Tak Akan Lari Sinta Dikejar

Sabtu siang, tapi belum benar-benar siang. Matahari masih belum sampai di titik tengah belahan bumi. Hari yang dianggap indah itu, hari pendek untuk sekolah dan lebih panjang untuk bersenang-senang. Hari-hari yang paling ditunggu selama seminggu. Karena apa? Hari itu mengawali liburan di akhir minggu. Di sekolah Luki, setiap hari sabtu pulangnya memang lebih cepat dari hari-hari biasanya. Tentu anak-anak hepi kalau menunggu jam pelajaran di hari berseragam pramuka itu akan berakhir. Setelah itu, sudah anyak rencana bersenang-senang yang dibayangkan. Mulai main sepak bola di lapangan sepuasnya bagi para murid cowok. Gosip di kantin sampai bibir jontor buat para ceweknya. Atau pacaran mulai siang sampai diusir satpam. Saat malam pun bukan berarti kesenangan sudah berakhir. Berbagai rencana untuk keluar bareng teman, jalan-jalan ke mall, futsal, atau sekedar ngobrol-ngobrol di warung kopi sambi minum es teh. (Di warung kopi kok minumnya es teh?)

Dan saat sisa jam pelajaran cuman kurang lima belas menit. Bu Suhartini masih nampak menerangkan sejarah pemberontakan G30SPKI sambil menggambar skema historis waktu di papan tulis. Hampir seisi ruangan tampak lemas, merasa lapar, ngantuk, dan malas. Generasi muda jaman sekarang, susah sekali menghargai sejarah. Padahal tanpa sejarah yang dibuat oleh para pahlawan, belum tentu mereka bisa duduk dengan tenang di bangkunya saat ini. Belum tentu mereka bisa merencanakan kesenangan d hari sabtu itu.

Satu dua anak saja yang memperhatikan, terutama yng di bangku paling depan. Tunggu sebentar! Nmpaknya tidak semua. Sinta yang duduk di depan meja guru tengah sibuk berbisik memanggl-manggil Kemed. Menarik! Gadis serajin Sinta nggak dengerin guru menerangkan?

“Ssstt....Med!”

Yang dipanggil nggak mendengarkan. Dia lagi asyik tiduran di mejanya.

Sinta celingukan, mengawasi bu Suhartini, lalu melihat ke arah Rara yang duduk dua bangku di depan Kemed.

“Ra!” Bisiknya

Rara pun menoleh

“Panggilin Kemed!” Pinta Sinta masih berbisik

Tanpa mengangguk, Rara berbalik. Meminta Radit yang ada di belakangnya untuk memanggil Kemed. Radit pun melakukannya. Dan pemuda mungil yang dipanggil sudah menoleh ke arah Sinta dengan malasnya.

“Med, tukar tempat duduk!” Bisik Sinta, namun Kemed masih nggak ngerti, dia nggak begitu kedengaran apa yang dikatakan Sinta.

Sinta mengulanginya berkali-kali, tapi Kemed Cuma semakin memajukan wajahnya ke depan sambil mengerutkan alisnya. Dia masih saja nggak ngerti yang dikatakan Sinta. Gadis rajin yang lagi nggak wajar itu nggak kehabisan akal. Dia nyobek kertas binder di bukunya. (Ngapain kertas binder disobek coba?) lalu menulis apa yang dia inginkan. Melipatnya, lalu melempar ke meja Rara. Meminta kertas itu diberikan ke Kemed. Kertas itupun akhirnya sampai di tempat Kemed.

Kemed membacanya, dia mengangguk ngerti. Matanya celingukan mengawasi bu Suhartini yang masih sibuk nulis di papan. Setelah merasa aman, Sinta dan Kemed segera bertukar tempat duduk. Sekarang Sinta duduk di sebelah Luki yang masih sibuk menggambar di meja dengan cueknya. Bahkan kehadiran kekasihnya seolah dianggap biasa saja. Jeleknya pemuda itu memang suka cuek kalau lagi sibuk sama kesenangannya.

“Luk!” Bisik Sinta. Luki menoleh, lalu kembali menggambar.

“Nanti kita keluar yuk!” Ujar Sinta, Luki mengangguk

“Kita jalan-jalan!” Ujar Sinta lagi, Luki mengangguk

“Kamu jemput aku ya!” Pinta Sinta, Luki mengangguk

“Jam setengah tuju, gimana? Bisa kan?” Sinta memastikan, Luki mengangguk

Dan bel pelajaran berkhir pun telah bunyi. Anak-anak yang tadi tampak putus asa berubah jadi semangat empat lima. Nampaknya, yang bersisa dari peninggalan sejarah bagi anak-anak kelasnya Luki hanya semangat 45 nya saja saat jam pelajaran berakhir. Bahkan saat bu Suhartini berkata mau berkemas dan dengan kompak bilang “Yaah...nggak bilang dari tadi bu. Buku-bukunya sudah masuk tas!” Akhirnya, bu Suhartini dengan terpaksa harus mengakhiri pelajaran sejarah di hari itu.

*****

 

Luki baru sampai di rumah saat hari menjelang magrib. Sejak sepulang sekolah tadi dia asyik main sepak bola dengan teman-temannya. Kalau lagi main sepak bola memang suka lupa waktu. Satu jam, dua jam, bahkan tiga jam pun masih saja minta nambah. Nggak kalah sama Keceng kalau lagi nambah makn di kantin. Mereka baru berhenti saat diusir satpam. Ngusirnya pun suka kejar-kejaran dulu. Saat diusir, anak-anak pura-pura pulang. Saat pak satpam kmbali ke post satpam atau pas lagi patroli, anak-anak kembali ke lapangan buat main sepak bola lagi. Bahkan saat bolanya disita dan pak satpam kembali patroli, anak-anak sudah kembali ke lapangan. Main sepak bola dengan bola cadangan. Meeka baru berhenti saat pak satpam nungguin di lapangan. Itu pun nggak pada langsung pulang. Mereka malah asyik ngobrol, bercanda, dan ketawa bareng di depan sekolah. Apalagi Luki, dia sangat senang saat-saat ramai seperti itu. Bertemu teman, bermin bersama, bercanda, tertawa, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Makhluk itu menganggap masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, jadi dia nggak ingin menyia-nyiakannya.

Saat di rumah, dia langsung terlentang di lantai. Menikmati dinginnya keramik yang terasa segar di tubuhnya. Apalagi kakinya benar-benar terasa lelah. Mengistirahatkan kakinya. Melemaskan otot-ototnya yang sempat mengencang saat main bola tadi. Kalau sudah begitu, rasanya nikmat sekali Tuhan menciptakan keramik diantara lelah dan gerah. Dia baru bangkit saat bapaknya membangunkannya.

“Luk, bangun! Sudah mau magrib! Buruan mandi terus siap-siap buat sholat sana!” Ujar bapaknya yang sudah pakai baju koko, sarung dan peci hitam. Nampaknya sudah bersiap pergi ke langgar buat sholat magrib.

Luki pun tidak membantah, dia tak mengeluh meski kenyamanannya harus berakhir. Dia beranjak menuju kamarnya. Merebahkan sebentar tubuhnya di atas kasur. Baru bangkit saat adzan magrib terdengar diakhiri. Lalu dengan gontai menuju kamar mandi.

Jam enam dia sudah selesai mandi, sudah selesai sholat, dan baru saja selesai makan. Dia lagi asyik duduk di sofa depan televisi. Di TV sedang memutar kartun. Tapi Luki nggak begitu melihatnya, matanya sudah mulai mengantuk. Namun, dia masih sempat mengingat-ingat ada janji apa malam itu.

“Sepertinya nggk ada, tapi kok rasanya ada yang kurang ya?” Gumamnya. Namun tetap saja apa yang kurang terabaikan. Matanya tambah berat, dan akhirnya terlelap dengan sendirinya.

*****

 

Luki bermimpi buruk.

Lagi asyik-asyiknya tidur. Lagi pulasnya terlelap. Dia dibangunkan oleh bentakan Sinta yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Kepalanya membesar, wajahnya merah terbakar, dan kelauar asap di atas kepalanya.

“Kamu keterlaluan! Aku nungguin, kamu malah enak-enakan tidur! Kamu lupa apa kalau kita lagi ada janji! Dasar nggak bisa dipercaya! Ini baru hal ecil, belum sesuatu yang besar nanti! Bisa-bisa aku bakal sering kecewa sama kamu!” Luki kaget. Dia baru ingat kalau ada janji dengan Sinta. Dia nggak bisa mengelak lagi saat itu. Bahkan dia nggak dikasih kesempatan buat menjelaskan. Mau gimanapun dia memang salah. Dia kelelahan main sepak bola sampai ketiduran. Lupa sama janjinya. Sinta terus ngomel, sampai terdengar nggak jelas. Satu kata yang paling jelas terdengar adalah kata saat Sinta melangkah pergi.

