Your Black Side (3)

Reon tiba-tiba merasa tubuhnya sangat dingin, ia tak henti-hentinya memikirkan Olivia. Ada sesuatu yang akan terjadi, begitulah menurut firasatnya. Ia pun berlari secepat yang ia bisa untuk menemui Olivia. Hari ini adalah hari penobatan Freya menjadi Ratu kerajaan Hutan dan Olivia sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Raja Arc dengan salah satu dewan kerajaan kemarin malam. Raja ingin menyembunyikan Olivia di hutan agar berita tentang Freya tidak terdengar olehnya. Ia khawatir, Olivia akan menggagalkan rencananya. Ia takut Olivia akan mengamuk jika tahu Freya adalah satu-satunya putri yang akan diangkat menjadi ratu. Tidak ada sedikit pun niat Raja untuk menyerahkan tahta itu pada Olivia karena ia tahu Olivia tidak akan bisa memimpin kerajaan dengan baik karena kekuatannya itu.

Tak lama kemudian, ia tiba di lorong ruangan Olivia. Beberapa pengawal di depan ruangan itu telihat memegangi dadanya menahan sakit. Reon pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh para pengawal itu. Ada sesuatu yang sangat besar di dalam ruangan itu. Sesuatu yang memancarkan aura kebencian yang sangat kuat hingga menusuk dada. Namun perlahan aura itu mereda, masih terasa tapi tidak terlalu kuat seperti sebelumnya. Reon pun melangkah mendekati pintu ruangan itu. Ia mengetuk pintu itu beberapa kali sambil memanggil nama Olivia. Tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu itu.

Olivia berdiri menghadap cermin dengan gaun berwarna hitam berpadu dengan warna merah. Ia terlihat sangat cantik tetapi juga menakutkan. Gadis itu menoleh ke arah Reon, menyadari kehadiran orang lain di ruangannya. Ia tersenyum, senyum yang sangat mengerikan. Kemudian gadis itu melangkah mendekati Reon. Ia menatap Reon sesaat lalu melewati laki-laki itu begitu saja dan berjalan keluar dari ruangan itu.

“Gadis itu memang terlihat seperti Olivia, tapi ia bukanlah Olivia.” Gumamnya sambil menatap kepergian gadis itu.

Olivia berjalan menyusuri lorong menuju ruang pertemuan, Reon mengikutinya jauh di belakang. Gadis itu tidak terlihat terganggu dengan kehadirannya, namun ia akan menyingkirkan siapapun yang ada di hadapannya dengan kekuatannya. Reon terkejut melihat perubahan sifat Olivia seperti itu. Olivia tidak pernah menunjukkan kekuatannya seperti itu kepada orang lain. Ia tidak pernah melukai orang lain dengan kekuatan yang ia miliki.

Mereka pun tiba di ruang pertemuan. Raja yang melihat kehadiran Olivia di tempat itu terlihat sangat murka.

“UNTUK APA LAGI KAU DATANG KE SINI?! AKU SUDAH BILANG UNTUK PERGI KE KAMARMU SAMPAI AKU MENGIZINKANMU KELUAR DARI RUANGAN ITU!”

Gadis itu tersenyum, tampak sangat berbeda dengan Olivia yang datang sebelumnya. Olivia yang sebelumnya bahkan tidak berani memandang ayahnya secara terang-terangan seperti yang sedang ia lakukan saat itu. Gadis itu berjalan perlahan mengelilingi ruangan melewati satu persatu dewan kerajaan yang ada di sana.

“Apa tidak boleh jika aku menghadiri acara penobatan kakakku tercinta? Aku ingin melihat bagaimana kau meletakkan mahkota itu di atas kepalanya. Suatu kehormatan bagi gadis sepertiku bisa melihat ratu baru kerajaan Hutan.”

“Olivia, jangan bercanda! Kembali ke kamarmu sekarang juga!”

“Kau memberi perintah padaku, ayah? Bukankah sebelumnya kau selalu memohon padaku agar aku tidak melakukan hal yang merugikan dan menyulitkanmu?” Tanya Olivia tanpa mengalihkan pandangannya dari Raja Arc.

“Apa maksudmu? Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Sudah cukup main-mainnya ayah, aku sudah bosan. Aku sudah tidak ingin menjadi mainanmu lagi. Lagipula kau juga tidak lama lagi akan berhenti menjadi seorang raja, bagaimana jika aku saja yang menggantikan posisi itu. Kurasa itu bagus. Freya tidak akan bisa menggantikan posisimu karena dia terlalu sibuk dengan semua teman-teman perinya itu.”

