Aku Hanya Ingin Pulang

Hah... hah... hah....

 

Suara napas yang terdengar memburu dari mulutku ini samar-samar masih dapat kudengar di tengah riuhnya suara rumput dan dedaunan kering yang berserakan di tanah. Entah sudah berapa jauh aku berjalan menjauhi sosok hewan besar yang berbulu lebat di dalam hutan tadi. Lebih tepatnya, aku mencoba berlari, kalau saja kaki kiriku ini berhenti mengalirkan darah ke sisi luar kulit dan mampu diajak berlari.

 

Saat kutemukan sebuah pohon yang batangnya cukup lebar untuk menutupi tubuhku, aku berhenti dan duduk bersandar di bawahnya. Kucoba mengatur napas semampuku sambil menengok ke belakang pohon, arah jalanku tadi. Mataku tak menangkap gerak-gerak mencurigakan dari balik pohon. Kutahan napas sesaat dan kufokuskan pikiranku pada indera pendengaran ini. Untunglah telingaku ini tak mendengar suara yang sejak tadi menari-nari di kepalaku. Aku pun mengembuskan napas lega sambil menyandarkan kepala di batang pohon, menengadah ke langit yang cahaya bintang-bintangnya sedikit tertutupi oleh rimbunnya dedaunan.

 

Mana sempat terbayang di benakku kalau hari ini aku bisa sesial ini. Semuanya berawal dari si “raja buah” itu....

 

~ *** ~

 

*Lima jam yang lalu*

 

Aku tiba-tiba saja terbangun ketika bus yang kunaiki ini mematikan mesinnya. Masih dalam keadaan setengah sadar, kubuka mataku perlahan-lahan dan menengok ke sekeliling. Beberapa temanku yang tadinya tertidur pun juga ikut terbangun. Apakah sudah sampai? Kutengok jendela di samping kanan tempat dudukku, kulihat jalan raya yang sepi dengan beberapa kios di seberang jalan. Ini bukan tempat tujuan kami, lalu kenapa bus ini berhenti? Belum sempat pertanyaan di benakku ini terucap, temanku bangkit dari kursinya dan mengajakku turun.

 

“Kita mau makan durian dulu nih. Kamu mau ikut?” tanya temanku itu dengan sorot mata yang antusias.

 

Makan? Durian? Apa karena efek baru terbangun dari tidur sehingga otakku cukup lama memproses kata “durian” ini? Setelah beberapa saat, aku baru menangkap apa yang ia maksud. Durian ... buah yang berkulit tebal dan berduri, berbentuk bundar lonjong, dagingnya berwarna putih, kuning tua, atau putih kekuning-kuningan, berbau tajam, dan dapat memabukkan. Karena rasa dan baunya yang unik ini, sebagian orang sangat menyukainya, tapi tidak untukku. Aku tak pernah menyukai buah yang menjijikkan seperti ini.

 

Dengan cepat aku menggelengkan kepala dan kembali bersandar di kursiku yang empuk ini, mencoba tidur kembali di saat teman-teman yang lain turun dan menyantap si “raja buah” itu. Satu menit ... dua menit .... Argh! Aku tak tahan dengan hawa panas di dalam bus ini. Aku beranjak dan keluar dari dalam bus. Ah, rasanya nyaman sekali ketika ada embusan angin dingin yang menerpa tubuhku ini.

 

“Wah, akhirnya turun juga kau. Ayo sini makan durian!” seru salah seorang temanku sambil menyodorkan salah satu belahan buah durian yang masih utuh.

 

Aku menggelengkan kepala. “Maaf, aku tidak suka durian,” jawabku singkat.

 

“Ah, payah sekali kau ini. Kalau tidak mau durian, itu di sana, anak-anak juga ada yang lagi makan duku,” kata temanku itu sambil menunjuk ke beberapa rekan kerjaku yang duduk melingkar di belakangnya, menikmati satu kantong plastik berisi buah duku.

 

Ah, tetap saja aku juga tidak suka dengan buah yang satu itu. “Tak usah deh. Aku mau cari minum saja.” Aku membalikkan badan, menyeberang jalan, dan mendatangi kios yang kulihat dari jendela tadi. Aku terlampau malas untuk kembali ke dalam bus dan mengambil dompet yang kusimpan di dalam tas. Jadi, dengan beberapa lembar uang kertas yang ada di saku celana, aku hanya bisa membeli sebungkus roti dan sebotol air mineral berukuran enam ratus mililiter.

 

Sambil menikmati sebungkus roti, tangan kiriku sibuk menggulir layar ponsel. Awalnya aku ingin membuka media sosial, tapi sinyal di tempat ini tidak begitu bagus. Ingin bermain game, tapi baterai pun hanya tersisa sedikit. Akhirnya aku menyandarkan kepala ke tiang bambu dan memejamkan mata sejenak. Jujur saja, rasanya tidur siangku tadi belumlah cukup.

 

Acara “Motivation Training & Gathering” tahunan—dari kantor tempatku bekerja—yang berlangsung dua hari ini memang menyenangkan dan juga cukup melelahkan. Sebenarnya, kurang cocok juga jika dikategorikan sebagai pelatihan pengembangan pegawai, karena acara tahunan ini diadakan untuk bersenang-senang guna melepaskan penat dari kesibukan perkantoran yang tiada habisnya.

 

Setiap tahunnya, konsep acara ini berubah-ubah. Tahun lalu, saat aku baru pertama kali bergabung, kami membuat acara di sebuah tempat pemancingan. Memancing, makan siang, bermain bola di lapangan sekitar, berfoto-foto, dan sekadar mengobrol ..., cukup membosankan bagiku yang selalu gagal mendapatkan ikan. Karena itulah, kali ini, ketika aku diberi tanggung jawab untuk menyusun konsep acara pelatihan pengembangan pegawai ini, aku beserta tim membuat konsep acara seperti kegiatan outbond, yaitu kegiatan atau permainan-permainan di alam terbuka yang bertujuan membangun kebersamaan di antara pesertanya. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan kami susun untuk dua hari satu malam di sebuah tempat di kaki gunung yang cukup jauh dari kota dan berjalan sukses. Aku pun senang kala melihat senyum dan tawa rekan-rekan semua di sepanjang acara.

 

Lamunanku membuyar tatkala ponselku berbunyi, memberitahuku bahwa baterainya kurang dari 14% lagi. Aku perlu kembali dan mengisi baterai ponselku. Kuharap teman-teman pun sudah selesai berpesta duriannya. Aku beranjak dari kursi dan membalikkan badan. Sedetik setelah memandang lurus ke depan, tubuhku tergeming. Mendadak aku bisa merasakan sesuatu, semacam rasa nyeri atau panas yang menjalar dari dalam dadaku ke seluruh tubuh. Tanganku bergetar. Bus berwarna biru yang seharusnya ada di seberang jalan kini tak lagi berada di tempatnya. Mulut ini rasanya ingin berteriak, tapi ia tetap membisu karena terlampau paniknya otak ini. Setelah tubuh ini bisa sedikit kutenangkan dan kendalikan, dengan cepat, aku berlari ke seberang jalan dan menanyai penjual buah durian yang sedang melayani pembeli lainnya.

 

“Masnya ikut rombongan yang tadi? Oh, busnya baru saja jalan, sekitar lima menit yang lalu,” jawab sang penjual durian sambil menunjukkan arah ke mana bus kami pergi.

 

Seketika badanku menjadi lemas. Rasanya seperti semua energiku menguap di udara, bahkan untuk berdiri tegak pun kakiku tak sanggup. Aku terduduk lemas di tanah dengan kepala tertunduk.

 

Mereka meninggalkanku?

 

Kalimat-kalimat pertanyaan satu per satu memasuki ruang batinku. Kenapa? Apa salahku? Apa mereka lupa? Atau mereka sedang mengerjaiku? Kuharap begitu ... tapi, apa iya? Bagaimana kalau mereka memang lupa? Ataukah mereka memang sengaja meninggalkanku? Apa mereka membenciku? Apakah selama ini aku tak dianggap? Apakah ....

 

Setiap kali pikiran-pikiran negatif itu terbersit di kepala, dadaku terasa sesak. Aku tak tahu apakah aku harus marah atau menangis, yang jelas ada suatu gumpalan—entah apa—di dada ini yang ingin dilampiaskan dengan teriakan sekuat tenaga. Aku ingin berteriak, tapi di sekitarku ada banyak orang, tapi ... berdiam diri dan merenung seperti ini juga takkan membuahkan hasil apa-apa. Aku bangkit dan langsung merogoh telepon genggam di saku celana jin, membuka daftar kontak, menggulir layar sentuh ponsel hingga kutemukan daftar nama berawalan huruf D. Ketika kutemukan nama teman kerja yang kucari, dengan segera kubuat sambungan telepon dan menempelkan telepon genggamku di telinga sambil berjalan mondar-mandir.

 

Setelah beberapa detik aku menunggu, tak terdengar suara apapun dari perangkat yang kupegang ini. Aneh. Seharusnya ada nada sambung atau suara operator, tapi kali ini tak ada sama sekali. Kutarik ponselku dari telinga dan melihat ke layar. Sedetik kemudian aku menepuk keras dahiku yang berkeringat. Aku lupa kalau sinyal ponselku di sini buruk sekali. Aku mencoba menelepon berkali-kali, tapi tetap saja gagal. Malahan baterai ponselku semakin berkurang walau tak berhasil digunakan untuk menelepon.

 

Ah, sudahlah! Aku menyerah. Lagi pula, bus kami pasti sudah jauh sekali. Aku harus mencari cara lain untuk bisa pulang. Tapi bagaimana? Aku sudah tak punya uang lagi. Dan aku mulai kelaparan. Seharusnya aku ikut makan durian saja tadi. Lumayan untuk mengganjal perut, dan aku takkan tertinggal di sini.

