Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC

Halo.

Apa kabar kalian? Baik? Baguslah.

Temanku meminta cerita lain selain cerita bando kucing. Menurutku ini permintaan aneh, sebab ia tidak percaya pada cerita tersebut. Jadi untuk apa dia meminta cerita lain yang temanya serupa?

Tapi sudahlah. Toh aku memang punya cerita baru.

Kejadian kali ini melibatkan mimpi, kostum-kostum saduran Dusney, dan muntah. Sungguhan, benar-benar kota pembawa sial. Belum dua bulan sejak kejadian itu, aku sudah kena masalah aneh lagi.

Kejadian ini aku percaya dimulai dari sepupuku yang muntah di kamar mandi. Aku tahu itu sepupuku, sebab hanya dia selain aku yang tinggal di rumah ini--rumah yang besar, terlalu besar untuk ditempati seorang pengangguran (si sepupu, mahasiswa abadi tahun ke enam) dan seorang penumpang (aku, yang sebenarnya diminta sebagai mata-mata oleh orang tua si mahasiswa abadi). Satu pembantu sewaan datang tiap Senin dan Kamis, sehingga tempat ini tidak pernah benar-benar menjadi istana laba-laba atau sarang dua jomblo yang jarang mandi.

Aku menunggu beberapa detik sebelum menghampirinya ke kamar mandi. Apabila tidak terdengar guyuran, aku harus siap-siap untuk melihat (dan kemudian–argh-membersihkan) bercak-bercak kuning yang meleset dari lubang toilet. Kenapa aku sebaik ini? Ingat pembaca budiman, aku masih punya kewajiban selain pada ibunya, juga keluarga besar kami.

Ketika akhirnya aku melihat ke dalam kamar mandi, aku harus memikirkan satu hal bagus yang sangat kusukai agar isi perutku tidak ikut keluar. (Aku membayangkan pizza american cheeseburger penuh keju dan saus mustard; yang langsung kusesali karena bercak-bercak di dinding, lantai, pinggiran kloset, dan seluruh bagian depan baju sepupuku, berwarna persis sama dengan keju dan mustard pizza tersebut).

Dia sendiri sedang terkapar di lantai kamar mandi, terlalu mokat untuk mengguyur keluaran isi perutnya sendiri. Aku memanggilnya sekali. Matanya separuh terbuka sehingga aku yakin dia bisa melihatku di ambang pintu. Tapi lalu aku sadar bagian matanya yang terbuka hanya tampak putihnya saja, menandakan ia jelas-jelas tak sadarkan diri. Kemudian ia mengeluarkan suara seperti kucing menelan tulang, dan mengerangkan, dengan sangat samar, mahhrrriiiiiiii ....

Aku langsung paham masalahnya. Pacar. Bahkan mungkin bukan pacar. Cuma seorang perempuan yang bahkan ia belum tahu nomor teleponnya. Diikuti pertemuan, perkenalan, perbincangan, langkah gagal dalam pendekatan. Berakhir dengan satu krat bir kaleng murah dan kencan romantis dengan lubang toilet.

Aku kembali ke kamar, mengambil baju bersih, celana bersih, sebotol air minum. Aku memanaskan air di dapur dan membuat seember air hangat, lalu kembali dan mengguyurkannya ke kepalanya (aku memang baik, sabar, dan rajin menabung, tapi tidak sebaik itu). Begitu mendapatkan kesadarannya, aku memaksanya membuka baju dan celananya, lalu mengguyurnya lagi. Akhirnya selesai memakai baju dan celana baru, dia berhasil kuseret keluar kamar mandi. Dengan seember air sabun wangi hutan cemara, aku membersihkan seluruh bukti berbercak kuning dalam kamar mandi itu. Pengguna kamar mandi berikutnya berhutang SANGAT besar padaku.

Ketika aku sedang bebersih itulah, aku menemukan kartu nama. Plastik, sehingga tidak kisut. Selain gambar abstrak yang mungkin adalah ayam atau sapi terpanggang, ada nama sebuah restoran di depannya.

Lalu aku mendengar suara erangan mengerikan.

“Aku harus pergi kerja,” kata sepupuku, (tepatnya, secara teknis, dia mengatakan “aggusgirjaa”). Aku menemukannya terkapar menyedihkan di atas kasur dengan mata tertutup, sehingga mudah mengira ia sedang tertidur sambil mengigau, seandainya bau muntahan tidak tersisa pada tubuhnya.

“Kamu? Kerja?” Kataku sebagai sepupu berhati dingin yang tidak pengertian pada keadaan saudara sekamarnya.

“Aggusgirjadauittt,” kurang lebih artinya, “Aku harus pergi kerja agar dapat duit.”

Lalu aku teringat pada buntelan menjijikkan yang kumasukkan ke dalam keranjang baju kotor. Warnanya putih normal, sementara baju-bajunya selalu berwarna stabilo, karena menurutnya itu menandakan ia orang yang penuh warna. Dia hanya memakai baju normal kalau harus melakukan sesuatu yang biasa dilakukan orang normal. Kerja, adalah salah satunya.

“Nggaaahhhh ... sss.” Yang itu tak ada arti. Itu hanya tanda akhirnya ia tertidur.