“Kau tidak bisa menjadi ratu, Olivia. Kau tidak dilahirkan untuk itu. Freya sudah menjalankan semua ritual yang diperlukan untuk dinobatkan menjadi seorang ratu, ia juga sudah mengenakan kalung nenek moyang kita yang diwariskan secara turun temurun kepada pemegang tahta.”

“Siapa yang mengatakan bahwa aku tidak bisa menjadi seorang ratu? Itu hanya pemikiranmu saja, ayah. Kekuatan yang kumiliki jauh lebih kuat dari yang kalian miliki. Jika saja kau memberiku kesempatan untuk melihat dan mendengar bagaimana aku hidup, kau pasti akan berpikir ulang tentang hal itu. Sayangnya kau tidak pernah melihatku, kau hanya melihat Freya yang bersinar di matamu.”

“Aku selalu melihatmu, Olivia. Kau adalah putriku juga. Aku selalu menyempatkan diri untuk bertemu denganmu.”

“Tidak ayah, kau tidak melihatnya. Kau tidak melihat betapa aku sangat menderita selama ini. Dikurung di dalam ruangan megah memang cukup menyenangkan, tapi kau membatasi ruang gerakku hingga aku kesulitan bernapas. Aku benci hal itu! Dan aku benci semua hal yang kalian lakukan bersama sedangkan aku tidak mengetahuinya!! Aku benci kalian semuaaa!!!” Jerit Olivia hingga tanpa sadar ia mengeluarkan kekuatannya dan mengubah seisi ruangan itu menjadi es.

“Olivia, hentikan!! Dengarkan aku…”

“Tidak! Kau yang harus mendengarkanku! Aku sudah cukup bersabar dengan semua ini. Aku menyayangimu tapi sayangnya kau tidak menyayangiku. Kau menyembunyikan keberadaanku dari semua orang agar rencanamu berjalan lancar. Kini, aku yang berkuasa. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang kau katakan. Kali ini, kau yang harus mengikuti apa yang aku mau!!”

“Olivia hentikan!” Seru Freya berusaha menahan kekuatan Olivia dengan kekuatannya, namun kekuatan Olivia terlalu besar hingga ia terlempar jauh ke belakang.

Dalam sekejap seisi ruangan itu beserta semua orang di dalamnya berubah menjadi es. Tak terkecuali Raja Arc. Hanya Freya saja yang tidak berubah menjadi es, namun sekujur tubuhnya penuh dengan luka.

“Apa yang kau lakukan?” Lirih Freya sambil menahan rasa sakit.

“Hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak dulu.”

“Olivia, hentikan!! Kau bisa menghancurkan seisi kerajaan jika seperti ini.” Ujar Freya.

“Lalu apa pedulimu?!!” Seru Olivia kesal, namun ia segera menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya. “Haaah… benar juga. Kau sudah menjadi ratu kerajaan ini. Tentu kau harus peduli dengan kerajaan ini, harus menjaga, melindungi, dan mencintai kerajaan ini agar rakyat mendukungmu. Kau pasti tidak akan sempat memikirkan adikmu tercinta ini terkurung di dalam ruangan sepanjang hidupnya, karena kau tidak membutuhkannya, bukan?”

“Olivia…”

“Aku mengerti kakak, aku sangaaat mengerti. Kau tidak bisa hidup tanpa cinta, sedangkan aku sudah hidup tanpa cinta. Kau gadis yang baik hati dan aku akan menjadi gadis jahatnya. Menyenangkan, bukan? Tapi saat ini, aku tidak ingin melihat rupamu. Aku merasa sangat menyedihkan saat melihat dirimu. Jangan khawatir, kau bisa tetap berada di istana ini. Jadi sebagai gantinya…”

Olivia mengayunkan tangannya ke udara, cahaya hitam mengelilingi tubuhnya begitu juga dengan tubuh Freya. Bersamaan dengan menghilangnya cahaya hitam itu dari tubuh Freya, sosoknya juga tergantikan dengan seekor marmot berwarna kecokelatan.

“Aku berbaik hati tidak mengubahmu menjadi tikus, karena aku tidak ingin kau menjadi mangsa kucing diluar sana.”

Kali ini Olivia mengangkat kedua tangannya ke udara, aura dingin sedingin es memancar dari tubuhnya. Beberapa saat kemudian, sebagian istana mulai membeku karena kekuatannya. Freya sudah melarikan diri entah kemana. Reon yang sedari tadi hanya melihat kejadian itu mulai menghampiri Olivia.

“Olivia, hentikan. Kau bisa menghancurkan istana dengan kekuatanmu.” Ujarnya namun gadis itu tampak tidak mendengar kata-katanya.

