Saat Hujan Turun

Hujan turun, berisik menimpa genting. Aku menatap ke luar jendela, ke balik kaca yang dingin. Semua basah di luar sana. Pepohonan basah kuyup, daun-daunnya runduk terguyur hujan. Genangan air terbentuk di halaman.

Dia nggak akan datang, pikirku.

Tapi dia bilang akan datang, pikirku lagi

“Mungkin nanti setelah hujan reda,” kataku pada bayanganku yang bergelombang di kaca.

“Ya, pasti nanti datang,” gumamku.

Aku menatap hujan yang belom bosan turun, menatap pohon yang bergoyang ditiup angin, menatap kodok yang bergembira di genangan air, menatap arah kedatangannya.

Aku terkejut ketika merasakan sesuatu yang basah menyentuh jari-jari kakiku. Bonbon sedang melihatku sambil menjulurkan lidahnya, seakan bertanya, “Ada apa di luar sana?” Seperti biasa, matanya yang bulat dengan iris gelap selalu menggemaskan.

“Hujan, Bon, menurutmu dia datang nggak?”

Bonbon menelengkan kepalanya.

“Aku juga nggak tahu. Kalau dia datang, kamu nggak boleh ikut, nanti kotor.”

Bonbon menggonggong.

“Aku capek mandiin kamu terus.”

Bonbon menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan menggonggong lagi, protes.

“Kalau kotor nggak boleh masuk rumah, tidur di luar.”

Bonbon mengeluarkan suara mendengking pelan.

Aku tertawa dan mengelus kepalanya gemas. Bulunya yang putih terasa lembut, baru kemarin sore kumandikan.

Tiba-tiba Bonbon menggonggong keras ke arah jendela. Aku menoleh, ternyata hujan sudah reda, hanya rintik halus yang tersisa. Di jalan masuk ke rumahku, berjalan sosok yang tertutup jas hujan warna biru terang. Jas hujan yang sangat aku kenal.

“Itu dia, Bon!” seruku.

Aku beranjak dari sofa dan berlari ke pintu depan, Bonbon dengan cepat mendahuluiku.

“Hai, maaf ya, tadi nggak boleh pergi sama Mama waktu masih deras,” ujarnya sambil melepas jas hujan di teras rumah.

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku.

“Nggak usah pakai jas hujan ya, sudah reda kok. Ayo pergi.”

“Sebentar.” Aku menoleh pada Bonbon yang menatapku penuh harap. Tatapan itu selalu membuatku luluh, seperti saat ini. “Kamu boleh ikut, tapi jangan main lumpur.”

Bonbon menggonggong, ekornya bergoyang ceria.

Rian tertawa. “Biar ajalah dia ikut. Kasihan kan di rumah terus. Ya, Bonbon?” katanya sambil menggaruk belakang telinga Bonbon.

“Mama, aku pergi dulu ya sama Rian,” pamitku.

“Nggak bawa payung?” tanya mama.

“Sudah reda, Ma,” ujarku sambil menutup pintu. Sementara itu, Bonbon langsung menerjang kodok-kodok di halaman.

“Tuh, kan. Percuma juga tadi dibilangin.”

“Namanya juga Bonbon,” sahut Rian.

Kami berdua tertawa melihat kelakuannya.

Butir hujan terasa dingin di kulit, juga angin yang berhembus, tapi kami menyukainya. Hanya di cuaca seperti inilah kami bisa melihat mereka, makhluk-makhluk ajaib yang lahir dari tetesan air hujan di kelopak-kelopak bunga.

***

//Untuk mengenang Bonbon "Bimo", our beloved dog ever//

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis deelaNErth
deelaNErth at Saat Hujan Turun (4 years 49 weeks ago)
40

penantian dalam hujan. like it :3