Monopoli Kesukaanku

Aku suka sekali main monopoli sama Kakak.

Bukan kok, bukan monopoli yang sering ada di televisi. Aku malah kurang paham kenapa monopoli bisa masuk berita pagi. Apa monopoli di sana lebih menyenangkan dari yang sering kumainkan?

Meski begitu, aku tetap saja suka main monopoli sama Kakak.

Kakak juga begitu, tiap hari dia selalu menemaniku bermain. Mau hujan, mau panas, mau mati listrik. Kakak bahkan pernah main sambil tidur. Aku suka pas dia mengantuk, pasti aku yang menang.

Hehe.

Tapi kalau pagi-pagi, aku tidak bisa main monopoli. Kakak sekolah. Mama belanja. Papa kerja. Adik masih di dalam kandungan. Aku jadi sedih, monopoli tidak bisa dimainkan sendirian.

Aku tak punya teman soalnya.

Bukannya di kompleks sini tidak ada anak seumuranku, sih. Cuma Mama sering melarangku main keluar. Katanya lagi banyak pembunuhan di luar sana. Serem ih!

Aku tahu dong kalau pembunuhan itu serem. Kata Mama, kalau dibunuh aku tidak bisa main monopoli lagi sama Kakak. Uhhh, bikin takut aja!

Makanya aku selalu di rumah.

Kalau rumah lagi kosong, biasanya aku nonton televisi. Acaranya bagus-bagus loh kalau pagi-pagi begini. Ada kartun, ada robot, ada juga berita monopoli. Tapi aku kurang paham sama apa yang diomongin si pembawa acara. Jadi langsung aku pindah salurannya.

Sama kayak pagi ini.

Mama belanja, Kakak sekolah, Adik masih di kandungan. Oh ya, aku lupa bilang. Papa hari ini pulangnya cepat. Ah, salah. Yang bener tuh ya, Papa baru pulang sejak semalaman kerja. Iya, biasanya Papa kalau pulang pagi selalu langsung masuk kamar terus tidur.

Aku sebenarnya pengen mengajaknya main monopoli, tapi takut dimarahi.

Soalnya, tiap kali aku mengetuk pintu kamarnya, Papa selalu saja sibuk mengobrol.

“Terus! Goyang yang kenceng—ah!” seperti itu biasanya.

Lalu aku juga bisa mendengar—belakangan aku baru tahu itu suara Tante sebelah—yang mengobrol dengan Papa teriak. “Aku… aku mau keluar, Mas. Ahh… aaaahhhh!”

Walaupun begitu, Tante sebelah pasti keluar dari kamar Papa sejam kemudian. Aku heran deh, sejak kapan dia masuk ke rumah ya? Tapi yang paling bikin aku kecewa itu si Papa yang pasti tidur kalau Tante sebelah sudah pergi.

Aku jadi tidak bisa main monopoli deh.

Tapi tak apa lah. Toh yang belikan aku monopoli Papa juga. Jadi aku sayaang banget sama Papa. Tanpa Papa aku tak bisa main monopoli.

Aku puji Papa kalau ada maunya, ya? Ehehehe.

Oh, ya, ngomong-ngomong Mama juga sama kayak Papa. Pasti sibuk sepulang dari belanja. Mama suka masak. Suka mencuci pakaian. Suka juga bersih-bersih rumah.

Mama masakannya selalu enak. Mama sering menggoreng kroket kesukaanku! Mama selalu tanya mau diisi daging apa untuk kroketku. Aku sering jawab apa aja yang penting enak. Kalau sudah begitu Mama pasti tersenyum.

Aku sayaaang sekali sama Mama.

Tapi aku sering bingung sama Mama. Suka bersih-bersih kok selalu gemetaran ya pas mengambil karet balon kecil yang diisi air di tempat sampah? Aku bahkan ikut sedih kalau lihat Mama menangis sambil memotong daging yang mau dimasak setelah bersih-bersih kamar. Mama kenapa ya?

Aku jadi takut mau mengajak Mama main monopoli.

Biasanya kalau Mama lagi menangis, dia tidak mau diganggu. Aku juga tak begitu suka main monopoli sama Mama yang lagi menangis. Nanti bisa-bisa monopoliku dibuang lagi.

