Tersesat di Antah - Berantah

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memperoleh kembali kesadarannya. Mengucek matanya, karena pandangannya masih setengah kabur. Apa sudah pagi? pikirnya. Matanya masih terlalu berat, seperti baru tidur beberapa jam saja. Rasa kantuknya sungguh masih terasa. Ingin rasanya ia kembali tidur, sampai ia menyadari ada yang aneh.

Langit sudah terlalu terang, dan sinar matahari yang menembus celah – celah daun di pohon besar tempatnya berteduh terasa hangat menyirami tubuhnya. Matilah, ia pasti akan terlambat sekolah.

Bukan, bukan itu. Ada yang aneh, tapi apa?

Tunggu.. daun? Pohon besar..? Langit – langit kamarnya, kemana..?!

Seketika itu ia langsung mengubah posisi tubuhnya yang semula tidur menjadi duduk. Dan tak butuh waktu lebih lama untuk benar – benar menyadarinya.

Ya. Kamar, rumah, dan semua yang berada dalam rumahnya termasuk keluarganya, hilang.

Benar – benar hilang. Kini ia berada di tengah – tengah hutan.

Tunggu, ini tidak benar. Ia mencubit tangannya, sakit. Belum cukup, ia menampar pipinya sendiri. Masih sakit. Ini bukan mimpi. Lantas bagaimana ia bisa berada di sini?

Sejenak rasa takut menggerayanginya. Ia benar – benar ada di tengah hutan. Hutan dalam bayangannya, tak pernah baik.

“Adri..” namanya disebut bersamaan dengan sebuah tangan yang tiba – tiba menempel dipundaknya.

DEG !

Perasaannya menjadi tidak enak. Irama detak jantungnya mulai tidak teratur. Nafasnya mulai sedikit memburu. Titik - titik keringat dingin mulai muncul dari beberapa bagian tubuhnya.

“Hei,  Adri..!” namanya kembali disebut. Kali ini lebih keras.

Tunggu. Suara itu... ia sepertinya mengenalinya. Sepertinya ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Tidak, tidak. Ia yakin pernah mendengarnya.

Seiring dengan itu, perlahan rasa takutnya mulai pudar. Ia pun memberanikan diri untuk menoleh.

“ASTAGA, Rein !” teriaknya.

“Ssst.. kecilkan suaramu. Kau sudah bangun, kan? Ayo, kita harus cepat!” tukas pemuda bernama Rein itu. Tentu saja kata - katanya membuat pemuda satunya yang di panggil Rei bingung.

“Cepat.. kemana? Kita ada di mana? Di mana semuanya?”

“Kau ini bicara apa? Kita ada di Arena tentu saja!” katanya sembari membereskan peralatan dan memasukkan peralatan itu ke dalam tas yang tiba – tiba sudah ada di sana sebelum Adri menyadarinya.

“Tunggu, tunggu. Apa? Arena?”

“Iya, Arena. Bawa ini!” jawabnya sambil melempar tas ke arah temannya itu. “Kau ini kenapa?” lanjutnya.

“Tidak, tidak. Hanya saja, kenapa aku bisa ada di sini?” Adri kembali bertanya.

“Kau ini lupa atau bagaimana? Kita dipilih mewakili kota dalam permainan ini,”

“Permainan?”

Seketika itu Rein menoleh ke arah lawan bicaranya itu. Kalau boleh dibilang, justru ia yang tidak mengerti mengapa temannya bertingkah aneh.

“Kau ini benar – benar tidak ingat? Atau tidak tahu sama sekali?”

“Tidak keduanya,” jawabnya singkat.

“Intinya, kita berada dalam permainan. Kita berdua harus membunuh peserta dari kota lain jika kita ingin selamat,” jelasnya.

“Apa? Maksudmu seperti Hunger Games?

Hanger Games? Apa itu seperti lomba menjemur pakaian? Bukan, bukan. Maksudku, membunuh. Benar – benar membunuh.”

