Menghadapi Fobia

Suara hujan di luar, badan segar setelah mandi dan satu cangkir teh hangat yang dibuat oleh istri tercinta. Saat ini, aku benar-benar menikmati hidup.

Kenikmatan itu langsung buyar ketika tiba-tiba anakku, Doni, loncat dari entah kemana minta dipeluk. Cangkirku terlepas dari tangan, menyiram bajuku yang baru kuganti dan sebagian air melompat ke mukaku.

"AAAGGGHHH PANAAS!!"

"AAGGHH TAKUT!!" Eh, anakku malah ikut-ikutan teriak.

"Ada apa ini??" Istriku, Mira, masuk ke ruang makan dengan cemas.

Mira mengambil Doni dari pelukanku. Aku langsung membasuh mukaku dengan air kran. Bagus, percuma tadi aku mandi.

"Doni, apa-apaan sih??" kataku marah.

"Tadi. . .tadi ada petir. . ." kata Dono dengan muka terpendam di pelukan ibunya. Mira membelai kepalanya. Aku hanya menarik nafas. Memang sih tadi ada petir yang cukup keras.

Aku tidak ingat sejak kapan Doni takut sama petir, tapi makin lama fobianya ini makin parah. Dulu dia hanya gemetaran dan minta dipeluk, sekarang dia ketakutan seperti sedang dalam keadaan hidup mati. Aku pernah salah sangka kalau dia teriak di malam hari saat hujan karena mengira ada copet masuk. Waktu aku masuk ke kamarnya membawa pisau, dia malah makin takut karena dia kira aku akan menyakitinya.

Malamnya, ketika Doni sudah tidur, aku dan Mira berdiskusi soal fobianya ini.

"Kita harus berbicara dengan dia agar tidak terlalu takut dengan petir," kataku. "Kalau begini terus, kasian kalau dia udah besar nanti."

Mira mengangguk, "Oke, kau saja yang bicara dengan dia."

"Hah? Kau saja. Aku tidak terlalu pintar soal beginian. Nanti aku malah menyinggung perasaannya."

"Aku juga tidak tahu harus bagaimana."

"Kau udah janji lho, kalau dalam 'Pembicaraan Dewasa', aku mendapat giliran menjelaskan tentang seks dan kau menjelaskan masalah lainnya."

Mira malah ngambek, "Aku sibuk dengan urusan rumah tangga! Kalau kau tidak mau ya sudah!" Dia kemudian menarik selimut dan tidur.

"Ya udah ya udah, aku yang akan bicara." Kutarik juga selimut bagianku. "Tapi kalau suatu saat dia ketahuan merokok, itu giliranmu untuk bicara. Jangan curang ya."

 

 

Besoknya, aku mengajak Doni bicara empat mata di kamar.

"Coba jelasin sama ayah, kenapa kamu takut sama petir?"

Doni melihatku dengan tatapan memelas, "Karena suaranya besaaar. Terus kata teman-temanku, petir itu berasal dari raksasa yang sedang marah. Aku takut oleh raksasa itu."

Oooh ini toh masalahnya. Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum, "Doni, itu mah cuma bo'ongan aja. Mana ada raksasa bikin petir."

"Jadi. . .petir itu apa?"

"Petir itu. . . mmhh semacam listrik yang ada di awan. Tapi dia gak berbahaya kok selama kamu gak kena sambar."

"Ka. . .kalau kena sambar gimana?"

"Hmmm, tubuhmu bakal gosong, pernafasan akan sulit, lumpuh, hilang ingatan dan. . . .Doni?"

Doni ternyata sudah lari ke tempat ibunya yang sedang memasak. Mata Mira jelas-jelas mengatakan, "Kenapa dia malah lebih takut?"

Aku menarik Doni. "Dengar ya Nak, kita tak boleh berada dalam ketakutan terus menerus. Kamu harus melawan fobia petir ini!"

"Ayah sendiri sampai sekarang masih takut sama badut."

Hantaman mental menerpa dadaku, "A . . .ayah gak takut sama badut kok . . . "

"Kau lari dari badut Dufan bulan lalu dan bersembunyi di kamar mandi selama satu jam," kata Mira tidak membantu. Aku tersudut.