Makanya aku suka main monopoli sama Kakak.

Kakak orangnya baik. Dia suka senyum ke aku. Tiap pulang sekolah, Kakak selalu mengusap lembut pipiku, terus pahaku. Geli ih, tapi aku suka. Pas main monopoli juga Kakak pasti peluk aku, sambil mengelus-elus tanganku.

Hangat.

Nyaman.

Ketika mandi, aku selalu bareng Kakak. Sebenarnya aku benci pakai sampo. Tapi sejak Kakak yang menyampo rambutku dengan lembut, aku jadi suka deh. Rasanya enak banget. Apalagi pas Kakak bantu menyabuniku. Dia sangat teliti, semua badanku dibersihkan tuntas. Bahkan sampai lubang hidung, telinga, sama lubang-lubang yang lain. Geli, hihih.

Segar banget rasanya mandi berdua.

Aku suka Kakak yang lembut sama aku, apalagi saat kami mau tidur. Hampir tiap malam dia cium bibirku. Katanya Kakak kedinginan. Tapi benar katanya, selimut kita tipis banget. Makanya aku seneng kalau kakak peluk aku pas tidur.

Begitulah keseharianku di rumah, keluarga yang paling kusayang.

 

Tapi…

Belakangan aku merasa tidak nyaman. Aneh pokoknya. Aku kurang tahu kenapa. Namun sejak Papa sama Mama pulang lebih awal dari kegiatan rutinnya, tiap hari jadi ramai sekali rasanya.

Papa Mama jadi sering teriak. Papa Mama jadi sering marah. Papa jadi sering banting gelas sama piring. Mama jadi sering nangis dan tidak lagi masak kroket. Kakak juga jadi kena bentak.

“Astaga, Nak! Kamu apain adikmu?!”

Mama tampak iba melihatku setelah berkata demikian pada Kakak, ketika kami berdua lagi mandi bareng. Kakak jadi takut sekali. Matanya melebar seperti baru saja melihat hantu. Tapi yang ada di depannya kan Mama. Kenapa Kakak sampai terkencing-kencing begitu?

“Ma, maaf , Ma! Aku khilaf!”

Bersembah sujud, Kakak berulang kali minta maaf ke Mama. Mencium kaki Mama. Menangis sedih. Bikin aku jadi pengen ikut menangis. Kenapa Kakak minta maaf? Kakak salah apa? Kakak kan cuma lagi mandiin aku.

Belum sempat menanyakan itu, Mama menarik lengan Kakak—keluar dari kamar mandi. Kakak masih berteriak minta ampun sedangkan Mama mengambil pisau dapur dari kantong celemeknya.

Sebelum menutup pintu, Mama bilang. “Sayang, kamu mandi sendiri dulu, ya? Mama mau hukum Kakakmu yang nakal ini dulu.”

Aku cuma bisa mengangguk. Mama lagi marah besar, aku sangat takut.

Apa hukuman Kakak itu membantu Mama memasak?

 

Tapi kenapa Kakak teriak-teriak begitu? Apa dia kecipratan minyak?

Meski begitu, aku kurang berani menanyakannya. Setelah mengeringkan diri, aku memakai baju dan kembali ke kamarku yang ada di dekat dapur. Menggelar kembali papan monopoli yang barusan kubereskan.

—Tidak, aku tidak mendengar Kakak berteriak minta tolong.

—Tidak, aku tidak melihat Kakak di******* pakai pis**.

—Tidak, aku tidak tahu Mama juga me***** Papa dan mero*** *****.

—Aku tidak…

… Ah.

“Ahhhhhhhhhhhh!!”

… kenapa aku berkeringat? Loh, mengapa aku menangis?

Aku melihat ke sekitar. Ini kamarku. Bajuku masih hangat. Aku masih wangi. Tapi kenapa aku ada disini? Apa aku ketiduran?

Eh? Kok aku sendirian main monopoli, mana Kakak?

“Kakak, ayo main lagi!”

Aku lari ke dapur. Mama lagi duduk di sofa. Papa duduk di meja makan. Kakak duduk di dekat kompor.

Kenapa mereka merah semua? Ada pesta lempar tomat, ya?