Ia mencoba mencerna kata – kata Rein. Membunuh orang untuk selamat dari permainan? Benar – benar membunuh? Kedengarannya seperti game fantasi yang biasa ia mainkan dalam konsol game nya.

“Kau.. bercanda?”

“Bodoh. Mana mungkin?” Rein menjawab sambil mulai melangkah menyusuri hutan.

Ia terdiam sejenak. Kakinya perlahan mengikuti langkah Rein tanpa disadarinya.

“Hei, Rein.” Panggilnya tanpa menghentikan langkahnya.

“Sekarang apa lagi?” kata pemuda yang berambut poni itu tanpa menoleh dan juga tetap melanjutkan langkahnya.

“Apa ini nyata?”

“Hah?” kali ini ia berhenti. “Bukan, ini mimpi.” Lanjutnya lagi.

“…”

Hening sejenak.

“…”

Bukk..!

Sebuah bogem mentah mendarat seketika di pipi Rein dan membuatnya tesungkur.

“Aww, sakit..!!!. Kau ini apa – apaan?!” bentaknya langsung.

“Kau bilang ini mimpi? Tapi .. ini nyata! Shh!” Adri menjawab sambil mendesis pelan.

“Ya jelas ini nyata. Dunia mana yang sedang kau bicarakan?”

“Uh-oh. Aku mengerti. Baru kusadari saat meninjumu barusan. Tanganku sakit. Shh..,” katanya sambil mengibas – kibaskan tangannya.

“Bodoh, wajahku yang sakit !!”

*****

Ia masih berada selangkah di belakang temannya. Hanya mengikuti ke arah yang temannya itu pimpin. Satu jam yang lalu, Rein memberitahunya strategi yang akan mereka pakai untuk menang. Paling tidak, ia sudah mengerti. Mereka hanya perlu bertahan tanpa terbunuh sampai seluruh peserta lain saling bunuh. Dan ketika saat itu tiba, mereka hanya perlu membunuh peserta yang terakhir.

Atau seharusnya seperti itu.

“Tunggu,” Rein berbisik lemah sambil tangannya memberi isyarat untuk berhenti. Setelah itu ia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di semak – semak. Adri melakukan hal yang sama.

“Lihat. Dua orang itu, yang memakai pita merah. Mereka peserta dari kota satu.” Rein kembali berbisik. “Merekalah lawan terkuat kita, berdoa saja mereka mati lebih dulu.” bisiknya lagi.

Tapi yang membuat Adri tercengang bukan itu. Ternyata selama ini dia juga memakai pita berwarna kuning!

Bukan, bukan itu.

Yang membuatnya terkejut adalah dua orang paruh baya yang berada di sana juga, yang sedang berlutut dengan tangan terikat di belakang dengan pita ungu di lengan mereka. Tidak salah lagi. Mereka orang yang sering muncul di televisi.

“Tunggu, Rein. Dua orang itu yang memakai pita ungu. Bukankah mereka−”

“Iya. Tepat sekali.”

Ia tercengang. Tak seperti hunger games, di sini siapapun bisa terpilih. Siapapun, dan tanpa batasan umur. Ia membayangkan jika ada kakek – kakek yang sudah sangat tua yang terpilih dan sudah meninggal lebih dulu sebelum melakukan apa – apa. Oh, shit.

STAB ! STAB!

Pemandangan barusan itu membuatnya kembali fokus. Ia dan Rein masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berdua sama – sama shock dengan apa yang baru saja mereka lihat.

“Oh, sialan!”

Dua orang berpita ungu itu, kini sudah mati dengan belati tertancap di punggung mereka. Dan Rein tanpa sengaja mengucapkan kata – katanya dengan keras sehingga orang – orang berpita merah itu kini melihat ke arah mereka. Dan mereka mulai bergerak mendekat.