Lalu ponselnya menyala. Sebagai saudara yang baik, aku menggantikan mengangkatnya. Nama yang tertera di ponsel itu adalah “Setan”. Begitu aku menekan tombol hijau, suara seorang wanita yang menunjukkan tingkat edukasi terakhirnya menyambutku:

“Kamu kemarin lari ke mana, bocah?! Malam ini kalau kau tidak datang, tidak usah datang lagi!”

Dan ia memutusnya sebelum aku sempat menjelaskan apa-apa. Benar-benar wanita yang luar biasa.

“Sori ..”

Nah, suara ini terlalu jelas, sampai kukira sepupuku terbangun karena suara telepon tadi. Tapi ia masih nyenyak. Hanya kali ini suara igauannya lebih jelas.

“Aku akan bayar bantu kamu ..”

Sepupuku ini, tidak terlalu cerdas, tetapi ia memiliki apa yang sinetron-sinetron jaman sekarang sebut sebagai “hati yang baik”. Walau bagiku, itu artinya kecenderungan untuk terlalu melibatkan diri dalam penderitaan orang lain dan ketidakmampuan untuk memisahkan kepentingan diri sendiri dengan orang lain.

Tapi aku bukan dia, dan aku tidak tahu siapa yang ingin dia bantu. Aku punya hak untuk pura-pura tidak mendengar semua ini.

Tapi aku terlalu mengenalnya, dan aku akan menyesali keputusan diam tadi dalam satu minggu ke depan, setiap malam, dari jam 1 malam sampai 6 pagi.

Aku tidak mau mengorbankan waktu tidurku.

Aku memutuskan untuk membantunya.

 

Aku tidak bisa paham kenapa: di pinggiran kota ini; di mana bangunan-bangunan lain adalah ruko kosong tiga lantai dengan spanduk “dijual” yang sudah kusam; berada tepat di depan parit berair hitam (entah kenapa firasatku benar-benar tidak enak pada parit itu, seolah ada makhluk pemakan anjing tinggal di dalamnya), yang aku yakin penuh bangkai hewan mengambang di dalamnya--bisa berdiri sebuah restoran cepat saji “Ciken Fred Ciken”. (Perhatian, ini bukan salah ketik.)

Sesuai tebakan, hampir isinya kosong. Hanya ada dua pengunjung, yang tampak ragu dengan makanan yang mereka santap. Beberapa anak-anak tengah menenggelamkan diri di kolam bola kecil di ujung ruangan. Mereka satu-satunya sumber suara di restoran tersebut, selain radio yang menyiarkan lagu-lagu keroncong tahun 80an.

Aku meminta bertemu langsung dengan si manajer dari telepon pada salah satu pegawai yang tampak selesu hari Senin. Wanita itu keluar dari pintu yang bertuliskan “Hanya Karyawan”. Ia meleset dari bayanganku: tingginya sejajar mataku, celananya kain hitam, scarf kuning menyampiri bahu, dan umurnya dapat dipastikan lebih dari lima puluh tahun. Tapi tidak salah lagi, dari suaranya, itulah si Setan.

“Saya tidak peduli kamu sepupu atau adiknya, yang penting, pekerjaanmu harus dilakukan saat ini juga. Masuk ruang kostum, ganti pakaianmu, hibur anak-anak. Ingat, kesedihan anak, adalah kesedihan pegawai juga.”

Benar-benar wanita yang luar biasa. Aku yakin hubungan keluarganya pastilah erat. Seerat ancaman perintahnya.

Jadi inilah pekerjaanku, memakai salah satu kostum ‘saduran’ kartun kesayangan kita semua: Donul Bebek, Meki Tikus, Guffy, dan kawan-kawan lainnya. (Hak cipta masing-masing karakter dipegang oleh Dusney).

... Oke, aku bohong. Lebih tepatnya, kostum-kostum ini adalah versi horor dari karakter-karakter kartun barusan. Mulai dari senyum, gigi, mata, semuanya terasa mati. Tidak ada undangan pertemanan dan keramahtamahan dari wajah kostum-kostum di depanku ini. Mereka semua tampak membenci makhluk hidup. Apalagi anak-anak. Bila dijadikan tokoh kartun sungguhan, kemungkinan besar mereka tidak segan-segan memakan bayi sebagai camilan siang.

Sebelum memakai kostum itu, aku menemukan horor pertama. Aku menemukan tonjolan yang berada di antara telunjuk dan ibu jariku (di dalam sarung tangan yang ... aku yakin itu bukan jamur, yang bikin gatal ini), yang ketika kutekan menimbulkan suara: “HALO, ANAK-ANAK!! SELAMAT DATANG DI CIKEN FRED CIKEN, RESTORAN KESUKAAN AYAM KITA SEMUA!!” Ini harus dilakukan setiap kali ada pengunjung datang. Aku heran belum ada pengunjung yang menjerit-jerit lalu melempar kitab suci mereka kepada kostum ini.

Dialog itu belum bagian paling buruk. Speaker itu berada di bagian mulut kostum, sehingga pengguna kostum seolah dipaksa untuk mengatakan hal yang tidak ingin mereka katakan. Rasanya sekotor harus berbohong setelah bersumpah atas nama Yang Maha Kuasa. Semoga aku tidak masuk ke neraka gara-gara ini.

