Chris - Teman Ngobrol



TEMAN NGOBROL

- Oleh Chris -

(masih) untuk Lii: Kapan kau datang? Biar kita manggang ikan :p


[L]ata selalu mengatainya bodoh sejak insiden Ligo-Anna terjadi kira-kira sebulan yang lalu. Sebenarnya itu musibah patah hati yang membingungkan: Bagaimana mungkin perasaan Anna bisa berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Ligo yang sudah beberapa bulan belakangan menjadi pacarnya. Alasannya sederhana saja: Anna pacaran dengan cacing lain. Lata bilang—dengan tak lupa menertawai Ligo—bahwa cacing yang disukai Anna adalah anaknya Pak Lurah. Si Tela, yang punya motor Ninja. Tapi saya tidak membahas bagaimana Anna bisa berpaling—meski siapa sih yang tidak? Ninja lhooo! Yang kalo dinaikin cewek, pantatnya sengaja dibikin lebih menjorok ke belakang. Biar lebih seksi. Tapi yang namanya urusan hati, siapa yang tahu? Dan bagi Ligo setelah ditinggal kekasihnya tercinta, hari-harinya kini menjadi hampa. Ia jadi sering menyendiri, menggali lebih dalam untuk bersembunyi, meski Lata selalu berhasil menemukannya.

“Kau dicariin Papa tuh!” teriak Lata begitu menemukannya, lagi-lagi, sedang bermuram durja.

“Ada apa?”

“Mana kutahu! Sudah sana! Temuin dulu.”

“Apaan sih? Cacing lagi patah hati aja jugak.”

“Ada juga mau dimaklumin!” Lata tertawa. Begitu Ligo beringsut menggeliat-geliat meninggalkannya, Lata lebih heboh lagi. Sebenarnya, Papa mereka tidak ada memanggilnya.

Namun hari berikutnya, Lata lupa mimpi apa malam sebelumnya.

Ketika matahari-kuning-telur menyala di atas kepala, Ligo berada di atas permukaan tanah. Sedang apa dia? Tubuhnya tidak bergerak. Tampak seperti karet gelang. Namun napasnya tersengal-sengal mirip manusia kena asma. Lata yang mencari-carinya, muncul dari dalam lubang. Lalu membujuk agar Ligo turun ke bawah tanah.

“Biarkan aku sendiri!”

“Nanti dipatok ayam!” Lata mengingatkan.

“Bodo!”

“Kayak anak kecil aja deh!”

Ligo masih tetap tak peduli.

“Masih banyak cacing yang lain….”

“Kau enggak akan bisa mengerti….”

“Oke. Tapi aku tahu bahaya. Semua cacing juga tahu kalau berada di atas permukaan tanah adalah perbuatan bunuh diri!”

“Enggak apa-apa. Percuma juga aku hidup.”

“Hanya karena Anna pacaran lagi, kau sudah mau mati aja? Jadi cacing tuh jangan goblok!”

“Hanya pacaran kau bilang? Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dia dan Tela bertukar lendir! Argh! Bayangan itu selalu jadi mimpi burukku...”

Lata ingin tertawa. Bertukar lendir segala, pikirnya.

Kini Ligo mendongak ke langit lalu berteriak sekuat yang ia bisa. “Tuhan! Ambillah nyawaku!”

Dan tepat ketika teriakannya hilang ditelan angin, seorang manusia tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya. Lalu menjumputnya dari tanah. Lata menggeliat histeris. Terpekik tanpa sadar memanggil papanya. Namun sungguh, Ligo sudah pasrah. Bukannya berusaha menyelamatkan diri (jelas mustahil memang) ia malah mengucapkan selamat tinggal dengan linangan air mata perpisahan ala film-film drama. “Katakan aku sangat mencintainya, Lata. Ini pesan terakhirku!”

“Kau bodoh, bodoh, bodoh, bodooooh! Sudah kubilang jangan ke atas, tetap ke atas kau! Matilah kau dimakan ikan!” Selesai Lata mengumpat, manusia itu juga menjumputnya. Sekarang Lata dua belas kali lebih histeris.

Keduanya lalu dikaitkan pada kail. Ligo dan Lata menjerit kesakitan begitu mata kail menusuk tubuh mereka hingga beberapa kali. Beberapa saat kemudian, plung, Lata tahu ajalnya sudah dekat.

Dingin menyelimuti mereka saat melayang-layang di dalam air.

“Seperti masa lalu,” kata Ligo tanpa ekspresi.

“Ini gara-gara kau! Gara-gara kau! Aku bersumpah kalo nanti terlahir jadi ayam, akan kucabik-cabik tubuhmu per segmen!” kata Lata sambil terus menggeliat.

