Chris - Bagaimana Kami Menemukan dan Kehilangan Belu



BAGAIMANA KAMI MENEMUKAN DAN KEHILANGAN BELU

- Oleh Chris -



[M]alam sudah datang.

Beberapa kali Pohan melintas di depan Paima Ham. Sambil merokok, di tangannya ponsel menyala. Ia menunduk sambil berjalan, melangkah agak jauh ketika melewati genangan air akibat hujan sore. “Kemari,” katanya begitu menemukanku di antara beberapa orang yang duduk di dalam warung. Aku beringsut menemuinya: di bawah pohon nangka di depan rumahnya.

Lalu Pohan bercerita dengan singkat awal peristiwa itu. Belu, kakaknya yang memang kurang waras, berada di kamarnya pagi tadi usai sarapan. Namun ketika Pohan pulang dari kota kecamatan, siang hari, ia dan kedua orang tuanya baru menyadari bahwa Belu tidak lagi berada di kamarnya. Biasanya perempuan gemuk itu memang suka pergi tanpa pamit. Maklum. Kadang ke sungai, ke tengah kampung, dan pulang kapanpun ia mau. Hanya saja kali ini, yang membuat keluarga mereka khawatir, sudah malam ia belum pulang.

“Bantu aku mencarinya,” kata Pohan.

Aku harus bilang apa lagi?

Saat sedang berdiskusi, Tangkup datang dengan tergopoh-gopoh: “Kenapa baru dicari sekarang?”

“Kupikir dia cuma pergi ke sungai,” balas Pohan.

“Harusnya kau kabari aku?”

“Kau seharian di ladangmu.”

“Kan bisa nyuruh siapa saja ngabari aku ke ladangku!”

Pohan diam.

Bola mata Tangkup mengerjap-erjap. “Heran aku…” lalu katanya. “Kok sepele kali kau kalau urusan Belu? Sejak awal dialah yang…”

“Dari dulu kan sudah kubilang dibawa saja, tapi kau sama Mamak enggak tega. Kalau sekarang begini, ya terima risiko.”

“Dia dipasung kalau di sana!”

“Itu kan katamu.”

“Memangnya kau tega kakakmu sendiri tinggal di tempat begitu?”

Pohan mendesah dan membuang puntung rokoknya. “Kalau sudah soal tega enggak tega, sudah payah urusannya.”

“Kau tega enggak?” bentak Tangkup.

“Dia kakak kita sama-sama!”

Kami segera pasang badan di antara dua saudara ini. Aku berusaha menenangkan Tangkup, sementara yang lain menenangkan Pohan yang tampaknya juga mulai emosi.

“Ya aku enggak tega,” kata Pohan lagi. “Tapi kalau begini, kita juga yang repot!”

Tangkup tak langsung membalas. Kata-kata Pohan ada benarnya, pikirku. Aku pernah mendiskusikan soal Belu pada beberapa orang—ketika suatu kali ia berlari-lari tak jelas karena apa. Ia hampir menubruk anak-anak yang sedang bermain di halaman. Dari sudut pandangku, orang seperti Belu harusnya tinggal di tempat khusus.

“Ya sudah. Kita berangkat sekarang!” cetus salah seorang di antara kami.


***


Di desa Ujung Bintang rombongan dibagi dua: Pohan menuju Juma, Tangkup ke arah Stet. Aku ikut Tangkup. Selama perjalanan ke sana kubilang kemungkinan besar Belu menyusuri jalan umum. Lebih menarik mana perkampungan atau kebun kelapa sawit? Belum lagi kalau dia haus atau lapar. Namun Merap—atau siapa namanya aku lupa—yang kubonceng berpendapat Belu sanggup berpuasa jauh lebih lama dari orang biasa. Benar juga. “Pohan bilang Kak Belu minum obat sebelum kabur. Jangan-jangan ia tertidur entah di mana karena pengaruh obatnya,” Merap tadi—kuanggap memang dia—menambahkan.

“Ia memang selalu tidur setelah minum obat,” Tangkup membenarkannya.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Bisa sampai lama. Harus dibangunkan.”

“Kalau begitu, kita cari di gubuk-gubuk!” cetusku.

Tapi mana ada gubuk di dalam kebun sawit!

“Mungkin dia tidur di parit!” tandas yang lain. Baru kuingat kalau sedang dibangun parit besar di beberapa tempat yang rawan pencurian buah sawit.

“Kita tanya mandornya,” usulku.

Mandor biasanya patroli setiap malam. Di jalan beraspal kami bertemu mereka yang baru saja keluar dari Blok 10. “Permisi, Pak,” tanya Tangkup. Keduanya berkumis cukup tebal dan mengendarai motor 2 tak berknalpot nyaring; mengenakan sepatu bot, jaket, sarung tangan, dan topi. Tangkup pun bercerita. Namun raut kekecewaannya tak bisa disembunyikan keremangan malam sekalipun. Kedua mandor itu mengaku tidak melihat siapapun di area perkebunan.