Bagian paling mengerikannya baru kuketahui ketika aku keluar. Entah kenapa, anak-anak tidak takut pada kostum tersebut. Sama sekali tidak. Mereka malah menyukainya. Menyukainya, dalam arti objek bulan-bulanan, siksaan, apapun yang membuat saraf psikopatik setan-setan kecil ini terangsang.

Bila ada yang mau protes kenapa aku mengomel sejak awal cerita (dasar tidak tahu terima kasih banyak anak-anak kelaparan di Afrika tahu), maka mereka sebaiknya mencoba sendiri bekerja sebagai maskot hasil plagiat Dusney. Cobalah menerima pijakan kaki bocah-bocah tengil ini selama lima jam sehari, dan setelah itu pikirkan apa pacarmu layak menerima cincin berlian imitasi yang kau belikan untuknya dari hasil kerja ini.

Tapi, selain daripada itu, pekerjaan ini cocok untuk yang ingin kurus (akibat stres dan banjir keringat), untuk yang ingin menabung pahala kesabaran dari agamanya masing-masing, dan untuk merenungkan apa salahmu sehingga nasib membuatmu terdampar di tempat ini.

Lalu saat aku melakukan semua itu (terutama yang ketiga), kakiku terjegal sesuatu. Aku jatuh dan-- YA TUHAN YA TUHAN NAMPANNYA MAU JATUH AH SIAL SIAL SIAL AAAAHHHH—aku berhasil menangkapnya.

Tapi seorang rekan kerjaku (yang sedang jadi Weni Poh) terdorong olehku, dan ia jatuh dengan kepala terantuk pada tembok. Ia tak bergerak lagi setelahnya. Panik, nampan itu kuberikan pada entah siapa (sepertinya seorang pengunjung yang menatap kebingungan begitu menerima nampan gratis dari Meki Tikus), lalu aku membuka kepala kostum yang rekan seperjuanganku pakai.

Wajahnya, wahai pembaca, berwarna hijau. Bukan hijau kamuflase, bukan hijau poison ivy, tapi hijau yang menurut serial CSI adalah efek samping akibat kekurangan oksigen.

Tambahkan satu resiko lagi untuk pekerjaan ini: mati kehabisan oksigen.

“Ada apa ini?” Suara si Setan mendekatiku. Buru-buru aku berdiri dan tanpa sengaja malah ikut menekan tombol keparat di antara kedua tanganku sehingga saat aku berusaha menjelaskan, mulut itu malah berkata “HALO, ANAK-ANAK!! SELAMAT DATANG DI CIKEN FRED CIKEN, RESTORAN KESUKAAN AYAM KITA SEMUA!!” Anak-anak di sekitarku tertawa. Beberapa orang dewasa yang tidak simpatik ikut tertawa. Wanita di depanku ... tampak seperti keterbalikan dari segala ciptaan Tuhan yang indah-indah dan berpelangi di dunia ini.

 

Sungguh ajaib aku tidak langsung didepak dari tempat itu. Aku diperbolehkan membawa rekanku ke kamar belakang setelah menerima sengatan mata sang manajer.

Setelah melepas kostumku sendiri, aku membantu melepas kostum milik rekanku (dalam sehari ini aku telah menanggalkan baju dua orang. Benar-benar pencapaian yang membanggakan dalam hidupku sebagai orang dewasa), dan membetulkan posisi rebahnya. Dia belum sadarkan diri, maka aku menuang air ke tanganku lalu memercikkan ke wajahnya. Mungkin dia juga kesurupan, dan air ini bisa membantu kesurupannya hilang.

Dia belum sadarkan diri. Aku menimbang-nimbang apakah perlu memberinya nafas buatan (untunglah di tempat ini tersedia banyak sedotan), namun ternyata ia perlahan-lahan membuka matanya.

Dan kata-kata pertamanya adalah: “Bilang pada setan itu, aku mau berhenti kerja.”

Otakku berputar cepat. Tidak ada rekan, berarti ada kemungkinan upahku diperbanyak. Lebih banyak upah, berarti lebih cepat aku bisa kabur dari tempat mengerikan ini. Dan orang ini juga keparat; seenaknya mengambil dua wilayah parkir motor untuk dirinya sendiri. Jadi aku lumayan diuntungkan dengan resolusinya yang dadakan ini.

Tetapi tanpa rekan ...

Berarti tinggal aku yang menjadi maskot.

Tinggal aku sasaran setan-setan kecil itu memuaskan hasrat psikopatik mereka.

Hebat.

 

Akhirnya sampai jam pulang, aku bersarang di sebelah pintu masuk dan menekan tombol terkutuk itu setiap ada anak-anak mendekat atau pintu dibuka. Selama itu aku menahan serangan demi serangan anak-anak hiperaktif yang semakin banyak. Pikiranku mulai memiliki kesadarannya sendiri. Kenapa bocah-bocah ini bisa berdatangan di tengah malam dan kenapa mereka lincahnya minta ampun ya ampun kalian harus sekolah besok pagi kenapa orang tua kalian membawa kalian ke sini kenapa Silent Hills sampai tidak jadi dibuat--dan tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib. Aku melirik jam. Jam setengah enam pagi.