“Rein, lari!” teriak Adri tanpa pikir panjang dan segera lari meninggalkan TKP. Rein pun mengikuti langkah temannya itu tanpa pikir panjang. Dan jelas pemuda – pemuda kota satu itu ikut berlari mengejar.

Mereka berdua pun berlari tanpa menghadap ke belakang. Sambil sesekali sedikit melompat melewati akar pohon yang menonjol ke atas tanah. Kini mereka benar – benar berusaha melarikan diri dari kematian. Bulu – bulu roma mereka sudah berdiri sedari tadi. Kalau saja mereka tidak sedang lari, kaki – kaki mereka pasti sedang gemetaran. Pakaian – pakaian mereka juga sudah mulai basah oleh keringat, yang entah itu keringat karena lelah atau karena takut. Atau keduanya. Tapi rasa lelah itu sudah hilang oleh rasa takut.

“Hei.. berhenti kalian! Jangan lari!” teriak seorang pria yang terdengar menggelegar. Dari volume suaranya, jaraknya masih cukup jauh. Mereka harus bisa lebih jauh lagi.

Cih, dunia ini saja sudah tak masuk akal. Ditambah permainan konyol ini, apa – apaan?

STAB!

“Guaahhh ..!!” Suara teriakan Rein seketika mengejutkannya. Detik itu juga ia menoleh ke belakang.

Pemuda itu.. kini sudah jatuh tengkurap ke tanah.

“Rein..!!” teriaknya seketika saat ia melihat pisau yang menancap di punggungnya. Ia langsung menghampiri temannya yang kini kesakitan di tanah.

“Rein...,” panggilnya  lirih sembari mencabut pisau yang menancap di punggungnya.

“A..dri..” katanya dengan suara yang terputus – putus.

“Ya?”

“Ce..pat.. la…ri….!” Suaranya semakin terputus.

“Tapi—” Adri menyeka air matanya yang mulai muncul di sudut matanya.

“Ce..pat..!!”

“Itu mereka !! Lempar !” kata salah seorang pemuda berpita merah yang tiba – tiba sudah mencapai jarak pandangnya, dan disertai lemparan pisau oleh pemuda satunya lagi. Kali ini, pisau itu berputar cepat dan lurus, tepat ke arah wajah Adri.

Ia bisa melihatnya. Pisau itu, putarannya, seluruhnya, seolah – olah berada dalam slow motion. Namun gerakan tubuhnya juga terasa lambat. Ia tak bisa bergerak menghindari pisau itu dalam kecepatan ini. Alam waktu seperti ini.

DEG !

Ia tersadar pada waktu yang normal kembali. Pisau itu masih berputar cepat ke arahnya. Refleks, ia mengangkat kedua tangannya sebagai perisai.

STAB !

“Guahh..!!” teriak Rein disertai darah keluar dari mulutnya.

Iya, Rein. Yang tanpa sadar tubuh temannya itulah yang ia angkat untuk dijadikan perisai.

“Rein..!!” orang yang dipanggil tidak merespon.

“Hei, Rein..!! bangunlah !! Jangan bercanda..! ”

Rein masih tidak merespon. Ia tetap diam.

“Oh, sialan. Sekarang akulah yang membunuh sahabatku. Astaga!”

 

*****

Kini ia berlari sendirian. Meninggalkan sahabatnya itu jauh di belakang. Kakinya mulai mati rasa. Tubuhnya mulai lelah. Namun membayangkan pisau tadi menusuk punggungnya, membuat rasa lelahnya sedikit memudar. Sebenarnya, tas yang dibawanya akan melindungi punggungnya.

Bukkk..!!

Ia menabrak sesuatu yang keras namun kenyal di hadapannya. Seketika itu juga ia jatuh terduduk ke belakang.

Ia tercekat ketika menyadari benda apa yang ditubruknya barusan. Mungkin lebih tepat jika disebut.. makhluk. Bukan, orang. Atau lebih tepatnya lagi, peserta.

