Dunia Cerita Chapter 4

Seluruh pasukan nampak berwajah pucat sembari menjatuhkan senjata, melihat kekuatan Hidden Phoenix yang cukup menggetarkan hati mereka. Sebuah bola api raksasa, ukurannya di pastikan lebih besar hingga menutupi seluruh pasukan dan Pulau Imajinasi.

“Kita gunakan cara terakhir”

Panglima bersua kepada seluruh pasukan di hadapannya, meyakini mereka jika ada jalan yang bisa dilakukan. Panglima turun dari kuda putihnya sembari mendekati ketiga pendekar. Dia melepas topinya kemudian memperlihatkannya.

“Kita gunakan Genre Cinta saja,” ujar Panglima.

“Tetapi itu tidak mungkin, hanya satu genre saja belum cukup kuat.”

“Benar Panglima, kita tidak mungkin berhasil.”

Salah satu pasukan memberi suara, bukan karena tidak meyakini keputusan Panglima hanya saja genre cinta terlalu lemah dan hanya digunakan sebagai media penyembuhan saja. Begitulah pikir mereka. Panglima hanya membalas dengan senyuman.

“Bukankah kalian masih memiliki keyakinan? Kita bukanlah bangsa yang mudah menyerah di medan pertempuran, biar bagaimanapun kita harus yakin dengan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang diinginkan.” Ujar Panglima panjang lebar. “Satukan semua hati kita, dan capailah kemenangan sejati!”

Mendengar Panglima berkata demikian, nampaklah senyum di bibir para pasukan. Selama ini mereka mengikuti saran dan nasehat Panglima, dalam mencapai tujuan yang mereka inginkan. Tidak ada satupun yang meragukan keputusan darinya, sejak pertama kali bertemu dengan Panglima. Mereka mengambil senjata yang sedari tadi terjatuh, mendekat ke arah Panglima sembari mengelilinginya.

“Kami siap menerima perintah, Panglima. Walaupun nyawa taruhannya!”

Para pasukan Kemudianers dan Kners kembali bersemangat dengan penuh keyakinan dalam diri mereka, terutama ketiga pendekar: Arsenal, Nine dan Thiya.

“Sepertinya aku pernah mendengarnya, hahaha!”

Ucapan Shin membuat pasukan menjadi geram, mereka menatap Shin dengan nafsu ingin membunuh. Menyadari posisinya tidak aman, Shin mundur dan perlahan menjauhi mereka.

“Biarkan saja saudaraku,” ujar Panglima. “Satukan hati dan senjata kalian di topi ini.”

Mereka mendekati Panglima, menempelkan senjata yang mereka pegang ke arah topi. Mereka seperti sekumpulan lebah yang mengerumuni sarang.

“Supernova!”

Hidden Phoenix berteriak, nampaknya mengucapkan jurus tertingginya. Perlahan satelit itu mendekati permukaan Atmosfer Dunia Cerita. Langit yang semula hijau kini berubah menjadi kemerahan bagaikan daun-daun musim gugur, dan angin semakin berhembus kencang seperti ingin melarikan diri dari panas yang semakin membakar pepohonan sekitar. Di bawah bola merah yang semakin besar, sekumpulan pasukan Kemudianers dan Kners. Mereka terlihat lesu dengan air yang terus keluar dari pori-pori kulit mereka. Terkadang menelan ludah mereka sendiri.

“Bersiaplah teman-teman, konsentrasikan aliran tenaga kalian ke satu genre!” Ujar Panglima.

Bola merah semakin mendekat, membuat sekelilingnya terasa terbakar dengan pedasnya komentar. Sepercik cahaya semakin terang yang berasal dari  pasukan Kemudianers dan Kners. Membuat siapapun yang melihatnya menjadi tidak kuat menatapnya, terutama Shin sang Kritikus.

“Kekuatan Cinta!” Ujar Panglima.

Sepercik cahaya putih kini berubah warna menjadi biru terang, cahaya itu melesat ke arah Bola merah yang hampir saja menyentuh permukaan tanah Dunia Cerita.