“KITA PUTUS!!” Rasanya saat itu petir benar-benar menyambar.

Luki pun buru-buru melompat dari sofa. Dia memohon Sinta agar tidak pergi. Memohon maaf. Meminta Sinta mengurungkan niatnya buat putus. Namun, nampaknya Sinta mengabaikan. Bahkan Luki sampai memegangi kaki Sinta biar nggak pergi. Tapi yang ada, Luki malah terkena tendangan.

Saat itu juga Luki bangun karena tendangan sadis dari Risa. Luki sampai melompat berdiri dari sofa karena kagetnya.

“Hey, tidur di kamar sana lhoh!”

Luki mengaaikan kakaknya. Dia celingukan! Dia menghela nafas lega saat sadar tadi hanya mimpi. Sementara Risa jadi keheranan. Karena tumben, adiknya itu nggak marah. Malah tampak aneh.

“Kamu kenapa sih?” Tanya Risa

“Sekarang jam berapa?” Luki bertanya balik

“Setengah sembilan, kenapa sih?”

Luki kaget. Raut wajahnya langsung tambah gelisah. Dia mengabaikan pertanyaan kakaknya. Dia buru-buru berlari ke kamarnya. Dengan cepat sudah berganti baju. Sempat dia mengecek ponselnya yang ternyata mati. Kontak motor dan helm yang ada di kamar disahutnya. Sambil berjalan setengah cepat dia menuju motornya.

Risa yang mengamati dan masih kebingungan mengikuti Luki sampai di teras rumah.

“Kamu kenapa sih Luk?”

“Mengejar gunung, semoga saja nggak lari!” Ujarnya sambil menstater CB-100 warna biru metalik miliknya. Sementara Risa mengernyitkan dahi masih tak mengerti.

“Sudah ya bingungnya, aku sudah telat nih!” Luki pun buru-buru memacu motornya dan meninggalkan Risa yang masih bengong.

Di atas motor yang dipacu kencang, Luki benar-benar gelisah. Dia khawatir mimpinya bakal jadi kenyataan. Dia takut Sinta marah. Tapi nampaknya Sinta pasti sudah benar-benar marah. Gadis mana yang nggak marah kalau harus nunggu lama sementara cowoknya malah enak-enakan tidur lupa sama janjinya.

“Masak, baru saja jadian sudah harus putus?” Gumam Luki dengan wajah lesu.

Pemuda itu bingung harus bagaimana. Seolah dia nggak bakal tertolong lagi. Bahkan, nampaknya tak ada siapapun yang bisa menolongnya kali ini. Dia tak henti-hentinya memaki dirinya sendiri. Memaki kebodohannya. Saking kerasnya memaki, sampai-sampai saat berhenti di lampu setopan. Dia nggak sadar kalau banyak pengendara lain mengamatinya. Ia baru sadar saat ada yang memainya balik, karena ngerasa dimaki-maki Luki.

Luki mulai berpikir mencari-cari alasan yang bisa menolongnya. Setidaknya, bisa meringankan hukumannya dari Sinta. Setidaknya jangan sampai diputusin. Nggak mungkin alasannya ketiduran, bukan? Kalau ibu lagi sakit gimana? Hus... dosa... dosa... Nganter Risa? Tapi kemana? Gimana kalau bilang sakit? Sakit perut? Aduh, nanti kalau sakit beneran gimana? Motor mogok saja? Luki melihat sekeliling yang sudah nampak sepi dan gelap. “Jangan deh kalau mogok di sini!” Ujarnya sambil bergidik takut. Kalau ban bocor? Sama saja berhenti di tempat sepi ini dong? Tapi, belum sempat Luki memikirkan alasan lainnya. Ban motor Luki bagian belakang benar-benar kempes.

“Tuu... kaan....” Luki menyumpahi kesialannya itu.

Dia turun dari motornya. Memeriksa ban belakang. Nampaknya memang benar-benar bocor. Dia mengamati sekelilingnya. Sepi dan gelap. Dia jadi merinding. Apalagi saat tiba-tiba tercium bau bunga melati. Buru-buru saja dia mendorong motornya sambil berlari. Tapi susah juga, ban motornya yang kempes membuat CB-100 yang sebenarnya sudah berat jai semakin berat untuk didorong.

