Beruang Ketiga

Ini adalah terjemahan. Cerita asli ditulis oleh Jeff VanderMeer.

Mohon bantuan untuk pendapat dan kritikannya.

 

~

 

Makhluk itu bersarang di hutan dekat Desa Grommin, dan wujud yang terpatri dalam benak orang-orang yang terakhir melihatnya adalah sepasang mata yang kejam serta berangus berwarna gelap. Bau kencing dan darah dan kotoran dan ludah serta makanan setengah tercerna. Para penduduk desa menyebut makhluk itu Beruang Ketiga karena mereka telah membunuh dua ekor beruang di tahun tersebut. Namun menjelang akhir, tidak ada lagi yang menganggapnya beruang walau julukannya masih melekat, dan berubah oleh perulangan dan rasa takut dan repetan mulut penuh darah menjadi Shiberg. Kadang terdengar sebagai “Shibertig” atau “Shiibern”.

Si Beruang Ketiga muncul di hutan itu pada pertengahan musim panas, dan semua orang yang biasa mengambil jalan setapak di hutan pada siang maupun malam, akan menghilang terbawa ke sarang makhluk itu. Bahkan dalam rombongan besar, akan ada dua atau tiga orang yang berkurang dari jumlah awal. Seorang pengembara berkuda, hanya tersisa tunggangannya, serta bercak darah dan potongan kulit pada sadel. Seorang tukang sepatu menyisakan topi yang terkoyak dan bernoda darah. Penduduk yang paling berharta akan menyewa prajurit bayaran sebagai penjaga, namun ketika yang terkuat dari mereka mati, konvoi itu menghilang, sendirian dan tanpa kabar.

Sang tetua desa, seorang lelaki bernama Horley, mengadakan pertemuan untuk masalah tersebut. Saat itu sudah penghujung musim panas. Balai pertemuan terasa dingin, bau pekat dari tanah dan sedikit darah dan keringat menggumul di udara. Lima ratus penduduk datang ke pertemuan itu, dari beberapa saudagar yang tersisa hingga pengemis yang paling miskin. Grommin selalu menghadapi musim dingin yang keras dan kejam, namun juga telah berusia dua ratus tahun. Desa itu telah selamat dari peperangan antar raja dan baron, terjarah habis dua kali, dan bangkit kembali setiap kalinya.

“Aku tak bisa membawa panenku ke pasar,“ kata satu petani, berdiri dalam bayangan atap jerami. “Aku tidak yakin ingin mengirim puteriku untuk memerah kambing di kandang.”

Horley tertawa, berkata, “Keadaan saat ini lebih buruk. Kita tak bisa mengirim makanan dari seberang hutan. Tanpa resiko. Tanpa harus kehilangan orang lagi.”

Horley mendapat penglihatan mendadak akan musim dingin di bulan-bulan mendatang. Ia melihat es yang menggumpal oleh darah beku. Ia bergidik.

“Bagaimana dengan kami yang tinggal di luar desa?” tanya petani lain. “Kami harus menggiring ternak untuk merumput, tapi tak ada yang menjaga kami.”

Horley mengerti;  ia sendiri pernah menjadi petani. Desa itu terlindungi tembok dari batang kayu tebal, setinggi hampir sepuluh kaki. Tak dapat menahan sepasukan tentara, tetapi lebih dari cukup untuk menghalau serigala. Di luar tembok tersebut tinggal para petani dan pemburu dan orang buangan yang tidak akur dengan penduduk lainnya.

“Anggaplah ini masa perang dan kau harus tetap di desa dan hanya keluar dengan penjagaan,” kata Horley. “Kita masih punya banyak orang yang dapat diandalkan.”

“Apa ini pekerjaan si penyihir wanita?” tanya Clem si pandai besi.

“Bukan,” kata Horley. “Kurasa bukan si penyihir wanita.”

Wanita yang Clem dan beberapa lainnya sebut sebagai “penyihir”, Horley anggap sebagai orang tidak waras yang mengetahui sedikit ramuan herbal dan tinggal di dalam hutan karena penduduk desa mengusirnya ke sana, menyalahkannya atas wabah penyakit di tahun sebelumnya.

“Kenapa makhluk itu muncul?” tanya seorang wanita. “Kenapa kita?”

Tak ada yang dapat menjawab, tak terkecuali Horley. Saat Horley menatap wajah-wajah yang penuh harapan, ketakutan, dan kebingungan, ia tersadar belum semua orang menyadari bahwa mereka tengah terjebak dalam mimpi buruk.

Clem adalah lelaki terkuat di desa itu, dan setelah pertemuan selesai ia mengajukan diri untuk melawan si hewan buas. Lengannya setebal paha kebanyakan orang. Kulitnya tebal setelah tahun-tahun bergelut dengan bara api. Dengan janggut hitam lebat, ia sendiri tampak seperti seekor beruang.

“Aku akan pergi, dan dengan sukarela,” katanya pada Horley. “Aku belum pernah bertemu hewan buas yang gagal kutaklukkan. Akan kupaksa dia mengembik seperti kambing.” Dan ia tertawa, sebab selera humornya cukup baik, walau banyak yang memilih menghiraukannya.

Horley menatap mata Clem dan tak menemukan setitik pun rasa takut di dalamnya. Hal ini membuat Horley cemas.

“Berhati-hatilah, Clem,” kata Horley. Dan, dalam bisikan, saat ia merangkul lelaki itu: “Ajari puteramu segala yang perlu ia ketahui sebelum kau pergi. Pastikan juga isterimu memiliki segala yang ia butuhkan.”

Setelah mengenakan zirah cincin, pelindung kulit, helm logam, serta menyandang sebuah pedang kuno yang tertinggal tanpa sengaja oleh seorang prajurit di Grommin, Clem berangkat mencari si Beruang Ketiga. Seluruh penduduk desa mengantar keberangkatannya. Clem tertawa dan mengangkat pedangnya dan hal ini membuat semua yang melihatnya bersemangat. Segera, semua orang berpesta seakan si Beruang Ketiga telah dibunuh atau ditaklukkan.

“Orang-orang tolol,” kata Rebecca, istri Horley saat mereka menonton perayaan itu dengan kedua putera mereka.