Namun apalah artinya sumpah seekor cacing?

“Maafkan aku…” ujar Ligo lirih.

“Enggak akan!” bentak Lata.

“Ini satu-satunya cara agar deritaku usai.”

“Bukan urusanku! Bukan aku yang menyuruhmu pacaran sama Anna! Cacing songong begitu juga, di pasar juga banyak!”

“Dia satu-satunya…”

“Pret!”

“Aku juga benci merasakan ini di hatiku!”

“Diam sajalah! Sakit kulitku dengerin kau ngomong!”

Bayangan hitam mendekat. Berkelebat bagai hantu. Kadang muncul di sebelah sini, kadang sebelah situ. Terkadang kau tak sadar ia di sebelahmu. Lalu menghilang lalu muncul di sebelah lainnya lagi.

“Aku belum mau mati!” jerit Lata.

Ligo mendengus: “Ini sudah kodrat kita.”

“Aku masih ingin menikah, hidup bahagia, lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan kelak merawatku ketika aku lanjut usia! Aku enggak mau mati konyol jadi umpan!”

Tiba-tiba Lata terdiam. Seperti TV yang di-mute. Di depannya kini, seekor ikan dengan sirip-sirip yang tajam, melototinya (karena ikan memang begitu). Ligo bisa merasakan tubuh Lata gemetar.

“Ayo, makan kami!” teriak Ligo menantang.

Ikan itu berpindah. Dalam sekejap ia sudah di hadapan Ligo: gantian melototinya. Namun ia seperti bingung—atau sedang tidak lapar. Hanya memandangi dua ekor cacing abang-beradik melayang-melayang di hadapannya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo makan!” tantang Ligo lagi.

“Mungkin dia enggak lapar,” duga Lata berharap.

“Kalian umpan kan?” Ikan itu akhirnya bicara.

Lata dan Ligo saling pandang. Di mana-mana tidak ada ikan yang tahu umpan. Makanya dari jaman kapan juga, pemancing masih lestari di muka bumi ini. Bangsa ikan masih tidak berpendidikan dan membuat mereka gampang dibodohi dengan cacing. Kasihan. Ligo menyahut, “Bukan! Justru kami adalah menu makan siangmu hari ini. Makanlah kami segera!” yang kemudian dikoreksi Lata: “Jangan percaya! Benar kami umpan. Kalau kau makan, kail akan tersangkut di langit-langit mulutmu. Lalu kau akan ditarik dan terangkat ke udara. Pemancing di atas sana lalu menokok dahimu sampai kau mati dengan punggung pisau.”

“Dari mana kau tahu?” tanya ikan itu.

“Manusia memang begitu keles! Mereka juga akan membelah untuk mengeluarkan isi dalam perutmu. Lalu kau dipanggang di atas bara api atau dipotong-potong jadi beberapa bagian untuk dimasak di kuali!” papar Lata lagi dengan penuh semangat. Ia berpikir bisa mempengaruhi ikan yang ukurannya lima-ekor-sekilo itu.

“Kau yakin?” tanya ikan itu lagi.

“Seratus persen!” sambut Lata.

“Mitosnya memang begitu sih.”

“Mitos apaan! Aku benar-benar pernah ngelihat! Lagian semua cacing juga tahu. Dipelajari juga waktu kami SD sampai SMP. Bangsa kami ditakdirkan menjadi umpan—selain sesungguhnya fungsi kami menggemburkan tanah, kata buku Biologi-ku.”

“Apa buktinya?” tanya ikan.

“Buktinya? Kau kan bisa lihat sendiri!” bentak Lata malah marah-marah. “Nih! Ini mata kail namanya. Tajam. Kau enggak pernah sekolah ya?”

Tentu saja ia pernah bersekolah, meski tak sampai tamat. Maklum, biaya pendidikan masih mahal. Lama ikan itu berpikir atau tampak begitu: membiarkan Lata mengoceh tentang bahaya jika ia memakannya. Ia mencocok-cocokkan penjelasan Lata dengan mitos-mitos soal pemancing yang pernah dibacanya di perpustakaan ataupun yang didengarnya dari ikan yang lain. Diam-diam ia mempertimbangkan peringatan itu. Apakah Lata berkata jujur? Ia menatap wajah lonjongnya, segmen-segmennya: mulai percaya. Namun masih khawatir, ia ingin memastikan bahaya apa sesungguhnya yang menantinya.

“Ya kematianlaaah! Lalu apalagi?” tegas Lata agak kesal.

“Kebetulan!” sahut ikan. “Aku memang berniat mati hari ini.”

Lata kontan melongo; Ligo tersenyum lebar.

Adegan itu terinterupsi gerak lembut dedaunan pepohonan hutan di sekitar kolam sebab sepoi-sepoi belaian sang angin. Beberapa saat kita bisa mendengarkan gemerisik alami yang melenakan itu. Jika saya punya gubuk di sana, dengan lantai papan yang beralaskan tikar pandan, atap daun rumbia, tanpa dinding yang menghalangi angin, saya takkan melanjutkan cerita ini. Sumpah.

“Kau kenapa pula?” tanya Lata setengah penasaran.

“Enggak apa-apa. Cuma ingin mati aja,” kata ikan yang kini mimiknya berubah sendu.

“Selamat datang, teman!” sahut Ligo girang. “Kau pasti korban cinta juga! Aku bisa mencium bau-bau patah hati di sini. Hahahaha!”

“Patah hati kenapa?” Kini Lata satu penasaran.

“Aku mencintai seekor ikan mas—“

“Terus?”

“Itulah masalahnya. Aku ini seekor nila.”

Lata dan Ligo terbahak-bahak. Bagi Ligo mungkin lucu karena kisah cintanya tak setragis ikan ini. Besar sekali jurang di antara seekor Nila dan ikan Mas. Sedangkan bagi Lata, mungkin lucu karena kok bisa-bisanya ia menghadapi dua makhluk yang patah hati dalam satu hari. Sedetik kemudian ia mulai prihatin diam-diam.

“Aku tahu! Semua ikan berkata hal yang sama; bahwa kami enggak mungkin bisa bersatu, bahwa cinta kami terlarang, dan blablabla dan bliblabla. Aku sudah tahu itu!”

“Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa kau enggak melupakannya?” tanya Lata tersenyum.

“Sudah kucoba! Tapi ini hanya sepetak kolam. Aku hampir selalu melihatnya—tanpa sengaja. Saat pesta pernikahan Lele Dumbo tiga hari yang lalu, rapat Siskamling, juga pertemuan yang membahas Pesta Tahunan Ikan yang akan diadakan bulan depan—aku selalu melihatnya. Aku enggak sanggup. Kemarin aku sampai di puncak penderitaanku. Maka kuputuskan mengakhiri semua. Hanya saja aku enggak tahu caranya. Saat merasakan getaran air kolam, kuintip kemari, melihat kalian. Mungkin benar kalianlah jawaban penderitaanku.”

“Tepat sekali, Bung!” sahut Ligo. “Lebih baik mati daripada patah hati. Sekarang telan kami agar kail tersangkut di mulut atau kerongkonganmu!” Ligo berusaha bergerak menggapai moncong Nila layaknya berenang—tanpa tangan.

“Tunggu dulu!” cegah Lata menahan berat badannya. “Otakmu kau taruh di mana? Hanya karena cinta lalu mau bunuh diri begitu? Dunia enggak selebar kolam ikan, Bung! Kau bisa melompat ke seberang sana. Ke sungai. Pergilah dan berpetualang. Mungkin akan kautemukan nila lain yang bisa membuatmu melupakan ikan mas itu!”

“Di sungai, bangsa kami dianggap hama!”

“Enggak usah dipikirinlah! Manusia mau bilang ini kek, mau bilang itu kek. Peduli amat!”

“Aku enggak yakin bisa mencintai ikan lain seperti aku mencintainya.”

“Betul itu, bro!” Ligo mengamini.

Lata memandang marah padanya.

Kini Nila sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan: telan umpan, meronta-ronta, dan mati. Sementara itu Lata—dalam sempitnya waktu yang menentukan hidup dan matinya—berusaha memohon Nila agar membatalkan keputusan itu.

Namun seperti kata pepatah-perikanan: sekali layar terkembang, surut kita berpantang.

Kail menusuk dan menimbulkan rasa nyeri di mulut Nila. Ah, biasa. Itu belum seberapa dibandingkan luka di hati dan kemelut di pikirannya. Sementara Nila mulai berayun-ayun, berenang ke sana ke mari demi menggoyang-goyangkan pelampung, di dalam rongga mulutnya, Lata dan Ligo berpikir dua hal yang berseberangan. Dari atas, melalui mata faset seekor capung hijau-loreng-hitam, pelampung itu tampak bergerak-gerak membuat garis-garis gelombang di permukaan kolam.

“Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Anna. Biarlah kubawa luka ini sampai mati...” lirih suara Ligo masih bisa didengar Lata yang mulai menangis. “Diam kau!” makinya kesal.

Joran pancing itu semakin melengkung, membungkuk seolah akan patah. Namun si Pemancing tak bergerak di atas sana. Matanya terbuka, napasnya pelan, namun saya yakin pikirannya sedang berada tidak pada tempatnya.