Luki bersyukur, dia masih bisa selamat. Dia sudah sampai dikeramaian dengan aman. Dia masih ngos-ngosan sehabis berlari. Namun, matanya berbinar saat ngelihat ada yang bisa menolongnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada tukang tambal ban yang masih buka. Luki pun mendorong motornya ke sana.

“Pak, nambal!” Ujar Luki saat sampai. Tanpa banyak tanya, tukang tambal ban yang kebetulan brewokan itu langsung memeriksa dan bekerja.

Luki melepas helm yang sejak tadi dipakai. Dia menghelas nafas, mengistirahatkan tubuhnya yang tambah lelah. Tapi, raut wajahnya berubah jadi gelisah lagi. Dia teringat dengan Sinta. Apalagi saat sadar dia sudah tak jauh dari rumah Sinta. Dia melirik jam tangan di lengan pak brewok, sudah jam setengah sepuluh malam. Sudah terlalu malam, Sinta pasti sudah tidur, batinnya.

Tapi tetap harus kesana. Setidaknya harus memastikan. Setidaknya harus berusaha lebih dulu. Lebih baik mencoba daripada nggak sama sekali. Tapi, kalau nungguin ban motor sudah diperbaiki, bakal lebih malam lagi.

“Lari saja deh! Nggak jauh juga!” Gumam Luki pelan, lalu pemuda itu berdiri.

“Pak saya tinggal dulu ya! Saya nitip motornya sebentar pak! Saya harus mengejar gunung cinta saya sebelum lari!” Ujar Luki menggebu-gebu. Sementara pak brewok cuman memandang heran. Namun, Luki mengabaikannya. Dia berlari sekencang-kencangnya ke rumah Sinta.

Dalam hati, dia berharap Sinta masih menunggunya. Dia ingin menjelaskan malam itu juga. Dia tak ingin mencari-cari alasan lagi. Kalau memang ini akhir hubungannya dengan Sinta, dia sudah pasrah. Dia takut kalau bikin alasan-alasan lagi, kesialan bakal menimpanya lagi. Lagian, bohong itu nggak baik. Apalagi kebohongan di dalam suatu hubungan. Tak akan tenang saat menjalaninya.

Tapi, sisi lain hatinya sebenarnya sudah putus asa. Karena rasanya nggak mungkin Sinta masih menunggunya. Nggak mungkin juga papa dan mamanya membiarkan Sinta menunggunya di luar rumah, sendirian, kedinginan. Sinta pasti sudah masuk ke dalam rumah. Sinta pasti sudah tidur.

Kalau tidak tidur sekalipun. Saat ini dia pasti sudah menangis. Ah, bodohnya Luki. Kenapa dia bisa bodoh membuat air mata gadis cantik itu meleleh? Seharusnya kan mengembangkan bunga senyu seperti yang pernah dijanjikan saat memulai hubungan kekasih. Pasti saat ini Sinta sedang memandangi foto Luki dengan geram. Dengan spidol merah mencoret-coret foto Luki. Pasti Sinta sudah melampiaskan kekesalannya dan mencurahkan semua pada buku harian. Membuka lembaran kosong. Tanpa menuliskan tanggal dan hari. Tanpa menuliskan dear diary. Langsung saja menuliskan LUKI JELEK! seratus kali dengan huruf kapital semua menggunakan spidol merah yang sama saat mencoret-coret foto Luki.

Luki semakin lemas membayangkan semuanya itu. Tapi kembali, dia nggak bisah mengelak. Dia hanya bisa pasrah. Termasuk pasrah saat harus diputuskan. Apapun yang akan terjadi nanti, dia tak bisa menunggu besok untuk meminta maaf.

Rumah Sinta pun sudah semakin dekat. Luki terus berlari. Kakinya lelah, tapi dia tak peduli. Nafasnya ngos-ngosan, tapi dia tak mau berhenti. Jantungnya berdebar semakin kencang. Bukan karena larinya, tapi karena dia ketakutan untuk menghadapi Sinta. Rasanya ingin mundur dan menundanya esok hari. Tapi dia tak sanggup melakukannya.

Saat tiba di depan pagar rumah Sinta ternyata ada Sinta yang masih menunggu. Gadis itu terus menunduk, bahkan sampai saat Luki tiba. Nampaknya benar-benar marah? Batin Luki.

“Ma-maaf Sin!” Ujar Luki gelagapan, nafasnya masih ngos-ngosan.