 

Selagi duduk menghadap tanah, aku melihat bayangan seseorang berdiri di depanku. Kudongakkan kepala, dan si penjual durian itu menatapku. “Mas, daripada bengong di sini, bagaimana kalau ikut saya saja ke desa? Kebetulan saya nanti melewati desa yang ada terminal busnya. Dari sana, nanti Mas bisa mencari bus ke kota.”

 

Aku terdiam sesaat. Di saat seperti ini, bantuan sekecil apa pun akan kuterima dengan senang hati asalkan aku bisa kembali ke rumah. Dan benar apa yang ia katakan, tak ada gunanya berdiam diri di sini.

 

Akhirnya, aku menumpang pada mobil pikap yang berisi banyak sekali buah durian yang belum laku dijual hari ini. Sepanjang perjalanan, aku berpikir—melanjutkan pikiran-pikiran negatifku sebelumnya. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa ketika kembali masuk kantor nanti. Yang jelas, saat ini yang kurasakan terhadap mereka adalah marah, kesal, kecewa, dan emosi-emosi yang semacam itu. Aku sudah membayangkan banjirnya ucapan permintaan maaf di ponselku mulai malam nanti. Hah, tapi itu kan kalau mereka benar-benar peduli padaku. Tak ada jaminan kalau ucapan dan tulisan mereka itu benar-benar tulus dari dalam hati. Bahkan, aku sudah menduga kalau ada beberapa dari rekan kerja yang iri pada prestasiku di kantor. Mungkin mereka malah senang kalau aku tidak ada.

 

Selain dibanjiri permintaan maaf, permintaan akan cerita tentang hari buruk ini juga pasti tak kalah banyaknya. Kurasa aku akan menggunakan—yang orang-orang sebut dengan—silent treatment. Aku akan diam, bersuara seperlunya. Bagaimana pun juga kejadian hari ini sulit sekali untuk dimaafkan.

 

~ *** ~

 

“Mas, bangun ... kita sudah sampai.”

 

Aku mengedipkan mata berkali-kali sebelum akhirnya aku benar-benar terbangun dari tidurku. Tidur? Ya, mungkin aku ketiduran saat di jalan tadi. Memikirkan kemarahan dan kekesalan ternyata melelahkan juga. Ada baiknya emosi negatif terkait kejadian tadi kusimpan dulu karena sekarang aku dihadapkan pada masalah selanjutnya: ini di mana dan setelah ini aku harus ke mana?

 

Kubuka pintu mobil pikap dan memijak tanah yang sangat asing ini. Sejauh mata memandang, aku hanya menangkap aura yang tidak begitu enak di desa ini. Sepi. Terkesan gersang walau letaknya berada di kaki bukit. Jika digambarkan dengan warna, maka situasi yang kulihat di sini hanya bisa dilukiskan dengan tinta berwarna abu-abu, dan sedikit hijau untuk menggambar pohon-pohon jauh di gunung di belakang desa sana. Sungguh sebuah desa dengan kondisi yang jauh dari bayanganku.

 

“Mas Erlangga, maaf ya saya cuma bisa mengantarkan sampai di sini. Kalau saja anak saya tidak sedang sakit di rumah, saya sebenarnya mau memberikan sedikit uang hasil berjualan hari ini untuk Mas Erlangga, untuk beli tiket bus,” kata si bapak penjual durian dengan intonasi yang menurun sambil menunduk, menghitung lembaran-lembaran uang di tangannya.

 

“Eh, Pak, sudah, tidak apa-apa. Diantar ke sini saja saya sudah berterima kasih sekali, lho. Kalau saya masih bengong di tempat tadi, saya malah tidak tahu mau berbuat apa. Kalau berjalan pun pasti sangat melelahkan dan jauh.” Tapi, sejujurnya, aku pun tak tahu mau mendapatkan uang dari mana untuk membeli tiket bus, dan tak mungkin juga pihak bus membiarkan aku yang tak punya uang ini untuk asal naik begitu saja.

 

“Oh, begini saja, bagaimana kalau Mas Erlangga membawa durian saya? Mungkin nanti bisa berguna.” Si bapak penjual durian kemudian mengambil beberapa buah durian yang diikat bersama dengan tali rafia dari bak belakang mobil pikapnya.

 

Sebenarnya aku sedikit ragu dengan tawaran si bapak ini. Durian? Untuk apa? Aku tak suka buah yang satu ini. Tapi kalau dijual untuk membeli tiket, apa ada yang mau membelinya? Tapi, tak ada salahnya juga untuk dicoba. Siapa tahu si pemilik bus suka dengan buah ini dan aku bisa menumpang bus dengan gratis.

 

“Baiklah, Pak, tapi saya terima dua buah saja ya. Bisa repot kalau membawa terlalu banyak.” Setelah menerima dua buah durian berukuran cukup besar dan berpamitan, aku berjalan menuju ke arah barat, arah di mana terminal bus yang ditunjukkan si bapak penjual durian berada.

 

Sepanjang berjalan, aku mengamati sekeliling. Situasi desa yang kurasakan tidak berbeda dengan saat pertama kali aku datang tadi. Sepi. Apakah memang desa ini sebegitu sepinya, ataukah orang-orang sudah berkumpul di rumahnya masing-masing? Tapi, matahari baru saja mulai tenggelam. Kalau di kota tempatku tinggal—di jam yang sama—orang-orang masih banyak yang berlalu-lalang, bahkan hingga menjelang tengah malam. Memikirkan itu, entah mengapa membuatku jadi merinding. Kuputuskan untuk mempercepat langkah kakiku—setengah berlari—sebelum pikiran-pikiran buruk menghantuiku dan indera penglihatan dan pendengaranku menjadi sedikit lebih peka.

 

Naaak ....

 

Seketika, kupelankan langkah kakiku. Rasanya aku mendengar sesuatu. Sejujurnya, kaki ini ingin segera pergi berlari, tapi telingaku tak sepakat. Ia menyuruh kakiku untuk diam agar ia bisa fokus membuktikan bahwa suara yang ia terima memang benar atau tidak.

 

Iya, Nak, kau, lelaki yang di sana.

 

Aku mendengarnya lagi. Suara pria yang sama. Begitu berat dan terdengar begitu dekat, seperti terucapkan langsung di samping telingaku. Seketika aku merasa ada kibasan angin di belakang leherku, dingin. Aku berharap dengan sangat kalau itu bukan suara hantu.

 

Kenapa kau diam saja? Berputarlah ke kiri.

 

Perlahan, aku menolehkan kepala ke samping. Rasa takutku perlahan menghilang begitu kulihat seorang pria tua duduk di samping pohon. Pria itu berambut putih panjang dan terlihat kusut seperti tak terurus, begitu pula dengan janggut putihnya yang juga sangat tebal dan panjang. Ia mengenakan semacam kain atau jubah berwarna abu-abu yang digunakannya untuk menutupi dari udara dingin.

 

Pria tua itu memintaku mendekatinya dan kemudian berkata, “Wahai anak muda, bolehkah aku meminta buah yang ada di tanganmu itu? Aku sudah berhari-hari tidak makan.”

 

Setelah melihatnya dari dekat, aku baru benar-benar bisa melihat tubuhnya yang begitu kurus dan lemah. Sungguh, aku tak tega melihatnya. Tapi, dua buah durian ini adalah satu-satunya harapanku untuk bisa pulang ke rumah. Aku harus memilih.

 

Wajah pria itu menatapku dengan penuh harapan, sementara itu aku hanya bisa berdiri terpaku dengan batinku yang masih berseteru menentukan pilihan. Namun, pada akhirnya aku mengambil suatu kesimpulan bahwa meskipun aku sampai di terminal, tak ada jaminan bahwa kedua buah durian ini bisa memberikanku tiket untuk pulang. Sementara itu, di sini, tepat di hadapanku saat ini, ada seseorang yang benar-benar membutuhkan buah yang kugenggam erat ini.

 

“Makanlah buah durian ini, Pak. Sepertinya Bapak lebih membutuhkan ini.”

 

Kusodorkan kedua buah durian yang terikat dengan tali rafia itu pada si bapak tua dan ia kemudian mengambil benda tajam seperti pisau dari dalam jubah kusamnya. Pisau itu kecil, tapi ia bisa membelah kulit durian yang cukup keras itu dengan mudahnya. Di tempat penjual buah durian tadi saja untuk membuka buah yang kulitnya keras dan berduri ini harus memakai golok. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat barusan. Setelah membelah buah durian yang pertama, bapak tua itu memberikan separuhnya untukku.

 

“Ayo, kita makan sama-sama,” ujarnya sambil tersenyum.

 

“Ah, tidak usah, Pak. Untuk Bapak saja. Saya tidak suka durian.” Sesaat setelah menolak buah durian itu, tiba-tiba perutku berbunyi. Aku jadi ingat kalau sejak tadi perutku hanya diisi sebungkus roti yang kubeli sore tadi.

 

“Lebih baik kamu makan durian ini daripada kelaparan.”

 

Aku mengambil sebongkah buah durian dari dalam kulitnya. Teksturnya begitu lembek dan lengket di tanganku. Baru memegangnya saja aku sudah merasa jijik, belum lagi bau khas buah ini yang semakin jelas tercium setelah dibelah, membuatku enek dan ingin muntah. Tapi, apa yang dikatakan bapak tua ini tadi tak bisa kumungkiri. Dengan segala keberanian yang kupunya, kulahap penuh sebongkah buah durian yang kupegang tadi ke dalam mulut. Sambil menutup mata dan mencoba menahan napas, kucoba untuk menikmati buah aneh ini, memisahkan antara daging buah dengan bijinya yang teramat besar ini dengan lidah. Hmmm ... ternyata buah ini tak seburuk yang kukira. Ketagihan, rasanya aku ingin mengambil bongkahan berikutnya, tapi niat itu kuurungkan karena memikirkan si bapak tua ini.