Ia sejenak berpikir. Benda kenyal yang tadi di tubruknya itu.. adalah perut?

Bodoh, apa yang ia pikirkan?

Detik berikutnya, ia melihat pita yang terpasang pada lengan orang itu. Jingga. Berarti dia adalah peserta dari kota selain satu, atau lima. Bukan juga tujuh karena tujuh adalah kotanya. Berarti, kota berapa? Dan sebenarnya berapa kota yang ikut dalam permainan konyol ini?

Butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa ia dalam bahaya, sampai orang di hadapannya itu mengeluarkan senjatanya. Kapak. Ukurannya relatif besar, tapi wajar bagi orang berpostur sepertinya.

Oh, sialan. Kapak… sebesar itu? Aku lebih baik mati dilempar pisau !

Namun, tak ada waktu baginya bahkan untuk sekedar berteriak. Kapak itu sudah mengayun telak ke arahnya.

Lalu semuanya selesai.

 

*****

 

“Huahh..!!” Ia terbangun. Nafasnya tersengal – sengal, irama jantungnya kacau. Keringat mengucur dari dahi dan pelipisnya. Pakaiannya basah kuyup oleh keringat.

Ia mencoba menenangkan dirinya sejenak. Ia sudah kembali ke kamarnya. Ini bukan lagi di tengah hutan. Ia sudah pulang.

Pulang?

Tunggu, apa yang barusan itu benar – benar terjadi? Atau jangan – jangan… hanya mimpi?

Tapi, kalau dirasakan.. keduanya rasanyatidak mungkin. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk. Dan ia sekarang berada di sini, di kamarnya sendiri. Bukankah artinya tadi itu hanya mimpi?

Akhirnya, ia memaksakannya pada satu hal, kalau semua itu hanya mimpi. Dan kalau dipikir lagi, semuanya memang terasa tak masuk akal.

Ia melihat kalender. Hari ini hari minggu, syukurlah. Berarti ia bisa menghabiskan seluruh harinya bermalas – malasan di rumah.

Jam dinding masih menunjuk pukul 11.00, artinya ia bangun terlalu siang. Ia kemudian melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dan menyalakan televisi. Acara pertama yang muncul adalah berita. Ia segera mengganti channelnya.

Tunggu dulu. Tadi…  apa?

Ia mengganti kembali ke channel tayangan berita tadi. Kali ini ia benar – benar terhenyak memperhatikan headline berita tersebut. Disitu tertulis “GUBERNUR KOTA LIMA DAN SATU STAFFNYA TEWAS DALAM KECELAKAAN MOBIL”. Disana juga ada sisipan foto gubernur dan juga staffnya.

Ia memutuskan untuk mematikan televisinya dan turun ke lantai bawah. Di meja makan, ada catatan kecil yang intinya adalah orangtua dan kakaknya pergi untuk menghadiri sesuatu. Artinya, ia sendirian di rumah.

Kemudian ia mengirim pesan singkat ke kakaknya, menanyakan ke mana mereka pergi. Dan sekali lagi, ia dibuat kaget becampur sedih dengan balasan kakaknya.

“Rein meninggal. Kecelakaan lalu lintas.”

Seperti itulah pesan yang tertulis pada handphone-nya.  Astaga. Dunia ini.. apa yang sedang terjadi?

Gubernur dan staffnya. Lalu setelah itu Rein, hari ini meninggal. Dengan sebab yang serupa, kecelakaan lalu lintas.

Sejenak pikirannya melayang ke tempat yang Rein sebut Arena itu. Mereka orangnya. Gubernur dan staffnya itu. Dua orang paruh baya berpita ungu yang di bunuh oleh dua pemuda berpita merah.

Tak lama setelah itu, giliran Rein yang terbunuh. Apa artinya mimpi barusan?

