LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 2)

15 April 2013

 

"Mama sih nggak bisa berbuat apa-apa kalau kalian akhirnya cerai. Bukan mama yang jalani rumah tangga. Tapi kasihan kalo Rayya sampe susah ketemu sama ayahnya. Buat keputusan yang adil."

Aku mendengarkan suara mama yang terdengar lelah sambil menjepit ponselku di antara telinga dan bahuku, sementara aku sibuk membongkar pakaian dari koper. Sudah tiga hari berlalu sejak aku pindah ke rumah kontrakan ini. Dan tiga hari aku benar-benar tidak punya waktu untuk mengeluarkan barang-barangku dari kardus-kardus dan tumpukan perabot yang dipindahkan via jasa pindahan milik salah satu kawan baikku. Dan di saat aku (akhirnya) memutuskan untuk melakukan usaha beres-beres rumah sendirian, aku justru harus mendengarkan serangkaian khotbah yang meluncur dari speaker ponselku.

"Ma, aku nggak membatasi komunikasiku sama Mas Ardin. Selama itu demi anak, kami sepakat nggak akan egois. Tapi soal perceraian, itu sudah pasti. Aku nggak akan berubah pikiran..." Ujarku.

Terdengar desahan napas dari seberang. Pola yang biasa dari setiap percakapan dan argumen yang kukumpulkan untuk menangkis kekhawatiran mama. Dan berita perceraian tak akan menjadi lagu yang merdu di telinga setiap orangtua yang mengharapkan kebahagiaan pernikahan anaknya, aku juga tahu itu. Namun untuk kali ini, aku berharap mama mempercayaiku, alih-alih terus mendikteku ini itu dan tidak perlu banyak memberi saran. Terkadang saran yang dilontarkan mamaku sudah tidak sesuai dengan situasi yang kualami. Namun kepatuhanku sebagai anak menuntutku untuk melarang mengabaikan sarannya. Dan ini justru membuatku makin terbebani.

"Mama harap kamu masih bisa memikirkan cara lain selain bercerai, Ra. Mama juga berdoa pisahnya kamu sama Ardin cuma sementara..."

"Maa..."

"Eits, jangan disela. Mama nggak nuntut kamu kok. Cuma memikirkan opini dari sudut pandang orangtua. Oke?"

Ganti aku mendesah. Menyerah. "Oke. Mama nggak keberatan aku beres-beres rumah dulu? Sudah tiga hari aku pindah tapi baru hari ini sempat bongkar-bongkar barang. Males deh kalau harus nunda lagi gara-gara pembicaraan seperti ini."

"Ya ampun, trus dari kemarin kamu sibuk apa?"

"Ehm... Nganterin Rayya sekolah, les, beli alat masak, ke tukang kunci bikin kunci cadangan, pesan gordyn ke penjahit interior, lalu..."

"Cukup! Haduh kamu ini... Bisa apa kalau nggak ada mama dan Ardin, suamimu. Sudahlah, telepon sama suamimu. Minta supaya dia..."

"Aaaaargh, ikan nilanya gosong. Udah ya, Mah... Aku tutup dulu."

Klik.

Yak, sudah terputus. Aku menghempaskan ponselku begitu saja ke sofa dan bergegas menuju dapur. Bukan, aku ke dapur bukan untuk melihat keadaan ikan nila yang gosong karena kenyataannya ikan itu masih baik-baik saja dan masih beku di dalam freezer. Aku baru akan menjerang air untuk ritual minum teh sore hari yang akan kulakukan sebentar lagi.

Tapi... Bagaimana dengan kekacauan akibat barang-barangku yang sedang kubongkar? Aku kembali menghela napas, merasa apa yang diucapkan mama ada benarnya. Aku tidak bisa apa-apa tanpa mama ataupun Mas Ardin. Bahkan membereskan hal remeh seperti pindahan saja membuatku tidak konsisten untuk menyelesaikannya. Dan setiap kali aku lelah dan bosan, aku mencari alasan untuk berhenti. Kali ini apa? Minum teh sore hari?

Astaga, siapa yang sedang kubohongi...?