“Mama, aku ikutan dong lempar tomatnya!”

Mama tidak langsung memberiku tomat, bahkan menjawab saja tidak. Mama cuma gemetaran, matanya terbuka lebar melihatku.

Menangis.

Mencengkeram kedua pundakku.

Memelukku erat.

Mengelus kepalaku lembut.

“Ma, aku mau main monopoli sama Kakak. Lepasin dong.”

Mama sejenak terdiam, lalu melihatku tajam.

“Kakak lagi tidur, sayang. Besok aja yah mainnya,” kata Mama—yang bohong.

Mama bohong.

Ya, Mama kali ini bohong.

Aku tahu itu.

Mama bohong padaku.

Kakak kan…

“Itu Kakak lagi duduk di dapur. Tuh kan, Kakak juga bilang mau main monopoli. Mama kok bohong, sih? Ayo, Kak, main monopoli!”

Tapi Mama malah memelukku lagi. Lebih erat. Sampai sakit rasanya.

Lalu mengusap leherku, sebelum kemudian—

“Akh!”

—Mama menekan kuat kedua jempolnya. Sakit, Ma. Sesak.

Mama kenapa mencekikku?

Ma?

… Kenapa, Ma?

.

Read previous post:  
170
points
(904 words) posted by nereid 6 years 10 weeks ago
73.913
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | Mimpi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at Monopoli Kesukaanku (3 years 40 weeks ago)
60

Ternyata ceritanya tentang keluarga yang lagi 'rumah patah', kirain tentang permainan monopoli jenis baru atau semacemnya.

Anyway baru baca dan tetep serius, tiba-tiba ngakak nggak tau kenapa

Writer Kusanagi
Kusanagi at Monopoli Kesukaanku (4 years 14 weeks ago)
80

Cara bercerita dari sudut pandang anak kecilnya apik. :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
100

Seru :)))
Setahu saya, kalau objeknya orang, digunakan 'kepada', bukan 'pada.'
Misalnya, "Mama tampak iba melihatku setelah berkata demikian pada Kakak" menjadi "kepada Kakak."
Sudut pandang si tokoh "Aku" dimaksudkan lugu, tapi buat saya terasa dipaksakan demikian, dan kurang sesuai. Mungkin akibat beberapa bagian narasinya yang terlalu frontal ya.
Jadi penasaran sama kata-kata yang disensor di atas :))
Terus semangat nulis :)

Writer Venessa Nofiando
Venessa Nofiando at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
80

Semua konflik dalam cerita terasa oke, hanya saja kemurnian dari cerita si anak kecil itu agak ternoda.

Lalu atas dasar hukum alam, tokoh utama itu harusnya cewe yha (?)

lalu kembali ke poin awal, bagian yang :
Tidak, aku tidak mendengar Kakak berteriak minta tolong. > inilah yang terasa mencemari. mungkin kalau ini dihilangkan, jadi lebih terasa oke semua paduannya.

Writer duvernoy
duvernoy at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
80

(0___0)>>speechless saia

Writer rian
rian at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
90

Keren, keren. Menceritakan keluarga yang enggak harmonis lawat kacamata anak kecil. Udah umum sih, tapi gayanya ini menurut saya unik. Kerasa liar, terutama bagian yang disensor itu. Mungkin kalau dipikir lagi narasinya ini enggak masuk akal. Si anak sok polos padahal yang diceritakan spesifik sekali. Tapi keren sih efek yang ditimbulkan secara keseluruhan.

Writer unluckycat
unluckycat at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
70

wkakakak ada adegan begituannya lagi
lucu ini sudut pandangnya

Writer hidden pen
hidden pen at Monopoli Kesukaanku (4 years 16 weeks ago)
90

wow kukira monopoli yang itu ehm gak koq bukan apa-apa.
salam kenal nereid. dipanggil gimana neh hehe nere aja atau reid wiihh dua-duanya keren >,<

mengenainya ceritanya yang ampyuunnn aku jadi takut membayangkan kakakku yang bentar lagi mati. uuupppsss
eh ya bingung ama dialog yang kurasa begitu. apa ini puisi. ehh gak koq aku cuma semakin penasaran ama tiap paragrafnya. ya udah deh. maaf ganggu

salam

Hidden