Fall of Chateau ~~7

Khion berusaha mati-matian membatalkan niatan Alicia menemui Irene. Ada banyak alasan yang mendasari getolnya Khion menghalangi sahabat baiknya itu. Pertama, adalah sebuah pelanggaran hukum kodrati bagi seorang putri Penguasa Cahaya dan Kebajikan Ahura Mazda untuk menemui putri Penguasa Kegelapan dan Kejahatan Ahriman bahkan hanya untuk sekedar lewat sekalipun, hukuman bagi pelanggarnya adalah pengasingan di Lubang Kekejian Tartarus. Yang kedua, juga termasuk pelanggaran hukum kodrati bagi seorang dengan posisi seperti Alicia keluar dari wilayah Chateau de Phantasm dan memasuki wilayah kegelapan milik Ahriman yang sangat terlarang untuk dimasuki para keturunan Cahaya.

Tapi entah apa yang merasuki pikiran Sang Penasihat itu sampai seluruh kata-kata dan nasihat bijak dari sang Dewa Salju dia abaikan semuanya. Kini, dia dengan Khion, yang terpaksa menemaninya, pergi diam-diam menuju peristirahatan Ratu Irene. Sebuah pelanggaran wilayah, pelanggaran aturan semesta, akhirnya dilakoni juga oleh Alicia saking dengkinya dia dengan para manusia. Bagi Alicia mereka tetap tidak termaafkan.

“Yang Mulia Constantia...!”

Alicia bergidik ketakutan melihat aura kegelapan yang sangat pekat di depannya. Meski kekuatannya mungkin setara apabila diadu dengan penguasa Magorath itu, Alicia tidak yakin dia bisa menggunakan kekuatannya semaksimal mungkin di kolong tergelap semesta ini. Belum lagi rasa kurang percaya dirinya sering muncul bila tidak ada Anastasia disampingnya. Tapi dia harus bisa bersikap setegar mungkin, seanggun mungkin sebagaimana seharusnya Penasihat dari Chateau de Phantasm. Iblis didepannya menatap dengan penuh perasaan heran sekaligus penasaran kepadanya.

“Ini sungguh tindakan yang sangat berani, Alicia! Boleh dikata sungguh sangat lancang!” ujar Ratu Irene Magorath sembari berjalan pelan mendekati Sang Penasihat. Dipandanginya gadis berambut perak itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Diendusnya wewangian harum yang semerbak di wajah Alicia. Diiringi rasa takut dari si gadis, Irene membelai halus rambut Alicia sembari menciumi beberapa belainya. Mendadak saja, tangan dingin Ratu Kegelapan itu sudah mencengkeram leher Alicia. Gadis yang ketakutan itu terkejut.

“Menemuiku di wilayah kekuasaanku sendiri? Di relung tergelap semesta ini dengan hanya  membawa pengawal seadanya...? Meski lebih seperti penghinaan bagiku, kau telah berani mengganggu keseimbangan kekuatan yang dijaga oleh Ahura dan Ahriman...! Kau yang tidak punya hak untuk mendatangi tempat ini... seharusnya kau sudah menyiapkan alasan sangat kuat untuk itu!”

Gadis itu berusaha bicara tapi rasa takut terlalu menyesaki tenggorokannya. Gadis itu meminta Irene melepaskan cengkeramannya. Dengan rasa tidak rela layaknya seekor elang melepas mangsanya, dilepasnya leher Alicia. Alicia sendiri langsung sigap menghindar dari penguasa kegelapan itu sejauh dia bisa.

“Aku... aku...,” Alicia tergagap, masih berdebar ketakutan. Tangannya bergetar masih memegangi lehernya seakan-akan dia tidak percaya leher itu belum putus. Akhirnya Alicia berusaha menguatkan diri mengambil nafas.

“Maksud kedatanganku kemari adalah untuk meminta pertolonganmu, Yang Mulia Magorath.”

Irene Magorath memandangnya heran, “Pertolongan?”

“Aku ingin kau mengirim pasukan kegelapanmu menuju Chateau de Phantasm!”

“Maaf?” Irene seperti tak percaya ucapan lawan bicaranya barusan.

“Aku memintamu, putri Ahriman... Untuk menyerang negeri suci Le Chateau de Phantasm!”

Untuk sesaat Alicia bisa merasakan keterkejutan dari wajah lawan bicaranya. Ratu iblis itu terdiam cukup lama, berusaha memahami ucapan Alicia. Sejurus kemudian Irene tertawa begitu nyaring mendengar ucapan yang terdengar sangat lucu di kepalanya. Tapi mendadak dia terdiam. Aura kegelapan yang terpancar semakin pekat. Dia kembali memandangi baik-baik Alicia.

“Aku tidak suka bergurau, putri Ahura! Aku memang membenci negeri kalian yang indah. Tapi, berbuat sampai harus melangkahi perintah Bapa Ahriman...? Aku tidak suka ini! Katakan apa sebenarnya maksudmu!”

Wajah Irene tiba-tiba saja sudah sejengkal dekatnya dengan wajah Alicia. Iris mata yang gelap milik ratu bertemu dengan iris mata biru milik Alicia. Irene berusaha mencari tahu apa maksud tersembunyi dari gadis ini. Tapi tak lama dia memilih menyerah. Dia mundur dan kembali ke singgasananya. Disana ada sebuah pedang hitam kelam bertengger. Sebuah pedang panjang dengan satu bagian tajam. Alicia bisa melihat, di pangkal pedang yang memiliki bulatan besar seperti mata ular itu seperti tengah memperhatikan dirinya.

