Fall of Chateau ~~8 (Permainan Dimulai)

Alicia menatap makhluk manusia yang terbujur lemah dihadapannya. Dalam penjara paling dalam di dasar Chateau, di tempat yang paling terabaikan, paling tersembunyi dari peradaban kerajaannya, Alicia mengurung Daisius diam-diam dalam Penjara Sihir yang dirapalnya sendiri. Kini, setelah semua persiapan siap, dia ingin untuk terakhir kalinya mengunjungi manusia yang sangat dibencinya di seluruh alam semesta ini.

“Lihat! Lihatlah manusia! Lihatlah ulah perbuatanmu ini!” teriak Alicia marah. “Aku harus membohongi kakakku! Membohongi rakyatku! Membohongi Bapa Ahura Mazda! Aku harus berbohong kepada semua entitas di seluruh semesta ini hanya agar…demi… kalian para manusia yang kotor untuk pergi dari tanahku!!!”

Khion membukakan terali besi yang memisahkan jarak antara Sang Penasihat dengan tawanannya. Gadis itu bergerak masuk menuju penjara yang sangat kelam dan dingin itu, mendekati si pria yang lunglai tak berdaya.

“Aku tahu kau mendengarku! Aku tahu kau ingin mencibirku atas apa yang telah aku buat! Tapi kini…. Akulah yang akan menikmati hasilnya! Aku merancang semuanya! Aku menyusun semua scenario ini, bahkan aku melibatkan entitas Kegelapan yang seharusnya aku tidak menghampirinya! Semua ini agar kalian tidak akan merasakan lagi bagaimana indahnya negeri yang kalian tidak pantas ada didalamnya! Setelah bertahun-tahun kalian berada dibawah ketiak Kakakku…, dalam waktu kurang dari sepekan ini, kalian akan berteriak mencari perlindungan! Ratu Anastasia tidak akan sudi memandang kalian lagi. Kau penasaran kenapa Sang Ratu akan menjadi sangat kecewa dengan kalian?” Alicia memandang Daisius yang setengah-setengah mendengar ucapannya. Dia membungkuk sedikit agar ucapannya selanjutnya dapat didengar oleh pria itu.

“Itu semua berkat rencanaku, manusia. Semua rencanaku akan menunjukkan kalau pemimpin manusia yang bernama Daisius ini…, dia telah memanfaatkan Kitab Memoria yang dicurinya dari Upacara Bulan Merah untuk kepentingan pribadinya yang busuk. Dia menggunakan Memoria untuk memaksimalkan menggunakan kemampuannya sebagai summoning scholar dalam tujuannya memanggil Ratu Kegelapan Magorath. Iblis yang seharusnya tidak boleh dipanggil ke dunia ini kini dipanggil oleh seorang manusia hina dengan bantuan Kitab yang seharusnya tidak boleh dibaca oleh makhluk tak abadi ini, yang selanjutnya dimanfaatkan oleh mereka untuk menghancurkan dunia Hyrapter ini dan membumihanguskan Le Chateau de Phantasm!”

Alicia bisa merasakan pupil pria itu melebar. Meskipun kelelahan yang sangat akibat siksaan yang diberikan Khion, Alicia bisa melihat bagaimana pria itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk sekedar terkejut mendengar rencana sang Penasihat dan seandainya bisa, berusaha membela diri untuk itu.

Alicia setelah memuaskan diri melihat betapa menderitanya manusia didepannya, kini berdiri lagi dan melangkah keluar dari penjara besi itu. Belum selesai Sang Penasihat melangkah, terdengar suara parau dari arah manusia di belakangnya.

“Yang Mulia…, semoga Ratu mengampuni Anda…, apa yang telah Anda lakukan… lebih kejam daripada manusia…”

Sang Penasihat berhenti melangkah. Tertegun sesaat, dia membalikkan kembali tubuhnya memandang tawanannya.

“Perbuatan Anda, tak jauh berbeda dengan para pemimpin manusia yang mengkhianati kami…”

Belum selesai Daisius berkata dalam sakitnya, dia melihat aura kuat terpancar dari tubuh Alicia. Dia bisa merasakan ledakan energi, cukup kecil, tetapi mampu membuat dirinya terdesak ke belakang dinding batu. Darah segar mengalir dari tubuhnya. Daisius terbatuk-batuk kesakitan.

“Sekali kau mencoba menyamakan aku lagi dengan kaummu yang busuk…, aku tidak akan segan-segan untuk membakarmu dan mengulitimu hidup-hidup!”

Alicia kembali meredam amarahnya dan segera berjalan pergi meninggalkan penjara bawah tanah itu. Dia tidak sudi lagi memandang ke arah pria tua itu. Dia bahkan bersumpah akan membunuhnya kalau dia menatap wajah manusia itu lagi.