Rebecca lebih muda sepuluh tahun dari Horley dan datang dari desa di seberang hutan. Isteri pertama Horley meninggal oleh penyakit yang meninggalkan bekas-bekas merah di seluruh tubuhnya.

“Mungkin, namun mereka belum pernah sebahagia ini sebulan ini,” kata Horley. “Biarkan mereka bersenang-senang.”

“Aku hanya bisa berpikir dia telah membawa salah satu kuda terbaik kita ke dalam bahaya,” kata Rebecca.

“Kau lebih suka dia menggerutu?” kata Horley, namun pikirannya berada di tempat lain.

Bayangan akan musim dingin melekat padanya. Setiap kali, bayangan itu kembali pada Horley dengan kekuatan yang lebih besar, hingga ia kesulitan melihat musim panas di sekitarnya.

Clem hampir segera meninggalkan jalan setapak, langsung menembus belukar hingga ke tengah hutan, di mana pepohonan tumbuh demikian hitam dan tebal hingga cahaya yang nampak hanya berasal dari pantulan genangan air di dedaunan. Tempat itu menguarkan bau jeroan.

Clem telah menghabiskan begitu banyak waktu menempa ulang benda-benda hingga ia tidak merasa takut, karena hal sebaliknya tak pernah terjadi padanya. Namun bau yang ia cium membuatnya gelisah.

Ia berjalan selama beberapa lama di rerimbunan, di mana lempung lumut menyamarkan suara langkahnya. Ia semakin sulit menentukan arah dan jarak. Kegelisahan melilit dadanya dan ia mengeratkan pegangan pada pedangnya. Memang benar, ia telah membunuh banyak beruang semasa hidupnya, tetapi ia belum pernah memburu seekor pemangsa manusia.

Akhirnya, setelah perjalanan yang berputar-putar, Clem sampai pada sebuah bukit dengan gua di dalamnya. Dari dalam, berkelip api hijau. Menyambut seperti jemari yang lentur namun cacat.

Lelaki yang bernyali kecil mungkin akan berbalik, namun tidak dengan Clem. Ia tidak merasakan tekanan untuk berbalik.

Di dalam gua, ia menemukan si Beruang Ketiga. Di belakang Beruang Ketiga, tersusun pada dinding-dinding gua, terpajang kepala korban-korbannya. Kepala-kepala itu telah diwarnai dengan luar biasa mendetail dan ditaruh di atas undakan. Tingkat pembusukan kepala-kepala tersebut bervariasi satu sama lain.

Tubuh-tubuh tak bernyawa menumpuk rapi di bagian belakang gua. Semuanya tidak utuh. Beberapa termutilasi. Cahaya hijau yang mengayun-ayun berasal dari lilin yang diletakkan Beruang Ketiga di balik tumpukan mayat, untuk menerangi hasil karyanya. Bau darah tercium sangat tajam hingga Clem harus menutup mulut dengan tangannya.

Clem melihat dan memahami. Keteraturan tindakan dan fakta bahwa si Beruang Ketiga tidak memakan satupun korban-korbannya, membuat sesuatu di dalam diri Clem hancur berkeping-keping.

“Aku...,” katanya, melihat ke dalam mata Beruang Ketiga yang mengerikan. “Aku...”

Hampir seolah sedih, dengan kesantunan yang anggun, si Beruang Ketiga mengambil pedang Clem dari genggamannya, menaruhnya di atas sebuah langkan, lalu berpaling menatap Clem sekali lagi.

Clem berdiri, membeku, saat Beruang Ketiga merobek perutnya.

Di hari berikutnya, Clem ditemukan di pinggir desa, berlumuran darah dan penuh kotoran, kaki tergerogoti, namun cukup hidup untuk menceritakan, sambil gemetaran tak terkendali, apa yang telah ia lihat pada penduduk yang menemukannya, namun tidak cukup terkendali untuk memberitahu mereka di mana letaknya.

Nantinya, Horley akan berharap Clem tidak pernah memberitahu mereka apa pun.

Tidak ada yang tersisa kecuali rasa takut di mata Clem saat Horley menanyainya. Horley tidak ingat satupun jawaban Clem, dan harus diingatkan ulang nantinya. Dia mencoba memaksa dirinya untuk menunduk menatap mata Clem.

“Aku kedinginan, Horley,” kata Clem. “Aku tidak bisa merasakan apapun. Apa musim dingin telah tiba?”

“Apa sebaiknya kita membawa istri dan anaknya?” tanya petani yang menemukan Clem, pada Horley.

Horley hanya menatapnya, tercengang.

Mereka mengubur Clem di kuburan lama, namun pada minggu berikutnya si Beruang Ketiga datang menggali dan mengambil kepalanya. Nampaknya, si Beruang Ketiga menganggap pahlawan tidak punya guna sama sekali, kecuali, mungkin, sebagai bagian dari pola kepala-kepala.

Horley mencoba menjaga rahasia tentang penggalian kubur dan apa yang telah Clem katakan, tetapi akhirnya tersebar juga. Ketika sebagian besar penduduk Grommin mengetahui hal tersebut, perinciannya semakin mengada-ada. Beberapa berkata Clem dipelihara di sarang si beruang, sambil dimakan perlahan-lahan. Yang lain berkata tulang punggung Clem dicabut paksa ketika ia masih bernafas. Beberapa berkata Clem sebenarnya masih hidup ketika dikubur dan si Beruang Ketiga mendengarnya menggeliat dalam tanah dan akhirnya mengambilnya.

Namun ada satu hal yang hanya Horley ketahui dan berhasil ia jaga dari seluruh Grommin: si Beruang Ketiga tidak harus membiarkan Clem tetap hidup. Shiberg tidak harus menaruh Clem, masih bernafas, di pinggiran desa.

Hal itu menunjukkan bahwa Shibertig bukan beruang biasa.

Pada minggu berikutnya, empat orang lagi terbunuh, satu di lapangan pinggir desa. Beberapa penduduk nekat pergi, dan sebagian dari mereka berhasil menembus hutan itu. Namun rasa takut menahan sebagian besar dari mereka di Grommin, terkunci dalam keadaan putus asa akan kematian yang pasti, membuat mereka menatap kosong pada sesuatu yang tidak langsung tampak di kejauhan. Horley berusaha sebaik mungkin untuk tetap menjaga moral tetap tinggi, tetapi ia pun mulai merasa tenggelam.

“Apa ada lagi yang bisa aku lakukan?” tanyanya pada istrinya di kasur pada suatu malam.

“Tidak ada,” kata istrinya. “Kau melakukan semua yang bisa kau lakukan.”

“Apa sebaiknya kita pergi saja?”

“Ke mana? Dan bagaimana kita bertahan hidup?”

Memang benar, tidak yang kembali dengan kisah tentang keberhasilan. Di seberang hutan terjadi perang dan wabah dan seribu macam bahaya lain. Mereka akan menjadi budak atau pelayan atau mati sia-sia, satu demi satu, di dunia luar yang lebih luas.

Namun pada akhirnya, Horley mengirim seorang pembawa pesan ke dunia yang lebih luas tersebut, kepada seorang baron yang setiap tahun mereka kirimkan upeti secara rutin.

Si pembawa pesan tidak pernah kembali. Maupun kiriman pasukan dari sang baron. Horley melalui beberapa malam tanpa tidur, memikirkan nasib si pembawa pesan yang entah berhasil menembus hutan namun sang baron tak memperdulikannya, atau telah dibunuh Shibertig.

“Mungkin musim dingin akan membawa berita baik,” kata Rebecca.

Akhirnya, penduduk Grommin mengirim empat atau lima dari pemuda-pemudi terpandai dan terkuat untuk melawan si Beruang Ketiga. Horley keberatan, menganggap hal itu sia-sia, namun para penduduk berkeras bahwa sesuatu harus dilakukan sebelum musim dingin, dan mereka yang pergi tidak menangkap perkembangan situasi yang demikian memburuk. Bagi Horley, ini adalah bentuk lain dari bunuh diri, namun keberatannya kalah oleh suara mayoritas.

Mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi pada orang-orang tersebut, namun Horley melihat mereka di mimpi buruknya.

Salah satunya, sebelum berakhir, berkata pada si Beruang Ketiga, “Bila kau melihat anak-anak di desa, kau akan menghentikan ini.”

Yang lain berkata, sebelum rasa takut menyekat tenggorokannya, “Kami akan memberimu semua makanan yang kau butuhkan.”

Yang ketiga, sambil menatap usus yang menggelincir keluar dari tubuhnya, berkata, “Pasti ada yang bisa kami lakukan untuk memuaskanmu?”

Di dalam mimpi Horley, si Beruang Ketiga tidak berkata apa-apa. Percakapannya berlangsung melalui hasil karyanya, dan Shibertig telah menyatakan hal tersebut dengan fasihnya.

Saat ini, musim gugur telah datang pada Grommin. Hembusan angin semakin tak terprediksi dan dedaunan di pepohonan mulai menguning. Bau pembakaran mengambang di udara. Para petani mulai bersiap-siap untuk musim dingin, mengeringkan jerami, menyembelih dan mengasapi babi dan kambing. Horley melibatkan diri dalam persiapan itu lebih sering daripada biasanya, terdorong oleh bayangan musim dingin yang akan datang. Orang-orang memperhatikan kecepatan, keburu-buruan yang tak wajar pada Horley, dan hal itu malah membuat orang menjadi panik, bukannya bekerja lebih giat.

Dengan bantuan isterinya, Horley meyakinkan para petani untuk ikut serta dalam acara pengasapan bersama di desa. Ham, sosis, sayuran kering, bawang, kentang—sekarang mereka menyimpannya di dalam Grommin. Kebanyakan dari petani di luar desa mulai sadar masa depan mereka bergantung pada keselamatan desa tersebut.

Terkadang, ketika mereka membuka gerbang untuk membiarkan petani lain dan gerobak persediaan yang ditarik keledai masuk, Horley akan memberi jalan dan menatap ke arah hutan. Tampak semakin tak terjamah, suram dan gelap, seolah menyusut oleh perubahan musim.

Di suatu tempat di sana, si Beruang Ketiga menunggu mereka.

Suatu hari, musim dingin mengirimkan janji berupa hawa dingin kering. Horley dan beberapa lelaki dari Grommin berangkat mencari petani yang tidak datang ke desa selama lebih dari sebulan. Nama si petani adalah John dan ia memiliki seorang isteri, lima anak, dan tiga lelaki yang bekerja untuknya. John memiliki harta terbanyak di luar desa, tetapi ia mulai mengalami kesulitan karena kelebihan panennya tak dapat dibawa ke pasar.

Perkebunan itu sejauh setengah jam perjalanan dari Grommin. Sepanjang jalan, Horley dapat merasakan sakit di dadanya, seperti firasat yang menusuk. Mereka yang mengikutinya membawa garpu rumput dan palu dan tombak tua, sebagian besar berwarna karat seperti dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan.

Mereka mencium bencana tersebut sebelum melihatnya. Melapisi udara seperti minyak.

Di pinggiran ladang John, mereka menemukan tiga pedati berisi makanan dan persediaan yang ditarik bagal. Horley tidak pernah melihat begitu banyak darah, mengental dan menggenang, menyebar sepanjang beberapa kaki ke segala arah. Leher bagal-bagal itu tercabik dan perut mereka sobek. Organ-organ mereka tercerabuti dan bergeletakan di atas tanah, seolah Shibertig tengah mencari sesuatu. Mata mereka yang dicabut dari rongganya tampak seperti sentuhan akhir.

John—mereka menduga itu John—duduk di kursi pedati terdepan. Roda-roda pedati itu terminyaki darah. Kepalanya hilang, dan begitu pula sebagian besar daging dari sisa rongga tubuhnya. Tangannya masih memegang tali kekang. Begitu pula kereta lainnya. Tiga mayat lelaki memegang tali kekang ke mayat-mayat bagal. Dua mayat lelaki di bagian belakang pedati. Seluruhnya kehilangan kepala. Kelima-limanya tercabik di perut.

Salah satu pengawal Horley muntah ke rerumputan. Yang lain mulai menangis. “Selamatkan kami Yesus,” kata yang ketiga, dan terus menerus mengulanginya untuk berjam-jam kemudian.

Horley menyadari dirinya entah kenapa tidak tergerak. Tangan dan hatinya sama diamnya.

Dia mencatat lelucon brutal yang menggerakkan si Beruang Ketiga untuk mengganti tali kekang di tangan lelaki-lelaki itu secara cermat. Dia mencatat kebuasan liar dan ganas yang mengawali perbuatan tersebut. Dia mencatat, dengan muram, bahwa sebagian besar persediaan di pedati telah rusak oleh cipratan darah yang membanjiri mereka. Namun, sebenarnya, kesadarannya telah terikat dan mengkristal sedemikian rupa dalam bayangan akan musim dingin, sehingga kengerian yang nampak di waktu nyata tidak dapat mengusiknya sama sekali.

Horley ingin tahu apakah ini juga adalah salah satu bentuk kegilaan.

“Ini bukan yang terburuk,” katanya pada orang-orangnya. “Sejauh ini belum.”

Di ladang itu sendiri, mereka menemukan para lelaki yang lain dan apa yang tersisa dari isteri John, namun bukan hal tersebut yang Horley maksud.

 

Pada titik ini, Horley merasa harus ia sendiri yang menemukan si Beruang Ketiga. Bukan keberanian yang membuatnya memasang rompi kulit dan pelindung betis dari logam. Bukan pula harapan yang membuatnya mengambil tombak dan memasang helm milik Clem di kepalanya.

Istrinya menemukannya siap keluar dari pintu rumah mereka.

“Kau tidak akan kembali,” katanya.

“Lebih baik,” katanya. “Daripada diam.”

“Kau lebih penting dalam keadaan hidup. Lelaki yang lebih kuat darimu telah mencoba membunuhnya.”

“Aku harus melakukan sesuatu,” kata Horley. “Musim dingin akan segera tiba dan segalanya akan memburuk.”

“Maka lakukan sesuatu,” kata Rebecca, mengambil tombak dari tangannya. “Tapi bukan ini.”

 

Penduduk Grommin mengadakan pertemuan di hari berikutnya. Lebih sedikit yang berbicara. Ketika Horley keluar, ia melihat beberapa dari mereka seperti menutup diri, seolah si Beruang Ketiga adalah wabah atau ancaman lain yang tak dapat dikontrol atau dihentikan Manusia. Pada hari-hari berikutnya, banyak hal dilakukan: jebakan-jebakan dipasang, obor dinyalakan, daging beracun diletakkan di hutan, tapi tak ada hasil.

Seorang wanita tua terus menggumamkan tentang takdir dan keinginan Tuhan.

“John lelaki yang baik,” kata Horley. “Dia tidak seharusnya mati seperti itu. Tapi aku ada di sana—aku melihat lukanya. Ia mati akibat serangan binatang. Mungkin binatang yang cerdas. Mungkin sangat cerdas. Tapi tetap seekor binatang. Kita tidak seharusnya dibuat takut seperti ini oleh hewan itu.” Horley sendiri yang mengatakan itu, tetapi ia tidak mempercayainya.

“Kau harus berbicara pada si penyihir di hutan,” kata putra Clem.

Putra Clem adalah lelaki bertubuh besar berusia dua puluh tahun, kata-katanya memiliki kekuatan, turunan keberanian dari ayahnya. Beberapa orang mulai saling mengangguk setuju.

“Benar,” kata seseorang. “Pergilah ke si penyihir. Dia mungkin tahu apa yang harus dilakukan.”

Si penyihir di dalam hutan itu tidak lebih dari seorang wanita malang yang sinting, pikir Horley, tetapi tak dapat mengatakannya.

“Baru dua bulan lalu,” ingat Horley pada mereka, “Kalian bermaksud mengatakan dialah penyebab ini terjadi.”

“Dan jika iya, kenapa? Bila dia penyebabnya, dia dapat menghentikannya. Bila tidak, mungkin dia bisa membantu kita.”

Yang ini berasal dari salah satu petani di luar tembok. Nasib John telah menyebar cepat, dan hanya sedikit dari yang paling berani atau yang paling tolol, yang tetap tinggal untuk mengurus ladang.

Kebencian menyebar di antara penduduk yang berkumpul. Beberapa ingin mengumpulkan cukup lelaki untuk mencari si penyihir, entah di mana pun dia berada, dan membunuhnya. Yang lain berpikir itu sia-sia—bagaimana jika si Beruang Ketiga menemukan mereka lebih dulu?

Akhirnya, Horley menaikkan tangan untuk mendiamkan mereka.

“Cukup! Bila kalian ingin aku mencari si penyihir di hutan, aku akan pergi.”

Wajah lega yang tampak pada mereka—rasa lega akan resiko yang telah menjadi beban orang lain—seperti salep yang membersihkan rasa khawatir mereka, walau hanya untuk sementara. Beberapa yang tolol bahkan tersenyum.

Beberapa waktu kemudian, Horley berbaring di kasur bersama istrinya. Ia memeluknya erat, menenangkan diri dengan kehangatan dari tubuhnya.

“Bagaimana ini? Bagaimana ini, Rebecca? Aku takut.”

“Aku tahu. Aku tahu kamu takut. Kamu pikir aku sendiri tidak takut? Tapi tidak satupun dari kita boleh menunjukkannya sebab jila mereka melihatnya, mereka akan panik, dan begitu mereka panik, Grommin akan takluk.”

“Tapi aku harus bagaimana?”

“Temuilah si penyihir wanita, sayang. Bila kau datang padanya, itu akan membuat mereka lebih tenang. Dan kau bisa mengarang tentang apa yang ia katakan padamu.”

“Bila si Beruang Ketiga tidak membunuhku sebelum aku menemukannya.”

Bila wanita itu belum mati.

