Teknologi yang Berbahaya

 
Aku bahagia, dengan segala kasih sayang dan semua kebutuhanku yang terpenuhi. Orangtuaku lengkap, dengan jabatan yang mereka inginkan. Kakakku sayang padaku, dengan segala keasyikan ketika kami bermain bersama. Seluruh euforia atas segala hal itu bahkan masih terasa hingga sekarang. Hingga sekarang, ketika semua kebahagiaan itu telah sirna karena masalah yang menimpa kakakku. 
 
Aku baru tahu bahwa kakakku memiliki gangguan mental dikarenakan kecanduan internet atau teknologi. Dalam laporan penelitian yang dimuat jurnal PLoS One, para ilmuwan menemukan bahwa remaja yang mengalami kecanduan internet memiliki kerusakan pada 'materi putih' nya. Kerusakan itu terjadi pada bagian otak yang berfungsi dalam pengambilan keputusan. Dan kakak tidak pernah mengambil keputusan dengan benar. Ia selalu memilih sesuatu yang salah atau tidak pada tempatnya.
 
“Bu, boleh tidak besok pulang sekolahnya agak telat sedikit?”
 
Ibu menoleh padaku, lalu mengangguk singkat kemudian melanjutkan pekerjaannya. Bahkan memori tentang kehangatan keluarga ketika bermain bersama masih terpatri dengan jelas di benakku. 
 
Tujuanku pulang telat bukanlah untuk hang-out atau bermain, tapi tujuanku pulang telat adalah mengunjungi sekolah kakak perihal masalah mentalnya. Aku khawatir, khawatir padanya yang tidak bisa mengambil keputusan dengan benar. Mungkin bagi kalian itu lucu, tetapi bagi dirinya? Itu adalah hal yang sangat merugikan! 
 
Masalah ini berawal ketika aku mulai masuk jenjang SMP, dan dihadapkan pada banyak sekali tugas yang aku sama sekali tidak terlatih dalam hal ini. Aku sedikit demi sedikit menolak ajakan mainnya dan fokus mengerjakan tugas sekolah. Aku berpikir bahwa ia masih bisa bermain bersama teman-temannya dan bermain bersamaku ketika weekend, namun kesibukan sekolah lagi-lagi menghalangiku.
 
Orangtuaku pun hanya bisa bersama keluarga pada hari Minggu. Senin hingga Sabtu mereka bekerja hingga malam, bahkan kadang tidak pulang. Rumah sekarang begitu hening, sunyi senyap. Tak ada interaksi oleh kami. Rasa-rasanya, sekolah  bahkan jauh lebih menyenangkan daripada rumah yang kutempati. Maka aku melampiaskannya dengan pulang sangat telat, bahkan pernah aku pulang nyaris waktu maghrib hanya untuk tidur di kelas yang nyaman dan dingin. 
 
Tak ada yang peduli, tak ada yang bertanya. Sekalipun aku tidak pulang. 
 
Semua ini … apakah semua ini karena teknologi? Ketika ayah tidak pulang, maka ia hanya memberi pesan singkat atau menelepon dan setelah itu tak ada pembicaraan apa-apa. Ibu pun sibuk dengan handphonenya, padahal seharusnya di hari Minggu yang cerah itu kami semua bercengkerama dengan hangat. Ibu hanya berkilah jika ia sedang mencari resep masakan terbaru.
 
Sementara kakak … ia mengurung diri di kamar, hanya mau keluar ketika jam makan dan berangkat sekolah. Keluarga kami benar-benar dingin sekarang.
 
Ketika aku pergi ke sekolah kakak hari itu, wali kelasnya hanya berkata, “Kakakmu itu butuh teman, setiap hari ia mendekam di bangkunya sembari bermain handphone karena teman-teman sekelasnya tidak mau bersamanya entah karena apa.”
Jadi … selama ini kakak sendiri? Sendiri di sekolah maupun di rumah? Astaga, rasa bersalah langsung menghantamku.
 
Setidaknya, ia bisa bermain bersamaku di rumah … seharusnya. 
 
Tapi, apakah itu semua salahku? Salahku yang membiarkannya terjebak di dunia virtual memabukkan yang hingga kini membuatnya kecanduan? Atau salah teknologi yang menjebak kakak dan orangtuaku sehingga keadaan keluarga menjadi tidak harmonis? Tolong katakan … rasa bersalah ini terus menghantuiku.
 
Karena penyesalan selalu datang terlambat. Ketika teknologi sudah merajalela di keluargaku, maka aku hanyalah bagai setitik debu yang tidak dianggap di keluarga ini. Kehadiranku tidak memberikan dampak. Lalu, apa yang harus kulakukan?
 
Aku menceritakan semua hal ini bukan untuk menyebarkan aib keluarga, tapi untuk memberitahu kalian, para generasi penerus bangsa: jangan terpaku pada teknologi, jangan terlalu menggantungkan diri pada teknologi. Percayalah, menggunakan teknologi dengan seminim mungkin dapat membawa kebahagiaan bagi keluarga kalian. []
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Teknologi yang Berbahaya (3 years 34 weeks ago)
60

Ane dapat pesan yg mau penulis sampaikan!
Aku pikir bakal ada kejutan di akhir cerita, tp ternyata hanya orasi saja. Ntar klo begini kasih tag orasi saja yah! Tp klo gw salah kaprah, maaf itu kekurangnya mungkin di gw nya. Semangat!!!

Writer FaraniD
FaraniD at Teknologi yang Berbahaya (3 years 14 weeks ago)

Iya, cerpen ini memang tidap pantas disebut cerpen.
.
Terima kasih sudah mampir ^^
.
Semangat jugaaa~