Aku Milikmu

AKU MILIKMU

 

Kupikir kau sudah melupakan aku

Ternyata hatimu … masih membara … untukku

 

Malam ini Abi berdandan seganteng yang ia bisa. Berkali-kali ia mengganti bajunya lalu kembali menilainya di depan cermin. Lenggok kanan, lenggok kiri, putar ke kanan, putar ke kiri, dan untuk kesekian kalinya, kembali Abi mengganti baju. Ia merasa belum cukup ganteng. Aku masih bisa lebih dari ini, katanya … nyatanya yang berubah hanya pakaian Abi, tapi tidak dengan tingkat ketampanan beliau.

Hari ini adalah hari pertemuan terakhir untuk Abi dan Herna. Anggapan mereka seperti itu—padahal kan belum tentu, ya? Sebab esok, Herna akan berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah dan dua sejoli ini, telah berpacaran selama masa SMA. Sempat Abi tidak berhubungan dengan Herna untuk beberapa minggu. Mereka bertengkar hebat. Namun, hari ini Herna mengajak Abi ketemuan. Herna tidak ingin berpisah dengan Abi dalam keadaan marah. Ia ingin berbaikan dengan lelakinya. Maka malam ini adalah malam yang spesial. Malam di mana bintang-bintang harus bersinar cerah, dan bulan harus bertengger anggun di langit, sebab Abi dan Herna akan bertemu, lalu saling menggenggam tangan, lalu mengucap janji-janji suci, membuat komitmen, kemudian mereka bercumbu dengan segenap kerinduan di masa kini, masa lalu, dan masa-masa yang akan datang.

Atau mungkin saja … mungkin … mereka akan berpisah—tapi itu masih “mungkin”.

Setelah dua kali naik angkot, sampai juga Abi di depan kompleks perumahan Herna. Lalu Abi mengambil handphone-nya. Mengetik pesan. Tangannya bergetar kegirangan. Ia tak ingin menunggu lama-lama. Abi ingin bertemu dengan kekasihnya. Yang cantik. Yang gendut imut-imut. Yang ia rindu sebab sudah berminggu-minggu tak bertemu. Kepala Abi juga sesekali melirik ke atas. Berharap bintang-bintang masih setia dengannya dan mendung tak datang mengganggu. Maka segenap surah-surah pendek ia rapalkan dalam hati. Yang ia pelajari dari SD sampai SMA. Jumlahnya sedikit memang, tapi menurut keyakinan Abi, “sedikit” saja sudah cukup agar Tuhan tidak menurunkan hujannya di malam yang spesial ini. Malam terakhir di pertengahan Juli, malam di mana Abi akan merebahkan pilu dan rindunya di bahu Herna. Dan Abi pun berdoa—sekhidmat mungkin—agar hujan atau mendung tidak mengusik, lalu ia menunggu kedatangan wanitanya. Annisa Herna Iskandar.

Herna muncul dengan rambut berombaknya yang terurai. Roknya berwarna merah dan mengikuti lekuk tubuhnya yang unyu-unyu—kata Abi, entah kapan itu. Bajunya hitam dan bercorak polkadot menambah kecantikannya. Semilir angin malam menghembuskan rambut Herna yang bergelombang. Rambut itu menari-nari girang, seperti hati Abi yang sedang meletupkan ratusan kembang api. Damai dirinya melihat Herna yang pada malam itu, terlihat lebih cantik dari malam-malam yang lain.

Setelah dua sejoli kita berdekatan, tersungging senyum di bibir mereka. Abi melempar senyumnya yang rindu pada Herna, demikian pula sebaliknya, Herna melepaskan senyumnya yang tulus untuk Abi. Derum mesin kendaraan, lampu-lampu jalan, hiruk pikuk lagu-lagu dangdut dari mobil angkot yang lalu-lalang, seakan menyambut pertemuan mereka. Di suatu malam, pada pertengahan bulan Juli, di mana bintang masih cerah, dan bulan yang setengah, bertengger anggun pada gemerlap langit.

“Udah lama nunggunya, Bi?”

“Belum, hehehe … Kamu cantik, Na.”

