Fall of Chateau ~~2

Alicia memandang kastil yang bersinar penuh warna-warni dibawah hujan kembang api yang begitu luar biasa indah. Seharusnya hari ini dia menemani kakaknya menyaksikan gemerlap ribuan cahaya di atas langit kastil sebagai perayaan ulang tahun negeri ini. Negeri para peri dan kaum bukan-manusia itu sudah genap seribu tahun berdiri di tanah Hyrapter ini. Negeri yang dibangun sendiri oleh Bapa Ahura dan menjaminkan penjagaannya kepada dua putrinya, si sulung Anastasia dan si bungsu Alicia, kini masih tegak berdiri dalam kedamaian dan keharmonisan. Sebuah hasil luar biasa yang sepatutnya Alicia nikmati dan rayakan bersama Sang Kakak.

Tapi bukannya ikut serta memeriahkan acara itu bersama Anastasia, dia memilih undur diri setelah jamuan malam tadi dan kini malah menyepi di tembok terluar kastil dimana seharusnya hanya para prajurit yang berjaga-jaga disana. Dengan sedikit gertakan dan pandangan tajam ke arah mereka, tidak ada yang berani mengganggu dan menanyakan kenapa orang terpenting nomor dua di negeri ini malah memilih berleha-leha dalam dingin bersama mereka di sudut sepi negeri ini. Pikirannya membawa Alicia untuk tidak peduli dengan keheranan para prajurit rendahan itu. Dia bahkan tidak bisa menikmati betapa indahnya riuh rendah kembang api yang tengah menghujani kastil dengan ribuan cahayanya. Pikiran demi pikiran membawanya melayang jauh hingga tiba-tiba sebuah suara datang mengagetkannya.

“Aku sudah menduga kau disini.”

Alicia tersentak ketika seorang pria bertubuh besar dengan zirah tertutup kulit beruang kutub menghampirinya sembari membawa dua gelas besar rum. “Kakakmu sepertinya juga terganggu dengan ketidakhadiranmu disana.”

“Bagaimana kau bisa menemukanku, Kai?” balas Alicia tersenyum sembari menerima segelas rum dari tangan besar penguasa salju itu.

“Kita sudah berteman sejak lima ratus tahun lalu..., bagaimana aku bisa tidak mengenal kebiasaanmu merenungi betapa kokohnya tembok yang dibangun Yang Mulia Ahura ini?”

Alicia tersenyum tipis. “Terima kasih... Tapi seharusnya kau juga hadir disana, Dewa Salju. Para dewa pasti juga terganggu oleh ketidakhadiranmu”.

“Aku hanyalah dewa kelas rendah, Ai...” panggil Khion kepada gadis disebelahnya, “...dan dewa seperti aku tidak banyak yang memedulikan selama salju masih turun di utara,” ujarnya terkekeh.

“Bagaimana Regia?”

“Masih sedingin biasanya. Aku menantikan kunjunganmu kesana. Aku sudah membangun sebuah kereta salju seperti yang kau inginkan untuk mengunjungi teluk beku dimana kita bisa melihat aurora yang indah di langit malam berdua...”

Alicia terpana sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil, “Kalau itu sebuah pengakuan cinta..., kau tentu tahu jawabannya.”

“Bagaimana kalau aku melakukannya demi seorang sahabat?” Khion menyeringai kecil sambil melanjutkan minumnya. Sejenak kemudian mereka saling terdiam. Hanya bunyi seruput kecil saat Khion menyesap hangatnya rum di gelas yang dia bawa.

“Sejujurnya Alicia. Sejak acara tadi siang..., aku melihat kau tidak sebahagia biasanya. Apa yang mengganggu pikiranmu di saat seharusnya semua berpesta, Yang Mulia Penasihat?”

Alicia hanya tersenyum lagi mendengar nada penuh kekuatiran dari pria di sebelahnya. Dia berpura-pura menikmati indahnya kembang api alih-alih menjawab pertanyaan sulit dari Khion.

