Kamera

 .1

“Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta.”

Begitu kata Albert Einstein puluhan tahun yang lalu ketika namanya melambung menjadi salah satu ilmuwan terbesar umat manusia. Ketika aku masih kecil, usia SD kira-kira, jelas aku tidak paham apa maksud kata-katanya itu. Beranjak dewasa, aku pun mulai paham. Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semuanya terjadi secara teratur dan terencana. Segala sesuatu bisa dijelaskan. Dunia ini logis.

Aku masih percaya Albert Einstein sampai minggu lagu. Sampai aku mendapatkan sebuah kamera tua milik kakekku. Sampai sebuah kejadian aneh menimpaku. Inilah kisahku yang sebenarnya. Aku peringatkan pada kalian semua: dunia ini tidak logis.

.2

Pagi itu cuaca tampak cerah. Matahari menyinari Kota Batu dengan gagah dan penuh percaya diri. Sebaris awan tampak berderet dengan latar belakang layar biru nan indah. Udara masih sejuk meskipun bau asap knalpot mulai mengotori kesegaran pagi. Tapi sebuah rumah yang terletak di sekitar Alun-Alun Kota tampak tak menikmati pagi. Puluhan orang tampak menyesaki rumah tersebut. Mereka berpakaian hitam-hitam. Suasana sedih terasa menggelayut kental. Para wanita menangis sesengukan, sedangkan yang laki-laki tertunduk memandangi lantai. Mereka tak banyak berbicara. Sunyi dan sepi lebih membuat mereka nyaman. Nyaman dengan kenangan demi kenangan tentang seseorang yang berputar bak film di kepala mereka masing-masing. Seseorang yang mereka cinta. Seseorang yang mereka puja. Begitu pula denganku.

Seseorang meremas bahuku pelan. Aku menoleh.

“Yang tabah ya, mas.” Seorang pria paruh baya berkata. Tatapannya sendu.

Aku hanya menangguk kecil. Tidak kuasa menjawab. Takut tangisku pecah. Aku hanya duduk diam memandangi keranda di depanku. Tertutup selapis kain hijau bertuliskan huruf-huruf arab, seseorang yang paling kucintai berada disana. Jasadnya sudah terbujur kaku terbungkus kain kafan ketika aku datang terburu-buru. Aku tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku tidak sempat mencium keningnya untuk terakhir kali. Aku tidak sempat bersimpuh memohon ampun padanya. Entah sampai kapan perasaan sesal ini kan kutanggung. Mungkin selamanya.  

Seorang gadis muda mendekat. Matanya merah, wajahnya pucat. Bibirnya bergetar saat ia bicara pelan.

“Mas, terima kasih ya sudah mau datang. Aku tahu mas sedang sibuk-sibuknya bekerja di Jakarta. Sekali lagi terima kasih sudah mau datang.” Kaku sekali bicaranya. Sebesar itukah jarak yang tercipta diantara aku dan dia?

Aku kembali mengangguk. Belum berani membuka suara. Tenggorokanku tercekat. Sebuah lubang menganga lebar di hati. Aku tahu tidak ada yang bisa menutup kembali lubang ini. Perasaan kosong yang menyesaki dadaku. Meresap ke setiap pori-pori tubuhku. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan.

“Dimana kakek akan disemayamkan?” Akhirnya aku membuka mulut.

“Pekuburan Umum di dekat sini. Jenazahnya akan disemayamkan setelah Dzuhur.” Katanya setelah jeda sesaat.

Aku memandangi matanya. Mata yang dulu pernah memikat jiwa dan ragaku. Kemudian menghempaskan harapanku bak kapas yang tertiup angin topan. Habis tak bersisa. Meskipun dirundung kesedihan, mata itu masih menyimpan sejuta pesona. Tak kugubris pesona itu. Duka di hatiku masih terlalu dalam untuk mengenang masa lalu dengannya. Aku sedikit lega karenanya. Keadaan tak perlu bertambah sulit.

