Fall of Chateau ~~6

#6

“Sebenarnya, aku baru saja bertengkar dengan Kakak. Entah kenapa, aku sedikit terpukul saat mengetahui dia… menangis…”

Alicia mengawali pembicaraan dengan pria yang berdiri disampingnya dengan nada yang terdengar penuh penyesalan. Meski begitu dia tidak sekalipun melepas pandangannya dari aroma pagi yang ditampilkan diatas pegunungan Saxea nun jauh disana, batas antara kerajaan Alicia dengan kerajaan kaum manusia. Dia menghela nafas. Mengarahkan wajahnya kepada sang dewa salju dan para pengawal yang membawa sebuah peti berlapis emas, yang sudah dengan sabar menunggu gadis itu memulai pembicaraan.

Setelah pertengkaran hebat dengan Anastasia tadi subuh, Alicia sudah cukup lama terdiam disana, di lokasi peristirahatan pribadinya, dekat dengan tembok terluar Chateau, tempat favorit Alicia biasa melamun. Dia baru menyadari betapa diamnya sudah memakan waktu lama saat mendapati Khion ternyata sudah berdiri disampingnya. Sang penguasa dan pengendali salju di wilayah utara yang merupakan teman akrab Alicia dan tempat sang gadis mencurahkan segala perasaannya itu memang sengaja ingin menunggu Alicia sedikit lebih damai dengan perasaannya.

Dewa salju itu hanya menepuk pelan pundaknya, menenangkannya.

“Sang Ratu mungkin juga terpukul melihat perubahan sikap Anda,” ujar Khion pelan, dia menduga tampaknya terjadi pertengkaran hebat antara dua saudari ini. “Bagaimanapun, aku paham tindakan Ratu, dia pasti memilih lebih berhati-hati dengan segala keputusannya. Lagipula kaum manusia yang berdomisili disini juga cukup banyak untuk memulai keributan.”

“Dia terlalu lembek. Dan saat dia menyadari, manusia sudah mengambil alih kerajaan kita. Mengubahnya menjadi seperti kerajaan di balik pegunungan itu,” balas Alicia.

“Tapi tetap saja… melihat dia terluka…” timpalnya lagi, sedih. Sebenarnya gadis itu sudah menyadari segala akibat dari tindakannya ini. Dia ingat ketika merencanakan semua itu dengan Khion, dewa salju itu memberitahukan semua kemungkinan yang akan terjadi bila mereka nekat menjalankan scenario mereka. Dewa salju itu benar dan Alicia juga mengakuinya. Kesulitan-kesulitan yang akan timbul, hanya saja pikirannya tidak sedingin dewa salju didepannya saat menghadapi semua konsekuensi ketika itu telah terjadi.

“Jadi… Haruskah kita lanjutkan rencana kita? Atau cukup sampai disini?”

Alicia terdiam. Matanya menerawang menembus hutan dan pegunungan yang memisahkan negeri mereka dengan kerajaan-kerajaan manusia. Alih-alih menjawab pertanyaan Khion, Alicia bertanya balik kepadanya.

“Bagaimana perkembangan rencana kita?”

Khion tersenyum kecil. Dia lalu menunjukkan peti yang dibawa para prajuritnya kearah Alicia. Dibukanya peti itu, ada sebuah kitab kuno usang didalamnya. Diambilnya kitab itu dengan sangat hati-hati untuk selanjutnya ditaruh di depan Alicia.

“Kuharap ini bisa menghibur Anda, Yang Mulia Penasihat. Kitab Agung Memoria yang berhasil diselamatkan dari sang pengkhianat,” Khion meletakkan kitab itu disamping Alicia.

Alicia menoleh kearahnya. Dengan semua kesedihan dan amarah yang belum luntur sejak pertengkaran tadi, dia memberi pria salju itu senyuman, hadiah dari upaya mereka merancang semua skenario penyerangan ini.

“Terima kasih.”

“Akhirnya, senyum gadis disampingku bisa mencairkan kebekuan hatiku,” goda Khion. Alicia hanya tertunduk memandang Kitab disampingnya, tidak membalas godaan Khion.

“Tidak, maksudku terima kasih atas semua bantuannya.”

Khion mengerti apa yang dimaksud Alicia. Dia memberi isyarat kepada para pengawal untuk menjauh dari mereka berdua.

“Dan, dengan pria tua itu?”

“Daisius…?” Khion setengah berbisik, “Aku sudah mengurungnya di tempat paling aman yang tak pernah ditemukan baik oleh Anda maupun Kakak Anda, tentu saja dengan memerintahkan para penyerang itu.”

“Penyerang?”

“Para penyerang…, Aku sengaja mencari perompak terganas dari utara untuk menyerang rombongan upacara itu. Dengan iming-iming sedikit berkah dari dewa, bahkan manusia-pun rela saling membunuh.”

Alicia tersenyum tipis, “Dasar bodoh, makhluk yang begitu disayangi Ratu Anastasia, memang sangat bodoh.”

“Tapi, apa yang kudengar bahwa Sang Ratu masih mengampuni mereka, para manusia itu, dan masih memberi kesempatan untuk tetap tinggal di Chateau. Padahal seharusnya berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh Daisius terhadap rombongan yang seharusnya mereka jaga dalam upacara paling sakral dan mencuri Kitab paling disucikan di Chateau…, itu sudah cukup untuk mencoreng nama mereka dan mengusir mereka dari tanah ini!”

“Seperti yang kubilang tadi, aku gagal bernegoisasi dengan kakak.”

Khion memandangnya.

“Kak Anastasia curiga kalau itu bukan ulah Daisius dan anak buah mereka yang hina itu,” lanjut Alicia, “Ratu menduga itu adalah tindakan penerobosan yang dilakukan oleh kaum barbar yang secara tidak sengaja menyerang rombongan upacara itu. Setidaknya itu yang dia yakini sebelum kami memulai investigasi yang adil dengan bukti-bukti yang ada. Ratu melarangku untuk memimpin pengusiran kepada kaum manusia.”

“Jadi, rencana kita menjatuhkan kepercayaan manusia di depan Ratu…, gagal?”

Alicia memandangnya sambil tersenyum.

“Tidak sepenuhnya gagal,” sahut gadis itu sambil memandangi kitab kuno dihadapannya yang mungkin usianya sudah hampir seumuran dengannya, “Serangan itu sejatinya…, bukan untuk menjatuhkan kepercayaan mereka dihadapan kakak Anastasia”.

“Lalu?” Khion menyadari dia tidak mengetahui beberapa hal penting mengenai ‘drama’ penyerangan mereka kemarin terhadap Daisius. “Bukankah Anda bilang sendiri…”

“Apakah aku bilang begitu? Tidak sahabatku. Aku sebenarnya melakukannya demi Kitab ini. Kita menyerang mereka agar aku bisa melegalkan pengawasanku terhadap Memoria.”

“Maksudnya? Anda mau memanfaatkan Kitab Memoria? Untuk apa?”

Alicia kembali tersenyum ke arah Khion, senyum yang sama misteriusnya dengan rencananya sendiri.

“Omong-omong, aku masih butuh bantuanmu. Aku berencana ingin menemui putri Ahriman, Ratu Irene dari Kerajaan Magorath.”

***

Read previous post:  
9
points
(1749 words) posted by alcyon 3 years 46 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post: