MATAHARIKU

Sehari sebelumnya...

Saat matahari sedang panas-panasnya, terlihat dua orang pemuda tengah berdiri mematung di tepian pantai. Sedang berusaha menyoklatkan diri maksudnya. Biar terlihat eksotis.

... ... ...

Ahas:  "Aku muak berpura-pura!"

Putra: "Haha."

Ahas: "Aku tidak kuat lagi!"

Putra: "Ahaha."

Ahas: "Heumh, kau terlihat begitu menikmati panas ini. Bagaimana caranya?"

Putra: "Haha."

Ahas: "Kau sudah gila?"

Putra: "Tidak, hanya ingin tertawa saja. Sama juga lah panasnya."

Ahas: "(Duduk mengiba dengan muka memelas) Waktu beranjak menuju siang hari dan letak matahari pun kian meninggi. Semakin panas saja menyengatku di hamparan bumi. Aku pun memelas pada awan agar kiranya mau melindungiku dari teriknya, berharap mendung datang untuk sekadar memberiku gerimis saja. Lelah rasanya ku berjalan tanpa henti tiada tujuan. Ini bukan kisahku, seharusnya. Kabulkanlah permohonanku akan tetes-tetes itu dan akan kutetapkan tujuan. Apakah kau dengar?! Haruskah ku berteriak!!"

Putra: "(Geleng-geleng kepala)"

Ahas: "Aku adalah seumpama orang yang hampir mati dibakar terik matahari. Bibirku pecah-pecah, kulitku coklat memerah, mandi keringat tubuhku basah. Ketekku bau khas, kulit kakiku sebagian mengelupas. Dan, aku haus. Aku benar-benar haus. Owh, adakah seseorang yang..."

Putra: "Baca puisi?"

Ahas: "Arghh. Ini namanya menghibur diri,  Putra."

Putra: "Itu konyol, Ahas."

Ahas: "Konyol? Ini puisi metafora."

Putra: "(Menggoda) Haha. Dan datanglah seorang bidadari cantik nan jelita memberi seteguk air. Haha."

Ahas: "Kau ini, sudah-sudah-sudah."

Putra: "Hahaha."

Ahas: "(Kecut) Sudah, berhenti tertawanya."

Putra: "(Mengejek) Bibir pecah-pecah, sariawan! Kulit kaki terkelupas, Retak-retak!"

Ahas: "(Merungut) Huh, buka-buka aib."

Putra: "(Tersenyum lebar) Begini, aku punya teman. Atur waktumu kapan bisa bertemu."

Ahas: "(Sumringah) Bidadari? Cantik? Jelita?"

Putra: "Ya."

Ahas: "Besok."

Putra: "Oke. Jangan lupa bawa bunga, ya."

Ahas: "Oke. Bunga apa?"

Putra: "Mawar. Apa saja."

Ahas: "Dahlia?"

Putra: "Bawa kaktus saja sekalian."

Ahas: "Baiklah."

Putra: "Aduh. Maksudku bukan begitu. Terserah kau sajalah."

Ahas: "Oiya, Putra. Dahlia itu bukan sekedar bunga pekarangan. Ada inulin.dan itu..."

Putra: "Ya, aku sudah tahu."

Ahas: "Untuk perempuan dan anak-anak dan..."

Putra: "Aku sudah tahu!"

Ahas: "Kalau begitu kau pasti belum tahu tentang..."

Putra: "Sudah tahu!!!"

Ahas: "Whooaa. Sudah merasa panas luar-dalam ya?"

Putra: "Ahaha, tidak. Ahas, ngomong-ngomong apa aku sudah terlihat cokelat?"

Ahas: "Heump, lebih dari cokelat."

Putra: "Apa!! (Melirik jam tangannya) Sudah terlalu lama."

-------------------------

Present day, di tempat yang tak diketahui...

Putra: "Apa yang salah denganmu? Kesan pertamamu begitu buruk. Kau tak tahu kalau kesan pertama itu penting? Kau jangan terlalu lama memandanginya. Jelas meninggalkan kesan yang buruk. Kau juga jangan dulu bertanya hal serius sebelum waktunya tiba, Dan..."

Ahas: "Kau ini tahu apa? Situasinya tak sama seperti apa yang ada di kepalamu. Aku bahkan tak bicara sepatah kata pun. Pasti dia menganggapku orang bodoh. Dia bilang apa?"

Putra: "Tidak bilang apa-apa. Hanya isyarat tangan di leher. Kau bukan tipenya, mungkin itu yang ingin dia katakan."

Ahas: "Owh."

Putra: "Tapi bisa juga berarti pria tak berkepala."

Ahas: "Terus..."

Putra: "Lelaki tak berotak."

Ahas: "Apakah itu sama artinya dengan bodoh?"

Putra: "Ahaha. Tidak-tidak, aku hanya asal saja. Jangan terlalu dipikirkan."

Ahas: "Hufh, dasar perempuan aneh."

Putra: "Hehe, santai lah. Aku masih pinya kenalan lain."

Ahas: "Gak usah. Aku nyari sendiri saja."

Putra: "Owh, iya. Kau bawa bunga apa?"

Ahas: "Matahari."

Putra: "Apa!"

Sebelumnya di sebuah restoran sederhana...

