-

-

Read previous post:  
49
points
(1 words) posted by rian 4 years 3 days ago
70
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | drama
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at - (3 years 43 weeks ago)
90

duh ... komen apa, ya, wahaha ....
udah lama enggak komen dan nulis fiksi itu sendiri. tampaknya keduanya sepaket, saling melengkapi. bukan cuman keterampilan nulis fiksi yang perlu terus diasah, tapi ngomen juga! oke, cukup excuses-nya.
pertama2, saya cenderung melihat EyD/penulisan kata, ha. cek lagi praktek/praktik, partikel -pun. di "Sahabat-sahabat Hana" kayaknya masih ada kesalahan eja juga. sayang dong, diksi udah berwarna-warni, penulisannya disempurnakan sekalian ;)
kedua, saya manggut2 baca komentar vinegar. sekalian curhat, salah satu kendala saya dalam membaca fantasi adl terlalu merasionalisasikan bangunan dunianya. makanya, vinegar pun bertanya2, dunia macam apa jadinya jika anak kecil dapat mengubah kucing jadi raksasa? makanya lagi, dl pembacaan fantasi saya cenderung mengabaikan unsur2 fantastisnya. yeah, dangkal, tapi di luar dunia fiksi/fantasi sudah cukup banyak hal memusingkan, bukan? :v demikian saya ingin menguatkan pendapat vinegar sahaja supaya mjd pertimbangan bagi penulis, apalagi ada rencana utk membikinnya jadi serial.
ketiga, penyelesaian cerita mengingatkan saya pada ceritamu yang pertama2. contohlah, yang anak cowok SMA marahan sama mamanya itu, juga "Sahabat-sahabat Hana". manis sebetulnya. mengungkap hubungan istimewa dengan orang terdekat. dan simpel. dalam cerita ini pun: kakak-adik piatu bertengkar -- si kakak ingin memiliki ibunya sendiri -- si adik bikin ulah -- si kakak menyelamatkan si adik -- hubungan mereka kembali terpulihkan. tanpa latar sihir pun, cerita dg plot seperti ini bisa dibikin. misal, si adik ternyata jadi korban bully temannya, akankah si kakak membelanya? sekali lagi, sayang juga bahasamu yang udah sofistikeitid. sekarang coba dipikirkan caranya supaya antara bungkus (bahasa) dan isi (unsur2 cerita, kompleksitas, orisinalitas, dsb) bisa saling berkesesuaian. bikin karakter, konflik, dan plot yang lebih dari sekadar manis dan simpel.
mungkin itu aja. mudah2an udah cukup panjang, wahaha. mohon maaf sekiranya ada perkataan yang kurang berkenan, ya. semoga terus semangat membaca, menulis, dan mengapresiasi :)

Writer rian
rian at - (3 years 43 weeks ago)

Masih ada kesalahan penulisan, ya? Oke, entar diperbaiki. Untuk latar emang harus saya akui belum begitu jelas bahkan dalam kepala saya sendiri, makanya masih banyak yang mesti dikonsep kalau bener saya serius bikin ini jadi serial.

Sip, semua masukan ditampung. Makasiiiih banyak banget:D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at - (3 years 42 weeks ago)

sama2 :))

Writer vinegar
vinegar at - (3 years 48 weeks ago)
90

Saya nunggu-nunggu mau komen sebenarnya. Baru kali ini saya baca tulisanmu yang fantasi, meski bukan dunia saya pengen komentar dikit. Insiden dalam judul yang dimaksud itu saat Aan membaca surat itu, bukan? Atau kecerobohan memantrai kucingnya?

Saya mau nyontek komenan temen2 saya yg demen fantasi, mengenai world building.. sederhananya latar mungkin ya. Di cerita ini kamu minim sekali ngasih deskripsi seperti apa dunia yang mereka tinggali, ini bikin saya dengan cueknya membayangkan dunia yang wajar-wajar saja. Yang ada lapangan dekat rumah, rumput2 tumbuh normal. Tidak ada orang terbang di langit, tidak ada makanan yg keluar dari tv, padahal logikanya kalau di sekolah saja sudah diajarkan mantra sihir begitu, pasti ada tingkatan sihir yg lebih tinggi dari itu, bahkan mungkin sudah meniadakan teknologi. Tapi sekali lagi ketika bicara logika dalam fantasi semuanya bisa saja terjadi, hanya saja terasa janggal di situnya. Dunia seperti apa yang terbentuk ketika seorang anak kecil saja mampu menyulap kucing jadi monster, itu saja yang kurang penjelasan buat saya. Mungkin ga sempat diceritakan? Ini sering jadi permasalahan dalam kebanyakan cerpen fantasi yg pernah sy baca sih.

