Semua ini pasti bukan apa-apa! Pasti bukan apa-apa!

“Kau yang harus menghentikan pikiran anehmu itu, Xiaohu. Isi otakmu itu benar-benar menggangguku, apa kau tahu?”

“Yu, sejak kapan ini terjadi?”

“Sejak awal. Sejak pertama kali aku membuka segelmu. Tapi semua ini hanya bisa terjadi kalau kau ada di dekatku.”

“Itu menjelaskan kenapa kau tak bisa menemukanku tadi pagi.”

“Ya.”

Kami terdiam.

Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa membuka mulut kembali. “Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?”

“Karena terdengar…”

“…aneh?” kataku melengkapi kata-katanya yang terputus.

“Ya.”

“Kita tidak perlu membahas ini dengan yang lainnya kan?”

Yu menyapu pandang ke seluruh halaman belakang, mengawasi satu demi satu penghuni halaman. Tanpa menatapku, ia mengangguk setuju. “Sepakat. Tak seorang pun perlu tahu. Kalau ada yang tahu, bisa-bisa mereka memunculkan ide-ide aneh soal … yah, ini-itu.”

Aku paham. Tanpa “pengetahuan” itu saja, kami sudah dipaksa bekerja sama demi kepentingan yang jauh lebih besar. Kalau mereka tahu tentang hal ini, sudah pasti kesialanku akan semakin bertambah. Bukan hanya dipaksa bekerja sama, mungkin aku akan dipaksa tidur di ranjang Yu.

“Xiaohu.”

“Apa?”

“Hentikan pikiran anehmu itu.”

Kami bertukar pandang. Hanya satu kata yang bisa kugunakan untuk menjabarkan apa yang ada di mata kami masing-masing: jijik. Kurasa kami benar-benar harus menjauh untuk sementara.

“Kita benar-benar harus menjauh.”

“Aku tahu.”

Tanpa mengatakan apa pun lagi, kami bangkit dan beranjak menuju arah yang berseberangan. Dia menuju Sheng dan Qinlong. Sementara aku melompat ke atas pagar halaman belakang dan duduk di sana.

Ya Langit, kumohon jangan beri aku kesialan lagi. Karena untuk pertama kalinya, aku menyesal sudah terbangun dari tidur panjangku.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vadis
vadis at Tantangan: Kesialan Harian Baihu (4 years 40 weeks ago)
100

Aocchi,

Saya mau minta izin kamu untuk memasukkan cerita ini dalam kumpulan cerpen Everna - Hikayat Tiga Zaman, untuk terbit online di Wattpad.com. Nanti nama penulis di kumcer itu tetap pakai nama kamu.

Jawaban kamu saya tunggu secepatnya di PM fb saya, www.facebook.com/andrychang atau e-mail di andrychang-at-gmail-com. Sebelumnya, terima kasih banyak.

Writer Foo
Foo at Tantangan: Kesialan Harian Baihu (5 years 11 weeks ago)
60

Xiao tang, si kunci tang..

Writer citapraaa
citapraaa at Tantangan: Kesialan Harian Baihu (5 years 11 weeks ago)
2550

haha. lucu. ckck :)

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan: Kesialan Harian Baihu (5 years 11 weeks ago)
100

Mampir kasih 10 poin buat peserta PTK SoL Fantasy yang udah pos cerpennya sebelum tanggal 28. Makasih. :)
.
*Menahan diri untuk tidak berkomentar lebih dulu. Lantas gagal*
Haduh, Zhuque gemesin banget pas dikunyah. > .<
*Berdeham*Kembali jaga imej*
.
Ditunggu reviewnya, ya, Ao. Tetap semangat! ^^/

Writer cat
cat at Tantangan: Kesialan Harian Baihu (5 years 11 weeks ago)
80

Xiaohu muncuuul asyeeek. Jangan jadi gedeee