“Jangan kira aku tidak berani merusak keseimbangan sebagaimana dirimu yang lancang menghampiri persemayamanku disini. Aku juga bisa, kapanpun aku kehendaki, untuk  menyerang kalian! Tapi aku menghormati Bapa Ahriman untuk menjaga agar dunia ini tetap dalam jalurnya... Keseimbangan!”

Diangkatnya pedang hitam buruk itu dan diarahkan ujung tajamnya ke wajah Alicia. Alicia merasa ada suara mendesis, seperti desis ular meski terdengar samar, saat ujung pedang itu hanya sejengkal saja jauhnya dari hidung Alicia.

“Jadi, katakan tujuanmu atau kuizinkan Xalvadur membaca pikiranmu untuk mengetahuinya. Dan kau tahu, pilihan terakhir ini sangat tidak nyaman! Katakan kenapa aku harus menerima penawaranmu!”

Alicia melihat ada semacam sulur-sulur hitam muncul seperti tetesan-tetesan getah dari tiap bagian pedang itu. Sulur-sulur itu memiliki sebuah bola mata ular di ujungnya yang semuanya bergerak memandangi Alicia.

Gadis itu menarik nafas panjang. Dia tahu, apa yang akan diucapkan kelak tidak akan bisa ditarik kembali. Dia tahu konsekuensi mengikat perjanjian dengan kegelapan.

“Aku ingin membersihkan negeriku. Aku ingin Le Chateau de Phantasm bersih dari kaum manusia. Mereka seperti segerombolan hama pengganggu yang terus berdatangan dan mengacaukan semua kedamaian di negeriku. Seharusnya semua baik-baik saja kalau saja mereka tidak datang. Tapi, saat Kakakku menerima permintaan duta besar Daisius agar mereka bisa diterima untuk tinggal di negeri kami..., kurasa itulah saat kekacauan dimulai. Kini, sebelum semuanya terlambat, sebelum manusia semakin meracuni negeriku, aku memintamu untuk menyingkirkan mereka!”

Irene Magorath terdiam sebentar mendengar penuturan Alicia, gadis penasihat yang seharusnya melindungi negerinya dengan menghindari sejauh mungkin pertemuan dengan dirinya sebagai penguasa kegelapan. Tetapi penuturan yang cukup menarik ini membuatnya ingin bertanya lebih jauh.

“Begitu? Baiklah! Kau memintaku datang ke negerimu untuk membersihkan manusia? Kenapa begitu repot sampai aku harus kesana? Kenapa tidak biarkan raja-raja di Hyrapter itu saja yang membantumu? Atau lebih praktis lagi, bukankah kau juga punya kuasa untuk melenyapkan mereka? Kau seorang penasihat! Kau memiliki kuasa Ahura dalam dirimu dalam bentuk Constantia.”

“Aku harus meminta bantuan manusia? Bahkan menghampiri kerajaan kotor mereka saja aku tak sudi. Atau menggunakan kekuatanku untuk mengusir mereka? Kau tidak tahu bagaimana fanatiknya Anastasia melindungi makhluk-makhluk tak abadi itu seakan-akan mereka hidup bahagia selamanya? Aku hanya tak ingin menyakiti hati Kakakku dengan mengotori tanganku melenyapkan mereka. Aku ingin tetap bersih dengan urusan ini.”

Irene kini benar-benar tertarik dengan ucapan Alicia. Tapi dari mimik wajahnya bisa diketahui dia masih tak sepenuhnya percaya dengan si penasihat.

“Lalu, apa untungnya bagiku, Nona Penasihat? Kau tentu tahu kan, demi Keseimbangan akupun tak boleh beranjak dari liang kegelapan ini?”

Alicia mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak dia mendatangi Istana Magorath, dia tersenyum. Dia menguasai keadaan. Irene terlihat mulai sepakat dengannya. Ditepisnya ujung Xalvadur yang sedari tadi menjurus kearahnya. Dihampirinya sang ratu dan dibisikkannya sesuatu.

“Apa kau tak ingin melihat dunia atas, Irene? Aku bisa merasakan betapa besar keinginanmu untuk menuju kesana. Hasrat luar biasa untuk kehancuran dan kebinasaan yang tak bisa kau curahkan kecuali kau bisa beranjak ke dunia atas dan menyaksikan bagaimana prajurit-prajuritmu yang luar biasa kuat ini memporak-porandakan dunia manusia.”

Mata Irene berkilat. Diletakkannya Xalvadur ke sisi singgasananya. Ditunggunya ucapan Alicia selanjutnya.

“Tapi tentu saja sebuah kesalahan fatal kalau dirimu mendadak muncul dan memulai pembinasaan. Hal seperti itu akan memicu amarah luar biasa, tidak saja dari Bapa Ahriman, tapi juga semua dewa akan menentangmu. Jadi, apa yang harus kaulakukan?”

“Aku penasaran,” jawab Irene tersenyum. Dia bisa membaca pikiran sang penasihat.

“Tentu saja harus ada kambing hitam agar kau tak disalahkan. Mungkin..., seorang summoning scholar bisa menjadi aktor potensial untuk itu. Tinggal menyiapkan semua skenario dan mereka yang akan memanggilmu ke dunia atas, memulai penghancuran seperti inginmu. Lalu, sesuai petunjuk dariku, kau akan bergerak menuju Chateau de Phantasm, menyelesaikan kesepakatan kita.”

Irene tersenyum lebar. Tatapan mata diantara mereka meyakinkan kalau kesepakatan sudah terjalin. Langit-langit utama kerajaan Iblis itu kini dipenuhi tawa nyaring dan mengerikan dari sang ratu kegelapan.

Read previous post:  
0
points
(817 words) posted by alcyon 3 years 44 weeks ago
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post: