RUNE BLOOD SAGA: The Heir of Erilaz (Sinopsis Teaser)

Naskah ini sedang kuikutkan ke seleksi Gramedia Writing Project 2. Please kindly vote there :D Kalau mau ikutan, masih ada waktu sampai tanggal 20 Desember lho. Kalau bener ikutan, posting link ceritamu di bawah ya. Biar bisa saling dukung dan vote. Vote cuma buat naskah semakin cepat dispot editor kok. Nggak berpengaruh sama terpilih-tidaknya :D

LINK:

http://gwp.co.id/rune-blood-saga-the-candidates-for-the-runes/

 

 Jurnal Sir Arthur, 9 September 1999

 

            Tuhan…

 

 Jikalau aku masih berhak mengajukan satu permintaan, kumohon segeralah kirim Azrael untuk mencabut nyawaku! Demi nama-namaMu yang agung, siksaan ini jauh lebih buruk daripada neraka lapis tujuh! Sungguh terkutuk makhluk celaka yang sudah mengubahku hingga jadi seperti ini. Kuharap dia kini membusuk di neraka.

 

Tuhan!

 

Lebih baik aku berkalang tanah ketimbang menjadi salah satu dari mereka! Menjadi bagian dari makhluk-makhluk terkutuk itu! Tuhan! Jika kau memang ada, ijinkan aku mati sekarang juga! Sekarang, ketika jantungku masih berdetak memompakan darah ke seluruh nadi! Pertanda bahwa aku masih berwujud sebagai manusia…

 

Tapi sebelum aku mati, aku akan membawa serta makhluk-makhluk celaka itu bersamaku ke neraka!

***

 

Karena suatu insiden dalam sebuah misi, seorang pembasmi iblis akhirnya berubah menjadi iblis penghisap darah alias vampir. Takdir buruk seakan tak lelah mengikuti Arthur Pendragon sejak saat itu. Terpaksa keluar dari organisasi Rune Master bawah tanah, The Orde of Avalon; terusir dari London; dikejar-kejar para exorcist alias pembasmi makhluk kegelapan; dan akhirnya terpaksa menyembunyikan diri di sebuah kota kecil di sudut Inggris, Runechester.

 

Bersama para sahabatnya; Heinrich, Sirius, Selena, dan para Rune Master lain yang membelot dari Avalon untuk menjadi reformis, mereka merintis sebuah sekolah asrama dengan latar belakang religius yang kuat. Tentu saja itu semua hanya kedok. Sekolah itu sebenarnya adalah akademi yang mendidik para calon Rune Caster muda, Restavia Academy. 

 

Rune adalah konsep kebijakan warisan budaya Skandinavia kuno yang terangkum dalam 24 alfabet arkais, ELDER FUTHARK. Penggunaan Rune dirahasiakan dari publik, terutama pihak gereja. Akan fatal jika hal itu sampai diketahui karena Rune masih dianggap sebagai bagian dari sihir terlarang. Padahal Rune hanyalah seni menguak rahasia di balik makna kata-kata, dengan menggunakan kekuatan spiritual dan hati. Di luar konflik mereka dengan pihak gereja, Rune Master mengabdikan hidup mereka untuk melindungi manusia dari vampir, werewolf, roh jahat, necron alias zombi, sampai makhluk-makhluk kegelapan dalam mitologi yang keberadaannya sudah dilupakan.

 

Selain berhadapan dengan para prajurit iblis, makhluk kegelapan, dan sesama Rune Caster yang berseberangan prinsip, para pengguna Rune harus berhadapan dengan lawan yang justru paling berbahaya: kegelapan yang bersemayam dalam hati mereka sendiri.

 

"Yang harus kau takuti bukanlah Iblis dan pasukan kegelapannya, Shavita. Kejahatan yang bersemayam dalam diri manusialah yang harus kauwaspadai.”

 

(Arthur Pendragon)

 

 

Author's Note:

Dulu tahun 2012 aku sempat mengerjakan sebuah novel berjudul Midnight Hour, tentang rune dan pembasmi iblis bersama adik kelasku. Dia anak k.com juga kok. Pada saat itu posisiku adalah co.author alias asisten penulis yang membantunya merangkai jalan cerita, hubungan antarkarakter plot, juga sistem Rune. Sayang kemudian kami beda visi dan kerjasama itu pun pecah.  Dipikir-pikir, sayang juga kalau nggak dilanjutin coz aku udah terlanjur belajar Rune tingkat dasar dan menghabiskan banyak waktu untuk itu. Termasuk ratusan jam yang kuhabiskan di depan warnet kota Palembang selama tiga bulan untuk menulis naskah (yang kemudian dia tolak karena dianggap melenceng dari jalan cerita utamanya).

 

Cerita pun kuubah. Nama karakter dan watak kuubah semua. Aku menjaga agar sistem yang kutulis di sini adalah sistem yang kubawa sendiri saat menyusun cerita ini dulu. Dalam artian aku berusaha tidak mengambil ide cerita adik kelasku itu agar tak ada masalah di kemudian harinya. 

 

Beruntung saat masih draft kasar, pembuatan plot dan sebagainya, peranku cukup dominan. Terutama soal pengetahuan dan sistem pertarungan memakai Rune. Jadi bisa kupastikan bahwa cerita Runeblood ini sudah menjadi ceritaku sendiri.

 

Memang tak bisa kupungkiri masih ada pengaruh kuat dari novel Midnight Hour (yang entahlah apa nanti bakal dia teruskan jadi komik atau tidak). Seperti kepala sekolah yang ternyata Vampir, pria keturunan Jerman, tokoh berangasan bernama Aquilla (di cerita dia namanya Acillea dan cewek. Aku switch Aquilla jadi cowok, dan latar belakangnya beda dengan si Acillea). Tapi saat pembuatan cerita, aku yang membuat kisah latar belakang berubahnya si kepala sekolah menjadi vampir. Pria Jerman ini pun dalam Runeblood hanya Rune Master biasa. Bukan nekromanser atau penyihir yang mampu membangkitkan orang mati/zombi seperti dalam cerita dia.

 

Karena itu, sebagai tribute untuk sang adik kelas yang sudah membuatku mempelajari Norse Myth dan Rune, aku memakai nama tengahnya, RESTAVIA, sebagai nama sekolah di sini. Ini pun sudah kubuat kepanjangannya dalam bahasa latin lho. Hehehe... Begitulah. Kuharap karir komiknya pun kini lancar. Aku akan terus menulis novel ini sambil menyimpan kenangan dan antusiasme kami berdua saat dulu masih dalam suasana kerjasama :)

Read previous post:  
Read next post:  
80

amazing

Thanks :) Kalau mau baca lanjutannya, di link di atas ya :D Thank you

keren

http://gwp.co.id/rune-blood-saga-the-candidates-for-the-runes/

Lanjutannya bisa dibaca di sini :D Dukung dan vote ya, biar bisa diterbitin. Thanks :D