“Kalian bohong!” Nila berhenti karena kelelahan. Sudah hampir satu jam ia berayun-ayun dan membuat napasnya tersengal-sengal. Keburu kecewa, ia hendak memuntahkan Ligo dan Lata yang kebingungan. Namun kail sudah tersangkut. Nila meronta-ronta lebih kuat. Tak peduli rasa sakit di dalam mulutnya. Gen yang ia warisi dari nenek moyangnya di sungai Nil sana berbicara. Ia meronta lebih liar. Semakin liar. Semakin sakit. Semakin dekat ia ke dasar kolam, semakin jauh ia dari kematian. Ironis.

Tiba-tiba benang pancing itu putus.

Joran tersentak ke udara.

Seekor tupai tergelincir di dahan pohon.

Hal berikut yang dilakukan Nila adalah setengah mati melepaskan mata kail dari mulutnya. Susah payah akhirnya ia berhasil. “Pendusta! Tempatmu paling dalam di neraka!” teriaknya langsung pada Lata dan Ligo.

Ligo belum sadarkan diri.

Lata menyahut: “Apa yang terjadi?”

“Kau bilang aku akan mati!”

“Seharusnya gitu.”

“Tapi ini enggak!”

“Mana kutahu!”

“I love you, Anna…”

“Argh! Memang cacing enggak bisa dipercaya!”

“Mungkin Pemancingnya ketiduran atau apa. Coba lihat ke atas!”

“Ayo ikut!”

Nila menggigit potongan benang pancing lalu berenang ke atas permukaan. “Lepaskan aku!” ronta Lata. Tubuhnya—dan Ligo yang belum sepenuhnya sadar—dilemparkan Nila ke tanah di pinggir kolam.

“Itu pemancingnya?” tanya Nila memastikan.

Mereka melihatnya: laki-laki yang duduk bersandar pada pohon pisang. “Iya! Dialah yang seharusnya menarikmu lalu membunuhmu!” jawab Lata memastikan.

“Kok enggak mirip pembunuh?” protes Nila.

“Tampangnya aja yang alim. Lagian, buat mereka membunuh binatang enggak termasuk membunuh!” cecar Lata.

Nila memperhatikan lagi tampang manusia itu. Ia jelas tidak mirip dengan penulis meski berkumis dan berjanggut yang kira-kira berumur bulanan. “Dia tidur?”

“Matanya kan terbuka sih!” jawab Lata.

“Oh. Mereka tidur dengan mata tertutup?” balas Nila merasa bodoh. “Hei kau, Manusia!” panggilnya. “Kenapa tidak kautarik pancingmu?”

Pemancing itu tiba-tiba tersentak bagai baru saja rohnya melesat kembali dari khayangan ke dalam tubuhnya. Seperti di film Kera Sakti. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Saat fokusnya kembali pada pancingnya, ia menyadari seekor ikan di pinggir kolam: dekat kakinya yang beralaskan Swallow putih bernomor 10 setengah.

“Kutanya: Kenapa tidak kautarik pancingmu?” Nila mengulangi pertanyaan.

“K-kenapa?” si Pemancing balik bertanya.

“Aku sudah capek bolak-balik berenang agar pelampungmu berguncang! Kenapa enggak kau tarik pancingmu?!” cecar Nila berkacak pinggang. Lata kini tertawa terbahak-bahak. Beberapa ekor capung juga hinggap di pucuk-pucuk lalang, dekat dengan mereka, demi menyaksikan apa yang tengah terjadi.

Pemancing bilang: “Oh!”

“Kau ini bagaimana? Giliran aku mau mati dan rela dipancing, kau malah enggak memperhatikan. Sementara kapan tahu, bangsamu memancingi teman-temanku dan membunuh mereka! Dasar kalian seenaknya saja!” bentak Nila tanpa henti.

“Maafkan aku. Baru kali ini aku memancing.”

“Pantaslah…” celetuk Lata tepok-jidat.

“Kalaupun dapat ikan, aku akan lepaskan lagi kok.”

“Hah?” Nila dan Lata kaget.

Ligo mulai sadar—“Apa kita sudah di surga?”—yang lalu ditempeleng Lata dengan ekornya.

“Kau ini apa-apaan sih?” samar Ligo masih mendengar suara Nila sebelum akhirnya ia pingsan. “Seharusnya kau menangkap dan membunuh ikan yang berhasil kau pancing!”

“Tenang, Nila! Tenangkan dirimu…” kata Lata menengahi.

“Enggak bisa!” bentak Nila melototi Lata.

“Dia udah bilang enggak ingin membunuh ikan.”

“Kalau begitu jangan mancing dong!”

“Aku hanya mengisi waktu, bukan mau membunuh,” jelas Pemancing.