Raut kecewa belum hilang, tiba-tiba telepon genggam Tangkup berdering. “Dari Pohan,” katanya pada kami. Ia mundur beberapa langkah. Bicara sebaris dua baris kalimat. Mengerjap-erjap. Lalu setelahnya ia bilang: “Sebentar lagi mereka ke sini.”

Menunggu rombongan Pohan, Tangkup bernostalgia masa kecilnya ketika dulu Belu menjaga ia dan Pohan sementara orang tua mereka berjualan di pasar. Memandikan, menyiapkan makanan, dan sebagainya. Hal yang sempat membuatku terenyuh dan bertanya-tanya bagaimana persisnya Kak Belu kehilangan kewarasan. Tangkup bilang itu terjadi ketika Belu di kelas tiga. Ia tiba-tiba sakit, demam tinggi, lalu tidak bisa ikut sekolah. Seterusnya, dan seterusnya. Pelajaran sekolah tidak bisa ia terima. Jarang bicara sampai akhirnya, kukira, ia mulai menciptakan dunianya sendiri.

Diawali raungan mesin dari kejauhan dan sorot jauh lampu motor, rombongan Pohan tiba beberapa belas menit kemudian. Darinya secara langsung kami mendapat titik terang: Seorang karyawan PKS melihat perempuan dengan ciri-ciri mirip Belu berjalan di pertigaan Dalia kira-kira pukul 10 pagi.

Belu tidak tertidur?

Gatal di tengkukku. Kugaruk di dekat rambut. Sepertinya ada butiran pasir yang menggesek kulit. Bergemerisik. Ah, mendadak ingin merokok, kuminta sebatang pada—aku tak ingat namanya. Lalu nikotin merasuk. Pengaruhnya lebih cepat dari biasanya. Saat kubuka mata—teman-temanku sudah menghidupkan mesin motor masing-masing—aku tahu harus menepiskan kejanggalan Belu tidak tertidur setelah minum obatnya.


***


Pondok Dalia adalah pemukiman karyawan Lonsum. Tapi dulu. Kini hanya tersisa rumah-rumah kosong di sana. Dindingnya retak-retak dan atapnya bolong-bolong. Tidak ada lampu: juga manusia. Para penduduknya sudah menempati perumahan baru yang dibangun di dataran yang lebih tinggi. Pohan memutuskan menelusuri ke sana; kami lanjut ke Gugung.

Tangkup memimpin. Ia tak ragu untuk berhenti demi melihat orang, entah siapa, untuk bertanya-tanya. Aku sendiri bosan mendengarkan kalimat yang monoton. Seperti iklan. Bahkan aku mulai mengumpat—sebenarnya pada kegiatan ini—pada kehidupan-malam-perumahan yang sepi. Ini baru jam sepuluh: Para penduduk sudah mengurung diri di rumahnya masing-masing. Setibanya di Gugung, pemilik warung di pinggir jalan di ujung kampung pun tak punya informasi. Kami kecewa. Terlebih Tangkup. Jangan-jangan kami salah arah? Kalau Belu tidak atau belum melintasi Gugung, berarti mungkin ia di Dalia. Ah, kalau begitu Pohan akan menemukannya di sana. Pasti!

Namun, tak lama kemudian Pohan tiba dari Dalia, hasilnya nihil. Itu membuat rasa letih berlipat ganda. Sudah mulai larut dan pencarian belum menunjukkan titik terang. Lalu entah bagaimana mulanya, pemilik warung berkisah tentang anaknya yang pernah hilang. Bocah itu ketemu berkat tetangganya. Orang pintar? Aku terbatuk (hari gini?). Dan tanpa pertimbangan apa-apa, Tangkup sudah menyuruh Pohan, dan beberapa orang, mendatangi orang-pintar itu. Bibi pemilik warung mengantarkan mereka. Kualihkan fokusku pada tayangan di TV.
Terus terang, “Aku tak setuju,” kubisikkan pada Tangkup di sebelahku ketika jeda iklan.

Ia menjawab dengan nada hambar. “Namanya usaha.”

Sampai di titik itu, aku mendadak haus—dan muak.

Ketidaknyamananku sampai ke taraf mengganggu begitu kami meninggalkan warung. Betapa tidak? Menurut hasil “penerawangan” Sang Guru, Belu tidak pernah melewati sungai Gerpang. Artinya: Belu tidak meninggalkan wilayah kampung kami! Rasanya ingin kulempar asbak muka orang itu! Apa Pohan tidak ceritakan keterangan karyawan PKS yang sempat melihat Belu di pintu masuk Dalia?

“Kau yakin dia sakti?” kataku pada Pohan sambil kami berkendara bersisian.

“Baru duduk saja pun dia sudah tahu aku mau tanya apa!” balasnya.

“Ciri-cirinya dia langsung tahu!” kata entah-siapa menandaskan.

