LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1)

11 November 1997

 

Getaran dirimu hangat terasa

Kaubawa secercah sinar abadi

Dan kuterbuai dalam langkahmu

Ooh dan janjimu

Kan tetapi kini kau semakin menjauh

 

Aku memutar-mutar kembali pita kaset di dalam tape hingga musik kembali ke intro. Rewind lagi dan lagi, hingga rasanya tombol putar itu kelelahan karena harus mengulur gulungan pita yang masih sama sejak lima belas menit lalu. Hanya berputar-putar di lagu yang sama pula, milik grup band Gigi. Grup yang dimotori vokalis berambut gondrong, Arman Maulana dan selalu atraktif jika mereka manggung.

Aku tidak terlalu suka lagu berjudul Nirwana ini. Lagu gombal. Chord-nya juga relatif gampang kalau aku sedang mood memainkan dengan gitarku. Kunci G, A, Bm dan G lagi. Begitu seterusnya. Jika saja aku tidak ingat ada seseorang yang selalu menyenandungkan lagu ini setiap saat, mungkin saat ini aku tidak sedang berusaha mencatat liriknya. Ingatanku buruk sekali, apalagi kalau berhubungan dengan pelajaran hapalan. Menghapal lagu dan mencatat lirik saja membuatku harus berurusan dengan tombol rewind berkali-kali. Bisa-bisa sahabatku, Dian, marah karena kaset kesayangannya kuperlakukan sebegini nista.

"Icha, jam istirahat udah mau selesai tuh. Buruan ditutup ruangan audio-nya. Jangan lupa balikin kuncinya ke Pak Wahyudi," seru Selia dari jauh, teman sekelasku. Aku mengangguk memberi isyarat 'oke' lalu buru-buru mengambil kaset dari badan tape usang merek Polytron berukuran besar yang kerap dipakai untuk upacara tiap hari Senin.

Berikutnya setelah bel masuk berbunyi, aku sudah mengunci kembali ruang audio yang lebih mirip gudang penyimpanan ketimbang fungsi sebenarnya. Untuk menguncinya butuh usaha keras karena ruangan itu dipenuhi peralatan marching band yang dijejalkan di ruangan sempit berukuran 5x5 meter. Snar drum, bass drum, xilofon, kwarto, trio, dan tumpukan kotak berlapis beludru yang aku tahu di dalamnya adalah terompet. Aku berkali-kali menyingkirkan tongkat mayoret yang menghalangiku menutup pintu. Merepotkan.

"Udah dari kapan kamu jadi penjaga ruang audio tiap jam istirahat?"

Suara Pak Wahyudi di belakangku membuatku tersentak. Guru bahasa inggris merangkap pembimbing ekstrakurikuler marching band itu menyilangkan tangan di depan. Aku buru-buru menyorongkan kunci ke arahnya.

"Maaf tadi saya pinjem ruangannya sebentar. Saya kembalikan kuncinya ke Bapak."

"Cuma dengerin musik aja mesti repot kemari. Beli walkman dong."

"Mahal, Pak... Kalo masih ada yang gratis ngapain mesti beli?" jawabku ringan lalu setengah berlari menuju kelas.

Aku memasukkan kertas bertuliskan potongan-potongan lirik lagu dari band Gigi itu ke saku bersama dengan kaset album Gigi milik Dian minus cover album. Kaset itu milik kakak Dian yang memang fans Gigi. Entah karena terlalu sering memutarnya atau terlalu sering menyanyikan sambil membaca liriknya, covernya selalu tidak pernah berada di tempat semestinya. Di saat aku membutuhkan, benda berbentuk kertas memanjang itu malah lenyap terbuang, itu menurut pengakuan Dian.

Yah apapun itu, aku selangkah mendekati keberhasilan upayaku memberikan kejutan untuk seseorang. Semoga saja di harinya nanti aku punya cukup keberanian untuk memperlihatkan ini.

Semoga.

 

***

 

"Halo? Halo? Siapa ini?"

"...."

"Halo? Kok diem?"

"...."

"Ah iseng aja nih...."

