Dua Cangkir Kopi yang Berbeda

Ada dua cangkir kopi terhidang di depanku. Satu di antaranya tinggal ampas, sementara satu lainnya tak tersentuh, meski hangatnya perlahan hilang berganti senyap.

Jika aku isi cangkir yang kosong itu dengan pahitnya kopi, seperempat saja dari ampasnya. Aku bisa mendengar suara serakmu, dengan tangis yang berusaha kautahan, meski air mata telah lebur bersama pupur di pipimu yang memerah.

"Mengertilah, hubungan kita tidak mungkin untuk bisa dilanjutkan."

Dan kau berdiri, berbalik, memberi jeda--perintah agar aku duduk saja dan tak perlu mengejar--lalu berlari pergi.

Jika aku isi lagi cangkir itu sampai setengah dari ampas, aku bisa melihat tangan gemetarmu. Jari-jari lentik itu mengambil amplop dari dalam tas berwarna coklat, terdiam sesaat, sebelum menyerahkannya padaku.

Kamu tidak menatapku, atau sekedar memberi isyarat, bahwa kertas itu berisi bukti yang tidak bisa dibantah. Sebuah fakta bahwa cinta yang kita miliki tak lebih dari sampah yang harus dibuang selama-lamanya.

Jika aku mengisi cangkir itu lagi, sampai batas di mana aku meneguknya tadi. Kepulan asap terakhirnya akan terbang ke udara, membentuk kumpulan uap yang setengah terlihat, sebelum terurai dan tak lagi bisa dipandang. Lalu, kutemukan wajahmu, dengan ukiran sedih dan tak menatapku. Dan dari bibirmu yang tak bisa lagi mengatakan cinta, kau berkata.

"Kita ini saudara kandung."

Jika aku isi penuh cangkir yang tadinya tinggal ampas, kenangan di tepi jalan saat hujan kembali meletup dalam kepala. Ada dirimu di sana, berlari ke depan toko berkanopi, sementara aku sudah berada di bawahnya. Berteduh.

Kau melirikku sedekit, lalu kembali menatap langit. Bibirmu berucap sesuatu, umpatan untuk hujan yang tiba-tiba datang, yang membuat bajumu basah, yang selanjutnya berganti menjadi ucapan terima kasih karena mempertemukan kita.

Lima menit setelahnya, kita berkenalan. Dan tiga bulan setelahnya, kita pacaran tanpa tahu darah kita mempunyai kesamaan. Meski beda orang yang melahirkan.

Jika tadi aku memesan teh dan bukannya kopi, mungkin ceritanya akan lain. Atau itu hanya harapan kosongku saja, untuk menghindari sisa cinta yang serupa ampas kopi, hanya bisa kukulum, tanpa bisa kutelan.

Read previous post:  
58
points
(282 words) posted by Shin Elqi 5 years 28 weeks ago
64.4444
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | fiksi mini | Kopi | pergi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer putcieput
putcieput at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 9 weeks ago)

kurang twist, dan, atau karena saya tidak begitu paham tentang sastra, ungkapan, atau bahasa2 puitis, entahlah, saya... tidak paham hubungannya apa *abaikan

Writer izaddina
izaddina at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 9 weeks ago)
100

BAPER HUHUHU
ih tapi kalimat sodara kandung itu mending taruh akhir ajaa. Jadinya antiklimaks di tengah kalau ditaruh di situ

Writer Fara Handoko
Fara Handoko at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 29 weeks ago)
60

Saya juga setuju, jika kalimat "Kita ini saudara kandung" di sisipkan di bagian akhir. Pasti akan lebih klimaks. Penggunaan setiap kalimat tiap paragraf cukup keren.
Good! Terus berkarya ya!

Writer benmi
benmi at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 31 weeks ago)
80

Analoginya bagus... mengalir.. tp rasa2nya emosinya cuma stgh jalan... subjektif saya. Hahahh...
anw.. sorry kl ga berkenan..

80

Aduh, endingny. Saia seriusan jadi pengen baca Filosofi Kopi punya Dee, saia bukan pencinta kopi, jadi agak penasaran apa yang membuat kopi sangat sakral

BTW, ada typo "Kau melirikku sedekit," mungkin kamu mau nulis sedetik?

Writer duvernoy
duvernoy at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 48 weeks ago)
60

Critanya bagus banget >.<
Suka sama endingnya :-D

Writer JFMDW
JFMDW at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (4 years 50 weeks ago)
90

"kita ini saudara kandung" yaampun ini bikin kaget sumpah.... tapi lebih bagus lagi kalau itu ditaruh di bagian akhir ya biar makin gereget, tapi overall udah bagus. Pemilihan katanya sama pengaitan isi cerita dengan kopi sangat menarik, ini bagus :D

Writer malody
malody at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 5 weeks ago)
100

Menarik. Setuju sama yang lain "Kita ini saudara kandung" mungkin bisa ditaruh di akhir. Awalnya masih belum bisa ketebak jalannya. Pas ditengah ada itu jadi agak antiklimaks gitu ga sih hehe. Tapi keren sih ini, serius :)

Writer ezra
ezra at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 9 weeks ago)
100

ada sedikit kata yang kurang menggigit. terlalu gamblang.

salam

80

:) kopi yang dianalogikan

Writer Lish
Lish at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)
80

suka bagian ending

Writer sebelumpagi
sebelumpagi at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)

saya juga setuju dengan kalimat "Kita ini saudara kandung" berada di situ. Tapi tentang kopi di dalam cerita itu sangat terasa...

Writer hara
hara at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)
70

nggak nyangka endingnya kayak gitu. oh ya, kalimat "kita ini saudara kandung" rasanya kurang cocok dipake.. Kurang puitis kah? :D

Writer imreara
imreara at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)
80

Flashback bedasarkan banyak isi kopi ya. Menarik.

Writer The Smoker
The Smoker at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)
80

saya merasa pukulanmu salah jurus #ngomongopo
itu kalimat "Kita ini saudara kandung." nggak pas berada disitu

Writer Febilions
Febilions at Dua Cangkir Kopi yang Berbeda (5 years 10 weeks ago)

AMAZING!!!