“Ada yang mengajaknya…” imbuh yang lain.

“Maksudmu?” tanyaku.

Pohan menjawabku: “Sesuatu...”

Sesuatu apa? Sialan! Ada sesuatu yang tiba-tiba mengembang di rongga dadaku. Lama-lama membuat sesak: bikin susah bernapas. Beginilah kalau bertanya pada orang sakti! Pasti ada sesuatu-nya. Kadang hantu, arwah jahat, ilmu hitam. Apa yang barusan kukatakan? Anjinglah!!! Kenapa bawa-bawa hantu? Selalu saja. Kalau sudah bawa-bawa hantu, misteri apapun bisa dijelaskan—bagi yang percaya. Misteri Belu tidak tertidur setelah minum obatnya pun terjawab sudah karena hantu.

Aku menguap.

Tiap kali begitu dingin terasa sangat menusuk. Sampai-sampai membuat urat-urat di leherku menegang. Seakan-akan akan kram. Apa yang sedang kami lakukan? Menuju tengah malam begini, kami mencari orang yang kurang waras. Merayap di tengah kebun kelapa sawit yang gelap. Hujan tadi sore membuat jalan di bawahnya jadi licin pula. Sementara di atas kami, daun-daun sawit menghalangi cahaya bulan yang—sudahlah pula redup. Entah bagaimana di mataku, tiap pohon sawit tampak bersisik dan berukuran raksasa ketika disorot lampu motor. Sisik-sisik itu bagai dipoles masker pelindung kulit yang biasanya digunakan para pekerja kebun. Aku bergidik. Teringat pola-pola tertentu yang memunculkan gambar lain jika dilihat dengan cara berbeda.

Dia tertidur di sebuah gubuk, di ladang kalian yang ditumbuhi pohon pisang. Belum lewat sungai Gerpang. Perbatasan.

Perbatasan?

Artinya Belu ada di sekitar Dalia… Maka kami berhenti di setiap ladang yang ada di sekitar sana. Ladang mana saja yang punya gubuk: yang ada pohon pisangnya.

Kak Belu, ayo pulang!
Kak Belu, ayo pulang!

Lampu motor diarahkan ke semua penjuru: Belu tidak terlihat di mana-mana. Hanya hitam. Hanya gelap. Dan rasanya keduanya dekat sekali mengelilingi. Aku merasa terkurung. Aku terbayang bagaimana Belu menghadapi kegelapan (Tangkup bilang Belu takut gelap). Membuatku takut sendiri membayangkan aku jadi Belu dan berada di tempat gelap dan asing. Aku pasti menjerit-jerit minta tolong. Ketika mendengar teriakanku sendiri, itu malah melipatgandakan rasa takutku. Dan betapa aku akan semakin, semakin menjerit karena aku sudah tahu tidak akan pernah ada yang mendengarku.

“Ngantuk?” tanya teman yang kubonceng.

“Enggak,” balasku setelah menguap untuk kesekian kalinya.

“Tinggal satu,” katanya menyemangati.

Usut punya usut, ladang terakhir yang kami datangi, dulunya adalah tanah kakek dari kakeknya Pohan. Tapi entah sudah berapa kali berganti-ganti pemilik. “Pantas si Dukun tadi bilang ladang kalian,” kata Pohan sadar. Di ladang itulah, di dalam gubuknya, Belu meringkuk seperti seekor anak anjing. Terbangun ia begitu mendengar suara kami. Wajah gemuknya tampak polos. Kukira ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku keliru karena samar mendengarnya mengigau: “…kalian tak mencariku?” Tangkup lantas menghambur memeluk Belu. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Ia menangis bagai anak kecil. Sementara Pohan tetap berdiri. Tersedu-sedu. Kami pun tak kuasa menahan haru.

Tiba-tiba aku merasa dibelai lembut.

“Sebaiknya kita segera pulang,” kataku menyembunyikan rasa ngeri. Siapa bisa menjamin kalau hantu itu tidak sedang memperhatikan kami? Dan betapa sialnya: Tangkup malah memintaku memegangi Belu di belakangnya.

Kenapa harus aku?

Tak punya pilihan: Kuberikan kunci motorku pada Merap, bukan, tapi Payo. Ah, aku lupa. Yang pasti aku tidak suka.

Tubuhnya dingin dan berat. Kudengar-dengar bobot seseorang yang kerasukan akan sangat berat. Dan tak masuk akal. Tapi Belu memang gemuk! Ia gendut, tepisku di pikiranku, lantas berusaha menahan tubuhnya agar tak mendesakku semakin ke belakang. Selama perjalanan pulang, ia terus mengigau mengatakan hal yang sama: kenapa kalian tidak mencariku. Aku sampai berpikir kalau yang bicara itu bukan dirinya.
Dan herannya kampungku jadi jauh sekali! Sudah berapa lama aku merasa kami masih berputar-putar saja. Jalanan semakin berkelok-kelok tanpa ujung. Tanpa tanda-tanda kampung sudah dekat. Semua pohon sawit itu pun mendadak sama: Bersisik seperti ular. Kutegakkan badanku. Rambut Belu yang terurai menghalangi pandanganku. Aku tak mau bergidik meski tetap saja itu terasa bagai lidah-lidah kecil dan dingin yang menjilati wajahku.