Entah sejak kapan, restoran itu telah kosong.

“Hei.” Aku dikejutkan kedatangan si manajer di sebelah kiriku. Wajahnya tampak lebih ... cerah? Nampaknya pendapatan malam itu lumayan untuknya.

“Datang lagi nanti malam. Dan sebelum pulang, bersihkan topeng temanmu. Dia muntah di dalamnya.”

Ini pasti yang orang-orang sebut sebagai karma. Walau aku merasa hal itu sangat tak adil karena aku tak ingat pernah memuntahi karpet orang lain sehingga aku harus mendapat balasan nasib seperti ini. Argh.

 

Ketika aku pulang (fajar hari ternyata waktu yang lumayan menyegarkan dan menyenangkan untuk dijelajahi dengan motor. Kecuali kalau ternyata motor yang mengikutimu sejak dua tikungan lalu dinaiki oleh dua orang bercelurit), aku menuju kamar dan melihat kamar sepupuku ... kosong.

Tenang. Ini kejadian yang sepenuhnya normal. Kemungkinan besar ia sedang tersengat keinginan untuk menulis lirik-lirik lagu barunya di tepi dermaga entah di mana, atau sekedar diculik alien dan diajak berjalan-jalan ke sebuah kota berbukit sunyi atau ...

... aku terlalu mengantuk sehingga tidak melihat catatan yang ditinggalkan di atas meja.

Ke MecDonel. Inspirasi menghantui. Nanti kubelikan kopi.

Tidak ada satupun terima kasih untuk bantuanku menggantikan kerja sampingannya? Aku ingin membakar surat itu tapi lalu tersadar dia mungkin bahkan tidak tahu aku menggantikan pekerjaan sampingannya di CFC kawe sejuta.

Jadi buat apa aku melakukan itu semalam penuh? Argh.

Akhirnya aku masuk kamar, hanya mengganti baju seadanya (persetan mandi; terlalu dingin) lalu tumbang di atas tempat tidur seperti sekarung kentang.

Tertidur ....

Dan bermimpi.

 

Aku sedang melihat melalui sebuah topeng. Topeng yang sama dengan yang kupakai di restoran gadungan tersebut. Tetapi ada yang berbeda. Lampu-lampu mati. Segalanya gelap, terlapis bayang-bayang. Di luar sedang hujan.

Restoran itu berantakan. Meja-meja terbalik. Nampan-nampam berserakan di lantai. Beberapa piring dan gelas kertas bertebaran terinjak-injak sampai hampir menjadi satu dengan lantai.

Di dalamku, ada seseorang. Aku tidak bisa tahu kenapa bisa begitu, tetapi aku bisa mendengar nafasnya. Terputus-putus. Ketakutan.

Dia sedang dikejar sesuatu.

Lalu aku mendengar suara dari arah ... ruang karyawan? Aku tidak bisa menggerakkan kepalaku. Tapi aku bisa mendengar sesuatu. Yang membawa sesuatu yang berkilat. Dan tertawa. Seperti orang gila.

Mendadak, sepasang mata membelalak lebar menatap tepat kepadaku.

Bagian perutku terasa ... dingin.

Ada suara jeritan anak kecil.

Lalu aku terbangun.

 

Aku hampir tidak mengenali tempat yang sudah beberapa bulan aku tempati ini. Di luar, matahari sudah tinggi. Sedikit condong menuju barat. Menurut pengalamanku tersiksa matahari selama 25 tahun, sekarang pasti sudah jam 1 siang.

Aku keluar. Sepupuku belum kembali. Aku mengambil apapun yang di atas meja (roti blueberry berumur dua hari) dan memakannya dengan tidak berselera.

Biasanya mimpi tidak bertahan lama. Tapi beberapa mimpi memaksa diingat lebih lama dari seharusnya. Seperti pacar yang tak rela diputuskan. Selama aku memakan roti itu (yang baru aku ingat kalau sebenarnya berumur tiga hari, tapi tak ada tanda-tanda penjamuran jadi aku melahapnya sampai habis), aku masih bisa membayangkan tempat itu dengan jelas. Restoran yang berantakan ... suara tertawa orang gila ... anak kecil yang menjerit ... sesuatu yang terasa dingin di perutku ....

Dan aku teringat si Setan belum memberi upah untuk jasaku di malam sebelumnya.

Anjing.

 

Malam datang, dan aku kembali. Restoran itu kosong, seperti biasa. Aku tiba di jam sebelas, sejam lebih cepat dari jadwal seharusnya. Setan tidak tampak senang melihatku tiba lebih cepat dari jadwal seharusnya. Mungkin dia tidak rela memberi upah tambahan pada pekerja yang kelewat rajin.

“Tidak ada upah tambahan untukmu.”

Nah benar kan. Tapi bukan itu tujuanku datang cepat.

