Review: Tantangan Olfaktori

Review Tantangan Olfaktori

 

Halooo~

Perkenalkan, saya penantang untuk tantangan olfaktori. Maapkan kalo belum komen di masing-masing cerpen karena emang mau sekalian digabung aja gitu di sini. Biar bisa panjang-lebar.

Pertama, saya bikin tantangan ini bukan sekedar, “Ah, kayaknya asyik nih!” Tapi saya sendiri emang lagi nyelesein novel dengan tema serupa; yang tokohnya akan lebih banyak menggunakan deskripsi olfaktori karena dia punya kelainan phantosmia—suka nyium bau atau aroma yang sebenernya gak ada, tapi dia anggap ada. Ternyata … setelah hampir setengah tahun saya matengin tema ini, riset, dan segala macam, saya baru mengerti kenapa deskripsi olfaktori itu sulit kalo gak sering dilatih. Beda dengan deskripsi visual yang dengan mudah bisa kita pake karena emang kita sangat bergantung dengan mata. Misalnya ada satu benda, kita dengan mudahnya bisa menjelaskan warna, bentuk, dan apapun yang bisa langsung kelihatan. Tapi sesering apa sih, kita lebih dalam menjelaskan? Misalnya dengan mendeskripsikan bau, tekstur, suara, dan lainnya yang membuat deskripsi kita kaya dan gak klise? Karena itu kan, yang selalu berusaha dihindarkan oleh penulis; klise. 

Menggabungkan banyak tipe deskripsi bukan hanya akan membuat apa yang kita deskripsikan itu terasa beda, tapi juga terasa “ada”. 

Masalah pertama dengan deskripsi olfaktori ini adalah; bebauan itu sampe sekarang belum terjelaskan berapa banyak sebenarnya dia ada. Beda dengan warna yang udah pake kode pantone atau hex, bebauan … susah. Karena itu profesi perfumer itu jarang. Bukan karena mesti punya hidung yang tajam, tapi harus punya logika untuk mengklasifikasikan bebauan itu dan itu gak segampang kayak kita milih parfum di konter. 

Beberapa penulis yang berhasil memasukkan deskripsi olfaktori dengan baik, membuat cerita mereka terekam lebih dalam. Karena—tidak seperti yang kita sangka—bebauan itu adalah hal pertama yang membangkitkan memori loh. Bukan warna, bukan bentuk, apalagi rasa. Tapi bau. Gak percaya? Coba aja kalo kamu lewat trus ada orang yang pake parfum sama kayak yang dipake mantan. Hahahaaa…. Pasti langsung keingetan. 

Jadi, tantangan ini lebih ke gimana caranya penulis memasukkan deskripsi tanpa menghancurkan apa yang udah ada. Bukan hanya memaksakan deskripsinya harus olfaktori. Karena itu saya minta hanya dua deskripsi aja … karena saya sendiri tau ini susah.

Ini saya kutipin sedikit gimana caranya buat mempertajam deskripsi olfaktori dari buku What the Nose Knows:

To be odor-aware, a person needs only an adequate nose, not a supersensitive one. Emile Zola, the nineteenth-century French writer, is a case in point. His novels were known for their abundant references to smell. Late in life he agreed to be examined by a panel of physicians and psychologists eager to trace creative genius to “organic” factors. Among other things, they did a thorough work-up of his sense of smell. It turned out that Zola’s sensitivity was somewhat below average, but not bad for someone in his mid-fifties. Despite his relatively dull nose, his sense of smell was quite refined—he liked to compare and analyze odors, and did so “with a confidence that always astonished his followers.” Zola’s memory for odors was especially good, and he was able to bring them to mind more vividly than colors or shapes. The investigating panel concluded that Zola’s fictional smells were more the result of a supple olfactory imagination than of nose-skills as such.

Jadi yang akan saya ubek-ubek di tiap cerpen bukan hanya gimana deskripsi olfaktori itu dibuat, tapi juga gimana dia diimajinasikan. Karena:

Anyone can drop a smell cliché into a story, yet only a few authors bring a true olfactory sensibility to their work.

Gimana sih, contoh deskripsi olfaktori yang cetaaar itu? Ini saya kasih sedikit contoh dari novel The House of the Seven Gables-nya Nathaniel Hawthorne.

The chimney of the new house, in short, belching forth its kitchen-smoke, impregnated the whole air with the scent of meats, fowls, and fishes, spicily concocted with odoriferous herbs, and onions in abundance. The mere smell of such festivity, making its way into everybody’s nostrils, was at once an invitation and an appetite.

Seperti Faulkner, Hawthorne menggunakan deskripsi bukan hanya sekedar deskripsi, tapi lebih dari itu; sebagai metafor.