Yang kentara sekali inti cerita ini sepertinya bukan di sihir menyihirnya, tapi di drama ato slice of life. Euh, maaf saya juga ga tau ini drama apa bukan, yg saya maksud konflik antara Tatiana dan adiknya, pertentangan batin Tatiana. Saya suka caramu membuat karakter Tatiana yang ambekan itu, tapi Ratih berasa terlalu dewasa. Bukan ga mungkin sih ada remaja seperti itu, hanya caranya menilai Tatiana seperti melampaui umurnya. Tapi karena yang nulis dirimu, saya maklum saja. Ini semacam jadi ciri khas, selalu ada tokoh remaja berpikiran dewasa :v. Di luar kesadaran mungkin.

Sekian komen dari saya yang cuma begini bisanya, semangat :)

Writer rian
rian at - (3 years 47 weeks ago)

Yang dimaksud insiden, mungkin keduanya, hehe

Saya kepingin mengembangkan cerita ini lebih lanjut lagi, mungkin menulis serial keluarga penyihir atau semacamnya. Latar buat saya sendiri memang masih belum begitu jelas, makasih udah ngingatkan.

Sekali lagi, makasih buat komentarnya.

Writer citapraaa
citapraaa at - (3 years 48 weeks ago)
100

terharu (?)
yang mengganjal itu, rt komentar di bawah, dialognya. mungkin masalah selera.
tegangnya kerasa. tapi mungkin kurang romantis (?) antara kakak dan adiknya.
tapi ini terjadi karena awalnya tidak dekat, ya._.
buat penyebutan makian (?) "anak kecil", mungkin bisa divariasikan. misal, "ketek paus". misal. tapi lagi-lagi ini masalah selera. bisa jadi ceritamu malah aneh. bisa dicari "makian" yang lain, yang senada dengan ceritamu.
lalu bagian akhir itu. maunya saya (?) sih mereka berantem. tapi cerita diakhiri di situ juga tidak apa-apa. mungkin kalau dipanjangkan, ada adegan berantemnya, yang marah-marah karena sayang. hehe.

Writer rian
rian at - (3 years 48 weeks ago)

Makasih, ya, udah baca dari awal sampai akhir.

Masalah dialog itu... mungkin saya terlalu kuper.

Pokoknya makasiiiih.... banget.

Writer Wanderer
Wanderer at - (3 years 48 weeks ago)
2550

*edited, sori lupa kasih poin*
Lanjutan yang saya tunggu-tunggu :)
Lebih seru, dan sihirnya tidak menjadi sekadar latar, tapi benar-benar menjadi konflik penting dari cerita ini. Saya ingin ketemu kucing raksasa juga dong, tapi yang jinak :3
Gemas dengan karakter Tati yang keras kepala, yang berarti karakterisasi tokohmu mengena si saya. Cara kamu mengemasnya membuat cerita ini jadi tidak membosankan, di samping happy ending yang cukup tertebak. Ada pembawaan yang bikin greget sekaligus menenangkan selama membaca ceritamu, ini yang bisa menjadi khasmu, mungkin. Dialognya bagi saya ada yang agak mengganjal karena pencampuran bahasa baku dan tidak baku dalam satu dialog, atau mungkin persepsi saya saja.
Sihir rasa lokal ternyata bisa menarik juga, ya. Lucunya mantra yang digunakan juga pakai bahasa Indonesia, seperti "Mengambang" dan "Tidur", alih-alih pakai istilah yang aneh-aneh.
Entah trivial atau tidak, tapi diceritakan kalau mantranya salah sasaran, sehingga Ratih yang tertidur. Tapi di paragraf berikutnya, disebutkan Ratih pingsan. Keduanya hal berbeda, tidak bisa dianggap sama.
Oh ya, tabir fatamorgana di atas maksudnya apa? Saya belum mudeng.
Maaf bila ada yang kurang berkenan. Terus berkarya.

Writer rian
rian at - (3 years 48 weeks ago)

Wah, makasih udah baca sampai sini. Saya justru takut di sini porsi aksi dikejer-kejer kucing itu berlebihan, jadinya aneh, karena awal cerita adem-adem aja. Tapi kalau enggak ya bagus.

Dialog mengganjal. Cek. Saya juga udah sering dikomentarin gitu, entah, mungkin semacam kekurangan yang nggak bisa diperbaiki?

Writer Wanderer
Wanderer at - (3 years 48 weeks ago)

Menurut saya pas-pas saja sih, justru transisi drastis dari keademan menuju ketegangan itu yang bikin klimaksnya (mungkin ya).
Saya juga punya masalah di dialog, terlalu kaku dan baku seperti cerita terjemahan (katanya), tapi sulit diperbaiki. Bingung juga bagaimana mengatasinya.
Sama-sama semangat ya :)