Hibernating Beauty (1/3)

                “Jadi, anak-anak, sudah semuanya? Kalian yakin semua teman kalian sudah di sini?”

                Sekumpulan anak laki-laki yang semuanya duduk manis di sebuah ruangan mengangguk dan sahut-menyahut.

                “Bagus, sekarang kita hanya tinggal menunggu Raden Pangeran.”

                “Hah, Raden Pangeran akan datang?! Yey, Pangeran akan datang!!” Anak-anak melompat-lompat riang. “Mbah, kapan datangnya?”

                “Sebentar lagi, sabar saja.”

                Beberapa detik kemudian….

                “Mbah, sudah datang??” Tanya anak-anak.

                “Belum, sebentar lagi, sabar ya.”

                Beberapa detik kemudian.

                “Mbah, Sudah datang?” Tanya anak-anak lagi.

                “Belum, sebentar lagi, bisa sabar tidak sih?”

                Beberapa detik kemudian…

                “Mbah!” Tanya seorang anak.

                “Belum!! Sabar Nak, sabar woy!!!” teriak si pria tua. “Oh, kamu mau pipis ya? Itu kamar mandinya di sebelah sana, ke kiri jalan terus.”

                Sambil memegangi selangkangannya, anak itu berlari ke arah yang ditunjuk. Untuk menghibur anak-anak yang tidak sabaran itu, akhirnya si pria tua memutuskan untuk membacakan sebuah cerita pada mereka.

                “Simbah punya cerita. Nanti ketika Raden Pangeran Aryaman sudah sampai, kalian akan membantunya dalam sebuah urusan. Nah, simbah akan menceritakan pada kalian asal mula urusan Raden Pangeran.” Belum sempat si pria tua memulai ceritanya, terdengar bunyi dari arah pintu, sepertinya ada yang mau masuk tapi kesulitan membuka pintu.

                “Hey, buka pintunya!” Si orang di balik pintu terus mendorong dan menggedor pintunya.

                “Pangeran, kau cukup…” Jawaban si pria tua terpotong suara letupan serta pintu yang tiba-tiba terhempas dari engselnya. “…menariknya… duh…”

                “Argh, pintu payah!” Seorang pria tampan dengan baju mahal dan mahkota muncul dari balik pintu yang kini tergeletak di lantai. “Ah, Pak Dhe Gaeran, apa ini sudah semua?”

                “Sepertinya begitu, Pangeran.”

                “Super sip, jempol buatmu, Pak Dhe, kau satu-satunya yang kerjanya becus di sini. Hmm…” Aryaman beralih mengamati anak-anak itu. Ia baui mereka dan ia pegang-pegang mereka. “Anak-anak payah… ew, ingusan… tapi siapa tahu. Ayo, anak-anak, kemari!”

                “Tapi, Mbah, bagaimana dengan ceritanya?” Rengek beberapa anak pada Gaeran.

                “Oh, Pak Dhe Gaeran sedang bercerita, ya? Ya sudah, lanjutkan saja dulu, Pak Dhe, nanti aku akan datang lagi.” Aryaman pun berbalik dan keluar dari pintu. “Desa ini benar-benar payah, rumahnya pada tidak berpintu, ck ck ck,” komentarnya sembari terus berjalan.

                “Baiklah, anak-anak, duduk yang manis dan dengarkan baik-baik, ya.” Gaeran menyingkirkan kursinya dan ikut duduk bersila bersama anak-anak di lantai. “Pada suatu zaman, hiduplah Raden Pangeran Aryaman yang tampan, kaya raya, cerdas, bijaksana, kuat dan sakti, serta baik hati dan tidak sombong. Hmm, agak membosankan, ya? Aku bisa membuatnya menarik, tapi sebelumnya…”

Gaeran berjalan ke arah jendela dan menutup jendela itu lalu menutupkan pintu yg baru saja dirusak, dengan tongkatnya. Ia lalu kembali ke tempatnya semula. “Jangan katakan ini pada Pangeran, ya, atau kalian akan dijewer Pangeran dengan kejam! Raden Pangeran sebenarnya memiliki sebuah masalah, sebuah masalah besar yang menghantuinya selama beberapa tahun terakhir. Sampai saat ini… dia masih jomblo…”

 

“Namanya Ayu Emillia, usianya dua puluh tahun, dia hobi memasak dan berkebun. Dia bekerja sebagai pengajar di sekolah anak-anak. Dia terkenal baik paras maupun hatinya, seluruh pria di desanya menyukainya, sementara seluruh perempuan di desanya tidak terlalu menyukainya. Orang-orang menjulukinya… huh?” Gaeran mendekatkan kertas yang dibacanya ke wajahnya.

