Resolution - The Man Behinds Wall (Chapter 2)

'Seorang Residivis Polisi Lolos, Lagi'

Untaian kata itu menjadi headline kecil pada salah satu halaman surat kabar hari ini. Ya, residivis itu adalah Fero. Di bawahnya terdeskripsi kejadian epic Fero ketika meledakkan tembok kamar rumah dengan racikan molotov-nya. Sementara itu, Fero yang tengah mengendarai mobil dinas polisi curiannya, telah berada jauh dari kota dan memasuki area hutan yang lebat. Jalannya menyempit dan berkelok-kelok.

"Ah, sial! Mati pula mesinnya!" tukas Fero dengan nada kesal. Saat itu, mobil yang dikendarai Fero tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Ia bergegas keluar meninggalkan mobil untuk terus bergerak dan menghindari kejaran polisi. Ia berlari menuju jantung hutan. Namun, tepat di bibir hutan terdapat plakat yang tak sempat Fero baca, bertuliskan ‘Hutan berbahaya, dilarang masuk!

Fero menyusuri jalan setapak. Sesekali dia menyingkirkan semak belukar dengan tangannya. Keadaan di dalam hutan gelap dan berkabut. Tapi semua hal itu bukanlah persoalan bagi Fero. Pantang bagi seorang buronan sekelas dirinya merengek ketakutan di dalam hutan. Lagipula, hanya hutan itulah tempat terbaik baginya untuk menghindari kejaran polisi.

Di tengah perjalanan menyusuri hutan yang gelap, Fero tidak menyadari bahwa ada yang mengawasinya sedari tadi. Bukan binatang buas, namun sekelompok orang yang mendiami hutan itu. Orang-orang itu penampilannya sangat primitif, dengan tubuh yang hanya dihiasi sehelai celana berbahan kulit binatang. Mereka membawa tombak panjang yang ujungnya berasal dari batu runcing.

Sorot mata mereka tajam, setajam mata Elang. Raut wajahnya dingin dan sekujur kulitnya, dari dahi hingga kaki, dipenuhi lumpur kering. Mereka mengawasi setiap gerak-gerik Fero. Seolah-olah Fero adalah santapan yang sangat lezat. Mereka adalah suku asli yang mendiami hutan serta gemar memakan daging manusia mentah-mentah.

Srek-srek’

"Siapa di sana!" ujar Fero spontan ketika mendengar suara riuh dari balik semak belukar. Pendengaran Fero memang tajam. Dia bukanlah seorang penjahat kelas teri yang bisa dianggap remeh. Intuisinya juga tajam. Ia selalu waspada terhadap apapun yang mengancam dirinya.

"Dengar! Aku tidak takut kepada kalian!" sambungnya.

Walaupun demikian, suara Fero terdengar agak bergetar. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya mulai berdegup kencang. Menandakan bahwa ia masih memiliki rasa takut walaupun hal itu ingin disembunyikannya. Ketika Fero hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba sebuah tombak melesat tepat di depan matanya. Mungkin kurang dari dua inchi lagi, hidup Fero akan berakhir. Tapi keberuntungan masih berpihak kepada Fero.

"Woah! Hampir saja tombak sialan itu menancap di kepalaku!" pekik Fero seraya mengambil tombak yang menancap di tanah, seraya melakukan kuda-kuda bersiap menyerang.

“Woi bangs*t! Siapa lu, keluar sini kalo berani! Gue bantai lu!”

Sekawanan manusia pedalaman satu-persatu menampakkan wujudnya. Mereka mengepung Fero dari segala arah. Memasang kuda-kuda untuk melemparkan tombak yang menjadi senjata mereka. Fero terperangah kaget kala melihat jumlah manusia primitif yang cukup banyak. Apalagi mereka memiliki tombak yang mengarah pada Fero.

"Sial! Si-siapa kalian?" tanya Fero terbata-bata. Baru kali ini ia berbicara kurang lancar. Tidak ada satupun dari sekawanan kanibal yang menjawab pertanyaan Fero. Tatapan mengerikan para penghuni hutan itu menyiratkan nafsu membunuh yang sangat besar. Terlihat juga air liur yang menetes dari mulut mereka, seolah ingin segera mengoyak daging segar Fero.

Slash!

“Bajing*n!” hujat Fero ketika melihat tombak-tombak melesat kearahnya. Ia mendaratkan tubuhnya ke tanah kemudian berguling ke arah kiri. Sepertinya keberuntungan Fero sangat banyak, tak ada satu tombak yang menyentuh kulitnya. Ketika ia melihat ada kesempatan, ia langsung menusuk salah-satu kawanan kanibal tepat di kemaluannya dengan menggunakan tombak.