KLIK

Ya, ini kesekian kalinya aku disebut orang iseng. Selalu begitu. Lututku terlalu gemetar dan lidahku terlalu kaku untuk berbicara dengan pemilik suara di seberang. Aku kembali mengorbankan uang logam seratus rupiah yang mungkin sudah keseratus kalinya hanya untuk mendengar suaranya melalui telepon umum. Kebodohanku masih terulang sampai sekarang. Dan setelahnya aku hanya sanggup mengutuk diri sendiri karena tidak pernah selangkah lebih maju ketimbang hanya diam saat menelepon dirinya.

Ya ampun, bagaimana aku akan memberanikan diri untuk memberikan kejutan padanya, kalau bicara di telepon saja aku masih berperang dengan keringat dingin di wajahku.

"Lucu amat sih kamu, Cha. Hari gini ngomong di telepon aja nggak bisa. Seserem apa sih ngomong sama Rilan? Emang dia bentak-bentak kamu?"

Aku menggeleng mendengar komentar Dian, satu-satunya sahabatku yang tahu aku memendam perasaan untuk kakak kelasku itu sejak SMP. Bahkan alasan aku masuk ke SMA ini juga karena ada dia di sini.

Kami baru saja selesai ekskul marching band. Dan waktu sudah mendekati petang. Sesaat sebelum aku membonceng Dian yang akan mengantarku pulang, aku menyempatkan diri untuk memakai telepon umum. Dan hasilnya? Ya, kira-kira seperti ejekan Dian itu.

"Terus, gimana sama usaha kamu yang katanya mau kasih sesuatu buat dia di hari ulang tahunnya? Sesuatu yang bikin kamu ngemis-ngemis minta dipinjemin kaset kakakku, yang bikin kamu nyolong-nyolong make ruang audio buat bikin rekaman. Mau dikemanain tuh kalo ngomong aja nggak berani."

"Dia udah punya cewek, Yan. Cewek cantik dari Bali yang namanya Kadek itu."

"Yaelah emang kamu ngajak kawin? Enggak kan?"

Aku menggeleng lagi.

"Nah... Jadi gapapa dong kalo cuma sekedar ngasih kenang-kenangan, apalagi pas ultah. Lagian, Cha... Tahun depan lo ga bakal bisa ketemu dia lagi. Jadi lo nunggu apa sih?"

Aku kesal karena Dian selalu benar. Anak kelas tiga tahun depan akan lulus, dan cuma ini kesempatanku.

Aku memutar-mutar helm kecilku sebelum memakainya. Dian masih terduduk di atas jok motor bebek keluaran Honda. Mataku menatap jauh ke arah keramaian jalan raya, lalu berpindah ke arah telepon umum tadi. Rencananya aku berniat untuk meminta orang yang kusukai itu datang ke suatu tempat supaya aku bisa menyerahkan sesuatu untuknya. Karena aku tidak akan tahan jika harus menemuinya di kelas atau kantin saat ada begitu banyak teman-teman yang selalu mengelilinginya.

"Tunggu, Yan... Aku mau coba hubungi dia lagi."

Begitu saja, aku menghampiri bilik telepon umum di depan gerbang sekolah. Memasukkan uang logam terakhir yang kupunya, memencet enam digit tombol angka dan.... Terdengar nada sambung dari seberang. Jantungku makin tidak terkendali, peluhku terasa deras menetes dan rasanya perutku jadi mulas.

Ya ampun...

***

Read previous post:  
Read next post:  
80

kalau ada waktu silahkan mampir dipostinganku yah ^^

80

whaaa , salam kenal semuaa , aku baru disini. mohon bimbingannya :)

whaa salam kenall ya semua :) gua baru disini , mohon bimbingannya :)

