Penampilan Legendaris Seorang Bek

Vincent mengirim umpan rendah tapi keras dari sisi kiri lapangan. Bola meluncur ke kotak penalti, mengarah ke depan gawang. Aku mencoba meraihnya dengan kaki kananku. Di belakangku pasti ada teman Vincent yang siap menyambar bola, aku harus menghentikan skema itu sebelum terlambat. Bola mengenai ujung sepatu. Arahnya berubah. Bola masuk ke gawang, ke dekat tiang sebelah kanan. Dani diam saja. Ia tidak sempat menangkap bola itu, ia berdiri di tempat, terkejut, tidak menyangka aku akan membuat gol bunuh diri. Aku juga. Sama seperti rekan-rekan yang lain, pelatih, dan penonton.  

            Dani menatapku. Sorot matanya mengatakan, “Tolol!”

            Aku menatap balik, dalam hati berkata, “Diam! Aku yang akan menanggungnya sendirian dari sini. Kau tidak tahu rasanya. Aku akan dimakan hidup-hidup, aku sudah mati sekarang, aku korbannya. Jangan menatapku seperti orang yang paling benar.” Tapi dia benar.

            Stadion bergemuruh. Kakiku sedikit bergetar. Para pemain Soros merayakan gol di pinggir lapangan ― orang-orang tidak tahu malu. Mereka merayakannya cukup lama, terlalu berlebihan untuk sebuah gol bunuh diri, terlalu menghina. Terlalu lama sehingga rekan-rekanku sempat datang menghampiri. Beberapa di antara mereka menepuk pundakku, beberapa lagi mengungkapkan kekesalannya kepadaku, beberapa lagi melakukan kedua hal itu sekaligus. Semuanya ramai-ramai masuk ke dalam telingaku.

            Pelatih berorasi di pinggir lapangan. Dia terlihat murka. Semua amarahnya ditujukan kepadaku. Dia punya istri muda yang cantik, dia beruntung, aku ingin berhubungan seks dengannya sekarang biar dia diam. Penonton juga ribut. Suaranya campur-aduk. Aku dengar ada yang berteriak, “bek sampah!” Itu suporter kami. Di antara para suporter Sandros yang sedang bersuka-cita, suporter kami marah-marah dan mengeluh. Semua itu ditujukan kepadaku. Maka aku menutup kedua telingaku dengan kedua tangan. Aku melakukannya dengan refleks dan baru menyadari bahwa gerakan tersebut memang terkesan tidak profesional. Sudah terlanjur. Wartawan pasti sudah mengambil fotonya dan aku akan dihakimi dengan foto itu selamanya. Rekanku hanya menatapku dengan keji.

            Vincent menatapku sambil berlari ke posisinya sebelum kick-off dimulai. Kita beradu pandang. Sepertinya dia mengucapkan sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya. Dia terlihat menyesal tetapi aku tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya. Bisa jadi itu adalah: “Terima kasih buat golnya, tolol!”

            Aku melihat papan skor. Di sebelahnya sebuah layar monitor besar menayangkan adegan gol bunuh diri yang kubuat. Skor 3-2 untuk Soros dan waktu pertandingan tersisa sekitar 5 menit lagi, plus injury time. Aku membuka telingaku dan suara sorakan suporter terdengar lebih keras lagi. Mereka menyerangku secara verbal. Inilah suara sakit hati saat timmu kalah di menit-menit terakhir padahal sebelumnya sempat di atas angin dengan 2-0. Rasanya memang seperti pecundang. Apa aku berhak menerimanya? Semua orang melakukan kesalahan. Aku melakukan kesalahan di saat yang salah.

            Keringat mengalir deras. Wasit berdiri di garis tengah, meniup peluit, dan permainan dimulai lagi. Rasanya ingin jadi wasit saja. Meniup peluit dan memerintah terlihat seperti pekerjaan yang menyenangkan saat ini. Aku memprotes dia beberapa kali tadi. Mungkin kalau ada kesempatan dia berdiri di dekatku, dia bakal meledekku juga dan tidak akan ada yang memberinya kartu kuning. Itu keuntungan wasit. Rambutnya botak. Tampangnya culun. Kecapean seperti mau mati.