Fero langsung menegakkan badannya dan berlari menjauhi kepungan. Ia berlari sangat cepat melewati pepohonan dan bebatuan besar. Tombak-tombak runcing masih saja melesat kencang melewati kepala serta badan Fero. Agar tidak tertusuk tombak dan mati mengenaskan, Fero berlari zig-zag, tidak beraturan. Ia menggunakan trik yang sama ketika kabur dari hujanan peluru para polisi beberapa tahun lalu.

Walaupun gerakan Fero sangat gesit, tapi orang-orang itu tidak kalah gesitnya. Mereka adalah penguasa hutan itu. Dan hutan itu adalah rumah bagi mereka. Jadi bukan suatu hal yang sulit untuk mengejar si Fero yang tengah berlari kencang. Mereka sudah sangat akrab dengan seluk-beluk hutan itu. Rasa amarah karena salah satu kawanannya mati ditikam Fero tepat di daerah terlarang, menambah kegesitan para kanibal itu. Mereka tidak sabar ingin segera mencincang Fero hidup-hidup.

Fero berlari bak orang kesetanan. Ia tidak memikirkan lagi arah tujuan, yang penting nyawanya selamat. Baru kali ini, pikir Fero, ia diburu bak seekor babi hutan. Ia tak pernah menyangka akan bertemu sekumpulan orang gila yang menyerang manusia menggunakan tombak, sangat primitif dalam era modern ini. Ia tidak ingin menjadi sate manusia seperti di film-film kanibal Hollywood.

“Sial! Mereka masih saja ngejar-ngejar gue!”

Setelah berlari cukup jauh, ia akhirnya tiba di bibir jurang, ia terdesak. Tidak ada jalan lagi di hadapannya. Hanya jurang curam yang setiap tepinya dihiasi bebatuan besar. Fero menoleh ke belakang, terlihat sekawanan primitif yang kehabisan tombak mulai mengepung Fero. Sekali lagi, ia terdesak.

"Kalian benar-benar ingin menyantapku, heh?!" ejek Fero yang mulai terlihat frustasi. Ia tidak memiliki senjata apapun untuk digunakan sebagai media pertahanannya.

"Huba hubala!" pekik salah satu kawanan kanibal yang terlihat seperti pemimpinnya. Sontak sekawanan yang lainnya mulai maju berusaha menyudutkan Fero.

“Bangs*t! Ngomong apa lu! Gue gak ada pilihan lain selain terjun ke jurang ini!”

Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Fero langsung meluncurkan badannya ke tepi jurang. Badannya terpontang-panting tidak karuan. Rasa perih menjalar di sekujur tubuh Fero. Teriakan kesakitan Fero sangat lantang kala tubuhnya mendarat di tanah keras tepat di bawah jurang. Rasa sakit semakin menjadi-jadi saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Ia menyadari bahwa manusia-manusia primitif itu tidak mengejarnya lagi. Badan Fero penuh dengan luka memar, tampaknya beberapa tulangnya patah.

Sesaat kemudian, semua menjadi gelap. Kesadaran Fero menghilang sepenuhnya. Ia tidak kuasa menahan kesadaran karena rasa sakit yang teramat dahsyat. Dari kejauhan tampak sosok pria tua mendekati tubuh Fero, ia sepertinya telah mengamati Fero dari balik rawa-rawa. Ia langsung menyeret tubuh Fero menuju gelapnya rawa-rawa hutan mengerikan itu.

BERSAMBUNG

Read previous post:  
21
points
(1884 words) posted by rirant 3 years 38 weeks ago
52.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | # cerita #fiksi #bersambung
Read next post:  
100

ooh jadi si fero instituisi nya bagus. Dia memang penjahat yang pro rupanya :v tapi eh kenapa ada manusia primitif di era modern skarang. Hmm ane penasaran.

gaya cerita ama deskripsinya bagus uey dari sebelumnya. Ehm ehm pendapatku kayaq nya hanya segini hehe

kaabbuurr

Iya dong, dia memang terlahir untuk menjadi super villain hakhak.
Emm mungkin karena hutan itu belum terjamah industri-industri yang doyan ngebakar hutan sembarangan, jadi keaslian hutan itu masih terjaga, begitupula kelompok kanibal itu hakhakhak.
Eh kok kabur? betewe makasih sudah mampir kemarii.

Nyimak..

Monggo :D

2550

ah siapa pria tua itu?
ah fero, keberuntungan yang di dapat dari perjalanan hidupnya yang begitu keras. akhirnya di kalahkan oleh rasa takut sendiri.
pasti ada lanjutannya lagi dari cerita ini
hmm hmm
aku semakin penasaran dengan pria tua itu. pasti dia gurunya khensin?
ah ahaha maaf aku asal menebak :p
ditunggu kelanjutannya kak rirant.
hehe #cling! ;)

Halo Vanzo. Betul ada kelanjutannya. Tenang saja, pasti akan terkuak identitas pria tua itu hakhakhak. Trims udah mampir :D