Sinta mengangkat wajahnya. Gadis itu tersenyum. Seolah lega setelah lama menanti.

“Kamu ini, suka sekali membuatku khawatir!” Ujarnya lembut tanpa nada marah sama sekali. Luki jadi kaget.

“K-kamu nggak marah?”

“Marah? Ya marah lah! Kamu nggak datang-datang, nggak ngasih kabar, hp-nya mati. Aku takut tahu! Aku khawatir kamu kenapa-napa!” Luki tambah semakin kaget.

Baik sekali gadis ini. Bukan marah, dia malah khawatir. Bahkan dia nggak jengkel saat elihat Luki. Dia seolah bahagia, sangat bahagia sekali. Mungkin benar kata orang. Semakin lama kita menunggu sesuatu yang kita inginkan. Saat yang ditunggu tiba, kita akan sangat-sangat bahagia. Melebihi hanya penantian yang sesaat. Apalagi kalau yang nunggu gadis cantik dan baik seperti Sinta. Bahkan dia nggak marah saat Luki cerita alasan sebenarnya. Yang ada dia malah tertawa.

Malam yang semakin larut itu pun akhirnya dihabiskan berdua di teras rumah Sinta. Ngobrol, bercerita, bercanda, dan tertawa bersama. Layaknya sepasang kekasih yang ingin menghabiskan malam berdua. Seolah-olah sudah lama tak bertemu dan merindu.

Jam sebelas malam, Luki baru beranjak ingin pulang.

Tiba-tiba Sinta bertanya, “Oh iya Luk! Tadi kamu kesini naik apa?”

Luki tercekat. Dia teringat motornya yang masih ada di tukang tambal ban. Dia buru-buru saja pamit dan lari ke tempat tukang tambal ban. Berharap pak brewok belum menutup kios tambal bannya. Sementara Sinta menggeleng kepala sambil tersenyum geli memandangi Luki yang semakin hilang di depan gerbang rumahnya.

*****

 

Sementara itu, di kios tambal ban., pak brewok nampak geram menunggu Luki yang tak kunjung kembali. Padahal dia ingin segera menutup kiosnya, dia ingin segera tidur. Matanya sudah cuman lima watt.

Baca juga cerita lainnya di http://lukiluck11.blogspot.com

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rian
rian at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 13 weeks ago)
80

Ini cerpen menurut saya lumayan bagus. Gaya bahasanya ringan, khas remaja, dan mengalir lancar seperti aliran sungai Bengawan Solo. Tapi banyak banget typo-nya, jadi sedikit mengurangi kenikmatan membaca. Cerpen-cerpen Luki Luck ini mirip-mirip sama serial Lupus. Coba aja kirim ke majalah, siapa tahu bisa terkenal juga.

Salam Kenal

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 13 weeks ago)

typonya maaf, belum sempat benerin

Writer mandhut
mandhut at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 15 weeks ago)
80

sederhana, tapi dibawakan dengan bagus deh :D aku suka gaya bahasanya :D

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 13 weeks ago)

terima kasih ya

Writer H.Lind
H.Lind at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 16 weeks ago)
70

Banyak yg typo kak kayak 'anyak' yg seharusnya banyak. Saya jarang baca cerita teenlit kakak tapi menurut saa cerita ini cukup seru, cuma agak bosen waktu Luki lagi panik2nya baru bangun. Saya juga suka tanggapannya Sinta. Salam (oh iya, judulnya bagus) :)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 15 weeks ago)

maaf ya kalau banyak typo, memang nggak dikoreksi lagi
nanti saya perbaiki lagi, kali aja bisa dibuat nggak ngebosenin
wah....makasih kalau judulnya dibilang bagus
kurang lebih tolong dimaafin saja ya, masih pemula,hehe

Writer citapraaa
citapraaa at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 16 weeks ago)

kasian bapak2nya
yg lucuu itu doang menurut saya
kesialan luki bs jd yg ditertawakan. kyknya belum ter.....buat lucu.
sekolah saya hari sabtu LIBUR dong #pamer
tetap menulis:)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Tak Akan Lari Sinta Dikejar (5 years 15 weeks ago)

cuman itu?oke deh nggak papa, namanya juga masih berharap lucu tagnya,hehe
sekolah 5 hari? kok enak
kalau sekolah saya uda nggak ngebolehin saya sekolah,nggak bolehin saya belajar,ngerjain tugas, ngerjain pr, sampai piket kelas, (uda lulus soalnya)