Jagoan Bicek

Bicek tahu kapan saat bertindak. Ketika dia memutuskan untuk jadi jagoan, sejak itulah dia harus melakukan sesuatu untuk mewujudkannya.

Seperti hari ini, dia akan menunjukkan pada teman satu sekolahnya, bahwa Bicek adalah cowok paling jago. Tidak ada yang lain. Dia telah menunggu momen ini sekian lama, dan ketika bel istirahat berdenting, dengan hati gembira dia berkata, "Inilah saatnya!"

"Yeah, saatnya beraksi!" Timpal Adul, sambil mengacungkan tinjunya. Dia adalah pengikut setianya Bicek. "Yeaaah!"

"Kita harus jadi jagoan."

"Bener, Bos."

"Siapa cowok paling jago di sekolahan?"

"Bos Bicek, dong."

"Benar." Bicek tersenyum dengan kerennya.

Bicek melangkah penuh semangat. Pada dasarnya dia memang enerjik, punya antusias dan tenaga berlebih untuk melakukan hal-hal tidak penting. Jika ada orang di dunia ini yang menganggap titel jagoan begitu penting, tak lain tak bukan dialah Bicek. Bagaimana cowok kelas X SMA yang seharusnya rajin belajar, suka membantu orang tua dan rajin menabung, tapi sangat terobsesi pada gelar jagoan?

Itu semua bermula dari peristiwa tragis satu tahun silam.

Waktu itu Bicek masih berstatus murid baru. Hari pertama orientasi sekolah yang melelahkan, perutnya pun lapar. Dia buru-buru ke kantin, memesan nasi soto, lalu dengan santainya duduk dan menunggu di meja paling pojok. Dua menit... tiga menit.... tidak terjadi apa-apa. Seolah semua lancar-lancar saja.

Pesanan pun datang. Nasi soto yang aromanya mengepul menusuk hidung. Ah, sedap.... Saat siap sepenuh jiwa raga menyuapkan sendok ke mulutnya, tiba-tiba masalah itu datang.Tepatnya mereka datang. Lebih tepatnya mereka bertiga.

Yang satu kepalanya plontos, yang satu jigrak, satunya lagi kriting. Meski berbeda-beda, mereka punya kesamaan: sama-sama bermuka ancur. Mereka mengepung Bicek sambil memancarkan aura gahar. Dan percayalah, muka ancur mereka banyak membantu.

"Hoi, kau," kata si kriting. "Murid baru, ya?"

"Iya, bang," jawab Bicek polos.

"Bang bang, kau pikir kami abang-abang tukang soto." Mereka jadi marah. "Panggil kami kyai!"

Sebenarnya, kyai dan abang sama saja artinya. Namun jika kau orang lampung dan bangga dengan lampung sai-mu, seandainya tiba-tiba kau panggil kakak laki-lakimu dengan abang, yakinlah kau akan kena tinju saat itu juga.

"Iya, kyai." Suara Bicek lirih.

"Apa? Aku tak dengar. Sepertinya kau tak ikhlas, heh? Ya, kan, heh? Jawab kau!" Dengan kerasnya si jigrak menggebrak meja, membuat Bicek kaget setengah mati dan hampir-hampir sendoknya masuk ke hidung.

Si botak merebut nasi soto itu dan makan dengan lahap, serta tertawa setan penuh kemenangan.

Mendadak Bicek menyadari situasi. Gelagat buruk. Ini seperti kisah dimana murid lama menindas anak baru. Bicek jadi teringat satu adegan dalam novel Balada Si Roy. Roy si murid pindahan langsung mendapat tantangan dari seniornya di hari pertama sekolah.

Meski adegan dalam novel itu berbeda dengan yang dihadapi Bicek sekarang, intinya sama; penindasan. Tiga kepala yang mengepungnya ini tidak berniat benar dipanggil kyai. Niat mereka sebenarnya adalah menunjukkan sok jagoan mereka padanya.

Oke, sebuah pertanyaan melintas dalam otak Bicek, Apa yang akan dilakukan Roy bila berada dalam situasi seperti ini?

Tanpa pikir panjang -- yang memang sudah sifatnya -- Bicek bangkit berdiri, dengan sok kalemnya mengusap hidung, lalu mengambil sikap kuda-kuda mirip Bruce Lee. Ciaaat!

Tapi akibatnya sangat parah.

Mereka menghajar Bicek hingga wajahnya yang tidak lumayan itu bertambah jelek. Dia merintih-rintih kesakitan. Kupingnya berdengung seolah ratusan tawon mengitarinya. Namun dia tidak meminta ampun. Tidak sekali pun. Lamat-lamat sebelum jatuh terkapar, dia mendengar ucapan mereka.

"Kurang ajar, berani-beraninya sama kami! Kami ini Tiga Jagoan Smansa. Tidak ada yang lebih jago dari kami. Anak baru macam kau harus diberi pelajaran, siapa yang jago dia yang berkuasa!"

Mereka pergi meninggalkan Bicek yang terkapar, bersimbah air mata dan kuah soto. Para murid lain hanya menatapnya kasihan tanpa melakukan apa-apa. Hari itu Bicek malu sekali. Sebagai cowok, rupanya dia tak bisa mempertahankan apa yang menjadi miliknya, meski itu semangkuk soto.