            Bola bergulir di tengah, dikuasai oleh rekan-rekanku. Aku harap bola itu tidak akan mendatangiku lagi di sisa waktu yang ada, tapi sepertinya itu permintaan bodoh. Kita menguasai bola dengan baik. Kenapa tidak seperti itu tadi? Aku tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan. Vincent lolos gara-gara kami kehilangan bola dan mereka melakukan serangan balik kilat. Rekan-rekanku di barisan depan, mereka yang melakukan kesalahan, merekalah biang keroknya tapi malah aku yang kena getahnya. Bagaimana pun juga gol akan tetap terjadi. Kalau aku tidak menjulurkan kakiku, bola akan dengan mudah disontek penyerang Sandros dan masuk ke gawang. Itu memang bukan situasi yang menguntungkan dan itu terjadi gara-gara rekan-rekanku di depan yang kehilangan bola di menit-menit krusial. Camkan itu. Berapa banyak orang di sini yang paham dengan logika itu. Siapapun itu, dialah orang yang sangat terbuka pikirannya, orang yang paling berakal sehat di dalam stadion, dan mungkin dialah yang paling pantas tidur dengan istri pelatih.   

            Lihat bagaimana rekan-rekanku memainkan bola. Lihat bagaimana mereka mengumpan. Pantesan saja kita kalah sekarang. Aku benci mereka. Mereka pasti membenciku sekarang. Mereka bukan orang-orang yang baik dari segi profesional maupun personal. Aku harap mereka juga melakukan gol bunuh diri satu per satu, biar aku tidak sendirian dihakimi massa. Mereka kalah kelas. Lihat bagaimana para pemain Sandros memainkan bola, mereka mempermainkan kami dengan lihai, mereka menguasai permainan dengan cepat, dan mereka mengirim umpan lambung ke Vincent!

            Vincent berlari ke arahku. Kesempatan untuk bergulat dengannya. Darahku tiba-tiba mendidih, aku ingin mematahkan kakinya. Dia tidak melambatkan lajunya, dia tahu akan bertubrukan dengan badanku. Aku menghambat gerakannya dengan menggunakan bahu. Dia hampir jatuh, hilang keseimbangan. Aku menatap kaki kirinya yang tadi menendang bola penyebab gol bunuh diriku. Dia gigih mempertahankan bola. Aku terus mengganggunya. Dia memegang bajuku. Aku juga menarik bajunya. Kita berputar-putar. Tarikannya semakin keras, aku tidak mau kalah. Seseorang harus jatuh. Aku tidak lagi menginginkan bolanya, aku hanya ingin Vincent tersungkur. Dia berusaha melepaskan diri. Aku tidak akan membiarkannya. Aku mencengkeram badannya dari belakang, dia mencoba menyikut mukaku. Aku mencengkeram lehernya, aku tidak mendengar suara peluit, tapi teman-teman Vincent yang lain berlari untuk mengajakku berkelahi. Aku melepaskan Vincent, dia segera berbalik ke arahku dan siap melancarkan pukulan. Oh, dia menendang. Aku berhasil mengelak tepat waktu. Aku siap memukul wajahnya tapi seseorang di belakang terkena sikutku. Badanku terdorong, rekan-rekanku dengan sigap melerai, membawaku menjauh. Para pemain cekcok. Aku lihat wasit duduk di atas rumput, dia yang terkena sikutku tadi. Kenapa dia tidak meniup peluit? Mana aku tahu kalau dia ada di belakangku tadi. Atau justru malah aku yang tidak dengar suara peluitnya. Darah mengalir di wajahnya.

            Dani memegangku. Sarung tangannya tepat di depan wajahku, besar, cukup besar buat menangkap bola. Ekspresi rekan-rekanku aneh, agaknya mereka bingung, beradu mulut dengan pemain Sandros atau denganku. Paramedis masuk menangani wasit. Stadion riuh, sepertinya para penonton juga bertengkar. “Vincent sialan!” aku terus-terusan mengucapkannya, datangnya dari lubuk hati terdalam, para pemain Sandros terprovokasi ingin mengebiriku dan rekan-rekanku menghalanginya dengan setengah hati.

            Setelah pelipis kanannya diperban, wasit menyuruh para pemain tenang lalu memanggil aku dan Vincent untuk mendekat. Vincent tidak mau melihat wajahku. Dia menatap wasit dengan sorot yang yakin: kartu merah untukku. Aku ingin memukulnya setelah ini. Dari saku celananya wasit mengangkat kartu merah, tapi bukan untukku, untuk Vincent! Aku hanya diberi kartu kuning. Oh, kebahagiaan. Oh tidak, ini bencana.

