Riri's Boyfriend: "aku bertanya-tanya" [Chap 5]

In Last Chapter:

Tempat itu gelap. Tak ada suara apapun. Astaga. Bagaimana kalau Rivan sudah... tidak, tidak,  aku tidak berani memikirkannya. Tapi aku harus mencari laki-laki itu.

"Rivan?" Aku berjalan lebih jauh ke dalam. Tempat ini berdebu dan pengap, aku saja bisa kehabisan nafas jika terlalu lama disini. Aku harus segera menyelamatkan Rivan keluar dari sini dan...

Blam! 

Aku berbalik menghadap suara yang bersumber dari arah pintu. Pintunya sudah tertutup.

Klik!

Dan saat itu aku tahu, bahwa ruangan ini baru saja dikunci.

Now is the next chapter ---->

Aku menggigit bibir bawahku, dan berusaha meyakinkan diri bahwa aku tidak pernah merasa takut. Oke, aku bohong. Sebenarnya aku penakut. Aku takut ketinggian, aku takut pada ular, aku takut anjing, aku takut kejatuhan lampu, aku takut sendirian, aah sial, kenapa aku jadi meracau? Tapi yang jelas untuk saat seperti ini aku tidak seharusnya takut kan? Atau panik? Karena kalau aku tidak mulai menjernihkan kepala, aku tidak akan bisa mencari jalan keluar. Nah, Riri, kamu mulai panik sekarang.

Selama ini aku sudah memperhitungkan akan dan pasti ada saat-saat seperti ini, ketika akhirnya para penggemar Rivan akan mulai menerjangku dan memperlakukanku seperti sampah tak berguna. Aku sudah memikirkan beragam adegan bahkan hingga yang sadis-sadis dan aku selalu menemukan solusinya. Tapi hei, biasanya membayangkan memang jauh lebih menyenangkan daripada ketika berada dalam posisi yang sesungguhnya. Jadi ketika aku mencoba beradaptasi dengan kegelapan yang mencekam, cahaya yang hanya menerobos dari dua kaca kecil di dinding atas yang hanya berjumlah 4, aku mulai berfikir dengan cermat. Aku mulai berjalan berhati-hati ke arah pintu gudang, meraba-raba dan mendapati kakiku sering nyaris terpeleset bola yang belum dimasukkan ke dalam keranjang, kemudian aku mencoba mendobrak pintunya. Keras. Kucoba lagi menggunakan tendangan yang sudah sering kupelajari di karate. Oh baiklah, sekuat apa diriku selama ini sampai aku tidak bisa mendobrak pintu dengan bahan alumunium ini? Yah, pintunya memang tinggi dan lebar, tapi kalau di film-film biasanya bisa didobrak kok. Setelah lelah dengan tendangan kakiku yang semakin tidak bertenaga, aku mencoba dengan lenganku dan langsung memar karena aku mencoba dengan kekuatan penuh sedangkan fisikku kayaknya perlu diperbaiki karena terlalu mudah memar.

Entah berapa lama aku menyerah menggunakan tubuhku untuk membuka pintu dan mulai menggunakan cara lama seperti menggedor, berteriak, hingga menyadari bahwa lampu sakelar tidak mau menyala. Cahaya yang tadinya menembus ventilasi di dinding atas mulai meredup hingga cahayanya menghilang, dan hal tersebut perlahan membuat degup jantungku semakin keras dan membuat tubuhku mendadak merinding. Tidak, tidak, jangan pikirkan apa yang mungkin ada di sudut ruangan, jangan berfikir akan ada sesuatu dibawah kolong meja, plis jangan mikirin apa-apa, aku mencoba mengingatkan diriku untuk tidak menimbulkan sugesti apapun. Tapi ketika akhirnya aku menunduk, menyembunyikan kepalaku di atas kedua lututku yang ditekuk sambil duduk, rasa sesak tiba-tiba menyeruak di dalam dadaku dan pikiran-pikiran lain mulai berhamburan. Aku tidak membawa hape, orang tuaku pasti mencariku, pasti mereka sudah mulai menghubungi sahabat-sahabatku, sahabatku... aaah, pasti mereka mulai menghubungi Rivan. Kemudian Rivan pasti merasa bertanggung jawab untuk mencariku. Aku juga tidak mau berlama-lama disini, sejujurnya, kalau aku sampai mengangkat kepala dan merasakan pengapnya ruangan ini dan betapa gelapnya aku pasti akan berteriak, tapi kalau Rivan sampai harus mencariku, itu namanya beban, dan lebih baik aku ditemukan besok ketika ada orang yang membuka ruangan ini daripada ia harus merasa bertanggung jawab atas keberadaanku hanya karena status 'pacar'. Aku ingin berada disampingnya bukan sebagai tanggung jawab. Karena itu, semoga ia tidak mencariku. 

Eh, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin Rivan memang tidak akan mencariku karena aku tidak sepenting itu. Keceriaan Rivan sampai saat ini tidak bisa dihubungkan dengan emosi lain yang belum kukenal dari dirinya. Ini hanya akibat dari rasa yang berkecamuk karena aku mulai ketakutan, hanya sekadar pertanyaan yang lewat di benakku, apakah ia akan datang? 

Kemudian aku merasakan pipiku basah, dan ternyata aku menangis. Baiklah, aku akan menangis. Karena situasinya memang mengijinkanku untuk menangis. Toh disini gelap, tidak akan ada yang tahu, dan aku tidak akan pernah mengaku, bahwa aku berharap siapapun akan menolongku. Aku takut....

Lalu aku menjadi benar-benar menangis, rasanya begitu menyesakkan hingga yang keluar dari mulutku adalah sesenggukan ketika kemudian aku merasa semakin lelah, dan semakin mengantuk.

Yah, bagus. Ini jauh lebih bagus daripada aku bermalam dengan kesadaran. Tidur memang lebih baik..

 

Read previous post:  
11
points
(1037 words) posted by adlinaraput 5 years 33 weeks ago
36.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | harapan | riri's boyfriend
Read next post:  
Be the first person to continue this post

kurang serem

Cerita ini endingnya kurang mengesankan

Hand Stacker | Jual Meja Cafe Murah

iya sih, aku jg ngerasa ada yang kurang tp bingung dimananya. anyway trimakasih sudah meluangkan waktu ^^

Ceritanya sedikit horror ya gan tapi agak nanggung hororrnya

Ruang Meeting/Rapat | Cincin Tunangan Palladium

terimakasih masukannya ^^