“Mas..” Ujarnya pelan. Jemarinya menggenggam jemariku. Lembut. Aku melepaskan genggamannya seketika. Sedikit kasar, memang. Tapi aku tak peduli. Tak ada lagi yang kupedulikan.

Ia terdiam sejenak. Kemudian berujar.

“Kakek sangat menyesal di penghujungmmm hidupnya. Ia sering duduk termenung di balkon. Begitu murung, begitu sedih. Ia tak henti-hentinya menyebut namamu dalam tidurnya. Ia sering melihat-lihat album foto ketika kamu masih kecil, mas.”

Aku menutup mata. Tak ingin aku mendengar bagian ini. Tak ingin aku menambah penyesalanku.

“Apa kamu menyalahkanku?” Suaraku bergetar sedikit. Tiba-tiba aku merasa benci dengan gadis muda ini.

“Tidak. Aku sadar tindakan kakek padamu keterlaluan. Tidak sedikitpun aku menyalahkanmu akan penyakit yang dideritanya. Kau tahu sendiri kakek. Ia benci dokter. Benci rumah sakit.”

Aku membuka mataku. Pandanganku bertemu dengannya. Ada nada yang aneh dalam kalimatnya barusan. Aku menunggu. Ada hal lain yang ingin ia sampaikan.

“Tapi aku benci kau yang tidak sedikitpun mau meluangkan waktu untuknya. Tidak datang berkunjung. Tidak menelpon. Bahkan sms pun tidak.” Ia terdengar kecewa padaku. Sedih. Aku tidak menyalahkannya.

Aku menghela napas. Tidak menjawab.

“Ia menulis belasan surat. Tidak dialamatkan pada siapapun. Tidak menyebut nama siapapun. Ia hanya menyatakan bahwa ia menyesal. Ia menyesal atas semua yang terjadi. Ia menyesal karena ia menjadi orang tua yang egois. Ia menyesal karena sempat berpuas hati menyakiti orang lain.”

Seluruh tubuhku terasa terjun ke sebuah jurang yang dalam dan gelap. Aku menolak mendengarkannya lebih jauh. Aku ingin pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi jauh dan tak kembali lagi. Aku ingin mati saja daripada harus hidup menanggung beban penyesalan seberat ini.

Ya Tuhan, bagaimana aku harus meminta maaf pada seseorang yang berpulang ke sisi-MU? Bagaimana caraku membalas budi baiknya selama ini padaku? Bagaimana caraku mengulang waktuku dengannya dan merubah segalanya? Bagaimana?

 .3

Aku kembali ke Jakarta  selepas pemakaman kakek. Aku tidak ingin berlama-lama. Aku yakin beberapa keluarga pun tidak ingin berlama-lama bertemu denganku. Aku menatap wajah-wajah mereka yang kusebut paman dan bibi. Tidak ada lagi senyum ramah, yang tampak hanya kebencian. Aku tahu mereka menyalahkanku akan kematian kakek yang terkesan mendadak. Mereka benar. Memang aku yang salah. Memang aku yang membunuh kakek. Aku menyiksanya pelan-pelan dengan sengaja memutuskan hubungan dengan seluruh keluarga. Aku tidak datang berkunjung saat liburan, tidak menelpon walaupun hanya sebentar, tidak sms walau hanya sekali. Aku membunuhnya dengan keegoisanku. Setelah semua yang ia lakukan untukku.

Sebuah paket datang beberapa hari kemudian di kosku di Kota Jakarta. Meskipun tidak ada nama dan alamat pengirim, aku sudah tahu dari siapa itu berasal. Paket itu berisi sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu jati. Kotak itu datang bersama sepucuk surat pendek.

