Shield-maiden Alerith (Verse II) - A Maiden in Solitude (First Part)

*Ding ding dong ding ding dong*

Aku lumayan kaget. Kuusap kedua mataku yang mulai berair. Kalau saja bel itu lebih lambat beberapa detik, kepalaku pasti sudah jatuh ke meja. Selama sejam terakhir ini aku diserang oleh rasa kantuk yang kronis. Melihat wajah-wajah lega teman-teman sekelas, sepertinya jadwal hari ini juga berat bagi mereka.

Kututup buku catatanku yang isinya nyaris mustahil untuk dimengerti sebelum membenamkannya ke dalam tas. Pelajaran pun ditutup dan suasana kelas setelahnya langsung sibuk.

Sambil menutupi mulutku yang menguap lebar dengan sebelah tangan, aku berjalan melewati beberapa teman sekelas yang masih berada di meja mereka dan mengobrol. Yang kutuju adalah pintu keluar.

Aku butuh kopi. Makin hitam makin bagus.

Melewati koridor blok kelas yang sudah seramai stasiun, aku menuju tangga ke lantai satu. Sebisa mungkin kuabaikan pandangan heran murid-murid di sekitarku. Beberapa dari mereka sepertinya bahkan merasa terhibur dengan apa yang mereka lihat. Tapi itu bukan masalah buatku. Setelah apa yang terjadi di halaman sekolah pagi ini, aku siap untuk apapun.

Atau begitu yang tadinya kuharapkan, tapi...

“Wildan!”

Suara gadis ini.

Asalnya dari arah belakang. Langkah-langkah kakinya yang ringan bergerak cepat dan baru berhenti setelah sosokku beada di jangkauan tangan.

Kalau ada seseorang yang kuharapkan tak melihat keadaanku sekarang maka gadis ini lah orangnya.

“Aku dengar dari Gillian,  kata dia kamu...”

Bisa kudengar suaranya yang mencurahkan rasa khawatir itu memudar diujung kalimatnya yang tak selesai.

“Pff! Apa-apaan kamu kok jadi pakai eye patch begitu, Dan?”

Rasa prihatin yang tadi sempat mendampingi nada bicara gadis itu hilang total begitu aku berbalik dan menampakkan wajahku padanya.

Sosoknya pun kini terekam dengan jelas di mataku. Gadis bertubuh sedang dengan rambut panjang yang dikuncir ekor kuda itu menatapku geli. Jari-jari tangan kanannya yang ramping menyembunyikan bibir cerahnya dari pandangan. Membendung gelak tawanya agar tak meluap.

Aku kenal gadis ini sejak hari pertama kami bertemu di kelas 10. Namanya Helena. Helena Aristya.

“Ini pemberian Kak Cassandra,” jawabku sewajar mungkin. Telunjukku mengarah ke sebelah mataku yang tertutup sepenuhnya oleh penutup mata warna putih ber-strap. Benda ini biasa diberikan kepada pasien pasca operasi mata. “Aku bisa jadi bahan lawakan sekoridor kalau benda ini tidak menutupi mata kiriku.”

Helena mengangguk penuh energi. “Terus, terus, kamu sudah buat back story? Atau mungkin nama jurus rahasia? Kontak lensa berwarna?”

“Ah- hahaha,” tawaku palsu. “Aku tahu kalau itu sedang hit di trend sub kultur tertentu tapi aku pakai benda ini murni untuk alasan medis.”

Yaa.. atau alasan sosial kalau kamu mau menyebutnya begitu.

“Tahu kok, Dan. Tahu” ujarnya ceria. “Aku sempat khawatir begitu dengar kalau pagi ini kamu harus masuk ruang kesehatan. Tapi, setelah lihat kondisimu yang sekarang sepertinya kamu baik-baik saja, ya. Syukur deh.”

“Aa-- t-trims.”

“Tapi, hmm...” Helena mengelus dagu sambil menginspeksi wajahku dari ujung ke ujung. Sebelum mengangguk mantap  “Humh! Kadar kerenmu bertambah 50 persen, Dan.”

“C-cuma eye patch-nya,” jawabku bodoh.

“Mm-hm,” Helena menggeleng. “Bukan Cuma itu. Adik kelas yang kamu selamatkan tadi pagi itu teman satu klubku. Kamu sungguhan keren deh, Dan.”

P-pelanggaran! Bendera! Bendera! Mana bendera!!?

Aku tidak bisa membiarkan tembok ekspresi yang kupertahankan setengah mati di wajahku ini runtuh berhamburan. Hal yang bisa kulakukan cuma mengarahkan topiknya keluar orbit.

“B-bilang apa sih kamu, Hel. Padahal cara bicaramu di 9th Eternity Gate jauh berbeda dari ini.”

Di game itu kamu seperti Tuan Putri yang bakal meledak kalau kemauannya tidak dituruti.