“Apa? Apa julukannya?” Tanya Aryaman yang kini tengah membawa lukisan dari gadis yang Gaeran ceritakan.

“Ehm… Kumbang Desa, Raden.”

“Apa?! Ugh, berikutnya!” Ia langsung melempar lukisan gadis tadi, lalu mengambil lukisan gadis yang lain.

“Eh, Mas Raden, kupikir tadi hanya salah tulis, kenapa langsung ditolak?” Tanya Gaeran.

“Apa yang membuatmu berpikir itu hanya salah tulis, Pak Dhe?”

“Ehm… ya menurutku, semua gadis baik-baik julukannya pasti Kembang Desa, bukan Kumbang Desa, Mas Raden.”

“Apakah Pak Dhe yakin? Benar-benar yakin?”

“Ya, aku benar-benar yakin.”

“Beneran? Yakin seyakin-yakinnya?” Aryaman yang tadi memandangi kertas berisi lukisan di tangannya beralih memandang Gaeran.

“Ya, Mas Raden, aku sangat yakin!”

“Ah, yang benar? Benar amat sangat yakin sekali dan seyakin-yakinnya, tidak??” Goda Aryaman.

Gaeran menghela nafas, “Huh, berapa kali aku harus mengatakannya?”

Aryaman tertawa sebentar. “Haha, tidak usah ngambek, Pak Dhe! Kau tahu, ini perkara yang sangat penting bagiku. Dan aku tidak mau urusan sepenting ini didasarkan pada informasi yang abal-abal. Seandainya bukan darimu, aku tidak mau menerima opini semata.”

“Ya, Mas Raden, aku mengerti betapa pentingnya ini buatmu.”

“Super sip, ngomong-ngomong, sepertinya aku tetap tidak suka, berikutnya, Pak Dhe!”

Gaeran membaca lembar berikutnya.

Aryaman menunggu sembari mengamati lukisan gadis yang akan mereka bahas. “Dia lumayan. Ayo, Pak Dhe, mana deskripsinya?”

Gaeran kembali mendekatkan kertas itu lebih dekat ke wajahnya. Ia lalu mengucek matanya, dan mengernyitkan dahinya. “Uhm… namanya adalah, ehm… biar kueja saja ya… R10n4 Cay4nk P4p4h MAm4h…”

Aryaman kembali menoleh pada Gaeran. “Itu, adalah salah tulis terbodoh yang pernah kutemui. Huh, Pak Dhe, menurutmu seharusnya bagaimana?”

“Uhm… kupikir ini bukan salah tulis, memang namanya sangat aneh.”

Aryaman tak berkomentar.

“Biar kubacakan deskripsinya.”

“Tidak tidak tidak!” potong Aryaman. “Sudah, ganti saja, berikutnya! Aku tidak mau dengan perempuan yang kupanggil saja tidak bisa.”

“Tapi aku belum membacakan deskripsinya. Maksudku, seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya.”

“Ohoh, lalu bagaimana dengan pepatah, sebuah buku jatuh tidak jauh dari sampulnya… ehm, sebentar, seharusnya itu apel dan, pohon… iya kan?” Aryaman menggaruk kepalanya. “Lagipula jika aku harus menilai dengan sungguh-sungguh, akan butuh selamanya untuk menilai secara sempurna semua kandidat.”

“Baiklah, seperti yang kau minta, Mas Raden.” Gaeran mengambil kertas berikutnya seraya sesekali melirik Aryaman, sepertinya ada yang ia sembunyikan. “Berikutnya namanya Siti Haneilli, dia…”

“Whoa, hey! Ini! Ini!” Aryaman berteriak sambil menunjuk-nunjuki lukisan yang dipegangnya.

“Ah, kau menyukainya?” Tanya Gaeran.

“Kau bercanda, ya?” Aryaman menatap tajam Gaeran. “Aku sudah pernah melihat perempuan ini, dan aku tolak.” Aryaman memicingkan matanya pada Gaeran. “Ah, Pak Dhe sengaja ya, memasukkan kembali perempuan yang dulu sudah kutolak?”

Gaeran menghela nafas. “Mas Raden Pangeran Aryaman yang kuhormati, ada yang harus kusampaikan. Ini sudah lima tahun sejak kau memulai proyek ini. Kami sudah menulusuri seluruh penjuru dunia, mencari perempuan yang cocok untukmu, dan sekarang… kami kehabisan. Kami sudah menemukan ratusan perempuan yang kira-kira cocok untukmu, tapi kau menolak semuanya. Dan hari ini, kami sudah tidak menemukan lagi.”

“Haha, kau pasti bercanda, ada jutaan perempuan di dunia ini.”

Gaeran membela diri, “Percayalah Mas Raden, kami tidak asal pilih.”