Aku lemah... bisiknya dalam hati. Bahkan saat teraniaya, hati manusia terbiasa berbisik. Gendang telinganya semakin berdengung dan menggema, ratusan tawon merasuki kepalanya dan menyenandungkan kalimat itu ribuan kali.

Siapa jago dia berkuasa.

Begitulah awal kejadian yang mengubah diri Bicek. Sejak saat itu dia bertekad untuk menjadi jagoan. Sekian lama dia melatih diri, menempa jiwa dan raga demi tercapainya cita-cita. Dan hari ini, di kantin sekolah yang sama, dia berdiri dalam sosok yang lain. Sosok Bicek yang tak lagi lemah. Bukan murid baru yang polos dan bodoh, tapi murid kelas X yang penuh percaya diri -- meski status bodohnya belum lenyap.

Menebarkan pandangan ke seisi kantin, dia teringat kembali peristiwa dulu. Meja paling pojok itu adalah saksi sejarah terkaparnya. Hari ini, meja itu sekali lagi akan menyaksikan sejarah, bagaimana bocah yang pernah jatuh akan bangkit menjadi lebih kuat.

Lalu matanya berhenti pada tiga makhluk di sana. Yang satu plontos, satunya jigrak, dan kriting. Mereka duduk seenak pantat serta tertawa-tawa dengan congkaknya. Tingkah mereka seperti anak anjing liar kurapan-kudisan yang belum pernah merasakan kerasnya tongkat.

Tapi. Sebentar lagi. Mereka. Akan. Merasakannya.

"Cek, Bicek, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Adul jadi bingung melihat bosnya hanya terdiam memandangi para musuhnya.

Si penanya tidak tahu, bahwa Bicek sedang berada dalam persimpangan yang rawan, antara masa lalu dan bayangan masa depan. Di matanya, sudah terbayang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kebangkitan. Kemenangan. Dejavu. Tapi bersamaan dengan itu kenangan-kenangan terdahulu melintas-lintas dalam benaknya bagaikan kereta api yang menyilaukan dan bising. Membawa serta degup jantungnya yang berdentum-dentum, serta rasa tegang yang menjalar tiba-tiba. ***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Jagoan Bicek (5 years 2 weeks ago)
90

selanjutnya, adegan tawuran...hehehe

saya pernah lihat teman kelas berkelahi, satu lawan satu, tapi sungguh seperti banci yang merebutkan pelanggan, tidak seperti di film-film.

Dan cerita ini, membawa lagi kenangan saat itu, di mana gengsi, harga diri dan semacamnya yang melekat pada siswa laki-laki selalu bertemu di arena perkelahian.
Salut!

Writer velvet.morninghaze
velvet.morninghaze at Jagoan Bicek (5 years 3 weeks ago)

saya pengen gamparin para remaja laki ini. asli. jajan masi minta emak nyebut diri jagoan.

salam

Writer The Smoker
The Smoker at Jagoan Bicek (5 years 4 weeks ago)
90

BLAHAHAHHAHHAHAAHHA.. saya ketawa, heuheuh.. pas sekali kata-kata yang terselip di akhir paragraph atau istilah-istilah lainnya yang terselip di mana2
dari paragraph awal saya memang udah tertarik. ini tengil SMA yang pas, gak berlebihan penceritaannya. bnyak sii kalimat-kalimat ironi yang saya suka, yang menjungkirkan kalimat atau pernyataan sebelumnya.
melirik ralat-mu dalam penulisan Kyai yang harusnya ditulis Kiay, itu artinya apa ya?
oiya, endingnya.. saya kurang ketendang, heheh
salam

Writer Kakampretos
Kakampretos at Jagoan Bicek (5 years 4 weeks ago)
70

ahaha... Si double cek dari lampung nongol lagi... :D

Tapi kok endingnya gitu ya kak?
Atau ini bakal ada lanjutannya?

Okelah, kip nulis ya kak. Ditunggu lanjutannya... :D

######

Ternyata kak dayeuh cermat juga ya nemu typo kaya gituan (yang aku sendiri nggak sadar kalo nggak liat komen kak dayeuh). hehe

Writer asahan
asahan at Jagoan Bicek (5 years 4 weeks ago)
10

ralat. "kyai" seharusnya ditulis "kiay".
kedua kata itu berbeda arti.
.
dengan ini salah ketik telah diperbaiki

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jagoan Bicek (5 years 4 weeks ago)
80

ini Bicek yang sama dengan yang berkepribadian ganda itukah? waha. kali aja semacam masa lalu gitu.
menghibur X-) dan akhirannya itu antara ngegantung apa emang cuman sampai segitu *ngecek tagar
o ya Abdul apa Adul sih?
"dejavu" kayaknya "deja vu" deh.
apa Bicek mau dibikin serial? gimana kabar Silu?

Writer asahan
asahan at Jagoan Bicek (5 years 4 weeks ago)

adul
bener deja vu, deh
silu dalam proses ending