“Hm?” Helena memutar kepalanya ke satu sisi. “Kan aku sedang on-character di game itu. Bosan jadinya kalau kita terus-terusan main game sebagai diri kita sendiri. Bukannya karaktermu juga begitu semalam?”

Tepat sekali! Karakterku layaknya si pelayan istana yang harus selalu siap menderita agar keinginan si Tuan Putri tercapai. Benar-benar peran kelas satu yang mencabik-cabik perasaan.

He, tunggu dulu! Aku tidak sedang on-character semalam!!

“On-character, ya...?” Aku menggaruk kepalaku. “Coba lain kali perankan karakter yang bisa kita nikmati bersama, Hel. Aku jadi merasa seperti adik beda ibu yang kamu benci setengah mati.”

“Atau kakak kandung yang punya seorang adik super berbakat yang tidak menaruh rasa hormat padanya?”

“I-ya, yang itu juga boleh.”

“Ditolak,” jawabnya dengan senyuman lebar. “Habis Magdeva saja mengikuti flow-nya semalam. Apa lagi aku terlanjur jatuh hati dengan Lilueth.”

“Dan aku terlanjur jatuh bangun dengan dia sebagai instruktur lapanganku semalam. Paling tidak kurangi porsi latihaku. Ya, Instruktur?”

Helena berpikir sejenak sebelum menghela nafas. “Apa boleh buat. Aku pertimbangkan, ya. Paling tidak kita pakai pola leveling up berbeda untuk selanjutnya. Mau bagaimana lagi, ternyata tim kita jadi jauh lebih kuat dengan satu karakter tank.”

“Anu... aku tidak sepenuhnya yakin kalau jawabanmu yang barusan itu kabar baik buatku. Tapi untuk sekarang, aku cuma bisa berterima kasih.”

“Sama-sama,” ujarnya enteng, sambil menarik roknya sedikit dan menunduk layaknya wanita terhormat dari kerajaan eropa kuno.

Hal yang bisa kulakukan hanyalah menarik satu kakiku mundur dan membalas salamnya.

Ini lumayan memalukan.

“Ah iya, Hel. Ngomong-ngomong... Gillian tidak ikut keluar kelas?”

“Gillian? Dia ada tugas essay tambahan. Deadline hari ini.”

“Karena terlambat masuk kelas?”

“Karena lupa tugas presentasinya juga.”

Ya ampun, anak itu.

“Aku permisi ke kantin ya, Hel. Aku butuh kafein. Untuk sebab yang berbeda.”

“Ah. Ikut, ya,” seru gadis itu tanpa basa-basi. “Aku belum sempat makan siang hari ini.”

Aku tak langsung bisa menjawab pertanyaan itu.

Aku...

Aku mungkin akan menyesali ini nanti, tapi-

“Boleh,” jawabku pada akhirnya.  “Ayo, sebelum mejanya habis.”

Ini tidak masalah.  Aku sudah memutuskannya sejak dulu.

Ya. Aku akan baik-baik saja.

Tak sampai semenit setelahnya aku dan Helena sudah keluar dari blok-blok bertingkat dimana ruang-ruang kelas berada. Kami berdua kini menyusuri koridor di salah satu sisi lapangan sekolah. Perjalanan menuju kantin terasa lambat. Langkah-langkahku tak secepat biasanya.

Berapa minggu, ya? Atau bulan? Rasanya lama sekali sejak terakhir aku berjalan bersebelahan dengan gadis ini. Menyedihkan. Aku bahkan tak bisa menemukan topik apapun untuk memancing obrolan.

“Rasanya sudah lama ya, Dan.” Helena menyelamatkanku dari pikiranku sendiri. “Kamu ingat terakhir kali kita jalan berdua seperti ini? Sudah masuk hitungan bulan lho.”

“...”

Aku tak bisa menemukan lidahku.

“Kamu kenapa, Dan?” Helena bertanya geli. “Biasanya kamu tidak sependiam ini kan?”

Selanjutnya dia hanya tersenyum padaku, lembut, sebelum mengalihkan pandangannya dan mempercepat langkah-langkahnya. Tertinggal di belakang, aku hanya bisa menatap punggung lampainya.

“Rasanya...” ucap gadis itu. Langkah-langkah kami berhenti di tengah koridor nyaris bersamaan.

Mata karamelnya kembali menatapku. Teduh. Helena menyembunyikan kedua tangannya ke belakang. Aku sudah lihat banyak ekspresi yang pernah ada di wajahnya, namun tak ada yang menurutku lebih cocok untuknya dari pada apa yang sedang dibawakannya saat ini.

Dadaku terasa sakit.

“Ini bukan- tidak. Belum. Belum waktu yang tepat ya?” Helena melanjutkan kata-katanya. Aku bisa mendengar suaranya sedikit bergetar. “Maaf, aku yang kurang berpikir panjang.”

“Hel...”

Helena menggeleng. “Ini sepenuhnya salahku.”

Tak ada dari kami yang berkata-kata untuk beberapa detik selanjutnya. Hanya sayup-sayup suara dari murid-murid yang bermain sepak bola di lapangan yang menyelamatkan suasananya dari hening total.

“A-aku...” Helena melanjutkan akhirnya. “Aku permisi saja ya, Dan.”

Helena tak menungguku memberikan jawaban. Sepatu olah raga warna cerinya mulai bergerak membawa sosoknya pergi.

“Tapi itu bukan arah ke-“

“Ada rencana lain!” jawab Helena cepat. Saking cepatnya hingga ia terdengar seolah-olah sedang mengatakan hal yang seharusnya tak diucapkan. Dia bahkan tak menatapku langsung. “Sepertinya sore ini kamu harus ke kantin sendirian.”

“Oh... oke.”

Seperti ini, ya, rasanya habis tersengat taser gun?

Sosokku yang kaku mungkin bisa membaur dengan pilar-pilar yang menyangga atap koridor.

Yang bisa kulakukan cuma menatap punggung Helena yang semakin jauh.

Aku menghela nafas.

Belum saatnya... ya?

.....

Aku merasa bodoh. Apa-apaan aku ini? Ayo bergerak, Wildan! Kemana saja. Yang penting tinggalkan tempat ini.

Aku tak lagi mengantuk.

Hilang sudah alasanku untuk pergi ke kantin.

Dan pasti jadi canggung kalau aku keluar lewat gerbang sekolah lalu berpapasan dengan Helena lagi.

.....

Seseorang menepuk sebelah bahuku. Hanya dengan melirik saja aku langsung tahu siapa murid laki-laki ini.

“Yo!”

“.....”

 “Hm? Kamu tidak mau menegurku? Aku kan mungkin saja menguping tadi.”

“Tidak,” jawabku sambil mengangkat bahu. “Itu bukan sesuatu yang bisa kubayangkan kamu lakukan. Lagi pula tidak masalah kalau memang begitu. Kamu bukan orang asing dalam hal ini.”

“Eheheh, trims.” Gillian kelihatan puas dengan jawaban yang kuberikan. Oleh sebab tertentu anak laki-laki itu kini membusungkan dadanya sambil menarik nafas panjang.

Dan di saat terakhir, dia mendorong punggungku kuat-kuat.

*Bugh!!*

*Tap!* *Tap!* *Tap!*

Butuh tiga langkah sebelum kakiku berhasil menahan momentumnya dan mengembalikan keseimbangan ke tubuhku.

“A, apa-apaan yang barusan!?”

“Bukan apa-apa,” jawabnya enteng. “Memang menurutmu apa yang barusan kulakukan?”

“Eeh...”

“Mau dikejar tidak? Aku siap bantu kok.”

“.....”

“Hm? Artinya tidak, ya?”

Aku menggeleng. “Boleh aku pukul wajahmu?”

“Ah ha ha ha. Silahkan. Lakukan apa saja asalkan tidak diam di tempat.”

“Kalau begitu pass, deh. Cukup aku yang pakai eye-patch.”

“Hmm... padahal itu bukan ide yang jelek untuk sebuah dress code.”

“Silahkan. Tapi kabari aku dulu ya. Biar aku bisa lepas punyaku.”

“Ghuahh, pahit. Seperti yang kuharapkan dari Sir Wildan.”

“Itu lagi...”

“Kamu tidak suka gelar yang itu? Bagaimana kalau pakai yang kurang konvensional? Misalnya... Count? Count Wildan... Marquess Wildan? Duke Wildan!”

Daftarnya bertambah panjang.

“Mungkin lebih baik kalau kamu mulai dengan hilangkan gelar kehormatannya saja.”

Gillian mengeleng. “Aku bukan orang yang suka menyingkirkan keju dari cheese burger-ku.”

“Bur-ger...?”

Aku menyapukan pandanganku ke arah gerbang sekolah yang terlihat dari sisi koridor tempat kami berada. Helena pasti sudah keluar dari area sekolah saat ini.

“Pernah coba burger kentang yang ada di stasiun?” tanyaku.

“Whoohoo! Wildaann...! Sukses kembali ke bumi. Tidak ada yang lebih jantan selain laki-laki yang masih punya perut setelah mendapat serangan telak di sini.”

Gillian nyaris melompat-lompat kegirangan. Jari telunjuknya tak henti-henti menyodok emblem sekolah yang ada di dada kiriku.

“Ha ha ha. Teruskan saja, mungkin aku bakal benar-benar memukulmu.”

Read previous post:  
Read next post:  
70

bagus

70

Hm msh byk teka-teki. Tidak tahu apa yg dipikirkan tokoh utama.

Hei, Filan. Thanks udah mampir & komen.:D
Mudah-mudahan jawaban teka-tekinya nggak mengecewakan.