Faulkner has been called “the most radical innovator in the annals of American fiction.” He didn’t get this reputation from the precise observations of his “sharper sense” he got it from a highly original use of smell as metaphor.

Karena itu dia terasa kuat dan gak klise.

The answer is that Emily Dickinson didn’t inhale fragrance like a normal person—she drank it. In her poems, the scent of flowers is nourishment. Describing the scent of spring, she calls herself “a drinker of Delight.” She gets drunk on fragrance: “Inebriate of Air—am I—/ and Debauchee of Dew.” She and the bee “live by the quaffing,” she on Burgundy, the bee on clover nectar. She raises flowers in order to consume their fragrance, which fuels her creative powers. There’s no denying it: Emily Dickinson was a fragrance vampire.

Berikutnya, tentang EYD, saya gak akan komentari karena itu dasar banget ya. ^^

Tentang plot, karakterisasi, dll mungkin dikit aja ya. Biar lebih banyak ngebahas deskripsi olfaktori aja. 

Jadi … inti dari tantangan ini adalah: saya gak mau menderita sendirian. Hahahahaaa!

Yang kedua: saya pengen pada akhirnya para penulis yang ditantang ini mulai membuka kemungkinan penggunaan deskripsi lain selain visual. Apapun. Olfaktori hanya salah satunya. Kerena … kita gak mau nulis yang klise, kan? Kita mau menulis sesuatu yang bukan hanya baik secara teknik (form) tapi juga baik isinya (content). Betewe, content ini bukan pesan moral doang, ya. Heheheee.

Sip. Baiklah. Mari kita review.

 

Tentang Bau Daging Panggang - Andrienelda

Menatap Ibu sambil menghirup dalam-dalam udara daging bakar. Manisnya bumbu-bumbu,  bau asin dari campuran keringat kedua orang tuaku dan garam yang sedang ditaburkan di atas daging matang.

Selain deskripsi yang di atas ini, sisanya klise. Sayangnyaaa…. Ah~

Sebenernya, menurut saya ini ya, karena ceritanya di bagian tengah tentang Jesse, bisa dimasukkan deskripsi olfaktori yang semacam bisa menjelaskan Jesse dan gak serupa dengan deskripsi lain. Jadi pas kenangannya diceritakan, rasanya bisa mengiris lebih dalam.

Itu yang pertama.

Beberapa bagian yang menjelaskan ini baunya kayak gini dan ini kayak gitu itu sebenernya udah bagus. Karena emang itu cara yang paling mudah untuk mendeskripsikan bau. Cara itu juga yang dipake para perfumer dan peneliti bau; mereka mengklasifikasikan berdasarkan kesamaan bau. Tapi karena kita penulis, bukan perfumer apalagi peneliti bau, tentu kita bisa memasukkan hal lain yang hanya penulis yang bisa lakukan; impresi. Memindahkan bau ke deskripsi yang mendekati bau itu dan tentu aja di bakalan disesuaikan dengan gimana pemahaman penulis dan juga sebanyak apa dia mengamati. Jadinya gak klise. (Sering banget ya, kayaknya saya pake kata klise? Heheheee.)

Misalnya, pernah gak sih teman-teman nyari perbandingan lain untuk bau darah selain dideskripsikan dengan “amis”? Soalnya darah kayaknya gak cuma amis. Menurut saya, dia lebih mirip ke bau logam. Kayak bau besi. Kalo amis kan, kayak bau ikan. Dan itu beda. Dan sepertinya lagi, amisnya darah itu bukan berasal dari darahnya sendiri. 

Atau, pernah gak sih teman-teman ngebedain bau hujan? Baunya lain-lain loh. Pas saya tinggal di dekat hutan, hujan itu baunya lebih basah. Lebih berat. Apalagi kalo bercampur dengan bau daun yang masih basah. Kalo setelah kemarau lama dan pohon-pohon meranggas, bau hujan itu jadi lebih ringan, kering. Sekarang saya tinggal di dekat pantai dan bau hujannya mirip bau uap air mendidih. Pernah kan, teman-teman masak air sampai mendidih dan ada uapnya? Baunya kayak gitu. Dan bau laut itu, menurut saya, gak asin. Bukan bau garam. Hahahaaa…. Laut itu uap air seperti hujan yang saya ceritakan tadi.

Hal-hal kayak gini yang sebenernya pengen saya liat dari cerita yang teman-teman tulis. Bukan deskripsi klise yang ditulis sekenanya. Demikian.

 

Partner - Bang Zoel

Saya udah beberapa kali ngebaca tulisannya Bang Zoel dan selalu ketemu kata-kata berat dicerna seperti ini:

Ah, aroma itu lagi, aroma yang terasa sangat familier. Manis bercampur sedikit asam, ditambah dengan aroma tembaga yang kuat. Aroma yang selalu mendatangkan warna abu-abu gelap di benakku, segelap permadani yang tertutup kelopak mawar.