Cepatlah sampai, cepatlah sampai.

Jalan berbatu: jalan masuk kampung. Di saat begitu berat badan Belu semakin tak tertahan pula. Ia semakin lunglai—dan mungkin mengira sedang di atas kasurnya. Tak bisa kubiarkan. Kudorong bahunya, tapi khawatir mengganggu posisi Tangkup. Kutahan pinggangnya yang berlemak. Aku geli sendiri.

Ah, sedikit lagi.

Sekonyong-konyong bisa kulihat orang-orang berkerumun. Di depan pintu, di bawah pohon, di halaman. Orang tua Tangkup tak kuasa: Tangis pun pecah menggenapi malam. Di kamarnya, Belu dibaringkan dengan selimut tebal. Mak Tua—aku memanggil ibu Tangkup dengan sebutan itu—mengusap-usap dahi Belu dengan penuh kasih. Di telingaku, isak tangisnya terdengar seperti nyanyian pilu. Tangkup pun tak henti-hentinya mengoceh dengan berlinang air mata. Kalau tidak ada Belu, mungkin ibunya tidak akan melahirkan anak laki-laki. Kalau tidak ada Belu—

—Tangkup meratap membayangkan kalau kakaknya tidak ada.

Tapi bagaimanapun, pencarian telah berakhir. Aku sudah bisa pulang meski masih dengan pikiran mengawang: Hantu seperti apa yang menculik Belu? Apa ini ulah pendendam? Apakah Belu mengobrol dengan penculiknya dan tidak menyadarinya? Aku mulai mengarang ceritanya sesuai imajinasiku. Aku menguap lagi. Mataku mulai redup seiring cerita karanganku yang tak kunjung sampai di akhir cerita.


***


Aku bangun agak siang—sadar ketika di teras aku dipapar sinar matahari yang lumayan panas. Mamakku datang entah dari mana dan bertanya kenapa aku tidak ke rumah Mak Tua. “Kenapa?” tanyaku sadar tak sadar.

Belu menghilang lagi.

Lenyap tanpa bekas.

Hantu sialan!

Aku segera berlari tanpa sempat memakai sandal. Di depan rumah Mak Tua sudah ramai orang-orang berkerumun. “Bukannya kau ikut tadi malam?” ada yang bertanya. “Bukannya tadi malam kalian sudah bawa pulang?” tandas yang lain. Aku bingung. Mana Tangkup dan Pohan? Di mana mereka? Dari bisik-bisik yang kudengar aku tahu bahwa mereka sudah pergi ke gubuk tempat kami menemukan Belu tadi malam. Di kepalaku lantas muncul pohon-pohon sawit.

Bisa kurasakan darahku berdesir di seluruh tubuhku. Sangat mengganggu dan aku berharap pingsan saja untuk melewatkannya. Kugaruk-garuk leher, sela-sela jari-jariku, pinggang, juga bagian dalam pahaku. Tapi desirnya tak kunjung berhenti. Membuatku blingsatan sampai teman-temanku keheranan. Tepat ketika seseorang bertanya, mataku menangkap Tangkup di atas motornya. Membonceng Pohan. Mereka datang dengan bercucuran air mata. Di tengah mereka, di pangkuan Pohan, ada Belu yang tak bergerak dengan mata tertutup. Tiba-tiba kepalanya yang tersandar di dada Pohan lunglai ke kiri. Wajah pucat itu membuat desir darahku seketika berhenti. – Lau Rempak, Agustus 2015.



Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Biasa aja buat saya.

90

Speechless dehh mo komen apa, yang pasti endingnya bikin merinding bombay...

Good job bang shinichi...

90

Menarik sih. Chekhov atau bukan, saya kurang pendalaman juga, hehehe. Yang saya suka, di awal sarat dialog, kemudian sarat deskripsi, kemudian keduanya berbaur. Setidaknya begitulah kesan yang saya dapatkan.
Kalau tidak puas, bikin baru lagi aja. Iya kan?
Kip nulis deh :)

90

Eh saya suka ini. Lumayan bisa mengerti ttg bahwa yg dibawa pulang itu roh. Lalu, saya juga merasa perwujudan sisik pohon sawit itu cuma karna takut aja, dan garuk garuk leher atau apapun itu ya cuma karena lagi resah saja. Manusia kan punya kecenderungan garuk garuk kalau resah atau salting, kalau kucing biasanya jilat jilat..loh kok malah bahas kucing..saya juga suka penjabaran detil ttg settingnya. Taapi ada satu hal yg saya ngga ngerti. Belu meminum obat tapi tidak tertidur maksudnya apa ya?