“Kau harus mau!” Nila membentaknya.

“Untuk apa? Aku kan enggak butuh.”

Mendadak Nila melompat ke pinggir kolam. Di sana ia menggelepar-gelepar bagai ayam baru disembelih. Sesungguhnya ia menangis. Tangisannya bisa terdengar telinga Pemancing. Ia merasa sedih ketika Nila meratap: “Apa aku begitu enggak berharganya sampai-sampai enggak dibutuhkan siapapun? Hidup menderita, mati pun enggak bisa!” isaknya tanpa henti. Apa yang sebelumnya dirasakannya diucapkannya semua. Tanpa tersisa. Ia meratap bahwa sudah begitu banyak kenangannya dengan ikan Mas itu, begitu banyak yang mereka lalui (termasuk jalan-jalan berdua mengelilingi kolam tiap malam Minggu). Namun begitu tahu takdir yang melahirkannya sebagai Nila dan kekasihnya ikan Mas, impian yang ia sudah bangun selama ini hancur berkeping-keping.

Pemancing iba. Susah payah ia membujuk Nila agar tenang; Pemancing tidak berani menangkapnya karena siripnya yang bagai duri menegang bisa melukai tangan. Setelah beberapa menit memuaskan diri meracau, akhirnya Nila pun lelah. Tenaganya terkuras. Tubuhnya bertanah-tanah. Kembang-kempis insangnya minta air.

“Apa-apaan kau?” bentak Nila setelah Pemancing mendorongnya dengan kaki ke kolam.

“Aku enggak mungkin diam saja kan?”

“Apa urusanmu! Biarkan aku mati…” Tangisan ini jauh lebih pilu.

Pemancing mendesah berat. Memandang Nila penuh makna: menduga-duga. Lalu tanpa diminta ia pun menceritakan kisahnya: tentang kekasih yang telah lama ia tinggalkan di masa lalu, yang dikabarkan angin telah menikah dengan laki-laki lain. Hatinya terluka namun ia tidak tahu harus bereaksi apa. “Aku pergi memancing disarankan temanku. Katanya ini cara manjur untuk menenangkan pikiran. Tapi aku malah melamun. Menyesali beberapa hal yang enggak akan bisa lagi kuperbaiki. Tadinya aku juga niat bunuh diri juga sih. Tapi aku batalin. Soalnya aku masih punya hutang sama beberapa temanku. Hahahaha.”

Lata menyeret Ligo yang mulai sadar: bergerak ke bagian tanah yang terlindungi bayangan rumput. “Betul! Bayar hutang dulu, baru boleh mati. Hahahaha. Satu hari ini aku terjebak bersama tiga makhluk patah hati.” Lalu diceritakannya juga kisah Ligo dengan Anna. Namun entah bagaimana, bagi Nila dan Pemancing, kisah itu terdengar lucu. Ligo juga terlihat senang. Mungkin hanya ketika mereka mendengarnya dari sudut pandang-yang-berpengalaman.

“Kau enggak tahu bagaimana sakitnya!” sahut Ligo mulai tertawa.

“Memang. Tapi mati? Kupikir enggak deh," balas Lata mencibir.

“Mudah bicara begitu. Tapi sulit lho!” balas Pemancing.

“Betul!” sahut Nila dan Ligo akur.

“Kau manusia bodoh. Kau ikan bodoh. Dan kau, cacing yang juga bodoh!” katanya. “Ayo, kita pulang saja. Usaha bunuh diri ini gagal total.”

Ligo tersenyum.

“Eh, tunggu. Bagaimana kalau kalian ikut denganku?” cetus Pemancing dengan kedua alis terangkat tinggi.

Nila, Ligo, dan Lata saling pandang.

“Aku bisa bikin tempat untuk kalian.”

“Tapi untuk apa kami ikut denganmu?” tanya Nila.

Si Pemancing tersenyum sambil menarik jorannya dari pinggir kolam. Dipandangnya langit di atas sana. Terbayanglah mungkin wajah kekasihnya yang penulis sendiri tidak tahu namanya. Entah ia merasakan apa, saya juga kurang paham. Namun begitu ia bilang: “Aku butuh teman ngobrol,” dengan tampang berseri, saya tahu sudah saatnya saya membangun gubuk yang seperti saya sebutkan di pertengahan cerita ini. – Lau Rempak, Mei 2015.



Read previous post:  
77
points
(1839 words) posted by Shinichi 4 years 20 weeks ago
85.5556
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | 2015 | atherside | chris | ian | rekapitulasi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer spacelove
spacelove at Chris - Teman Ngobrol (3 years 44 weeks ago)
90

Nehh idenya menarik bang, patah hati, tp kok iso yang patah hatinya cacing, nila...
Heheee

Neh ceritanya idup banget, kerenn bang..