 

 

Di hutan dalam, tempat di mana kesunyian begitu pekat hingga denging di telinga menjadi gemuruh sungai, Horley mencari si penyihir wanita. Ia tahu wanita itu telah diusir ke bagian selatan hutan, jadi ia memulai mencari dari sana dan bergerak ke tengah. Apa yang ia cari, tidak ia ketahui. Sebuah pondok? Tenda? Apa yang akan ia lakukan begitu menemukannya, tidak juga Horley ketahui. Tombaknya, jirahnya yang tidak lengkap--benda-benda itu tidak akan melindunginya bila wanita itu penyihir sungguhan.

Ia mencoba menahan bayangan akan musim dingin yang mengerikan sambil berjalan, sebab konsentrasi akan rasa takut yang menanti menyingkirkan rasa takut di masa kini.

“Bila bukan karena aku, Beruang Ketiga mungkin tidak pernah ada di sini,” kata Horley pada Rebecca sebelum ia pergi. Horley-lah yang menghentikan mereka membakar si penyihir, berkeras hanya mengusirnya ke terasingan.

“Omong kosong,” jawab Rebecca. “Ingat bahwa dia hanya seorang wanita tua, tinggal di dalam hutan. Ingat bahwa ia tidak dapat melukaimu.”

Rebecca seolah membaca pikiran Horley. Namun sekarang, saat menghirup udara yang padat di hutan, Horley merasa tidak seyakin awalnya tentang si penyihir wanita. Memang benar penyakit yang ada di desa bertahan sampai mereka mengusirnya.

Horley mencoba untuk fokus pada gundukan lempung di bawah sepatu botnya, bau bersih dan gelap pada batang dan tanah dan air. Setelah beberapa waktu, ia menemukan sebuah parit yang kotor. Seakan garis pembatas, hutan di baliknya semakin gelap. Suara cicipan burung wren dan finch menghilang. Di atas, ia dapat melihat bentuk-bentuk elang di puncak pohon, dan berkas cahaya yang menembus tampak seperti hamparan rawa atau genangan berlumpur, dan ia merasa semakin kehilangan arah.

Di hutan dalam inilah, ia menemukan sebuah pintu.

 

 

Horley sempat berhenti sejenak untuk menarik nafas setelah mendaki lereng yang lumayan curam. Tangan di pinggang, ia mendongak dan di sanalah berdiri: sebuah pintu. Di tengah hutan. Walau berbahan kayu ek tua dan padat ditumbuhi lumut dan jamur, pintu itu tampak berkilauan seperti kaca. Sejenis cahaya atau sumber penerangan menembus dari tanah, melewati dedaunan mati dan cacing dan kumbang, mengitari pintu tersebut. Demikian tak kentara, awalnya Horley setengah berpikir ia hanya berhalusinasi.

Ia menegakkan punggung, mengeratkan pegangan pada tombaknya.

Hanya ada pintu itu. Tidak ada penopang buatan manusia di sekitarnya, bahkan sisa runtuhan dinding.

Horley mendekat. Gagang pintu itu terbuat dari tembaga atau sejenis logam kuning lain. Ia mengitarinya. Pintu itu tertanam kuat ke tanah. Bagian belakang pintu itu sama dengan bagian depannya.

Horley tahu bila ini adalah pintu masuk ke hunian si wanita tua, maka ia benar-benar adalah seorang penyihir. Tangannya tenang, tapi jantungnya mulai berpacu dan dengan geram ia memikirkan tentang musim dingin, tentang jarum-jarum es dan dingin yang menggigit dan salju yang turun perlahan tanpa akhir.

Untuk beberapa menit, ia mengitari pintu tersebut, menentukan tindakan. Selama semenit lain, ia berdiri di depan pintu, menimbang-nimbang.

Pintu dibuat untuk dibuka, pikirnya pada akhirnya.

Ia menggenggam gagang pintu, dan mendorong—pintu itu terbuka.

 

 

Beberapa kejadian memiliki waktu dan logika mereka sendiri. Horley tahu ini dari pergantian musim setiap tahun. Dia tahu ini dari tumbuhnya hasil panen dan kelahiran anak-anak. Dia tahu dari hutan itu sendiri, proses pergantian yang seolah tak terjamah namun memiliki pola mereka sendiri, kalender mereka sendiri. Dari tetesan pertama parit yang mencair di musim semi hingga katak terakhir yang melompat di musim gugur, dunia menyimpan seribu macam misteri. Tidak ada manusia yang mampu memahami seluruh kebenaran hal tersebut.

Ketika pintu terbuka dan ia berdiri di sebuah ruangan yang amat mirip pondok penebang kayu, dengan perapian dan karpet dan almari dan panci dan kuali di dinding kayu, dan sebuah kursi goyang—ketika ini terjadi, Horley tahu di saat ia mengerjap dua kali, ia tidak memerlukan alasan untuk tahu kenapa dan bagaimana itu terjadi. Dan inilah, begitu ia sadari nantinya, satu-satunya alasan ia masih mempertahankan kewarasannya.

Si wanita penyihir duduk di kursi goyang. Dia tampak lebih tua dari yang Horley ingat, seolah telah berlalu lebih dari setahun sejak ia terakhir melihatnya. Tampak seolah terbuat dari abu dan jelaga, gaun hitamnya tersampir datar pada kulitnya yang mengendur. Ia buta, tanpa mata, namun wajahnya yang berkeriput tertarik seolah menatap langsung padanya.

Ada suara berdengung.

“Aku ingat kau,” katanya. Suaranya menggaok sekaligus berbisik.

Tangannya berburik oleh usia tua, jari-jarinya begitu kurus dan melengkung kejam hingga bisa saja salah terlihat sebagai cakar. Ia mencengkram dudukan lengan seolah berpegangan erat pada dunia.

Ada suara berdengung. Asalnya, akhirnya Horley sadari, dari gerumbulan tawon hitam yang mengitari kepala si wanita tua, sayap mereka mengepak demikian cepat hingga nyaris tak terlihat.

“Apa kau Hasghat, yang dulu tinggal di Grommin?” tanya Horley.

“Aku ingat kau,” kata si penyihir wanita.

“Aku adalah tetua desa Grommin.”

Si wanita meludah ke samping. “Yang mengusir Hasghat yang malang.”

“Mereka akan melakukan yang lebih buruk bila aku membiarkannya.”