100

Sebelum saya berkomentar, saya malah duduk menatap kolom komentar karena bingung mau komentar apa. Saya juga menyesal tadi--saat scroll ke bawah melihat komentar teman-teman yang lain dan balasan darimu, bang--karena saya jadi tahu apa yang ingin saya tahu. Padahal sudah buat semacam "notes" untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. -__-
.
Jadi ini tentang kehilangan. Secara pribadi, yang saya tangkap itu begini:
Pohan itu adik Belu yang sudah kerja (saya anggap saja dia PNS, karena ada keterangan ia baru pulang dari Kota Kecamatan--kalau misalnya saya anggap dia penjual kacang, kecil kemungkinan orang pergi ke Kota Kecamatan cuma mau jual kacang) dan tipe-tipe orang yang apa ya? Rasional mungkin (?). Sementara Tangkup, dia orangnya kan bekerja di ladang, jadi saya tangkap Tangkup itu orang yang lebih condong ke emosional.
.
Setelah cerita mulai mengangkat konplik kehilangan Belu, di situ sempat ada konfrontasi pisik antara Pohan dan Tangkup perihal beda setuju mereka dengan cara merawat Belu. Pada bagian-bagian selanjutnya, ada selipan kalau dulu itu Belu masih waras, tapi sejak negara api menyerang, atau lebih tepatnya mulai sakit-sakitan, ia berubah menjadi orang yang kurang waras. Semenjak itu, orang-orang menjadi prihatin dengan keadaan si Belu ini. Saya melihatnya begini, bang. Si Belu ini secara tidak langsung adalah pengikat hubungan antara si Pohan dan si Tangkup.
.
Cerita berlanjut, dan di situ mulai masuk unsur-unsur mistis (orang pintar, kelapa sawit, dan hantu, hiiiiii). Saya seperti ikut kebawa pikiran si Aku yang tidak setuju dengan mencari orang yang hilang pakai orang pintar. Di bagian ini saya merasa sudah mulai dibawa masuk ke dalam dunia ghoib:
"Gatal di tengkukku. Kugaruk di dekat rambut. Sepertinya ada butiran pasir yang menggesek kulit. Bergemerisik. Ah, mendadak ingin merokok ...." Dan seterusnya saya dibawa--melalui pikiran si aku--untuk mulai berpikir bahwa ada suswanto (baca: sesuatu) yang tidak beres ini. Melihat di situ dijabarkan ketakutan si Aku dengan penampakan pohon-pohon kelapa sawit di tengah malam.
.
Saat mereka akhirnya menemukan Belu untuk pertama kalinya. Di situ sudah ada petunjuk kalau Belu yang dulu, bukanlah Belu yang sekarang (alias Belu itu sebenarnya sudah jadi arwah):
"Tubuhnya dingin dan berat."
Hal ini juga didukung dengan pembahasan tentang hantu pada bagian-bagian sebelumnya. Kemudian di akhir cerita, si Belu hilang lagi, ditemukan lagi, tapi sudah tak bernyawa.
.
Kesimpulan yang saya tarik itu begini:
1. Kita baru akan merasa kehilangan, ketika kita sudah kehilangan. Saya melihat tingkah laku Pohan dan Tangkup (walaupun di sini tidak diceritakan bagaimana perilaku Pohan dan Tangkup pada Belu sebelum Belu hilang) sama-sama tidak terlalu peduli dengan Belu yang sudah kehilangan kewarasan itu. Baru nanti ketika ia hilang sampai tengah malam, mereka berdua mulai khawatir. Artinya di sini, kebanyakan kita memang begitu. Nanti nenek sudah mau sakaratul maut baru kita datang berkunjung. Nanti keluarga sudah mulai sakit-sakitan parah baru kita mau bersilaturahmi. Nanti pacar sudah mulai selingkuh baru kita sadar untuk memberi dia perhatian lebih. Saya melihat hal ini dari kisah si Belu ini.
2. Manusia hanya akan peduli, jika yang dipedulikan juga peduli. Artinya harus ada timbal balik. Si Belu ini, dulunya suka merawat Pohan dan Tangkup. Ketika si Belu sudah kehilangan kewarasan, Pohan dan Tangkup mulai tidak peduli dengan Belu seperti Belu yang sudah mulai tidak peduli dengan mereka (karena hilang akal). Karena saya merasa mayoritas masyarakat kita membangun hubungan sosial, berdasarkan prinsip timbal balik. Lu kasih baru saya kasih. Hanya sedikit dari kita yang benar-benar memberi dan tidak mengharapkan pamrih.
.
Sebagai penutup, cerpen ini manis, tidak berat, bikin penasaran, dan juga seru. Hehehehe :)
.
Segitu saja dari saya, bang chris. Mohon maaf kalau-kalau ada kata yang kurang berkenan, atau hal-hal yang saya salah tangkap.
.
Salam Olahraga :)

100

Saya sudah baca berulang kali tapi belum kunjung benar-benar paham @.@
Cara penceritaanmuuu, mantap amat. Enak ngikutinnya. Isi ceritanya kaya sekali dengan unsur kedaerahan, dan dituturkan dengan rinci dan lancar, jadi nyaman aja bacanya.
Sampai akhir, masih menyisakan banyak misteri buat saya.
Salam kenal.

