Tiga Cerpen Mikhail Zoshchenko (Terjemahan)

ARISTOKRAT

 

GRIGORII IVANOVICH menghirup udara keras-keras, mengusap dagunya dengan lengan baju, dan mulai menuturkan cerita: Saudara-saudara, saya tak suka wanita yang memakai topi. Kalau seorang wanita memakai topi, atau kalau dia memakai stoking sutra, atau ada seekor anjing pug dalam pelukannya, atau dia punya gigi emas, maka sudah pasti bagi saya dia seorang aristokrat, dan sama sekali bukan seorang wanita melainkan sebuah ruang kosong belaka.

Pada masa saya dulu, tentu saja, saya pernah memacari seorang aristokrat seperti itu. Saya berjalan-jalan bersama dia dan membawanya menonton teater. Di dalam teater itulah, faktanya, semuanya tampak nyata. Di dalam teater itulah dia pampangkan segala ideologinya dalam wujud paling maksimal.

Saya bertemu dengannya di halaman rumah. Pada sebuah pertemuan rumahan. Saya melihat, dan berdirilah di sana sebuah persoalan besar. Stoking yang ada padanya, gigi emasnya.

“Dari manakah asalmu, Duhai Penduduk?” tanya saya. “Nomor berapa?”

“Saya,” katanya,” dari nomor tujuh.”

“Tolong,” kata saya, “saya harap Anda senang.”

Dan seketika saja saya sadari kalau saya sangat menyukainya. Saya mulai sering menemuinya. Menuju Apartemen Nomor Tujuh. Sebagaimana semua itu terjadi, diri saya sedang berada dalam semacam kapasitas resmi. Semacam ini: “Adakah yang salah di sini, Duhai Penduduk, semacam pipa atau toilet yang rusak? Semuanya bekerja dengan baik?”

“Ya,” balasnya. “Semuanya baik.”

Dan dia membungkus dirinya dalam selendang wol dan tidak berbisik lagi. Hanya matanya yang melahap minat saya. Hanya dengan matanya dia menjauh. Saya mendatanginya selama sebulan dan dia mulai terbiasa dengan gaya saya itu. Dia mulai memberikan detil lebih pada jawabannya. Seperti, misalnya, “pipanya baik-baik saja, terima kasih, Grigorii Ivanovich.”

Agar saling lebih mengenal, kami mulai berjalan-jalan. Kami akan keluar, dan dia akan meminta saya merangkul lengannya. Saya malu, tapi saya rangkul lengannya dan mulai berjalan berdua seperti ikan yang baru saja meloncat dari dari dalam air. Dan apa yang bisa saya katakan, saya tidak tahu, dan di depan orang-orang saya malu.

Yah, dan suatu ketika dia berkata pada saya: “Kenapa,” katanya, “kamu selalu membawa saya berjalan-jalan keluar? Kepala saya jadi pusing. Kamu bisa saja,” katanya,” kalau kamu betul-betul seorang lelaki dan gentleman sejati, bawa saya ke teater, misalnya.”

“Bisa saja,” kata saya.

Dan tahu-tahu saja besoknya kelompok partai membagikan tiket-tiket opera. Satu saya dapatkan untuk saya sendiri, dan yang satu lagi saya dapatkan dari Vas'ka si juru kunci, yang sudi memberikan jatahnya pada saya.

Saya tidak perhatikan betul kedua tiket itu, tapi mereka berbeda. Punya saya ada di orkes—tempat duduk dekat panggung, tapi punya Vas’ka ada di balkon.

Betapapun, kami ke sana. Kamu duduk di dalam teater. Dia duduk di bangku saya, dan saya di bangku Vas’ka. Saya duduk di balkon terakhir dan tidak bisa melihat sebatang lobak-kuda pun. Tapi kalau saya condongkan badan saya pada kisi balkon saya dapat melihat dia. Meski tidak terlalu jelas juga.

Saya mulai bosan dan bosan, dan turun ke bawah. Saya mengintip jeda istirahatnya. Dan dia keluar untuk istirahat.

“Halo,” kata saya.

“Halo.”

“Menarik sekali,” kata saya. “ Apa pipa-pipa di sini bekerja dengan baik?”

“Aku tidak tahu,” katanya.

Dan dia pergi menuju bufet. Saya buntuti dia. Dia berjalan di sepanjang bufet dan terus menuju konter. Dan pada konter ada sebuah piring. Di atas piring ada kue-kue.