Kata-kata dari Abi membuat Herna tersipu. Pelan-pelan rona pipinya memerah. Lalu menunduk kepalanya. Lalu ia membalas,

“Makasih, Bi, hehehe.”

Kedua sejoli berjalan kaki sampai pinggir jalan raya. Langkahnya gemulai. Bahu mereka sesekali bersentuhan. Abi menahan angkot. Ia memilah-milah agar sebisa mungkin angkot yang mereka tumpangi adalah yang kosong pada bagian belakang. Supaya bisa mojok dan berdempet-dempetan sama Herna yang unyu-unyu nan cantik pada malam itu. Dua sejoli kita pun naik angkot. Duduknya dempet-dempet, padahal angkotnya lenggang, tapi siapa peduli? Pelan-pelan Abi menaruh tangannya di paha Herna. Kemudian Herna membalas kode dari Abi. Maka menggenggamlah kedua tangan mereka. Berkuranglah sedikit rindu dari minggu-minggu yang lalu. Wajah Abi dan Herna tersipu-sipu. Hangat merambah di dada mereka. Dan malam pun masih panjang.

 

Waktu ‘kan berlalu. Tetapi tidak cintaku.

Ia mau menunggu. Untukmu … untukmu …

 

Angkot berhenti di depan Taman Kota. Taman itu terletak di pinggir teluk kota Anu, sehingga kau masih bisa mencium bau garam dari air laut yang semerbak di udara. Abi dan Herna berjalan masuk. Banyak tanaman dan bunga di taman itu—yang pada siang hari terlihat anggun, dan malam hari berganti fungsi sebagai tabir untuk orang yang berpacaran—atau sedang mesum. Abi dan Herna belum kerja, sehingga pilihan untuk membuka kamar di hotel belum terjangkau. Taman Kota menjadi alternatif, sebagai tempat mereka untuk mencurahkan segala cinta kasih yang lama tertunda, yang saat ini sedang menggebu-gebu di dada kedua sejoli kita. Malam ini Taman Kota sedang sepi. Seakan ikut setuju dengan pertemuan terakhir antara Abi dan Herna.

Abi—yang sudah berpengalaman dalam hal ini—mencari tempat yang strategis. Ia sudah hafal seluk-beluk taman ini. Setelah menemukan tempat yang cocok—sebuah bangku kayu yang jauh dari lampu taman dan rimbun oleh pepohonan dan tumbuhan—mereka duduk, dan mulailah ritus asmara di antara mereka. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa seyogyanya dua pasangan yang terpisah cukup lama akan duduk berjauhan di awal-awal, lalu seiring berjalannya waktu, dan rindu yang pelan-pelan terkuak, maka jarak itu perlahan akan menghilang, lalu sedikit demi sedikit mulai merapat badan mereka, sehingga posisi terakhir di antara mereka adalah: bahu Abi sebagai tempat bersandarnya kepala Herna, masing-masing salah satu tangan mereka akan menggenggam dan tangan Abi yang lain merangkul tubuh Herna, agar posisi ini sempurna, maka kepala Herna sebagai tempat bersandarnya kepala Abi. Tapi pembaca yang budiman, posisi ini belum terjadi di antara mereka. Abi dan Herna masih terpisah jarak—yang sebentar lagi akan menghilang. Herna masih menunggu dan kepalanya menunduk, sesekali melirik ke arah jalan yang tertutupi rimbunan pohon. Demikian pula dengan Abi yang masih menunggu—waktu yang tepat untuk mulai mendekatkan dirinya pada sang kekasih—sementara matanya menatap kosong ke depan, sesekali menggigit bibirnya, mencari-cari pertanyaan untuk membuka percakapan, sebagai formalitas, sehingga tidak menutup kemungkinan pertanyaan itu telah diketahui jawabannya oleh Abi dan sebenarnya tidak perlu lagi ditanyakan Abi lalu dijawab oleh Herna. Tetapi sekali lagi, sebagai formalitas, maka pertanyaan ini adalah yang pertama kali terlontar dari mulut Abi.

“Jadi kamu berangkatnya besok, Na?”

“Iya, Bi.”

“Pagi-pagi, kan?”

“Iya. Pesawatnya berangkat pagi.”