 

Melihat gerak-gerikku barusan, ia menawariku lagi. “Ayolah, kita makan bersama saja. Tak usah malu.” Diizinkan, aku mengambil bongkahan kedua dan menikmati sensasi rasa yang unik dari buah itu di dalam mulutku. Sambil makan, bapak tua itu meneruskan kalimatnya, “Jangan pernah kau takut untuk gagal jika kau sendiri belum pernah mencobanya.” Aku sendiri tak begitu mendengarkannya karena aku sibuk menjilati jemariku dari sisa durian yang masih menempel.

 

Meski hanya memakan sedikit durian, tapi rasanya perutku sudah kenyang. Ternyata memang tak salah mencoba buah yang satu ini. Kalau saja aku mencobanya tadi sore, mungkin saat ini aku sudah berada di kasurku yang empuk di rumah kontrakan. Ah, sudahlah ... semuanya memang sudah terlambat untuk disesali. Aku merogoh ponsel di saku, untuk melihat jam, tapi ponselku sudah kehabisan baterai. Sebaiknya aku segera pergi ke terminal sebelum hari semakin gelap.

 

“Anak muda, sebelum kaupergi, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.” Sang bapak tua mengambil sesuatu dari dalam jubahnya. Sebuah kantong kecil berwarna merah dengan suatu benda—yang terlihat bulat seperti bola—di dalamnya. “Bawalah azimat ini. Ia akan melindungimu dari segala tipu daya yang kamu hadapi.”

 

Kuterima azimat itu dengan tangan terbuka meski aku tak sepenuhnya percaya pada benda-benda mistis seperti ini. Yah, setidaknya, menerima pemberian ini tidak membuat si bapak tua kecewa. Kumasukkan kantong kecil itu ke dalam saku celana dan langsung kuambil langkah cepat ke arah terminal, seraya berharap adanya suatu keajaiban untukku di sana.

 

~ *** ~

 

Memang benar di sini ada terminal bus, tapi aku tak begitu yakin kalau terminal ini masih beroperasi. Dilihat dari bangunan dan suasananya saja tak terkesan hidup. Setidaknya kulihat masih ada satu lampu ruangan dengan lampu yang menyala. Sebuah loket pembelian tiket.

 

“Ada perlu apa?” tanya seorang wanita yang sudah cukup tua dari balik kaca loket—dengan nada yang tak mengenakkan untuk didengar.

 

“Umm ... apakah masih ada jadwal bus malam ini?” tanyaku dengan sedikit ragu.

 

Wanita tua itu kemudian menutup buku teka teki silang yang tengah ia kerjakan tadi dan mengambil sebuah kacamata dari dalam laci di bawah mejanya, mengenakannya, lalu menatapku lekat-lekat. “Hei, aku tak pernah melihatmu. Kamu pasti bukan orang sini ..., orang baru ya? Sudah lama sekali aku tak melihat seorang pemuda berkeliaran di sekitar sini.”

 

“I ... iya. Kebetulan saya tadi tersesat dan diantarkan ke desa ini karena kudengar di sini ada terminal bus yang mungkin bisa membawaku pulang ke kota.”

 

“Hmmm ... ke kota ya? Kau terlambat, Nak. Bus terakhir yang berangkat ke kota adalah sebelum matahari terbenam sore tadi. Kaucoba datang lagi saja besok, mungkin saja kau beruntung.”

 

Aku mengangkat sebelah alis, bingung. “Beruntung? Maksudnya?”

 

Wanita tua itu, setelah menatap wajahku kembali beberapa detik, seketika ia menundukkan kepalanya sambil tertawa kecil, lalu menatapku kembali. “Ah, maafkan aku. Aku lupa memberitahumu. Dalam beberapa bulan terakhir, sudah tidak banyak bus—apalagi pengunjung—dari luar yang datang ke desa ini. Kalau kamu beruntung, mungkin saja besok ada bus yang datang ke sini.”

 

Aku melirik sedikit ke halaman dan tempat parkir terminal kecil ini, dan seperti yang dikatakan wanita tua itu, tak ada bus yang siaga di terminal ini. Cara satu-satunya pergi ke kota hanyalah menunggu bus yang datang dan ikut dengannya untuk kembali ke kota. Dan aku sepenuhnya yakin kalau besok tidak akan ada bus yang datang. Kini aku hanya bisa tertunduk lemas di depan loket.

 

Dengan langkah yang gontai, aku berjalan menjauhi loket, meski tak tahu harus ke mana. Sebelum berjalan sepuluh meter, wanita penjaga loket itu memanggil dan memberitahuku sesuatu. “Kalau kau mau selamat, jangan coba mendekati hutan. Lebih baik kau bermalam di desa ini saja.”

 

Aku tak begitu memerhatikan saran wanita tadi karena saat ini kepalaku dipenuhi pertanyaan yang lebih penting ketimbang larangan masuk ke hutan: bagaimana aku bisa pulang? Aku berjalan menyusuri jalan raya yang gelap ini. Tidak ada lampu penerang jalan. Yang ada hanyalah lampu-lampu dari beberapa rumah yang terlihat dari arah desa. Angin malam pun mulai terasa dingin, meski matahari belum lama meninggalkan langit hari ini. Aku menyesal meninggalkan sweterku di dalam bus tadi, tapi aku juga tak mengira akan berhadapan dengan udara malam yang dingin seperti ini hanya berbekal kaus berkerah yang tak begitu tebal dan berlengan pendek. Untunglah hari ini aku mengenakan celana jin panjang dan sepatu kets, setidaknya aku tak perlu memikirkan kakiku yang kedinginan.

 

Selagi berjalan dengan kepala tertunduk dan berdekap tangan, aku melihat cahaya terang yang bergerak di jalan. Aku segera mendongakkan kepala dan kulihat ada sebuah mobil yang bergerak dari arah berlawanan di depanku. Tanpa berpikir panjang, aku segera melambaikan kedua tanganku di depan jalur mobil. Mungkin saja ia bisa membantuku.

 

Mobil itu memperlambat kecepatannya sebelum akhirnya berhenti tepat satu meter di depanku. Aku melangkah ke samping kanan mobil dan sang pengemudi di dalamnya membuka jendela. Pria muda—yang mungkin tiga sampai lima tahun lebih tua dariku—dari balik pintu kemudi itu kemudian menyapa, “Selamat malam, ada yang bisa dibantu?”

 

Kujelaskan dengan rinci permasalahanku hari ini, mulai dari ketika aku ditinggal teman-teman, hingga telantar di desa yang asing dan sepi ini. Setelah kujelaskan semua itu, tanpa ragu, pria itu mengulas senyum di wajahnya dan membukakan pintu di seberang pintu kemudi.

 

“Masuklah! Malam ini, kau bermalam saja di rumahku. Besok, pagi-pagi sekali, akan kuantarkan kau ke kota. ”

 

Aku terpaku di atas kakiku, setengah percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku tak menyangka akan menemukan orang baik yang mau membantuku di tengah situasi yang pelik seperti ini, terlebih di tempat yang tak seorang pun terlihat di sepanjang mata ini memandang.

 

Dengan mobil sedan hitam, pria yang bernama Sigra ini membawaku menyusuri jalan yang minim sekali penerangannya. Biarpun begitu, dari sorotan lampu mobil, aku bisa melihat bahwa Sigra melajukan mobilnya ke arah hutan, menjauhi desa. Apakah rumahnya di dekat hutan? Seketika kalimat yang dilontarkan wanita penjaga loket muncul kembali di ingatanku.

 

Kalau kau mau selamat, jangan coba mendekati hutan.

 

Kalimat itu membuatku bertanya-tanya. Selamat dari bahaya macam apa? Kalau membicarakan hutan, yang terlintas di benakku hanyalah ancaman dari hewan buas. Hal itu sangat mungkin terjadi, tapi kurasa kami akan aman bila tidak keluar dari dalam mobil. Kalau memang benar karena hewan buas, Sigra juga pasti takkan mau mempunyai rumah di dekat hutan. Mungkin saja ia sebenarnya tukang kayu, karena itu ia memilih untuk tinggal di dekat hutan, supaya dekat dengan sumber penghasilannya.

 

Dalam beberapa menit, mobil yang dikemudikan Sigra sudah memasuki hutan. Di luar sangat gelap. Aku tak dapat melihat apapun dari balik jendela di sampingku, kecuali jalan selebar mobil ini yang bisa terlihat dari sorot lampu mobil. Setelah memasuki hutan lebih dalam, akhirnya ada objek lain yang terlihat di depan, sebuah rumah putih tak berpagar. Sigra memarkirkan mobilnya di depan rumah dan mengajakku masuk ke dalam.

 

Rumah Sigra tak begitu besar, tapi cukup nyaman untuk ditempati. Meski Sigra tinggal sendirian, tapi dari yang kuperhatikan, ia begitu jauh dari stereotip yang ada di bayanganku sebelumnya. Lantai dan dinding rumahnya tampak bersih, perabotan rumah yang cukup sederhana pun tertata dengan rapi. Anehnya, aku jadi merasa seperti memasuki rumah yang baru saja dibangun.

