Peristiwa LDK

Truk-truk mulai berderum, ku gendong tas seberat batu, dan beberapa barang bawaan yang ku tenteng sendiri. Beberapa siswa memakai seragam muslim, yang dibalut dengan jaket  hangat. Semua berkumpul, berbaris dengan rapih di lapangan.

 

“Sebelum berangkat, mari kita berdoa terlebih dahulu” Ucap guru, memakai toa. Semua menundukan kepala, mengangkat kedua tangan.  “Berdoa selesai” semua menuju truk masing masing dengan sedikit tergesa-gesa.

Truk ini tak besar, biasa digunakan untuk Brimob. Ada sekitar 20 truk untuk membawa 400 murid atau satu angkatan. Di dalam sini sangat sempit sumpek. Kecilnya truk tak sebanding dengan jumlah siswa yang diangkut. Sampai ada yang harus rela duduk di jendela. Aku duduk bersama 20 teman lainnya.

Rupanya matahari pun sudah mulai naik, semua barang bawaan ditaruh dikolong bangku. Di perjalanan aku hanya sempat mengobrol, bernyanyi, dan bercanda riang. Tapi aku merasa ada yang aneh di kepalaku. Tiba tiba aku merasa pusing dan sedikit mual, ntah ini Karena sensasi menaiki truk, atau aku saja yang sedikit norak. Yang jelas aku hanya bisa diam dan tidur.

“DUARR!!” aku loncat, aku kaget, terbangun dari tidur ku. Aku bingung, truk bergetar, berjalan miring. Semua panik dan .Keringat bercucuran di tubuhku, rasa pusing seketika hilang. Ntah apa yang terjadi diluar. Truk perlahan mulai berhenti dan semua langsung berhamburan keluar. “Yaah, aku kira ada perang dunia ke 3” ucap Toni. “Iya nih, ternyata cuma ban truknya yang pecah” balas diriku dengan nada kesal. Sang Supir keluar, dan berbicara pada kami. Ia menyakinkan kami bahwa bannya akan betul dengan secepatnya.

Kami datang paling akhir dari truk lainnya karena masalah tadi. Begitu sampai kami harus mendaki bersama. Sudah sempit-sempitan di mobil, pas sudah sampai malah disuruh mendaki pula. Apalagi dengan membawa tas yang beratnya tak karuan. Tapi kami hanya mendaki sebentar, karena tidak terlalu jauh dari tempat pemberhentian truk tadi.

Seluruh Siswa sudah terlihat berkumpul di lapangan, yang di sampingnya ada kolam besar. Pemandangan sekitar terlihat sangat sedap di pandang mata. Udara dingin menembus jaket hangat ku. Aku duduk dan berkumpul dengan pengurus osis lainnya untuk menghilangkan rasa capek. “Selamat datang para peserta Latihan Dasar Kepemimpinan atau LDK SMAN 6 Tangsel, Di Green Pakis, Gunung Salak.” ucap seseorang yang memakai baju militer memakai toa.  Kami dipersilahkan untuk menaruh barang bawaan di sebuah bangunan besar yang tak berisi yang disebut barak.

Aku mengencangkan jaket ku, hari mulai gelap dan terasa dingin. Semua siswa, dikumpulkan dilapangan tadi dan duduk di atas rumput tanpa alas. Kami bersiap untuk makan malam, Semua nasi, lauk dan minum dibagi secara bergilir. “Waktu kalian makan hanya 2 menit, kalau tidak habis akan ada hukuman!” Aku tersentak kaget, apa-apaan ini, tak mungkin seluruh siswa disini menghabiskan makanan secepat itu. Suara gemuruh berteriak panik, aku mengahabiskan makanan tanpa dikunyah, Aku melihat kebanyakan dari mereka membuang makanan dengan diam-diam. Tak disangka, salah satu dari mereka tertangkap oleh mata kakak-kakak pembimbing LDK. Laki-laki kurus itu di bentak, dan mendapat hukuman, push up 100 kali. Semua langsung senyap, berbisik miris melihat  Ucup, laki-laki yang membuang nasi.

Pukul 02.00 pagi, waktu yang terlalu malam untuk terbangun dari mimpi, kulihat sekitar mengeluh terbangun karena suara sirine itu. Kakak pembimbing ldk masuk kebarak membangunkan satu persatu dari kami yang belum terbangun. Kami baris, dan dikumpulkan dilapangan.

“mau ngapain sih ini?, masih pagi juga” keluh Fransiskus, karena kesal. Aku berusaha menahan rasa kantukku. Semuanya berusaha mendengarkan sang pembimbing LDK, dengan setengah tidur, dan mata sayup-sayup. Ada dua kata yang membuat seluruh siswa disini menjadi segar kembali, “jerit malam”. Semua merasa kaget, ada yang takut, dan ada pula yang malah merasa tertantang.

Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, satu kelompok berisi 10 orang. Aku sekelempok dengan anak-anak pengurus OSIS, kami hanya dibekali korek gas untuk penerangan. Satu per satu kelompok mulai jalan, dan yang terakhir adalah kelompok aku. Aku dan teman-teman berjalan ke hutan, hawa dingin mulai terasa, bulu kuduk mulai berdiri, pikiran mulai mengarah kepada yang negatif. Kami saling berpegangan satu sama lain. Gelap gulita , tak terlihat apa-apa. Modal kami hanya sebuah tali rapia pembatas jalan. “WOOAA” Aku loncat, sontak kaget, suara apa itu? Apakah itu manusia? Aku dan teman berlari ketakutan, dan berhenti ketika melihat orang berbungkus kain kafan berdiri menggantung. Semua terdiam, seperti tak bisa bergerak. Jatung berdebar sangat kencang, keringat bercucuran. Kami semua teriak “Tangsel-Tangsel” itu merupakan kode, kami agar bisa mendapat bantuan. Tapi tak ada pertolongan datang, kami lari melewati pocong itu dan setelah kutengok, ternyata itu hanya guling yang dibungkus kain putih. Begitu malunya aku, takut dengan barang yang setiap malam aku peluk saat tidur.