“Mau aku anterin?”

Herna terkekeh, “Udah ada Bapak aku, Bi, Lagian kamu kan ngak ada motor, hehehehe.”

“Oh, iya, ya? Lupa, hihihi. Tapi kan bisa aku pinjemin motor.”

“Makasih, Bi, tapi Bapak aku ngak bakalan setuju.”

“Iya sih”

“Na ….”

“Iya, Bi?”

“Maaf ya, kemarin-kemarin aku minta putus.”

“Ngak papa. Aku juga minta maaf karena ngak ngerti sama perasaan kamu.”

Abi terdiam menatap Herna. Begitu pula dengan Herna yang pasrah ditatap Abi.

Sampai di sini … ada getaran misterius di antara Herna dan Abi. Ada “sesuatu” yang sedang bergejolak di dada mereka. Entah itu rindu, entah itu nafsu, tetapi kedua sejoli merasakan sesak. Sesak yang harus segera ditangani dan hanya dengan sentuhan, hanya dengan pelukan, hanya dengan cumbuan, sesak itu bisa hilang. Maka perlahan Abi menggeser pantatnya, mendekatkan dirinya—melihat Herna yang juga mulai mengatur posisinya, diam tapi setuju dan itu terlihat jelas di mata Abi—lalu mulailah tangan Abi dengan gemulai merambat di punggung kekasihnya. Pada tahap ini seakan ada sesuatu yang akan meledak di antara mereka. Pelan-pelan tapi pasti dan gerakannya halus, mulus, Herna sedikit demi sedikit, secuil demi secuil, juga mendekatkan diri pada Abi. Menyambut rangkulan Abi yang gemulai di punggungnya. Abi yang melihat tangan Herna masih nganggur, mulai menggenggamnya. Genggaman itu dieratkan seerat-eratnya, dan Herna membalasnya. Dada mereka semakin berat sebab posisi ini masih dalam proses. Belum sempurna—dan harus sempurna! Maka perlahan badan mereka berdua mulai berdempetan. Merapat serapat-rapatnya. Tidak boleh ada celah. Tidak boleh ada angin yang bisa lewat. Pokoknya harus rapat. Hingga tak ada lagi batas antara tubuh Abi dan Herna—kecuali kain pakaian mereka. Lalu pelan-pelan sesak itu menghilang. Berganti dengan perasaan yang damai. Yang hangat di dada mereka. Saat di mana tubuh mereka sedang berucap kata-kata rindu, kata-kata cinta, kata-kata yang tanpa kata-kata. Hanya gerak dan saling mendekatkan diri. Lalu ada kembang api di kepala mereka. Ada letupan-letupan kebahagiaan. Tubuh mereka sedang bercakap-cakap. Tidak dengan aksara namun dengan gesekan-gesekan halus. Dan untuk menyempurnakan posisi ini, maka Herna menyandarkan kepalanya di bahu Abi, lalu Abi menyandarkan kepalanya di kepala Herna. Mereka sedang berbicara tanpa bicara. Sedang berucap tanpa mengucapkan kata.

“Aku sayang kamu, Na, masih sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang sama kamu, Abi.”

Lalu perlahan Abi mengecup bibir Herna.

 

Aku milikmu malam ini

‘kan memelukmu sampai pagi

Tapi nanti bila kupergi

Tunggu aku di sini …

 

Malam itu mereka bercumbu. Melepaskan rindu. Mengucap janji untuk masa depan: bahwa tidak akan ada jarak dan waktu di dalam kisah asmara mereka. Yang Abi dan Herna tidak ketahui adalah jarak dan waktu itu akan selalu ada. Mereka berdua tidak tahu bahwa Abi akan menemukan yang lain di kemudian hari, lalu ia akan menikah muda. Herna akan melanjutkan S2-nya di Surabaya dan suaminya adalah seorang dokter. Mereka tidak tahu bahwa jalan mereka akan terpisah. Bahwa cinta mereka tidak ada yang menjamin. Tapi peduli setan dengan itu semua, sebab …

 

Aku milikmu malam ini

‘kan memelukmu sampai pagi …

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Aku Milikmu (18 weeks 3 days ago)
100

Ini juga baru baca. Pengen meninggalkan jejak biar afdol :v

Saya biasanya gak suka sama lirik lagu yg diselip2in dalem cerita gini, soalnya ga pernah denger lagunya. Jadi kurang merasa emosional soalnya ga kenal. Tapi di cerita ini, karena lirik lagunya sederhana dan mudah dimengerti, jadinya bisa ditangkep.