"Itu berbeda! Badut kan memang menyeramkan. Apalagi dia memakai make-up ketebelan dan hidung merah. Lalu cara tertawa yang dipaksakan itu. . . hiiiiii."

"Kau terlalu paranoid, haha." Mira tertawa pelan. Ini istri kok durhaka banget ya.

"Karena ayah masih takut sama badut, boleh dong aku takut sama petir," kata Doni mengambil peluang.

"Yaah gak gitu juga sih."

"Bener kata Doni," Mira memegang bahuku, "kau harus memberikan contoh yang baik. Aku ada ide."

Firasatku tidak enak. "A..apa?"

"Besok kita akan ke taman. Di sana ada badut Teletubbies. Jika kau bisa menghadapinya, Doni juga pasti bisa menghadapi fobia petirnya. Bagaimana Doni?"

"Hmmm, boleh. Aku yakin ayah takut."

Ditantang seperti itu, aku jadi berkobar. "Oke, kita lihat saja besok. Ayah akan hadapi badut sialan itu!"

 

 

"Aku tidak bisa menghadapi badut sialan itu." 

Aku hendak berbalik, tapi Mira menghalangiku. "Masa kau mau mundur di depan anakmu sendiri?" Doni berdiri tak jauh dari situ, melihatku dengan tatapan menyebalkan.

"Lihat badut itu. Dia meneror semua orang di taman ini!"

"Dia sedang menyalami anak kecil kok. Apa sih yang kau takutkan?"

"Aku. . .aku juga tidak tahu. Tapi di kepalaku, dia terlihat akan membunuhku kapanpun dia mau. Lihat muka pucatnya dan badan kuningnya itu."

"Itu kan Lala dari Teletubbies."

"Lala! Itu kan nama psikopat banget."

Mira mendorong punggungku, "Udah, sana."

Aku berjalan dengan gugup ke arah Lala. Sementara itu, anak kecil di sekitarku berlarian dengan gembira ke sana kemari untuk mengganggu si badut. Jangan diganggu, nanti dia makin mengerikan, pikirku.

Aku berdiri di dekat badut itu. Semua badanku gemetaran. Hatiku menyuruhku untuk lari, tapi aku tak mau dianggap pengecut.

Lala melihatku dengan mata bolongnya itu. Jantungku berdegup kencang.

"Kenapa Pak? Anaknya mau salaman?" katanya.

Aku menarik nafas dalam. Semua perasaan takut kutekan dalam-dalam.

"AKU TIDAK TAKUT DENGANMU!!"

Kupukul dia keras-keras hingga terjatuh. Dengan pukulan itu pula, rasa takutku terbuang. Sontak saja perasaanku menjadi lega, sangat lega.

Mira dan Doni berlari ke arahku, mungkin ingin memberi selamat.

"Kenapa kau memukul badutnya??" tanya Mira.

"Aku berhasil mengatasi fobiaku!!"

"Yaa, tapi gak gitu juga sih."

Lala kemudian berdiri. Dia mengambil pedang dari balon dan berteriak, "Akan kuhajar kau!!"

"Oh sial." Aku menarik Doni dan Mira. Kami bertiga pun lari tunggang langgang ke rumah dengan badut memengang balon mengejar di belakang.

 

 

Sesuai janji, Doni akan mencoba tidak akan takut dengan petir lagi, walaupun dia masih mengeluh "aku kan tidak bisa meninju petir. . ."

Untunglah beberapa hari sedang sering hujan. Malamnya pun hujan turun lagi. Saatnya mengetes keberanian Doni. Kami bertiga duduk di teras rumah.

"Oke Doni, jika ada petir, tahan untuk tidak teriak ataupun lari," kataku.

Tak berapa lama setelah aku mengatakannya, petir menyambar di kejauhan. Suaranya cukup keras. Doni sudah mau bergerak ke pelukan ibunya.

"Tidak boleh! Tahan Doni! Tahan demi masa depanmu!!"