“Tidak apa, saya hanya ingin minta upa—“

“Hei hei hei,” Setan berpaling kepada pekerja malang yang sedang melap meja, “Semprotnya berapa kali tadi? Empat? Dasar boros. Pantas saja kamu hanya kerja jadi pelayan. Hitung berapa pengeluaran untuk sabun saja nggak bisa. Sekali saja cukup!”

Lalu matanya yang mampu membuat batu menjadi pasir itu berbalik padaku, “Tadi mau bilang apa?”

“Tidak apa-apa”, kataku, memasang senyum munafikku yang terbaik, “Saya bersiap-siap dulu di ruang karyawan.”

“Buat apa ngomong kalau nggak selesai?” Setan lalu pergi ke dapur untuk menyiksa kru bagian penggorengan.

Mungkin inilah alasan orang-orang memeluk agama. Agar ketika kita tidak melaksanakan godaan membunuh siapapun, bisa dihitung sebagai pahala masuk surga. Sambil menghitung tabungan pahalaku selama bekerja di sana, aku masuk ke dalam ruang kostum dan memilih karakter yang paling mengerikan. Setidaknya malam ini akan seru kalau ada pengunjung yang menyiramku dengan Air Suci.

~

Pengunjung telah mendapatkan makanan mereka. Anak-anak berjumpalitan di kolam bola. Kostumku mulai panas dan berbau keringat. Kakiku sakit akibat dipijak entah berapa orang anak kecil (auw), dan seorang wanita berbadan besar bersepatu hak tinggi (AUW).

Namun ada yang berbeda, dan terasa ... aneh.

Aku merinding.

Di luar hujan, kenapa anak-anak itu tetap berdatangan? Kenapa jumlah orang dewasa yang ada tidak proporsional dengan jumlah anak kecilnya? Kenapa banyak dari mereka yang memakai baju-baju bagus seakan hendak mendatangi sebuah pesta ulang tahun, bukannya makan di restoran keluarga biasa?

Mendadak, terdengar adzan maghrib.

Aku seperti tersadar dari mimpi. Aku menengok ke sekitar, dan restoran itu kembali kosong. Entah sejak kapan. Tanpa kusadari sama sekali.

Setan itu datang ke arahku. Tapi sebelum dia berbicara aku telah membuka mulut, “Saya ingin digaji hari ini juga.”

Wajahnya demikian masam hingga dapat membuat besi berkarat dalam hitungan detik.

“Kontrakmu masih sisa besok. Tidak kerja, tidak ada gaji.”

 

Dan begitulah. Aku pulang dengan tangan kosong. Serta tubuh penuh keringat yang harus aku bilas sebelum tidur.

Tapi itu tak kulakukan. Aku tidak sanggup menahan kantuk yang terasa lebih parah dari malam sebelumnya.

Begitu sampai rumah, aku tidak mengecek sepupuku sudah ada atau belum. Aku segera tertidur begitu menyentuh kasur.

 

Kali ini, mereka ada banyak.

Mereka ada banyak dan akan membantunya melawan.

Dia akan datang. Dia akan mencari yang tertinggal. Yang tidak pernah ditemukan.

Selama tidak ditemukan, dia akan tetap kembali.

 

Ketika aku bangun, aku kehilangan arah waktu. Apakah sekarang sudah sore, atau masih pagi? Aku melirik jam. Menunjuk pada pukul tiga. Masih sore. Tapi aku merasa seperti baru tidur satu jam. Itu pun setelah dipaksa bangun oleh lagu-lagu beatmix yang dipasang tetangga.

Aku menyeret tubuhku keluar, mencari sepupuku seperti saudara yang baik. Tapi dia tidak ada, di kamar mandi, ruang makan, kamar tidur, dapur, gudang, beranda, halaman, atap genteng. Sekarang aku khawatir akan menerima panggilan dari kantor polisi untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Telepon rumah sungguhan berdering. Aku menduga itu: 60% polisi, 25% ibunya, 10% salah sambung dan tawaran kartu kredit, 5% sepupuku sendiri, 5% sisanya membuktikan Magic is Real. Aku mengangkatnya dan suara seorang lelaki yang tak kukenal menjawabnya,

“Ah, halo? Halo? Siapa ini ya?”

Inilah, pembaca budiman, yang membuatku tidak heran kenapa negara ini tidak maju-maju terus. Kenapa, bisa ada orang bertanya dengan siapa dia berbicara, bila dia bisa menekan nomor telepon yang dia tuju.

“Mencari siapa ya?”

“Ini dengan yang kerja di Ciken Fred Ciken?” (Aku benar-benar ingin menangis mendengar seseorang mengucapkan nama restoran itu dengan tepat.)

“Ini sia-”

“Nanti malam restoran tutup. Hari ini tidak usah kerja.”

Lalu dia menutup telepon itu.

Apa ini. Tiba-tiba aku dipecat?

Halleluya.

Tapi lalu aku tersadar, belum menerima upah. Tapi apa aku mau kembali demi upah? Aku tidak yakin setelah melihat mimpi yang tadi ...

Lalu aku teringat wajah si Setan. Aku tidak ingin membiarkan wajah itu tersenyum berkat berkurangnya pengeluaran wajib. Terlebih lagi, dia sudah berjanji akan membayarku.

Maka aku pergi malam itu lagi.