“Kau sakit?”

Alicia tersenyum lagi.

“Aku tidak tahu kalau seorang putri Ahura..., yang lebih agung dari para dewa tertinggi sekalipun..., bisa sakit?”

Khion mencoba menyentuh dahi Alicia sebelum akhirnya ditepis oleh gadis itu.

“Singkirkan tanganmu yang sedingin mayat itu,” hardiknya diikuti tawa lepas sang penguasa kebekuan. “Aku tidak apa-apa.”

Khion tersenyum. Dia meletakkan gelas rumnya yang sudah kosong. Dilepaskannya jubah bulu beruang putih yang bertengger di punggungnya untuk selanjutnya dikenakannya kepada Alicia.

“Ap...apa maumu...?” ujar Alicia malu-malu ketika Khion melingkarkan jubah tebal itu di punggungnya.

“Angin disini lumayan dingin, Ai. Dengan gaun setipis itu... kau bisa sakit.”

Wajah Alicia memerah. Tidak ingin harga dirinya terusik atau pria itu menyadari perubahan ekspresi wajahnya, gadis itu membuang muka ketika Khion memandangnya.

“Karena manusia itu...?”

Tak bisa dipungkiri setelah hampir setengah milenia berteman baik, Khion tentu saja bisa membaca apa yang tengah dipikirkan sahabatnya ini.

Alicia mengangguk pelan.

“Aku tidak menyalahkanmu, Ai. Manusia hanyalah biang kekacauan dan kehancuran. Aku bisa melihatnya setelah apa yang terjadi di Hyrapter. Perang dan kekacauan yang tak pernah berhenti di dunia mereka.”

“Di hari ketika manusia itu meminta perlindungan kepada kami..., aku menolak keras keinginan kakak untuk menampung mereka. Kini, berkat suaka dari kakak, mereka seenaknya saja melanggeng bebas dan berbaur dengan kaum bukan-manusia, para peri dan kurcaci, seakan-akan mereka tidak menyadari seberapa berpenyakitan diri mereka.”

“Anastasia memiliki pertimbangannya sendiri, menurutku. Bagaimanapun mereka hanyalah korban keganasan dari kaum mereka sendiri. Dan dalam keadaan seperti itu, Anastasia tentu saja memilih untuk menampung mereka terlebih dahulu karena mereka tidak memiliki tujuan lain lagi. Manusia tahu, apa konsekuensi memasuki tanah milik bukan-manusia. Melihat kenekatan mereka melanggar etika itu..., kurasa mereka sudah sangat putus asa mencari keselamatan.”

“Jadi maksudmu... kau membela kakak?” sungut Alicia sedikit marah.

“Aku mencoba menyelami pikirannya. Bukankah seharusnya kau lebih peka mengenai perasaan kakakmu sendiri, Ai?”

Alicia menyadari kebenaran ucapan Khion. Dia seharusnya tahu mengapa kakaknya memilih untuk menggenggam tangannya yang sudah dipenuhi aura Constantia, ketika pedang besar Metatron sudah mengarah ke para pengungsi manusia disana dan mungkin akan membakar habis mereka kalau saja kakaknya tidak menghentikannya.

Seharusnya Alicia menyadari mereka yang didepannya adalah kaum yang membutuhkan pertolongan mereka. Kaum yang sudah putus asa tidak tahu kemana mereka harus pergi dan terpaksa harus melanggar tapal batas antara tanah manusia dan bukan-manusia hanya karena keselamatan sudah tidak ada lagi di dunia mereka. Dia seharusnya menyetujui sikap kakaknya saat Sang Ratu menyuruh abdinya untuk menyediakan tempat yang layak, bukan pergi begitu saja meninggalkan aula itu dengan penuh ketidaksetujuan.

Dia bahkan jarang menyapa kakaknya lagi setelah itu.

“Jangan sampai amarah menutupi kelembutan hatimu, Alicia.”

“Itu bukan amarah, Kai...,” tutur Alicia rendah. “Itu adalah ketakutan. Ketakutanku kalau suatu saat nanti, negeri yang damai ini akan berubah menjadi neraka ketika para manusia itu berkembang biak disana...”

Mereka berdua memandangi hujan kembang api yang sudah mulai habis. Bias cahaya mereka yang membias di wajah cantik gadis di depannya membuat Khion menyadari betapa dalam kesedihan gadis disampingnya.

“Seandainya aku bisa menolong?”

Alicia tersenyum kecil.

“Menolong?”

“Yeah, apa saja asal gadis disampingku bisa kembali ceria seperti dulu,” balas Khion tersenyum.

Alicia memandang Khion agak lama sebelum akhirnya dia berkata lagi, “Seandainya aku meminta pertolonganmu untuk membantuku mengusir mereka, apa kau setuju, Dewa Salju?”

 

~~to part 3

Read previous post:  
65
points
(738 words) posted by alcyon 4 years 26 weeks ago
72.2222
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post:  
red_rackham at Fall of Chateau ~~2 (4 years 7 weeks ago)
90

Go for it bos Al~~!

Writer Isk
Isk at Fall of Chateau ~~2 (4 years 25 weeks ago)
100

Ihiiir, ternyata Alicia bisa malu-malu juga di depan Pangeran es yang hatinya selembut dan sehangat bulu beruang. Alurnya ngalir kak :)

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 25 weeks ago)

hahaha, terima kasih udah membaca

Writer Nine
Nine at Fall of Chateau ~~2 (4 years 25 weeks ago)
80

tigkah laku khion dan alicia memang menunjukan keromantisan... seperti alicia yg tomboi-tegas malu2 kucing sama khion...
Sedikit saran sja, bgusny di tiap chapter disisipkan konflik, seperti di chapter pertama, krna di bagian ke 2 ini terkesan datar sja..... mohon maaf apabila ada salah silap atau kata2 yg tidak berkenan, sy juga masih belajar... hehe,
Di tggu part 3-ny yh... :)

Tepuk pramuka... hehe

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 25 weeks ago)

ya, karena ini cerita bersambung kali ya jadi tidak setiap bagian ada konfliknya, kadang ada juga satu bagian yang akan menjadi dasar pemicu konflik di bagian selanjutnya.
anyway, terima kasih udah membaca

Writer benmi
benmi at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)
50

Beberapa pertanyaan.. apakah peri itu seukuran manusia? Bagaimana dengan ukuran dewa saljunya? Kalau peri lebih kecil, bagaimana menakutkan ekspresinya di bagian sebelumnya.. pastilah akan sulit dilihat. Dan untuk bisa romantis dengan dewa salju. Paling tidak dewa saljunya seukuran peri.
Kesimpulan manusia, peri dan dewa itu seukuran. Benar ga?
Mengenai romantismenya sudah mengalun..

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 25 weeks ago)

sebenarnya mereka itu sejenis elf, tetapi memiliki posisi lebih tinggi dari para dewa, ukurannya ya gak jauh dari manusia. tapi disini gak kutulis elf melainkan peri aja, meskipun sejujurnya aku jg gak tau mau ngasih mereka kelas ras apa??

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)
100

Romantis, deh Kak, ceritanya! Saya suka, saya suka! Hehe, takjub bacanya.

Saya suka cerita yang bergenre fantasy.
Tulisannya juga rapi.

Keep writing.
Salam kenal.

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)

terima kasih sudah menikmati ceritanya.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)
90

Saya masih binguna dengan kenapa dan mengapa? Keromantisan cerita ini, dapat! Dapat aja! Bingung deh mau komentar apa lagi. Ya sudah, biarlah bintang mewakili isi hati saya (ceilah).
Terus semangat menulis ya Kak :D
Salam kenal :D

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)

terima kasih sudah membaca tulisan saya, biarlah bintang yang mengabarkan isi hati itu ke saya (hahaha)

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~2 (4 years 26 weeks ago)

test nginx