“Tidak mungkin! Aku Hidden Phoenix sang monster abadi, tidak mungkin kalah dari kalian!”

Terjadi adu gravitasi di antara keduanya, saling menolak satu sama lain seakan tidak ingin mengalah oleh kekuatan dorongan. Bola merah semakin menjauhi Dunia cerita, perlahan Hidden Phoenix mencoba melawan dorongan dari kekuatan yang tidak terduga pada pasukan pemberontak.

Pada akhirnya Hidden Phoenix hanya bisa pasrah ketika tubuhnya terus menjauhi Dunia Cerita. Langit yang semula hijau, kini berubah menjadi biru dan menghiasi seluruh atmosfer Dunia Cerita. Nampak Phoenix yang terus menjauhi Dunia Cerita, kini berubah menjadi sesuatu cahaya putih yang terang di atas langit.

“Apakah kita sudah mengalahkannya, Panglima?” ujar Arsenal.

“Hehehe, mungkin saja!” Balas Nine.

“Tentu saja kita menang, kalian berdua payah!” Ujar Thiya.

Ketiga pendekar saling berdebat satu sama lain, hingga pasukan ikut memperhatikan. Panglima hanya menebar senyum terhadap ketiga pendekar.

“Kemudian dan Kners, aku dedikasikan kemenangan kita yang sesungguhnya!”

Panglima menyuarakan pendapatnya kepada seluruh teman-temannya, hingga terlihat bersorak-sorai pasukan.

“Bagaimana bisa Monster abadi dikalahkan oleh Genre Cinta?” ujar Shin.

Tatapannya kini menghadap langit yang biru, menengadahkan mukanya sembari membuka mulutnya. Shin nampak terkejut dengan mata yang semakin melotot, ketika Hidden Phoenix sudah menjadi cahaya putih di langit.

“Ketahuilah saudaraku, walaupun Cinta itu terlihat lemah tetapi ada suatu keistimewaan yang dimiliki.” Ujar Panglima. “Kekuatan Cinta.”

“Kekuatan Cinta?” ujar Shin.

“Kekuatan Cinta sebenarnya sangat misterius dan sulit dipahami oleh kita, dan sifatnya yang selalu percaya satu sama lain. Di balik itu semua, Cinta merupakan perwujudan rasa kasih sayang dan pengorbanan bagi kita yang mempercayai keindahan rasa kemanusiaan.” Ujar Panglima.

Shin sang kritikus menundukkan kepalanya setelah melihat saudaranya, tiba-tiba tawanya terdengar nyaring hingga siapapun bisa mendengarnya.

“Aku kalah, Shinichi.” Ujar Shin. “Silahkan lakukan apapun terhadapku, karena sudah tidak ada lagi yang dapat kulakukan.”

Tiba-tiba ada uluran tangan ke arahnya hingga tatapan Shin tertuju kepadanya. Semua nampak tersenyum, begitu pula pasukan Kemudianers dan Kners.

“Bicara apa kau, ingatlah kita masih keluarga.” Ujar Panglima. “Cinta juga perwujudan kasih sayang, seperti yang aku katakan tadi. Kau sudah mengakui kekalahanmu jadi mari berdamai.”

Uluran tangan itu telah berubah menjadi sebuah belahan tangan menyatu dengan yang lain, membentuk sebuah ikatan yang kuat. Semuanya yang semula tersenyum, kini bersorak-sorai menyambut persatuan  antara Panglima dan Shin.

*

Pada akhirnya perang hanya tinggal nama setelah waktu ketegangan berlalu, bersamaan perubahan pada Dunia Cerita sendiri. Langit biru dengan satu buah satelit alamnya yang berwarna putih, nampak anggun ketika melihat keduanya. Kini langit biru tergantikan kegelapan yang suram tanpa dasar, namun ada sepercik cahaya merah di tengah-tengah Desa. Terlihat seseorang melenggak-lenggokkan tubuhnya bagaikan angsa di pinggiran sungai, mereka bersorak-sorak hingga membuat sakit bagi yang mendengarnya. Mereka semakin meembuat bising dengan pengeras suara di tangannya, sembari berkata-kata diiringi dentuman alat musik.