Writer Nine
Nine at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)
100

Ah, nostalgia tahun 99. :)
Jadi ingat masa-masa esde pakai telepon umum untuk usil sama pemadam kebakaran. Ada juga nomor telepon yang katanya milik setan. Temen-temen juga suka nendang-nendang, nonjok-nonjok, nusuk-nusuk telepon umum, biar dapat recehan uang seratus, lumayan buat beli choki-choki. Oh, nirwana :)
.
Anak-anak band tahun itu juga rada-rada repot. Kalau mau cari lagu, musti korban gulungan kaset radio amburadur, pensil ngak hanya buat nulis, tapi juga jadi alat putar gulungan kaset radio, oh indahnya :)
.
Kalau mau ngumpul latihan band--gegara hp yang punya cuman segelintir--jadi harus janjian dulu jam berapa ke studio. Anak band jadi lebih disiplin, oh saya mulai curhat. :)
.
Narasinya ngalir, ringan, ngak bisa komentar banyak soalnya ceritanya belum selesai. Jadi kutunggu part selanjutnya.
.
Sekian,
Salam olahraga (y)

Writer MissAutumn
MissAutumn at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Halo salam kenal... Terima kasih sudah mampir baca...

Setting 90an memang 'menarik' mengingat jaman modern sekarang, ruang untuk 'pokoknya usaha' mulai menipis hihihi...

Telepon umum, kaset pita, lagu2 band era 90an adalah segelintir yang bikin ngangeni. Berharap saya bisa eksplore lebih banyak (wish me luck :p)

Salam pramuka :D

70

Ya ampun, dipotong di saat yang mendebarkan. Kalau sekarang ada sosial media, pastinya enggak semendebarkan menunggu nada sambung ya?

Saya suka dengan latarnya. Semacam nostalgia, kendati di tahun segitu sepertinya saya masih balita juga, cuma sampai sekarang saya tetap menggandrungi kemutakhiran pita kaset sih.

Tulisannya tidak neko-neko sih, menurut saya. Cuma latar dan unsur ekstrinsiknya dijabarkan dengan amat baik. Adegan-adegannya pun sederhana. Saya membayangkan cerita ini akan berkembang menjadi 'dilan dilan' itu selanjutnya.

Ditunggu kelanjutannya :)
Salam kenal ya.

Writer MissAutumn
MissAutumn at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Thanks sudah mau mampir ke cerita sederhana ini...

Dengan tidak bermaksud menjadikan cerita ini sebagai another Dilan—yang mana meski saya tahu Dilan itu populer tetep saya belum sempat baca—saya masih merasa setting90an itu nyanduin. Dan masih berusaha menggali lebih banyak selain perkara telepon umum dan kaset. Any idea? Hehe...

Btw salam kenal ya ... :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)
70

latar 90an itu menarik (seenggaknya bagi orang yang cita2nya jadi remaja tahun 90an, entah kenapa, mungkin karena suka dengerin lagu2 jaman itu, heuheu). kaset Gigi, walkman, telepon koin, uang logam seratus rupiah (zaman sekarang masih ada tapi gambar burung, coba dibilang gambar wayang) jadi penanda. jangan2 berikutnya muncul Mtv Ampuh, wkwkw. saya kagum sama penggunaan detailnya, terutama yang soal audio itu. dan bagian "neror" kecengan itu, wuahaha *ehm ehm enak jaman sekarang mah sedikitnya bisa stalking di internet ya :p
kalo boleh request lagunya Rumah Sakit, Singiku, atau P Project lah, hehehe.

Writer MissAutumn
MissAutumn at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Thanks sudah mampir membaca...
Rencananya sih saya bakal masuk-masukin semua tentang hal-hal yang populer di jaman itu, bisa juga MTV ampuh, atau malah MTV most wanted... Haha.
Banyak hal keren di era itu... Semoga bisa istiqomah nulisnya :D

Soal stalking kecengan, katanya orang yang hidup di era 90an itu lebih 'bermodal'. ngeceng aja nyari telp umum yang jauh dr jalan raya. Hihi

Writer yummy2
yummy2 at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)
80

Maaf ada yang ketinggalan hehehe.

Writer yummy2
yummy2 at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Salam kenal. Cerita yang bagus. Di tunggu ya kelanjutannya.

Writer MissAutumn
MissAutumn at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Salam kenal juga, Yummy...
Terima kasih sudah mampir. Semoga lanjutannya cepet dibikin hehe

80

Lupa pointnya hehehe

Writer MissAutumn
MissAutumn at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 1) (4 years 36 weeks ago)

Terima kasih sudah mau baca. Salam kenal ya :)

Bagus ceritanya...nunggu lanjutannya.