Your Black Side (1)

Aroma Earl Grey menyeruak memenuhi seisi ruangan, membangunkan gadis itu dari mimpi yang membelenggu tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, dilihatnya seorang laki-laki berpakaian serba hitam sedang menuangkan teh untuknya disudut ranjang.

”Anda sudah bangun, nona.” Sapanya ramah. “Bagaimana tidur anda? Apakah nyenyak?”

Gadis itu tidak menjawab, ia mengusap matanya dan menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan sambil berusaha mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di ranjang, laki-laki itu membantunya bangun. Setelah itu ia menawarkan secangkir teh hangat untuk majikannya tersebut. Gadis bergaun tidur hitam itu menghirup aroma teh dan menyesap rasanya.

PRANG

Tiba-tiba ia menjatuhkan cangkir teh yang dipegangnya ke lantai tanpa rasa bersalah. “Terlalu manis,” katanya sambil memandangi pecahan cangkir yang berada tidak jauh dari kaki ranjangnya.

“Maafkan saya, akan saya buatkan yang baru.” Ujar pelayan itu sambil membungkukkan tubuhnya.

“Tidak perlu, aku sudah tidak ingin lagi. Bersihkan pecahan itu, aku mau mandi.” Gadis itu beranjak dari ranjangnya dan melangkah menuju pintu yang berada di tepi ruangan.

“Akan saya laksanakan,” ucapan pelayan sayup-sayup terdengar sebelum ia menghilang di balik pintu.

●◦●◦●

“Selamat ulang tahun!” Seru seorang gadis dengan dress hitam mengapit tangan seorang laki-laki yang sedang berjalan di depannya.

“Masih terlalu cepat untuk mengucapkan selamat padaku. Ulang tahunku baru akan terjadi besok.” Ujar laki-laki itu.

“Aku tahu, tapi pesta ulang tahunmu di adakan malam ini. Aku pasti tidak akan melewatkannya.”

“Yaah, aku juga berharap kau dan Reon tidak melewatkan pesta ulang tahunku.”

“Kau juga mengundang Reon? Tapi Reon adalah pelayanku. Pelayan tidak mungkin datang ke pesta seorang bangsawan.” Ujar gadis itu terdengar tidak setuju.

“Walau statusnya hanyalah seorang pelayan, Reon tetaplah teman kita sejak kecil. Aku berhak mengundang siapapun untuk datang ke pestaku. Lagipula kau juga tidak akan bisa melakukan apapun tanpanya. Kau itu tuan putri yang tidak akan dibiarkan berjalan dengan kakimu sendiri.”

Gadis itu menghela napas, benar apa yang dikatakan laki-laki itu. Ia tidak akan dibiarkan melakukan apapun sendiri, bahkan ia tidak mau melakukan apapun seorang diri.

Baginya Reon adalah tubuhnya, orang yang bisa dan harus melakukan apapun untuknya tanpa harus dia yang bergerak sendiri.

“Baiklah, lagipula aku memang berniat untuk mengajak Reon.”

“Sky! Ayo cepat! Semua orang sudah menunggu!” Ujar seorang laki-laki paruh baya yang berjalan ke arah pintu keluar.

“Kau mau kemana?” Tanya gadis itu.

“Berburu, ayah berjanji akan mengajariku teknik berburu andalannya ketika umurku beranjak dua puluh satu tahun.” Ujar laki-laki bernama Sky itu.

“Tapi umurmu masih dua puluh tahun, ulang tahunmu baru akan terjadi besok atau secepatnya malam ini setelah lonceng berdentang dua belas kali.” Kata gadis itu tidak senang ditinggalkan.

“Iya, tapi pesta ulang tahunku terjadi hari ini. Itu yang barusan kau katakan padaku, bukan?” Balas Sky sambil tersenyum senang.

“Baiklah, hati-hati di jalan… dan bawakan sesuatu yang bagus untukku dari perjalananmu hari ini.”

“Hey! Aku yang berulang tahun! Harusnya kau yang memberiku hadiah.”

“Jangan khawatir, aku sudah menyiapkannnya. Tepat setelah kau memberikan hadiah untukku, aku akan memberikan hadiahmu.”

Sky berlalu meninggalkan gadis itu sendiri, ia menatap kepergian laki-laki itu hingga tidak nampak lagi di matanya. Raut wajah bahagianya tiba-tiba saja berubah kembali seperti semula, tanpa ekspresi.

“Reon!” Panggilnya.

Seorang laki-laki tiba-tiba saja muncul entah dari mana asalnya dan berdiri tepat di samping gadis itu. “Anda memanggil saya, nona Olivia?”

“Ikut aku! Ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Ujar gadis yang dipanggil Olivia itu.

Reon mengawal nona besarnya itu berjalan ke dalam hutan. Faktanya mereka tidak benar-benar berjalan, mereka melesat dengan sayap yang ada di punggung mereka. Sayap Olivia terlihat seperti sayap angsa berwarna hitam legam yang berkilauan diterpa cahaya matahari, sedangkan sayap Reon terlihat seperti sayap burung gagak yang sama-sama berwarna hitam.

Olivia terlebih dahulu menginjakkan kakinya di atas tanah berumput kehijauan di dalam hutan itu disusul dengan Reon. Di hadapannya telah berdiri seorang gadis cantik jelita dengan gaun putih dan kulit yang bersinar serta beberapa peri hutan sedang memandang dirinya dengan pandangan tidak suka. Olivia tersenyum melihat raut wajah gadis itu penuh dengan kebencian terhadapnya.

“Wah… aku tidak menyangka saudariku dan teman-teman kecilnya akan menyambut kedatanganku seperti ini. Aku merasa sangat tersanjung.” Ujar Olivia sambil terus memandangi gadis di hadapannya dengan pandangan meremehkan.

“Apa maumu kali ini, Olivia?”Ujar gadis itu dengan sinis.

“Tidak bolehkah aku mengunjungimu? Aku datang kesini karena aku merindukanmu, Freya.”

“Hanya kekacauan yang akan terjadi jika kau datang ke tempat ini.”

“Kekacauan? Aku tidak menyebutnya sebagai kekacauan, aku menyebutnya sebagai karya seni yang indah. Nah, sekarang apalagi yang akan kulakukan kali ini ya?” Kata Olivia yang sedang memikirkan sesuatu sambil berjalan mondar-mandir di hadapan Freya.

“Freya, apa yang terjadi?”

Olivia menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis dengan pakaian biasa muncul dari balik pohon menghampiri Freya dan peri-peri kecilnya. Hal yang sangat mengejutkan bagi Olivia, gadis itu memiliki paras yang sama dengannya. Sangat mirip, bahkan terlihat sama persis. Gadis itu juga terlihat sama terkejutnya dengan Olivia, namun Olivia segera mengendalikan dirinya sendiri agar tidak terlalu terkejut. Ia melihat sesuatu yang berkilauan melingkari leher gadis itu.

“Sepertinya kau punya teman baru. Tidak keberatankan jika kau mengenalkan teman barumu itu padaku.” Ucap Olivia tanpa mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.

"Aurelia, cepat pergi dari sini. Tinggalkan tempat ini sekarang juga! Cepat!!" Seru Freya sambil mendorong gadis itu menjauh.

"Hmmm... kau tidak akan pergi kemana-mana sayang." Olivia melambaikan tangannya di udara, dalam sekejap tangannya dikelilingi sinar hitam, dihempaskannya ke arah Aurelia hingga sinar hitam itu mengelilingi tubuhnya dan berubah bentuk menjadi jeruji besi yang mengurungnya.

“Olivia, lepaskan dia! Jangan sakiti dia!” Seru Freya berusaha menyelamatkan Aurelia, tapi gadis itu tidak bisa mendekati jeruji yang dibuat Olivia dan terlempar cukup jauh.

“Kenapa aku tidak boleh menyakitinya?! Karena kau yakin dia adalah pewaris kerajaan hutan ini? Tahta itu seharusnya jatuh ke tanganku!” Seru Olivia murka.

“Tapi ayah memberikannya kepadaku. Kau harus terima kenyataan itu.” Balas Freya.

“Tidak! Akulah satu-satunya pewaris yang pantas. Kau yang selalu mencari muka di depan ayah dan berusaha menyingkirkanku dengan segala cara. Hanya karena kau anak tertua, kau ingin menguasai segalanya. Sekarang, saat selangkah lagi aku merebut tahta itu, dengan liciknya kau menyerahkan tahta kerajaan hutan pada orang lain. Kau benar-benar egois, kakak!” Ujar Olivia melampiaskan semua amarahnya.

Reon menyentuh bahu Olivia, berusaha menenangkan gadis itu dari amarahnya. Akan sangat gawat jika Olivia kehilangan kendali emosinya. Olivia yang sadar akan keadaan dirinya pun segera menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya.

“Tapi tidak apa-apa. Dengan berpindahnya tahta ke tangan gadis itu, aku bisa lebih mudah merebutnya. Apa yang akan terjadi jika seorang pewaris tahta tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik menjaga hutan ini?” Olivia tersenyum samar, kemudian ia mengayunkan lagi tangannya di udara dan kembali menghempaskannya ke arah Aurelia. Jeruji itu menghilang tergantikan dengan cahaya hitam pekat yang menyelubungi tubuh Aurelia hingga tidak terlihat, perlahan cahaya hitam itu menghilang bersamaan dengan sosok Aurelia yang berubah menjadi angsa putih.

“Tidaaakkk!!” Seru Freya.

Freya dan para peri hutan terkejut melihat sosok baru Aurelia, angsa putih dengan mahkota di kepalanya. Olivia mengangkat kepalanya memandang ke atas, matahari hampir terbenam, ia tidak boleh datang terlambat ke pesta ulang tahun Sky.

“Walau belum puas, tapi kurasa sudah cukup untuk hari ini. Aku sudah cukup bersenang-senang dengan kalian. Jangan khawatir, besok aku akan kembali lagi ke sini.” Ujar Olivia sambil mengepakkan sayapnya ke udara diikuti dengan Reon yang tidak pernah beranjak dari sisinya. Mereka menghilang dalam kegelapan yang menenggelamkan tubuh mereka.

●◦●◦●

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Your Black Side (1) (4 years 6 weeks ago)
100

Baru buka lagi jadi baru baca,, keren tentang Odette dan odile gt yaa??

Writer autumn205
autumn205 at Your Black Side (1) (4 years 10 weeks ago)
70

Cerita ini plotnya lumayan cepat, sayangnya pembaca nggak dikasih backstory. Kalau endingnya dibuat seperti Swanlake, aku merasa bagian pembukanya kayak Black Buttler. Aku agak kaget pas liat cewek yang 'suram' itu tiba-tiba jadi ceria. Kuanggap itu OOC. Terus pas Sky pergi, dia jadi suram lagi. Kamu berhasil membangun kesuramannya di awal cerita.
.
Udah ada dua chap lagi di depan, kupikir aku mau ninggalin jejak di sini dulu

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (1) (4 years 8 weeks ago)

Hehehe.. terima kasih.. aku memang sengaja membuat tokoh utamanya dengan dua kepribadian. Di depan orang lain dia bisa menjadi sangat ramah, tapi saat ia sedang sendiri atau bersama pelayannya, sifatnya akan berubah 180 drajat menjadi seseorang yang egois dan memiliki aura suram..

Writer hidden pen
hidden pen at Your Black Side (1) (4 years 13 weeks ago)
80

aku jadi teringat kembali dengan barbie hihihi
ada kelanjutannya ya :D

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (1) (4 years 13 weeks ago)

Hehe... untuk cerita awal memang agak-agak mirip barbie... tapi aku buat ceritanya itu terinspirasi dari swan lake.. terima kasih.. ditunggu kelanjutannya ya...!!

Writer farhat44
farhat44 at Your Black Side (1) (4 years 13 weeks ago)

Bagus banget ceritanya bro, layak untuk difilmkan ini

Alexandre Cristie Jakarta | Travel Agent Lombok

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (1) (4 years 8 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya, tapi tolong jangan lupa diberi rating untuk ceritanya ya..