“Mereka akan membakarku kalau bisa. Dan yang aku tahu hanyalah sedikit mantra, sedikit ramuan. Hanya karena aku bukan salah satu dari mereka. Hanya karena aku sudah melihat sebagian kecil dari dunia.”

Hasghat menatap tepat padanya dan Horley tahu bahwa, dengan atau tanpa mata, ia dapat melihatnya.

“Itu perbuatan yang salah,” kata Horley.

“Memang salah,” katanya. “Aku tidak ada hubungannya dengan penyakit itu. Penyakit berasal dari binatang, dari pakaian. Melekat dan menyebar melalui itu.”

“Dan kau memang penyihir?”

Hasghat tertawa, walau diakhiri dengan batuk-batuk. “Karena aku punya kamar tersembunyi? Karena pintuku berdiri tanpa penyangga?”

Horley mulai tak sabar.

“Maukah kau menolong kami kalau bisa? Maukah kau membantu bila kami mengizinkan kau kembali ke desa?”

Hasghat menegakkan diri di kursi dan lingkaran tawon itu menyebar, kemudian mengumpul kembali. Kayu-kayu dalam perapian meletup dan meretih. Horley merasakan hawa dingin di udara.

“Menolong kalian? Kembali ke desa?” Ia seolah berbicara sambil mengunyah, lidahnya serupa ulat kelabu gemuk.

“Ada makhluk yang menyerang dan membunuhi kami.”

Hasghat tertawa. Ketika ia tertawa, Horley dapat melihat bayangan ganda pada wajahnya, wanita yang lebih muda di bawah yang lebih tua.

“Begitukah? Makhluk semacam apa?”

“Kami menyebutnya Beruang Ketiga. Aku tidak yakin itu sesungguhnya seekor beruang.”

Kegembiraan Hasghat menjadi berkali lipat. “Bukan beruang? Beruang yang bukan beruang?”

“Kami tidak bisa membunuhnya. Kami pikir kau mungkin tahu cara mengalahkannya.”

“Dia tinggal di hutan,” kata si wanita penyihir. “Dia tinggal di hutan dan adalah seekor beruang yang bukan beruang. Dia membunuh kalian yang melewati jalan hutan. Dia membunuh kalian yang membajak ladang. Dia bahkan menyelinap ke kuburan dan mengambil kepala kalian yang sudah mati. Kalian dipenuhi rasa takut dan panik. Kalian tidak dapat membunuhnya tapi dia tetap membunuhi kalian dengan cara-cara yang paling mengerikan.”

Itu adalah musim dingin, yang keluar dari bibirnya yang kering dan berbercak-bercak.

“Jadi kau mengenali makhluk itu?” Tanya Horley, jantungnya kini berdebar oleh harapan bukan rasa takut.

“Ah tentu aku tahu,” kata Hasghat, mengangguk. “Aku mengenal si Beruang Ketiga, Shiberg, Shibertig. Akulah yang membawanya kemari.”

Tombak di tangan Horley bergerak dan sudah akan menancap dalam di dada si wanita bila Horley tidak menahannya.

“Untuk balas dendam?” tanya Horley. “Karena kami mengusirmu keluar desa?”

Hasghat mengangguk. “Tidak adil. Benar-benar tidak adil. Kalian tidak seharusnya melakukan itu.”

Kau benar, pikir Horley. Seharusnya aku membiarkan mereka membakarmu.

“Kau benar,” kata Horley. “Kami seharusnya tidak melakukannya. Tapi kami telah mendapat pelajaran.”

“Dulu aku wanita yang penuh pengetahuan dan akal budi,” kata Hasghat. “Dulu aku punya pondok sungguhan di desa. Sekarang aku tua dan hutan ini dingin dan tak nyaman. Semua ini hanya ilusi,” dan ia melambai pada perapian, di dinding pondok tersebut. “Tidak ada pondok. Tidak ada perapian. Tidak ada kursi goyang. Saat ini, kita berdua bermimpi di bawah dedaunan mati di antara cacing dan kumbang dan tanah. Punggungku perih dan tercetak oleh dedaunan. Tidak ada tempat untuk orang setua aku.”

“Maafkan aku,” kata Horley. “Kau bisa kembali ke desa. Kau bisa tinggal di antara kami. Kami akan membayar untuk makananmu. Kami akan memberikan rumah untukmu tinggal.”

Hasghat merengut. “Dan beberapa kayu, aku yakin. Beberapa kayu dan tali dan api sekalian!”

Horley melepas helmnya, menatap ke rongga mata Hasghat. “Aku menjanjikan apapun yang kau mau. Tidak akan terjadi apapun padamu. Bila kau menolong kami. Seorang lelaki harus tahu kapan ia kalah, kapan ia berbuat salah. Kau boleh memiliki apapun yang kau inginkan. Atas harga diriku.”

Hashgat menepis tawon yang mendengung di kepalanya. “Tidak ada hal yang semudah itu.”

“Begitukah?”

“Aku membawanya dari tempat yang amat sangat jauh. Dalam kemarahanku. Aku duduk berputus asa di tengah hutan dan aku memanggilnya menyeberangi jarak dan tahun. Aku tidak mengira dia benar-benar datang.”

“Jadi kau bisa mengirimnya kembali?”

Hasghat merengut, meludah lagi, dan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hampir tidak ingat bagaimana cara aku memanggilnya. Dan suatu hari nanti bisa jadi kepalaku yang akan dia ambil. Terkadang lebih mudah memanggil sesuatu daripada mengirimnya pergi.”

“Kau tidak dapat membantu kami sama sekali?”

“Kalau aku bisa, mungkin ya, tapi memanggilnya telah membuatku lemah. Aku hanya bisa bertahan hidup. Aku menggali kodok dan memakannya mentah-mentah. Aku berkeliling hutan demi jejamuran. Aku berbicara pada rusa dan tupai. Terkadang burung memberitahuku tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Suatu hari nanti aku akan mati di luar sana. Sendirian. Dalam keadaan gila.”

Kejengkelan Horley memuncak. Dia dapat merasakan ketenangan yang ia punya mulai meninggalkannya. Tombak di tangannya berkedut dan menyentak. Bagaimana kalau ia membunuhnya? Mungkin itu bisa mengirim si Beruang Ketiga kembali ke asalnya?”