Permadani tertutup kelopak mawar itu gimana ceritanya, Bang Zoel? Itu susah loh. Deskripsi yang lumayan berat dicerna. Soalnya selain di salah satu video klip Dewa19, saya belom pernah liat permadani tertutup kelopak mawar. Hiks. T.T

Kutarik napas panjang, lalu kulepaskan perlahan. Aroma tembok basah bercampur lumut, aroma kayu lembap yang membusuk bercampur sisa-sisa kotoran manusia, aroma alkohol bercampur asamnya keringat, dan aroma darah. Aroma sebuah gedung tua yang telah lama menjadi saksi bisu berbagai kekejaman di tempat ini. Hm, rupanya aroma keringat tiga pria dewasa di gedung ini yang kuendus barusan. Lalu kalau ditambah dengan aroma darah segar barusan, salah satunya mungkin mati atau terluka parah.

Bagian ini menarik walopun gak detail. Tapi tetep menarik, sih. 

Trus lanjut ke bawah. Aroma pahit….

Pertanyaannya? Pahit itu beneran aroma atau rasa? Soalnya pas ngebaca saya ngerasa itu kayak sesuatu yang seharusnya make lidah buat ngerasainnya, bukan pake hidung. 

Cerita ini twist-nya juga menarik. Walopun dari awal saya gak punya kecurigaan apa-apa sama si Dean. Entahlah ya, dari awal dia kesannya gak sigap dan rada gak bisa ngebaca kondisi aja. Tapi pas di bawah ternyata dikasih tau dia itu anjing, jadinya masuk akal. Hahahaaa…. Good job!

Tapi … ada tapinya ternyata, heheee, karena dia itu anjing yang punya penciuman lebih tajam dari manusia, seharusnya, menurut ekspektasi saya pada akhirnya, harusnya dia lebih bisa mendeskripsikan lebih banyak bebauan lagi. Jangan hanya keringat. 

Yak, segitu dulu review-nya. ^^

Kesimpulannya: karena deskripsi olfaktori ini jarang bisa yang make dengan baik, bahkan untuk penulis kelas dunia sekali pun, teman-teman bisa mulai melatih gimana cara makenya. Karena pada akhirnya novel atau cerpen itu bukan hanya tentang ide, tapi juga tentang storytelling. Banyak orang yang punya cerita tapi gak bisa menceritakan. Banyak orang yang bisa menceritakan, sayangnya yang dia ceritakan bukan cerita—kadang cuma racauan atau potongan adegan. Nyari orang yang bisa dua-duanya itu yang susah. 

Tetap semangat ya, teman-teman! Kalian berdua lulus. Tapi dengan berat hati, saya harus memilih salah satunya. Nanti Momod yang ngumumin, ya. ^^

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)

Jadi kepengen nyobaaaaaa!!! Bikin cerpen olfaktori!!! >______< b

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)
100

keren. dapet banyak masukan dari review ini. saya merasa tertantang (eh, tapi momen PTK udah lewat ding.... untunglah, haha....). menarik sih memberdayakan indra selain mata itu biar tulisannya kerasa lebih idup. kudu sensitif, imajinatif, dan sering dilatih itu ya. tantangannya kece banget nih. selain itu saya juga tergugah #halah sama penutupnya itu, yaitu gimana menjadi penulis yang selain punya banyak cerita yang emang layak untuk dibagi, juga tahu gimana cara menceritakannya. salut juga sama upaya risetnya. itu bagian dr menulis yang saya paling males hehehe.

Writer H.Lind
H.Lind at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)
100

Ulasannya keren, ciamik bgt.
Baru sadar kalau selama ini terlalu banyak menggunakan indra penglihatan buat mendeskripaikan sesuatu, tapi setelah dipikir2 emang susah kayaknya buat pake indra penciuman untuk menjelaskan sesuatu, mungkin karena selama ini impresi yang ditimbulkan oleh bau lebih tidak kita anggap penting untuk diingat.
Selain hawthrone, kira2 ada penulis lain gak kak yang gunain indra ini dengan intens, saya cm tahu Perfumenya Patrick Suskind.
Ditunggu Novelnya kak.

Writer Shinichi
Shinichi at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)
100

semoga peserta tantangannya tercerahkan dengan review ini. hohohoho. saya kasih poin aja :D
ahak hak hak

Writer Alfare
Alfare at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)

Hmmm. Ulasan ini mengingatkanku akan bau kopi. #plak

Writer xenosapien
xenosapien at Review: Tantangan Olfaktori (5 years 15 weeks ago)

*mampir lewat*
*menyimak*
Hmm.... :/
.
*kemudian berlalu*