Petir menyambar lagi. Kali ini lebih dekat sehingga suaranya sangat keras. Bahkan aku sempat kaget.

Aku melihat Doni. Dia gemetaran. Mukanya seperti hampir menangis.

"Lihat, lihat, tidak terjadi apa-apa kan? Apa ada raksasa yang mengejarmu?"

Doni melihatku dan menggeleng pelan.

"Kamu juga tidak tersambar petir kan?"

Dia menggeleng lagi.

"Makanya, kamu gak perlu takut. Petir itu bukan apa-apa."

Petir menyambar. Kali ini Doni terlihat lebih tenang. Dia mulai mengatasinya. 

"Kamu hebat!!" kata Mira menyemangatinya. Doni tersenyum.

"Bilang kalau kamu tidak takut!!" kataku.

Doni berteriak, "Aku tidak takut!!"

"Lebih keras!"

"AKU TIDAK TAKUT! UWOOOO!"

Dia berlari ke halaman rumah dan mulai mandi hujan. Petir tidak lagi menakutinya. Aku dan Mira tersenyum senang melihat anak kami berhasil mengatasi fobianya.

Doni terus bermain dan melompat-lompat senang. Dia lalu membuka semua bajunya dan celananya. Sekarang dia berteriak-teriak kesenangan dengan badan telanjang. Senyum kami langsung berubah.

Aku melihat ke Mira, "Sekarang giliranmu mengatakan padanya kalau dia tidak boleh sembarangan telanjang di tempat umum."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer adlinaraput
adlinaraput at Menghadapi Fobia (3 years 48 weeks ago)
90

kyaaaaaa suka banget sukaaaa.... ini keluarga menyenangkan sekali ya. Aku suka si Doni, Dono, Mira... mereka keluarga yang kompak banget. Dialognya lucu2 dan nggak ngebosenin. Betah banget deh, dan semuanya padat aaaaa sukak

Writer silence86
silence86 at Menghadapi Fobia (4 years 1 day ago)
80

Haha, kocak. Overall saya suka.

Writer evaporape
evaporape at Menghadapi Fobia (4 years 3 weeks ago)
80

ide ceritanya bagus kak, cuma pas dibagian komedi agak kurang dapet, hehe
papanya lucu.. haha kenapa jadi samanya sama anaknya..
tapi overall suka deh.. #acungjempol
salam kenal..

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Menghadapi Fobia (4 years 6 weeks ago)
90

Kok ayahnya yang justru kelewatan fobia bafut ya??
Hahaha
Yang aneh Kok pencopet masuk rumah,, saingan sama perampok. .

Writer unluckycat
unluckycat at Menghadapi Fobia (4 years 11 weeks ago)

Bagian lalanya kocak sih wkwkw nama psikopat
selebihnya so so

Writer Michaeline FT
Michaeline FT at Menghadapi Fobia (4 years 13 weeks ago)
80

Gila good father... tapi jujur aja, phobia emang susah sembuhnya!

Writer Ahli Wirit
Ahli Wirit at Menghadapi Fobia (4 years 13 weeks ago)
50

gw jga digituin dulu ama my fader(bener kagak tulisannya?) tpi bedanya bapak gw takut kecoak maskemal :D

Writer moon eye
moon eye at Menghadapi Fobia (4 years 17 weeks ago)
90

pengorbanan seorang ayah :')
jadi terharu. apalagi bagian;
"Lala! Itu kan nama psikopat banget."
hahahaha.
syukurlah Doni juga berhasil mengatasi fobianya :)
lucuuuuu, kak Kemalbarca.
teruslah menulis dan menebar tawa ya :D

Writer nycto28
nycto28 at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)
70

Waduh, kelamaan saya nongolnya XD
hai, bang kemal :)
slice of life dan komedi, slice of life-nya dapet tapi komedinya garing
Dari dialog antar tokohnya juga kurang luwes, saya malah dapat kesan ini dialog di cerita action antar rekan bukannya dialog antar keluarga. Dan tokoh Ayah terasa kurang dewasa menghadapi anaknya.
Nggak bisa komen banyak karena udah keduluan yang lain, nanti bang kemal bosen bacanya, haha
Selamat sudah menyelesaikan tantangan. Terus berkarya ya :)