 

“Ini kamarmu. Kalau mau mandi, kamar mandi ada di dekat pintu belakang. Beristirahatlah selagi aku menyiapkan makan malam. Aku tahu kau kelaparan.” Setelah menunjukkan kamar untukku, ia langsung pergi ke dapur dan sibuk membuka-buka lemari dan mengambil berbagai perkakas dapur.

 

“Terima kasih ya atas semuanya. Oh, iya, kalau boleh, apakah aku bisa meminjam charger handphone?”

 

“Oh, tentu saja. Cari saja di laci meja di kamar.”

 

Aku berbalik dan memasuki kamar. Kutekan sakelar lampu yang kutemukan di samping pintu masuk. Kamar tidur untukku malam ini terlihat cukup simpel. Tidak begitu lebar—hanya sekitar 4 x 5 meter—dan hanya diisi dengan satu tempat tidur, lemari pakaian, dan ada sebuah meja kecil dengan lampu duduk di atasnya. Di seberang pintu masuk, kulihat sebuah gorden cokelat tua yang menggantung menutupi jendela, kontras sekali dengan warna dinding dan seprai yang serba putih.

 

Setelah menyalakan lampu, aku mendekati meja lampu di samping tempat tidur dan membuka lacinya. Di dalam laci meja kecil ini hanya kutemukan sebuah kabel yang mirip dengan charger normal lainnya, hanya saja di salah satu ujung kabel ini terdapat lima cabang dengan ujung kepala yang berbeda. Di salah satu ujung cabang itu, kutemukan ujung yang bentuknya sama dengan yang ada di ponselku. Segera, kurogoh saku celana jinku untuk mengambil ponsel. Saat kutarik ponselku dari sana, tanpa sengaja sebuah kantong kecil ikut tersangkut dan kemudian terjatuh di lantai.

 

Kuletakkan ponselku di atas meja, lalu mengambil kantong merah yang terjatuh itu. Aku bahkan hampir lupa dengan azimat pemberian seorang kakek di pinggir jalan. Aku duduk di atas tempat tidur sambil memerhatikan azimat di tanganku ini.

 

Bawalah azimat ini. Ia akan melindungimu dari segala tipu daya yang kamu hadapi.

 

Tipu daya macam apa? Bagaimana cara kerjanya? Penasaran, kubuka tali pengikat di kantong ini dan kudapatkan sebuah bola kecil berwarna perak di dalamnya. Kuamati bola perak itu lekat-lekat. Cukup berat, walau ukurannya tak lebih besar dari bola golf. Permukaannya halus, tapi tidak tembus pandang dan rentan seperti kaca. Lebih seperti batu.

 

Apakah ini semacam batu permata yang sedang heboh di televisi itu? Refleks, kuarahkan batu perak ini ke lampu yang menggantung di langit-langit kamar, meski tak tahu untuk apa. Sedetik kemudian, batu perak ini bersinar. Putih ... teramat terang hingga cahaya itu masih terasa menyilaukan walau mata ini sudah tertutup.

 

Setelah cahaya menyilaukan itu meredup, embusan angin kuat menerpa punggungku dari belakang. Perlahan kubuka mataku dan kulihat sesisi kamar ini berubah. Dinding terang seputih salju tadi kini menjadi cokelat kelam dengan beberapa garis dan titik merah gelap menodainya. Kulepas kacamataku dan mengucek-ngucek mataku sedikit, lalu memakainya kembali, berharap kalau apa yang kulihat itu salah, tapi apa yang terlihat di depanku tidak berubah. Darah? Aku tak bisa memastikan itu dengan jelas karena lampu yang menerangi kamar ini tak lagi berada di sana. Beberapa buah lilin temaram tergantung di langit-langit, menggantikan cahaya terang tadi. Lemari pakaian yang kokoh berdiri di depan tempat tidur kini tergantikan oleh sebuah rak kayu yang berisi ornamen-ornamen yang tak jelas kuketahui bentuknya. Aku memutar pandangan ke arah kanan. Gorden cokelat yang menutupi jendela tak lagi berwarna sama. Gorden di depan mataku ini berwarna hitam pekat. Ia berkibaran seiring dengan angin yang berembus melewati jendela. Semua yang berada di ruangan ini berubah, tak terkecuali tempat tidur empuk yang kududuki tadi. Ia juga menghilang, seakan tempat tidur itu tak pernah ada di sana sebelumnya. Sebagai gantinya, di sana berbaring sebuah papan kayu, seperti dipan tak berkasur dengan empat tali tambang yang menggantung di keempat ujungnya, dan ... dipan kayu ini dipenuhi dengan bekas bercak darah hampir di seluruh permukaannya.

 

Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Dengan cepat, aku berlari ke arah pintu kayu yang tertutup, namun langkahku seketika terhenti ketika aku merasa ada sesuatu yang mendesis di dekatku. Aku menengok ke kiri. Di atas meja kayu, kulihat seekor ular mengangkat kelima kepalanya, menatapku sambil menjulurkan masing-masing lidah bercabangnya secara bergantian. Ya, lima kepala! Terkesiap, kakiku mendadak lemas dan aku jatuh terduduk di lantai. Bukannya mencoba bangkit dan lari, aku terpaku di tempat, sementara ular berkepala lima itu melata perlahan ke arahku sambil mendesis.

 

Aku ingin lari, tapi kakiku terlampau lemas dan tak mau kukendalikan. Apa aku akan mati di sini? Aku bisa merasakan keringat yang muncul di sekujur tubuhku, terutama kepala. Kalau saja ada kayu atau sesuatu yang bisa kugunakan untuk memukul mundur ular aneh ini. Sayangnya, tak ada sesuatu yang bisa kugunakan di ruangan ini selain bola perak di genggamanku ini.

 

Tiba-tiba, keheningan muncul. Ular itu berhenti bergerak ke arahku, tapi sorot matanya tak berubah. Aku tahu hal yang buruk akan segera terjadi. Aku menelan ludah seraya menggenggam erat bola perak di tangan kananku, menunggu momen yang tepat.

 

Beberapa detik dalam keheningan, aku merasa seperti melihat kelima kepala ular itu mundur sedikit, refleks kulempar bola perak di tanganku ke arahnya. Ular itu kemudian mendesis dan bergerak mundur selagi bola yang kulempar menggelinding ke arahnya. Bola perak itu menggelinding cepat, sementara ular berkepala lima itu mencoba bergerak mundur, terlihat seperti ketakutan. Saat bola perak itu menyentuh tubuh ular yang bersisik itu, tiba-tiba seluruh tubuh ular berkepala lima itu membatu sebelum akhirnya berubah menjadi debu saat tertiup angin dari jendela.

 

Sampai detik ini aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bola perak, seisi ruangan yang tiba-tiba berubah, ular berkepala lima. Aku tidak sedang bermimpi kan? Hal-hal di luar nalar ini terlalu absurd untuk terjadi di dunia nyata. Tapi ..., mau ini mimpi atau bukan, firasatku mengatakan bahwa aku harus pergi dari tempat ini secepatnya.

 

Aku bangkit dan mengambil kembali bola perak yang kulempar tadi dan memasukkannya lagi ke dalam kantong merah pembungkusnya sebelum kusimpan di saku celanaku. Perlahan, kubuka sedikit pintu kayu penghubung kamar ini dengan ruang tengah dan mengintip ke luar dari sela-selanya. Tepat seperti dugaanku. Situasi di bagian lain rumah ini pun berubah, lebih tepatnya, berubah kembali ke wujud aslinya. Aku mengintip ke arah dapur di mana pria bernama Sigra sedang menyiapkan makan malam. Aku tercengang saat melihat Sigra di dapur. Kemeja putih yang sebelumnya ia kenakan mungkin juga hanya sebuah ilusi yang ia ciptakan, karena yang kulihat saat ini ia mengenakan jubah hitam—yang sangat pas dengan ukuran tubuhnya yang proporsional—dengan kancing yang sangat rendah sehingga bagian tengah dada bidangnya itu tersingkap sedikit. Lalu dapur itu ... tak seperti sebelumnya, Sigra terlihat tengah mengaduk-aduk sebuah kuali besar yang dipanaskan dengan setumpuk kayu bakar di bawahnya. Sesekali kulihat ia melemparkan beberapa benda di dekatnya ke dalam kuali itu, dan saat ia memasukkan benda semacam ranting pohon, ada sebuah letupan kecil berwarna hijau yang mengudara di atas kuali itu.

 

Ia seorang penyihir! Otakku berteriak dan seketika memerintahkan kelenjar adrenal untuk menghasilkan hormon yang selama ini kita sebut dengan adrenalin. Dadaku berdegup cepat dan rasanya tubuh ini memanas. Melihat kembali ke dipan yang penuh dengan noda darah itu, aku tak lagi memiliki prasangka baik pada pria ini. Aku harus segera pergi dari sini.

 

Pelan, semakin lebar kubuka daun pintu kayu ini. Meski kubuka perlahan-lahan, suara decit di engselnya tak bisa kuredam. Alhasil, Sigra mengalihkan pandangannya ke arahku. Dengan menampilkan wajah yang penuh senyuman, ia mendekatiku sambil membawa sendok kayu panjang yang ia gunakan untuk mengaduk kuali, lalu berkata, “Hei, kenapa kau berkeringat seperti itu? Sebaiknya kau mandi dulu, sebentar lagi makan malam siap.”

 

“A ... aku ... aku ingin mencari udara segar di luar,” jawabku sekenanya. Melihat ekspresinya, kurasa Sigra belum sadar kalau ilusi yang ia ciptakan tidak berpengaruh lagi padaku.

 

“Hmm ... oke, tapi jangan berkeliaran terlalu jauh ya. Hutan di malam hari sangatlah berbahaya.”