“Apa yang dapat kau beritahu tentang Si Beruang Ketiga? Kau dapat memberitahu apapun yang dapat membantuku?”

Hasghat mengangkat bahu. “Dia bertindak sesuai naluri. Dan dia jauh dari asalnya, membuatnya lebih melekat pada kebiasaannya. Di tempat asalnya dia tidak lebih haus darah dari makhluk-makhluk lainnya. Di sana mereka menyebutnya ‘Mord.’ Tapi di tempat yang demikian jauh dari asalnya, wujudnya menjadi lebih mengerikan. Dia sedang membuat sebuah pola. Begitu pola itu selesai, dia akan pergi ke tempat lain. Mungkin pola itu akan membantunya pulang kembali.”

“Pola kepala-kepala.”

“Ya. Pola dari kepala-kepala.”

“Kau tahu kapan pola itu selesai?”

“Tidak.”

“Kau tahu di mana dia tinggal?”

“Ya. Di sini.”

Di dalam pikirannya, ia melihat sebuah bukit. Sebuah gua. Lalu si Beruang Ketiga.

“Ada lagi yang kau ketahui?”

“Tidak.”

Hasghat menyeringai padanya.

Ia menghujamkan tombaknya pada dadanya yang kering.

Timbul suara seperti ranting patah.

 

 

Horley terbangun bersimbah dedaunan, di dalam tanah, tubuhnya bergelung di samping si wanita tua. Ia langsung melompat bangun, mengambil tombaknya. Si wanita tua, berbusana gaun hitam yang kusut dan kotor, sedang bermimpi dan menggumam dalam tidurnya. Tawon-tawon mati terlilit dalam rambutnya. Ia menggenggam seekor kodok mati di tangan kirinya. Ia berbau kotoran dan pembusukan.

Tidak ada pintu. Hutan itu sunyi dan gelap.

Horley hampir menusukkan tombaknya ke dada si wanita, tapi ia tampak kecil seperti burung tak berdaya, dan setelah memandanginya ia tak bisa melakukannya.

Ia melihat kepada pepohonan, pada cahaya yang memudar. Sudah waktunya menerima bahwa tidak ada alasan untuk apa maupun kenapa. Waktunya keluar, dengan cara apapun.

“Pola kepala-kepala,” gumamnya sepanjang perjalanan pulang. “Pola kepala-kepala.”

 

 

Horley tidak banyak mengingat isi pertemuan dengan penduduk desa ketika ia kembali. Mereka ingin mendengar tentang penyihir wanita yang dapat menolong atau mengutuk mereka, sebentuk kekuatan dengan kuasa lebih besar daripada mereka. Secercah harapan lewat pepohonan, cahaya dalam gelap. Dia tak dapat memberikannya pada mereka. Dia menceritakan kebenaran sebanyak yang ia bisa, tapi juga memberi kesan bahwa si penyihir memberitahu cara mengalahkan si Beruang Ketiga. Apakah itu cukup bagus? Ia tidak tahu. Ia masih dapat melihat musim dingin pada orang-orangnya. Ia masih dapat melihat darah. Dan mereka yang membawanya sendiri kemari. Bagian itu tidak ia beritahukan pada mereka. Si wanita tua malang yang tidur beralaskan tanah dan dedaunan mati untuk selimut mengira bahwa ia, dalam kemurkaannya, membawa si Beruang Ketiga kepada mereka. Shiberg. Shibertig.

“Kau harus pergi,” katanya pada Rebecca kemudian. “Gunakan gerobak. Bawa seekor bagal. Isi dengan persediaan. Jangan biarkan dirimu terlihat. Bawa kedua putera kita. Bawa anak muda yang membantu kita memotong kayu bakar. Kalau kau bisa mempercayainya.”

Postur Rebecca menjadi kaku. Ia tidak berbicara untuk waktu lama.

“Ke mana kau akan pergi?” tanyanya.

Horley berumur empat puluh tujuh tahun. Ia telah tinggal di Grommin sepanjang hidupnya.

“Aku harus melakukan sesuatu, lalu aku akan menjemputmu.”

“Aku tahu, cintaku.” Kata Rebecca, memeluknya kuat, menggesek-gesekkan tangan ke seluruh tubuhnya seolah ia sebuta si wanita penyihir tua, untuk mengingat, mengingat.

Mereka berdua tahu hanya ada satu cara agar Horley yakin Rebecca dan putera-puteranya keluar dari hutan dengan selamat.

 

 

Horley mulai dari selatan, melawan angin dari tempat Rebecca telah berangkat mengikuti jejak roda kereta yang tua, dan memutar ke arah sarang si Beruang Ketiga. Setelah perjalanan yang panjang, Horley sampai pada sebuah bukit yang mungkin dulunya adalah monumen batu yang dibangun pendahulunya. Sesuatu mengalir dan menggenang di kakinya. Aliran berwarna merah dan membawa serpihan tulang dan sumsum. Horley menatap darah meriak di tepian sepatu botnya selama beberapa saat dan ia perlahan mulai mendaki bukit itu.

Dia sengaja bergerak dengan berisik sepanjang perjalanan menembus hutan. Saat ini, ia tahu, Rebecca pasti telah setengah jalan menembus hutan.

Di dalam gua, dikelilingi oleh segala hal yang telah Clem lihat dan banyak lagi, Horley mengganggu Shiberg yang tengah bekerja. Tombak Horley telah lama menggelincir di tangannya yang kebas. Ia melepas helmnya karena terasa gatal dan karena ia berkeringat demikian banyak. Ia harus menyobek jubahnya dan menggigitnya di mulut.

Horley tidak berniat berbicara; ia berniat membunuh si binatang buas. Namun sekarang setelah ia di sana, setelah ia melihatnya, yang tersisa tinggallah kata-kata.

Sepatu bot Horley menghancurkan sebuah tulang yang mulai melempem. Shiberg tidak bereaksi. Shiberg sudah tahu. Shiberg tetap menjilati cairan dari dalam tengkorak di tangannya yang berambut lebat.