“Sebelum meninggal, kakek hobi sekali memotret. Ia menyuruhku mencari orang yang dapat memperbaiki kamera polaroid tuanya. Ia mulai memotret dengan sangat antusias. Hasilnya tidak bisa dibilang bagus memang, tapi ia sangat bersemangat melakukannya. Ia memotret orang-orang yang datang ke Alun-Alun. Ia berjam-jam duduk di kursi rodanya di lantai dua, mengarahkan kamera ke keramaian kota di bawah. Ia paling banyak memotret anak-anak yang datang bersama kedua orang tua dan kakek-neneknya. Bermain-main, bersenda gurau, membeli berbagai macam mainan anak-anak. Sudah jelas siapa yang dia ingat ketika ia memotret. Aku mohon, mas, terimalah ini. Teruslah mengingat kakek sebagaimana ia terus mengingatmu. Bahkan hingga akhir.”

Tetes air mata membasahi surat. Air mataku mengalir tanpa suara. Lubang di hatiku membesar tak terhingga. Aku terus membaca surat itu. Berulang-ulang. Lagi dan lagi.

Kuletakkan surat itu di atas meja komputer. Kuambil kotak kayu itu dan membukanya. Sebuah kamera polaroid model lama berwarna hitam yang dilengkapi flash. Kamera kakek. Benda yang setia menemaninya hingga saat-saat terakhir. Benda ini yang terus berada disisinya, memberinya semangat untuk tetap hidup, memberinya rasa bahagia yang ia butuhkan di penghujung usia. Kamera ini, bukan cucu angkatnya yang kurang ajar, yang menjadi teman setianya. Bukan aku.

Aku mencium kamera itu. Kugenggam lembut dengan kedua tangan. Hatiku berantakan. Pecahannya menyebar entah kemana. Aku tak tahu, aku tak peduli. Yang ada hanya rasa sesal yang tak berguna.

.4

Dua puluh lima tahun yang lalu, kakek mengangkatku sebagai cucu. Kejadian itu menggemparkan banyak orang. Pasalnya, kakek berasal dari trah keluarga yang cukup terpandang di Kota Batu. Mengangkat seorang anak kecil ingusan dan dekil yang biasa mengamen di Alun-Alun jelas merupakan peristiwa yang tidak biasa. Tak ada yang tahu mengapa kakek melakukan itu. Ketika ditanya orang, jawabannya selalu enteng: “Biar cucu perempuanku satu-satunya ada teman main.” Tidak ada penjelasan apapun.

Maka hari-hariku yang dipenuhi oleh sumpah serapah, malam yang dingin tanpa selimut, makan sehari sekali dan berbagai kehidupan keras khas anak jalanan pun berubah seratus delapan puluh derajat. Hanya dalam semalam, aku yang bukan siapa-siapa, yang sehari-hari tidak beralas kaki, baju compang camping dan dekil tiba-tiba menjadi seseorang. Seseorang yang tidak dipandang rendah, dipandang remeh, dipandang mengganggu. Aku diberi pakaian bagus dan pendidikan baik. Aku diberi makan tiga kali sehari dan mandi dua kali sehari. Diatas itu semua, aku diberi satu hal yang tak pernah kuimpikan akan kudapatkan selama hari-hariku yang sepi dan sendiri di jalanan: kasih sayang. Kakek menyayangiku. Aku pun menyayanginya.

Tetapi ketika lima tahun yang lalu aku memutuskan bicara jujur padanya mengenai niatku mempersunting cucunya itu, teman bermainku sejak kecil, cinta pertama dan terakhirku, untuk pertama kalinya aku paham apa itu murka.

Ia menyumpahiku bertubi-tubi. Ia menghinaku serendah-rendahnya. Ia berteriak-teriak marah sampai tetangga banyak berkumpul di depan rumah. Malam itu untuk pertama kalinya aku merasa bukan benar-benar bagian dari keluarga kakek. Aku meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Aku membencinya karena memandangku seperti anak jalanan yang tak pantas bersanding dengan cucunya yang jelita. Aku membenci diriku yang merasa bahwa aku sudah cukup pantas meminang cucunya. Aku ini pungguk yang tak pantas merindukan rembulan.  

Lalu ketika aku kembali lagi ke rumah setelah lima tahun lamanya aku memutuskan hubungan dengannya, ia sudah terbujur kaku dalam keranda, siap untuk ditimbun tanah pemakaman.