Writer Nine
Nine at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)
100

Bang yg ini kurang greget bang... cuma nyengir di beberapa bagian.. :) (mohon maap bang)
.
Oh iya, di bagian awal kok nama Doni ketuker jdi Dono? Emang sengaja bang?
"Tadi. . . Ada petir" kata Dono
.
Selebihnya agak2 kurang menurutku bang, biasany kalo bca cerpenmu, sering ada elemen kejutannya. Tpi di sini hilang (subjektip bang, ngak usah didenger)
.
Sekian dri saya bang, sy undur diri dlu,
.
Salam olahraga (y)

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

gak papa Nine, pandangan subjektif kan perlu juga diperhatiin
dirimu baik banget masih ngasih 10 poin walaupun gak puas, haha
soal doni dono itu typo kurasa (i sama o deket, beneran lho)
smoga cerpen berikutnya bisa lebih menghibur :D

Writer Nine
Nine at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

Siiip bung kemal. Ditunggu corat-coretmu yang berikutnya. :)

Writer Shinichi
Shinichi at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)
70

"Kenikmatan itu langsung buyar ketika tiba-tiba anakku, Doni, loncat dari entah kemana minta dipeluk." Ini gaya bahasa ngobrol prokem di suatu daerah bukan, Om? Penggunaan "dari entah kemana" itu lho? Susunannya kayak disengaja dan ngebuat sayanya jadi mikir. Ahak hak hak. Btw, saya kadang masih ragu soal "nafas". Terganggunya karena "fikir". Padalan seingat saya keduanya musti pake 'p' di posisi 'f', Om. Ide si Aku soal "pembicaraan dewasa" itu bikin senyum jugak. ahak hak hak. Dan soal bagaimana ia menjelaskan pada Doni (yang sempat pulak jadi Dono sekali) perihal petir itu, kurang asyik. ahak hak hak.
.
giliran cuap-cuap ya XD
.
oke ini enggak cukup asyik, Om. saya kurang paham siy yang namanya konsep SoL (enggak pernah nyari tau itu apa, batasan-batasannya apa, ciri-cirinya, sejarahnya, tokoh-tokohnya #halah). menurut saya peristiwa yang terjadi di mari kurang "life" aja. satu yang kentara adalah kejenakaan seorang anak seperti Doni belum terasa bagi saya. Dia enggak "bergerak" menurut maunya sendiri. Celetukan-celetukannya sebagai seorang anak yang punya rasa takut pada sesuatu itu enggak "normal" di pembacaan saya.
.
Saya bisa komentarin hal ini (yang sesungguhnya nggak akan mutlak terjadi). Saat si ayah ngomong empat mata sama Doni, pas di bagian Doni mengatakan apa yang dikatakan temannya tentang petir. Doni sempat bertanya kan petir itu apa pada ayahnya setelah ayahnya bilang petir itu bukan dari raksasa. Saya malah ngerasa penulis terkekang dengan konsep cerita yang ada di kepalanya ketika membaca pertanyaan Doni. Saya akan merasa Doni lebih hidup seandainya ia bilang: "Beneran!" yang lalu dilanjutkan "argumen-argumen" yang mengukuhkan pendapat teman-temannya soal petir dari raksasa itu. Anak kecil yang ngotot. Kenapa Doni harus ngotot? Saya mengomentari ini beranjak dari "debat" soal fobia boneka yang diderita tokoh aku setelahnya. Lalu penjelasan si aku tentang dampak kena sambar petir itu, um, nggak hidup, Om, meski mungkin ia hendak mengatakan hal yang sebenarnya pada Doni.
.
Lalu saya jadi sedikit terpikir soal memasangkan SoL dengan Komedi. Ini konsepnya bukannya sepenggal kisah kehidupan yang dibalut dengan komedi--atau sepenggal kisah kehidupan yang mengandung unsur komedi? Soalnya itu jelas beda; pertama nggak punya komedi, satunya punya dan harus ditunjukin. Saya siy menilai ini yang pertama, nggak punya unsur komedi dan yang jadi pekerjaan berat adalah mengemasnya agar "lucu" (membalutnya dalam komedi). Pembaca jadi punya kesan "bisa ya jadi lucu. Dasar deh, Bang Kemal! Pinter banget bikinnya, bikin akunya jadi ngefans. PIN-nya berapa, Bang! Hohohoho". Sedangkan kalau yang kedua, kesannya kira-kira "ternyata lucu juga kisah begini. Di balik kisah begini yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari, ternyata ada kelucuannya." Nah, sebagai SoL+Komedi versi 1, pekerjaanmu belum cukup bagus, Om. Satu yang membuat saya menurunkan penilaian justru ada pada bagian pamungkas cerpen ini. Menurut saya, tokoh aku tak perlu bicara begitu pada Mira menyoal "masalah" berikutnya setelah petir. Ketika penulis cukup menunjukkan bahwa aku dan Mira membuat gestur "sigh" saja, lalu dengan kalimat pendek bahwa telah timbul masalah kedua, saya rasa Komedi dan tentu saja SoL-nya dapat banget.
.
Tapi tentu saja, ini hanya pendapat sahaja. Mungkin Kemudianers lain yang paham komedi dan SoL punya pendapat yang lebih bagus.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