             Karena orang-orang akan melihatnya kalau akulah yang mencari gara-gara dengan Vincent. Ini adalah keputusan controversial, TV akan menayangkan ini, menganalisis setiap gerakan dan akhirnya terbukti kalau akulah yang harusnya diusir wasit. Aku akan dicap sebagai musuh. Brengsek, Vincent terus menggerutu, teman-temannya mengerubungi wasit dengan tampang serius, mereka semua bergantian menuding ke arahku. Aku mundur perlahan. Keputusan wasit tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun. “Jangan buat masalah lagi,” Robbi menepuk dadaku agak keras. Ya, lebih baik kau buat gol sekarang dan uruslah dirimu sendiri! Lagipula usianya lebih muda dariku, berani-beraninya, striker pas-pasan! Tapi aku benar-benar berharap dia bisa mencetak gol di sisa waktu pertandingan dan meringankan dosaku.

             Vincent jalan keluar lapangan dengan murka. Beberapa temannya menghampiriku tapi aku langsung menghardik, “bukan aku yang memutuskan!” dan mereka pun berbalik dengan enggan. Wasit menoleh ke arahku, aku memberi isyarat tangan, maaf atas sikutannya. Dia mengangguk lalu menunjuk tendangan bebas untuk tim kami. Aku yang akan mengambilnya.

            Ini peluang emas. Aku harus menendang bola sejauh mungkin ke kotak penalti Sandros. Robbi ada di depan sana, beberapa pemain menumpuk ke depan, mereka memintaku untuk menendang jauh, semuanya siap menyerbu Sandros. Setelah bunyi peluit aku langsung tendang bola. Mungkin aku capek. Bola melambung rendah, mengenai badan Olli yang berdiri di tengah lapang dan memantul kembali ke daerah pertahanan kami. Striker Sandros itu langsung sprint menyambar bola, dribble-nya cepat, pertahanan kami terbuka, aku tidak bisa mengejarnya tepat waktu, dia solo run ke gawang. Dani maju dari gawangnya, menghadang Olli di kotak penalti. Keduanya bertubrukan. Olli jatuh. Dani terkapar, kepalanya terbentur kaki Olli. Dua-duanya jatuh. Sekarang aku mendengar suara peluit wasit dengan jelas. Tendangan penalti untuk Sandros. Penonton bertepuk tangan. Pelatih kesetanan meninju udara. Luar biasa.

            Aku memegang kepalaku. Tidak ada yang mau bicara denganku. Mereka menghampiri Dani yang terlihat kesakitan. Tim medis lari secepat kilat dari pinggir lapangan. Robbi bicara dengan wasit. Keputusan wasit tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun. Bahkan di saat pertandingan berhenti pun tidak ada yang sudi bicara denganku. “Bawa aku keluar…” Dani meringis. Dia diangkat ke atas tandu. “Dia tidak bisa lanjut,” ujar salah seorang tim medis. Dia digotong keluar lapangan. Dia diselamatkan.

            Tanpa kiper dan kami sudah tidak bisa mengganti pemain lagi. Pelatih memintaku untuk menepi. Aku berlari kecil, “Ganti baju. Jaga gawang. Dasar idiot!” dia tidak berbasa-basi. Aku terkejut dan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Kenapa aku? Dia jelas-jelas ingin membunuhku di atas lapangan. Asisten pelatih melemparkan baju kiper cadangan ke wajahku. Walaupun masih terkejut aku tetap membuka jersey dan menggantinya dengan baju kiper, lalu memakai sarung tangan putih yang agak kesempitan. Dia menatapku dengan bengis, seolah-olah bisa melihat apa yang kubayangkan tentang istrinya. Saat masuk ke lagi lapangan aku bisa merasakan para penonton terkejut. Sepertinya mereka mulai menangis.

              Aku berdiri di depan gawang. Bola sudah ada di titik putih. Dalam keadaan genting seperti ini barulah rekan-rekanku bicara kepadaku. Mereka memintaku untuk konsentrasi. Mereka memintaku untuk menangkap bola. Mereka memintaku untuk menebus kesalahan. Semuanya terdengar seperti ancaman. Olli yang akan jadi eksekutor penalti. “Biasanya ke kanan bawah,” ujar Robbi sambil menepuk bahuku. Sok tahu sekali anak ingusan itu.

            Olli berdiri 4-5 langkah dari bola sambil bertolak pinggang. Sorot matanya seperti elang, tajam dan optimistis. Aku tidak berani menatap bola, maka aku menatap Olli yang sedang menatap bola. Apa yang harus kupikirkan sekarang? Aku sangat tegang, ini pertama kalinya aku jadi kiper di pertandingan resmi. Gawang ini jauh lebih besar dari yang kuingat. Kenapa ada orang yang mau jadi kiper?

            Aku tidak mendengar bunyi peluit wasit tapi Olli mulai bergerak. Dia berlari. Matanya ke kiri. Jadi… kiri!