Shiberg memang mirip beruang. Horley dapat melihatnya. Tapi tidak ada beruang yang setinggi atau selebar itu atau begitu mirip manusia sekaligus binatang buas.

Lingkaran cincin dari kepala-kepala buntung yang mengisi setiap permukaan datar gua tersebut, telah diwarnai biru dan hijau dan kuning dan merah dan putih dan hitam. Bahkan dalam keadaan segenting itu, Horley tidak dapat tidak menemukan keindahan tertentu dari pola tersebut.

“Lukisan ini,” kata Horley dalam suara yang tipis dan tegang. “Kepala-kepala itu. Berapa banyak yang kau butuhkan?”

Shiberg memalingkan matanya yang merah membusuk pada Horley, tubuhnya memutar seolah terbuat dari udara, bukan urat dan tulang.

“Bagaimana kau bisa tidak merasa takut?” tanya Horley. Gemetaran. Kencing mengaliri kakinya. “Benarkah kau datang dari tempat yang sangat jauh? Apa kau rindu rumah?”

Entah kenapa, tidak mengetahui jawaban untuk begitu banyak pertanyaan membuat Horley merasa pedih, mengetahui begitu banyak hal yang tak akan lagi bisa ia ketahui, dan pahami.

Shiberg mendekat. Dia berbau lumpur dan jeroan dan hujan. Dia mengeluarkan suara seperti gabungan gemuruh petir dan dengkuran kucing. Dia memiliki tapak sekaligus ibu jari.

Horley menatap mata makhluk itu. Mereka berdua berdiri di sana, tidak bersuara, untuk waktu yang lama. Horley berusaha keras untuk mendapati semacam pemahaman, semacam pengertian dari wajah makhluk itu. Mata itu, anehnya terkesan lembut. Moncongnya basah oleh sisa-sisa bangkai.

“Kami ingin kau pergi. Kami ingin kau ke tempat lain. Tolonglah.”

Horley dapat melihat pintu Hasghat di dalam hutan di hadapannya. Pintu itu terbuka menghembuskan daun-daun kering. Cahaya terpancar dari dalamnya. Cahaya dari suatu tempat yang sangat, sangat jauh.

Shiberg menahan dada Horley. Horley dapat mendengar jantungnya berdetak keras, sekeras dunia. Rebecca dan putra-putranya pasti saat ini telah keluar dari hutan.

Shiberg merobek kepala Horley dari tubuhnya. Membiarkan sisanya rubuh ke tanah.

Tubuh Horley tergeletak di sana untuk waktu yang lumayan lama.

 

 

Musim dingin tiba—sekejam yang sudah-sudah—dan si Beruang Ketiga melanjutkan pekerjaannya. Dengan kepergian Horley, para penduduk semakin berputus asa. Beberapa menghilang ke dalam hutan dan tak terdengar lagi kabarnya. Beberapa begitu takut akan hutan hingga mereka hanya memakan buah beri dan ranting-ranting di luar rumah mereka dan tidak pernah pergi berburu. Persediaan mereka habis. Kulit mereka menjadi semakin pucat dan mereka berhenti membasuh diri. Mereka percaya kata-kata orang gila dan mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan aneh. Mereka berhenti berpakaian. Mereka berhubungan di tengah jalan. Pada suatu titik, mereka sepenuhnya kehilangan akal dan mengorbankan perawan pada si Beruang Ketiga, yang mengambilnya tanpa perlakuan khusus. Mereka mulai memutilasi tubuh mereka, berpikir itulah yang diinginkan si Beruang Ketiga untuk mereka lakukan. Beberapa yang masih berakal sehat harus ditahan dan dimutilasi orang lain. Beberapa memakan yang mati membeku, dan beberapa yang belum mati berharap mereka sudah mati. Tidak ada bantuan. Sang Baron  tidak pernah membawa pasukannya.

Musim semi tiba, dan akhirnya sungai mencair. Burung-burung kembali, pepohonan menumbuhkan dedaunan, dan kodok-kodok mulai menyanyikan lagu perkawinan. Di hutan dalam, tergeletak sebuah pintu kayu yang separuh tertanam lumut dan tanah, tidak mengarah ke mana pun, seluruh cahaya lenyap darinya. Dan di sebuah bukit yang lebat, ada sebuah gua kosong yang hanya berisi dedaunan kering dan beberapa belulang yang berserakan di lantai tanah.

Si Beruang Ketiga telah menyelesaikan polanya dan pergi, namun bagi para penduduk desa yang tersisa, dia masih berada di sana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer tommy
tommy at Beruang Ketiga (4 years 39 weeks ago)

hem

Writer nagabenang
nagabenang at Beruang Ketiga (4 years 39 weeks ago)

meh?

Writer manusiahilang
manusiahilang at Beruang Ketiga (4 years 39 weeks ago)
80

Delapan

Writer nagabenang
nagabenang at Beruang Ketiga (4 years 39 weeks ago)

Terima kasih. :)

Writer hidden pen
hidden pen at Beruang Ketiga (4 years 40 weeks ago)
40

HAYY nagabenang, ijin komentar dulu ya hihi
ceritanya bagus walau saya selisih paham dengan nama. menurutku terlalu rumit bagiku untuk memahaminya tetapi itu terserah penulis sih, jadi ya sebagai pembaca aku harus menerima keanehan ini.
udah kucek versi inggrisnya, ehem aku semakin takut mengkomentari karya orang. hihihi
maaf bila tidak berkenan yach

Writer nagabenang
nagabenang at Beruang Ketiga (4 years 39 weeks ago)

Ummm
.
oke?
.
Terima kasih untuk komentarnya. :)

Writer 145
145 at Beruang Ketiga (4 years 40 weeks ago)

err maaf, karena suatu sebab ceritanya ndak muncul, mungkin bisa dicek lagi?

Writer nagabenang
nagabenang at Beruang Ketiga (4 years 40 weeks ago)

*menyumpah2 dalam tiga bahasa*
.
Maaf, nampaknya karena saya menaruh link, ceritanya malah tidak muncul. Sudah diperbaiki, semoga sudah bisa dibaca. Trims untuk pemberitahuannya. :)