.5

Suara ringtone telepon genggamku membuatku terbangun. Setengah tersadar aku meraba-raba bagian samping bantal. Aku menemukannya dan langsung menjawab telepon itu.

“Hmm?” Ujarku terkantuk-kantuk.

“Halo mas, ini dari Media Kampus yang kemarin kirim email. Kita ada event yang lumayan besar minggu depan jadi butuh fotografer. Saya mau konfirmasi saja.” Ujar suara di seberang.

“Oh, iya, iya. Detailnya sudah saya baca di email kemarin. Maaf belum sempat balas, saya ada urusan keluarga di Kota Batu kemarin.” Seketika aku tersadar. Ada tawaran pekerjaan memotret one-day event di salah satu kampus terkemuka di Jakarta. Bedah buku dan workshop kepenulisan skala nasional. Segera kuiyakan tawaran tersebut.

“Baik mas, terima kasih ya. Info lain segera akan kami kirim via email, sekali lagi terima kasih.” Sambungan telepon pun berakhir.

Aku menguap lebar-lebar. Aku mengerling sekilas kamarku yang berantakan bak kamar pecah. Pandanganku langsung tertumbuk pada kamera kakek yang kuletakkan di samping meja komputer malam sebelumnya. Sebuah surat yang bernoda basah tergeletak disampingnya.

Yang membuatku terkejut adalah belasan lembaran foto yang berada di bawah kamera polaroid itu. Objeknya sama: aku yang sedang tidur. Angle-nya berbeda-beda. Samping, atas, bawah. Hasilnya tak begitu bagus. Hampir semua foto terlihat blur. Pelan-pelan kuamati foto-foto tersebut. Jemariku bergetar. Pikiranku berpacu kencang.

Siapa yang memotret ini? Bagaimana? Kamarku selalu aku kunci. Mustahil ada yang bisa masuk. Untuk apa juga orang itu memotretku diam-diam tadi malam?

Bulu kudukku berdiri. Keringat dingin mulai bermunculan di keningku.

Tidak, tidak, ini jaman modern. Mana ada yang namanya kejadian supranatural? Pasti ada penjelasan logis! Tapi sekuat apapun aku berpikir, jawaban logis tak kunjung kutemukan.

Kuambil kamera polaroid kakek. Kuamati sejenak. Kemudian aku coba memotret menggunakan kamera itu. Hasilnya persis seperti foto-foto yang secara misterius berada di atas mejaku. Tak ada ragu, memang kamera polaroid ini yang menghasilkan foto-foto tersebut.

Aku panik. Napasku memburu. Rasa dingin menjalar. Mulai dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Aku takut setengah mati.

Kuambil kamera DSLR dari tas. Canon EOS ini sudah beberapa tahun kugunakan untuk memotret. Inilah sumber kehidupanku sehari-hari. Hasil kerjanya tak pernah mengecewakanku sekalipun. Pelan-pelan kubidik kamera polaroid kakek. Jepret! Segera kulihat hasilnya di layar kamera.

Jantungku seakan mau keluar dari dada.

Bayangan buram membentuk sepasang tangan keriput yang sedang memegangi kamera polaroid itu. Tak sedikitpun aku ragu tangan itu milik siapa.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at Kamera (4 years 2 weeks ago)
90

Lupa kasik point ^^

Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at Kamera (4 years 2 weeks ago)

Ini..menjebak!
Saya bacanya malam malam!!!!
Sukur ga sendirian dirumah!!
Dramaaaa banget iniiii...ujungnya aja bikin "menyesal" bacanya.
Tapi sebenernya uda ada warning ya didepan kalau dunia ga logis.
Tapi apa Einstein tetep saya percaya. Gak ada yg kebetulan di dunia. Ya tak? Hehe
Tapi tapi tapi, karna awalnya drama banget, ending dramanya gimana?