Aku menjatuhkan diri. Ketiak kiriku sakit membentur tanah. Bola terasa menyentuh telapak tanganku. Memantul ke depan, tidak terlalu jauh. Aku langsung lari dan memeluknya. Apa yang baru saja terjadi? Aku menggagalkan penalti. Rekan-rekan yang lain tepuk tangan, bersorak, menepuk kepalaku. “Ke kiri, bodoh!” aku mengatakannya untuk Robbi, tapi Robbi sudah berlari jauh ke depan, memintaku untuk melempar bola ke arahnya. Aku mengayunkan bola sekuat tenaga. Mungkin karena aku marah, tenagaku jadi berlipat. Bola melintasi lebih dari ¾ lapangan.

Bola Memantul ke rumput dengan sangat tinggi. Robbi mengejarnya. Begitu juga dengan kiper Sandros, si Senna. Waktunya tidak banyak lagi. Robbi versus Senna. Ayo bocah sialan! Robbi kena. Melenceng di atas mistar. Apa?! Padahal gawangnya kosong. Padahal Senna sudah lewat. Tidak gol. Goal kick. Robbi tertunduk dan memukul-mukul tanah. Aku akan memukul-mukulmu persis seperti itu, Robbi.

Senna memungut bola lalu menendang jauh. Kukira peluit panjang akan dibunyikan tapi wasit masih memberi waktu. Bola melintasi ¾ lapangan, Olli mengejar, melompat setinggi langit, menyundul bola dengan sangat keras, mengarah ke gawang. Penonton bersorak. Bertepuk tangan. Itu semua ditujukan kepadaku. Aku berhasil menepis bola sundulan Olli dengan refleks secepat kilat, menepis dengan tangan kananku yang memanjang sambil melompat. Bola keluar. Itu bisa saja gol kalau bukan karena reaksiku. Dua kali menyelamatkan gawang dalam waktu kurang dari 30 detik. Dahsyat.

Ballboy menyodorkan bola, aku memegangnya dengan kedua tangan, bersiap melakukan tendangan gawang. Wasit meniup peluit panjang lebih dulu, pertandingan selesai, kita kalah tipis. Bola masih kudekap. Para pemain Sandros melompat dan berkumpul merayakan kemenangan beruntung mereka. Rekan-rekanku tertunduk lesu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, semuanya sudah selesai. Saatnya bersalam-salaman. Aku menyerahkan bola kepada wasit di tengah lapangan. “Aku membuat kesalahan. Seharusnya kau yang dapat kartu merah,” katanya kepadaku. Aku tidak mengucapkan apa-apa, hanya memandangnya dengan keji. Beberapa pemain bertukar kaos, tapi tidak ada yang meminta kaosku. Beberapa wartawan masuk ke lapangan. Salah satunya buru-buru mendatangiku.

“Kau senang?” katanya.

“Setidaknya aku menyelamatkan tendangan penalti.”

“Lemparanmu ke Robbi terlalu kencang, dan itu sebabnya Robbi membuang kesempatan bagus. Apa kau salah perhitungan?”

Aku kenal wartawan ini. Dia memang tidak suka dengan tim kami. Aku harus hati-hati, tidak boleh menjawab pertanyaannya atau aku tidak akan selamat. Aku memandangnya dengan keji, lalu dengan gerakan yang tiba-tiba, aku pura-pura mau menjotos mukanya. Dia terperanjat, hampir terjengkang mundur ke belakang dan menutup mukanya. Dia terlihat bodoh dan ketakutan. Setelah itu aku langsung pergi. Oh, dia pasti akan menulis sesuatu yang buruk tentangku. Seharusnya aku mengabaikannya saja.  

Tiba-tiba Robbi sedang berjalan di dekatku, telanjang dada dengan kaos Sandros menggantung di bahu kirinya. Dia melihatku. “2-3, kawan.”

Apa maksudnya? Tentu saja aku sudah tahu skor akhir pertandingan. Dia menyindirku. Dia menyalahkan aku atas kekalahan ini. Apa-apaan! Ini kelewatan namanya. “Harusnya bisa kau bikin 3-3 tadi,” aku tidak boleh kalah. Dia hanya tertawa kecil seperti baru saja mendengar sebuah lelucon. Itu namanya penghinaan. Aku tidak terima ditertawakan anak ingusan seperti itu. Dia mempermalukan aku maka aku harus mempermalukan dia. Aku lepas sarung tangan lalu memelorotkan celana Robbi. Tidak hanya itu, aku berusaha mengambil celananya. Menurutku ini cara yang pas, terlihat seperti bercanda, jauh lebih baik daripada aku bergulat dengan rekan sendiri di atas lapangan. Dia jongkok, dengan gigih mempertahankan celananya, tapi aku juga tetap ngotot. Ini adalah sebuah upaya yang keras. Dia memakai celana dalam segitiga warna putih. Aku terus menarik, dia meronta, kakinya menendang-nendang, aku mendengar suara robekan. Aku merebutnya dengan beringas dan celana itu pun terlepas, Robbi hanya pakai celana dalam. Dia tampak sangat kesal, bangkit, aku lari, dia mengejar. Aku memutar-mutar celananya ke atas, memperlakukannya seperti trofi, menoleh ke belakang, Robbi mengejarku sambil menutup celana dalamnya dengan kaos Sandros. Aku bingung apa yang harus kulakukan dengan celana ini. Terus saja berlari.

Menoleh lagi ke belakang, ternyata beberapa rekanku juga ikut-ikutan mengejar. Gawat. Apa urusannya? Ada 3 sampai 4 orang di belakang sana. Mereka kelihatan kesal. Aku berlari mengitari lapangan, tidak bisa menyerahkan celana ini begitu saja, sekarang keadaannya jadi lebih serius.  

Aku lihat polisi stadion juga ikut-ikutan berlari. Apa mereka ingin menangkapku? Aku tidak tahu situasi macam apa ini. Aku melambai-lambaikan celana Robbi ke atas seperti orang gila, sepertinya aku memang sudah gila.

Para polisi mengitariku. Mereka tidak menangkapku tetapi mengamankanku dari rekan-rekanku sendiri. Mereka mengerubungiku, mau mengawalku ke luar lapangan sementara rekan-rekanku yang lain menjulurkan tangan mereka, berusaha meraihku, memukulku, menjambak rambutku. “Mukamu bakal bonyok!” Suara Robbi terdengar jelas sekali di telinga. Seharusnya aku takut, tapi entah kenapa itu malah membuatku semakin menjadi-jadi. Aku melompat-lompat, mengangkat celana merah ini ke angkasa. Aku dipagari polisi, digiring masuk ke lorong kamar ganti, sementara rekan-rekanku kelihatan sangat bernafsu seperti serigala lapar. Aku tidak peduli. Tidak peduli dengan apa yang akan menimpaku selanjutnya. Tidak peduli dengan nasib karierku di klub ini. Tidak peduli dengan penonton di stadion yang menyorakiku. Aku terlanjur gila.

Sebelum masuk ke dalam lorong, aku melihat ke arah bangku penonton di sebelah atas. Wajah mereka tampak tidak begitu bersahabat. Ada yang memanggil namaku.

Sebuah botol melayang.

Dahiku sakit sekali. Itu botol kaca.

Darah. Pusing. Tiba-tiba lemas.

Sekelilingku gelap. Menghitam. Aku mau pingsan.

Oh, sepertinya aku bisa melihat headline surat kabar besok.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer tashalia
tashalia at Penampilan Legendaris Seorang Bek (3 years 26 weeks ago)

Meski di awal-awal sempet bingung, di tengah cerita mulai kebawa cerita..TOP BGT..teruskan kawan

Rental Printer | Distributor Produk Herbalife

Writer niNEFOur
niNEFOur at Penampilan Legendaris Seorang Bek (4 years 13 weeks ago)
90

Ahahahah :D
seperti itu lah hidup

100

Gila! Balance antara aksi pertandingan bola dengan keadaan emosional tokoh "Aku" pas banget. Kebayang bgt kejadiannya gimana. Ngerti juga "kegilaan" si tokoh utama. Endingnya yg aku paling suka tapi. Simpel, concise tapi ngena. Sip!

terima kasih banyak, terkadang kegilaan dan status legendaris itu beda-beda tipis, itu yang coba saya utarakan di sini. hidup ini seperti lelucon yang gila

Writer hidden pen
hidden pen at Penampilan Legendaris Seorang Bek (4 years 23 weeks ago)
100

ceritanya kk top. ehh mungkin bagian itu yyaaa itu tentang pelatihnya, jujur terkejut dengan ceritanya kk. aku jadi senyum-senyum sendiri neh.
awalnya menderita terakhirnya tragis. tapi darimana dapat botol jenis itu kukira cuma botol biasa. suporter kejam juga ternyata

maaf kk jika salah mengucapkan. salam kenal

kadang-kadang kalau nonton pertandingan sepakbola saya berharap ada hal konyol yang terjadi di lapangan, sepertinya itu bakal seru.

salam kenal juga