“Ya sudah, gampang, perluas area pencariannya, timmu pasti belum mencari di semua tempat.”

“Kami sudah mencari bahkan hingga ujung dunia, timku sudah menyusuri Dunia Tengah dan juga seluruh kota Alliansi Pinggiran, dan tadi adalah yang terakhir.” Gaeran mengambil dan menunjukkan kembali kertas berisi tulisan tentang dia yang namanya susah dibaca. “Aku turut menyesal, Mas Raden, tapi ini saatnya bagimu untuk… em, uhum, berkompromi, turunkan standarmu, Mas Raden.”

Aryaman tertunduk dan diam. Selama beberapa saat ia hanya mematung. “Tidak!” Katanya. “Ketika kau gagal menggapai tujuanmu, kau punya dua pilihan, kau turunkan standarmu, atau…” Tiba-tiba muncul aura kuat dari Aryaman. Udara dalam ruangan itu berputar kencang dan menerbangkan semua kertas-kertas lukisan dan tulisan. Aryaman lalu mencabut pedangnya, dan menghunuskannya dengan berapi-api. “Atau kau tingkatkan perjuanganmu!!”

“Haruskah selalu ke arahku, Mas Raden?” Gaeran memindahkan ujung lancip pedang Aryaman dari depan hidungnya.

“Oh, baiklah, iya, iya aku turunkan.” Aryaman menyarungkan kembali pedangnya.

“Bagus, jadi akhirnya kau turunkan harapanmu?” Gaeran tampak gembira.

“Tidak, siapa bilang? Maksudku, akan kuturunkan pedangku. Tadi kau bilang kau sudah mencari hingga ujung dunia kan?” tanya Aryaman.

Gaeran mengangguk.

“Ya sudah, kalau begitu cari di luar ujung dunia,” kata Aryaman dengan santainya.

“Kau pasti bercanda.”

“Tidak, memangnya lucu ya? Ayolah, Pak Dhe, kau pasti bisa!”

“Mustahil Mas Raden, tidak ada apa-apa di ujung dunia. Aku sudah melihatnya, ujung dunia adalah jurang dengan dasar yang tak tampak, dengan lautan awan sejauh mata memandang. Jika memang ada, perempuan macam apa yang tinggal di sana?!” ucap Gaeran dengan menggebu-gebu.

“Tenang, Pak Dhe.” Aryaman mengusap wajahnya. “Kau hanya harus menenangkan diri, lalu ide cemerlangmu akan muncul seperti biasanya.”

“Percayalah, Mas Raden, tidak ada apa-apa di sana. Ada beberapa mitos, tapi ya, kau tahulah, abal-abal,” bujuk Gaeran.

“Ayolah, Pak Dhe, kau tidak pernah tahu sebelum kau mencobanya.” Aryaman belum mau menyerah.

“Mas Raden Pangeran yang kucintai, sebuah pepatah tidak selalu berlaku pada semua hal. Ngomong-ngomong, tidak ada perempuan yang nihil dari kekurangan, mengapa tidak kau pilih saja seorang yang kekurangannya dapat kau terima?”

“Tapi tak satu pun dari mereka yang bisa kuterima!” kata Aryaman dengan mimik tak berdosa.

Gaeran menepuk dahi. “Huh, begini saja, mengapa tak kau pilih salah satu, lalu kalian saling mengenal, dan uh... bersama-sama dan semacamnya untuk menumbuhkan cinta. Kau tahu, belajar untuk mencintai.”

Aryaman terdiam sejenak, lalu tertawa. “Huahaha, aduh Pak Dhe ini, kita dengarkan saja mitos yang kau pelajari itu, hahaha.”

Gaeran memegangi kedua bahu Aryaman, mencoba menghentikan tawanya. “Mas Raden, aku serius!”

Aryaman melepas genggaman pamannya. “Aku juga serius Pak Dhe, sudah kubilang aku tidak bisa menurunkan harapanku.”

 “Baiklah baiklah, kau mau mitos, kau mau seseorang di luar ujung dunia? Aku ada sebuah cerita, tentang seorang putri dengan keindahan paras mau pun hati yang tak terbayangkan.”

“Tak terbayangkan?” Aryaman melirik, berusaha membayangkan.