“Hey Arsenal, kenapa bengong?!”

Arsenal hampir saja menumpahkan seluruh isi minumannya, walaupun setengahnya sudah mengenai bajunya. Seseorang berbadan besar menepuk bahunya, jelas saja Arsenal terkejut dibuatnya.

“Berhenti mengangguku, kenapa kau tidak menyanyi saja sembari mengayunkan pedangmu di perapian itu?”

“Aku bosan, haahh.”

Nine duduk di sebelah Arsenal sembari terus memegang pundaknya, Nine nampak tersenyum sembari melihat kawan-kawannya menyanyi bersama gadis Desa.

“Tidak kusangka kita menang, dan Shin kembali akrab dengan saudaranya.”

Nine menunjuk ke arah seseorang yang duduk di kursi yang cukup besar, nampaklah orang yang duduk bersebelahan sembari berbincang bersama.

“Kupikir kita akan membunuh Shin, tetapi nyatanya kita menyelamatkannya.”

“Kau benar Nine, errr...bukankah aneh ketika mendengar Shin memanggil Hidden Phoenix dengan sebutan Shinichi?”

Arsenal kembali mengingat ketika Shin memanggil Hidden Phoenix, sembari mengatakan namanya. Tetapi nama itu sudah ditolak mentah-mentah oleh Hidden Phoenix, hingga Shin diserang monster panggilannya.

“Entahlah, mengapa demikian. Pikiran Panglima sulit ditebak, hingga dia terlihat sabar ketika namanya dipakai sebagai nama panggilan untuk Hidden Phoenix.” Ujar Nine panjang lebar. “Namun yang membuatku penasaran, mengapa Hidden Phoenix mau menuruti Shin sejak dulu? Tetapi menolak menurutinya kini.”

“Bukankah tetuah telah mengatakan bahwa...”

“Hoy, sedang apa kalian?”

Ketika Arsenal dan Nine terdiam sejenak sembari mengingat kembali momen-momen perang, muncul seseorang di belakang mereka dengan kapak di punggungnya. Tatapannya sangat garang bagaikan ingin membunuh siapapun di depannya.

“Thiya, sebaiknya kau menari saja dengan Rusamu.”

“Hey Arsenal, mengapa sejak kita perang sampai sekarang. Kau terlihat menyebalkan!”

Thiya menggeram sembari menatap tajam Arsenal, disusul masing-masing senjata di tangan mereka berdua—Thiya memegang kapak sedangkan Arsenal dengan busur panahnya. Nine melerai sembari mengeluarkan pedang di antara mereka.

“Sudah-sudah, kalian terlihat seperti kita yang masih kecil saja.”

“Sayang sekali kita sudah di takdirkan bertempur bersama,” ujar Arsenal sembari tertawa.

“Yaahh sayang sekali,” balas Thiya.

“Aku tahu kalian masih memperebutkan seorang gadis, tetapi ayolah! Kita bersenang-senang sekarang.”

Nampaknya ketegangan di antara mereka memudar, diiringi senjata yang sudah disimpan oleh masing-masing dari mereka. Thiya duduk di sebelah Arsenal, hingga tidak menyurutkan hasrat tatapan di antara mereka berdua. Nine mengubah posisi duduknya dengan menengahi mereka berdua.

“Bagaimana keadaan Choper?”

Nine mengganti topik pembicaraan, namun Thiya menatapnya dengan sorotan horror bagaikan dia baru saja membuat sebuah Genre horror. Thiya mengarahkan jari telunjuknya ke sekumpulan orang-orang menari, kebetulan ada dua tempat menari dari kiri dan kanan. Thiya menunjuk ke arah kanan dan tepat ada sosok binatang bertanduk di sana.

“Kau bisa lihat sendiri, Choper bersama orang yang memegang pistol. Kopral Hadjri” Ujar Thiya.

“Hahaha, Choper mendapat majikan baru!”