100

Cerita dengan banyak unsur lokalitas seperti ini selalu punya kekayaan tersendiri #halah. Tidak melulu soal isi ceritanya tapi juga dari unsur2 pembangunnya seperti setting dan latar budaya. Tapi memang iya, agak tersesat rasanya buat pembaca kaya saya yang gak punya pengetahuan soal budaya tersebut hingga memilih untuk membangun tafsir sendiri. Apakah ketidakwarasan Belu juga karena gangguan hal gaib, disusul hilangnya, lalu matinya. Apakah sisik2 sawit itu perwujudan dari ketakutan atau malah 'penculik' Belu. Meski mungkin melenceng dari yang dimaksudkan dalam cerita, tapi saya menikmati tafsir2 ngasal seperti itu :p.. Sekali lagi, salut buatmu bang shinichi karena setidaknya lewat komen2 sebelumnya saya tahu satu lagi kearifan lokal dari Lau Rempak.

Yasudah, demikian saja, sebelum komen saya makin ngawur :))

90

baru ngerti ceritanya setelah baca balesan komenanmu, bang.
sebetulnya kejanggalan bahwa Belu ga tidur lagi setelah minum obat, juga sensasi yang dirasakan si aku, bisa kasih petunjuk. tapi, mungkin seperti yang dikatakan dirimu, perlu latar kebudayaan yang sama agar fenomena gaib yang diceritakan di sini mengena. setelah baca penjelasanmu itu, saya bisa ngeh sama hubungan batin yang mungkin dimiliki Tangkup pada Belu. tapi perkara "ketemu dan hilang lagi" itu masih kurang bisa dipahami saya. kalau begitu, yang dibawa pulang pertama kali itu hantunya Belu, jasadnya ketinggalan dan baru disadari kemudian? kenapa hantu bisa dipegang2? waha. terus sebabnya Belu meninggal itu kenapa? (atau, penting ga sih mengetahui sebabnya Belu meninggal?)
selain itu, saya iri dirimu punya khazanah budaya yang kaya untuk diceritakan, bang :v

kira-kira begitu, soal latar kebudayaan. riskan siy, ntar kalo bawa-bawa itu secara rinci, cerpen malah enggak menyentuh sisi psikologis #halah. btw, yang dibawa mereka pulang malam-malam itu ya roh Belu. soal kenapa hantu itu bisa dipegang? nah, itu kamu dan kita terpengaruh soal apa hantu itu melalui media lain. atau bahan bacaan lain ;) Beberapa orang yang mengaku pernah bertemu roh seseorang yang sudah meninggal, di tempat tinggalku, biasanya itu seorang cucu yang dijenguk arwah leluhurnya, mereka berinteraksi sama seperti kita manusia hidup ini. ya, tentu saja itu beranjak dari latar di tempat tinggalku pulak :D
.
soal alasan Belu meninggal, ya enggak penting memang. btw, makasih udah mampir lagi di mari, Lii. ahak hak hak. kip nulis.

ada yang nyaranin sih, bang, gimana kalo latar kebudayaannya itu dijelaskan lewat catatan kaki?
weh, saya baru tahu hantu juga bisa dipegang2. berarti hantu juga ga mesti yang melayang2/kakinya ga napak, ya? he .... jan, misteri tenan.
penasaran aja sih sebabnya Belu meninggal, jadi kurang puas gitu, bang, hehehe.
samsam, bang, kip nulis juga :)

iya. lain kali aja. soalnya penjelasan soal latar belakangnya itu enggak banget siy karena ya cuman lokal. ahak hak hak

weh, lokal tapi unik kan, bang, enggak banyak yang tau, hehe.

enggak mau aaahhh

yaaaaahhhh :@

Jangan pake catatan kaki.
Ada cara yang lebih asoy.
Tapi....
Kasih tau nggak yaaa...
:p

100

Bang Sinichi! Aku sukak kali cara penulisan dan pola bahasamu bang. Natural. Terimakasih udah memposting cerita yang mahal ini, Bang.

waduh! cerita mahal segala. ahak hak hak :p
makasiy buat pujiannya, lae. semoga bisa bikin dirimu semangat belajar menulis, biar kita sama-sama keren :D
ahak hak hak

Iya bang. Nulis cerpen itu gampang, jadi penulis yang keren kyk abang ini yang susah akakaka :D

ahahahahahahaha. jadi besar kali kepalaku kau buat, lae.
ahak hak hak. ywd, dirimu postlah cerpenmu. jangan diapus segala :p