“yaah ini sih gak serem” Seru Fransiskus, berani sekali dia mengucapkan hal itu, ataukah memang aku saja yang pengecut. Aku tidak boleh menjadi pengecut. Aku meminta paling berjalan di paling depan untuk memimpin jalan, dan ternyata itu lebih seram dari yang aku bayangkan, aku lemas ketakutan, akhirnya aku kebelakang lagi. Malu aku.

Aku dan yang lain menuju “Pos Lagu Nasional” disana kami menyanyikan lagu nasional, dan disaat kami menghitung jumlah anggota. Kami hanya ada bersembilan. “FARHAN HILANG” teriak Dandi. Aku panik sendiri, dan berpikir yang negatif, bagaimana kalu Farhan di culik hantu? Bagaimana kalau Farhan di telan bumi? Ah ini Cuma pikiran ku saja. Aku dan yang lain bersama kakak pembimbing yang ada di pos lagu nasional bergerak memutar arah kebelakang, untuk mencari Farhan, dengan menggunakan Toa, kami berteriak memanggil nama Farhan. Suasana sunyi. Hanya ada teriakan “Tangsel” dari kelompok yang lainnya. Jantung berdebar-debar, badanku rasanya bergetar membayangkan Farhan tertinggal dihutan yang gelap gulita ini. Kami melewati guling yang kami takuti tadi, melewati beberapa pos yang sudah kami lewati. Tak ada juga.

Aku teringat soal mimpi saat aku tidur di truk tadi, disana aku berada dihutan bersama teman-teman, aku sedikit lupa, yang jelas aku dan teman-teman sedang melakukan jerit malam. kelompok kehilangan satu anggota, dan ntah apa yang terjadi apakah Farhan ditemukan atau tidak, aku terbangun karena pecahnya ban truk. Apakah ini menjadi nyata?

Pada saat makan kemarin, aku sempat berbincang pada Farhan. “jar, kayaknya aku nanti malam mau pergi deh” ucap Farhan kepadaku, aku tak tahu maksud Farhan itu apa. Aku tak menghiraukannya. Kini aku menyesal. Berharap waktu dapat terulang kembali. Kami semua membaca Al-Fatihah untuk Farhan dan hendak kembali ke barak untuk memberitahu kepada pihak sekolah bahwa Farhan tidak ditemukan. Isak tangis terdengar diantara kami, Aku mengingat-ingat semua kebaikan Farhan yang telah di lakukan kepadaku.

Barak sudah terlihat dari kejauhan, aku dan yang lain berjalan lesu. Ada yang mengganjal di mata ku, aku terus saja ingin melihat warung kopi di dekat barak itu. Aku melihat seseorang yang pernah ku kenal. Kurus, dan keriting. Aku mengajak teman-temanku yang lain untuk menghampiri warung kopi itu. “ITU FARHAANN!!!” Teriak Sinung. Semua yang ada di warung kopi menengok heran. Aku kaget, aku memaksa Farhan agar bercerita kenapa dia bisa ada disini. “Aku takut banget sama jerit malem, aku trauma. Jadi pas kalian mau jalan aku langsung kabur, tadinya aku mau bilang ke kalian, tapi nanti di kira penakut” Jelas Farhan, sekarang aku malah ingin menaruhnya di tengah hutan karena telah membuat semuanya panik. “tadi kamu bilang ke aku katanya mau pergi, maksudnya apa?” tanya ku. “Oooh itu , aku ingin bicara kalu aku ingin pergi ke warung kopi” jelas Farhan. Kami semua akhirnya melemparkan Farhan ke kolam.

Kami semua pulang dengan selamat, turun dari gunung, di sambut dengan truk yang membawa kami kesini. Semua yang berangkat pasti akan pulang. Kami pulang dengan selamat, begitu juga dengan Farhan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer lost_boy
lost_boy at Peristiwa LDK (4 years 4 weeks ago)
60

hampir sama kayak sebelumnya emang harus diakui greget di cerita ini kurang (yahh walau cerita buatanku juga kurang greget juga kayaknya).

Writer citapraaa
citapraaa at Peristiwa LDK (4 years 4 weeks ago)

wkwk dari pengalaman pribadi nih ya.. soalnya nyeritainnya kayak datar aja. hehe. padahal kan harusnya kerasa. masa Farhan diceburin ke danau, ga ada apaannya gitu. eh, atau itu sengaja biar kesannya ga penting? (?) nulisnya kayak ingin cepat selesai, ga ada unsur dramatis.. maksudnya.. cerita ini, karena (mungkin) dari pengalaman, kurang ditambahin bumbu cerita (halah).
mungkin jjuga karena tokohnya yang kurang.... gimana gitu :/ ya banyak2 baca cerita keren dan tetap latihan ya
(saya juga tokohnya abal2 semua, ga unik:v)
trus inti cerita ini apa ya.. judulnya sih Pengalaman LDK, yg diceritain juga keseluruhan LDKnya, tapi (lagi lagi) rasanya kyk curhatan biasa aja. dari mana trus nyambung ke Farhan, trus abis..
oke sekian. maaf kalau salah kata. semoga terus berkarya ;) ;)

Writer salv0
salv0 at Peristiwa LDK (4 years 4 weeks ago)
70

gatau mau komen apa karena masih nubie :D tapi nilai 7 dari 10 saya rasa cukup untuk menjelaskan kesukaan saya.