 

Mendengar jawaban itu, aku jadi agak sedikit lega. Setidaknya ada sedikit waktu yang bisa kuulur sebelum akhirnya Sigra sadar kalau aku berencana untuk kabur. Setelah membuka pintu utama, aku segera berlari ke arah hutan secepat yang aku bisa dan tak lagi melihat ke belakang. Aku tak membuang-buang waktu lagi, karena aku yakin kalau Sigra bukanlah penyihir yang bodoh.

 

~ *** ~

 

Ada sekitar lima sampai sepuluh menit aku berlari sebelum sebuah anak panah melayang di sampingku. Aku menengok ke belakang dan kudapati Sigra terbang dengan sepatu bersayap di kakinya sambil membawa sebuah buku di tangan kanannya. Dengan jelas dapat kudengar Sigra merapalkan sebuah mantra yang diikuti dengan munculnya beberapa anak panah yang menyala hijau di udara. Tak dibiarkan lama di udara, kesemua anak panah itu kemudian ditembakkan ke arahku. Beberapa meleset, tapi tak sedikit juga yang menggores tubuhku. Aku mengerang kesakitan ketika sebuah anak panah menggores kaki kiriku cukup dalam. Limbung, aku pun jatuh tak berdaya ke tanah. Dengan susah payah kupaksakan tubuhku untuk bergerak, meski rasa nyeri terasa di sekujur tubuh. Dengan keadaan seperti ini, aku hanya bisa menyeret tubuhku mundur sambil memandangi Sigra yang melayang di udara. Terus kuseret mundur tubuhku hingga sebuah pohon menghalangiku. Aku terpojok.

 

Sigra mengambil sebuah pisau dari dalam sakunya dan tanpa ragu melemparkannya ke arahku. Aku sudah sepenuhnya yakin kalau aku akan mati di sini. Aku menutup mata ....

 

Jlebb ....

 

Aku belum mati meski suara pisau yang menghunjam itu begitu jelas terdengar dan bagian kanan kepalaku terasa nyeri. Pisau itu mendarat di batang pohon, persis di samping kanan kepalaku, meninggalkan sedikit goresan tipis di sana dan darah mulai mengucur melewati tangkai kacamataku.

 

“Aku tak menyangka kaubisa mematahkan sihirku, anak muda,” ujarnya sambil mengulas senyum tipis.

 

“Apa ... apa yang kauinginkan dariku?” tanyaku dengan napas yang tersengal-sengal.

 

“Sebenarnya aku hanya ingin kau tetap di rumah dan tidak kabur. Aku membutuhkanmu ... sebentar saja,” jawab Sigra disertai senyuman yang tak kumengerti maksudnya. “Jadi, ayo ikut denganku, setelah itu, akan kuantarkan kau pulang ke kota.”

 

Biarpun ditawari seperti itu, aku takkan mau. Jelas-jelas ia berniat membunuhku! Sigra melangkah ke arahku, menatapku dengan sorotan mata yang misterius di saat buku tebal di tangannya terbuka dengan sendirinya. Entah mantra apa yang ia rapalkan untukku, tapi Sigra mendadak diam. Buku yang melayang-layang itu jatuh ke telapak tangannya dan ia menoleh ke kiri. Raut wajahnya berubah seketika. Sorot matanya menajam dan di detik itu juga kudengar suara raungan yang sangat keras dan diikuti oleh gerakan beruang yang menerkam Sigra hingga keduanya terpelanting cukup jauh.

 

Sudah dibuat susah oleh seorang penyihir yang kupikir hanya ada di film-film luar negeri, kini masalahku ditambah oleh adanya seekor beruang berukuran besar yang tiba-tiba saja muncul. Tapi, untunglah ada beruang itu, setidaknya aku sedikit tertolong dari ahli tenung itu. Selagi ada kesempatan, kukerahkan seluruh tenaga agar kakiku mampu diajak berdiri. Sebisa mungkin kuabaikan rasa nyeri di tubuh ini dan mencoba berdiri tegak. Sejujurnya aku sendiri tak yakin bila sanggup berjalan. Untuk berdiri saja aku masih harus bertumpu pada batang pohon. Tapi, kalau tubuh ini tak mau bergerak, aku bisa mati di sini.

 

Sebelum kumulai usahaku untuk berjalan, pandangan mataku terhenti pada pisau yang tertancap di batang pohon ini. Batinku mengatakan bahwa ada baiknya jika aku membawa pisau ini. Biarpun setengah otakku menolak karena alasan pisau ini milik penyihir itu dan mungkin mencelakakanku nantinya. Tapi aku perlu perlindungan diri, terutama jika beruang itu mengejarku setelah bertarung dengan Sigra. Kucabut pisau itu dari batang pohon dan berharap aku sudah bisa pergi cukup jauh dari jangkauan hewan buas itu.

 

Susah payah kupaksakan tubuh ini untuk berlari meski harus menyeret kaki kiri yang terluka cukup dalam ini. Aku bahkan hampir tak merasakan luka dari bagian lain tubuhku ketika rasa nyeri dari kaki ini menerjang. Kalau bisa aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi logikaku melarang. Aku hanya bisa menggigit gagang pisau di mulutku ini sekeras-kerasnya sebagai pengganti teriakan.

 

~ *** ~

 

Entah sudah berapa menit aku duduk di bawah pohon ini, mengingat-ingat kejadian buruk yang kualami hari ini. Aku mendadak sadar bahwa kalau hal ini dipikirkan terus menerus maka takkan ada habisnya. Lamunanku pun tergoyahkan kala kudengar suara dedaunan menggerisik di belakangku—dari balik pohon. Seketika itu juga fokusku kembali pada keadaan yang hampir membuatku terbunuh ini. Tubuhku semakin memanas karena dipacu adrenalin. Kugenggam erat pisau di tanganku dan berhati-hati kuintip apa yang ada di balik pohon tempatku bersandar ini.

 

Dari balik kegelapan hutan, kulihat sekumpulan daun di semak-semak itu bergerak. Kurasa hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum sesuatu muncul dari dalamnya. Sigra ... beruang ... ataukah hewan buas hutan lainnya? Kuatur napasku dan bersiap untuk apapun yang akan muncul di hadapanku nanti.

 

Gerisik dedaunan itu semakin kuat. Aku menelan ludah ketika kulihat seekor beruang muncul dari semak-semak itu. Beruang itu mengangkat kepalanya di udara, menggerak-gerakkan hidungnya, terlihat seperti tengah mengendus bau. Tak lama, ia melangkah maju mendekatiku. Sontak, kutarik kepalaku dan bersandar di batang pohon.

 

Semoga bukan aku yang ia cari. Jantungku berdegup semakin cepat seiring dengan gerakan langkah si beruang yang menginjak dedaunan kering di tanah. Aku harus melakukan sesuatu.

 

Dari indera pendengaranku, aku dapat merasakan bahwa beruang itu semakin mendekat. Tak salah lagi, ia memang mengincarku. Dari sini, aku bisa mendengar suaranya yang sedang mengendus. Begitu dekat. Tepat sedetik kemudian kulihat hidungnya yang berwarna hitam pekat itu muncul dari samping, lalu diikuti dengan kepala hingga badannya.

 

Kukumpulkan seluruh keberanianku dan kuhunjamkan pisau di tanganku ke arah kaki depan beruang. Beruang itu meronta dan meraung-raung keras. Berhasil, tapi pisau sekecil itu tak mungkin membunuhnya. Aku langsung menyeret kakiku kembali, berusaha kabur darinya. Tapi ... tanpa kukira aku berlari ke sebuah lereng dan aku pun kehilangan keseimbangan. Aku berguling keras di lereng itu. Tubuhku menabrak beberapa akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah, dan yang terakhir kuingat ... ada suatu benda yang cukup besar di arahku berguling sebelum semua yang kulihat menjadi gelap sepenuhnya.

 

~ *** ~

 

Ciak ... ciak ....

 

Bunyi apa itu? Suara burung? Sejak kapan ada suara burung di dalam rumah kontrakan ini? Ah, ini pasti hanya mimpi. Pagi ini rasanya aku ingin tidur seharian di rumah, mumpung ini hari Minggu. Entah mengapa rasanya badan ini lelah sekali. Sekalipun aku pernah berolahraga seharian, tapi badanku tak pernah seletih ini. Aku tetap tak membuka mata meski sinar matahari mulai menyinari kepalaku. Di saat itu, aku baru tersadar ... sejak kapan jendela kamarku menghadap ke arah matahari terbit?

 

Kubuka mataku perlahan sambil menghalangi sedikit sinarnya dengan tangan, silau. Saat mataku sudah sepenuhnya terbuka, barulah kulihat ada balutan perban di lengan kiriku. Tak hanya di lengan kanan, tapi juga hampir di seluruh tubuhku. Setelah beberapa saat, aku bisa merasakan sedikit rasa sakit yang tersimpan di dalam balutan perban-perban tersebut. Kenapa? Setengah memoriku mulai mencuat di kepala. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Tersesat ... rumah ... penyihir ... beruang .... Oh iya, aku terjatuh dan menabrak batu. Setelah itu, aku tak bisa mengingat apa-apa dan pagi ini aku terbangun di sebuah kamar berdinding dan beralas kayu yang sangat asing ini.

 

“Hei, kau sudah bangun rupanya!”

 

Di depan pintu kamar, berdiri seorang pria muda yang membawa baskom air di tangannya. Ia mengenakan pakaian berkombinasi warna hijau-cokelat dengan tudung kepala yang ia sampirkan di belakang lehernya, bercelana panjang, dan memakai sepatu bot. Kalau saja ia membawa busur dan sekumpulan anak panah di belakang punggungnya, maka ia akan terlihat seperti tokoh pemburu yang pernah kulihat di film.