Mudah bila dihadapanku hanyalah sebuah meja dengan sebuah kursi kosong untuk si cinta. Hayalku penuh canda duduk manis bertukar kata. Romantis. Tenang penuh senyum dengan harap ia terkagum. Owh, begitu mudahnya. Begitulah tadinya kukira; hingga 15 menit kemudian bidadari cantik itu tiba dan suasana pun tak lagi sama seketika. Bodohnya, gugup melanda. Hilang semua tak ada kata, ku terpesona. Entah apa yang ada di pikirannya.

-------------------

Ahas, saat malam semakin larut...

"Andai ia tahu. Wajahmu mengalihkan duniaku. Agh, seperti iklan saja memang. Iklan lawas. Aduh, ada apa dengan kepalaku? dI dalamnya ada bayang-bayang wajahnya sedang ku mengenalnya pun tidak. Tapi aku bukan tipenya."

Dia, tempat lain...

"Hidup itu sederhana tapi penafsirannya harus mewah. Tak ada yang istimewa dalam hidupku tapi harus istimewa dalam menafsirkan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupku."

"Lalu apa yang istimewa dari peristiwa tadi? Lelaki culun itu? Dengan bunga matahari? Ya, ampun. Bunga matahari. Tak ada yang istimewa. Benar-bebar hari terburuk dalam hidupku."

"Tapi... Belum tentu juga. Mungkin ada. Dan aku belum tahu. Ya, sebaiknya berpikir begitu."

Kemudian ia teringat kata-kata bang Zukisa minggu yang lalu. Meski tetap jahil namun tak jarang memberinya masukan positif. Lama-lama rasa bersalah itu muncul. Ia meras tak enak telah meninggalkan lelaki culun itu dengan cara yang kurang sopan, membuang bunga matahari itu ke tempat sampah dan memikirkan hal buruk lainnya tentangnya. Ada sesal yang mengendap di dasar hati akibat pilihan sikapnya itu. Tak perlu kiranya melakukan hal bodoh semacam itu.

"Bukankah setiap diri seunik sidik jari?"

"Apa alasannya bawa bunga matahari?"

"Mungkin dia memang tolol. Setengah tolol. Ah, tidak-tidak. Tidak tolol. Agh, entahlah."

"Pagi, hangat. Siang, panas. Sore, entah."

"Kenapa aku jadi memikirkannya???"

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer asau
asau at MATAHARIKU (4 years 4 weeks ago)
70

Narasinya sedikit ditambah

Writer WidhartaOfficial
WidhartaOfficial at MATAHARIKU (4 years 8 weeks ago)
100

Bagusnya sih kalau narasinya dibanyakin, jadi kan biar lebih jelas gitu

*gitu aja kritik dari saya

Tapi ini ceritanya tag lawak apa horror sih

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at MATAHARIKU (4 years 14 weeks ago)
50

jadi inget "Kuring Bogoh Ka Manehna" Jafunisun, haha. tentang pemuda yang sulit menyampaikan cintanya, ya. bentuknya terasa kurang lancar dibaca, terutama bagian dialognya, juga pengantar di awal tiap2 bagian seperti "Present day, di suatu tempat yang tidak diketahui". sangat to the point. rasanya seperti membaca naskah drama aja atau skenario, padahal tagarnya kan cerpen.

Writer nusantara
nusantara at MATAHARIKU (4 years 13 weeks ago)

hehe
ini waktu bikinnya sambil ngbayangin deklamasi sambil panas-panasan, jadi bacanya enaknya sambil ngbayangin juga.
iya emang tentang itu, sulit menyampaika cinta.

Writer lokideautorin
lokideautorin at MATAHARIKU (4 years 15 weeks ago)
60

lebih bagus banyakin narasinya ya.

Writer nusantara
nusantara at MATAHARIKU (4 years 13 weeks ago)

oke

Writer Nine
Nine at MATAHARIKU (4 years 16 weeks ago)
100

Salam kenal,
harapan saya (melihat tag-nya komedi, dan saya juga sdh pernah baca beberapa ceritamu yg sebelum ini dan ada 2 cerpen yg bikin saya ketawa), saya akan menemui suatu hal yang lucu di sini, tetapi ternyata tidak. Entah mungkin karena selera humor yg beda, atau otak saya yg lemot, membaca cerpenmu yg ini saya datar saja smpai akhir. Tidak ada yg menggelitik. Bahkan untuk senyum pun saya tidak.
.
Untuk penggunaan kata "Aku", secara pribadi saya kurang nyaman kalau kata "Aku" ditulis "ku". Apa susahnya menambahkan huruf "A" di belakang "ku"? Membaca yg begini bikin saya tidak nyaman:
-ku merasakan
-ku mengenalnya
-ku berjalan
Mendingan tidak usah pake spasi sekalian, supaya enak dibaca. Kalau memang di bagian itu mau ditulis Aku, yah tambahkanlah A sebelum "ku", biar enak (subjektif)
.
Kesimpulannya, cerpen ini tidak menggelitik dari segi komedi dan konfliknya juga tidak begitu dalam. Seperti cerpen ini tidak punya dinamika. Datar saja sampai akhir.
.
Mungkin itu saja dari saya bro, semua kata2 saya di atas hanyalah pandangan subjektif, mohon maaf kalau kurang berkenan di hati.
.
Saya undur diri dulu,
Salam Olahraga (y)

Writer nusantara
nusantara at MATAHARIKU (4 years 13 weeks ago)

:)