DR[dot]M : Prolog

"Apakah kau percaya hantu benar-benar ada di dunia ini?"

Aku menggelengkan kepala.

"Apa kau pernah berpikir, kenapa tuyul tidak mencuri uang di Bank saja biar lebih banyak dapat uangnya?" lalu orang tua berambut cepak itu memilin-milin kumisnya yang lebat dengan tangan kanannya sambil terus menatapku.

Tak kutanggapi pertanyaan itu. Aku membuang pandanganku ke arah jendela yang berada di sebelah kiriku. Kulihat beberapa orang sedang berlatih bela diri di bawah sana.

"Apakah kau juga pernah berpikir, kenapa kepala negara kita bisa aman dari ancaman santet, leak, atau ilmu hitam sejenisnya yang mungkin dikirim oleh lawan politiknya? Ah, beberapa tahun lalu, saat Bush masih menjabat sebagai presiden Amerika beredar rumor bahwa Bush akan di santet saat berkunjung ke Indonesia apakah kau masih ingat itu? Saat itu memang banyak santet yang ditujukan padanya, tetapi apa pernah kau berpikir kenapa Bush bisa selamat? Atau kau berpikir bahwa rencana beberapa dukun untuk menyantet Bush hanyalah omong kosong?"

Aku kembali menoleh padanya. Setelah menatap matanya sejenak, aku menggelengkan kepalaku sebagai isyarat bahwa aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak tau apa tujuannya membicarakan hal ini kepadaku.

Aku memang percaya bahwa di dunia ini juga ada mahluk ghaib, tetapi -hei kita sekarang berada di akademi kepolisian, kenapa harus membahas masalah ini? Kalau orang tua berkumis tebal ini membahas tentang teroris sebagai topik perbincangan, itu masih masuk akal. Tetapi dia terus menerus mengoceh tentang hal-hal yang tak masuk akal. Sinting. Aku baru tahu, ternyata ada orang sinting di kepolisian ini.

Ia kemudian tersenyum setelah aku menggelengkan kepala. Sepertinya ia akan melanjutkan ocehannya lagi.

"Kau pasti berpikir bahwa aku ini hanya orang tua sinting bukan?"

"Tidak Pak. Saya tidak berani berpikir demikian." Jawabku spontan.

Apakah orang tua ini bisa membaca pikiranku?

"Tenang saja, aku memanggilmu kemari bukan bertujuan untuk menghasutmu supaya ikut aliran sesat atau hanya sekedar memaksamu mendengarkan omong kosong saja. Tetapi kau kupanggil untuk mendapatkan sebuah pekerjaan baru."

"Pekerjaan baru? Maaf, bapak ini sebenarnya siapa? Dari pertama saya datang, bapak belum memperkenalkan diri."

Benar, dari pertama aku masuk ke ruangan ini, dia belum memperkenalkan dirinya dan langsung mengoceh tentang hal-hal yang tak masuk akal.

Dia berdeham lalu mengambil sesuatu yang dikalungkan dibalik bajunya dan menyodorkannya padaku, dan ternyata itu adalah tanda pengenalnya.

Namanya Hendro Mulyono. Jabatannya adalah kapten divisi buru sergap DRM. Apa itu DRM? Aku tidak pernah mendengarnya.

Setelah melihat tanda pengenalnya, aku mengerutkan dahi.

"Ada yang aneh?" Dia berkata padaku.

"Maaf Pak, apa itu DRM?"

Ia kembali mengalungkan tanda pengenalnya.

"DRM adalah singkatan dari Detasemen Rahasia Metafisika. DRM adalah detasemen bagian dari tubuh POLRI yang menangani segala tindak kejahatan yang berhubungan dengan hal-hal metafisika atau ghaib." Ia menjawab dengan mantap sambil memilin kumisnya lagi.

Detasemen rahasia? Mahluk ghaib? Omong kosong macam apa lagi ini?

Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku memang terkejut, tapi bukan omongannya tentang detasemen rahasia itu yang mengejutkanku, melainkan terkejut karena orang tua ini ternyata benar-benar sinting.

"Baiklah, mungkin perlu sedikit demonstrasi supaya kau tidak menganggapku sebagai orang tua yang sinting."

Oh, ternyata dia menyadari bahwa dirinya sinting. Itu bagus.

Orang tua yang bernama Hendro itu kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arahku. Pada jari tengah dan jari manisnya terpasang dua cincin bermata batu akik yang besar. Cincin yang terpasang di jari manisnya berwarna merah, sedangkan yang di jari tengahnya berwarna hitam.

"Kedua mata cincin itu berfungsi sebagai tombol. Pencetlah!"

Aku terdiam. Sebenarnya aku ragu untuk menuruti perintah orang tua ini. Aku khawatir jika ternyata ini hanyalah sebuah jebakan untuk lucu-lucuan belaka.

Setelah aku menoleh kiri dan kanan untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mengamati kami berdua, dengan ragu-ragu kugerakkan tanganku untuk mengikuti perintahnya.

Klik. Dua mata cincin itu kutekan secara bersamaan.

Aku terhenyak. Hampir saja aku melompat dari kursiku karena melihat kemunculan dua mahluk aneh yang tiba-tiba sudah berdiri mengapit kapten Hendro setelah kilatan cahaya berwarna merah dan hitam yang berasal dari kedua cincinnya.

"Ternyata laporannya benar. Kamu memiliki indera pengelihatan yang sensitif terhadap mahluk astral. Itulah alasan kenapa aku mengundangmu kemari." kapten Hendro tersenyum lebar membuat kumis tebalnya terangkat hingga menyentuh ujung hidungnya yang besar.

"Apa maksudnya ini pak?" aku masih setengah kaget karena kedua mahluk yang sepertinya bertugas sebagai body guard kapten, salah satunya memiliki rupa yang begitu menyeramkan.

"Kau bisa melihatnya kan? Di sebelah kiriku bernama Pati." kemudian ia menunjuk mahluk bertubuh besar dengan bulu disekujur tubuhnya dengan kedua taring yang mencuat dari rahang bawahnya.

Mahluk yang bernama Pati ini hanya memiliki satu buah mata saja yang terletak ditengah-tengah dahinya. Kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih seperti papan catur menutupi tubuhnya dari bagian pinggang hingga sebatas lutut. Sedangkan bagian tubuh lainnya dihiasi oleh bulu-bulu hitam lebat yang menyeramkan.

"Sedangkan yang berada di sebelah kananku bernama Sena."

Berbeda dengan mahluk yang bernama Pati, Sena memiliki sosok layaknya seorang manusia biasa namun memiliki tiga buah mata dikepalanya. Parasnya tampan, rambut panjangnya digelung rapi seperti pendekar jaman dahulu. Satu-satunya hal yang sama dengan mahluk bernama Pati adalah, ia mengenakan kain dengan motif dan warna yang sama dibagian tubuh bawahnya.

"Mereka berdua adalah A.D. milikku," imbuhnya.

Jujur saja, saat ini aku tak bisa berkata apa-apa. Terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal memenuhi isi kepalaku saat ini. Mulai dari ocehan sang kapten tentang mahluk ghaib hingga kemunculan dua mahluk aneh ini.

Dua mahluk itu menatapku dalam diam. Benarkah dua mahluk ini benar-benar nyata? Maksudku, bukan hanya sebuah trik sulap atau hal konyol lainnya?

"Dari wajahmu yang mendadak jadi pucat itu, aku beranggapan bahwa kau masih setengah percaya dengan kehadiran dua A.D. ini."

Pucat? Benarkah wajahku menjadi pucat?

"T-Tolong jelaskan kepada saya mahluk apa sebenarnya mereka berdua ini pak!" aku tergagap.