Ahaha jelek cerpenku lae. Jerah aku

ya, jangan begitulaaahh

80

Kayak biasa, Bang, cerita-ceritamu tentang Lau Rempak ini oke sekali, lebih oke ketimbang cerita-ceritamu yang latarnya lebih kekotaan (kecuali "Talun Kenas"). Detail-detail kecil kayak pohon sawit, pemukiman karyawan lonsum, juga nama-nama tempat yang disebutin sambil lalu, ngasih kesan unik, kayak yang udah saya bahas di komentar "Porpik Porpik" itu.
*
Tapi kalau boleh dibandingin sama sesama cerita Lau Rempak, yang ini yang paling enggak berkesan buat saya. Mungkin karena yang "Kandang Babi" sama "Porpik Porpik" nuansanya anak-anak, jadi terasa lebih bebas dirimu, juga ada kesan nostalgik yang bikin orang-orang kepincut itu. Di cerita ini nuansanya dari awal udah suram, intens, enggak ada sisi kekanakan anak desa kayak di dua ceritamu sebelumnya. Ya itu wajar sih, pembaca pasti juga bosan kalau semua cerita Lau Rempak-mu setipe sama "Porpik Porpik", misalnya. Seandainya ini kumcer pasti cerita "Belu" ini bisa jadi variasi yang menarik.
*
Tapi "Belu" di sini saya anggap berdiri sendiri. Di cerita ini dirimu mengangkat tema orang hilang. Dari awal konflik udah langsung disodorin enggak pakai basa-basi, saya suka. Terus cerita bergulir ke bagian pencarian. Di sini Abang milih pakai tekhnik telling, sebab kalau di-show semua jelas ceritanya bakal kepanjangan. Tapi begitu sampai bagian mereka minta bantuan sama orang pintar itu perhatian saya mulai kelepas-lepas. Semestinya di bagian itu menarik, itu salah satu poin, tapi saya bacanya datar aja. Sampai bagian pencarian lagi, terus Belu ketemu, penceritaan masih datar. Saya ngebayangin gimana kalau misalnya bagian Belu ditemukan itu dibikin dramatis dikiit... aja, semisal baris yang mengatakan Belu ketemu itu dijadiin paragraf sendirian, biar enggak lempeng-lempeng amat kita bacanya, meskipun barangkali bukan itu efek yang dirimu harapkan dalam cerpen ini, hehe:)
*
Dan akhirnya kita sampai ke ending. Jujur saya enggak paham sama sekali apa kaitan antara narator dan ending itu. Jelas ada sesuatu yang saya lewatkan perihal "darah berdesir" itu. Entah itu menyiratkan apa, saya enggak nangkap, maafkan. Jadi ini mungkin lebih ke masalah saya ketimbang masalah cerpennya, tapi endingmu enggak ngasih dampak apapun buat saya. Meskipun saya cukup sedih sama nasibnya Belu.
*
Latar belakang Belu, yang dirimu selipkan lewat cerita Tangkup secara sekilas, mestinya bisa bikin pembaca lebih terikat secara emosional, tapi lagi-lagi itu enggak bekerja buat saya. Tapi saya cukup nangkep ironinya: si Belu yang baik dan penyayang malah jadi orang gila, dan bahkan saudaranya sendiri pingin naruh dia di RSJ.
*
Dan si narator. Kenapa enggak menceritakan ini langsung dari sudut pandang Tangkup atau Pohan, atau dari POV 3 serba tahu? (mungkin ada hubungan sama endingnya, yang saya enggak nangkep itu)
*
Sekian abang. semoga komentar ini berkenan. Salam.

Ahak hak hak.
.
Iya, enggak kekanakan karena ceritanya juga tentang orang dewasa. Kalau lainnya itu, sengaja ingat masa lalu. Yang ini istilahnya based on tru event. Awalnya ini lebih panjang karena terkait soal kepercayaan penduduk lokal terhadap hal-hal misterius atau gaib. Meski begitu Belu ini beranjak dari pemahaman lokal, bahwa jika seorang perempuan punya adik laki-laki, maka secara hubungan-roh, dialah yang punya takdir memiliki-adik-laki-laki. Bedanya, jika anak pertama perempuan, lalu anak kedua perempuan, lalu laki-laki, maka anak kedualah yang punya takdir punya-adik-cowok. Anak pertama enggak. Jadi, hubungan batin itulah yang seharusnya dihajar di Belu ini. Sayangnya, saya keabisan source. Ahak hak hak.
.
Sementara hal lainnya, termasuk soal orang-pintar itu, cuma pelengkap. Tapi adanya itu juga cerita enggak bakal keilangan alurnya, dan bakal tetep sampai di ending Belu hilang lagi dan ditemukan sudah meninggal dunia. Dan lagi-lagi saya musti lebih fokus karena menyoal ironi Belu yang penyayang tiba-tiba jadi gila, atau saudaranya yang malah ingin memasukkannya ke RSJ sama sekali enggak saya pikirkan akan jadi pikiran pembaca. Maapken saya :D
.
Dan ending yang enggak nangkep itu, Belu yang ditemukan pertama kali itu cuma arwah. Belu yang ditemukan pagi hari itulah Belu yang sebenarnya, yang sudah meninggal. Kira-kira seperti itu. Namun banyak hal yang membuat ending begitu hanya bisa ditangkap oleh pembaca yang mungkin beranjak dari latar kebudayaan yang relatif sama. Tentang roh seseorang yang akan selalu berhubungan dengan arwah leluhurnya, sekalipun ia enggak kenal sama sekali. Namun, saya akui membahas itu semua dalam satu cerpen dengan tema menemukan dan kehilangan begini, bisa bikin bosan dan terlalu lokal. Kira-kira begitu, Bung :D
.
makasiy buat komentarnya. ahak hak hak