Tunggu. Gubernur dan staffnya? Lalu Rein? Berarti setelah itu−

“Oh, astaga.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 10 weeks ago)
80

Keren. Rasanya kurang panjang aja. Pingin baca lagi.

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 9 weeks ago)

hehe idenya berenti disitu :D
thanks sarannya :))

Writer Ryan_Ariyanto
Ryan_Ariyanto at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)
2550

membacanya serasa d dalamnya, keren

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 9 weeks ago)

thanks udah mampir sama komennya :))

Writer vi_roez
vi_roez at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)

bagus, menarik...saya tidak bosan baca antara kalimat satu dengan kalimat setelahnya...susunan kata dan kalimat menurut saya sudah pas....pandangan newbie dari saya :)

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)

saya juga newbie kok ^^
thanks anyway :))

Menurut saya, ceritanya agak terburu-buru. Mungkin kalau lebih 'pelan' akan lebih terasa ketegangannya. Ending-nya sendiri bagi saya tidak terduga sih :P Saya sempat berpikir, "Halah, ngimpi...". Namun, setelah lanjut dan menemukan kenyataan yang menyakitkan itu --pesertanya mati satu per satu-- yang terbersit dalam otak saya adalah, "Nah lho nah lho~". Halah. Satu lagi, cerita ini seru! Andai bisa lebih banyak 'action'.... Tapi nanti jadi kekerasan, ndak boleh juga ding =3= Ah, overall, this is great. Teruslah menulis~ xD Dan maaf, kalau sebagai newbie komentar saya terkesan sok tahu heehee.

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)

saya juga newbie kok ^^
sempet mikir jg mo di bkn selesai pas bangun, tp kayanya mainstream :D
thanks :))

Writer terong_ungu
terong_ungu at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)
80

Suka endingnya, yang mati semuanya kecelakaan lalu lintas?,,

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 13 weeks ago)

wkwk thanks :))

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)
70

seru (!)
dan akhirannya juga bikin tercengang, waha.
lucunya cukup kerasa, terutama yang ngejadiin Rein tameng itu (padahal sadis ya), dan ninju Rein (aduh kasihan ya Rein, kena mulu). tapi Hanger Games itu buat saya kurang ngena.
terus ada yang kerasa kurang mulus juga penceritaannya, semisal adegan yang dikatakan "slow motion", bisakah mendeskripsikan adegan tersebut sedemikian rupa tanpa harus secara langsung menyebutkannya "slow motion"? lalu bagian ketika ada pesan yang "intinya ibu dan kakaknya pergi menghadiri sesuatu" itu juga kesannya penulis buru2, ya emang ceritanya berasa thriller juga sih, tapi gimana kalau ga seperti itu membahasakannya? ga pakai "intinya"-lah, katakanlah. *saya sendiri agak bingung ngejelasinnya :P
"kemana" bukannya mestinya "ke mana"? "nafas" itu kalau menurut kbbi "napas".

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)

wkwk yang slow motion itu.. Mungkin kalo 'gerak lambat' lebih pas kali ya :v
kalo yg napas malah br tau wkwk. Anyway, thanks :))

Writer Amelia Kartika
Amelia Kartika at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)
80

awal-awalnya mikir kok mirip banget hunger games ya? tapi makin lama dibaca makin seru keren bangetttt

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)

emang agak maling ayam dikit sih wkwk
thanks anyway :))

Writer kemalbarca
kemalbarca at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)
100

wow, aku gak nyangka endingnya bisa sebagus itu, mantep!!
awalnya aku ngerasa cerita ini terlalu mirip hunger games, tapi tetep keren dan terus membuatku penasaran, apalagi adegan aksinya dijelaskan dengan baik
salut deh :D

Writer Madanevs
Madanevs at Tersesat di Antah - Berantah (5 years 14 weeks ago)

Ahaha.. thanks kak :))
nggaktau juga gmn bisa dapet ide kaya gitu :D