yeee, akhirnya dapat komentar panjang lagi dari kak shinichi
ya nih, aku mungkin terlalu terpaku sama slice of lifenya dan ngerasa komedinya gak terlalu maksimal
setelah baca komentar kak shinichi dan yang lain, emang aku ngerasa seharusnya bisa lebih dari ini
jadi bisa dibilang percobaan pertamaku tentang slice of life masih gagal lah ya
makasih banget lho kak shinichi :D

Writer alcyon
alcyon at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)
100

Saya suka dengan bang kemal klo udh buat cerita komedi, pasti saya tertawa. Ada sisi komedi yg klo sy liat setipe dgn model simpson ato american dad, dan komedi itu deket banget dgn slice of life. Saya tdk bs mengkritik apa2 utk ini. Dua tema yg diusung sukses digambarkan bung kemal, luar biasa!
Lala, itu kan nama psikopat banget, ini membuatku ngakak gk berhenti2, bung kemal memang lucu

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

wah, akhirnya ada yang mengatakan kalau ini slice of life, yang lain kayaknya masih ragu, haha
aku terharu dengan komentarmu :')

Writer latophia
latophia at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)
90

itu serius akhirnya si papa fobianya bisa sembuh? Setelah dikejar-kejar badut lala dengan mata bolongnya dia ga makin parno sama badut? :'D Bagian ngganjelnya disitu aja sih. Karena rasanya ga semudah itu fobia ilang. Cuma karna ini genrenya komedi jd kayaknya ga terlalu penting lah ya detail kyk gitu :D

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

yah, kalo dipikir2 sih harusnya gitu
tapi aku ingin memperlihatkan kalau si ayah ini bisa melawan fobianya, walaupun mungkin gak sembuh total
detail emang kelemahanku, huhu
makasih ya :D

Writer hidden pen
hidden pen at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
100

ADUH TELAT gak tau mau komen apa lagi hhmm
slice of life berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. ohh saya juga gak ngerti bang maaf, heheh (adakah yang nanya)
penjelasan tentang apa itu petir ke anaknya bang kemal ya ? yang sebenarnya, jujur bang ! bukan seks kan yang di jelaskan ke anaknya abang kemal.
ehm kyaaa lariii
#maaf becanda bang. jangan marah ya hiks

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 18 weeks ago)

aku belum punya anak lho :|
tapi makasih komennya, haha

Writer rian
rian at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
80

Awalnya saya kira si anak bakal kesambar petir, tapi ternyata enggak, ya. Endingnya tetep aja kerasa lempeng sih buat saya, mungkin efek udah sering baca cerita-ceritamu, Bang.