 

“Sebaiknya kau jangan banyak bergerak dulu. Luka di tubuhmu belum sepenuhnya sembuh.” Pria yang mungkin sedikit lebih muda dariku itu berjalan menghampiriku. Ia meletakkan baskom airnya di atas meja, kemudian ia membuka perban di lengan kiriku. Aku bisa melihat sayatan yang membekas di atas kulitku. Apa iya bekas luka semalam hanya setipis ini? Setelah membuka perban di lenganku, pria itu mencelupkan sepotong handuk kecil ke dalam baskom air, memerasnya, lalu menempelkan handuk basah itu di bekas lukaku. Kulihat ada semacam cahaya berwarna biru pudar di sekeliling handuk yang ia pegang dan begitu diangkat, bekas lukaku sudah menghilang. Bagaimana bisa? Di tengah kebingunganku, ia tertawa.

 

“Aku bisa sedikit ilmu penyembuhan. Masih dalam tahap dasar sih,” katanya, setengah berbangga hati. Setelah kemarin bertemu dengan penyihir yang hampir membunuhku, apakah aku harus berhati-hati juga dengan pria yang punya sihir penyembuhan ini? Tapi, kurasa ia bukan orang jahat. Setidaknya itu yang bisa kulihat dari sorot matanya. Setelah selesai dengan lengan kiriku, satu persatu ia membuka perban di sekujur tubuhku dan mengobati bekas lukanya. Aku bahkan tak sadar kalau ada perban yang membalut kepalaku juga. “Oh, iya, aku Mardian. Salam kenal!” kata Mardian sambil menempelkan handuk di sekitar pelipis kananku.

 

“Namaku Erlangga,” jawabku singkat sambil memandangi sekelilingku. “Sebenarnya aku ada di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?”

 

Mardian menceritakan kronologi kejadian semalam, di mana intinya ia bersama temannya mencoba menyelamatkanku dari Sigra, tapi aku berusaha kabur dan terjatuh di pinggir lereng, lalu pingsan karena membentur sebuah batu yang cukup besar. Ia dan temannya membawaku ke rumah mereka dan menyembuhkan lukaku semalaman ini.

 

“Jadi beruang cokelat yang semalam itu temanmu?” Mardian mengangguk. Kupukul jidatku berkali-kali lalu meminta maaf pada Mardian. Siapa sangka kalau beruang itu ada yang punya?

 

“Hahaha ... tenanglah. Luka tusuk seperti itu takkan membunuhnya. Saat ini saja dia sedang mencari ikan di sungai.”

 

Mardian beranjak dari tempatnya dan merapikan baskom serta handuk di tangannya. Tanpa kusadari, bekas luka-luka di sekujur tubuhku sudah menghilang sepenuhnya. Rasa nyeri di tubuhku kini sudah tak terasa sama sekali. Aku pun berterima kasih pada orang yang baru kukenal setengah jam yang lalu ini.

 

“Ah, tak masalah kok,” kata Mardian seraya berjalan keluar dari kamar. Sebelum melewati pintu, ia berbalik dan berkata, “Aku akan menyiapkan sarapan. Kalau kau sudah siap, pergilah ke dapur. Aku akan jawab semua pertanyaanmu sambil kita makan.”

 

~ *** ~

 

Ternyata pakaian pemburu seperti ini cukup nyaman untuk dikenakan. Mardian dengan ikhlas memberikanku salah satu pakaiannya. Ditembak anak panah ... jatuh di lereng ... bajuku jadi sobek dan sudah tak berbentuk. Mau tak mau ya kuterima saja pemberian seorang pemburu di tengah hutan ini. Lagi pula, pakaian seperti ini cukup keren kok. Kalau aku berkeliaran di sekitar rumahku dengan pakaian seperti ini, orang-orang pasti berpikir bahwa aku akan mementaskan suatu pertunjukan drama. Tapi, aku cukup kaget karena di zaman sekarang ini masih ada saja orang yang memakai pakaian dengan model seperti ini.

 

Mardian menghampiriku yang tengah duduk di meja makan, membawa dua mangkuk sup untuk kami berdua. “Makanlah!” katanya.

 

Mangkuk di hadapanku ini dipenuhi dengan berbagai macam sayuran yang semuanya terendam di dalam kuah yang sedikit kental. Dari aroma dan tampilannya, sepertinya lezat. Kuhirup sesendok kuah kental sup ini dan ... wow! Rasanya memang enak! Sayuran-sayuran yang digunakan begitu segar dan kuahnya pun kaya dengan rempah-rempah. Tanganku menyendok sup dari mangkuk ini berkali-kali, tanpa henti. Mana bisa aku menahan untuk tak menghabiskan makanan seenak ini?

 

“Hei, makannya pelan-pelan saja,” ucap Mardian yang sedari tadi memerhatikanku makan sampai-sampai mangkuk supnya pun masih utuh.

 

“Ah, maaf. Sup ini enak banget!”

 

“Kalau begitu, habiskan ya! Kalau ingin tambah, aku masih punya banyak di dapur.” Mardian kini mulai memakan sup di mangkuknya sambil bertanya, “Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa sampai di sini?”

 

Kutelan makanan yang sedang kukunyah di mulut, lalu kuceritakan semua yang kualami kemarin padanya dengan sangat rinci, mulai dari ketika ketinggalan bus, hingga bertemu—dan hampir menjadi korban—penyihir di tengah hutan. Mungkin Mardian tahu semua keanehan yang terjadi di sini dan saat ini, sepertinya hanya ia orang yang bisa kupercaya. Lagi pula ... aku hanya ingin pulang dengan selamat.

 

“Ini batu perak yang kuceritakan tadi.” Kuambil bungkusan merah dari kantong celana dan kukeluarkan isinya di atas meja. Di pagi yang terang seperti ini, batu perak ini tampak lebih bersinar dan lebih indah dari semalam, begitu indah layaknya berlian.

 

Saat melihat batu perak yang kutunjukkan, spontan, Mardian berdiri dan menggebrak meja, membuat sup kami bergoyang dan sebagian isinya tumpah ke permukaan meja. Ia menatapku dalam, lalu berseru, “Jangan-jangan kaulah orang yang dimaksud pengembara itu!”

 

“Hah? Pengembara?”

 

“Iya!” sahut Mardian dengan semangat. “Sekitar enam bulan yang lalu—atau mungkin lebih—Sigra datang ke desa di timur hutan ini. Ia menculik semua pria muda di desa itu untuk percobaan ilmu sihirnya—kalau tidak salah dengar sih, ia membuat semacam ramuan awet muda. Semua pria yang dibawanya ke hutan tak pernah kembali dalam wujud seperti asalnya. Mereka semua menjadi sangat tua seakan umur mereka bertambah begitu cepatnya. Karena hal itu, banyak pemuda-pemuda desa yang ketakutan dan pergi meninggalkan desa. Seperti yang sudah kaulihat kemarin, desa itu kini hanya berisi orang-orang tua yang tak bisa kabur dari si penyihir jahat.

 

“Suatu hari, seorang pengembara datang melintasi desa ini. Setelah mendengar cerita dan melihat kondisi desa, sebelum ia pergi, ia sempat berkata, ‘Suatu hari, pemuda bertombak perak akan melenyapkan kegelapan di desa ini.’ Dan kurasa pria yang ia maksud adalah kamu! Kamu akan mengalahkan Sigra dan mengembalikan kebahagiaan di desa ini!”

 

Aku tersedak saat mendengar kalimat yang diutarakan Mardian dengan begitu antusiasnya sambil menatapku penuh harapan. Kutenggak segelas air minum di samping mangkuk sarapanku dan mengatur napas. Rasanya sudah seperti mendengar cerita anak-anak saja. Sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri ... aku tidak sedang bermimpi kan?

 

Kuhabiskan makananku dan setelah itu aku beranjak dari kursiku. “Terima kasih atas pertolongan dan semua bantuanmu. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa, tapi aku harus segera pulang. Besok aku masih harus bekerja di kantor.”

 

“Hei, hei, hei! Kau bercanda kan?” tanya Mardian, keheranan. Aku pun menjawab dengan gelengan kepala. “Lalu bagaimana dengan desa kami? Bagaimana bisa kau tega pergi begitu saja?”

 

“Kau pasti salah orang. Aku bukan pendekar, apalagi seseorang dengan kekuatan yang cukup sakti untuk melumpuhkan Sigra. Lihat saja, aku bahkan tersesat dan kautolong semalam.”

 

“Tapi, bola perak yang kaubawa ini ...?” Mardian meraih bola perak yang tergeletak di atas meja, mencoba meyakinkanku.

 

“Itu kan hanya sebuah batu biasa—bukan tombak! Jadi sudah jelas kan kalau aku bukan orang yang dimaksud ramalan itu? Atau begini saja, kaubawa saja bola itu. Mungkin kalau kau yang pegang, bola itu nanti berubah menjadi sebuah tombak perak.”

 

Mardian tertunduk dalam diam. Pelan, dapat kudengar ia kecewa dan berkata, “Kau benar.” Ia menengadahkan kepalanya dan mengulas senyum tipis. “Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat tadi.”

 

“Ah, sudahlah. Lupakan saja.”

 

“Ya, kau benar. Tadi kaubilang kau ingin pulang ke kota ya? Aku tak punya kendaraan, tapi aku bisa mengantarkanmu ke jalan raya. Mungkin saja nanti kau bisa menumpang pada pengendara yang lewat.” Kami berdua akhirnya meninggalkan rumah dan berjalan menyusuri hutan.

 

~ *** ~

 

“Aku tak menyangka ada orang lain yang juga bisa kabur dari Sigra.”

 

Selama perjalanan, Mardian bercerita bahwa dulunya ia juga penghuni desa itu. Ia tahu kalau suatu hari ia pun akan menjadi target si penyihir itu, maka dari itu ia berlatih ilmu bela diri. Begitu saat yang dinanti tiba, Mardian berusaha menjalankan rencananya. Ia menyerang Sigra ketika ia dibawa ke rumahnya, tapi gagal karena penyihir itu terlampau kuat. Mardian berusaha kabur dan melanjutkan latihannya di sisi lain hutan ini, jauh dari tempat Sigra.

 

“Yah, itu kan hanya kebetulan saja. Kalau tidak ada batu perak ini, aku mungkin sudah mati sekarang,” kataku sambil melempar-lempar batu perak di tanganku ke udara.

 

Selagi kami mengobrol, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya melewati ruang di antara kami berdiri. Kilatan itu menghantam tanah berjarak sepuluh meter di depan kami. Daun-daun kering yang terhantam kilatan cahaya itu terbakar dan meninggalkan bekas hitam di tanah. Spontan, kami berdua menolehkan kepala ke belakang dan mata kami tertuju pada seseorang berjubah hitam yang melayang di udara. Sigra.

 

“Bagaimana dia bisa sampai di sini?” kata Mardian, bergumam sendiri.

 

“Ternyata kau tak cukup pintar, Erlangga.”

 

Sigra melemparkan sesuatu. Benda itu jatuh tepat di depanku. Sebuah benda berbentuk persegi hitam yang sangat tak asing di mataku. Itu ponselku! Aku bahkan lupa kalau aku membawa telepon genggam atau tidak. Sigra pasti menggunakan ponselku untuk melacak keberadaanku, entah bagaimana caranya.

 

“Erlangga, cepat lari!” Mardian berseru sambil menarik busur dan anak panahnya, membidikkannya ke arah Sigra. Tak menunggu waktu lama, anak panah itu langsung dilepaskan menuju Sigra. Tanpa usaha yang banyak—hanya dengan memiringkan kepala ke kiri—Sigra menghindari tembakan Mardian dan membiarkan anak panah itu melesat di samping kepalanya.

 

Sigra membuka buku yang melayang di tangannya seraya merapal sebuah mantra. Buku itu kemudian berdiri tegak dan bersinar. Seketika sebuah kilatan hijau—petir—menyambar dari buku itu, menyerang Mardian hingga terpelanting ke belakang dan membentur pohon. Meringis, Mardian berusaha bangkit dan mengambil beberapa anak panahnya yang berserakan di tanah. Ia berlari menuju Sigra sambil membuat bentuk O dengan jarinya lalu bersiul. Sepertinya itu adalah panggilan untuk teman beruangnya karena beberapa menit kemudian, seekor beruang cokelat datang dan ikut bertarung di sana.

 

Sementara ada pertarungan seru tidak jauh dariku, aku malah terdiam ... terpaku di tanah. Apa yang harus kulakukan? Ikut membantu ... atau lari? Tapi aku tak bisa membantu apa-apa ... dan aku juga tak mungkin meninggalkan Mardian. Aku pusing, tak tahu harus bagaimana, setidaknya sampai mataku tertuju pada sebuah anak panah yang tergeletak di sampingku. Aku jadi mendapat sebuah ide. Kuambil anak panah itu lalu berlari menuju pusat pertarungan. Aku bersembunyi di balik pohon sambil mengamati. Aku hanya perlu titik yang tepat agar bisa menyerang Sigra dari belakang.

 

Kulihat Mardian menghunuskan pedang yang disimpannya di pinggang. Berkali-kali diayunkannya pedang itu namun dengan mudahnya Sigra menghindari setiap serangan yang dilancarkan kepadanya. Dengan satu petikan jari, sebuah petir besar menukik dari langit yang cerah ini dan menghantam Mardian keras, hingga ia terkapar di tanah.

 

Sigra menapakkan kakinya di tanah dan menutup buku di tangannya. Ia berjalan pelan ke arah di mana Mardian masih berusaha meraih pedang meski tubuhnya terluka parah. Si beruang cokelat tiba-tiba muncul dan menyerang Sigra dari samping, tapi dengan satu empasan tangan di udara, makhluk besar berbulu tebal itu terpental jauh tak berdaya. Sigra terlihat sedang berbincang dengan Mardian. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan, hanya saja firasatku bilang ... sepertinya ini kesempatanku.

 

Selagi Sigra terfokus pada Mardian, aku berjalan mengendap-endap dari belakangnya. Deg-degan, aku berhati-hati melangkah. Peluh membasahi wajah dan tangan kananku yang menggenggam erat anak panah. Semoga Sigra tak menyadari keberadaanku, kataku dalam hati. Setelah jarak kami hanya terpaut dua puluh hingga tiga puluh meter, kupusatkan semua energiku di kaki dan berlari ke arahnya sambil mengarahkan ujung panah yang tajam ke punggungnya.

 

Dalam jeda waktu yang singkat, Sigra menolehkan kepalanya ke belakang. Ia menyadari apa yang akan kulakukan. Tapi ia terlambat, anak panah ini sudah hampir mengenainya. Di saat ujung anak panah ini hanya tinggal satu meter dari dada kirinya, sebuah bola cahaya muncul di antara keduanya. Ujung panah ini menyentuh bola perak yang melayang itu, menembusnya. Seketika, sebuah cahaya yang sangat terang meledak di antara kami.

 

Apa yang terjadi? Apakah aku mengenai Sigra? Begitu cahaya yang menyilaukan tadi mulai redup, perlahan kubuka mata. Kulihat, saat ini bukan lagi sebuah anak panah yang kugenggam di tanganku, melainkan sebuah tombak panjang berwarna perak yang ujung tajamnya menghunjam dada kiri Sigra yang kini terkapar di tanah, tak bergerak.

 

Kakiku mendadak lemas. Aku jatuh terduduk di tanah selagi mataku tak bisa lepas melihat hasil yang telah kuperbuat. Aku membunuh orang! Aku berteriak dalam hati. Badan Sigra yang tergeletak di tanah itu lama kelamaan berubah. Kulitnya menjadi sangat berkerut dan badannya mengurus—ia menua! Dalam hitungan detik, yang tersisa dari tubuh Sigra hanya tinggal tulang belulang yang terselimuti pakaian, itu pun sebelum embusan angin menerbangkannya bagaikan debu.

 

“Sekarang ... semuanya sudah selesai.” Mardian bangkit dengan bertumpu pada pedang yang ia tancapkan ke tanah. Aku pun ikut berdiri dan membantu memapahnya. “Aku tidak apa-apa. Aku sudah bisa berdiri. Sebaiknya sekarang kaulihat ke balik tebing di sana.”

 

Setelah kupastikan kalau Mardian sudah bisa berdiri tegak, aku berjalan menuju arah yang dimaksud Mardian. Dari atas tebing ini, kulihat ada desa  yang gelap jauh di sana, tapi kegelapan di sana tak berlangsung lama karena bunga-bunga dan pohon terlihat tumbuh dan bermekaran dengan sangat cepat. Ini ajaib! Seperti di dalam cerita dongeng!

 

“Kau telah mengembalikan desa dan hutan ini dari kegelapan pengaruh sihir Sigra ... seperti di dalam ramalan,” kata Mardian setelah menyusulku. Aku masih tidak percaya kalau aku semua yang melakukan ini. Tapi, sekali lagi Mardian mengaskanku, “Ya, kaulah si Pemuda bertombak perak itu.”

 

Aku menengokkan kepalaku kembali pada tombak perak yang tertancap di tanah tadi. Tombak itu kini memunculkan cahaya yang menyilaukan itu lagi dan begitu sadar, aku dan Mardian sudah berada di tengah desa dengan tombak perak di tanganku. Kulihat orang-orang desa keluar dari rumahnya dan berkumpul di sekitar kami. Orang-orang tua yang kulihat saat pertama kali datang ke desa ini tak terlihat sama sekali. Yang ada hanyalah orang-orang yang tak terlihat berumur lebih dari 35 tahun dan beberapa anak-anak yang berloncatan di sana sini. Mereka semua memandangiku dengan senyum berseri yang tergambar di wajah mereka.

 

Ukiran bola yang tertanam di tombak perak di tanganku bersinar, lalu seorang pria tua yang tak begitu asing muncul begitu saja di depanku. Pria tua itu adalah orang yang sama yang memberiku azimat kemarin, hanya saja kali ini ia terlihat lebih bersih dan rapi. Rambut dan janggut putih yang kemarin terlihat sangat tak terurus kini telah dipotong pendek rapi. Jubah abu-abunya pun masih sama bentuknya, hanya warnanya saja yang kini menjadi putih bersih, seperti baru dicuci dengan salah satu detergen yang diiklankan di televisi.

 

“Ah, sang pengembara!” Seru Mardian yang diikuti dengan salam membungkuk, begitu pun dengan seluruh penduduk desa yang juga ikut membungkuk. Ada apa ini?

 

“Aku sudah yakin kalau kaulah orangnya, anak muda,” kata sang pengembara padaku.

 

“Siapa kau sebenarnya?”

 

“Seperti yang sudah temanmu ini ceritakan. Aku adalah pengembara yang dulu pernah ke desa ini. Aku ingin membantu, tapi karena keterbatasan yang kumiliki, aku menunggu seseorang yang tepat untuk menggunakan sebagian kekuatanku yang tersimpan di dalam bola perak yang kuberikan padamu—yang kini tertanam di dalam tombak perak itu. Aku tahu kalau kau cukup berani dan rela berkorban untuk menyelamatkan desa ini.”

