Your Black Side (2)

Reon mengamati majikannya yang sedari tadi hanya diam sambil melihat keluar jendela. Saat ini mereka berada di dalam kereta kuda yang mengantarkan mereka menuju rumah Sky. Reon tahu, Olivia pasti merasa sangat terbebani dengan keadaan yang baru saja di hadapinya siang tadi. Seorang gadis yang sangat mirip dengan nona-nya tiba-tiba muncul dan Freya yang diam-diam memberikan tahta kerajaan hutan pada gadis itu. Olivia pasti merasa sangat kesal. Dirinya yang hanya seorang pelayan saja merasa kesal.

Dia tahu bagaimana kehidupan Olivia karena sejak kecil mereka tumbuh bersama. Freya yang selalu dikelilingi banyak orang yang menyukainya dan Olivia yang seakan tidak terlihat di mata orang lain. Walau bersaudara namun mereka sangat berbeda. Di kerajaan hutan, Freya selalu diterangi cahaya matahari yang hangat, bermain dengan hewan-hewan di sana, menikmati bagaimana sejuknya air sungai yang menerpa wajah, menikmati buah apel yang dipetik langsung dari pohon. Freya adalah gadis bebas yang mencintai alam.

Olivia tidak seperti itu. Ia tidak bisa keluar rumah karena ayahnya tidak mengizinkan. Hidupnya hanya sebatas tembok kamarnya saja, dengan boneka-boneka yang menemani dan para pelayan yang melayani sekaligus mengawasinya. Ia tidak bisa merasakan hangatnya cahaya matahari yang menerpa wajahnya hanya karena ia berbeda dengan orang lain.

Sejak kecil Olivia sudah dianugrahi kekuatan yang tidak biasa. Jika Freya bisa berbicara dengan hewan, maka Olivia bisa mengendalikan hewan tersebut untuk memenuhi keinginannya. Kekuatan yang dimiliki Olivia jauh lebih besar dari yang dimiliki orang-orang di kerajaan itu. Sebagai ayah dan Raja dari kerajaan Hutan, Raja Arc memutuskan untuk mengurung putrinya di dalam istana agar tidak mencelakai orang lain baik itu disengaja atau tidak. Baginya kekuatan Olivia itu menakutkan dan sebisa mungkin harus disembunyikan jika ia tidak bisa memusnahkannya. Memusnahkan kekuatan Olivia sama saja dengan membunuhnya dan Raja Arc tidak bisa melakukan hal kejam seperti itu pada putrinya sendiri.
Saat beranjak remaja, kehidupan Olivia tidak lebih baik dari sebelumnya. Freya bisa dengan bebas pergi kemanapun yang ia suka, berteman dengan makhluk-makhluk yang ada di hutan, datang ke pesta Hutan, dan bercanda ria bersama peri-peri. Sedangkan Olivia masih terkurung di ruangannya dengan kekuatan yang semakin hari semakin kuat. Ia bahkan bisa melakukan apa saja yang ia mau. Menerbangkan benda-benda di sekitarnya, mengubah bentuk benda sesuka hatinya, bahkan jika ia mau ia bisa saja meruntuhkan ruangan tempat ia dikurung itu.

Suatu hari Raja Arc, ayah Olivia datang mengunjungi putrinya itu. Ia menghabiskan waktunya selama sehari penuh untuk menemani Olivia. Selama sehari itu, Olivia bebas berkeliaran di dalam istana dengan pengawasan dari Sang Raja. Ketika sedang mengelilingi istana, Olivia merasa heran karena tidak ada seorang pun di istana kecuali dirinya dan Raja Arc. Dicari kemanapun, ia tetap tidak menemukan orang lain selain mereka berdua. Olivia merasa kecewa, ketika ia diperbolehkan keluar dari ruangannya, ia justru tidak menemukan siapapun untuk diajak berbicara. Padahal ia ingin memiliki teman seperti Freya.

“Kenapa kau butuh orang lain jika aku selalu ada disini bersamamu?” Ujar Reon yang selalu mengunjungi Olivia diam-diam di ruangannya.

“Aku ingin punya teman perempuan, aku ingin bisa bermain bersamanya. Kau kan tidak mungkin menemaniku melakukan hal-hal yang dilakukan oleh anak perempuan pada umumnya karena kau itu laki-laki.” Jawab Olivia tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Reon terdiam sesaat, tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di benaknya. Ia ingin mengajak Olivia melihat dunia yang belum pernah dilihatnya. Reon menggenggam pergelangan tangan Olivia, gadis itu pun berdiri dari kursinya . “Apa yang kau lakukan?” Tanya Olivia bingung.

“Ikut aku! Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Ujar Reon sambil membantu Olivia keluar lewat jendela. Sebenarnya mudah saja bagi Olivia untuk keluar dari jendela ruangannya, walau ruangannya berada di lantai teratas istana itu. Tidak akan sulit baginya untuk keluar jika ia menggunakan kekuatannya. Reon sepertinya memilih cara yang sedikit merepotkan untuk masuk dan keluar dari ruangan Olivia, tapi kali ini Olivia memilih cara yang digunakan Reon, dengan memanjat pohon dan berjalan di atap.

Diam-diam Olivia tersenyum. Sudah sejak lama ia ingin melakukan hal seperti ini. Melarikan diri dari ruangannya dan mengendap-endap seperti ini. Namun walau baginya itu mudah selama ini ia tidak memiliki keberanian untuk melawan perintah ayahnya. “Ini menyenangkan,” gumamnya tanpa bisa menahan senyum.

“Tahan senyummu sampai kita tiba di tempat yang ingin aku tunjukkan. Kau tidak akan percaya apa yang kau lihat. Bahkan dari atas sini, kita bisa melihat betapa meriahnya suasana di kota.”

Olivia mengikuti arah pandang Reon, lampu-lampu di kota terlihat sangat indah ketika dilihat dari jendela ruangannya, suasananya juga terlihat sangat ramai. Apa yang sedang mereka rayakan di malam hari?

“Hari ini hari ulang tahunnya putri Freya, kan?” Tanya Reon.

Benar juga, hari ini kakak berulang tahun. Kenapa aku bisa melupakannya? Olivia kembali mengingat-ingat tanggal ulang tahun kakaknya.

“Sepertinya semua orang bersenang-senang hari ini. Ayo! Kita juga jangan sampai melewatkan perayaannya. Akan ada banyak makanan dan pertunjukkan di sana.” Kata Reon seraya mengulurkan tangannya di hadapan Olivia. Ia pun menyambut uluran tangan sahabatnya itu. Mereka berjalan bersama menuju kota. Gaun merah panjang Olivia ditutupi jubah hitam yang panjang sehingga tidak terlalu menarik perhatian orang-orang.

Hilir mudik kerumunan itu tidak ada habisnya melewati mereka. Seperti yang dikatakan Reon, semua orang bersenang-senang. Banyak penjual makanan yang menjual berbagai jenis makanan yang belum pernah Olivia cicipi selama tinggal di istana. Perayaan ini juga menjadi perayaan pertama yang dilihat Olivia sejak dia hidup dan tinggal di istana.

“Ini untukmu,” ucap Reon sambil menyerahkan gula kapas berwarna merah muda kepada Olivia.

“Ini enak, rasanya manis. Apa ini?”

“Itu namanya harum manis. Kalau kau suka aku akan membelikanmu lagi.”

“Tidak usah, aku ingin makan yang lain.”

“Baiklah, tunggu di sini sebentar. Aku akan membelikan sesuatu yang enak untukmu.” Reon berlalu meninggalkan Olivia yang berada tidak terlalu jauh dari kerumunan. Ia duduk di sebuah bangku yang tersedia di sana.

Dua orang gadis berjalan melewati Olivia, yang satu mengenakan gaun berwarna merah muda sedangkan yang satunya lagi mengenakan gaun berwarna cokelat muda. Olivia mengamati kedua gadis yang sedang tertawa itu. Menyenangkan sekali memiliki teman yang bisa diajak berbagi. Seandainya aku juga memiliki teman seperti itu… pikirnya.

Olivia pun melangkah menghampiri kedua gadis itu, ia ingin berteman dengan mereka. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar percakapan yang mereka lakukan.

“Menjadi satu-satunya putri kerajaan Hutan, putri Freya sangat beruntung. Setiap tahun pesta hari kelahirannya selalu meriah seperti ini.” Ujar gadis bergaun merah muda.

“Iya, aku iri padanya. Raja Arc pasti sangat menyayanginya dan kudengar putri Freya juga akan mewarisi tahta kerajaan Hutan ini. Tapi seharian ini aku tidak melihat Raja Arc, hanya putri Freya yang terlihat sedang bersenang-senang bersama para peri.” Ucap gadis bergaun cokelat.

“Padahal hari ini adalah hari kelahiran putri kerajaan Hutan, tapi kenapa Raja tidak datang?”