Bang, kalau boleh komentar, cerita-ceritamu kok dari dulu kayak enggak pernah berubah, ya, Bang. Dari segi gaya bercerita, karakterisasi, humornya, semuanya setipe. Saya cek dari tulisanmu yang tahun kapan, Bang, dan saya bandingin sama tulisanmu yang baru, entah kenapa kok rasanya enggak ada perubahan yang berarti. Gayanya tetep aja sama minimalis-minim-majas dan kalimatnya pendek-pendek. Cocok sih buat komedi, tapi kalau misalnya dirimu berniat menggarap, katakanlah, novel dengan tema lebih serius, apa gaya seperti ini enggak jeglek?

Dan cerita ini juga kayak recycle aja dari cerita-ceritamu yang lama. Kan dulu pernah ada ceritamu yang tentang teletubbies pembunuh, dan konflik bapak-anak ini mirip sama yang ada di cerpen dari mana datangnya bayi itu. Lama-kelamaan cerpenmu jadi agak kurang lucu karena humornya bisa ditebak. Dan, menurut saya, beberapa celetukan narator di cerita ini garing, kayak pas dia bilang, "Ini istri kok durhaka banget ya."

Tapi anyway, selamat udah menyelesaikan tantangan. Cerpen saya aja belum mulai, ide belum ada, dan kayaknya kemungkinan besar saya bakalan gagal (Maafkan, Thiya, huhuu). Saya milihnya slice of life, padahal enggak ngerti-ngerti amat tentang genre itu.

Mohon maaf kalau komentarnya enggak berkenan, ya, Bang Kemal. Sekian.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

gak papa rian, makasih lho atas kritik jujur bangetnya ini
masalah gaya penulisan, aku mungkin emang udah terlalu nyaman dengan gaya ini dan sulit ngubahnya
aku mencoba ngasih gaya baru di novel yang kutulis ini, tapi tetep aja gaya lama kebawa2, haha
aku gak tau apa itu bagus karna punya gaya sendiri atau jelek karna gak berkembang
soal ide cerita, entahlah, aku sebenarnya terus nyoba bikin ide original (kayak cerpen pembunuh imut itu) tapi setelah baca komentarmu, mungkin emang bener masih mirip2
anyway, makasih banget atas sarannya
aku berharap tulisanku bisa lebih memuaskan ke depannya :D

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
70

well, ceritanya menarik.. IMO, SoL-nya dapat meskipun komedinya bagi saya gak bisa membuat saya tertawa.. mungkin ini masalah selera masing2 sih.. tapi, it's okay, karena yg diutamakan adalah genre hasil undian..

trus untuk dialog para tokoh, IMO saya agak aneh aja ada gaya bahasa formal campur aduk dengan gaya bahasa 'gaul' atau nonformal.. semiformal, eh? hahaha.. kadang pake kau-aku, kadang pake kamu-aku, tapi cuma berbeda penggunaan ke anak atau istri aja sih.. mungkin udah gaya penulisnya.

untuk alur, terasa cepat, ya? dipenuhi dialog.. mungkin karena keterbatasan kata dari persyaratannya..

oke, untuk EyD, saya gak terlalu komentar banyak.. udah lumayan rapi.. :D

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

ya ya, mungkin karna terlalu mikirin slice of life, komedinya malah nanggung
soal bicara itu aku juga udh sdikit sadar saat nulis ceritanya, tapi kupikir gak masalah (<--agak kumat kurang telitinya)
dia bilang kau ke istrinya (karna aku nganggap seumuran) dan kamu ke anaknya, menurutku sih itu cukup normal
tapi sisanya seperti yang kamu bilang, masih banyak kekurangan
makasih banget hikaru :D

Writer Liesl
Liesl at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Saya sepertinya sedikit bias gara-gara nama salah satu pemeran mengingatkan saya pada.. Ya ada lah.
Baca cerita ini bikin saya inget sama kata2 "boys will be boys" udah jadi bapak juga tetep aja bisa keluar sisi bocahnya :D