 

Aku sedikit kebingungan saat ia mengatakan itu padaku. “Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”

 

“Lihat saja tadi. Saat temanmu menyuruh lari, kau malah kembali, membunuh sang penyihir jahat, dan menyelamatkan desa ini. Bukankah itu sebuah bukti yang cukup jelas atas kemampuan yang ada di dalam dirimu?”

 

Sebenarnya aku ingin bilang kalau saja saat itu Mardian terbunuh, aku bisa tersesat di hutan karena hanya dia yang tahu jalan keluarnya. Tapi kuurungkan niat itu karena penduduk desa ini sudah terlanjur melihatku sebagai pahlawan mereka dan aku tak ingin mengecewakan mereka.

 

“Sekarang tugasku di sini sudah selesai.” Sang pengembara kemudian memetik jarinya. Seketika itu dari langit kulihat seekor burung berkaki empat dengan sayap yang sangat besar terbang ke arah kami. Burung yang besarnya berkali-kali lipat orang normal itu mendarat tepat di belakang sang pengembara. “Kau ingin kembali ke kota kan, Erlangga? Ikutlah bersamaku.”

 

“Serius? Menaiki burung besar berkaki empat ini?” Aku sungguh tak percaya dengan tawaran yang baru saja kudengar. Akhirnya aku bisa pulang! Kuberikan tombak perak di tanganku kepada Mardian dan aku meloncat naik ke burung aneh ini bersama dengan sang pengembara. Burung gagah ini dengan cepat mengudara dan dengan sekali kepakan sayap penuh, kami sudah melayang di antara gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota tempatku tinggal. Cepat sekali!

 

Apa tidak ada orang yang sama sekali melihat hewan sebesar ini terbang seenaknya di atas langit ya? Aku bertanya-tanya di dalam hati.

 

Aku diturunkan tepat di depan rumah kontrakanku dan kebetulan tidak ada siapa pun yang melintas di sini. Aneh sekali. Aku mengucapkan terima kasih pada sang pengembara dan ia terbang kembali bersama kendaraan ajaibnya itu, mengudara tinggi hingga tak terlihat lagi setelah mereka menembus awan.

 

Aku benar-benar sudah sampai rumah kan? Untuk memastikan, kucubit pipi kananku. Sakit! Tampaknya aku memang benar-benar sudah sampai di rumah. Aku melangkah masuk ke halaman rumah dan membuka pintu. Sebelum pintu depan ini terbuka penuh, mendadak aku mencium aroma khas yang memompa kembali ingatanku.

 

“Hei, Erlangga! Dari mana saja kamu ... kenapa baru pulang pagi-pagi begini? Kita lagi pesta durian nih, kau mau atau tidak?” tanya salah satu dari kedua teman kontrakanku yang akhirnya kujawab dengan bantingan keras dari pintu kamarku.

 

“Aku hanya ingin pulang ... dan tidur!”

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rian
rian at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)
2550

Menghibur. Tapi enggak setuju sama Putri Kegelapan, cerita ini enggak unik menurut saya. Bagian mananya yang unik? Cerita tentang pemuda-tersesat-ketemu-orang-jahat-terus-mengalahkan-orang-jahat-tersebut udah sering ditulis. Seandainya cerpen ini bisa memasukkan unsur-unsur kebudayaan bangsa Indonesia, mungkin baru bisa berasa unik. Tapi ini rasanya kayak contekan dari film-film barat aja. Kayaknya Penulis sadar juga sama hal ini, sampai berkali-kali menyinggungnya dalam cerita. Tapi yang saya sayangkan, ini kan latarnya Indonesia, di desa lagi. Kan di pedesaan gitu unsur mistiknya masih banyak. Bukannya seru kalau dieksplor, alih-alih minjem unsur-unsur cerita dari orang Barat? Kayak misalnya si Beruang. Kenapa enggak diganti sama Harimau Jawa, misalnya? Kan Harimau Jawa itu juga tergolong misterius, plus Indonesia banget lagi. Alih-alih beruang yang saya enggak yakin apakah ada juga di hutan-hutan Indonesia. Cuma pendapat saya aja sih:)

Selain itu, saya agak kurang bisa menikmati bagian-bagian tegang-tegangannya. Mungkin karena kalimatnya panjang-panjang, jadi kerasa temponya terlalu lambat. Kan biasanya kalau di adegan-adegan bertarung gitu kalimatnya pendek-pendek, sekilas, enggak terlalu detil, yang penting pembaca masih bisa menangkap apa yang terjadi.

Tapi lain dari itu cerita ini sangat menghibur. Lumayan untuk ngisi waktu. Narasinya, selain di adegan bertarung, nyaman sekali.

Makasih banget udah menghibur:) Mohon maaf kalau banyak yang enggak berkenan.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Hahahahahahaha.....
Sejak kapan saya bilang kalau ini setting-nya di Indonesia?
.
Memang ada buah duriannya, tapi saya ga pernah bilang sama sekali kalau setting ceritanya di Indonesia. Jadi soal segala macam yang Anda bilang tentang unsur Indonesia-nya, jelas ga bisa diterapkan, karena memang settingnya bukan di Indonesia.

Writer rian
rian at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Jadi kenapa nama tokohnya Erlangga? Kenapa dia dipanggil 'Mas'? Kenapa ada tali rafia, ada buah duku, ada bambu, dalam percakapan ada partikel 'nih', 'sih', dsb?, yang kesannya menunjukkan latar cerita ini di Indonesia, atau tempat yang menyerupai Indonesia, atau minimal, Asia. Tapi kemudian ujug-ujug di tengah cerita ada beruang, ada penyihir , ada pemburu, dll. Endingnya ngingetin saya sama anime. Mendadak ceritanya berubah jadi kebarat-baratan, atau niru-niru anime. Atau mungkin ini salah satu cerita yang latarnya dibikin sendiri, alternate reality gitu?

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Apakah kalau saya bikin cerita fantasi sendiri harus pakai bahasa buatan sendiri? Apakah harus bikin buah²an baru? Dan semacamnya?
.
Untuk novelet < 10.000 kata, saya ga punya cukup waktu untuk ngarang semua itu. Saya memang sengaja pake "mas", "nih", dan "sih" biar dialognya ga kaku banget.
.
Yang menyimpulkan setting-nya di mana sih tergantung pembaca masing-masing. Kalau saya pribadi, membuat cerita ini dengan setting yang tak ada di dunia nyata, begitu pun unsur² tertentu di dalamnya. Karena itu saya ga menyebutkan nama kota, desa, gunung, atau pun hutannya. Biar pembaca sendiri yang membayangkan latarnya.
.
Makasih lho ya udah mampir-mampir.
Hehehehe....

Writer rian
rian at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Jadi kenapa saran saya 'enggak bisa diterapkan'? Kalau misalnya latar cerita ini murni imajinasi Penulis, berarti bisa aja dong memasukkan unsur-unsur kebudayaan Indonesia dsb, meskipun mungkin Penulis merasa itu enggak sesuai seleranya.

'Bisa' dan 'mau' kan maknanya beda.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Ya memang bisa, tapi sewaktu saya nulis, saya memang ga pakai latar Indonesia kan. Kalau memang saya ga niat pakai latar Indonesia, kenapa harus saya paksakan menggunakan latar yang diminta Saudara? Yang bilang latarnya Indonesia kan Saudara sendiri. :)

Writer rian
rian at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 27 weeks ago)

Saya enggak maksa kok, kan cuma "pendapat saya aja sih". Cuma kok di komentar sebelumnya ada kata-kata "jelas ga bisa diterapkan", padahal Penulis mengakui sendiri kalau "ya memang bisa". Seakan komentar saya enggak valid.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 28 weeks ago)
70

Jujur, saia baca cerpen ini pake acara bersambung segala loh karena saking panjangny. Ceritany unik, dan lebih unik lagi setelah tau inspirasi cerita ini. Engga nyangka bisa bikin cerita sekeren ini dari ide sederhana seperti itu!

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 28 weeks ago)

Kalau ada kategori "novelet" waktu mau post cerita, saya mau pake kategori itu dah.
.
Seharusnya sih udah ga heran kalau saya bikin cerita sepanjang ini, toh saya juga sudah pernah post beberapa cerita saya yang cukup panjang. Hehehehe....
.
Oh, iya, si Mas "AN" ini akhirnya ngambek berhari-hari. Kami--panitia yang lain--sampe dicuekin tiap kali ngomong. :(
.
PS: sekadar info, inisial "AN" di sini bukan inisial nama saya. :|

Writer A.Arifin
A.Arifin at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 28 weeks ago)

sama kaya yg diatas.. niatnya baca sampe habis tapi nggak kuat hahaha

Writer alcyon
alcyon at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 29 weeks ago)
100

komentar awal setelah membaca "cerpen" ini adalah sama seperti kalimat pertama dari "cerpen" ini. melelahkan. klo memang ingin menulis cerita bergenre panjang seprti ini tantangannya adalah gmn membuat pembaca bisa bertahan. kurasa, aku sendri masih bisa bertahan meskipun alur ceritanya sudah bisa ditebak gmn. tidak harus rumit, karena semakin rumit pembaca malah semakin capek. intinya gmn pembaca bs merasa semakin penasaran sampe akhir, mgk idenya sendiri harus unik gt.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 29 weeks ago)

Berniat membaca sampai habis,
namun gagal x.x

Writer ruben66
ruben66 at Aku Hanya Ingin Pulang (4 years 29 weeks ago)

sepertinya anda berbakat menjadi penulis novel yang bagus. Tingkatkan karya anda untuk lebih bagus lagi

Treadmill Elektrik | Alat Treadmill Manual