Thiya kembali memperlihatkan tatapan horror pada Arsenal, namun ada air mengalir dari mata Thiya. Terkesan seperti tidak menerima perkataan Arsenal yang berkaitan dengan binatang kesayangannya.

“Siiaaalll, akan kubalas orang yang membawa pistol itu!” Teriak Thiya.

“Sudahlah, lupakan Rusa itu. Kau masih punya gadis itukan?” ujar Nine.

“Benar juga?”

Thiya menghentikan isakan tangisnya, sebenarnya tidak ada satupun yang memperhatikannya ketika Thiya berteriak ataupun menangis. Sepertinya para Point dan binatang masih sibuk berpesta hingga tidak menyadari percakapan mereka bertiga. Thiya memperlihatkan senyumnya ketika mendengar ucapan Nine, dan sedikit berimajinasi tentang pertemuannya dengan gadis impiannya.

“Hoy, dia masih...”

“Arsenal, kau hebat juga dengan seribu panah itu!”

Ucapan Arsenal terpotong ketika Nine membicarakan kembali kehebatan Arsenal dalam memanah, nampaknya ada raut wajah senang Arsenal ketika membicarakan kehebatannya. Senyum yang cukup lebar diperlihatkan Arsenal.

“Masih hebat...”

“Ngomong-ngomong berikutnya kita melakukan apa dengan senjata ini, bukankah kita sudah selesai berperang?”

Ucapan Thiya juga terpotong ketika Nine berbicara sembari memperlihatkan pedangnya di hadapan mereka berdua. Terkesan ingin menenggahi ucapan yang membuat konflik baru, namun Arsenal dan Thiya memperhatikan senjata mereka masing-masing. Nampak terpengaruh kata-kata Nine mengenai apa yang dilakukan selanjutnya dengan senjata percampuran Genre dengan Alam.

 “Sudah pasti kita akan menyerang Monster di daerah kita,”ujar Arsenal.

“Bagaimana jika senjata ini jatuh ke tangan yang salah?” balas Nine.

“Lantas apa yang yang harus kita lakukan, memusnahkannya?”Ujar Thiya.

Mereka larut dalam perdebatan yang cukup hangat di antara udara malam yang dingin. Mereka ingat betapa kuatnya jurus dari senjata yang digunakan, dan akibat apa yang ditimbulkan di masa depan. Tentunya mereka tidak ingin senjata itu memicu perang, hingga jatuh korban yang banyak.

“Menurutku kita harus berpetualang, sama halnya yang dilakukan Panglima. Kawan-kawan baru dengan tantangan baru.”

Nine mengucapkan sebuah keinginan kepada teman-temannya, namun dibalas dengan ucapan bisu. Thiya mengusap jenggotnya yang cukup panjang, sementara Arsenal menggaruk ketiaknya. Kelihatannya hendak mencoba menyerap perkataan Nine.

“Aku setuju dengan pendapatmu, kelihatannya menarik.” Ujar Arsenal sembari tersenyum.

“Boleh juga dari pada di musnahkan.” Ujar Thiya.

Mereka nampak tertawa dengan dipenuhi keinginan masing-masing, Nine nampak senang juga ketika mendengar pendapatnya diakui teman-temannya.

“Baiklah, bagaimana kalo kita adakan pertemuan setelah berpetualang?” ujar Nine meyakinkan pendapatnya.

“Setuju, aku akan membawakan Monster langka ketika bertemu.” Ujar Thiya.

“Kalo aku akan membawakan seorang istri ketika kita bertemu kembali. Sebelum perang di mulai tadi, aku baru saja melamar gadis itu. Kyaaa!” Ujar Arsenal sembari tertawa.

Nine dan Thiya memelototi Arsenal, hendak tidak mempercayai ucapannya barusan. Thiya berdiri sembari menarik kerah baju Arsenal hingga wajah mereka cukup dekat. Arsenal yang terkejut, juga berusaha menatap tajam Thiya.

“Tunggu dulu, aku juga melamarnya sebelum perang. Jadi kau jangan bercanda?!” Ujar Thiya.

“Appaaaa!” Teriak Arsenal.