"Jarak dan waktu akan selalu ada".. :v
Rasanya sakit pas semua masa depan dibeberkan tiba-tiba sama narator :") haha.

Agak setuju sama Thiya, awalnya mereka mesra2an di angkot, tapi pas di taman malah canggung awalnya. Tapi bisa dimengerti sih, soalnya pas di angkot kan situasinya belum segenting di taman.

Bagian yg tentang keinginan biar hujan ga turun itu agak muter2 dan diulang2, hehe.

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at Aku Milikmu (3 years 28 weeks ago)
70

Sudah lama tidak mencicipi cerpen milik Naen. Tertarik karena judulnya yang terkesan romantis. Dalamnya memang romantis sih. Dari segi penggunaan bahasa, banyak perkembangan lho. Dari dulu Naen hobi memenggal kata. Terpatah-patah. Tapi ini walaupun mengangkat permasalahan sepele mengenai jarak. Pembangunan diksi dan kalimatnya mampu menuntun pembaca untuk selalu awas dan penasaran.

Diksinya manis, mulai bermain, dan tidak flat. Tapi saya harap konfliknya pun bisa dikembangkan. Bahasa sudah mirip cerpen-cerpen pujangga lokal. Bagaimana dengan konfliknya? Coba lihat sekeliling dan tangkap sesuatu yang unik. Dari sebuah konflik yang biasa. Ada sesuatu yang pastinya bisa dibelokkan untuk memenjarakan pemikiran pembaca, agar cerita tidak sekadar dibaca tapi dikenang, bahkan kalau bisa membuat gak bisa tidur.

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 28 weeks ago)

Waaahh ^^
.
Makasih banyak udah mampir, azura ^^
Senang sama komen kamu. Menyoal konflik itu emang salah satu yang musti ditingkatkan; bagaimana mengangkat konflik yang biasa, tpi dibelokkan sedemikian rupa sehingga berkesan di pembaca. Sebenarnya di sini masih banyak kekurangan. Salah satunya saya merasa kalau narasinya muter2.
.
Makasih banyak lho sudah bersedia mampir. Kutunggu cerpenmu, azura ^^

Writer ilham damanik
ilham damanik at Aku Milikmu (3 years 32 weeks ago)
100

Udah banyak yang komentar ya, Bung. Aku takut nanti dikira niru komentar mereka, sedikitnya aku pengen bilang ini cerpen yang sederhana tapi mewah rasa. Haha maaf sedikit ngawur ya

Writer Shinichi
Shinichi at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)
100

awalnya saya akan mengata-ngatai cerpenmu ini, bung. pasalnya gaya penceritaanmu itu najong kalakupand dengan penggunaan kata-kata yang enggak "sesuai" banget dengan kesan yang muncul di pembacaan saya. namun, seperti kata penulisnya bahwa jarak dan waktu akan selalu ada, saya juga butuh jarak sekian senti, untuk bersandar dan menggunakan waktu lebih banyak untuk memikirkan ide cerpen ini. dan saya kasih 10!

sudah begitu saja. soalnya saya sangat menikmatinya :D
ahak hak hak.
kip nulis dan kalakupand eaaa!

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)

Saya kok bingung ni, Bang. Soalnya dirimu bilang kalau gaya penceritaannya najong, tapi dirimu menikmatinya, XD
.
Pusing pala aliandoo, bang.
.
Makasih banyak sudah mampir lagi di mari, bang. ^^
.
keep kalakupaaaanndd ^^

Writer izaddina
izaddina at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)
100

gaya nulis bang nine labil :((((((
tapi bagus
kurang feeling sih somehow

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)

and somehow i feel like my "labil" heart needs to be stabilize by your wisper, Dina :3

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
100

Jadi begini, saya sudah lama menghilangkan diri(?). Lenyap di sana-sini dan seperti hanya meninggalkan setitik jejak di beberapa tempat (apasih?!).
.
Oke, ceritanya klise. Emang. Eh, ntar dulu. Jangan judge saya karena di sini saya masih ngoceh gak jelas dan karuan(?). Lama tidak berkomentar membuatku bingung mau ngomong apa. Jadi maafkanlah bila banyak bawel daripada manfaatnya.
.
Terus, ke tengah. Saya sedikit berjengit mendapati kedua sejoli kita begitu mesra di angkot tapi malah canggung-canggungan di taman. Apalagi setelah berduaan. Bukankah itu adalah momen yang tepat bagi mereka untuk saling terbuka? Terus, sisa-sisa pertengkaran kemaren seolah lenyap begitu saja. Aku tidak suka sesuatu yang telling sih (kayak lu bener aja biasanya), tapi ya, buatlah suatu adegan atau selingan yang memang menunjukkan mereka pernah bertengkar hebat.
.
Gejolak-gejolak rindunya juga gak kerasa, ibarat hanya di permukaannya aja. Gak nge-feel, gak bikin merinding saat membacanya(?). Terus, beberapa paragrap panjang di dalamnya pun bagi saya bisa lebih dipadatkan lagi dan dipangkas. Soalnya, kalo kepanjangan bikin fokus hilang, bosan di tengah jalan, dan menguap tak berkesudahan (bilang aja efek bangun tidur!).
.
Soal gaya narasi. Bagi saya, Kak Nine adalah makhluk paling labil sejagad perkemudianan(?), kenapa? Karena dikau selalu gonta-ganti gaya menulis. Emang ya, efek eksperimen bikin kita masih bingung menentukan sikap penulis mau kemana *siap-siap setel lagu armada*. Tapi menurut saya, narasi kali ini cenderung membosankan. Terlalu mendayu-dayu, "lemah", sehingga tidak membangkitkan gairah dan kadang berputar-putar pada satu adegan yang katakanlah cuma pelukan. Tapi kalimat yang mengiringinya itu lho! Angin menyisip, jarak, celah, bhak! Itu sempat membuat saya mulai kehilangan pegangan untuk lanjut (padahal ini cerpen yang pendek bangsat!! *gampar diri sendiri bolak-balik*).
.
Jadi, akhir kata. Bagi saya cerpen ini masih bisa dioptimalkan lagi apabila *catat* bila penulis mau melihat-lihat kembali susunan kalimatnya yang muter-muter keliling bundaran. Indah memang, tapi kalau semuanya? Orang juga bisa jenuh. Variasi kata dan kalimat harus digalakkan sedini mungkin. Tulisan indah bukanlah yang bahasanya lemah. Turunkan harga sembako!!! (salah tempat demo! *dilempar bata*).
.
Yak, inilah sekilas komentar pendek saya. Maaf kalau kependekan. Lain kali bisa lebih panjang. Tergantung cuaca sih, sekarang lagi musim duren. Tapi yang bertebaran di jalan langsat(?) <-- mabok detected.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)

Punyaku gak ditanggepin Kak Nine T.T
Oke fix! Nanti aku minta telpon lebih lama dari yang tadi #plak

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)

Hussss hussssss, ada ana kucing, di sini ngak ada ikan

Writer daroel27
daroel27 at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
70

Ah.. Andai saja kepandaian tuan menyusun kata dimanfaatkan dengan baik, penggunaan kata tuan bisa jauh lebih baik jikalau tuan mau mengubah gaya tulis abg tuan, karna sepintas saya paham pasti tuan sanggup menulis dengan gaya bahasa tinggi dan bukan cerita ala tweetseleb, maaf memberi kritik semoga dapat diterima

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Maafkan kisanak jikalau tulisan ini terasa hambar di matamu. Sebab memang di sini diriku ingin mencoba "suswanto" yang baru. Tapi ternyata masih banyak yang harus dibenahi. Terima kasih sudah mau mampir di mari kisanak. "Gaya bahasa tinggi" sepertinya masih jauh dari jangkauan hayati. Masih belajar, kisanak. Semoga ke depannya lebih baik lagi. ^^

Writer daroel27
daroel27 at Aku Milikmu (3 years 39 weeks ago)

Tuuh kan, makanya saya ngerasa heran, dengan susunan bahasa kaya gini bagusnya (yang pastinya bukan orang awam dalam menulis) kok ya ceritanya kaya FTV , rupanya mau merubah gaya toh.. Balik ke gaya lama aja lah kisanak, bukan tak suka perubahan, tapi perubahan yang dipaksakan juga ga baik , semacam perkosaan terhadap fitrahnya ( cailaa) nguahaha

Writer hidden pen
hidden pen at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Apaan?