Writer jalang
jalang at Kamera (4 years 29 weeks ago)

Hampir aja saya orgasme, sedikit. Gak sampai basah sih

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 29 weeks ago)

Hahahah, kurang luwes berarti goyangannya. Lain kali kalo berkunjung mudah2an bisa orgasme. Berkali2. Hihihi. Makasih ya :))

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Kamera (4 years 29 weeks ago)
100

Ceritanya mengharukan. Ngalir.
Tadinya, saya kira bakal ada sambungannya.
Ceritanya bagus, cocok untuk bacaan malam2, hehe.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 29 weeks ago)

Wah, makasih ya. Alhamdulillah kl bs kamu nikmati. Btw, salam kenal :)

Writer ArjunSW
ArjunSW at Kamera (4 years 29 weeks ago)
50

Saya suka dibagian penceritaannya._.

Yaa mungkin plot twist dibagian akhir rasanya kurang nendang. Hehe.

Btw, salam kenal kak :D /

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 29 weeks ago)

Makasih yaa! Salam kenal balik :))

Writer vinegar
vinegar at Kamera (4 years 30 weeks ago)
70

Empat segmen pertama yang saya anggap sebagai prolog itu imo rada kepanjangan dan tidak secara langsung berhubungan sama horor di belakang yang *yaolooh, seuprit itu :p. Seperti kejadian minggat dari rumah, jatuh cinta sama adiknya. Yang berhubungan langsung adalah kematian kakeknya, imo. Tapi mungkin sengaja dibikin untuk bersambung makanya dipersiapkan prolog segitu panjangnya? Eh tapi kok lebih mirip drama marathon ya? Istilahnya apa saya gak ngerti, maap.
Meski begitu saya menikmatinya karena narasi yang mengalir dan gak terlalu banyak akrobat kata untuk bacaan malam2 :).

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 30 weeks ago)

hihihi, seuprit :D Saya juga enggak begitu paham namanya apa. Yang jelas pertama kali jg nemu istilah "drama marathon" hihihi :p Iyaa, makasih inputnya yaa! :)

Writer The Smoker
The Smoker at Kamera (4 years 30 weeks ago)
70

enak bacanya. ngalir.
saya cuma merasa dramanya terlalu kepanjangan untuk cerpen. kirain bakal ada sambungannya, ya katakanlah biar seimbang dengan horornya, dapet.
jadi serasa apa ya, nanggung mungkin, pembaca seperti saya jadi merasa tak kemana-mana.
salam

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 30 weeks ago)

oh, proporsi dramanya kebanyakan ya jadinya? Makasih udah baca + komen :)

Writer 2rfp
2rfp at Kamera (4 years 30 weeks ago)
70

“Yang tabah ya, mas.” Seorang pria paruh baya berkata. Tatapannya sendu << saya pernah diberitahu kalau dialog dan kata setelahnya itu masih satu kalimat, sehingga tidak dianjurkan menggunakan titik di ujung dialog.
lebih banyak dramanya ya, tapi saya suka emosi yang di timbulkan, saya juga suka penggunaan kata-kata mas dalam setiap kalimat entah kenapa begitu menarik sepertinya.
horrornya juga walaupun sedikit saya dapat kengeriannya.
suka lah pokonya

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 30 weeks ago)

Oh jd ga usah pake titik ya? Sip, makasih ya sudah baca + komen :)

Writer Nine
Nine at Kamera (4 years 30 weeks ago)
80

Horornya bisa saya rasa. Tapi saya penasaran dengan gadis yg disukai si tokoh utama, apakah dia sudah nikah? Ato lagi pacaran? Ato masih jomblo? Ah sudahlah, tidak penting.

Ceritanya dapet.... (y)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 30 weeks ago)

Terima kasihh! Cewek itu masih jomblo kok. Nanti aku titipin salam deh. Hehehe :p

Writer Nine
Nine at Kamera (4 years 30 weeks ago)

Hehe, saya minta alamatnya aja bang, nanti saya mo kirim sayur ke dia, ^^

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Kamera (4 years 30 weeks ago)

Buset, wakakakakak :D