Mereka berdua akhirnya berguling-gulingan di tanah bagaikan orang bergulat, Nine berusaha melerai mereka tetapi malah ikutan bergulat bersama. Akhirnya mereka bertiga saling  berusaha mengalahkan satu sama lain.

“Nganu...Nine?”

Seseorang bersuara lembut kian terdengar, memecahkan pandangan mereka bertiga ketika bergerumul bersama. Sesosok gadis yang anggun di hadapan mereka bertiga. Arsenal, Nine dan Thiya langsung berdiri di hadapan gadis itu—baju mereka bertiga terkena lumpur cukup banyak.

“Ehh Hayati, ada apa?”

Arsenal dan Thiya nampak terkejut ketika gadis itu terlihat akrab dengan Nine. Hayati adalah seorang gadis desa dari Pulau Point, merupakan gadis rebutan Arsenal dan Thiya. Kedatangannya kemari sangat mendadak dan tentu saja mengejutkan. Arsenal dan Thiya melihat Hayati memegang belahan tangan Nine, lalu menyatukannya. Seolah ada rasa bahwa malam ini hanya milik mereka saja.

“Aku menerimanya,” Ujar Hayati sembari tersenyum dengan pipi merona.

“Hooraaayy!”

Nine memeluk Hayati sembari mendekati hati mereka berdua, hingga wajah bagaikan tomat muncul di pipi mereka berdua. Terang saja Arsenal dan Thiya menyorot tajam dengan menampakkan sisi horror, melihat mereka berpelukan apalagi ditambah wajah merah merona. Tentunya mempunyai kesan tersendiri bagi mereka.

“Keparat! Teman makan teman rupanya.” Ujar Arsenal dan Thiya serempak.

“Maafkan aku!” Ujar Nine sembari berlari menjauhi mereka berdua.

Malam hari yang cukup ramai bagi Dunia Cerita sendiri, semuanya larut dalam suka cita walaupun kesedihan tengah meliputi mereka. Kehilangan sanak-saudara akibat perang, membuat kesedihan tersendiri di antara pasukan. Namun mereka tetap merayakan momen ini sebagai ucapan kebahagian, karena tidak ada perang lagi yang memakan korban. Generasi berikutnya bagi mereka sudah cukup merasakan kebahagiaan tersendiri, akibat hasil kerja keras orang sebelum mereka.

Arsenal, Nine dan Thiya. Juga para Kemudianers dan Kners, kembali ke Pulau mereka pada keesokan harinya. Namun Panglima harus pulang ke negeri sendiri bersama keluarga dan teman-teman lamanya, cukup menyedihkan memang ketika harus memilih antara hidup di Pulau Imajinasi atau di Pulau Point. Sekarang sudah tidak ada masalah yang cukup berarti, karena keputusan sudah dipegang masing-masing dari mereka.

 Perpisahan terjadi di jarak laut dengan daratan, lambaian tangan terasa mengharukan bagi keduanya—para Point dan para Imajinasi.

—50 tahun kemudian—

Point sudah kembali ke Pulau mereka, dan memiliki pikiran tersendiri di benaknya. Mereka kebingungan karena tidak memiliki pimpinan, ketiga calon yang mereka inginkan memilih jalan masing-masing. Arsenal, Nine dan Thiya memenuhi janji mereka kala pesta di malam hari, berpetualang seakan mengikuti kemana angin pergi. Seseorang di antara Point ditunjuk menjadi pemimpin, dia menaiki binatang kesayangan Thiya sembari memegang pistol. Orang itu bernama Kopral Hadjri, pada akhirnya resmi menjadi pimpinan para Point. Tidak hanya itu, kerajaan Point telah berdiri dengan megah.