Ditunggu cerita berikutnya..

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (3 years 44 weeks ago)

giliranmu dong :p
mana, udah berapa tahun gak posting di sini?
tengkyu udah hadir dan menikmati cerpen ini.
ahak hak hak
kip nulis

Writer jloba
jloba at Chris - Teman Ngobrol (3 years 47 weeks ago)
100

cerita yang menarik.

“Matanya kan terbuka sih!” jawab Lata.

Disini saya penasaran, maksud penulis mengutarakan

"matanya kan terbuka!"

atau

"matanya terbuka sih!"

yah?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (3 years 47 weeks ago)

itu kayaknya cara berdialog untuk beberapa orang. yg saya maksud itu, seperti di narasinya :) bahwa manusia tidur dengan mata tertutup, sementara ikan tidak.

Writer putcieput
putcieput at Chris - Teman Ngobrol (3 years 49 weeks ago)

selamat, anda telah membuat saya penasaran dengan situs ini dan memilih untuk membuat akun di sini :v

dari ceritanya cukup asik, penyampaian, bahasa yang digunakan. enggak muluk-muluk tapi lumayan bisa dipahami (lupakan sejenak soal cacing yang juga sekolah sd, smp, dan punya motor ninja), tapi dialognya sempat kagok dan butuh beberapa kali mengucapkan sampai ketemu logat yang pas :v *efek oleng bayangin cacing naik ninja*

karena baru baca cerita ini, saya agak enggak paham saat disitu tertulis "cacing". saya pikir saya salah baca, saya baca terus ternyata ini semacam fabel :v

udah deh, gitu aja kayaknya, sebelum saya dihajar masa, hahaha mampir juga lah di lapak saya :v

Writer nycto28
nycto28 at Chris - Teman Ngobrol (3 years 51 weeks ago)
90

Saya terhibur, sungguh! Cekakak-cekikik sendiri pas baca XD
Meski ada satu-dua hal yang bikin saya bingung (cacing naik ninja, cacing ke sekolah) tapi itu bukan masalah, karena saya ketawa di sana, hahaha
Tapi... kalo misalnya si cacing sama si nila bareng sama si pemancing, mereka nge-jones dong? Saya ngeh-nya mereka ditaruh di aquarium (yg buat ikan) atau toples (buat cacing) sesampai di kediaman pemancing, lalu mereka nggak bisa ketemu tambatan hati lain sampai si pemancing membawa ikan atau cacing lain (atau dilepaskan lagi ke kolam) XD #abaikan
Terakhir, saya nggak nyangka si penulis sempet-sempetnya nongol di tengah cerita X'D
Sekian dan mohon maaf kalo ada salah kata :)

Writer citapraaa
citapraaa at Chris - Teman Ngobrol (4 years 2 weeks ago)
100

SUKA BGT.
Aduh. Si penulisnya iseng bgt di tengah, mau bikin pondokan... makin suka dan ga rela pas udah abis x)
Kasian bgt nasib Lata.
Ini lancar bgt ceritanya. Lucu.
Keren x)

Writer Setan_kober
Setan_kober at Chris - Teman Ngobrol (4 years 8 weeks ago)
90

Hmmm

Writer BeautifulMind
BeautifulMind at Chris - Teman Ngobrol (4 years 10 weeks ago)
80

tulisan yang bagus !!! :)

Writer Prasetyaandika
Prasetyaandika at Chris - Teman Ngobrol (4 years 14 weeks ago)
80

Lucu.. gaya bahasanya bagus.. keren banget..

Writer yangnulis
yangnulis at Chris - Teman Ngobrol (4 years 15 weeks ago)
100

salam kenal kakak :D
emang bener2 yang namanya ilmu itu gak bisa boong. kalao udah ahli nulis apapun jadi bagus, ya.
aku jadi malu mau komen apa disini, ntar keliatan bodohnya. xaxaxa

mending kakak bantu aku kritisi cerpen pertamaku deh. http://www.kemudian.com/node/277794
biar ketularan hebatnya (ngarep)

oya aku juga ninggalin pertanyaan buat kakak di lapaknya kak autumn. http://www.kemudian.com/node/277772#comment-1227475
dijawab ya okeh? okeh?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 15 weeks ago)

ummmm...
enggak mau ah :p
tapi pertanyaan itu udah saya balas di sana.
kalau cerpenmu, saya enggak mau koment. abisan, kamunya mencurigakan. ahak hak hak.