“Olivia, bukan ini yang kau inginkan. Kau tidak ingin menggunakan kekuatanmu untuk kejahatan. Kau bukanlah gadis jahat. Dengarkan kata hatimu. Kau tidak menginginkan hal ini terjadi.” Seru Reon lagi. Olivia mulai terlihat terganggu, tapi hal itu belum cukup untuk menghentikan kekuatannya.

Reon memaksakan diri untuk mendekati Olivia walau tubuhnya terdorong dengan sangat kuat. “Olivia, bukankah kau ingin memiliki teman? Jika seperti ini mereka akan terluka. Kau tidak ingin melukai mereka dengan kekuatanmu, kan?”

Kekuatan Olivia perlahan-lahan melemah dan Reon mulai bisa mendekatinya. Ia merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya, menenangkan gadis itu agar tidak kehilangan kendali emosi dalam dirinya. Gadis itu menangis, dalam diam air matanya terus mengalir tanpa henti.

“Aku benci mereka semua, mereka yang membuat aku seperti ini. Mereka yang mengambil kebebasan dariku, mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku di tempat ini. Semua yang kulakukan ini masih tidak ada apa-apanya disbanding dengan yang mereka lakukan padaku.”

Olivia mengangkat wajahnya dan menatap wajah Reon yang perlahan melepaskan pelukannya. “Kau satu-satunya orang yang selalu ada disisiku. Disaat seperti ini kau bahkan tidak lari dariku. Reon, ini perintah. Jadilah pelayanku.”

Reon tertegun menatap mata Olivia yang begitu tajam. Tidak ada kebencian atau kemarahan disana, kesedihan karena telah melakukan hal di luar kendalinya pun menghilang, semuanya seakan sirna. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan gadis di hadapannya karena sorot matanya tampak sangat mengerikan. Tanpa ekspresi, tanpa senyum di wajahnya. Olivia terlihat sangat berbeda

Tanpa Reon sadari, ia sudah berlutut di hadapan Olivia. Ia tidak ragu sedikit pun untuk mengikuti perintah gadis itu dan ia memang ingin selalu berada di sisinya. Reon tidak akan meninggalkan Olivia. Ia yang akan menenangkan Olivia saat gadis itu mulai kehilangan kendali. Apapun yang terjadi, ia tidak akan berpaling dari Olivia walau nyawa taruhannya.

“Saya bersedia, nona.”

●◦●◦●

Read previous post:  
25
points
(1551 words) posted by kaochanisa 4 years 13 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | black | fantasy | swan lake | white
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Your Black Side (3) (4 years 6 weeks ago)
100

Ahh, keren. .
Emang tuh raja dan Freya jahat banget.
Bisa-bisanya bahagia sendirian.

Writer hidden pen
hidden pen at Your Black Side (3) (4 years 10 weeks ago)
90

uhuk, aku lupa mengunjungi lagi. maaf maaf hihihi
hhhmm sekarang sudah dimulai..

dan dimulailah bibit kebencian yang akan tumbuh karena
pertengkaran kakak beradik
IIIHHH olivia sereeemmm uueeeyyy
engg marmut ? kasihan freya.

Writer tashalia
tashalia at Your Black Side (3) (4 years 10 weeks ago)
Writer autumn205
autumn205 at Your Black Side (3) (4 years 10 weeks ago)
80

Sip, keren gan. Olivia memang harus protes dan badass. Hitam dan merah menyala dan gothic. Dan pelayan seperti ini mengingatkanku sama Sebastiannya Black Buttler.
Aku suka dengan penggambaran semua orang seakan mencoba menghilangkan Olivia, meminta dan menyuruhnya untuk tidak menyulitkan mereka karena itu jahat. Olivia punya keinginan dan kegelapan sendiri, dia harus dipandang. Dia kesepian.
.
Ini masih ada terusannya kan?

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (3) (4 years 10 weeks ago)

terima kasih atas commentnya.. ini masih ada kelanjutannya, ditunggu saja yaaa...

Writer Zack
Zack at Your Black Side (3) (4 years 11 weeks ago)
50

menarik

Writer MM99zet
MM99zet at Your Black Side (3) (4 years 12 weeks ago)

Mampir baca :D gan

Writer Xeinth
Xeinth at Your Black Side (3) (4 years 12 weeks ago)
90

Ceritanya menarik dan saya jadi terbawa suasananya. Jika boleh menimpali, bagaimana jika ditambahkan keterangan penampilan tokoh? Terima kasih.

Writer kaochanisa
kaochanisa at Your Black Side (3) (4 years 12 weeks ago)

Terima kasih untuk saran dan komentarnya... untuk keterangan penampilan tokoh akan aku usahakan ya..