 

Papan gantung bertuliskan “Tutup” terpasang di pintu restoran itu. Setidaknya, lampu depannya menyala.

Tapi yang membuatku heran adalah, pintu masuk belakang yang berada di lorong sempit samping gedung tidak terkunci. Hal itu berarti, di dalam gedung ini ada seseorang. Pikiranku yang positif mengatakan itu si Setan, sedang menghitung pemasukannya yang tidak seberapa untuk beberapa hari terakhir.

Tidak kusangka itu adalah salah satu keputusan terburuk yang seumur hidup pernah kuambil, selain memakai bando kucing dan memberi makan anjing peliharaan paman.

Ketika aku sudah sampai ruangan kostum, lampu mati.

Lampu mati, saudara-saudari sekalian, adalah salah satu syarat utama untuk film-film horor yang realistis. Kesunyian di tempat itu hanya dapat dikalahkan oleh tengah malam di pekuburan, atau perpustakaan yang profesional. Terdengar lolongan anjing di kejauhan. Umpatan mabuk preman setempat. Geledek di suatu tempat di cakrawala.

Hal ini diperburuk dengan kelalaian konyol. Aku tidak bawa ponsel. Nyaliku ciut seperti balon kempes. Aku sedang berada di kegelapan di antara sekian banyak kostum yang entah untuk alasan apa, MATANYA MENYALA DI DALAM GELAP. Tidak pingsan di tempat atau lari-lari seperti orang gila ke luar gedung cukup untuk membuatku layak menerima Oscar.

Alasan aku masih bisa mempertahankan kewarasan adalah, aku tahu benda-benda itu hanya kostum, dan kostum tidak akan memakan orang, dan kedua, di salah satu kostum, aku melihat noda yang menyala dalam bentuk ... cipratan. Terlalu banyak membaca C*nan membuatku menganalisa cipratan itu sebagai ... darah?

Sebaiknya aku pulang saja. Anggap upah itu sebagai pembelajaran hidup, tentang bagaimana tidak stabilnya penghasilan kerja sampingan. Lain kali buka usaha sendiri saja. Entah dimulai dari jualan pulsa, jualan tas online, atau MLM--

Ada suara gebrakan. Dari arah pintu masuk. Seharusnya aku menjerit-jerit senang karena akhirnya muncul seseorang yang menyelamatkanku dari kegelapan, tapi suara sepatu bot yang terdengar dan ketiadaan kata-kata umpatan seperti, “sialan, mati lampu” atau “anjing, gelap amat” atau “aduh, nggak ada senter” membuatku memutuskan meraba-raba dalam gelap, lalu menyusup masuk ke dalam lemari kostum.

Pintu terbuka.

Seseorang masuk.

Dari cahaya luar yang tersisa, orang ini ... tampak biasa saja. Tidak kekar maupun berbadan tinggi. Satu-satunya yang janggal, dia mengenakan helm. Deduksiku bekerja, hanya beberapa alasan seseorang mengenakan helm di dalam gelap: eksentrik, pikun, kepalanya ternyata alien serangga, atau ... dia ingin menyembunyikan wajahnya.

Aku yakin yang benar adalah yang terakhir, karena ketika dia berbalik ke arahku, aku melihat kilatan pisau di tangan kanannya.

Seketika, aku yakin aku akan mati. Pikiranku sudah membayangkan judul koran lokal besok pagi: Seorang pekerja sambilan ditemukan mati di restoran famili. Identitas korban tak diketahui karena tidak membawa KTP. Pelaku masih dalam pengejaran. Manajer mengatakan pekerja sambilan adalah sosok yang rajin sekaligus--

Aku mendengar tawa anak-anak. Aku yakin salah dengar, sebab ... yah, suara itu terlalu dekat. Seolah disuarakan dari dalam ruangan. Lelaki itu tampaknya juga mendengarnya, sebab ia bergerak sambil menodongkan pisau ke arah suara itu muncul.

Pintu bergerak, lalu berdebam menutup. Menurut pemikiran logisku, karena angin. Tetapi aku tak bisa menjelaskan udara dingin, dan tengkuk yang merinding. Kepalaku mulai sakit. Di dalam gelap, aku melihat ...

Anak-anak. Mereka bersinar dalam kegelapan itu. Tetapi ‘bahan’ mereka hampir tak lebih dari ... asap. Mereka berada di tempat-tempat yang tak lazim: separuh badan tertanam dalam di lantai,  kepala-kepala mengintip dari dinding dan langit-langit, sementara sisanya memenuhi udara, melayang di tengah-tengah ruangan.

Lelaki itu berteriak dan mengayun-ayunkan pisaunya. Dia berada begitu dekat denganku sehingga aku tidak yakin harus lebih takut pada pisau itu atau anak-anak separuh badan yang tertanam di dalam lantai.

Mendadak, kostum di atas kepalaku mulai meliuk sendiri seolah bernyawa. Lepas dari gantungan, kostum itu melekat dan mulai memaksa memasangkan diri ke lelaki itu. Kalau saja aku tidak sedang membatu di dalam lemari kostum, mungkin aku akan menertawai kejadian tersebut.