***

Angin lembut dari arah Pegunungan Saxea mengibarkan rambut perak Alicia. Dia memandangi Istana Chateau yang berdiri tegak di kejauhan dari benteng terluar negerinya tempat dia berada sekarang. Khion yang sudah menyelesaikan urusan dengan Daisius yang dipenjara di penjara paling dalam di benteng ini, berjalan menghampiri Sang Penasihat. Dia ikut terdiam menunggu titah selanjutnya dari sahabatnya itu.

“Senja sudah turun” gumam Alicia melihat matahari yang mulai tenggelam di balik pegunungan. “Saat malam tiba, tanah ini akan berguncang oleh cakar-cakar buas milik kaki tangan Magorath. Negara manusia di ujung barat sana yang pertama kali binasa,” tunjuk Alicia kearah tempat matahari tenggelam. “Seperti mesin perang yang tidak mengenal ampun, para tentara iblis Magorath akan terus bergerak menghancurleburkan semua yang tersisa dari negara kaum tak abadi itu, untuk terus bergerak menghancurkan negeri ini.”

Khion mendesah perlahan. Dia tahu permainan berbahaya seperti apa yang tengah mereka mainkan. Keterlibatan Ratu Magorath dalam permainan mereka juga menyisakan tanda tanya besar. Apakah iblis itu juga akan tetap komitmen dengan perjanjian mereka untuk tidak menghancurkan Istana Chateau dan menggulingkan kekuasaan Sang Ratu? Apakah Magorath akan menepati janjinya untuk tidak menguasai tanah ini?

Khion sebenarnya ingin mengutarakan kekuatirannya itu dengan Alicia. Tetapi saat melihat beban berat di wajah Alicia yang tentu saja tengah memikirkan keberhasilan rencana mereka ini, Khion lebih memilih untuk diam.

Alicia kembali bergumam, “Aku hanya ingin mereka pergi. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan permainan kotor ini. Benar yang dikatakan pria tua itu. Aku sama liciknya seperti para manusia itu. Aku…, aku merasa sangat hina” Alicia menunduk sedih. Air mata terlihat mengalir pelan di pipinya, “Tapi seandainya saja Kakak tidak begitu mati-matian mempertahankan mereka disini…, kalau saja mereka mau segera menyingkir…”

Khion tidak tahu harus berkata apa. Dipegangnya dua pundak gadis itu. Dia bisa mendengar sesengguk kecil dari gadis didepannya. Khion menyediakan dadanya sebagai tempat bersandar kepala Alicia. Penguasa es itu mencoba menenangkan sahabat yang sangat dikasihinya. Alicia masih terdiam menunduk.

“Kadang aku terdiam sendiri, ketakutan kalau saja semua ini gagal. Aku tidak ingin negeri ini jatuh ke tangan Magorath seandainya rencanaku tidak berjalan…”

“Cukup, Alicia!” terdengar suara Khion berat, “Rencana ini pasti akan berhasil! Para manusia akan pergi dan kedamaian seperti masa lalu akan kembali. Kamu sudah melakukan semuanya dengan benar. Kita sudah berjalan sesuai skenario dan baik-baik saja sampai sekarang.”

Alicia perlahan menatapnya lama. Selanjutnya, dia hanya mengangguk pelan.

“Apa… Apa kau akan selalu bersamaku, Khion?”

“Aku akan selalu siap bersamamu, Alicia. Aku sudah berkomitmen untuk selalu setia kepadamu dan akan selalu mengikuti semua perintahmu.”

Khion bisa melihat, di balik sesengguk kesedihan itu, gadis itu mulai mengguratkan sebuah senyum. Dia melihat raut ketakutan yang tadi terlihat jelas, mulai samar menghilang. Khion bisa merasakan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Gadis itu tenggelam dalam pelukannya. Khion membalas pelukan itu dengan semakin erat melingkar di pinggang sang Penasihat. Angin mulai berhenti berhembus. Matahari mulai tenggelam dan malam akan datang.

Dua makhluk Ahura Mazda itu tahu, akhir dari yang mereka rancang akan segera tiba.

***

Read previous post:  
0
points
(1260 words) posted by alcyon 3 years 42 weeks ago
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dede
dede at Fall of Chateau ~~8 (Permainan Dimulai) (3 years 15 weeks ago)
90

Yg disini akhirannya terasa agak datar. Tapi masih bisa menikmati...
Sekadar mengingatkan, si beberapa chapter sebelumnya ada beberapa typo. Kayaknya sih krn auto correct, langsung translate ke kata inggris.
Jadi ini dia chateau sebelum ditinggalkan anastasia?
Jadi inget2 cerita kolab lcdp masa lampau, peri kecil wendy yg tukang pukul kepala edgar... ternyata dulunya ratu anastasia yg bijaksana... hoho
Maap cerewet ya... :-)

(y)

70

Cerita-cerita sebelumnya dimana?