Jika melihat kisah Pulau Imajinasi. Kerajaan lama tetap berdiri dengan megahnya, dan nampak sosok yang menduduki tahta. Tampaknya Panglima telah menjadi Raja baru bagi para Imajinasi, menggantikan Shin yang berkuasa sejak dulu. Telah terjadi kesepakatan baru bagi para Imajinasi dengan kedua bersaudara itu, hingga Shin nampak rela kekuasaannya di serahkan kepada saudaranya. Berkaitan telah banyak dosa Shin tanggung selama memerintah. Namun, Shin menjadi Panglima pertahanan bagi pasukan Imajinasi dan selalu melindungi rakyat bila ada serangan.  Sedangkan saudaranya telah di panggil Raja Shinichi

Tidak ada yang mengetahui kabar dari teman-teman Shin yaitu para Vote. Namun mereka yang berhasil melarikan diri pada medan pertempuran, menaruh dendam kepada para Point dan para Imajinasi. Jika saatnya sudah tiba, kemungkinan mereka akan berperang lagi.

Begitulah kisah mereka, masing-masing telah mendirikan kerajaan tersendiri. Beberapa waktu telah berlalu semenjak perang, dan jauh dari luar angkasa sana, nampak bola berwarna putih terus menyinari Dunia Cerita dengan kehangatannya. Bola putih itu perwujudan dari Hidden Phoenix yang terlempar ke luar angkasa dengan lapisan biru di sekelilingnya, akibat Kekuatan Cinta yang misterius.

Terus menerangi Dunia Cerita dari masa ke masa

 

*TAMAT*

Read previous post:  
18
points
(2316 words) posted by hidden pen 3 years 38 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | game | Iseng
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)
100

Haaahhh?! ini kok? oke bang hidden, saya akan baca dari awal yak XD
.
Baru tahu klo ini balada pendekar, oke2, titip jejak

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

muahaha XD

ok bang, di tunggu respon gregetnya XD

Writer vanzoelska
vanzoelska at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 37 weeks ago)
100

huh huh akhirnya selesai dengan akhir yang bahagiaa hihi :D
twrnyata Thiya itu cowok yaak -_-

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

inet ge lelet jdi sulit blz ehm ehm thiya itu cewek, cuma di sini jadi cowok. Gimana ya. Masa cewk sangar dan beringas kalo kelahi muahaha makanya ane jadikan cowk. Ehm ehm makash kunjungannya setiap petikan cerita ^_^

jika berkenan, kunjungi aja cerbungnya yg lain di thread kners

kunjungi yak hi hi. Ok kabuurr

www.kners.com/showthread.php?t=2705

Writer vanzoelska
vanzoelska at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

itu gimana kak? aku udah kunjungi. itu kayak mereka buat cerita yang saling menyambungkan atau gimana ya ga ngerti. tapi aku mau ikutt buat cerita disana gimana caranya kak hiden?
hihi jadi kaya baca komik tau :p

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

kita bergiliran bwat cerita :v jadi semua punya kreasi sndiri :v elska kalo mau bwat sambungan cerbung ntu boleh koq. Kebetulan org yg punya giliran udah menghilang tahun lalu. Jadi elska bwat lanjutannya aja. Episode 12 ya :v

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 37 weeks ago)
100

Yah kok udah tamat :o
Akhirnya terkuak siapa nama Panglima / saudara Shin..
Cerbungnya terlalu bagus untuk sekedar iseng (ngeliat di tags) :D

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

Kalo kelamaan takutnya ane di mutilasi ama karakternya muahaha. gk koq cuma merasa kcian nama member di sini ane pinjam buat cerita absurd beginian. Muahaha

Naahh benarkah? Hihihi cocok ya namanya antara shin dan shin :v mungkin saja sebenarnya mereka bersudara di dunia nyata muahaha

Iseng lantaran nama member di sini ane pake bwat cerita :v. Auukk ahh mereka marah ato gk. Yanng penting ane akan mengambil langkah seribu jika mereka datang muahaha

Makasih sudah mampir yak :v

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

Benerr berarti yak, nama Shinichi dari member sesepuh disini, dia pernah ngomentarin tulisanku setahun yang lalu hakhakhak.

Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

dia emang sesepuh 7 tahun lalu. Yaa ane juga pernah di komen :v hi hi mau tau kelanjutannya. Kunjungi forum kemudian yg lain di www.kners.com/showthread.php?t=2705

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 4 (3 years 36 weeks ago)

Wah langsung capcus kesanaa...