"Mereka berdua adalah Artificial Demon -sebenarnya aku lebih suka menggunakan istilah Artificial Dhemit. Biasa disingkat dengan A.D. Mahluk-mahluk ini adalah iblis yang diciptakan menggunakan teknologi manusia."

"Iblis buatan?"

"Benar. Teknologi ini pertama kali diciptakan oleh Jepang, namun hampir seluruh negara di dunia kini telah memiliki teknologi itu."

"Jadi, organisasi militer seperti DRM bukan hanya ada di Indonesia?"

"Tepat. Seluruh negara mempunyai organisasi militer yang sama dengan DRM namun dengan sebutan yang berbeda-beda. Dan pertanyaan tentang kenapa Bush bisa selamat dari santet adalah karena mereka punya tim pengamanan khusus yang menangani segala aktivitas ghaib yang mengancam keselamatan Presidennya." Kapten Hendro lagi-lagi memainkan kumis lebatnya saat berbicara.

Lalu dia menambahkan, "Mungkin kau bertanya-tanya kenapa organisasi militer seperti DRM harus dirahasiakan keberadaannya?! Jawabannya sederhana, karena tidak semua manusia dianugerahi dengan kemampuan untuk dapat melihat mahluk halus. Dan jika DRM dipublikasikan kepada khalayak, mereka pasti hanya akan menganggap ini sebagai sebuah lelucon. Jadi untuk menghindari komentar-komentar sinis yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak dapat melihat mahluk halus, maka dari itu DRM dirahasiakan. Kau sendiri tadi berpikir bahwa aku ini sinting saat membicarakan hal-hal tentang alam ghaib."

Dia bisa tau isi pikiranku? Oke, sekarang aku sedikit bisa menerima jika dia memang benar-benar bisa membaca pikiranku.

"Kenapa harus menciptakan teknologi Iblis buatan?"

"Pertanyaan bagus. Karena kekuatan murni dari manusia saja tidak cukup untuk mengamankan kehidupan manusia dari ancaman kekuatan ghaib. Sifat alami Iblis tidak mau diperintah oleh Manusia, namun tidak halnya dengan Iblis buatan. Mereka diciptakan dengan kesetiaan yang setara dengan seekor anjing. Itulah sebabnya kita -Manusia menciptakan Iblis buatan."

Dia kembali mengulurkan tangan kanannya padaku.

"Dan dua cincin ini adalah Summoning Device, yaitu alat untuk memanggil A.D. milik kita. S.D. tidak hanya berwujud sebuah cincin, namun bisa berupa apa saja, tergantung selera pemakainya," jelasnya.

Kami berdua terdiam.

"Jadi, siapkah kau menerima tugasmu yang baru?"

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)
80

jadi inget persona, pokoknya sip lah..

Writer Kakampretos
Kakampretos at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)

makasih udah mau komen kak... :D
sebenernya cerita ini udah lama kuposting di kaskus + idws... komenan orang2 yg baca juga persis kaya komenan kakak... yg katanya mirip persona lah, bahkan ada yg bilang ini mirip Bartimaeus Trilogy.

Mungkin konsepnya hampir sama, tapi nggak sama banget kok. Aku juga baru tau apa itu Persona dari pembacaku di kaskus. hehe

Eniwey, makasih udah nyempetin baca ya kak. :D

Writer zizijj
zizijj at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)
80

Prolognya menarik dan bikin penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya. :D

Writer Kakampretos
Kakampretos at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)

makasih kak... bentar lagi ane posting lanjutannya kok... :D

Writer xenosapien
xenosapien at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)
70

Wah, ceritanya kayaknya asik nih. XD

Writer Kakampretos
Kakampretos at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)

makasih kakak... :D

Writer asahan
asahan at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)
80

artificial demit???????
hahahahahah :3 :3 :3
poin untuk ide konyolnya

sundul sundul

Writer Kakampretos
Kakampretos at DR[dot]M : Prolog (5 years 41 weeks ago)

makasih kakak udah komeng + ngasih poin... aku jadi bisa langsung bikin postingan baru. hehe