Writer Zarra14
Zarra14 at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

*masih mikir gimana caranya cacing naik motor ninja*
Kak Shinichi ceritanya seru, trio patah hati yang ingin bunuh diri tapi gagal+tak sanggup, emang gak direstui tuh hahaha.
Saya suka dengan pesan yang disampaikan, memang obat untuk patah hati, kesepian, sedih, dan gundah gulana lainnya adalah teman ngobrol ya (terutama yang sepenanggungan). Yang saya suka lagi adalah penggunaan dialog yang jenaka dan informatif, daripada mengandalkan narasi untuk menuturkannya.
Btw kenapa di beberapa cerpen kak shinichi, penulisnya dilibatkan dalam cerita? Memang style kakak begitu?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahak hak hak. jangan dipikirin Ninja-nya :p
soal dialog itu, terkadang terlalu naratif jugak enggak asyik. ntar ditutuh telling. tapi ya, mungkin ada kalanya semua bergantung genre. ehehehe.
soal keterlibatan penulis itu, saya nggak menyebutkan sebagai style, tapi saya merasa asyik kalau dibikin begitu. khusus yang rada-rada jenaka dan genre lain yang memungkinkan. ehehehehe.

Writer niNEFOur
niNEFOur at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

jadi obat patah hati itu teman ngobrol ya om..?
ahahaha :D
saya lumayan suka mancing, mungkin besok2 saya kalo mancing gak mau pakai umpan cacing, takut cerita ini jadi nyata, hueheheh.
*ini tulisan keren banget!!!

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

menurut saya yang berpengalaman ini, iya. ahak hak hak :p
jangan umpan cacing deh. pake yang sintetis aja. hohohoho

Writer niNEFOur
niNEFOur at Chris - Teman Ngobrol (4 years 18 weeks ago)

hueheheh..
oke sip, om :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 18 weeks ago)

:p

Writer azkashabrina
azkashabrina at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

Hahahahahah di satu part saya inget nagabonar, part lainnya inget lagu dangdut. Ini kok kocak banget sih. Kalo manusia patah hati obatnya mancing, trus ikan gimana nasibnya? Heheheh...
.
Anw, ga ada kritik bang. Terlanjur takjub ama ide galaunya para anggota rantai makanan ini, hahaha...

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahahahahaha. cuman dirimu yang mengaitkan ide galau ini dengan "rantai makanan". itu sangat menarik dan membuat saya senang dengan perhatian kamunya :D
sayang sekali, sayanya sungguh nunggu kritik darimuuuu :p
kip nulis dan kalakupand.
ahak hak hak

Writer Nine
Nine at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

Hehehe, ngak nyangka cacing punya motor ninja. Itu gimana caranya cacing betina nonjolin pantat ya? Padahal ujung sama ujung mirip, ngak tahu yang mana pantat, yang mana muka. Hahaha :D
.
Benar-benar kalau patah hati mintanya bunuh diri. Kalau jaman sekarang mah patah hati mintanya ke dukun mandiri, biar si doi dipelet. :)
.
Asyik ceritanya bang, Si Nila juga lebay. Kayaknya kebanyakan nonton sinetron di tipi. Hehehe
.
Sekian dari saya bang,
Salam olahraga (y)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahak hak hak. itu kan bukan cacingnya yang nonjolin pantat. perhatiin deh kalimatnya. sengaja bikin begitu, semacam diumpamakan ke pembaca yang udah pasti manusia :D
ahak hak hak.
Nila mah keren itu. ahahahaha

Writer Nine
Nine at Chris - Teman Ngobrol (4 years 17 weeks ago)

Iya bang, saya tahu kok kalau manusianya yang jadi perumpamaan. Tapi kan tetep, saya membayangkan: gimana kalau cacingnya yg nonjolin pantat yah? Gitu bang. T.T

Writer rian
rian at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

Menghibur, Bang Shin. Lebih suka ini daripada cerita-ceritamu yang kelam. Enggak tau mau komentar apa lagi. Ini perfect lah, Bang.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahahahahahaha.
kalo komedi siy, udah lama XD
tapi ini fabel kok akunya sebut. meski jadinya komedi siy. ahahahahaha

Writer Liesl
Liesl at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
90

Ternyata patah hati itu bukan hanya dialami manusia ya hahaha. Ide ceritanya kreatif banget. Benar2 menghibur saya yang juga lagi *uhuk* patah hati

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ciyeee... yang lagi patah hati niyee...
sini, sini, saya bantu benerin #halah