Ada beberapa kalimat yang kurang pas, tapi overall udah enak banget dibaca.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

makasih liesl
emang siapa yang mengingatkan dirimu sampe terasa bias? haha

Writer ilham damanik
ilham damanik at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Halo bang :)
Ceritanya lumayan lucu tapi gak bikin ngakak, sesuailah dengan genrenya. Dialognya banyak hampir semuanya di isi dengan dialog, jadi lebih gampang membayangkannya. Karakter tokohnya uda perfect semua. Terutama Si Doni yang dengan polosnya bilang "kata temanku petir itu berasal dari raksasa yang sedang marah" haha keren. Ngomon-ngomong usia si Doni berapa tahun ya, Bang? Aku masih labil membayangkan yang satu ini. Kadang seperti umur-umur 4 tahun yang unyuk-unyuk gitu, tapi kadang seperti umur-umur 8 tahun yang bawaannya pengen ngejitak aja hehehe sepertinya itu aja :)

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

hmm anggap aja 5-6 tahun, paling gak gitu sih di bayanganku
sebenarnya waktu aku kecil, raksasa-bikin-petir itu emang sempat jadi omongan, makanya aku ingat
makasih ya ilham :D

Writer ilham damanik
ilham damanik at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Hehehe kalo jaman ku kecil dulu gak ada yang kegitu, jadi lucu aja pas bacanya.
Oke bang, sama-sama :)

Writer A.Arifin
A.Arifin at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Susah ngasih kritik atau saran.cos ceritanya udah bagus. Mungkin tokohnya aja kali yak yg kurang hidup.
Sory klo tidak berkenan.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

gak papa, aku ngerti kok maksudmu
kelemahanku itu emang gak bisa bikin detail
masih belajar nih
makasih arifin :D

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Bang, sekali2 bikin cerpen jelek boleh kok? :p
*just kidding*
*kind of*
Dialognya mungkin bisa lebih informal kali ya? Soalnya kayaknya masi agak formal buat keluarga.
Itu aja sih kritiknya, gak nemu yg lain lagi >.<

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

ya aku juga beberapa kali ngerasa agak terlalu formal waktu nulis, makasih lho kritiknya
cerpenku yang jelek banyak banget kok, haha

Writer azkashabrina
azkashabrina at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
100

trus lupa ngevote -___- hahaha

Writer azkashabrina
azkashabrina at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Kocaaaak hahaha, slice of lifenya dapet, ini peristiwa yang sering kejadian banget, bocah takut petir. Dan komedinya tersampaikan sederhana lewat plotnya, tapi ngena. Paling kritiknya ada kata yang kurang tepat aja sih: "Aku takut oleh raksasa itu." << kayaknya lebih tepat kalau "Aku takut pada raksasa itu" atau "Aku takut sama raksasa itu."
.
Itu doang kritiknya. Aaaah saya jadi minder mau posting cerpen tantangan saya. Gak ahli komedi huhu.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

wah iya bener, makasih koreksinya, aku kurang teliti
dirimu juga kena komedi ya? semangat ya nulisnya
kita sama2 belajar kok :D

Writer Zarra14
Zarra14 at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
100

Halo kemal :D
Selamat kamu sudah menyelesaikan tantangan! (Sedangkan saya belum bikin sama sekali, maaf Thiya T-T)

Seneng bacanya, tapi daripada slice of life mungkin lebih cocok dikategorikan komedi?
Terus menurut saya ini komikal banget, kayak komik yang dibuat jadi versi tulisan. Makanya ada beberapa dialog yang kurasa kurang cocok karena terlalu baku untuk cerita yang ringan.
Ada bagian 'dalam keadaan hidup mati', itu maksudnya apa? Mungkin maksudnya 'dalam keadaan antara hidup dan mati'? Mohon pencerahannya :D

Secara keseluruhan ceritanya menarik, top deh :D

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Aku juga belum bikin, zarra! Sebagai temen sebangku kita kompak yak :p

Writer Zarra14
Zarra14 at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Duh gimana ini temen sebangku, nanti saya nyontek dari siapa? XD
Btw beneran saya harus bikin peer yang lain dulu T-T semoga waktunya sempat TT-TT

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

ya bener kata kamu, antara hidup dan mati, hehe maaf kalau kurang jelas
wah, kalian sebangku? enak ya kalo sama2 suka nulis
makasih komentarnya ya Zarra :D

Writer Zarra14
Zarra14 at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Wahahaha XD saya dan bang Hadjri teman sebangku di kelas menulis kemudian.com.
Apa jangan-jangan kemal percaya kami beneran sekelas? XD
Mungkin kemal berminat jadi guru genre komedi?