“Namanya Illila, dia tinggal di sebuah desa antah-berantah yang tidak ada di peta-peta. Di desa itu ada laki-laki tua bernama Dorn, dan laki-laki muda bernama Gohn.” Gaeran mengambil kursi dan mendudukinya. “Gohn jatuh cinta pada Illila, tapi Illila jatuh cinta pada Dorn, dan Dorn dengan senang hati menerima cinta Illila. Karena patah hati, Gohn menculik Illila. Ia membawa Illila ke sebuah kastil yang mengambang di awan ujung dunia dan memantrainya dengan mantra cuci hati. Illila ia buat tertidur sembari ritual dijalankan, dan ketika terbangun kelak, Illila akan jatuh cinta pada Gohn. Tapi sebelum Illila terbangun, Dorn datang menyelamatkan dan membunuh Gohn dengan kejam. Sayang sekali mantra Gohn sudah selesai bekerja, hanya tinggal menunggu Illila untuk terbangun. Jika Dorn membangunkan Illila sekarang, Illila tidak akan lagi mencintainya. Dorn tidak punya pilihan lain selain mengubah mantranya. Dorn pikir, jika ia tidak bisa bersamanya, ia ingin Illila bersama lelaki terbaik. Maka Dorn memantrai Illila dengan kutukan Scheilmer tipe ketiga.”

“Sebentar, aku bingung, jadi Dorn mencintai Illila, tapi ia mengutuk Illila?” tanya Aryaman.

“Semacam itulah.” jawab Gaeran. “Hingga saat ini Illila masih menunggu penyelamatnya sementara Gohn menjadi hantu gentayangan yang selalu mengusir dan mencegah siapa pun yang mencoba membangunkan Illila. Jika aku tak bisa memilikinya, maka tak seorang pun bisa, hanya itu kata-kata yang terucap darinya semenjak terbunuh.”

“Super keren!” teriak Aryaman. “Kutukan Scheilmer, ya? Jadi untuk membangunkannya perlu ciuman dari seorang tabib.”

“Itu tipe pertama, Mas Raden. Untuk membangunkan tipe ketiga, diperlukan ciuman dari Sang Terpilih!”

“Sang Terpilih? Maksudmu... aku? Jadi, Pak Dhe bilang bahwa kali ini aku harus berangkat?” tanya Aryaman.

“Ya, Mas Raden tinggal pilih mana? Berangkat mengejar seseorang yang belum tentu benar-benar ada atau cukup memilih salah satu dari perempuan yang sudah kupilihkan, yang nyata-nyata ada.” Ucap Gaeran dengan nada retoris.

“Baiklah, aku akan berangkat.” Jawab Aryaman santai.

“Apa? Mas Raden lebih memilih untuk berangkat?!” Gaeran terkejut bukan main.

“Ehm, pilihan lain apa yang kupunya?”

“Bukankah tadi baru saja kuberitahu pilihan lain?!” protes Gaeran.

“Perempuan ini membutuhkanku, Pak Dhe. Perempuan ini membutuhkan Sang Terpilih, yaitu aku, dan hanya aku seorang. Aku punya firasat bahwa dialah perempuan yang kucari selama ini.”

“Tapi, tapi, kita bahkan tidak tahu apakah Illila benar-benar ada. Mengapa kau tiba-tiba begitu percaya dengan mitos?!”

“Aku baru saja menyuruhmu untuk mencari di luar ujung dunia, dan Pak Dhe berhasil menemukan satu. Aku juga mengatakan bahwa kita harus meningkatkan perjuangan, jika itu berarti aku harus berjalan melalui medan dan rintangan yang terjal, jadi kenapa tidak?” Aryaman mengepalkan tangannya penuh semangat.

“Itu, belum menjawab pertanyaanku.”

“Tidak ada waktu untuk pertanyaan, Pak Dhe, ayo kita bersiap!”

“Ehm... kita?” Gaeran merasa tak enak.

Gaeran berusaha menyadarkan Aryaman, membujuknya untuk tidak berangkat dan berjalan melintasi separuh dunia hanya demi mitos belaka, tapi Aryaman tetap bersikukuh. Lebih parahnya lagi, Aryaman mengajak Gaeran, yang sebagai ketua panitia pencari jodoh Aryaman, sudah lelah berkelana hingga kemana-mana. Esoknya, mereka berangkat juga.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer axunk reds
axunk reds at Hibernating Beauty (1/3) (4 years 14 weeks ago)
30

boleh juga

Writer duvernoy
duvernoy at Hibernating Beauty (1/3) (4 years 14 weeks ago)
90

Ehehe :D
Saya ketawa terus lho kak XD
"Oh, kamu mau pipis ya? Itu kamar mandinya di sebelah sana,
Hehehe
R10n4 Cay4nk Pap4h Mam4h
Ehehehe
"Ya sudah, kalau begitu cari di luar ujung dunia"
Huahahaaaaa ehehe xixixi >>jadi ketawa sendiri di kamar kaya wong gendeng
Wkwkw lanjutin kak >.<

Writer lokideautorin
lokideautorin at Hibernating Beauty (1/3) (4 years 15 weeks ago)
60

lanjutkan ya

Writer musthaf9
musthaf9 at Hibernating Beauty (1/3) (4 years 15 weeks ago)

yes, sire! :D