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

aaah, baaang, sayaaang bintangnya cuman limaaaa....
terima kasih telah buatkan cerpen ini, bang, ihik, ihik, untung dirimu belum jadi bikin gubuk itu, kalau ga, mana puas pembaca dg cerita cuman setengah, hehehe.
sarat pula dengan pengetahuan. ternyata di dunia cacing ada motor Ninja juga :0
paling doyan dg adegan Nila menggelepar2 itu. “Apa aku begitu enggak berharganya sampai-sampai enggak dibutuhkan siapapun? Hidup menderita, mati pun enggak bisa!” saya malah terkekeh2. kentara banget galaunya. hidup salah, mati pun tak bisa. ckckckck.
Telegrammu mana, bang? apa sudah kau ganti dg Merpati Pos, atau sedang asyik dg nila dan cacing2mu? heuheuheu.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahak hak hak. sarat segala pulak! maklumlah, dikit2 musti cari informasi #halah. di dunia cacing ada kok motor ninja. masalahnya, gimana mereka bawanya ya. ahak hak hak.
.
ayo, buatin cerpen untukkuuuuuu :P

Writer vinegar
vinegar at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
90

Saya mau nanya, nama panjangnya Lata itu Melata bukan? Lalu, Tela, Ketela? Aduh, sepanjang cerita tuh bayangin tokoh Tela tadi adalah bonggol ketela pohon, Bang. Maafkeun yak. Karakter favorit saya ya si Ligo yang fatalis itu. Dogol-dogol menyenangkan itu ah, hihi.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

Lata itu diambil dari nama Kelas cacing tanah, Clitellata. Kalo Tela siy asal aja. Toh doi nggak penting. ahak hak hak. Kalo Ligo itu dari Oligochaeta XD

Writer nyamuk
nyamuk at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
90

Ini lucu sekali, Kak wah, menghibuuuuuuurrrrr!

Kok bisa sih kepikiran cacing patah hati? Paling lucu pas bagian mereka kelahi sama pemancing itu. Bahasanya juga oke. Mengalir.

Mohon bimbingannya ya kak, saya anggota baru.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

selamat bergabung, muk :D
ahak hak hak
kip nulis dan kalakupand aja yaaaa

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

Benar-benar terhibur.
WAKAKAKAKA :D
Aduh, saya senang banget baca cerpen ini. Lucu! kocak! Walau agak absurd sedikit sih. Hehehe :p
Ada beberapa nasehat dan pepatah yang bisa dipetik dari cerpen ini. Hohoho :D Kasihan sama Lata, dia makhluk kecil nan nista yang terjebak bersama tiga ciptaan Tuhan yang patah hati. Wakakaka :D
Duh.... benar-benar terhibur saya.
.
Gak bisa berkomentar banyak. Selain ini bagus dan keren!
Hahaha :D
Terus berkarya ya Kak :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

absurdnya di bagian mana hayoo? ahak hak hak.
soal nasihat dan pepatah itu, nggak usah dipikirin. cuman buat hiburan itu. nggak pernah jadi pokus. ahak hak hak. makasiy udah mampir :D

Writer benmi
benmi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
90

Wkwkkwka... idenya bagus . Cacing... ikan nila... pemuda patah hati.. hahahahha... btw... si lata itu sapa ya? Cacing juga bukan? Aku ga jelasnya disitu... makanya jd malas kasi nilai 10.. wkwkkwk...

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

kok nggak jelas? ada banyak narasi pum dialog yg dgn gak langsung bilang Lata itu seekor cacing. pas soal dipanggil Papa itu kan udah dimulai, kakak. ahak hak hak

Writer hidden pen
hidden pen at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

Lata itu nama orang ya kk, aku salah sangka
Ehh cacing itu kaya nama personel band changcuter kalo gakk salah sih.
Hhmm cerita ini amat menghibur dan terima kasih ya kk
Ya mengenai kenapa penulis gak mengetahu namanya itu? Mang apa yang tidak di ketahui olehnya
Boleh kasi tau aku namanya ? Hihi

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

ahak hak hak. jadi lucu karena kamu nanya. ahahahahahaha

Writer hidden pen
hidden pen at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

Jangan-jangan namanya (tersembunyi) ya kak
Hihi

Writer latophia
latophia at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)
100

LOL.. baca ini sambil ngikik-ngikik sendiri..
Bisa-bisanya kepikiran cerita soal cacing, ikan dan manusia galau nan alay ngobrol :'D

sukaaa banget.. penceritaannya paling favorit pas penulis cerita soal gubuk yang bisa bikin penulis males ngelanjutin cerita dan gambaran manusia yang pakai sendal swallow ukuran sepuluh setengah.. jadi kebayang cowok tinggi gede muka mellow lagi mancing :'D

Dan untunglah akhirnya happy ending... semoga dengan saling mengobrol mereka tidak jadi bunuh diri... aaamiiin...

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Teman Ngobrol (4 years 19 weeks ago)

amin segala. ahak hak hak. makasiy udah mampir