Bang Nine membuat ane makin terbayang...ah sudahlah :v

Pengulangan kata itu, sepertinya di sengaja agar perasaan makin mantaf jika pembaca budiman melihatnya uhk uhk uhk

Yapzz akhir kata dari ane yg ge galau namun karang gk lagi akibat baca cerita assooyy dan membangkitkan rasa gairah di sela sela kulit putih.

Mudahan ane menirunya, tetapi setelah menikah :v muahaha

Kkaabbbuurrr

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 37 weeks ago)

Abang pena yang suka main sembunyi-sembunyiii, ke manakah jodohmu, bang? XD

Writer diver_5078
diver_5078 at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
70

mau nambahin tapi udah di komen semuanya heheee... #applaus

Writer The Smoker
The Smoker at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
60

Terlalu Mendayu, Nine?
Gayamu nggak cocok, tapi entah buat pembaca budiman yang lain. berarti ya saya nggak budiman. rasanya pembangunan suasananya juga kerasa maksa.
terus menderu, Nine.

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Emang sih bang smo yang suparman. Saya sendiri juga merasa banyak yang mendayu di sini. Ahahahahha, gimana ya ngomongnya? Saya kebawa juga pas nulis. Kek pengen buat suswanto yang menjurus ke teenlit gitu XD
.
Tapi saya gagal yah? Gagal maning, gagal maning son. T.T
.
Makasih banyak bang smo yang tampan maksimal, sudah bersedia mampir di mari lagi.
.
*lemparheineken1dos

Writer kartika demia
kartika demia at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
80

.
Wow. Saya benar2 membaca cerpen saat ini. #applause
.
Agak grogi saya mau mengkritik sedikit, :-D
.
Ada beberapa pengulangan kata yang membuat kalimat menjadi tidak efektif:
.
sebab Abi dan Herna akan bertemu, lalu saling menggenggam tangan, lalu mengucap janji-janji suci, membuat komitmen,
-->> lalu pada kalimat kedua boleh diganti; dan.

Paragraf keempat dan setelahnya banyak serangan -Yang-nya.
Serangan -Lalu- juga.

Udah ;-)
Salam.

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Kok grogi, Tika? saya ngak gigit kok :3 aw aw awwww~~~
.
Untuk pengulangan kata, itu emang saya suka sengaja gitu. Hmmmm ... bisa dibilang kebiasaan emang. Mudah2an ke depannya lebih baik lagi, yah?
.
sering2 mampir ke lapakku lah. :3
Makasih sudah mampir ke sini :3

Writer kartika demia
kartika demia at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

saya sering main ke lapaknya. Abangnya aja yg gak peka dikodein sih.. :"v

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Aw aw awwww~~~, kode2 lah abangmu ini :3

Writer vanzoelska
vanzoelska at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)
90

ah ini om virgiawan???
om iwan om iwann buat lagu tentang pengangguran dong -_-

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

virgiawan itu apa, zoel?
.
perasaan udah ada itu lagunya om iwan tentang pengangguran, itu yang "sarjana muda". ^^
.
Hehehehe, makasih sudah mampir, zoel ^^

Writer vanzoelska
vanzoelska at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

virgiawan listanto itu nama asli om iwan fals tauuuu:p
ah iya aku lupa ahaha ahaha :D

Yosh mana kopinya kopiiii :p

Writer Nine
Nine at Aku Milikmu (3 years 40 weeks ago)

Astagaaaa, saya baru tempe, Zoel. Hohoho, makasih buat infonyaaaa. Mau kopi? kirim pulsa dulu :p