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Aku hampir dibutakan oleh jiwa fans-ku kepada Bang Kemal.
Oke... jadi ini cerpen tantangannya.
Pertama saya mau bilang.
KEREEEEEEENNNN BANGEEEEETTTTT!!!!
KYAAAA!!!!Bang Kemal emang paling top kalau membuat komedi. Hmmmm... masalah slice of life-nya... kita tunggu peserta lain aja.
.
Saya cuma ingin mempertanyakan kedewasaan si Papa? Kok dia sama bocahnya dengan si anak?
Hmmm okelah gk papa sih...
Untuk lainnya... saya gk tau mau komentar apa lagi.a
Biarkan yang lain berbicara nanti.mmm

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

papanya itu masih orangtua muda, karna anaknya kan juga masih kecil (begitulah di pikiranku)
slice of life-nya mungkin gak terlalu dapat, saya belum terlalu mahir, hehe
makasih thiya atas tantangannya :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

XD
ngedidik anak itu tricky banget, yak. jadi inget sama ceritamu yang si anak nanya darimana munculnya bayi. kayaknya juga bukan sekali-dua kali itu aja kamu cerita tentang interaksi kocak ayah-ibu-anak. mereka bisa aja orang yang sama meskipun di tiap cerita namanya gonta-ganti, karena saya rasa fokusmu lebih ke cerita atau komedi ketimbang karakterisasinya. kenapa ga dibikin semacam serial aja?
seperti biasanya, sangat menghibur, kemal, terima kasih, yaa....
yang ngeganjelnya paling waktu si Lala ngambil pedang dari balon itu, jadi pedangnya tuh tersembunyi di antara balon2? kurang detail aja gitu buat saya ngebayanginnya. (tapi kalo pembaca lain ga masalah mah berarti sayanya yang kudu upgrade imajinasi, heuheuheu.)
sama, coba cek kbbi, "nafas" itu kayaknya "napas" deh.
dan sepertinya "di"-nya udah ga kebolak-balik lagi, horeee, hehehe.

Writer benmi
benmi at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

Pedang dari balon itu bukannya balon yg biasa dibentuk ama mas2 ato mbak2 pizza hut ya? Mgkn krn seringnya saya bermain dg anak kecil.. jd saya lgsg melek ingatnya itu.. yg biasa dibentuk anak anjing, trus bunga n sbgainya.. hahhaha

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

oooooooh... ya ampuuun... kirain pedang beneran :-o makanya heran kenapa di kalimat berikutnya yang disebut memegang balon bukannya memegang pedang....
waha. tengkyu mbak benmi, lagi2 dirimu memberikan pencerahan XD

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

nah itu udah dijelasin, haha
aku emang agak susah soal detail
tapi makasih lho dayeuh :D

Writer benmi
benmi at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)
90

Ceritanya ringan... n komedinya dapat.. salute.. hanya satu yg aku agak bingung.. ini si doni umur berapa ya? Sayang bgt ga dijelaskan.. jdnya pas baca tadi aku bayanginnya masih kecil.. soalnya masih bisa digendong. Tp kalo uda sekolah.. main ama tmn.. kyknya pasti uda susah digendong... disitunya aja sih.. saya ga sreg.. kyknya si doni anaknya ga jelas gitu.. wkkwkwk...
anw... slice of lifenya juga masuk..
Sorry kalo komentnya ga berkenan. Cuma krn itu aja sih aku ga ngasi nilai full... hahahahha..sorry..

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menghadapi Fobia (4 years 19 weeks ago)

wah iya ya, aku sih ngebayanginnya dia anak 5-6 tahun gitu, yang masih sering manja sama ibunya
tapi makasih lho benmi :D