Selesai kostum itu membelit si lelaki, ikatan tali yang tersisa mulai mengeratkan diri. Lelaki itu masih berdiri, menggerung dan sesekali menghentak, mungkin karena ikatan yang terlalu kuat. Pikiranku yang dilanda tekanan mulai melucu tidak pada tempatnya, membandingkan lelaki itu dengan sosis yang digulung kaus kaki butut. Anak-anak di sekitarku tidak berhenti tertawa-tawa. Terdengar suara derakan, entah tanda tulang patah, atau dislokasi otot.

Aku mulai mempertanyakan nasibku sendiri setelah mereka selesai dengan laki-laki itu. Biasanya orang lewat tidak diganggu mereka ... tapi bagaimana kalau mereka belum puas? Bagaimana kalau mereka juga ingin ‘bermain’? Mampuslah. Aku masih punya novel yang belum selesai ditulis di laptopku di rumah.

Tiba-tiba, lampu menyala. Belitan kostum melonggar cepat, dan lelaki itu terkulai lemas ke lantai, kehilangan kesadaran. Kepala kostum yang tidak sempat terpakai menggelinding ke sebelahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melantunkan puja-puji pada penyelamat hidup kami di malam itu: PLN, yang memutuskan itu adalah waktu tepat untuk menyalakan lampu kembali.

Mungkin mereka tidak tahu ada dua nyawa terselamatkan di sebuah ruko di pinggiran kota yang hampir 99,99998% penduduk negara ini tidak mengetahui keberadaannya.

Lalu pintu dari ruang manajer terbuka. Setan keluar dari dalamnya. Dia melihatku. Lalu pada si lelaki di lantai.

“... Tenanglah. Aku sudah memanggil polisi.”

Ralat, tiga nyawa.

 

Untuk pertama kalinya, aku menjadi saksi mata di sebuah TKP. Polisi berkeliaran di luar, memotret, mencatat, menandai petunjuk, memberi pita-pita kuning. Di luar dugaan, banyak yang berkumpul. Entah memang penduduk sini, atau pengendara motor/mobil yang kebetulan lewat dan melihat kumpulan mobil polisi, atau keluarga polisi yang minta diajak ikut karena ingin melihat TKP sungguhan.

Setan memaksaku masuk ke kantor. Ia bahkan balas memarahi seorang polisi yang memintanya keluar untuk ditanyai. Untuk yang satu ini, aku lumayan kagum. Tidak semua orang sanggup memarahi orang lain setelah setengah jam lalu hampir tidak bisa melihat matahari lagi untuk selamanya.

Setan memberiku sebuah amplop bekas. Otakku entah bagaimana berpikir isinya adalah tagihan untuk semua kerusakan malam tersebut.

Ia berkata, “Ini upahmu.”

Aku mengambilnya tanpa hasrat. Daripada karena uang, aku mengambilnya lebih karena benda itu disodorkan padaku. Uang dan nyawa, saat ditodong di ujung tanduk, ternyata memang lebih penting nyawa.

Setan menghela nafas. Ia tampak begitu lelah, hingga mengingatkanku pada nenekku sendiri. Yang sudah berumur 80 tahun dan masih sanggup menjadi organiser pesta barbeque tahun baruan. Dia sering salah menuang antara minyak dengan air putih.

Untuk mencairkan suasana, aku bertanya padanya, “Apa anda—“

“Dia membunuh cucuku.” Oke, aku jadi pendengar saja. “Dia dulu bekerja sebagai sekuriti. Dia seperti orang baik yang cukup puas dengan gaji seadanya. Siapa yang tahu ... dia mengincar anak-anak yang datang kemari. Entah sudah berapa pengunjung yang anak-anaknya hilang. Akhirnya kami tidak bisa meneruskan restoran ini. Lalu di malam terakhir, cucuku tidak pulang. Aku tahu dia yang melakukannya. Tapi tak ada bukti.

“Jadi aku berbohong, mengatakan dia meninggalkan bukti penting di salah satu kostum. Aku membuka restoran ini kembali untuk memancingnya. Tetapi siapa sangka ternyata kau datang malam ini, dan melawannya.”

“Er.”

“Kau nekat sekaligus tolol. Kau bisa saja mati ketika membelitnya dengan kostum itu. Tetapi berkat itu ... dia tetap di sini ketika polisi datang. Aku sudah takut dia akan kabur sebelum polisi datang.”

Sebenarnya bukan aku, tetapi hantu anak-anak itu yang melakukannya, tetapi ... ah sudahlah. Aku berbalik bertanya, “Kenapa anda tidak meminta polisi untuk menunggu di tempat dan menyergapnya?”

Setan memandangiku dengan kejam. Kurasa itu tidak terpikirkan olehnya. Ia mendesah, lalu berkata dengan khidmat, “Restoran ini benar-benar tutup malam ini. Terima kasih untuk bantuanmu selama ini. Pergilah.” Aku yakin wanita ini tipe yang tidak menangis ketika menonton Dog of Flanders.

Ketika aku beranjak keluar ke pintu, ia berkata lagi, “Di tempat kerja lain, jangan suka melamun kalau lagi kerja.”

“Hah?”

Aku tidak mengerti. Sejak kapan memangnya aku melamun selama bekerja di tempatnya?