Hal terakhir yang kuinginkan adalah sosok orangtua yang tidak pernah mempercayai bahwa putrinya ini sanggup berdiri sendiri. Betapa keputusanku untuk pindah dari rumah utama yang kutempati bersama dengan Mas Ardin, untuk hidup hanya berdua dengan putriku semata wayang ini dipandang sebelah mata. Seolah mereka tidak pernah yakin aku bisa bertahan seorang diri. Seolah orang-orang di sekitarku hanya sanggup memberiku label sebagai anak gadis yang manja—yang mana satu hal yang mereka lupa, aku bukan anak gadis lagi, melainkan wanita berumur 29 tahun. Di usia setua ini, aku terkejut betapa sulitnya untuk menentukan keputusanku sendiri tanpa campur tangan mereka. Sekalipun mereka benar tentang betapa hopeless-nya aku jika sendirian, tidakkah mereka berpikir untuk menyingkir dari hidupku sesekali dan lihat apa jadinya diriku tanpa mereka? Karena cuma itu hal yang perlu mereka lakukan jika ingin membantuku. Stay away from my life.

Ah... Level kegelisahanku sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku perlu mengalihkan pikiranku dari kekacauan ini. Kuraih ponselku di atas nakas samping tempat tidur dan melihat daftar kontak siapa saja yang ingin kuajak bicara. Namun sejurus kemudian aku menyadari sesuatu, jika yang kuinginkan saat ini adalah mandiri tanpa bantuan orang lain. Aku perlu mengubah kebiasaanku untuk selalu mencari teman bicara jika sedang kesepian atau putus asa. Dan jika sedang asyik bicara, aku mungkin akan membuka rahasia pribadiku secara tidak sadar. Dan ini akan membuat siapapun yang mendengar kisahku merasa punya andil dan hak menentukan hidupku. Tidak, aku tidak bisa begitu lagi.

Kuletakkan lagi ponselku setelah menimbang-nimbang apakah akan menghubungi salah seorang dari daftar kontakku atau tidak. Lama aku berpikir dan meyakinkan diri bahwa aku tidak akan menyesal dengan keputusanku untuk membatalkan keinginanku. Yah, hari ini mungkin aku perlu melanjutkan membereskan kekacauan akibat barang-barangku.

Dan saat itu, aku teringat bendel buku harian yang kutemukan tiga hari lalu saat pertama pindah ke rumah ini. Ya benar. Buku harian milik seseorang yang errr... Aku tidak ingat siapa nama lengkapnya, sepertinya dia menyebut dirinya dengan nama "Icha".

Ada tiga buku harian yang disatukan dengan tali rafia dan kutemukan dalam kondisi berdebu di bagian laci bawah lemari kayu jati yang berukuran besar dan berat bukan main. Untuk memindahkan lemari sebesar itu, aku bahkan minta bantuan petugas sekuriti penjaga portal di kompleks ini. Ya, siapa juga yang membutuhkan lemari kuno dan bahkan kakinya pun pincang karena kayu penyangganya sudah patah akibat dimakan rayap. Ah tapi bukan itu yang ingin kusampaikan.

Intinya, buku harian itu membuat pikiranku teralihkan. Aku begitu menikmati membaca setiap jalinan kata yang ditulis dengan tinta biru. Dan meski aku malu mengakui, buku itu pula yang membuat pekerjaan beres-beresku terbengkalai hingga tiga hari selain alasan-alasan yang kusebutkan sebagai dalih pertanyaan mama di telepon tadi. Karena saat aku membacanya, aku seolah mendapati diriku sendiri adalah sosok "Icha" si pemilik buku harian. Dan rasanya pengalaman yang ditulisnya adalah pengalamanku sendiri. Membuatku bertanya-tanya dan mencoba mengingat-ingat seberapa menarik kehidupanku di masa remaja dibandingkan kehidupan Icha di era itu.

Ya, aku tidak perlu menghubungin teman-temanku untuk menyingkirkan rasa bosan. Aku hanya perlu menikmati sore dengan menikmati secangkir teh dan membaca buku pertama dari bendel buku harian itu.

***

 

15 November 1997

 

Ulangan dadakan. Ugh, aku benci itu.

Aku selalu percaya guru yang baik adalah yang memanusiakan muridnya, bukan hanya sekedar dijadikan mesin belajar yang selalu dituntut untuk menghasilkan nilai yang memuaskan untuk setiap soal-soal yang diujikan. Dan seperti halnya manusia, murid pun butuh kesiapan menghadapi sederetan angka yang rasanya lebih horror ketimbang sinetron Si Manis Jembatan Ancol. Buat sebagian orang,  kisah hidup wanita cantik nan seksi berambut panjang yang mati dengan dibunuh di dekat jembatan terkenal itu mungkin terasa tragis. Namun buatku hal yang paling tragis adalah saat keasyikanku membaca komik Detektif Conan volume 1 terampas karena ulangan dadakan.