Kakak adalah satu-satunya putri kerajaan Hutan? Lalu bagaimana denganku? Aku juga anak ayah, aku lahir dan dibesarkan di istana sama seperti kakak. Mengapa mereka menngatakan anak ayah hanyalah kak Freya? Apa mungkin ayah menyembunyikan keberadaanku selama ini? Tapi kenapa? Apa ayah tidak suka memiliki anak sepertiku? Apa ayah tidak menyayangiku? Itu tidak mungkin! Seharian ini ayah menghabiskan waktunya bersamaku, dia selalu menyempatkan diri untuk datang melihat keadaanku. Ayah tidak mungkin melakukan hal itu jika ia tidak menyayangiku.

Pikiran Olivia dipenuhi berbagai dugaan-dugaan buruk tentang ayahnya, namun sebisa mungkin ia menyangkal semua itu karena ia tahu ayahnya sangat menyayanginya. Walau pikirannya masih bingung dan kacau, ia tetap berusaha menghilangkan hal-hal buruk menyangkut sikap ayahnya.

“Ah! Itu Raja Arc! Ayo kita ke sana!” Seru gadis bergaun cokelat.

Olivia mengalihkan pandangannya menuju panggung kecil yang ada di tengah kota dihiasi berbagai macam renda dan pita warna-warni di atasnya. Raja Arc dan putri Freya berdiri di sana nampak sangat bahagia. Dari kejauhan Olivia mengamati kedua orang itu.

“Hari ini kita merayakan hari ulang tahun putri kesayanganku yang ke dua puluh, putri Freya, satu-satunya putri yang akan mewarisi tahtaku dan menggantikan posisiku untuk memerintah kerajaan Hutan ini. Aku harap kalian semua memberikan doa dan restu kalian kepada putri Freya. Aku juga ingin mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada putriku dan inilah hadiah yang bisa kupersembahkan untukmu.”

Raja Arc mengangkat tangannya ke udara, sesuai aba-abanya dalam sekejap seluruh penerangan di tempat itu meredup dan samar-samar terlihat penerangan lain yang datang dari arah Istana. Seluruh Istana berkelap-kelip karena lampion-lampion yang dilepaskan untuk menyambut hari kelahiran putri Freya. Jumlahnya sekitar ratusan.

“Aku sudah mempersiapkannya seharian ini, kuharap kau menyukainya.” Ujar Raja kepada putrinya itu.

“Ini sangat indah, terima kasih ayah. Ini hadiah yang paling indah di hari ulang tahunku.” Balas Freya sambil memeluk ayahnya erat.

Semua orang menikmati acara perayaan itu. Semua orang, kecuali Olivia. Gadis itu hanya menatap tanpa ekspresi ke arah ayah dan kakaknya. Pikirannya semakin kacau dan dugaan-dugaan buruk itu muncul lagi memenuhi kepalanya. Olivia memegang kepalanya yang terasa sakit hingga ia mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Napasnya mulai tidak teratur dan ia mulai kehilangan kesadarannya. Olivia memutuskan untuk pergi dari tempat itu agar ayah dan kakaknya tidak menyadari keberadaanya. Semakin cepat ia sampai ke ruangannya, maka akan semakin baik.
Gadis itu berjalan menjauh dari kerumunan, berlari secepat mungkin hingga tanpa sadar kakinya sudah tidak menapak bumi lagi. Sayap yang entah sejak kapan muncul itu membawa Olivia menuju ruangannya dengan cepat. Tubuhnya langsung ambruk sesaat ia tiba di ruangannya. Olivia tidak sadarkan diri.

.....

Read previous post:  
25
points
(1259 words) posted by kaochanisa 4 years 12 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | black | fantasy | odile | swan lake
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Your Black Side (2) (4 years 6 weeks ago)
100

Ahh, semakin menarik. .

Writer autumn205
autumn205 at Your Black Side (2) (4 years 10 weeks ago)
70

Ah, kupikir Olivia bakal muncul dan merusak pestanya Freya. Wah, padahal kayaknya seru. Sip, lanjut ke chap tiga :D

Writer hidden pen
hidden pen at Your Black Side (2) (4 years 12 weeks ago)
80

Sekarang mengisahkan masa lalu olivia ya. kasihan sih. ehm ehm jika ini dilanjutkan ampe berapa chapter ya. haha

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (2) (4 years 12 weeks ago)

Belum tau sampai berapa chapter. Tapi karena ini short story jadinya ga akan banyak.. hehe.. terima kasih...