Dan saya bertingkah seperti angsa, seperti borjuis tak terasah, saya merayap di sekitar dan mulai menawarkan: “Kalau kamu mau,” kata saya, “makan satu dari kue-kue itu, jangan ragu. Aku yang bayar.”

“Merci,” katanya.

Dan tiba-tiba saja dia mulai bermanuver di sekitar piring dengan gerakan ganas, meraih satu kue berkrim, dan mulai menjilat-jilat.

Uang yang saya bawa sialnya sangat minim. Paling banter cuma cukup untuk tiga kue. Dia terus makan, dan saya mulai bergetar gugup menuju kantung saya. Saya lihat di tangan saya. Berapa banyak yang saya punya? Sekitar senilai dengan kotoran merpati.

Dia makan satu yang berkrim dan mulai meraih yang lain. Saya menghela napas dengan bunyi seperti bebek. Dan selanjutnya saya terus diam. Semacam rasa malu borjuis menghadang saya. Semacam ini, seorang gentlemen, dan tak sepeser pun uang dalam kantungnya.

Saya berjalan di dekatnya seperti ayam jantan, dan dia cekikikan menunggu pujian.

Saya katakan: “Bukankah sekarang sudah waktunya kembali ke bangku kita? Mungkin mereka sudah mulai main lagi.”

Tapi dia berkata: “Tidak.”

Dan mengambil kue ketiga.

“Dengan perut kosong seperti itu apa tidak kebanyakan? Kamu bisa muntah nanti.”

Dan dia berkata: “Tidak,” katanya, “Aku sudah biasa.”

Dan mengambil yang keempat.

Dan darah berlari menuju kepala saya.

“Taruh,” kata saya, “kembali!”

Dan dia jadi ketakutan. Dia buka mulutnya, dan di dalam mulutnya giginya berkilauan.

Bagi saya seakan-akan seseorang telah melemparkan ujung cambuk pada punggung saya. Sudah jelas, pikir saya, mulai sekarang tidak akan ada lagi jalan-jalan dengannya.

“Kembalikan,” kata saya, “betina sialan!”

Dia mundur. Dan saya berkata pada petugas: “Berapa harga tiga kue yang kami makan?”

Petugas itu bersikap acuh tak acuh dan santai-santai saja.

“Anda harus membayar,” katanya, “untuk empat kue, seharga sekitar anu-anu-anu.”

“Bagaimana bisa,” kata saya, “untuk empat? Padahal yang keempat masih di atas piring.”

“Tidak,” katanya, “walaupun masih di dalam pring, tapi sudah digigit dan tersentuh jari.”

“Bagaimana bisa,” kata saya, “digigit, tolonglah. Itu pasti cuma fantasi tolol Anda.”

Tapi dia tetap acuh tak acuh dan terus memeras tangannya di depan gelas-gelas.

Yah, tentu saja, orang-orang mulai berkumpul. Para ahli. Beberapa berkata kue itu sudah digigit, yang lain tidak yakin.

Saya kosongkan kantung saya dan, tentu saja, sesuatu jatuh dan menggelinding di lantai dan kerumunan tertawa-tawa. Tapi bagi saya itu tidak lucu sama sekali. Saya mulai menghitung.

Saya hitung uang saya cukup untuk empat kue dan sedikit lebih. Oh Ibunda, saya ribut demi omong kosong begini.

Saya membayar. Saya menoleh pada teman wanita saya: “Makan,” kata saya. “Sudah dibayar.”

Wanita itu tidak bergerak. Dia malu untuk memakan. Dan tahu-tahu saja seorang pelawak tua menyela.

“Berikan sini,” katanya. “Aku yang makan.”

Dan dia makan, bajingan itu. Dengan uang saya.

Kami kembali ke bangku masing-masing di teater. Kami nonton opera. Lalu pulang.

Ketika pulang dia katakan pada saya dengan nada borjuis khasnya: “Cukuplah kau berkutat di kandang babi. Mereka yang tak punya uang tak seharusnya membawa wanita keluar.”

Dan saya katakan: “Uang bukan kebahagiaan. Sekedar info saja.”

Jadi saya tinggalkan saja dia.

Saya tak suka aristokrat.[]

 

Terjemahan iseng dari cerpen The Aristocrat karya Mikhail Zoshchenko.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Cerpen2 ini, terutama yg Tempat Pemandian, kalo dibikin film, mungkin jadinya kayak Mr. Bean, ya. Btw, ini udah pernah diterjemahin blom, Yo?

makasih postnya bro