“Setiap keluar dari ruang kostum, kerjamu hanya duduk di sebelah pintu masuk dan melongo seperti orang tidak waras. Kalau bosmu yang baru tidak sebaik aku, kau sudah kehilangan pekerjaanmu pada dua jam pertama.”

 

Malam itu aku bermimpi lagi. Tapi cahaya matahari yang menenangkan masuk ke dalam restoran itu. Segalanya tampak rapi, seperti restoran yang akan buka, atau baru saja tutup.

Tidak ada suara di dalam restoran, tetapi terdengar tawa beberapa anak-anak di luar pintu masuk. Aku berdiri lalu membuka pintu tersebut, melihat cahaya terang, lalu seperti di film-film, aku terbangun, melihat matahari sungguhan di luar jendela.

Aku tidur selama delapan jam.

Kali ini sepupuku berada di luar.

“Hei,” aku langsung menyapanya. Dia melihatku dan menyodorkan setoples kacang berbumbu wasabi. Aku mencobanya dan tidak menyukainya, tapi tetap kutelan karena sudah masuk mulut.

“Ke mana saja beberapa hari ini malam-malam?” tanyanya.

“Ke mana? Ya menggantikan pekerjaanmu lah.”

“Pekerjaan apa?”

“Yang jadi tukang pakai kostum di restoran—“

“Oh itu, aku kalah taruhan, yang kalah harus kerja sambilan di sana. Tapi karena nggak suka aku langsung kabur di jam pertama.”

“... Ah. Kukira kau lagi kekurangan uang.”

“Aku? Kurang uang? Sejak kapan aku kurang uang?”

“... Lalu siapa Mari?“

“Oh, itu anjing tetangga. Lucu banget deh. Pas aku pulang capek dari pekerjaan nggak jelas itu aku langsung main-main sama dia. Benar-benar terobati~ eh kau mau keluar? Titip apa untuk makan malam ya.”

Dengan senang hati.

Aku pergi ke sebuah restoran steak terbaik yang bisa kutemukan di daerah sini. Aku memesan menu termahal. Upah itu langsung habis, tapi ternyata memang benar, hasil jerih payah sendiri terasa sangat lebih nikmat bila dipakai untuk sesuatu yang nikmat pula. Apalagi setelah hampir tewas. Terasa seribu kali lipat lebih nikmat.

Untuk sepupuku tersayang, bubur abang-abang sudah cukup baik untuk tidak membuatnya hangover karena mabuk lagi.

~~~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 10 weeks ago)
100

Seru. Realistis bgt ceritanya:) lucu. Seru~

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Terima kasih sudah membacanya. Saya senang anda menyukainya.

Writer ninja
ninja at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 10 weeks ago)
70

saya suka ceritanya, nggak tahu kenapa :D saya juga suka bahasa yang dibawakan
awal baca ketawa-ketiwi mulu, di tengah-tengah bikin merinding

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Kalau suka ... berarti cocok. Yes? Saya suka cerita horor, jadi kadang-kadang keselip. :p
.
Terima kasih sudah membacanya.

Writer ahde safir
ahde safir at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 11 weeks ago)

lumayan.. berasa baca novel ringan di toko buku. ceritanya unik,simpel dan realita banget, mungkin karena pengalaman pribadi.

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

70% cerita ini adalah curcol, jadi anda tidak salah duga.
.
Terima kasih sudah membacanya.

Ceritanya panjang banget. Jujur saya cuma baca awal dan akhirnya aja. :D

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Hmm-mm. I see.
.
Trims sudah membacanya.

Writer Kusanagi
Kusanagi at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 11 weeks ago)
70

Haha, harus ngumpulin tekat utk bisa nyelesain cerita ini smp titik terakhir.
Apik kok! Kamu punya gaya bercerita yg asyik.

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Yeah. Satu temanku tak mau meneruskannya karena terlalu horor, katanya.
.
Trims sudah membacanya.

Writer Abay Coyboy
Abay Coyboy at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 11 weeks ago)

males baca nya :v

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Terima kasih sudah berusaha membacanya.

WEW gak kuat bacanya

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Terima kasih sudah berusaha membacanya.

90

idem sama yang koment diatas. salut bisa nulis sepanjang ini. panjang banget.pokoknya keep wiritng. ^^b

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Anda juga pasti bisa suatu saat nanti. Malah lebih panjang lagi mungkin, sampai jadi novel.
.
Trims sudah membacanya.

Writer 2rfp
2rfp at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 11 weeks ago)
70

whew *ngela napas* nggak nyangka bisa baca ini sampai selesai 3000 sekian kata.

nggak bisa bilang apa-apa maaf, mungkin karena otak saya sedang tidak bisa diproses untuk berkomentar.

yang saya bisa bilang hanya pembawaan kamu yang ringan ini sangat menolong saya untuk membaca hingga akhir.

maaf sekali lagi *hanya mencari hiburan*

Writer nagabenang
nagabenang at Tiga Malam Kerja Sambilan di CFC (4 years 6 weeks ago)

Yep, cerita ini memang dibuat untuk hiburan ringan.
.
Trims sudah membacanya.