Sial. Shinichi Kudo adalah satu-satunya yang sanggup kupikirkan sementara ini. Atau lebih tepatnya, aku memaksakan diri untuk tidak memikirkan hal lain selain kasus pembunuhan yang sedang ditangani Shinichi Kudo, dan membuatnya harus menanggalkan kehidupan SMA-nya dan kembali jadi anak SD karena tubuhnya mengecil. Mengingat komik ini sangat populer dan aku baru mendapatkan pinjamannya dari anak kelas sebelah setelah sebelumnya komik itu berpindah tangan sebanyak 17 kali dan saat ini sampul warnanya sudah hampir koyak dan halamannya menguning, aku merasa harus menamatkannya hari ini juga. Jika tidak, tangan-tangan rakus penadah komik gratisan akan menggantikanku untuk membacanya.

Alasan lain, hanya komik ini yang membuatku tidak memikirkan nasib rekaman yang kuberikan untuk Rilan di hari ultahnya tempo hari. Jika mengingat hari di mana akhirnya aku berhasil menghubunginya untuk meminta bertemu, rasanya jantungku akan berhenti kapan saja.

Dan sudah empat hari berlalu. Empat hari pula tidak ada jawaban.

Aaargh, aku bisa gila memikirkan hal itu. Dan satu-satunya yang kubutuhkan untuk mengatasi kegilaanku sekarang adalah tuan Shinichi Kudo. Itu pun harus dirampas sementara demi lembar jawab ulangan dadakan.

"Semua mengerjakan ulangan di dalam kelas kecuali... Alisha alias Icha." Suara Pak Godek —yang nama aslinya adalah Pak Sunari dengan gestur khasnya seperti orang gedek kalau bicara yang akhirnya beliau dipanggil dengan sebutan Pak Godek — terdengar mengancam.

Alisha? Aku? Ke... Kenapa?

"Khusus untuk Alisha, kamu kerjain soal ulangan kamu di ruang kepala sekolah."

Aku masih terdiam. Menunduk lebih tepatnya dan mengingat-ingat apa salahku sampai harus dibuat menyingkir dari kelas dan mengerjakan ulangan di ruang kepala sekolah. Apa aku ketahuan membaca komik meski sudah kusamarkan di dalam buku paket matematika yang berukuran sama tebalnya dengan majalah remaja milik Dian? Apa aku ketahuan melamun dan pura-pura mencatat pelajaran meski yang ada di kepalaku adalah bagaimana caranya supaya istirahat sekolah dan pulang sekolah aku tidak berpapasan dengan Rilan, karena aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan setelah tahu Rilan sudah mendengarkan rekaman yang kubuat.

"Kalau kamu tanya kenapa, sebelumnya bapak cuma ada pemberitahuan kamu disuruh datang ke kantor kepala sekolah. Berhubung mungkin kamu nunggu lama karena pak kepsek sendiri belum tahu kapan beliau datang, sekalian saja kamu kerjakan soal ulangan di sana."

"Tapi pak..." Aku berusaha untuk protes.

"Nggak usah ada tapi. Bagus kan? Kalau ulanganmu bagus, Bapak yakin benar kamu nggak menyontek karena temen contekanmu cuma patung maskot sekolah kita," ujar Pak Godek sok bijak.

Lalu bagaimana kalau ulanganku jelek? Apa aku masih boleh menyalahkan patung maskot sekolah karena ngasih contekan yang salah? Aku ingin bilang begitu, tapi aku tidak punya keberanian dan berjalan keluar membawa lembar jawaban beserta kotak pensilku.

Ya Tuhan, apa lagi ini?

***

 

Read previous post:  
48
points
(898 words) posted by MissAutumn 4 years 38 weeks ago
68.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Kehidupan | remaja | Setting 90an
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yummy2
yummy2 at LIVE ON ANOTHER DREAM (Part 2) (4 years 37 weeks ago)
90

Ceritanya menarik,sebuah cerita yang didalamnya ada cerita yg lainnya. Di tunggu ya kelanjutannya. Terima kasih.