80

Suasananya kerasa banget.. cuma kenapa dipikiran saya berasa open ending ya?
bahasanya bagus kak, enak dibaca..
salam kenal..

open ending? maksudnya, ending yang terbuka bagi siapa untuk menginterpretasikannya? saya enggak bermaksud begitu siy. ahak hak hak. salam kenal jugak XD

70

pas pertama baca, saya agak bingung di bagian kemunculan tangkup, tapi setelah membaca beberapa baris ke bawah baru tahu kalau tangkup ternyata salah satu sodara pohan.

Kami segera pasang badan di antara dua saudara ini. dibagian ini saya bingung bang, tidak ingat membaca bagian yang menjelaskan ada banyak orang di sana, karena seingat saya hanya aku yang di panggil oleh pohan.

seterusnya bagus bang. suasananya terasa. hanya awal saja tadi sempat bingung.
eh itu si aku gatel2 maksudnya apa bang?

hwooo... seingat saya, saya ada nulis kalo di bawah pohon nangka ada teman-teman si aku yang lainnya. yang udah nungguin. ahak hak hak. kalo enggak ada, berarti ilang pas pemangkasan XD
.
mengenai "ternyata tangkup adalah sodara pohan" itu cara bercerita yang enggak melulu naratif, ceritanya :D
.
kalo gatel-gatel itu, cuman efek. ahak hak hak

90

Aaaaaaa..... *teriak2 histeris
masih banyak(bahkan terlalu banyak) misteri yg belum terpecahkan dan menggelayut gelayut di pikiran saya T_T

untung saya enggak bikin tag misteri. ahak hak hak :p

untung aja bang.. hahahah :D
dan setelah saya baca lagi, sudahlah, lupakan, biarkan misteri tetap jadi misteri :3

sebenarnya enggak ada misteri yang enggak terungkap di sini. buat saya, tentu saja. ahak hak hak

weh.. berarti ini sayanya yang lemot bang..
ahahahahah :D

yang jadi misteri, kenapa si belu gak tidur padahal dia kan udah minum obat?
dia memang ditemukan tidur (tanpa nyawa) tapi apakah yang membuat dia meninggal?
apakah obatnya?
kalau memang meninggal karna obatnya, berarti ada yang menyabotase obatnya, trus apakah salah satu dari kakak beradik itu pembunuhnya?

trus lagi, ini tentang gigauan belu : “…kalian tak mencariku?”
kenapa dia ngegigau tentang itu?

nah trus lagi, kan si belu udah di bawa pulang, tapi pagi2nya (agak siangan) kok si belu dibawa pulang tanpa nyawa?
apakah yang semalam dibawanya itu hantunya si belu?
atau itu memang si belu, tapi setelah semua pulang, si pembunuh membawa belu ke tempat dia di temukan lalu membunuhnya?

PS: ini bentuk pertanyaannya melingkar
ahahahahah :D
ah, bang shin pasti ngerti lah :3

ahak hak hak. koplak dah. pertama yang musti ditekankan, dan mungkin saya enggak tau caranya melalui cerita, adalah cerita ini bukan tentang pembunuhan. tapi kehilangan. dalam hal ini, saya pingin pembaca membacanya bukan soal jawaban atau alasan Belu hilang, ketemu, mati, hantu, melainkan dia hilang. sama kayak tokoh aku, ketika semuanya berkaitan dengan "orang pintar" dia jadi enggak enak. jadi muak. karena ia mungkin seperti di posisimu juga: pengen ngejawab misteri. ahak hak hak.
.
kalau mau dijabarkan satu-satu siy, bisa. tapi alasannya enggak bakal sesuai, misal dengan pemahaman pembaca. pun, penulis di sini, enggak menekankan alasan. intinya, Belu hilang, ketemu, lalu hilang, dan ketemu lagi. begitu saja :D

ahahahahha :D
nah yang begitu begitu itu bang yang otak saya suka ngeyel kalo dibilangin..
masih aja dijadiin bahan pikiran :3
lagian bang shin ngebuat sudut pandangnya hampir sama dengan posisi saya "pengen ngejawab misteri"
udah bang, dibuatin aja versi misterinya..